Hawa musim gugur membuat Draco mengeratkan jubahnya ketika berjalan di koridor bersama Ron dan Hermione yang mengikutinya di sisi kanan. Dia memandang belokan di depan dan mendapati anak-anak berdasi Hijau dan Silver muncul dan berjalan berlawanan arah dengan gerombolan anak-anak dari asrama Singa.
Saat memandangi mereka, tatapan Draco menyusuri kerumunan yang melewatinya dan teman-temannya itu. Tidak ada Potter, Greengrass dan Zabini. Karena lambatnya langkah Draco dan dua sahabatnya, anak-anak berdasi Merah dan Gold itu berjalan mendahului mereka dan di depan melangkah ketiga anak Slytherin yang tersisa.
Draco bertemu pandang dengan Potter dan tatapan keduanya tajam penuh tekanan. Keduanya masih bertatapan hingga Draco memandang lurus ke depan bersamaan dengan Potter yang memandang ke belakang punggung Draco. Hingga mereka tetap melangkah saat mereka saling melewati seolah tidak pernah kenal atau bertemu.
Pada saat itu, entah kenapa Draco merasa begitu kecewa.
Xxxx
Rate: M
Genre: Romance-Drama
Character Pairing: Draco Malfoy-Harry Potter
Disclaimer : J. K. Rowling
Warning : Typo, BxB, Yaoi, Fluff, No War, Bash Chara! OOC! OC!
Summary : Draco Black, seorang murid emas Gryffindor yang selalu terlibat masalah dan semua berkaitan dengan Lord Voldemort. Dan Harry Potter, Pangeran Slytherin yang dingin dan mendapat reputasi buruk meski dia adalah The Boy Who Lived. Nah, bagaimana cara takdir mempermainkan keduanya?
Ichie Kurosaki
Proudly Presents
The Dark Soul and Pure Heart
Xxxx
Hogwarts, Scotland
Sekolah terasa menyenangkan bagi Draco meski kadang dia merindukan Regulus. Namun banyak juga hal-hal menyebalkan lainnya seperti Theodore Nott yang brengsek, essay panjang dan menumpuk, tersesat atau terlambat. Seperti ketika pelajaran pertama Draco di kelas Transfigurasi dia terlambat bersama Ron dan ketika kelas Charm, Seamus Finnigan meledakan bulunya.
Draco yang merasa semua kelasnya dicampur dengan Slytherin selalu menemukan Harry Potter melakukan semuanya dengan cemerlang. Bukan rahasia umum lagi jika Harry Potter merupakan murid yang jenius dan menyaingi Granger. Gadis yang kini dekat dengannya dan Ron setelah insiden Troll di malam Hallowen itu frustasi karena tidak bisa mengalahkan Harry Potter. Entah kenapa, Draco senang akan fakta itu.
Sedangkan Ron terlalu banyak mengeluh. Pagi ini Draco duduk di Aula Besar dan dia selalu menemukan Harry Potter sudah ada di meja Slytherin dengan bukunya, ekspresinya datar dan sepertinya tidak ada satu pun anak Slytherin berani mengganggunya. Dia memang sudah terkenal, tapi ada saja hal baru tentang anak itu yang patut dibicarakan.
"Hentikan Draco!" desis Ron membuat Draco mengalihkan pandangan dari Potter. "Kenapa sih kau ingin banget berteman dengan Potter? Dia itu kan sombongnya parah!" komentar Ron tidak suka. Dia mulai sarapannya dengan menumpuk makanan.
Draco tidak menyahut dan kembali melirik Potter yang ternyata juga memandangnya. Segera Draco membeku sebab menemukan anak lelaki berwajah putih manis itu tersenyum miring. Draco langsung membuang wajahnya ke arah Hermione yang juga menatapnya bingung. Dia tidak bisa menahan untuk kembali menoleh pada anak Slytherin itu.
Tapi Potter sudah tidak memandangnya. Di sampingnya duduk Daphne Greengrass dan Blaise Zabini. Yang cukup nekat mendekati Potter. Bukan tidak ada yang tahu jika banyak yang menjauhi Harry Potter dan menganggapnya tidak layak di Slytherin. Namun sekarang tidak separah di awal. Beberapa anak Pure Blood yang mencoba menjahili Potter karena dia Half-Blood berakhir mengenaskan. Contohnya Nott.
Lihat saja Nott yang sekarang selalu berjengit tiap melihat Potter. Bahkan Potter tidak takut pada senior Slytherin. Seolah Harry Potter memang terlahir menjadi Slytherin. Namun Draco malah melihat jika Potter mengejar sesuatu dan sibuk dengan urusannya sendiri. Dan Draco juga tahu, jika Potter itu tidak bahagia.
Draco tidak tahu dari mana pemikiran itu berasal. Dia hanya tidak bisa menghentikan obsesinya akan Harry Potter.
Xxxx
Langit masih gelap saat Harry bangun. Terbiasa bangun dengan dibentak membuat Harry kesulitan menikmati tidurnya. Dia mendesis kesal dan duduk dengan kepala pening. Akhirnya dia memutuskan, seperti biasanya di tiap pagi yang terlalu pagi, untuk mandi dan bersiap-siap.
Dia berpikir apa tidak apa begini terus. Belajar dan mengabaikan semuanya. Dia paham betul tidak semua orang seperti keluarga bibi Petunia. Tapi setelah beberapa bulan di Hogwarts dan Harry mulai mengenal orang-orang, dia tahu bahwa lebih baik baginya untuk tetap membatasi diri. Terbuktilah bahwa dia lebih baik tetap menjauhi orang. Tetap sendiri untuk melindungi diri.
Salah satunya Black, yang memandanginya tidak henti dan menggerayangi pikirannya. Pilihan Harry tepat untuk menjauhi anak itu karena ternyata hubungan asramanya dengan asrama anak itu tidak begitu baik. Kalau tidak mau dibilang buruk. Sebetulnya Harry tidak peduli akan konfrontasi antar asrama di Hogwarts. Lagi pula bahaya datang bukan dari asrama lain, tapi dari asramanya sendiri.
Mungkin di dunia Muggle dulu dia tidak bisa melindungi diri dari semua pembullyan sepupunya. Dia juga terbiasa tidak punya teman dan anak-anak Slytherin yang mayoritas membencinya sudah pasti melakukan hal yang sama. Harry jelas membenci keadaannya. Dia tidak bisa melawan. Tapi di dunia sihir, keadaan itu berubah.
