Pernah kukatakan diawal, kalau Jongin itu selain popular dia juga ramah kepada siapa saja. Senior, junior, teman seangkatan, semua mengenal baik siapa itu Jongin. Kalau pun mereka tak begitu akrab, setidaknya mereka tau bagaimana perangainya di kampus.
Tapi jangan salah menilai. Diluar mungkin Jongin begitu adorable, tapi kalian tidak tau kan bagaimana jika bersamaku?
Sungguh, Jongin itu sama sekali tidak peka. Terkadang dia tidak akan mempedulikan sekitarnya, termasuk aku. Aku bingung, dia benar-benar mencintaiku tidak sih?
Saat itu kami sedang berkencan, dia mengajakku ke taman bermain. Bukannya dia mengajakku menaiki wahana yang ada disini atau bahkan bermesraan seperti pasangan lainnya, Jongin justru asik memainkan game Pokemon Go. Ayolah, game itu belum legal di negara ini. Sebenarnya aku tidak peduli akan hal itu, tapi kalian perlu tahu dia mengabaikanku. Berjalan kesana kemari menangkap pokemon yang sebenarnya hanya ada di layar ponselnya.
Aku kesal, tentu saja. Jongin berjalan begitu cepat dan aku mulai jengah melihat tingkahnya. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari minum dan duduk disuatu tempat di sekitar sini. Untuk saat ini, aku memaklumi saja kelakuan kekasihku itu, jika dia sadar aku tidak ada dia juga akan mencariku, itupun jika dia peduli.
Senang rasanya ada kedai kecil yang menjual bubble tea di area taman bermain ini, setidaknya tidak membuat moodku semakin buruk. Aku melihat-lihat orang-orang berlalu lalang dihadapanku, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa terlihat ceria menikmati acara mereka. Hatiku sedikit kesal jika melihat beberapa pasangan begitu mesranya, bergandengan tangan, melemparkan lelucon satu sampa lain, ah manisnya.
Jika aku tega meninggalkan Jongin, sudah dari tadi aku pulang naik bus. Tapi aku sudah dibutakan cinta sepertinya, sehingga aku hanya mampu menghela nafas bosan.
Sedang asik-asiknya menikmati butiran tapioca dari gelas bubble tea-ku, seseorang menepuk pundakku pelan.
"Sehun, sedang apa disini?" aku menoleh dan menemukan salah satu senior di kampus yang sama populernya dengan Jongin.
"Yifan Sunbaenim."
Demi menjaga kesopanan aku berdiri lalu membungkuk singkat kearahnya, dan mempersilakannya duduk disampingku.
"Kau sendirian?" belum juga aku menjawab pertanyaannya yang tadi, dia sudah bertanya lagi.
"Tadi aku kesini bersama Jongin, dia sedang pergi sebentar untuk membeli beberapa makanan ringan, saat ini aku benar-benar ingin memakan sesuatu."
Aku harus berbohong kepada senior blasteran ini, karena demi apa dia ini rivalnya Jongin. Bukan bermaksud menyombong, Yifan dulu berniat merebutku dari Jongin. Dia selalu memandang remeh Jongin kalau kekasihku itu bisa menjadi kekasih yang baik untukku atau tidak, mengingat yeah dia seperti apa. Maka dari itu, jika aku mengatakan hal sejujurnya kemana si bodoh Jongin itu pergi, sudah dipastikan Yifan akan mengomporiku untuk memutuskan Jongin.
Hell no! Selama Jongin tidak memutuskanku, aku tidak mau berpisah dengan Jongin. Bahkan jika suatu hari Jongin selingkuh sekalipun, aku akan menunggunya mengatakan putus kepadaku baru aku pergi dari hadapannya. Gila memang, tapi bagaimana? Jongin membuatku cinta mati. Aku sudah memendam perasaanku kepada Jongin begitu lama. Hanya karena ada blasteran ini masa aku harus meninggalkan kekasihku? Tidak bersyukur namanya.
"Ah, bagaimana hubungan kalian? Berjalan dengan lancar? Jongin tidak berbuat macam-macam kepadamu kan?"
Lihat! Dia sudah menanyakan hal-hal yang menjurus kesitu.
"Berbuat yang macam-macam itu seperti apa, Sunbae? Jika yang kau maksud adalah hal negative, aku bersyukur Jongin tidak melakukannya karna dia sangat mencintaiku." aku sebenarnya sedikit ragu sih ketika mengatakan "sangat".
