CHAPTER 1
Cast :
Choi Minho SHINee
Lee Taemin SHINee
Another Cast :
Jung Yunho – Kim Jaejoong TVXQ
Lee Jinki – Kim Kibum – Kim Jonghyun SHINee
Lee Sungjong INFINITE
Harum lembut itu menusuk hidungku seraya menyebarkan kehangatan di balik senyumnya,,
Apakah ini benar?
Mimpi…. Ataukah getaran semu?
Aku melirik sebentar ke arahnya. Senyumnya benar2 manis. Matanya yang layaknya bulan sabit membuatku tertawa dalam hati. Demi Tuhan, Yunho Hyung adalah sosok paling sempurna diantara semua lelaki di luar sana. Aku pun nol besar jika dibandingkan dengan dia.
Hanya dialah yang menemaniku berada di meja ini, sepupunya yang bernama Minho itu untung saja sudah lenyap dari sini. Perkenalan sekilas kami tadi membuatku malas untuk mengingatnya,
"Perkenalkan, dia sepupuku. Choi Minho. Dia adalah mahasiswa konversi di Universitas Seoul. Sama denganmu kan Taeminnie?"
"Choi Minho-imnida," ucapnya pelan tanpa mengedarkan pandangannya kepadaku sama sekali.
"Lee Tae….,"
"Aku turun duluan Hyung. Sepertinya akan banyak namja cantik dibawah sana…," jelasnya memotong perkenalan diriku.
"Baiklah….,"
Tipe lelaki seperti itu adalah lelaki yang paling kubenci. Melihat seseorang hanya dari fisik saja tanpa menilik sedikit pada kemampuannya.
Hell yeah…, aku membencinya.
Kembali aku menatap ke arah Yunho hyung yang sedari tadi hanya melihat ke arah bawah dan menyapa Jaejoong Hyung yang sibuk menari di bawah sana dengan tariannya yang mengundang banyak lelaki mendekatinya.
Satu-satunya yang membuatku iri dari Jaejoong Hyung adalah…. Yunho Hyung.
Aku tidak pernah merasa cemburu dengan kecantikan dan kepiawaiannya memasak. Aku hanya ingin memiliki lelaki seperti Yunho Hyung.
Setidaknya…., sedikit saja….,
"Melamun terus….?" sapa seseorang membuyarkan lamunanku.
"He…? Yunho Hyung mana?" tanyaku panik melihat di hadapanku kini bukanlah lagi Yunho Hyung, melainkan sepupunya yang bernama Choi Minho.
"Baru saja ia turun. Kau tidak lihat? Ia menitipkanmu padaku barusan,"
"Mm…," balasku seadanya.
Satu hal yang kutahu, Yunho Hyung masih memikirkanku bahkan di saat seperti ini.
"Kau jurusan apa di sana?" tanyanya membuka pembicaraan pada kami.
"Seni rupa. Kau?" jawabku singkat.
"Teknik. Teknik Industri lebih tepatnya. Aku jalan semester 3 tahun ini,"
"Sudah lama berteman dengan Yunho Hyung?"
"Sudah…,"
Tak ada pembicaraan lagi di antara kami hingga lebih dari sepuluh menit.
"Tidak memesan minuman lain?" tanyanya lagi.
"Aku tidak bisa minum yang lain lagi kecuali margarita,"
Kembali hening.
Iya. Terjadi keheningan di tengah hingar bingar Xyron Club yang penuh dengan manusia.
Aku benci keadaan seperti ini.
Sudah dapat dipastikan.
Aku benci Choi Minho…. dan keadaan yang mengelilingi di sekitar kami.
Aku muak.
"Hey, mau kemana?" tanyanya untuk entah-berapa-kalinya padaku hanya karena aku berdiri dari kursiku.
"Hello. I'm not a child. Aku tahu dimana toilet di klub ini," tegasku pelan padanya.
"Tetap saja aku harus menemanimu," Minho ikut berdiri dan berjalan di sampingku yang hendak ke arah toilet. Boleh kukatakan? Bukan disamping…, melainkan ada jarak di antara kami.
Aku tahu ia akan malu berjalan berdampingan dengan namja sepertiku.
"Cepat. Aku tunggu di luar..," ucapnya singkat.
