.

.

Y O U

Daehyun and Youngjae are belongs to each other

BL – AU – OOC – TYPO(s)

.

.


Flashback : ON


BLAR!

BLAR!

"GYAAAA! SAKIT!"

"PANAAAS!"

"CEPAT PERGI!"

"EOMMA, APPA!"

Youngjae kecil melihatnya.

Ledakan di mana-mana, berbagai macam sihir yang menghancurkan kampung halamannya, jeritan penuh kepiluan di sekitarnya, dan lain sebagainya.

Kaki Youngjae terus bergerak tanpa arah. Air mata terus mengalir dari kedua mataya. Ia menggigit bibir bawah, menahan sakit pada tangan kiri yang terkena luka bakar. Dengan langkah yang diseret, Youngjae berjalan di tengah kekacauan.

Meskipun para penyihir gelap tersebut melewatinya, Youngjae tidak takut. Mereka tidak akan membunuhnya.

Karena Youngjae memiliki kekuatan sihir. Dan para penyihir gelap itu hanya akan membunuh mereka yang tidak memiliki kekuatan apa-apa—termasuk kedua orang tuanya yang hanya warga biasa.

Youngjae terus berjalan dengan langkah yang diseret menuju perbukitan di belakang rumahnya. Ia mengernyit jijik ketika mencium bau anyir. Namun Youngjae menghiraukannya dan segera menuju puncak bukit.

Tap!

Kini, Youngjae telah sampai di puncak. Dari sana, segalanya dapat terlihat. Bahkan sekolah Youngjae yang terkena ledakan pun dapat dilihatnya.

"Tidak ada..." Youngjae bergumam lirih. "... semua sudah habis." Kemudian dia terisak kecil.

Di umur yang bahkan belum genap memasuki enam tahun, kehidupan yang didambakan Youngjae telah musnah. Yang ada hanyalah kegelapan di masa depannya.

Ya, kegelapan menantinya.

"Aku tidak mungkin berdiam diri seperti ini," ucap Youngjae dingin setelah tangisannya reda, "setidaknya aku harus membunuh para penyihir gelap itu sebelum aku mati. Ide bagus." Ia terkekeh licik setelahnya.

Kedua tangan Youngjae direntangkan dengan lebar. Kepalanya ditengadahkan seraya menghirup oksigen hingga memenuhi kapasitas, lalu menghembuskannya perlahan.

"Selamat tinggal—

ELECTRIC RAIN!"

Setelah Youngjae berteriak, hujan listrik pun turun dari langit menuju kota dengan cepat.

BLAR!

Suaranya yang keras membuat tanah yang dipijak Youngjae bergetar hebat. Ia jatuh terduduk lalu menutup mata dan kedua telinganya.

Dia tidak sanggup untuk menyaksikan kemusnahan kota kelahirannya.

"Eomma... Appa... mianhae – hiks!" isak pemuda mungil tersebut. Suaranya terdengar sangat pilu, membuat siapapun akan merasa iba mendengarnya.

Kecuali pria yang satu ini.

"Yoo Youngjae..."

Youngjae mengangkat kepalanya terkejut. Kedua netranya bergetar ketakutan melihat sosok pria paruh baya yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Tidak mungkin jika pria tersebut adalah warga kota, kan?

Atau, dia adalah...

"Ikut aku atau kau akan mati."

... salah satu dari penyihir gelap.

Youngjae menatap kosong hamparan rumput di sekitarnya. Yah... mau bagaimana lagi? Tidak ada yang tersisa lagi baginya.

"Baiklah," Youngjae berdiri, menepuk celananya yang kotor terkena debu kemudian menatap tajam mata elang pria di hadapannya itu. "Aku ikut denganmu."

.


.

"Appa."

"Hm? Ada apa, Daehyun-ah?"

Daehyun menengadahkan kepalanya untuk melihat sang Ayah. "Kita mau ke mana?" tanya Daehyun lugu.

Tuan Jung tersenyum tipis. Tangannya terangkat untuk mengusak helai kecoklatan anaknya itu. "Rahasia~" dendangnya misterius.

"Ish, Appa jahat!" Daehyun mengerucutkan bibirnya imut. Kemudian kedua tangannya terangkat ke atas. "Kalau begitu, gendong~"

"Kkkkk~ Kau ini." Tuan Jung terkekeh kecil kemudian mengangkat tubuh mungil Daehyun dan menggendongnya. Daehyun cepat-cepat melesakkan wajahnya pada perpotongan leher sang Ayah.

"Anak Anda manja sekali, Tuan Jung." Pria yang sedari tadi diam di sebelah Tuan Jung akhirnya angkat suara. Tuan Jung meliriknya sekilas, lalu tertawa lebar.

"Hahaha~ Sudahlah, Shin Soohyun. Jadi, apakah ada penyihir lain di Kota A?" tanya Tuan Jung tenang. Ia dan temannya itu tetap melanjutkan langkah mereka—menyusuri lorong yang gelap nan kumuh.

Soohyun menyeringai lebar. "Nde. Saya menemukan anak kecil di sana. Anda mungkin tidak akan percaya ini, tapi dialah yang menghanguskan seluruh kota sendirian," terangnya. Ada sebersit rasa bangga di hatinya setelah menceritakan kejadian lusa kemarin.

Tuan Jung membelalakkan matanya. "Benarkah?! Oh, ya ampun. Anak itu pasti hebat sekali," Tangannya menepuk-nepuk punggung putra semata wayangnya yang telah terlelap. Sepertinya Daehyun lelah setelah bermain seharian ini. "Sihir apa yang dia gunakan?"

"Electric."

Tap!

Langkah Tuan Jung yang terhenti membuat Soohyun menyeringai lebar.