"Lalu bagaimana dengan berbuat yang macam-macam dalam hal positif?" sial sekali dia tidak menyerah.
"Sebenarnya Sunbaenim, itu adalah privasi kami. Aku agak malu menceritakannya, jadi kau tidak perlu tau."
Benar-benar gila, aku sudah tidak waras sepertinya sampai-sampai mengatakan ini kepada Yifan. Aku sangat paham kemana arah pembicaraan ini, dan asal kalian tahu saja meskipun hubunganku dengan Jongin sudah lumayan lama, dan terkadang Jongin menginap dirumahku (saat orang tuaku tidak ada), tapi kami tidak pernah melakukan hal yang iya-iya. Minimal kami hanya tidur sambil berpelukan. Itu wajar kan?
Kulihat air muka Yifan berubah tegang. Dia terlihat tidak suka. Hahaha rasakan itu.
"Maksudmu Jongin pernah menyentuhmu? Katakan Sehun, jika dia sama sekali belum pernah menidurimu!"
W-wow, dia blak-blakan sekali. Aku memandang sekitarku dan memastikan tidak ada yang mendengarkan ucapan dari mulut si burug marah ini.
"Bisakah kau kecilkan suaramu, Sunbae? Bagaimana jika orang-orang mendengar kalimat tidak senonohmu ini." Aku berbisik sambil memicingkan mata.
Oh, lihat! Wajahnya memerah. Pasti sebentar lagi dia akan marah lalu pergi. Hehehe cerdas juga cara mengusirnya.
"Kau tidak bisa melakukan ini kepadaku, Oh Sehun." dia menatapku nyalang sambil menarik tanganku sangat kencang. Sakit sekali.
"Lepaskan tanganku, jika orang-orang melihat kita dikira kita sedang bertengkar." Aku mencoba melepaskan tanganku namun gagal, dia ini manusia atau apa tangannya kuat sekali. Aku jadi ingat, Jongin pernah bilang aku terlalu kurus, senggol sedikit saja tulangku bisa patah.
Bodoh! Disaat seperti ini aku justru memikirkan hal tidak berguna.
"Persetan dengan orang-orang aku tidak peduli, Jongin tidak menyentuhmu kan?"
Ngotot sekali orang ini.
"Dengarkan aku Yifan Sunbae, aku dan Jongin adalah sepasang kekasih. Dan kami sesama lelaki, berapa kalipun dia beniduriku, aku tidak akan hamil, dan sex bebas sudah bukan hal ajaib di negara ini jika kau lupa. Lalu apa yang kau ributkan?"
"Kau tau aku menyukaimu. Aku menunggumu dan kau justru bersikap murahan kepada si brengsek Jongin?"
Orang ini benar-benar membuatku emosi. Dia menghinaku, dan kekasihku!
PLAK!
Well, untuk yang satu ini aku ingin memuji diriku sendiri karena aku bisa melihat hasil karya tangan kiriku membekas di pipi kanannya.
"Maaf jika aku lancang, tapi aku tidak sehina itu dan Jongin tidak brengsek. Dia baik dan aku sangat mencintainya. Sangat sangat sangat mencintainya."
Lalu hal yang terjadi setelahnya adalah di menyeretku dari tempat dimana aku duduk. Hey, dikira aku karung beras yang bisa ia seret-seret sesuka udelnya?
Aku memberontak, mencoba melepaskan genggamanannya tapi yah aku kalah tenaga. Dia benar-benar kasar dan aku semakin tidak menaruh simpati kepadanya.
Orang gila ini–aku harus menyebutnya begitu, terus menyeretku sampai ditempat parkir mobil, dan bagian yang paling tidak aku suka adalah ketika dia membenturkan punggungku ke pintu mobil yang bisa kutebak ini adalah mobil miliknya.
Detik berikutnya aku menemukan diriku tengah dicium paksa oleh blasteran gila yang gilanya sudah tergila-gila kepadaku.
Aku mengutuk letak mobil orang ini yang berada di pojokan tempat parkir sehingga tidak ada seorang pun yang tau perbuatan asusila yang terjadi padaku. Memberontak pun susah sekali yang bisa kulakukan hanyalah berusah keras supaya bibirku terkunci rapat tidak memberikannya akses.
