Naruto Milik Masashi Kishimoto
Masih Newbie | Banyak typo | DLDR | No EYD | Kesalahan lainnya dkk.
.
.
.
Couch, CEO, and My Lover.
#2
.
.
.
Matahari sepertinya sehati dengan suasana dan perasaan hati Hinata saat ini. Panas!
"Permisi nona, kau meng–"
"HEI! Kau yang menghalangi jalanku! Lihat! Mobilku tidak bisa keluar karena mobil mu ini!" Emosi Hinata sudah memuncak. Ia menaikkan nada bicaranya sambil sesekali menunjuk ferarri hitam milik Naruto.
"Aku tidak menghalangi jalanmu Nona. Aku hanya parkir disini. Maaf, tapi aku sedang ada urusan." Sela Naruto sopan dengan nada dinginnya.
Tapi sebelum Naruto mulai melangkahkan kakinya, Hinata dengan badan mungilnya menutupi jalan Naruto untuk lewat. Hinata marah sekaligus malu, posisinya dengan Naruto sekarang sudah sangat dekat.
Melihat wajah Hinata sudah sangat memerah sekarang, Naruto memanfaatkan kesempatan untuk melumpuhkan gadis manis pelawan didepannya ini.
Ia menyudutkan Hinata ke pintu mobilnya. Pemuda bersurai jabrik itu mengunci pergerakan Hinata dengan kedua lengannya. Naruto menatap dalam iris amethyst didepannya.
Tak usah ditanyakan bagaimana Hinata sekarang. Ia malah memejamkan matanya berfikir bahwa pria tinggi didepannya ini akan menciumnya (pede amat). Naruto menyeringai puas melihat reaksi Hinata.
'Jangan curi ciuman pertamaku tolongg.' Batin Hinata berteriak.
"Khh, apa kau pikir aku akan menciummu? Dasar gadis mesum." Ucap Naruto menyindir.
Seolah-olah Naruto dapat membaca isi hatinya, Hinata segera membuka kembali kedua kelopak matanya. Tangan-tangan mungilnya langsung mendorong tubuh Naruto menjauh.
"A-a-aku tidak b-ber-fikir begitu! Kau yang mesum!" Teriak Hinata mengembungkan pipi chubby nya yang sudah memerah.
'Manis juga. Kenapa tadi tidak kucium saja?' Batin Naruto. Sekarang mereka berdua sama-sama mesum.
"Hoh dasar! Mentang-mentang mobilmu ferarri jadi sesuka hatimu saja dasar kuning mesum!" Hinata mengeratkan pegangannya dengan totebag bermotif bunga-bunga. Sempat-sempatnya Hinata menjulurkan lidah miliknya kearah Naruto, kayak anak kecil saja.
"Gadis aneh" Gumam Naruto. Tak tega membiarkan gadis itu susah, Naruto pun mengalah dan memutar balik mobilnya memberi akses lewat untuk gadis aneh tadi.
.
.
.
"Tadaima"
"Okaerinasai nee-chan"
Hanabi memandangi kakaknya yang terlihat kelelahan. Tadinya ia ingin mengatakan sesuatu yang penting pada kakaknya, tapi melihat kondisi Hinata yang lelah ia mengurungkan niatnya.
"Nee-chan istirahat dulu. Kubuatkan es jeruk ya, cuaca hari ini memang sangat panas" Tanya Hanabi dengan penuh kasih sayang. Adiknya ini memang sangat pengertian, meski sesekali membikin darah tinggi karena ulah usilnya.
Jari jempol milik putri Hyuuga tersebut terangkat ke udara menandakan tanda setuju kepada adiknya. Ia mulai menaiki anak tangga dengan sisa tenaga yang masih bertahan, panasnya cuaca menjadi alasan utama mengapa Hinata kelihatan lusuh sekali.
BRUKK
Tubuh mungil Hinata bertemu dengan permukaan kasur empuk berukuran queen size miliknya. Mengingat cuaca yang sangat panas hari ini membuatnya hanya ingin malas-malasan dirumah, tentang toko roti kecilnya ia serahkan pada para pegawai terpercaya.
Sial. Sial. Sial.
Hinata mencoba mengingat-ingat kejadian yang baru ia alami. Sudah hari ini panas, jalan keluar mobilnya dihalangi, ditambah ketemu orang mesum yang sudah membuatnya malu pada dirinya sendiri.
Tangannya mengusap kasar wajah cantik nan mulusnya. Percuma ganteng, kaya, tapi kalau tidak ada moralnya sama saja nol. Ia berharap pada Kami-sama agar tidak diberikan teman hidup yang seperti Naruto! TIDAK AKAN! 'Pahit pahit pahitt deh ahh' Batin Hinata.
Tok Tok Tok
"Masuk saja tidak dikunci"Hanabi membawa nampan berisi dua gelas es jeruk segar untuk menghilangkan rasa dahaga di tengah siang bolong begini ( hayoo jangan tergoda bagi yang puasa ).
"Anoo nee-chan, sebenarnya aku ingin me–"
Drrrtt Drrt
Suara getaran handphone Hinata memotong ucapan Hanabi seenaknya saja. Hinata segera menggapai handphonenya yang juga tergeletak malas.
'Moshi-moshi Sakura-chan'
'…'
'Ah iya ide bagus!'
'…'
'Jaa'
Hinata bangkit dari tempat tidurnya dengan semangat, berbeda dengan beberapa menit yang lalu. Sudah Hanabi duga, pasti kakaknya ini mau shopping shopping bareng sahabatnya.