Harry bisa melawan. Karena di dunia sihir tidak perlu bertubuh kuat atau berbadan besar untuk melindungi diri. Ini dunia sihir. Harry belajar banyak mantra dan kutukan serta jampi agar dia bisa melindungi diri. Harry berniat menjadi penyihir paling kuat agar tidak ada lagi yang bisa membuatnya menderita. Dia akan membuktikan bahwa dia layak di Slytherin meski dia seorang Halfblood.
Masih ada dua jam sebelum sarapan dan kelas pertamanya. Harry mencoba mencari kelas kosong dan melatih mantra yang sudah dia kuasai, belum lancar atau mantra baru. Dia terdiam mengamati bangku yang dia ubah menjadi bola sepak. Dia lihat tongkatnya. Dia ubah kembali menjadi bangku dengan mengucap mantra dalam hati. Lebih cepat menggunakan non-verbal meski tidak sempurna.
Apakah lebih cepat tanpa tongkat?
Harry menyeringai senang. Dia kunci pintu kelas dengan mantra non-verbal dan memasukkan tongkatnya ke saku. Dia lepas jubahnya dan menggulung siku kemejanya. Dia ulurkan tangannya, untuk mulai melatih sihir tanpa tongkatnya. Dia memiliki banyak waktu.
Xxxx
Seperti biasa Draco menemukan jika Harry Potter sudah duduk tenang di meja asramanya. Dia duduk sambil memperhatikan Potter yang lebih berantakan dari biasanya. Dia masih mengenakan jubah Slytherin kebanggannya. Hanya saja, tidak mencerminkan Slytherin sekali yang biasanya menjaga kerapihan dan gaya bangsawan mereka.
Alih-alih rapih, Potter sengaja membiarkan kancing atas kemejanya terbuka dan kendurnya dasi hijau silvernya. Draco akui dia terlihat keren, apa lagi rambut hitamnya terlihat lebih berantakan. Datanglah Greengrass dengan Zabini dan memposisikan diri di kanan dan kiri Potter.
Gadis cantik bermata amethyst itu memutar bola matanya sebelum berkata pelan dan merapihkan kemeja Potter. Draco lihat sepertinya Potter tidak keberatan dan tidak peduli. Banyak gadis di Aula Besar yang berbisik iri dan sinis. Mereka tahu jika Potter itu incaran semua gadis, tapi sepertinya Greengrass sama tidak pedulinya.
Kembali Draco beralih ke sarapannya. Pemandangan itu membuatnya muak entah karena apa. Dia melirik Hermione dan gadis itu datang dengan wajah serius. Penampilan gadis itu serapih yang dia bisa di pagi hari selain rambut mengembangnya yang mengganggu untuk dilihat.
"Liburan natal ini, coba kau cari siapa itu Nicholas Flamel di perpustakaan rumahmu! Aku sungguh tidak menemukannya di perpustakaan," katanya serius dan Draco mengangguk. Dia diam saja saat gadis itu duduk di sampingnya sambil mengoceh soal tugas sebelum liburan natal. Tidak lama sampai datanglah Ron dan duduk di hadapan keduanya.
"Aku berpikir aku terlambat dan berebut ke kamar mandi dengan Dean!" keluhnya. "Dingin sekali mandi terburu-buru!"
Inilah tempatnya, pikir Draco. Kenapa dia harus selalu memandangi pahlawan dunia sihir yang sekarang reputasinya memburuk karena masuk asrama rivalnya sendiri? Dia dan Potter ada di sisi yang bersebrangan. Dia kini harus menyelesaikan misinya meski peringatan Regulus bernyaring keras di kepalanya. Sekali lagi Draco berpikir, tidak harusnya dia mendekati Potter.
Xxxx
Pagi itu, pada liburan natal dan Harry memutuskan tetap tinggal di Hogwarts, dia mendapati beberapa kado untuknya. Yang setelah dia lihat dari Hagrid, Daphne dan Blaise serta satu lagi tanpa nama. Hanya dia yang tetap tinggal dari semua murid Slytherin. Entah siapa yang mengiriminya Jubah Gaib tapi Harry tidak begitu peduli. Yang jelas dia menyukai hadiah natalnya.
Setelah sarapan, Harry berpapasan dengan kepala asramanya, yang dia heran membencinya sejak pertama kali kelasnya di mulai. Mungkin dia kesal karena Harry bisa menjawab semua pertanyaannya tanpa beban. Dan membuat Granger memandangnya sinis. Entah sejak kapan, sepertinya gadis kelahiran Muggle itu menandainya sebagai saingan di akademis. Dia sadar jika kaki Severus Snape dibaluti perban dan luka itu parah.
"Pagi, Profesor Snape. Sepertinya anda mengalami hal mengerikan, profesor," cetus Harry membuat kepala asramanya memandangnya tajam.
"Ya, dan jangan mengurusi urusan orang lain, Potter. Khas ayahmu sekali. Tapi tetap saja dia akan menangis darah mendapati anak kebanggaannya masuk ke asrama yang dia benci," sahut Snape dingin dan tajam.
"Mungkin anda bisa merayakan hal itu, Profesor."
Snape mendesis kesal mendapati sahutan seperti itu. Dia berlalu dengan jubahnya yang melambai dengan mendramatisir. Harry menyeringai senang dan mencari kelas kosong untuk kembali memulai sihir tanpa tongkatnya. Jadi dia bisa puas menyihir tanpa terdeteksi kementrian, mungkin.
Ternyata berlatih menjadi Wandless lebih sulit dibanding berlatih mantra non-verbal atau meramu ramuan. Sihir Harry sering kali meledak tidak terkontrol. Mungkin fungsi tongkatlah yang mengatur keluarnya sihir saat menyihir. Latihan Wandless menguras banyak tenaganya.
Dia butuh banyak konsentrasi tapi apa yang bisa dilakukan oleh anak berumur sebelas tahun yang berlatih menyihir sendiri? Jika dia lelah dan bosan, dia akan melahap buku-buku dan mempraktikan pelajaran yang belum dipelajari agar dia lebih maju dibanding anak-anak lain.
Bukankah semua orang berharap banyak padanya?
Jadi dia bisa lebih siap jika penyihir gila yang membunuh orangtuanya kembali. Si sialan-Voldemort. Jika kau ingin mengalahkan musuhmu, maka kenalilah dia serta seluk-beluknya. Meski Harry telah mengecewakan semua orang dan dia berusaha tidak peduli. Ini keputusannya, seperti kata Topi Seleksi, yang dia butuhkan untuk mencapai keinginannya ada di Slytherin.