Aku tidak menghiraukannya dan segera masuk ke dalam toilet.
Kalau bisa aku ingin keluar dari tempat ini secepatnya.
Manusia sepertiku tidak pernah pantas berada di keramaian seperti ini.
Pagi ini seperti biasa aku menyiapkan barang2ku ke dalam tas. Hari ini adalah hari pertamaku menjalankan aktivitas sebagai mahasiswa di sana. Masa orientasi dan semacamnya telah kulewati. Kadang aku berfikir, aku ini tidak ada gairah hidup sama sekali.
Menjalankan sesuatu yang tidak aku inginkan. Ini benar2 menyebalkan.
Aku, Jaejoong Hyung dan Kibum Hyung berada di dalam satu jurusan.
Mereka memang menyukainya. Tapi aku tidak.
Aku menginginkan yang lain.
Seandainya ayahku tidak memaksakannya. Mungkin saja aku tidak akan berakhir seperti ini.
Aku adalah Lee Taemin. Si anak baik yang tidak pernah melalaikan kewajiban sebagai seorang anak bungsu di keluargaku.
Perjalanan dari rumah ke kampus terasa lama. Mungkin karena pemandangan di luar sana tidak memikat perasaanku. Setidaknya adakah sesuatu yang dapat mengikatku dan menjauhkanku dari beban ini?
Benar2 rapuh. Aku seperti terlepas dalam rohku yang tengah bermain riang di luar sana.
Tak lama bus berhenti di terminal terdekat dari kampusku. Seperti biasa aku berjalan dengan menundukkan kepalaku mantap. Aku malas menyapa orang yang setidaknya mungkin mereka mengenalku. Aku terus melakukannya hingga menaruh barang2 di lokerku dan seseorang menepuk pundakku.
"Lokermu disini?"
Ah. Orang itu lagi. Choi Minho. Dua hari yang lalu aku bertemu dengannya. Malas.
"Kau?"
Wajahnya memang tampan. Namun entah mengapa, aku telah mati rasa kepada orang lain.
"Loker kita bersebelahan,"
"Bagaimana dengan Yunho Hyung? "
Aku memilih nomor loker ini karena aku tahu dengan pasti bahwa loker Yunho Hyung berada di sebelahku.
Loker 1234.
Nomor yang unik.
Aku tidak terlalu memikirkannya.
Dengan memilih loker ini kuharap aku dapat lebih sering menemui Yunho Hyung.
Salahkah aku menyukai kekasih dari sahabatku sendiri?
"Aku dan Yunho Hyung bertukar loker. Karena nomor lokerku kebetulan berdampingan dengan loker kekasihnya. Baiklah aku duluan ya," ucapnya santai lalu meninggalkanku.
Tubuhku lemah.
Ani…, aku hanya..
Benar…, hingga kapan aku akan seperti ini?
Semakin lama aku dekat dengan Yunho Hyung, aku semakin bingung dengan perasaan ini.
Apakah perasaan suka ini hanya sebatas 'ayah'-'anak'? Ataukah aku mencintainya?
"Ayo cepatlah makan. Aku tidak ingin melihatmu sakit Taemin-a…," ucap Jaejoong Hyung sambil menyodorkan sepotong roti keju ke arahku. Aku menggeleng cepat.
"Aish. Lee Taemin! Cepat kau makan roti itu lalu minum obatmu dengan benar! Kau tahu? Kejadian seminggu yang lalu membuat kami semua panik!" gerutu Kibum Hyung dan menempelkan roti miliknya ke bibirku.
"Ne…, kau cerewet seperti biasa Hyung. Tapi aku lupa membawa obat…, hehehe…," balasku mantap dan mulai mengunyah roti yang diberikan Kibum Hyung tadi.
Kejadian seminggu lalu itu….
Aku pingsan….
Seharian aku tidak menelan secuilpun makanan…
Aku sengaja…
Hari itu Yunho Hyung ikut meramaikan acara orientasi bagi mahasiswa baru disini dan dialah yang menolongku.
Tidak bisakah aku berharap lebih dan meminjam kekasihmu sejenak, Jaejoong Hyung?
"Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu Taemin-nie…?" tanya Jaejoong Hyung yang mungkin merasa aneh aku menatapnya sejak tadi.