"Hanabi, nee-chan pergi dulu ya. Oh iya tadi kau ingin mengatakan apa?" Tanya Hinata.
"Ah tidak ada nee-chan."
Hinata bingung sendiri. Padahal sepertinya tadi Hanabi ingin mengatakan sesuatu? Hm mungkin hanya pikirannya saja, panas hari ini menganggu konsentrasinya juga ternyata
.
.
.
Naruto turun dari mobil mewahnya. Orangtuanya dengan mendadak menyuruhnya pulang ke kediaman Namikaze yang katanya ingin membicarakan sesuatu yang penting.
Dapat dilihatnya ayah dan ibunya sudah duduk di sofa besar yang berada di ruang keluarga mereka.
"Tou-chan, kaa-chan ada apa memanggilku dari kantor?"
Namikaze Minato dan Namikaze Kushina saling bertukar pandang lalu menghela nafas.
"Naruto, kami ingin kau mengakhiri hubunganmu dengan Shion sekarang juga." Ujar Kushina dingin
Naruto terkejut. Apa-apaan ini? Menyuruh dia memutuskan hubungan dengan kekasihnya?
"Kaa-chan apa maksud kaa-chan? Aku tidak akan memutuskan Shion aku mencintainya! Dia itu calon istriku kaa-chan!" Naruto sudah tidak tahan lagi dengan keputusan ibunya yang seenaknya saja.
Sebenarnya, ibunya tidak pernah merestui hubungannya dengan Shion. Ibunya berkata bahwa Shion itu bukan gadis baik-baik, padahal ibunya tidak punya bukti sampai sampai bisa mengatakan Shion bukanlah gadis baik-baik.
"Naruto jaga nada bicaramu. Kami ini orangtuamu, dan kami tahu yang paling baik untukmu. Kami punya perasaan yang tidak baik terhadap Shion Naruto!" Timpal ayahnya.
Naruto mengepalkan tangannya kesal. "Tou-chan dan kaa-chan mengatakan hal penting seperti itu hanya dengan didasari perasaan? Ini tidak adil, aku tidak akan memutuskan hubungan dengannya sebelum ada bukti yang jelas"
"Lakukanlah apa yang kau inginkan Naruto. 3 bulan lagi kau akan menikah dengan seorang gadis. Kami yakin dia yang terbaik untukmu"
Naruto melongo mendengar ucapan Tou-chan kesayangannya itu. Sekarang emosinya sudah pada titik puncak, ia masih menahan amarahnya karena menghargai mereka sebagai orang tua.
Dengan rasa kesal yang tak tertahankan Naruto keluar dari rumah mewahnya tersebut. Ia ingin menenangkan pikirannya.
Naruto memutar stirnya ke tempat les musik yang dimiliki almarhum kakeknya yang sekarang dikelola oleh neneknya, Senju Tsunade. Satu-satunya jalan yang bisa menenangkan pikirannya kali ini hanyalah bermain Piano.
.
.
.
Sepulang melihat kondisi toko rotinya, Hinata segera melesat ke Senju Musical. Hari ini dia akan memulai hari pertama kursus pianonya. Hampir jam 4 Sore tepat ia sudah sampai di parkiran mobil.
'Ferarri hitam itu lagi?' Gadis Hyuuga itu menautkan sebelah alisnya. Tapi untung dia sampai belakangan, kalau tidak, mungkin akses keluar mobilnya akan dihalangi LAGI.
Setelah selesai mengurusi uang pendaftaran,buku dan berbagai macam lainnya, Hinata berjalan menuju lift di samping kiri counter administrasi. Canggih sekali, pikirnya.
Ia menekan angka '3' yang tertera pada tombol lift les music cangih ini. Ruangan Mozart, kelas dimana ia akan berlatih memainkan piano sampai jari-jarinya selihai nama ruangannya, Wolfgang Amadeus Mozart.
Tetpat tinggal beberapa langkah lagi didepan pintu ruangan Mozart, Hinata mendengar permainan piano klasik dari seseorang, seseorang yang mungkin saja menjadi coachnya.
Ia belum berniat membuka gagang pintu coklat kayu ini. Hinata terhanyut dalam setiap nada dari tuts-tuts yang ditekan oleh seorang yang belum dikenalnya, melodi yang terdengar seperti sedang dikecewakan dan kehilangan arah tujuan. Sama seperti keadaanya sekarang ini.
'Ah, aku harus masuk' Batin Hinata yang mulai tersadar dengan apa yang dilakukannya sekarang
Perlahan tapi pasti, ia membuka gagang pintu itu dengan pelan.
Masih dalam permainan indahnya, Hinata menatap orang yang sedang duduk membelakanginya, memakai setelan tuxedo kerja, badannya yang tegap, bersurai kuning–
Bersurai kuning?! Hinata tersentak. Apa jangan-jangan? Jangan-jangan orang ini adalah 'Pria mesum yang ingin mencuri ciuman pertamanya'? Oh tidak dia tidak ingin, bisa-bisa kegadisannya juga hilang kalau sepertinya ini.
Seluruh spekulasi buruk dikeluarkan Hinata dalam pikirannya. Naruto mulai menghentikan permainannya, keluar dari kursi piano, memutar balikkan tubuhnya dan…
Mereka saling bertukar pandang sebentar. 5 detik didalam keheningan dan?
"KKAAAUUU?!"
Sepertinya keduanya akan mengalami hari-hari penuh, ah penuh, penuh asem asem manis
.
.
.
Bersambung…
Jangan lupa di review ya hehe. Makasih udah mau ngebaca fic gaje ini huhuhuhu (baper)