Memejamkan mata menghalangi air mata yang keluar, aku bisa mendengar suara lelaki lain yang sudah tidak asing lagi di telingaku.
Yang kurasakan setelahnya adalah tubuh pria yang hampir memperkosaku ini menjauh dari tubuhku dan aku bisa mendengar suara "bugh bugh" begitu keras berulang kali. Saat aku membuka mataku, aku melihat bagaimana wajah Jongin–kekasihku, memerah menahan amarah sambil terus melakukan penganiayaan kepada Yifan. Jika aku tidak mencegahnya mungkin saja kaki Jongin sudah menginjak wajah blasteran Cina-Kanada itu.
.
.
.
Selama perjalanan pulang, Jongin hanya diam sama sekali tak mengajakku berbicara. Jika sebelumnya tidak terjadi apa-apa aku bisa berpikiran mungkin Jongin hanya ingin focus mengendarai mobil, tapi aku yakin kali ini tidak seperti itu. Berulang kali aku meliriknya namun dia sama sekali tidak menghiarukanku.
Ugh, bagaimana ini?
Seharusnya aku yang marah kan, dia yang meninggalkanku sehingga aku mengalami hal yang tidak diinginkan seperti tadi. Tapi kenapa justru dia yang marah. Aku sungguh tidak tahan dengan situasi seperti ini.
Kebisuan ini tetap berlanjut saat kami memasuki pekarangan rumah mewah Jongin. Aku tidak sekali dua kali menginap disini juga, orangtua Jongin baik sekali kepadaku, tapi yah mereka jarang dirumah. Dan mengetahui sepertinya rumah ini sepi hanya ada pembantu dan tukang kebun, aku sedikit lega. Setidaknya situasi tidak semakin canggung, karena Jongin yang masih enggan berbicara kepadaku saja sudah membuatku mati gaya.
Seperti biasa, tanpa disuruh lagi aku akan menaiki tangga menuju lantai dua, dan duduk manis di kamar Jongin, sementara pemiliknya memasukki bagian lain dari rumah ini.
Aku merebahkan diri dikasur empuk Jongin dan sedikit meraba bibirku yang membengkak. Sial sekali Yifan itu, aku benar-benar merasa terhina dengan segala perlakuannya. Jongin tidak pernah menciumku secara paksa, dia selalu melakukannya dengan lembut dan aku bisa merasakan kasih sayang darinya.
Setitik rasa bersalah merayapi dadaku. Meskipun ini bukan salahku, tapi Jongin pasti terluka melihatku berciuman–secara paksa, dengan orang lain. Aku benar-benar bodoh. Seharusnya aku bisa melawannya.
Pintu kamar ini terbuka, memunculkan sosok Jongin yang membawa nampan dengan secangkir minuman panas diatasnya. Aku menebak dari baunya itu adalah coklat panas.
"Minumlah, kau akan merasa lebih baik."
Aku bangkit dari acara rebahanku dan menerima coklat itu, meniup kecil permukaannya dan meminumnya sedikit demi sedikit.
Jongin mengambil kursi belajarnya dan duduk di hadapanku. Aku meliriknya, tapi tetap saja Jongin tidak berbicara sama sekali, alih-alih berbicara dia justru menatapku dalam, aku kan gugup jadinya. Daripada seperti ini terus yang aku yakin jika diteruskan bisa berlanjut sampai nanti malam, aku memutuskan untuk buka suara.
"Aku memiliki pembelaan jika kau marah kepadaku, Jongin"
Yang kulihat Jongin hanya tersenyum dan mengusak kepalaku lembut.
"Habiskan dulu coklatmu, lalu berceritalah sampai kau puas. Menangis pun sangat diperbolehkan.
Aku menggeleng untuk menolak.
"Tidak kau harus mendengarkanku dulu, Jongin. Aku ingin menceritakan kronologinya sekarang. Kau pergi mencari pokemon entah kemana dan aku lelah mengikutimu. Setelah itu aku membeli segelas bubble tea, bertemu dengan Yifan dan dia bertanya bersama siapa aku ke taman bermain. Aku menjawab pertanyaannya dan mengatakan bahwa kau, kekasihku yang tampan pergi mencari makanan ringan sesuai permintaanku, yang sebenarnya itu hanyalah bualanku."
Kulihat Jongin belum ingin menyela ataupun berkomentar maka aku melanjutkan.