Dan terbukti Voldemort mencapai keinginannya menjadi Dark Lord yang berasal dari Slytherin. Dan Harry tidak akan membuang begitu saja kesempatan sekali seumur hidup itu demi keegoisan karena dendam dan benci semata. Dia tentu saja membenci Voldemort yang menghancurkan hidupnya dan Harry akan membalasnya.
Tapi tidak semudah itu. Sama seperti dia menahan seluruh penderitaannya tinggal dengan Muggle. Dia sama bencinya seperti Voldemort pada Muggle. Tapi dia tidak akan menggila. Karena dari Voldemort lah semua penderitaannya berasal.
Duak!
Sihirnya menggelegak dan dia sadar jika seluruh benda di ruang kelas itu melayang berantakan. Intensitas sihirnya meninggi karena emosinya. Dia menghela napas dan kembali ke kesadarannya. Barang-barang yang melayang seperti meja, kursi, lemari dan lainnya jatuh kembali ke lantai dengan berantakan. Dengan malas dia lambaikan tongkat sihirnya agar ruangan kembali tertata rapih.
Masih ada beberapa jam sebelum makan siang sebaiknya dia ke perpustakaan dan belajar. Dia butuh banyak belajar. Tidak peduli jika dia telah menghabiskan jatah waktu belajar murid untuk dua tahun hanya dengan satu tahunnya di Hogwarts. Karena dia merasa kehabisan waktu.
Dia harus mengejar ketertinggalannya dengan Voldemort.
Xxxx
Hukumannya karena Regulus mendengar soal insiden Troll itu tidak boleh terbang sampai liburan paskah. Draco kesal sekali. Kini dia duduk di meja makan dan memainkan makanannya. Regulus cuek saja dan kembali menyesap kopinya sambil membaca buku.
"Regulus, kau tahu soal anak berambut hitam yang kuceritakan saat di toko Madam Malkin?" tanya Draco dan akhirnya tidak menghabiskan makan malamnya.
"Kau tidak bilang dia berambut hitam, tapi ya, kenapa?" jawab Regulus dan menurunkan bukunya untuk memberi perhatian pada Draco yang tidak suka diabaikan. Dulu saat berumur tiga tahun, Draco melemparnya dengan gelas mug karena Regulus mengabaikannya. Draco itu nakal sekali, dia berhenti menjambak orang pada umurnya yang beranjak empat tahun. Dan beralih menendang orang jika kesal.
"Dia itu Harry Potter!" beri tahu Draco seolah dia mengatakan rahasia negara. Namun sepertinya reaksi Regulus tidak sesuai keinginannya. Karena Regulus hanya mengangguk-angguk yang kentara sekali wajahnya dibuat-buat tertarik. Draco ingin sekali menendang walinya itu, tapi tidak dia lakukan. Dia tahu Regulus tidak peduli.
"Lalu? Kudengar dia masuk Slytherin. Ketahuan sekali dia itu kebalikan darimu." Regulus kembali membaca bukunya. "Kau tertarik sekali padanya."
"Ya, dia itu dingin sekali. Tidak ada yang berani padanya karena dia jenius dan berbahaya. Dia pernah membuat Nott tergantung terbalik dan membiarkannya dengan celana melorot. Jahat sekali!" sahut Draco dan memakan puding susunya. "Tapi aku menertawakannya bersama Ron."
"Kalau begitu jangan cari masalah dengannya," nasihat Regulus. Dia mengusap rambut pirang Draco yang mengingatkannya akan Lucius.
"Apa kau akan melarangku, jika aku mencoba dekat dengannya? Ron tidak suka Potter, katanya Potter itu sok kaya dan sombong." Mata kelabu yang mirip itu saling berpandangan. Membuat Draco percaya jika Regulus itu adik ayahnya.
"Bukankah Harry Potter memang kaya? Wajar saja kalau sombong. Dia jenius dan banyak uang." Regulus tidak ambil pusing, dia malah mendengus. "Dekati saja. Bagus untukmu ke depannya."
Draco ingin mengingatkan jika Harry Potter itu anak Slytherin. Tapi dia urungkan niatnya. Maka dia menyelesaikan makan malamnya dan beranjak ke perpustakaan keluarga Black untuk mencari siapa itu Nicholas Flamel. Tentu dia tidak berani bertanya macam-macam pada Regulus yang tidak suka jika Draco terlibat hal-hal berbahaya. Tapi Draco tidak bisa menutupi rasa penasarannya.
Xxxx
Saat itu Draco sedang tumben-tumbennya jalan ke perpustakaan sendiri setelah kelas siangnya usai. Dia sedang frustasi akan Essay Sejarah Sihirnya yang menyebalkan. Di kelas itu, Cuma Hermione dan Potter saja yang tidak tertidur. Dia heran dengan kapasitas otak keduanya. Makan apa sih mereka? Padahal menurut Draco makanan mereka sama.
Dan Draco melihat Potter sedang duduk sendiri. Ragu-ragu, Draco mendekati anak itu yang sedang membaca buku-Draco-tidak-mau-tahu-apa yang tebalnya setengah mati tidak mau Draco hitung halamannya. Dia membeku saat mendapati Potter langsung memandangnya tajam, padahal radiusnya baru dua meter, sumpah! Mungkin ini alasan tidak ada yang berani mendekati anak itu.
"B-boleh duduk di sana?" tanya Draco yang menyesali kegugupannya seperti Neville. Dalam jarak dekat, wajah Harry ternyata lebih manis dan imut. Berbanding terbalik dengan ekspresinya yang jangan-dekat-dekat-mati-kau. Dan betapa leganya Draco saat Potter menggedikkan kepalanya ke arah bangku meski masih tanpa ekspresi.
Segera Draco meletakkan barang-barangnya dan mulai mengerjakan essaynya. Setengah jalan dia mendesah frustasi mengalami kebuntuan yang sama seperti di ruang rekreasi walau ada Hermione.
"Merlin ajak aku ke tempatmu!"
"Cari referensi dari buku lain, Black" kata Potter tanpa bergerak sedikit pun. Draco terkejut dan setelah berpikir beberapa saat, dia bangkit dan mencari buku lain. Tapi dia bingung buku Sejarah yang mana, hingga dia menarik salah satu buku secara asal dan membawanya kembali ke meja. Setelah membolak-balik buku itu yang isinya tidak berguna, dia menjatuhkan kepalanya.
"Aku menyerah, butuh Hermione."