"Itu, kan..."

"Ya, tuan," Soohyun menaikkan sebelah alisnya. "Itu sihir yang telah lama hilang. Saya juga tidak menyangka hal itu."

"Baiklah. Cepat bawa aku ke ruangan itu. Kita akan meningkatkan kekuatan sihirnya dan menggunakannya untuk menguasai dunia – HAHAHA~!" Tawa Tuan Jung yang bersahutan dengan Soohyun terdengar menakutkan. Suara mereka menggema hingga ke penjuru lorong.

"Tapi, Tuan Jung," Soohyun menepuk pundak Tuan Jung pelan setelah tawanya reda. "Bagaimana dengan istri dan anak Anda nanti? Bukankah mereka hanya akan menghambat rencana tuan kali ini," hasutnya licik.

"Ya, kau benar," Tuan Jung melirik sinis Daehyun yang masih terlelap. "Mereka mengganggu saja. Aku menikahi Joohyun hanya untuk mendapatkan gelar raja dengan mudah. Setelah itu..." Pria paruh baya tersebut menyeringai lebar. "... mereka berdua beserta rakyatku akan kumusnahkan."

Dan setelahnya mereka berdua pun tertawa bersama lagi.

Daehyun diam-diam menggeram kesal. Sebenarnya dia tidak tidur, hanya memejamkan mata saja. Namun siapa yang akan menyangka, jika Ayahnya sekaligus pemimpin negara ternyata busuk di belakang semua orang.

'Kaulah yang akan kumusnahkan, dasar tua bangka!'

.


.

"Namanya Yoo Youngjae."

Tuan Jung meraba tabung besar berisi cairan berwarna hijau pekat yang berisikan seorang anak kecil. Ia menepuk punggung Daehyun yang berada di dalam gendongannya. "Nak, bangunlah."

Daehyun langsung berakting pura-pura terbangun kemudian melenguh pelan. "Ungg~ Waeyo, Appa?"

"Turunlah, Appa ada urusan sebentar," titah Tuan Jung lembut. Ia menurunkan Daehyun lalu pergi bersama Soohyun, meninggalkan anaknya sendirian di ruangan itu.

Daehyun tertawa pelan dengan pandangan yang tetap mengarah ke sosok Tuan Jung dan Soohyun yang telah keluar dari ruangan. Mereka mengunci pintu, sehingga Daehyun tidak dapat keluar dari sana.

"Pabbo," Daehyun bersedekap dada angkuh. "Jung jelek itu berpikir aku tidak akan bisa keluar. Bodohnya~" ejeknya ketus.

Pandangannya berpendar ke seluruh penjuru ruangan. Hanya ada kursi, meja, dan tiga buah tabung yang sangat besar berisikan manusia—ehm, kira-kira ada yang seumurannya.

"Hm... tadi mereka membicarakan seorang anak yang memusnahkan Kota A. Namanya Yoo Youngjae? Kenapa dia menghancurkan kota kelahirannya sendiri? Aih, molla." Daehyun bergumam kecil penuh tanda tanya meskipun dia tahu tidak akan ada yang menjawabnya.

Kaki pendeknya terus melangkah dari tabung yang satu ke yang lainnya, berusaha mencari anak yang bernama Youngjae. Kedengarannya dialah yang paling diincar oleh Tuan Jung dan Soohyun.

"Apakah dia anak yang berkulit putih pucat dan tinggi ini?" Daehyun berhenti pada tabung yang memiliki cairan berwarna biru. "Atau dia adalah anak yang – MASIH BAYI?!" Ia menjerit histeris setelah mengetahui bahwa tabung yang memiliki cairan berwarna merah di sebelahnya berisikan sesosok bayi mungil.

Daehyun bergidik ngeri melihatnya. Tangannya bergerak mengusap tabung tersebut dari luar. "Sepertinya masa depanmu akan sedikit susah dari yang lain. Tapi percayalah, kebahagiaan akan datang setelah itu," ujarnya dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah tampannya.

Lalu Daehyun menatap lama tabung yang memiliki cairan berwarna hijau pekat. Anehnya, kabel yang tersambung di sana lebih banyak dari tabung yang lain. Ia berjalan mendekatinya, kemudian dengan ragu mengetuk tabung tersebut perlahan.

Tuk!

"Youngjae-ssi..."

Tanpa diduga sama sekali, anak lelaki yang dipanggil Daehyun membuka kedua matanya.

Daehyun memekik terkejut. "A-apa?! Bagaimana bisa – m-maksudku, apakah kau yang bernama Youngjae? Kenapa kau bisa mendengarku?" Dengan cepat ia meralat pertanyaannya. Pipi Daehyun dihiasi semburat merah muda ketika bersitatap dengan anak di dalam tabung itu.

'Ya. Namaku Yoo Youngjae. Dan aku memang dapat mendengarmu.'

Terdegar suara halus menerpa telinganya. Daehyun yang kebingungan pun menoleh ke kanan dan kiri, bertanya-tanya siapa yang baru saja berbisik padanya. Tidak mungkin Youngjae, karena dia—oh.

Dia menggunakan telepati, heh?

Tanpa sadar Daehyun tersenyum tipis.

'Ah, perkenalkan. Namaku Jung Daehyun. Salam kenal—'

'Astaga!' Daehyun melihat Youngjae yang terkejut di dalam sana. 'Kau putra mah—'

'Ya – dan aku membenci fakta itu,' balas Daehyun kesal sembari tersenyum masam.

'Kenapa?' Youngjae tersenyum manis mendengarnya.

Daehyun hendak membalas telepati Youngjae, namun terhenti karena ia mendengar suara langkah kaki di luar ruangan.

Tap!