"Baik, setelah itu dia menanyakan soal hubungan kita, dan entah bagaimana, aku membual lagi tentang sesuatu yang berbau seksual dan sepertinya aku membual lagi bahwa kau pernah meniduriku dan itu membuatnya murka. Setelah itu dia menyeretku dank au tau bagaimana kelanjutannya.
Lalu kau mendiamkanku disepanjang perjalanan dan membuatku semakin tidak nyaman. Aku yang harusnya marah. Gara-gara kau meninggalkanku aku hampir dilecehkan orang lain."
Jongin terkekeh pelan lalu mengambil cangkir berisi coklat itu dan meminumnya juga, lalu mengembalikannya lagi kepadaku.
"Memangnya siapa yang marah kepadamu, huh?"
Kenapa dia bertanya seperti itu?
"Tentu saja kau, Jongin."
"Aku tidak, Hun."
"Lantas kenapa kau diam sedari tadi, hah?!"
Orang ini benar-benar membuatku kesal saja, walaupun aku mencintainya sih.
"Kuakui aku sangat marah, melihat dia menciummu. Siapa yang tidak emosi ketika kekasihmu dicium oleh orang lain. Tapi aku sudah puas dengan menghajarnya tadi. Alasan kenapa aku diam karena aku masih emosi, Hun. Aku tahu kau tidak akan melakukan sesuatu yang akan menyakitiku, benar kan?"
"Tapi kau menyeramkan jika sudah diam begitu, Jongin."
Kedua pipiku ditarik oleh Jongin dan membuatku mengerang.
"Sekarang aku bertanya, kenapa kau harus berbohong kepada Yifan soal 'aku sudah menidurimu'. Kau jelas tau dia begitu terobsesi merebutmu dariku."
"Aku pikir dia akan marah dan pergi jika aku menjawab begitu. Tapi dia malah mengataiku murahan. Dan berujung seperti tadi. Lagipula, mana mungkin aku menjelekkanmu dideepan dia, kalau dia menghasutku supaya berpaling darimu bagaimana?"
Sekali lagi Jongin terkekeh, tapi kali ini yang ditarik olehnya adalah bibirku yang sudah tidak membengkak lagi.
"Memangnya kau bisa berpaling dariku?"
"Tentu saja tidak. Kalaupun aku harus pergi dari sisimu, itu bukan karena hasutan orang lain apalagi atas kemauanku, Jongin. Itu karena kau. Aku hanya akan pergi jika kau yang memintanya."
Jongin mencium keningku dengan lembut. Lalu turun ke kedua mataku secara bergantian, turun lagi ke hidungku dimana membuatku kegelian.
Dan terakhir bibirku.
Aku sangat menyukai bagaimana cara Jongin menciumku. Dia benar-benar seorang gentlemen. Sentuhannya pada bibirku tidak hanya membuat pipiku memanas tapi juga membuat hatiku berdesir menyenangkan. Mampu membuat seluruh anggota tubuhku merasakan kehangatan yang Jongin berikan.
Dia menjauhkan bibirnya dan menatapku sambil tersenyum.
Ah tampannya.
"Manis sekali sih Sehun-ku ini, kau memang paling bisa membuatku berdebar-debar."
Aku hanya terkekeh saat dia menggesekkan hidungnya ke pipiku, seperti puppy saja dia.
"Ngomong-ngomong, kau ingin membalas Yifan tidak? Memukulnya juga, mungkin?"
Malas sekali rasanya jika harus bertemu lagi dengan lelaki blasteran itu. Lagipula Jongin sudah melakukannya.
"Tidak, kau sudah menghajarnya sampai babak belur begitu."
Jongin berdiri meminta kembali cangkir yang ada di genggamanku lalu meletakkannya di atas nakas. Setelah itu dia duduk dihadapanku lagi, dan menggenggam kedua tanganku. Tangannya begitu hangat dan nyaman. Aku sangat menyukainya.
"Maafkan aku karena hari ini kau mengalami kejadian yang buruk, sangat buruk. Kau memang lelaki, dan tidak memerlukan pertanggung jawaban atas apa yang menimpamu, tapi aku yakin kau tersinggung karena perlakuan Yifan. Dan aku juga minta maaf, aku tidak melakukan hal seperti yang kau katakan kepada Yifan tadi. Aku pergi bukan karena untuk menyenangkanmu, tapi kesenanganku sendiri. Aku tidak bisa berjanji tapi aku akan berusaha untuk memperbaikinya."