Draco mendengar dengusan keluar dari bibir pemuda di depannya. Dia mengangkat kepalanya dengan alis bertaut kesal. Tapi ekspresinya berganti dengan terkejut saat pemuda berbibir tipis itu meletakkan beberapa buku padanya. "Dasar Pemalas! Aku tidak akan memberi contekan padamu. Tapi buku-bukuku jelas berguna untukmu."
Awalnya Draco ragu, namun dia tetap mengambil buku-buku itu dan membuka-bukanya. Banyak kata-kata penting yang sudah digaris bawahi. Jelas itu mempermudah Draco dan dia yakin kurang setengah meter lagi essaynya itu akan selesai dalam waktu cepat jika dengan bantuan buku Potter.
Dia mengerjakan essaynya dengan senyum senang sampai dia tidak menyadari jika Potter sudah tidak ada di depannya. Dia diusir madam Pince saat sudah hampir makan malam. Dia baru sadar essaynya lebih panjang lima belas centi. Apa dia sudah tertular kerajinan Potter, yah? Dia agak kecewa saat sadar Potter meninggalkannya.
Meski begitu, dia jadi menyadari jika sebenarnya Potter itu anak baik. Buktinya dia membantu Draco yang merupakan anak Gryffindor. Yeah, walau anak itu tetap dingin. Tapi melihat buku-buku Potter masih ada di tangannya, dia jadi punya alasan untuk mendekati anak Slytherin itu. Maka dia berjalan ke Aula Besar dengan perasaan ringan. Dia menahan senyumnya saat mendekati Ron dan Hermione. Keduanya memandangnya ingin tahu.
"Kalau essaymu belum selesai, aku akan pinjamkan bukuku dan membantumu dan Ron," kata Hermione dengan sok seolah yakin Draco memang membutuhkannya. Seolah dia gurunya.
"Tidak perlu, essayku kepanjangan lima belas centi," sahut Draco dan duduk. Dia tidak memperhatikan wajah terkejut keduanya.
"Secepat itu!?" tanya Ron tidak terima. "Siapa yang kau conteki?"
"Aku tidak menyontek!" jawab Draco ikut tidak terima. Wajahnya mengkerut. "Aku dapat bantuan sumber buku. Perpustakaan, ingat?" Draco melirik Potter yang duduk dan memakan makan malamnya dengan tenang. Seolah dia punya tempat sendiri. Draco baru sadar, Potter memiliki daerah tersendiri dan tidak ada yang mengusik daerah itu. Potter punya kharismanya sendiri.
Saat Draco menyadari Potter balas memandangnya, Draco tidak bisa menahan senyum saat Potter memiringkan kepalanya seolah bertanya ada apa. Dan dia malah membelalak saat Potter tersenyum tipis. Tipis sekali sampai Draco tidak yakin jika dia melihat senyum itu. Merlin!
Xxxx
Makin mendekati liburan, Harry makin sulit menjaga emosinya. Dia mulai melatih dirinya Occlumency, pengendalian pikiran. Yang benar-benar membuatnya terganggu adalah Profesor gagap Quirrel. Di dekat pria bersurban itu dia sering merasakan bekas lukanya sakit. Dia mendapati hal aneh saat, saat menemukan pria itu masuk ke ruangan terlarang di lantai tiga.
Dia membuka pintu koridor terlarang itu dan terkejut saat menemukan anjing berkepala tiga yang terlelap. Ceberus, huh? Dia tutup kembali pintu itu untuk berbalik dan bersembunyi di belakang patung zirah saat mendengar ada derap lain. Itu 'kan tiga anak Gryffindor yang ceroboh? Mau apa mereka? Namun dia terkejut saat ketiganya memasuki ruangan yang berisi Ceberus tersebut. Apa mereka gila? Haish!
Maka Harry berbalik, karena dia jadi melanggar jam malam. Dia harus melapor, tapi itu bukan urusannya, jadi lebih baik dia ke asramanya. Namun perasaan itu menghantuinya. Bahkan saat dia sampai di asrama, dia tidak bisa terlelap. Dia mencoba membaca buku sambil menunggu kantuk, tapi dia tidak merasakan tanda-tanda akan tertidur.
Hingga dia sadar beberapa murid Slytherin telah bangun dan dia sadar jika hari telah pagi.
"Pagi sekali bangunmu, Potter" sapa Millicent. Dia memandang Harry heran dan mendapat balasan anggukan singkat dari Harry. Murid Slytherin sudah biasa akan sikap begitu.
Dan benarlah dugaan Harry. Pagi itu gemparlah Aula Besar di Hogwarts. Entah kenapa Harry kesal akan sikap Draco itu yang membuatnya tidak bisa tidur. Apa lagi anak itu masuk Hospital Wing. Tindakannya yang mencegah dicurinya Batu Bertuah menjadi pembicaraan. Dia yang tidak tahan akhirnya menyusul ke Hospital Wing dan berpapasan dengan Weasley dan Granger.
Keduanya memandangnya waspada. Harry tidak punya waktu meladeni keduanya. Dia bahkan tidak punya niat sedikit pun mendekati dua orang itu. Dia hanya mengangkat alis saat keduanya mengeluarkan tongkat menghalanginya mendekati Hospital Wing. Seolah kapan saja Harry akan menyemburkan api. Tapi bagus juga ide itu.
"Mau apa kau, Potter?" tanya Ron sinis membuatnya memiringkan kepala sedikit. Dia mempertimbangkan apa yang sebaiknya dia lakukan di situasi seperti ini. Tentu mudah untuknya mengalahkan Weasley satu ini. Yang berbahaya adalah Granger. Meski dia yakin kekuatan sihirnya tidak sebanding dengan Granger karena gadis itu Muggleborn.
"Aku punya urusan dengan Black" jawab Harry santai. Dia bahkan menepis dengan tangan tongkat Weasley dan keduanya terkejut saat tongkat itu terpental jauh dengan Weasley yang terdorong jatuh. Dia menggunakan mantra Expelliarmus secara non-verbal dan wandless. Sial, dia masih kurang konsentrasi sehingga sihir itu meledak, tentu sulit mengendalikannya. "Bukan urusan kalian," lanjutnya dingin dan melangkah anggun melewati keduanya.
Dia melihat sepertinya Black terkejut akan kehadirannya. Pemuda pirang itu menegakan sedikit badannya saat melihatnya. "Potter?"