"Sial!" umpat Daehyun kesal. "Dengar, Youngjae-ssi. Aku tahu kau dapat mendengarku walaupun kau tidak dapat menjawabku dengan mulut terbuka," Youngjae mengangguk kecil mendengar perkataan Daehyun. "Ingat hal ini baik-baik. Ayahku dan pria yang ikut bersamanya adalah orang yang jahat."

Youngjae sedikit berenang untuk mendekati Daehyun dan menapakkan kedua tangannya di dinding tabung.

'Apa maksud—'

"Percayalah," Daehyun menapakkan kedua tangannya pada dinding tabung juga, meremat kecil penuh kecemasan. Kedua sorot matanya menatap penuh keyakinan. "Aku akan menyelamatkanmu, tapi tidak sekarang. Jadi... kumohon, bersabarlah."

Napas Youngjae tercekat mendengarnya. Kenapa... Daehyun begitu perhatian kepadanya?

Cklek!

"Daehyun-ah?"

Daehyun dengan segera berlari menuju Ayahnya, kemudian mencebikkan bibir imut. "Appa~ Ayo kita pulang, aku bosan~" rengeknya manja. Akting, tentu saja.

Tuan Jung tersenyum manis seraya menggandeng tangan Daehyun. "Nde, kajja. Soohyun-ah, aku pulang duluan."

Soohyun tersenyum tipis. "Hati-hati di jalan, tuan."

Tuan Jung mengangguk kecil. Ia menarik tangan Daehyun untuk keluar dari ruangan. Sepersekian detik sebelumnya, Daehyun melirik Youngjae—yang balas menatapnya kebingungan—dan menyeringai kekanakan.

'Wait for me, beauty.'

Pipi Youngjae memanas kala mendengar telepati dari lelaki seumurannya itu. Bibir plumpnya mengulas senyum kekanakan.

'Um!'

.


.

"Eomma."

Nyonya Jung menghentikan kegiatannya, mengalihkan atensi pada Daehyun. "Ya? Ada apa? Apakah kau dijahili di sekolah barumu?" tanya wanita tersebut dengan lembut.

Daehyun merengut tidak terima. "Aku sudah berumur lima belas tahun, Eomma. Jika ada yang berbuat seperti itu, aku tidak perlu mengadu kepada Eomma."

"Heih, di mataku kau tetap anak kecil kami, Daehyunnie."

'Kami', hem? Apakah yang dimaksud Nyonya Jung adalah Tuan Jung?

"Eomma," Daehyun menarik tangan Nyonya Jung sehingga wanita paruh baya itu berdiri dari duduknya. "Ayo kita pergi – ah, maksudku, ayo kita kabur."

Nyonya Jung membulatkan kedua matanya. "APA?! Kena—"

"Ssst! Biar kujelaskan nanti, nde?" pinta Daehyun dengan wajah memelas penuh harap.

"Hah~" Nyonya Jung menghela napas panjang. "Daehyun-ah, kenapa kau ingin kabur, eoh? Apakah kehidupan di istana kurang bagimu? Bagaimana dengan Appamu?" tanyanya bertubi-tubi.

Daehyun menarik napas lelah. Oke, kenapa membujuk Ibunya sangat susah sekali, sih?

"Aku akan menjawab semuanya," Daehyun menggendong Ibunya ala bridal style—yang dibalas pekikan terkejut, tentu saja. "Tapi nanti!" tukasnya tegas.

Nyonya Jung terkesiap. Ini pertama kalinya dia melihat anaknya seyakin ini. Bibir tipisnya naik pada kedua sudut—tersenyum manis—yang membuat Daehyun malah bergidik ngeri.

"Eomma. Jangan tersenyum begitu, kau nampak mengerikan."

"YA!"

.


.

Drap!

Drap!

Brak!

"YOO YOUNGJAE!"

"YA!" Nyonya Jung menjitak kepala Daehyun yang baru saja berteriak sesaat setelah ia mendobrak pintu. Untung saja tidak ada yang menempati ruangan saat ini. "Aku tidak mengajarimu untuk mendobrak pintu apalagi berteriak seperti itu, Jung Daehyun!"

Daehyun menunduk untuk menatap sendu Ibunya. "Tapi ini markas musuh, jadi kupikir aku harus masuk sekuat tena—"

"Sekuat tenaga ndasmu," Jari lentiknya ia sentilkan pada dahi tegas anaknya itu. "Justru karena ini markas musuh, maka kita harus berhati-hati! Sudahlah, sekarang turunkan aku," perintah Nyonya Jung yang langsung dipatuhi oleh Daehyun.

Nyonya Jung berkacak pinggang di hadapan Daehyun. "Nah, sekarang jelaskan padaku tentang segalanya!"

"Ya. Tapi, bisakah kita mengunci pintu terlebih dahulu?"

"Sudah. Aku sudah menguncinya," kata Nyonya Jung.

"Eoh?"

Daehyun berbalik, melihat pintu besi ruangan telah dililit oleh banyak tangkai tumbuhan dari kerajaan yang dikenal sangat kuat untuk menahan sesuatu. Kemudian dia tersenyum senang pada Ibunya.

"Kau yang terbaik, Eomma."

"Sudahlah, tidak usah memujiku berlebihan jika pada akhirnya kau menjatuhkanku sedalam jurang," cibir Nyonya Jung sinis.

Daehyun terkekeh kecil. "Tapi, maaf, Eomma. Aku harus bertemu dengan seseorang."

"Nugu?" Kening Nyonya Jung berkerut penasaran. "Kau selingkuh di belakangku?"

"Eomma, jangan memulai drama di saat yang tidak tepat, please." Daehyun menatap datar wanita di hadapannya seraya berdecak kecil.

"Tapi, Hyunnie. Kau semakin tampan saja, aku jadi menginginkanmu—"

"Eomma."