Jongin mengatakannya dengan sungguh-sungguh dan aku bisa melihatnya. Dia memang tidak peka dan terkadang menyebalkan. Tapi Jongin menghargaiku. Aku jadi semakin mencintainya. Heheheh.
"Ah aku hampir lupa, mungkin lain kali kau tidak perlu berbohong lagi soal aku yang menidurimu, Sehun-ah," dia menaik turunkan alisnya dengan genit.
Aku menatapnya bingung. Sebentar, kurasa aku akan mendengar sesuatu yang tidak menyengakan untuk jantungku setelah ini.
"K-kenapa memangnya?"
Jongin tersenyum misterius dan membuatku semakin merasakan tanda bahaya. Dia mendekatkan bibirnya ketelingaku. Kurasakan Jongin menggigitnya pelan dan meniup-nipunya , badanku mulai gemetaran karena perbuatannya. Sedangkan tangannya mulai menelusup kedalam kaosku, lalu mengelus-elus punggungku dimana membuat lututku semakin lemas saja, setelah itu dia berbisik.
"Karena jika kau mau, kita bisa melakukannya sekarang, sayangku."
"HYAAAAA MENJAUH KAU DARIKU DASAR MESUM!"
Dan yang terjadi setelah ini adalah…
.
.
.
Hayo, apa?
.
.
.
"Kau ganas sekali sih, Hun."
"Itu karena kau melakukan tindakan pelecehan kepada anak dibawah umur."
Aku tersenyum puas karena secara tidak sengaja menendang kursi Jongin sampai jatuh terjungkal. Kulihat Jongin meringis kesakitan dibawah sana sambil memegangi punggungnya. Untung kepalanya tidak terbentur lantai. Aku bisa masuk penjara atas tuduhan penganiayaan. Karena tidak tega, aku membantunya bangkit lalu mengelus-elus punggungnya, tapi tidak dengan cara menelusupkan tanganku kedalam pakaiannya.
Aku tidak mesum, okay?
"Umurmu sudah dua pulh tahun, mana ada dibawah umur?"
Jongin menggerutu kesal. Sebenarnya kasihan juga sih.
"Baiklah, maafkan aku. Aku reflek saja melakukannya, siapa suruh kau menggodaku."
"Perlu kau ingat, Hun. Aku tidak akan melakukannya sebelum kita menikah. Meskipun kita sama-sama lelaki, aku tidak ingin melakukannya tanpa adanya ikatan yang illegal."
A-apa? M-menikah katanya?
"Kau ingin menikahiku?"
"Kau tidak ingin kunikahi?"
"Memangnya kau mau menikah denganku?"
"Memangnya kau tidak mau menikah denganku?"
APA-APAAN SIH JONGIN?!
"Hentikan becandaanmu ini, Jongin!" aku menggeram kesal. Jongin suka sekali sih menjailiku.
"Kau pikir kita hanya akan berpacaran sampai tua? Kau pikir kenapa aku memintamu menjadi kekasihku jika bukan karena ingin kunikahi?"
Aku mendengus malas. Benar juga katanya. Memangnya hubungan kami hanya sebatas berpacaran saja. Wah aku sih mau saja menikah dengannya.
"Tentu saja aku mau. Kalau aku tidak mau menikah, kenapa aku harus menerimamu sebagai kekasihmu kan."
"Itu kau pintar." Jongin menyentil dahiku pelan,
"Sudahlah, pembahasan menikah-menikah ini kita akhiri saja sampai disini. Sebaiknya kita mandi karena badanku sudah sangat lengket."
Aku bangkit dari dudukku, lalu membuka almari pakaian Jongin. Sudah biasa sih aku meminjam baju-bajunya. Kan kita pasangan.
"Hun, apa kau tadi mengatakan kita?"
"Huh?"
"Kau mengatakan kita. Maksudmu kita, kita mandi bersama? Berdua begitu?"
"JONGIIN!"
Dan pakaian yang tadi sudah ditanganku sekarang bersarang kepala Jongin dan menutupi sebagian wajahnya karena aku yang melemparnya.
.
.
.
Note:
hanya beberapa moment setelah mereka jadian. semoga readers suka. XOXO