"Black" sapa Harry. Dia mentransfigurasi sebuah kursi yang nyaman untuknya dan duduk di sebelah Black. "Sepertinya kau baik," kata Harry saat melihat wajah pucat Black. Anak itu tersenyum dan itu mengganggu Harry. "Aku ingin tahu apa yang kau hadapi. Katakan yang kau tahu," katanya setelah hening beberapa lama. Dan Harry tidak suka basa-basi.
"Voldemort," ujar Black. Dan dia menceritakan soal darah unicorn, Nicholas Flamel, Ceberus, Snape, Quirrel dan terakhir Voldemort. Cukup lama Black bercerita hingga madam Pomfrey mengusir Harry untuk makan siang. Namun Harry tersenyum kaku saat berpamitan pergi pada Black.
Dugaan Harry benar Voldemort kembali, namun dia tidak menyangka jika Black yang akan berhadapan dengan Voldemort pertama kali. Dia tidak bisa membiarkan Black berhadapan lagi dengan Voldemort. Karena ini perang Harry. Meski Harry tidak yakin akan alasan Voldemort tidak bisa menyentuh Black.
Black menyimpan sesuatu. Dan Harry akan mencari tahu.
Xxxx
Saat Draco memasuki Aula Besar, keadaan hening. Dan malam itu Gryffindor bersorak karena akhirnya tahun itu mereka memenangkan piala asrama dan mengalahkan Slytherin. Sepertinya itu jadi kemenangan asrama lainnya selain Slytherin karena teriakannya heboh sekali. Draco yang tertawa riang karena melihat Neville begitu shock sebab dia dikerubuti anak-anak, menyadari jika Ron menyenggolnya dan Hermione memandangnya meminta penjelasan. Dia menatap keduanya bingung sebelum Hermione menyikut Ron.
"Apa hubunganmu dengan Potter?" tanya Hermione. Wajahnya merengut setelah pengumuman jika dia tidak jadi juara angkatan.
"Ya, ada urusan apa kau dengan si sombong Harry Potter itu?" sahut Ron.
Tuntutan keduanya membuat Draco menghela napas berat. Dia mengeluarkan buku-buku Sejarah Potter dan menyodorkannya pada keduanya. "Dia membantuku menyelesaikan essayku di perpustakaan. Karena dialah essayku kepanjangan," jawab Draco ringan.
"Oh, pasti dia menagih buku-bukunya yang berharga meski kau sedang sakit. Keterlaluan! Egois sekali dia," ketus Ron dan melirik sinis pada Potter yang kelihatannya sangat tidak peduli sekitar. Wajahnya senetral air. Dan Ron yakin anak kaya yang terkenal dan memiliki segalanya itu menyimpan sesuatu yang jahat. Ron yakin jika meski dia bisa mengalahkan Kau-Tahu-Siapa dia tidak akan pernah baik. Bahkan menghargai orang yang membantunya. Karena dia Slytherin.
"Dia justru menanyakan keadaanku!" bela Draco. Dia sebetulnya berbohong. Potter tidak menanyakan keadaannya. Tapi memeriksanya sendiri dengan menyentuh dahinya. Potter bertanya secara tidak langsung. Dan Draco dengan senang hati mengatakan jika dia baik-baik saja. Dia menyimpan senang saat Potter mengangguk dengan senyum simpul sebelum diusir Madam Pomfrey. Oh, Draco gembira sekali bisa melihat senyum langka itu.
Ron dan Hermione memandangnya sangsi. Tapi selanjutnya keduanya tidak mempermasalahkan lagi. Hanya satu hal yang Draco khawatirkan sekarang. Hukuman Regulus yang menantinya.
Xxxx
Seminggu Regulus sama sekali mengabaikan Draco dan itu membuat Draco merasa frustasi. Hingga akhirnya Draco mengibarkan bendera putihnya dan memohon pada Regulus agar pamannya itu mau bicara lagi dengannya. Tidak mudah membujuk Regulus tanpa harus mendapat ceramahnya. Draco hampir kehilangan liburan bersama keluarga Weasley akibat itu. Dan dalam suratnya Ron juga mengalami hal serupa. Nyonya Weasley tidak senang akan berita mereka.
Namun di antara semua itu, Draco masih sempat-sempatnya memikirkan Potter. Apakah mereka bisa dianggap berteman sekarang?
Draco ingin sekali mengirim surat pada Potter, tapi diurungkannya karena dia takut kecewa jika suratnya tidak dibalas. Regulus tidak suka melihat Draco yang malas-malasan bergelimpangan di permadani dengan biskuit, maka dia menyuruh Draco mengerjakan PR-PR liburannya. Saat sedang sibuk mengerjakan tugasnya di perpustakaan, Regulus datang dengan nampan berisi makanan kecil.
Draco sengaja meletakan semua buku pelajarannya di kelas satu dalam lemari khusus buku-bukunya di perpustakaan. Saat Regulus melihat beberapa buku yang terlihat rapi sekali seperti baru, Draco menyadari kecerobohannya. Dia tidak sempat menahan tangan pamannya untuk menyambar buku-buku itu. Sangat bukan Draco sekali untuk merawat buku hingga serapih itu. Karena Draco itu orangnya sembarangan. "Jangan-"
"Buku siapa ini?" tanya Regulus menjauhkan tangan Draco. "H.J.P?" Regulus terlihat berpikir. Detik berikutnya dia sadar karena mengangkat dagunya sedikit. Dia melirik Draco yang pipinya merona. "Kau tidak mencuri bukunya 'kan saking fansnya?" tuding Regulus keji.
"Tidak! Tentu saja tidak," sangkal Draco. "Dia kasih aku pinjam," lanjut Draco sebal dan membiarkan saja Regulus membuka-buka buku itu. Regulus terkesan. "Dia membantuku mengerjakan essay Sejarah dengan meminjamiku buku itu."
"Ini sama saja contekan," sahut Regulus membuat Draco terkejut dan baru saja akan protes saat pamannya melanjutkan. "Kalau dia mau membantumu, dia harusnya cukup memberimu buku yang sama di perpustakaan dan aku yakin ada. Dia tinggal katakan judul buku yang menjadi referensinya. Kau sama saja menyalin essaynya dengan urutan berbeda. Karena kau menulis kata-kata yang sama dari sumber yang sama dengannya. Kalimat bergaris bawah ini kan jawaban yang sama dengan essaynya. Dan kau mengikutinya."
Draco begitu terkejut dan tidak tahu harus membalas apa. "Ta-tapi? Kenapa dia begitu?"