"—baiklah. Cepat cari orang yang kau maksud itu." Nyonya Jung menyerah secepatnya.

Daehyun tersenyum manis lalu mengecup kening Ibunya. "Gomawoyo~" dendangnya senang.

Kini pandangan Daehyun berpendar ke penjuru ruangan. Tidak ada yang berubah semenjak delapan tahun yang lalu, tepat di saat dia mengetahui rencana jahat Tuan Jung dan bertemu dengan...

"... Youngjae-ssi?"

Kedua mata doe Daehyun berbinar kala melihat sosok lelaki yang terdiam di depan tabung berwarna merah tua. Sosok tersebut menoleh kepadanya, menatap tajam Daehyun dengan mata polosnya.

Tapi, tunggu dulu.

Dia bukan Youngjae.

"Kau mencari Youngjae hyung?"

Daehyun menelan ludah susah payah karena tiba-tiba merasakan hawa mencekam di sekitarnya. "Ya. Di mana dia?"

Terdengar tawa menggelegar yang membuat Daehyun beserta Nyonya Jung mundur selangkah penuh waspada.

"Berani-beraninya kau mencarinya," Sosok itu berdesis penuh penekanan karena diselimuti oleh amarah. "Hadapi aku terlebih dahulu."

Daehyun, meskipun jantungnya tengah berdegup kencang ketakutan, tidak dapat dipungkiri pula bahwa semangat tarungnya membara dengan hebat. Selama ini dia selalu hidup nyaman dan mewah di dalam istana. Meskipun mendapatkan pelajaran tentang seni perang di sekolah, tetap saja Daehyun ingin merasakan rasanya berada di dalam pertarungan yang sebenarnya.

"Baiklah kalau kau yang menginginkannya," Daehyun membuka dua kancing kemeja teratasnya. "Ayo kita mulai."

Tap!

Tap!

Terdengar suara langkah yang mendekat. Sosok tersebut menampakkan wajahnya. Tingginya melebihi Daehyun, dan wajahnya dapat dibilang cukup manis untuk ukuran seorang pria.

Rasanya... Daehyun pernah melihatnya. Tapi, di mana?

Ah! Bukankah dia adalah anak berkulit pucat yang dulu berada di dalam tabung berisi cairan berwarna biru itu?

Daehyun melangkah perlahan.

Cpyak!

Cpyak!

'Kenapa terasa ada yang aneh?' Tatapannya tetap terpaku pada pria yang jauh di depannya, Daehyun tetap melangkah meskipun suara aneh mulai terdengar bersahutan selama dia melangkah.

"Daehyun! Di bawahmu!"

Setelah mendengar teriakan sang Ibu, Daehyun segera menunduk ke bawah. Ternyata suara yang ditimbulkan—dan terdengar aneh—barusan adalah suara air menggenang yang dipijaknya.

"Tenang saja, Eomma!" sahut Daehyun tanpa menoleh ke Nyonya Jung, "Ini hanya a – OH, SIALAN."

Setelah berpikir lama dan lumayan memakan waktu sepersekian detik, Daehyun akhirnya mengerti. Kepalanya masih tertunduk lemah. Bukankah tadi saat mereka berdua masuk, tidak ada genangan air sama sekali?

Oh, haha.

Kenapa kali ini Tuhan membiarkan Daehyun untuk melawan seseorang dengan kekuatan sihir yang bertolak belakang dengan sihirnya?

Water.

Saat Daehyun mengangkat kepalanya, ia terkesiap melihat pria tersebut hanya berjarak satu meter di depannya. Ketika Daehyun hendak mundur selangkah, tangan lawannya dengan sigap terangkat dan bersiap-siap akan meninju Daehyun. Nyonya Jung yang melihatnya pun berteriak histeris.

"DAEHYUN, AWAS!"

BLAR!

Nyonya Jung menatap was-was ledakan yang baru saja terjadi sehingga menghasilkan kepulan asap. Ingin rasanya dia menolong anaknya. Tapi...

... dia terlalu pengecut dalam hal bertarung.

Oh, katakanlah begini.

Dia tidak bisa bertarung. Dan takut untuk berada di dalam pertarungan.

'Daehyun-ah, semoga kau selamat,' batin Nyonya Jung cemas.

SRAT!

Kepulan asap itu menghilang, memperlihatkan Daehyun yang tengah mencengkram pergelangan tangan sang lawan dengan erat. Dia langsung mundur beberapa langkah, memberi jarak antara mereka. Daehyun menatap bingung tangannya yang terluka karena ledakan barusan.

"Kenapa api dan air bila bertemu akan menjadi ledakan?" gumam Daehyun bingung.

"Dia bukan tipe air biasa, Hyunnie." Nyonya Jung berlari mendekati Daehyun yang masih dilanda kebingungan.

"Hah? Maksudnya—"

"Sudahlah, abaikan pria itu. Sekarang, cepatlah cari orang yang bernama Youngjae itu."

"Tapi, Eomma. Bagaimana—"

"Biar Eomma yang menghadapinya."

Daehyun membelalakkan kedua matanya. "Eomma! Kenapa—"

Nyonya Jung menatap dalam kedua mata doe anaknya. "Ini perintah dari Ratu Joohyun, Pangeran Jung Daehyun," perintahnya tegas.

Jika sudah seperti ini, Daehyun tidak dapat menolaknya.

"Baiklah, Eomma. Hati-hati!" Daehyun pergi berlari menuju jejeran tabung besar yang berisi cairan berwarna. Pria berkulit pucat yang menjadi lawan mereka diam-diam melirik Daehyun. Sebelah tangannya terangkat, mengarah ke Daehyun. Namun saat dia hendak mengeluarkan sihirnya, muncullah beragam sulur tanaman dari bawah dan menghentikan segala pergerakannya.

"Apalagi ini?" desisnya tajam. Kemudian dia menatap satu-satunya wanita di dalam ruangan ini. Bibirnya menyunggingkan senyuman remeh. "Walaupun lawanku adalah seorang wanita, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu."

Nyonya Jung balas terkekeh sinis. "Kau pikir aku peduli?"

Walaupun dia tidak memiliki pengalaman bertarung sama sekali...

... tapi sekali ini saja...

... biarkan dia berkorban untuk anaknya.

Daehyun melihat satu-persatu tabung yang berada di sana. Cairan yang ada di dalam sana warnanya tidak seperti dulu lagi. Dan kemungkinan sedikit susah untuk mengenali wajah Youngjae yang sekarang. Sudah delapan tahun berlalu...

'Daehyun-ssi...'

Daehyun segera menoleh pada tabung besar yang kali ini cairannya berwarna kuning cerah. Di dalam sana, seorang pria dengan rambut kehitaman tersenyum lemah padanya.

"Yo-Youngjae?!"

Youngjae mengangguk lemah.

Mata Daehyun mulai berbinar cerah. Dia senang karena Youngjae dapat mengenali dirinya. Dan dia juga senang karena...

'... kau semakin manis saja.'

Walaupun pandangan Daehyun sedikit samar karena terhalangi oleh tabung dan cairan aneh berwarna kuning itu, meronanya pipi Youngjae tetap tidak luput dari pandangannya.

'K-kau bicara apa, sih?! Sudahlah, kenapa kau berada di sini? Dan siapa wanita itu?' tanya Youngjae bertubi-tubi seraya menunjuk Nyonya Jung.

Daehyun tidak mengikuti arah pandang Youngjae, karena dia tahu siapa yang Youngjae maksud. 'Itu urusan nanti. Sekarang, ayo kita keluar,' titah Daehyun.

Kedua netra Youngjae bergerak ketakutan. Ia bergerak memeluk tubuhnya sendiri lalu menggeleng pelan. 'Tidak!' batin Youngjae berteriak.

Alis Daehyun naik sebelah, bingung. 'Kenapa? Bukankah aku sudah berjanji akan membebaskanmu dulu?'

'Lupakan janji yang lalu. Sekarang, pulanglah bersama wanita itu dengan selamat—'

'Apa maksudmu?!' Daehyun memukul kecil dinding tabung kesal. 'Aku sudah berbaik hati kepadamu, dan aku juga kabur dari istana karenamu! Apakah ini balasan yang kau berikan kepada orang yang hendak menyelamatkanmu dari kegelapan?!'

'AKU TIDAK TAHU DAN TIDAK MAU TAHU!' Youngjae menjerit kepiluan dalam telepatinya. 'Pulanglah. Aku tidak menginginkanmu.'

Daehyun menarik napas panjang saat melihat Youngjae yang membalikkan badannya. Kali ini dia harus menahan emosinya baik-baik. Dan sepintas ide licik pun menghampirinya.

'Youngjae-ssi.'

'Apa? Bukankah aku menyuruhmu pulang?'

'Apakah kau kedinginan?'

Youngjae mengernyit bingung karena kalimat yang diucapkan Daehyun tidak berarti sama sekali. 'Sejujurnya, iya.'

'Baguslah.'

Baguslah?

Akhirnya Youngjae membalikkan badan karena penasaran. Dan setelahnya dia harus merasakan jantungnya berdegup kencang—terkejut—di saat Daehyun mulai mengeluarkan api merahnya dan meletakkan tangannya di dinding tabung.

'IDIOT!' Youngjae menggebrak dinding tabung dengan kuat. 'Apa yang kau lakukan?'

Daehyun menyeringai penuh. 'Tentu saja membawamu kabur, my lady.'

Youngjae tidak mempedulikan panggilan yang Daehyun lontarkan di akhir kalimat. Panik mulai menyergapinya. 'Hati-hati—'

TEET!

TEET!

'Gawat! Itu sirene tanda bahaya! Cepatlah pergi!' Tangan Youngjae semakin gencar untuk memukul dinding tabung, sedangkan Daehyun terlihat acuh dan tetap melancarkan aksinya untuk membuat lubang pada dinding tabung.

'Ssst~ Tenang saja. Aku akan mengeluarkanmu, dasar chubby—'

"—EOMMA!" Setelah menyelesaikan telepatinya dengan Youngjae, Daehyun menoleh pada Ibunya lalu memanggilnya dengan cara yang sangat tidak sopan. "CEPAT KEMARI! KAU SUDAH MENANG, KAN?"

Ya, nyatanya Nyonya Jung telah menang dengan mudah.

"Dasar anak sialan. YA, SEBENTAR!"

Daehyun akhirnya kembali menatap Youngjae yang tengah terkesiap. 'Dengar? Dia adalah Eommaku.'

'Maaf, aku tidak mengenali wajah Ratu Joohyun dari sini. Tapi itu tidak penting, karena kalian berdua harus pergi sebelum para penyihir gelap itu datang dan menjadikan kalian budak mereka.'

'Budak?' tanya Daehyun kebingungan. Dia tidak tahu tentang hal ini.

'Ya,' Youngjae mengangguk lemah. 'Kami semua yang tertangkap telah dijadikan budak oleh Shin Family.' Ia menaikkan bajunya dan menampakkan perut bagian kanan, di mana tanda budak itu berada.

Tapi, sepertinya Daehyun salah fokus.

'Perutmu mulus sekali.'

'YA!'