Regulus mengangkat salah satu alisnya dan terhibur dengan kepolosan Draco. Saat itu Draco bersyukur Ron dan Hermione tidak mengetahui hal ini. "Sepertinya dia menarik, hum? Pantas kau suka padanya." Regulus tidak peduli jika wajah Draco merah hingga ke telinga. Dia letakan kembali buku itu ke sisi meja Draco. "Ciumi saja bukunya, aku akan pura-pura tidak lihat."
Regulus melangkah cepat keluar perpustakaan menghindari lemparan buku-buku tebal dari Draco. Yang meski marah, dia masih merasa malu. Regulus tahu pasti cara menjahilinya. Draco akhirnya tidak peduli saat Regulus sudah hilang dari pandangannya. Dia kembali ke tugas sekolahnya selama liburan. Dia tidak mau liburannya diganggu oleh tugas-tugas.
Dia ingin puas bermain bersama keluarga Weasley, Aunty Meda, Tonks dan Hermione yang akan berkunjung. Dia juga mau berkomplot dengan Fred dan George untuk berbuat keonaran. Ngomong-ngomong soal Hermione, gadis itu masih marah karena mendapat peringkat kedua seangkatan. Tentu saja peringkat satu dipegang oleh Harry Potter. Ron bilang Potter itu kutu buku yang populer Cuma karena kaya dan keberuntungan waktu bayi dia tidak mati. Itu kejam, menurut Draco.
Karena Draco tahu rasanya, ketika orangtuamu berkorban agar kau tetap hidup. Ron tidak pernah kehilangan siapa pun. Dia beruntung keluarganya utuh. Apa Ron mau jika dia ditawarkan kekayaan, tapi tidak punya orangtua? Meski bernasib sama, Potter tidak seberuntung Draco yang masih punya Uncle Regulus. Ron bilang Potter pasti dimanja keluarganya karena terkenal.
Tapi menurut Draco tidak begitu. Potter tidak terlihat seperti dimanja. Dia ingat baju kebesaran jelek milik Potter ketika di Diagon Alley. Potter itu misterius dan Draco jadi selalu ingin tahu. Hermione bilang Draco terlalu obsesi pada Potter. Persis ketika dia terobsesi pada Batu Bertuah. Obsesi seperti itu tidak bagus dan Hermione ingin dia menghentikannya. Apa lagi Hermione jadi lebih gila belajar karena Potter. Dia serius ingin jadi yang paling pintar. Draco sangsi Hermione bisa mengalahkan Potter dan Draco senang akan kenyataan itu. Meski dia tidak mengakuinya.
Draco berharap tahun kedua ini dia jadi lebih dekat dengan Potter.
Xxxx
Memasuki stasiun, Harry sempat menyenggol seseorang. Dia pria tinggi, bersih dan Harry yakin dia berasal dari keluarga bangsawan. Matanya kelabu dan menyirat dingin ketika dia melirik Harry. Harry segera menunduk pada pria itu.
"Forgive me, sir," kata Harry dengan wajah datarnya.
"Potter?"
Harry mengangkat wajahnya dan menemukan Draco di sisi pria itu. Senyum Draco begitu lebar membuat Harry mengangguk singkat. Dia melirik pada orang yang Harry yakin itu Mr. Black yang mengangkat alis melihatnya. Tersirat sesuatu di ekspresi pria itu.
"Saya permisi, Black, Mr. Black," Harry segera berlalu dan menaiki Hogwarts Express. Dia masuk di koridor anak-anak Slytherin dan menemukan Blaise yang duduk sendiri di kompartemen. Dia masuk ke kompartemen itu dan dengan santainya menggunakan tongkatnya lalu menyihir agar barang-barangnya masuk ke sudut.
"Sepertinya kau mulai mengakuiku sebagai temanmu," ujar Blaise dingin dan memandangi Harry yang duduk di hadapannya. Dia diam saja saat Harry tersenyum miring.
"Kapan aku menolaknya? Aku yang merasa tidak pantas menjadi teman kalian, bukan menolaknya," sahut Harry dan memandang ke kaca. Dia melihat Draco Black yang memeluk Mr. Black dan berpamitan sebelum masuk ke kereta bersama Granger dan Weasley. Dan dia muak dengan pemandangan itu.
Harry memilih membaca bukunya dan mengabaikan tatapan Blaise padanya. Tidak lama hingga Daphne datang dan duduk di samping Blaise. Gadis itu menyapa keduanya yang dibalas anggukan singkat oleh Harry.
"Sekolah belum dimulai dan kau sudah bergelut dengan bukumu. Heran sekali kau itu jadi kutu buku, Harry," komentar Daphne pada Harry yang dibalas senyum oleh Harry.
"Jangan lihat kalau kalian mual, oh, ya, terima kasih kadonya. Aku tidak tahu kalian akan ingat ulang tahunku," Harry mengalihkan tatapannya dari buku dan bingung kedua temannya itu membeku. Seolah melihat Banshee. "Kenapa?" dia memiringkan sedikit kepalanya, kebiasaan yang dia tidak sadari.
"Kau-Merlin-tersenyum!" tegas Daphne seolah berbisik jika Lord Voldemort kembali. "Bukan senyum miring sinismu atau seringai!"
"Eum, pardon?" Harry mengangkat alisnya bingung harus bereaksi apa.
"Oh, tidak! Aku hanya tidak mengira kau akan menerima kami akhirnya."
Selama beberapa detik Harry memandangi dua orang di hadapannya hingga dia memutuskan menutup bukunya. Dua anak berdarah murni itu kagum dia bisa melakukan itu demi memperhatikan keduanya. Mereka menyadari Harry sedikit mengurangi ketidakpeduliannya.
"Aku merasa, kalian tahu, berbeda dengan kalian." Mulai Harry dan saat keduanya diam tidak membantah, Harry tahu mereka akan mendengarkan Harry sampai akhir. "Aku bukan seperti yang kalian bayangkan. Aku tidak dimanja keluarga ibuku. Aku tidak jenius sihir. Aku bahkan tidak tahu aku kaya raya hingga surat Hogwarts datang padaku. Aku menderita sejak kecil dan tidak pantas berteman dengan-dengan-dengan bangsawan seperti kalian!"
Daphne dan Blaise berpandangan dan keduanya menghela napas. Mereka lihat Harry yang memalingkan wajahnya. Seketika mereka sadar kenapa Harry begitu tertutup. "Kami tidak mencoba mendekatimu karena kau Harry Potter. Kami hanya nyaman denganmu Harry. Kau tidak seperti murid Slytherin lainnya, meski kami akui kau Slytherin dengan caramu sendiri."