"JUNG DAEHYUN!" seru Nyonya Jung yang kini berada di sebelahnya, "Cepatlah! Aku tidak tahu siapa itu, tapi aku mendengar suara derap langkah yang menuju ke sini – OMO!" Ia membekap mulut tidak percaya setelah melihat Youngjae. "Kau manis sekali~"

Daehyun memutar kedua matanya jengah. "Eomma, sudah cukup—"

BRAK!

BRAK!

"ADA ORANG DI DALAM?!"

Youngjae bergerak panik. 'Daehyun-ssi, cepat bawa Ibumu dan pergi dari sini!'

"Tentu saja kami akan pergi..." Kali ini Daehyun berseru, tetapi tidak menggunakan telepati lagi. "... tapi bersamamu."

BRAK!

BRAK!

Suara tersebut terdengar lagi, bahkan lebih keras dari yang sebelumnya.

"KAMI AKAN MENDOBRAK PINTUNYA!"

BRAK!

Dan pintu yang tertutup tadi akhirnya terbuka lebar. Seluruh penyihir gelap berdesakan masuk dengan berbagai macam senjata di tangan mereka.

Tapi... nihil?

Hanya ada satu tabung yang berlubang besar dengan kobaran api di sekitarnya dan seorang pria yang tergeletak mengenaskan di lantai.

Salah satu dari penyihir gelap itu menggeram kesal.

"Kita terlambat!"

.


.

"Baiklah, Jung Daehyun. Kau berhutang penjelasan padaku."

Daehyun menelan ludah gugup. "Uh-oh, Eomma, lebih baik kita istirahat sekarang—"

Greb!

"Tidak ada jalan kabur, Hyunnie. Duduk dan jelaskan."

Youngjae yang datang dari dapur dengan membawa senampan ramyeon ikut tertawa melihat kelakuan antara Ibu dan anak itu.

Hah... jadi rindu keluarganya.

Dengan cekatan Youngjae meletakkan tiga mangkuk ramyeon di atas meja. Dia ikut duduk di sisi meja yang lain, antusias untuk mendengarkan penjelasan yang akan Daehyun sampaikan.

Nyonya Jung memicing pada Youngjae. "Kau juga, Youngie!" sungutnya kesal.

"Ma-maaf?" Youngjae menunjuk dirinya sendiri bingung. "T-tapi... um – ra—"

"Panggil aku Eomma saja. Oh, kurasa Joohyun noona bagus juga."

Daehyun dan Youngjae serempak menatap aneh Nyonya Jung. Nyonya Jung yang mengerti pandangan aneh mereka lantas berseru, "Apa ada yang salah?"

"Ah, tidak, Eomma," ujar Youngjae seraya tersenyum lebar.

"Nah, Eomma saja, Youngie. Dia sama sekali tidak cocok dipanggil 'Noona' olehmu." Daehyun menatap sinis Ibunya dan langsung dihadiahi oleh Nyonya Jung dengan cibiran imut.

"Youngie? Kenapa kalian memanggilku Youngie?" tanya Youngjae kebingungan.

Daehyun dan Nyonya Jung saling berpandangan penuh makna, kemudian tersenyum manis. "Karena imuut~"

Pipi Youngjae memanas kala mendengarnya. Daehyun yang menyadarinya pun mencubit pipi Youngjae gemas.

"Aigooo~ Kau memerah!"

"Aaaa~! Sakit!"

Nyonya Jung menatap datar kedua pria yang tengah mengabaikan kehadirannya itu. "EKHEM. Jung Daehyun, jelaskan kepadaku!"

Daehyun membenarkan posisi duduknya lalu tertawa lebar. "Hahaha~ Nde, nde~ Jadi... begini."

Nyonya Jung dan Youngjae terdiam dengan raut wajah serius.

"Sebenarnya, aku ingin memberitahukan hal ini kepada Eomma dari dulu. Tapi... kurasa kau tidak akan percaya dengan ocehan tidak jelas dari seorang bocah berumur tujuh tahun," Daehyun terkikik geli setelahnya. "Yah... kau ingat saat hari ulang tahunku, Appa – oh, kupanggil Jung saja, ya?"

"Kenapa?" Nyonya Jung mengernyit curiga.

"Dia tidak pantas untuk kupanggil 'Appa'."

Youngjae yang sedikit mengerti dengan maksud Daehyun mengangguk kecil. Sedangkan Nyonya Jung terlihat sangat penasaran dengan penjelasan anaknya itu.

"Aku diajak oleh Jung menuju ke sebuah tempat yang kumuh dan gelap. Awalnya aku bertanya-tanya, 'Mengapa kita berada di sini?' Dan dia hanya menjawab, 'Rahasia'. Yah... pada saat Jung menggendongku dan mengiraku telah terlelap, semua sifat busuknya pun terungkap."

Daehyun menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. "Dia dan... um, namanya Soohyun kalau tidak salah, selama ini merencanakan hal licik. Yaitu untuk menguasai dunia. Karena kekuatan yang kurang, akhirnya mereka berdua pun menculik beberapa penyihir dan menjadikan mereka sebagai penyihir gelap yang selalu taat kepada Jung dan Soohyun. Meskipun mereka lebih seperti budak," Ia melirik Youngjae sekilas. "Contohnya, Youngjae."

Nyonya Jung terkesiap. "Benarkah itu, Youngie?"

Youngjae gelagapan saat ditatap setajam itu. "I-iya..."

"Sekarang giliranmu untuk bercerita."

"Baiklah, jadi..." Youngjae menjilat bibir bawahnya. "... aku lahir di Kota A. Dan pada saat umurku masih enam tahun, para penyihir gelap datang dan menghancurkan Kota A. Dan aku satu-satunya yang selamat dari insiden tersebut."

"Tunggu," Nyonya Jung menyela secepatnya. "Aku pernah membaca surat kabar, dan apakah itu memang benar adanya? Kota A dimusnahkan oleh seorang anak kecil..."

"Ya. Itu aku."

"Kenapa?"

"Karena tidak ada yang tersisa lagi."

"Astaga! Itu berarti kau sangat kuat, bukan?" Nyonya Jung menatap Youngjae dengan mata yang berbinar penasaran.

"... um, well, yeah... tidak juga."

"Bohong!" Daehyun tiba-tiba berseru lalu menunjuk Youngjae. "Jika kau tidak kuat, kenapa Jung dan Soohyun berkata, kau adalah harapan mereka?!"

"Daehyunnieku sayang~" gumam Youngjae sarkastik—dan manja, tanpa disadarinya, "Jika aku memang kuat, sudah pasti aku akan kabur dari dulu."

"Oh. Kau pintar juga."

"Terima kasih yang lebih."

"Sudah, berhenti!" Dengan cepat Nyonya Jung melerai pertengkaran mereka. "Youngie, lanjutkan."

"Oke. Eum... sebenarnya, aku dulu tidak memberontak, sih, saat mereka hendak membawaku pergi," Youngjae mengetukkan jemarinya di dagu. "Dan hal mengerikan pun terjadi."

"Apa?"

"Saat aku pertama kali datang, pria yang membawaku itu memerintahku untuk melawan lima ratus orang. Yah, karena aku tersulut emosi yang entah satang dari mana asalnya, mereka akhirnya kuhabisi dalam sekejap."

Daehyun dan Nyonya Jung menatap datar Youngjae.

'Itu karena kau yang terlalu kuat, Youngjae sayang.'

"Dia terlihat takjub saat itu. Dan aku dibawa masuk menuju sebuah tabung yang berisi cairan hijau pekat. Awalnya aku tidak dapat bernapas, tapi lama-kelamaan akhirnya aku dapat menyesuaikan diri di dalam sana. Suara dari luar, dalam radius kurang lebih satu meter atau teriakan dari luar dapat kudengar. Namun sayangnya, aku tidak dapat membuka mulutku karena – kalian tahu kenapa. Jadi, aku menggunakan telepati untuk berbicara. Dan lusa kemudian, Daehyun pun datang dan berjanji untuk menyelamatkanku."

"Tuh, Eomma. Dengarkan," Daehyun tersenyum bangga sembari menepuk dada bidangnya. "Anakmu tidak pernah ingkar janji."

Namun sayangnya, Nyonya Jung menghiraukannya. "Teruskan, Youngie."

Youngjae tertawa pelan melihatnya sebelum ia melanjutkan lagi. "Hari demi hari terasa sangat buruk. Saat pertama kali aku dikeluarkan, aku terkejut karena merasakan kekuatan yang hebat mengalir di dalam tubuhku. Dan aku mendengar sesuatu tentang... cuci otak. Tentu saja aku memberontak hebat," Ia mengeratkan kepalan tangannya. "Tidak apa-apa jika aku dijadikan budak, tapi jangan berani-beraninya mereka menghapus ingatanku sebelumnya."

'Karena aku takut akan melupakan keluargaku... dan juga kau, Daehyun-ah,' imbuh Youngjae membatin diri.

"Dan ada salah seorang anak yang membelaku habis-habisan. Dia mengancam, jika mereka berdua mencuci otakku dan otaknya, kami berdua akan kabur dari sana. Dan namanya adalah Choi Junhong."

"Junhong? Yang mana?" Daehyun beserta Nyonya Jung mengernyit kebingungan.

"Yang kalian lawan tadi."

"Uhm, maaf tadi aku—"

"Tidak apa-apa, Eomma," Youngjae tersenyum tipis. "Aku tahu kau tidak membunuhnya. Dan juga... aku merasa bersalah karena tidak mengajaknya pergi bersama kita."

"Tapi dia yang menghalangi kami untuk menemuimu," tukas Daehyun tidak terima. Karena di matanya, Junhong itu jahat.

"Yah, mau bagaimana lagi," Pria berpipi chubby tersebut menggaruk belakang kepalanya gusar, "Junhong sangat protektif kepadaku."

Hening...

"Tapi..." Nyonya Jung nampak ragu untuk bertanya. "... apakah benar Appamu seperti itu, Daehyun-ah?"

Daehyun berdecak kesal. "Tuh, kan, Eomma tidak percaya. Ya sudahlah," lirihnya kecewa.

"Eits, bukan seperti itu! Aku hanya terkejut, tahu!"

"Oh ya, Youngjae. Kenapa tadi saat aku mengajakmu kabur, kau terlihat sangat ketakutan?" tanya Daehyun kebingungan.

"Ah, em..." Youngjae terlihat gugup sesaat. "... sudahlah, nanti ramyeonnya dingin, lho," ujarnya mengalihkan pembicaraan.

"Ah, kau benar!" Daehyun mengedarkan pandangannya. "Apakah tidak apa-apa kita menetap di sini?"

"Tidak apa-apa. Toh, tidak ada orang lain selain kita di sini. Lagipula, kita tidak punya pilihan," ucap Nyonya Jung sebelum dia memakan ramyeonnya.

"Lalu, setelah ini tujuan kita ke mana?"

Pertanyaan yang dilontarkan oleh Daehyun membuat keadaan hening kembali.

"Ah, aku tahu!" Youngjae mengetuk kecil meja dengan antusias. "Bagaimana kalau kita pindah ke Korea Selatan saja?"

"... ha?"


Flashback : OFF


Youngjae mengingatnya.

Ya, dia adalah Choi Junhong, pemuda yang dulu juga menjadi budak sama sepertinya. Setelah pergi ke Korea Selatan dan menetap di Seoul selama dua tahun, dia tidak mendengar kabar tentang Shin Family lagi—bahkan cenderung melupakannya.