"Setidaknya kau tidak menyebalkan seperti Nott atau Parkinson," sahut Blaise membuat Harry tersenyum. Sekali lagi keduanya tertegun.
"Aku bukannya tidak mau berteman. Karena sebelum mengenal duniaku sendiri, aku tidak punya teman. Aku ragu kalian menerimaku apa adanya," Harry kini kembali memandang dua orang di hadapannya.
"Jadi, sikap dinginmu selama ini, apa itu pura-pura? Maksudku, semua anak Slytherin memakai topeng mereka," tanya Daphne dan wajahnya penasaran.
"Bukan, itu topeng tentu saja," jawab Harry. "Kurasa aku akan mempercayai kalian."
"Well, kami tersanjung" sahut Daphne dan tersenyum senang. Sedangkan Blaise tertawa kecil.
"Boleh kami tahu bagaimana kau sebelum menerima surat Hogwarts?" tanya Blaise hati-hati.
"Yeah, keluarga ibuku Muggle dan membenci sihir. Tentu saja mereka membenciku. Bisa kau bayangkan?" jawab Harry dengan wajah dinginnya. Daphne menelan ludahnya dan Blaise terdiam. "Tapi aku menyalahkan Voldemort," lanjutnya dan melihat kedua temannya itu mengangguk pelan. "Apa orangtua kalian pengikutnya? Jujur saja."
Sontak keduanya menggeleng. "Aku keluarga darah murni yang netral," kata Daphne.
"Aku dari Itali," ujar Blaise. "Itu kenapa kami mendekatimu. Kami ingin kembali netral karena anak Slytherin yang orangtuanya Death Eater jelas membencimu."
Harry tidak mengatakan apa-apa selama beberapa waktu membuat Daphne berpikir jika pembicaraan usai. Namun dia dan Blaise terkejut saat Harry membuka suara.
"Bagaimana jika aku memilih memihak Voldemort?" Harry terlihat serius dan santai.
"Kau-Apa!?" Daphne melepaskan topengnya tanpa sengaja hingga emosinya terlihat. "Itukah alasanmu masuk Slytherin!?" dia kembali terkejut saat Harry mengeluarkan tongkat, mengayunkannya sedikt, tapi tidak mengucapkan mantra apa pun.
"Iya, memangnya apa lagi?" Harry tertawa keji. Namun tawanya membuat Daphne dan Blaise merinding.
"Kau se-serius Harry?" tanya Daphne lagi ragu. Dan tawa Harry mengeras, kali ini tawa itu membuat Daphne dan Blaise mengernyit bingung. Karena itu tawa penuh humor, bukan tawa gila tadi.
"Merlin, kalian harus melihat wajah kalian tadi!" Harry tertawa dan memegang perutnya.
Daphne dan Blaise langsung menyadari kekonyolan Harry. "Itu tidak lucu Potter! Kau membuatku kaget setengah mati!" seru Daphne marah dan memukul kepala Harry dengan buku milik anak itu sendiri.
"Bagus Harry, kau berhasil" cemooh Blaise, namun dia lebih terlihat terhibur. Hingga Harry meredakan tawanya dan terlihat wajahnya merah.
"Kalian shock sekali. Sepertinya kalian lebih takut jika aku bergabung dengan Voldemort dibanding kebangkitan penyihir gila itu sendiri," komentar Harry dengan seringainya.
"Dengar ya, Harry, kau bilang kau tidak mengenal sihir sebelum masuk Hogwarts. Dan kau berkembang tiga kali lipat dibanding penyihir darah murni. Kau pikir kami bodoh? Jika kau menjadi Death Eater, siapa yang akan bisa mengalahkanmu, hah!? Mengurus Voldemort saja susahnya minta ampun, apalagi ditambah kau!" omelan Daphne malah membuat iris emerald Harry berkilat penuh humor.
"Kupikir kau netral, Daph," sahut Harry. Dia menghindari pukulan buku miliknya dari gadis berambut pirang itu.
"Netral kepalamu!" ketusnya. "Aku hanya realistis. Kalau kau memihak penyihir sinting itu, mau jadi apa dunia sihir! Tapi aku juga tidak akan mendukung Dumbledore."
Pembicaraan mereka di interupsi oleh pedagang troli. Ketiganya membeli makanan secukupnya dan makan bersama.
"Apa yang akan kalian lakukan jika mengetahui aku memihak salah satunya, misalnya?" tanya Harry memecah keheningan. Dia lihat Blaise dan Daphne tampak berpikir.
"Sebagai teman kami mendukungmu, asal yang kau lakukan itu benar. Aku tidak akan menyoraki kau, 'bagus Harry, teruskan!', jika yang kau lakukan adalah melemparkan kutukan Cruciatus pada orang tidak bersalah. Apa lagi jika kulihat kau sudah dapat Dark Mark," jawab Daphne.
"Aku tidak akan mau jadi Death Eater, Daph!" Harry memutar bola matanya.
"Ya, kalau begitu kau mau jadi anggota Dumbledore?" Blaise menatap Harry ragu dan berjengit.
"Merlin, tidak, Blaise!" Harry merebut bukunya dari tangan Daphne.
"Lalu?" tuntut Daphne. Bersamaan dengan Blaise.
"Hanya ingin tahu, apa kalian akan mendukungku jika aku punya sisi sendiri," Harry menyeringai. Lalu tangannya membuka dan bukunya melayang. Dia sukses membuat Daphne dan Blaise kembali terkejut.
To Be Continued….
Xxxx
Preview
"Jangan hiraukan, semua orang percaya kau pewaris Slytherin."
"Minggir! Pewaris Slytherin mau lewat!"
"Katakan pada kami, Potter, siapa korban selanjunya?"
"KAU! POTTER! KEMBALIKAN ADIKKU! KEMBALIKAN GINNY!"
"tentu saja bersikap seperti anak Gryffindork bodoh. Mau menyelamatkan gadis Mudbloodmu, Weasley?"
"Berterima kasihlah ada aku di sini. Pastinya sia-sia kalian di sini dan mencoba mencari Kamar Rahasia tapi tetap tidak bisa membukanya tanpa Sang Pewaris."