Namun terkadang Youngjae bersikap aneh. Setelah mengetahui asal-usulnya, bahwa Youngjae masih berada di bawah kendali Shin Family, Daehyun bahkan pada saat itu nekat untuk segera menghajar wajah Tuan Jung dan Soohyun—yang tentu saja langsung dihentikan oleh Youngjae dan Nyonya Jung.

Ah... ngomong-ngomong tentang Nyonya Jung.

Wanita yang melahirkan Daehyun sekaligus mantan ratu tersebut dua tahun yang lalu telah mendirikan sebuah restoran. Dan hebatnya, kini restoran tersebut laris manis.

"Youngjaeee~"

Youngjae tersadar dari lamunannya. Kepalanya langsung terangkat begitu suara serak Daehyun memanggilnya. Pria dengan surai berwarna hitam legam itu berlari ke arahnya seraya melambaikan tangannya.

"Sudah selesai?" Youngjae menegakkan tubuhnya lalu tersenyum manis.

"Ya, dan badanku sakit semuaaa~" rengek Daehyun kesakitan, "Gunakan sihir teleportasimu agar kita cepat sampai di rumah, Jae-ah~"

Oh, mengenai sihir. Youngjae terpaksa harus mempelajari sihir baru, yaitu teleportasi dan cahaya. Karena beresiko terlalu tinggi jika semua orang mengetahui bahwa Youngjae menggunakan sihir yang telah lama hilang, kan?

Sedangkan Daehyun tetap menggunakan sihir api, namun ditambah dengan sihir udara. Coba tebak, apa alasan Daehyun memutuskan untuk mempelajari sihir tersebut?

"Untuk berjaga-jaga saja. Jika pasokan oksigen di sini habis, kalian bisa menghirup sihir udaraku! Daehyun cerdas sekali – hahaha~"

Alasan bodoh, Hyun.

"Sudahlah, ayo kita pulang."

Daehyun mau tak mau mengikuti langkah Youngjae dengan bibir yang mengerucut lucu.

Kini, mereka berdua tengah berjalan menyusuri trotoar dengan tangan yang saling menggenggam erat satu sama lain. Di tengah kegelapan malam, keduanya tersenyum dengan jantung yang berdebar menyenangkan.

Ah, Youngjae rasa waktu ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu.

"Daehyun-ah. Apakah kau merasa pernah melihat Junhong sebelumnya?"

Daehyun menoleh sejenak. "Em... aku lupa."

Sudah dapat ditebak dari seorang Jung Daehyun.

"Oh, tunggu sebentar."

Tap!

Mereka menghentikan langkah saat Daehyun tiba-tiba berhenti begitu saja.

"Ada apa? Ayo cepat pulang, aku kedinginan!" rajuk Youngjae. Pipinya menggembung lucu yang membuat Daehyun tertawa kecil.

"Kau duduk di sana dulu, oke?" Daehyun menunjuk salah satu kursi yang berada di dekat mereka. "Aku ke vending machine sebentar. Mau titip?" tawar Daehyun.

Youngjae terlihat bingung sebentar. "Eum, minuman yang kau beli kemarin itu apa namanya, ya?"

Daehyun tersentak kecil. "Kau mau minum cola larut malam begini?!" pekiknya yang dibalas oleh Youngjae dengan senyuman manis.

"Yep."

"Ugh, baiklah. Tunggu di sini dan jangan pergi ke mana-mana. Jika kau kedinginan, ada jaket di dalam tasku, mengerti?" Daehyun mengusak surai hitam Youngjae kemudian mengecup puncak kepalanya pelan. "Daaah~" Dia melambaikan tangan pada Youngjae.

Tap!

Tap!

"Ah, ketemu." Daehyun segera merogoh uang lembaran yang berada di dalam saku celana seragamnya saat dia sudah sampai berada di depan sebuah vending machine.

Di saat yang bersamaan, Dahyun merasa ada yang menepuk pundaknya.

Daehyun segera berbalik untuk mengetahui sang pelaku. "Ada ap – hhmmppfftt!"

.


.

"Kenapa Daehyun lama sekali?"

Youngjae mengusap tangannya secara terus-menerus lalu menghembuskan napasnya di sana. Nyatanya jaket tebal milik Daehyun tidak membuatnya merasa hangat sama sekali.

"Jaket bodoh," gerutu Youngjae kesal. Ia pun memutuskan untuk menjemput Daehyun saja sebelum malam akan semakin larut. Dua tas kini berada di masing-masing pundak dan Youngjae pun berjalan mengikuti arah yang Daehyun lalui tadi.

Tap!

Tap!

"Itu dia!" Dari kejauhan, Youngjae dapat melihat Daehyun sedang diam berdiri di depan vending machine—meskipun tidak begitu yakin karena pandangannya sedikit kabur. Ah, sepertinya dia harus mengurangi penggunaan yang namanya gadget itu.

Tap!

Tap!

"Daehyun—"

BRUK!

Tas milik Daehyun ia jatuhkan. Kedua matanya membola terkejut dan mulutnya terbuka sedikit. Tubuhnya bergetar kecil dan dia merasakan ada yang menusuknya saat ini. Tepat di saat Youngjae melihat...

... Daehyun berciuman dengan Junhong.

Junhong melirik Youngjae sekilas, kemudian menyeringai licik. Lalu, ia pun mengirimkan telepati kepada Youngjae.

'Bukankah kau sudah kuberi keringanan dengan memperingatkanmu untuk menjauhi putra mahkota? Sekarang, pilih salah satu. Umat manusia, atau Jung Daehyun?'


.

.

To Be Continued

.

.


[REPOST]