Thanks A Lot to:
, sierrafujoshiakut, Shawokey, hanhyewon357, Hatsuki Anita Anti mainstream, askasufa, Park Rinhyun-Uchiha, chibikuroko, melani. , Okiniiri-Hime, Fujikaze Akira, Guest1, Guest2, Ayou MoeMoeKyusung, autumn2016 deeazafrosyita larry Guest3, Guest4, Guest5, Guest6, love drarry, Orang lewat, cupicakeu, amprhidite, larry, Okiniiri-Hime, Guest7, Ratih, BlueSky Shin, LionLord, Kyooteechot
Xxxx
Answer of Review :
Guest1 ; Heum, saran kamu bagus banget. Nah, ini gak mungkin jadi Harry Daphne, tapi lilbit mereka adalah bau-baunya, asem yak? Wkwkwk, Ichie gak bikin draco manja sih, lebih ke dia tuh anak normal aja. Dan Harry yah, terlalu tertariklah karena Draco terobsesi sama dia. Karena di sini Harry tuh keras, makanya dibuat Draco yang oppositenya. Iya, ini udah diupdate Chap 2 nyaa! Thanks to review!
Guest2 ; Ini Drarry nyaa!
autumn2016 ; Aduh, sayang~ /digampar/, Ichie bikin cerita ini buat kamu baca, bukan dipajang~/dilempar/. Drarry ya? Ini Drarrynya, votenya menang. Ini makanya Ichie gatel tamatin ini. Draco gak unyu kok, dia Cuma cute. Awww! Liat aja, sabar sama fluff mereka ya, mungkin di sini kamu akan sebel sama Harry, dia ababil nak. /slapped/. Terus dukung Draco buat dapetin Harry yaa! Ichie juga gak bisa nebak jalan ceritanya…(0A0) Nah loh!? Ini Chap 2 udah update! Thanks to review!
Deeaza ; Okay, dear, ini Drarrynya, dan Theoron. Selamat! Thanks to review! Keep review yaa!
Larry ; Ini Draco-Harry yang kamu mau! /tebargarem/ nah, draco emang akan jahil karena dia berkomplot sama The twins Weasley. Draco emang keturunan Slytherin jadi meski dia di Gryffindor, dia bakal tetep licik. Pada dasarnya sih sifat mereka sama-sama licik yah, /lirik harry/. Di sini harry tuh ababil nak, dia akan bikin draco frustasi. Nah, ini chap 2! Thanks to review! Keep review please!
Guest3 : Yaps! Ini drarrynya, kalo soal draco posesif, itu memang nak, dia kan dari awal udah obsesi sama harry, bukan maniak ya, dan harry, bhuahaha, lihat saja. Thanks to review!
Guest4 ; ini drarry nya. Thanks to review!
Guest5 ; Ini Draco x Harry nya. Thanks for Voting!
Guest6 ; Ini Draco x Harry nya, thanks for voting and review!
love drarry ; iya mereka kebalik say, untung gak kepala di bawah. /gampar/ Keep review ya! Soal Theoron, congrats atas votingmu nak! Thanks to review!
Orang lewat ; maaf juga, reader-san, mungkin ini mengganggu kamu, maaf kalau Ichie sebagai Author Newbie tidak bisa menentukan Main Cast sendiri. Pasti ini menyinggung kamu. Sebelumnya terima kasih karena reader-san sudah berbaik hati mengingatkan Ichie di kolom review, dan memberi saran. Sejujurnya, Ichie hanya ingin meminta saran apakah baiknya Main Cast untuk fanfic ini karena Ichie bingung menentukan Main Cast. Ichie sama sekali tidak bermaksud untuk membuat para reader yang votenya kalah untuk tidak menyenangkan mereka. Tapi, itu demi tujuan voting. Dan Ichie tahu sebagai Author Newbie pasti tidak bisa menyenangkan semua reader. Di sini, Ichie hanya ingin mengeluarkan ide-ide Ichie tanpa maksud apa pun. Jadi maaf kalau ini membuat reader-san tidak senang. Sekali lagi terima kasih atas saran dan reviewnya. Tolong kalau ada yang salah lagi, kasih tahu lagi ne? Sangat memotivasi Ichie untuk lebih baik lagi. /kasih reward/
Ayou MoeMoe Kyusung : Gak apa apa neng, Review dua kali. Teruskan! /plak!/ Ron Mione kalah Vote ama Ron Theo, sebagai gantinya ini Blaise Hermione, jangan nangis, cup cup. Maaf belum bales review kamu lewat PM. Ichie usahakan yah! Ini gak realita ya? Bakal Ichie bikin terlalu realita ampe kamu nangis darah bacanya.
Guest7 : Duh, maaf yah, Vote Drarry yang menang… nunduk… semoga kamu tetep baca dan terus Review meski anon. Btw, kamu nanya cerita Ichie yang mana soal belum update udah 6 bulan? Kalo ff ini kan Ichie jadwalin update sebulan kemudian dan itu hari ini. Thanks for the Vote!
Ratih : Ini Drarry mbak, harap terus review! /kasih kembang/ apa ini antimainstreem? Apa ini ajib ajib? Bakal di ajib ajibin. Wkwkwk. Thanks to review!
Xxxx
Author's Note :
Sumimasen desuka… Annyeong! Maaf telat Update beberapa jam. /burned/ Berdasarkan Vote, Ichie minta maaf yang sebesar-besarnya untuk pendukung HarCo dan BlaiseTheo. /nunduk/
Jadi, Couple yang akan tampil adalah… jeng jeng jeng…
Draco Malfoy dan Harry Potter
Ronald Weasley dan Theodore Nott
Dan Blaise Zabini dan Hermione Granger
Buat Couple lainnya akan nyusul. Btw, apakah ada yang mau kasih saran buat pendamping Daphne Greengrass? Langsung PM Ichie aja yah!
Dalam ff ini akan sedikit banget adegan perangnya, karena ini ngikutin canon. Jadi buat apa Ichie ketik ulang? Di sini bakal fokus ke romance Draco sama Harry, jangan kecewa yah! Nah, soal Harry yang membelot atau tidak, keep waiting. Adegan actionnya bakal ada tapi gak sebanyak di canon dan Harry gak akan ada affair sama Tom, please!
Buat Arras Hyung! Ini request hyung yah! /peyuk/ Gomapta buat dukungannya! Minta fav Ichie boleh lah… wkwkwk
Pokoknya kalo yg review banyak akan Ichie percepat update Chapter 3. Ayo! Review untuk mempercepat update! Bhuahahaa! Tolong kasih kritik dan saran buat kelanjutan ff Ichie. Apakah kalian setuju jika ada pihak ketiga dalam perang?
Sumimasen, thanks a lot for the Vote! Lanjutkan Vote kalian buat siapa kah yang cocok buat jadi pacar Daphne?
Keep Review!