Ia terlalu cantik.
Matanya yang bulat ditambah bulu mata yang lentik. Hidungnya yang mancung dan bibir plumnya yang aku yakin telah dinikmati oleh Yunho Hyung ratusan kali.
"He? Kenapa kau menangis Taemin-nie?" Jaejoong Hyung kaget melihat setetes airmata yang mengalir di pipiku.
"Aku tidak apa2…," jawabku singkat.
"Taemin-ah…, kau kenapa? Kau terlihat semakin murung setiap harinya…," timpal Kibum Hyung yang kini duduk berdampingan denganku.
Mereka terlalu baik padaku.
Tapi tidak bisakah ada orang lain yang melakukannya untukku?
Orang yang mencintaiku apa adanya….
Orang yang mencintaiku dengan jujur…
Adakah orang tersebut?
"Heh! Kerjamu tidur terus seharian! Ayo temani aku ke BW café," ajak Yunho sambil menendang pantat Minho yang tengah terlelap tidur.
"Bisakah kau membangunkanku dengan cara yang lebih baik Hyung?" tanya Minho gusar dan segera beranjak dari tempat tidurnya. Yunho melempar sebuah kunci dan ditangkap dengan baik oleh Minho.
"Nice catch!"
"Ayo bangun dan antar aku ke BW café," papar Yunho singkat.
"Aku menjadi supirmu? Andwae!" tolak Minho keras.
"Darimana kau belajar tidak sopan seperti itu? Jangan ikuti Changmin atau kau akan kuusir dari kamar ini. Kalau bukan karena SIMku kena tilang, aku tidak akan pernah memintamu melakukan ini! " tegas Yunho dan keluar dari kamar Minho.
Minho menghela nafas. Semenjak Changmin memutuskan melanjutkan sekolahnya di Jepang, Minho seperti 'menngantikan' posisi sah adik kandung dari Jung Yunho. Setidaknya bisa saja kan Jinki Hyung atau orang lain yang menyetir mobil tersebut. Suatu kebetulan bahwa teman baiknya sejak kecil, Lee Jinki, adalah kekasih dari sahabat kekasih dari sepupunya Yunho. Cukup rumit dan sebaiknya tidak usah dipikirkan.
"Ayo cepat bangun! Aku mau menjemput Joongie!" bentak Yunho masuk ke dalam kamar lagi .
"Ne…. hyungnim. Eh apakah namja yang kau suruh aku jaga itu juga ada?"
Minho sedikit menyimpan rasa penasarannya.
"Taeminnie? Tentu saja. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama-sama. Kenapa? Kau suka padanya?" tanya Yunho dengan nada meninggi.
"Aniya! Aku sudah punya Lee Sungjong. Kau kan tahu tipeku!" geram Minho.
"Hey. Calm down. Tidak perlu marah2 seperti itu," Yunho berusaha menenangkan. Bisa gawat jika Minho tidak mau menyetir mobilnya dan kemarahan Jaejoong yang lebih ia takutkan. Ia tidak bisa hidup tanpa namja yang paling ia cintai tersebut.
"Aku hanya tidak suka saja dengan tipe namja sepertinya. Sikapnya itu benar2 membuat orang lain ingin menjauhinya. Sungguh.., aku benar2 tidak suka dengan namja seperti itu,"
"Terserah kau saja. Cepat! Kita sudah hamper terlambat!" gertak Yunho tajam.
Minho sebenarnya tidak sebenci itu pada Taemin.
Hanya saja perasaanya tidak enak bila menatap Taemin.
Ada rasa yang membuatnya menjadi rapuh dan …
Hanya Minho yang dapat menjelaskan secara detil perasaan itu.
Dan Minho benar2 tidak suka jika perasaan aneh itu muncul.
Mata mereka kembali bertemu
Menyampaikan perasaan yang terbungkam erat
Terekam penuh dalam untaian nasib
Dan…..
Hilang begitu saja…
Hanya mereka yang mengerti…
"Kau benar2 lamban…." sapa Jaejoong begitu menyadari kehadiran kekasihnya dengan setelan celana jeans dan kaos putih tipis. Simpel tapi itulah yang Jaejoong suka dari Yunho.
"Beri aku ciuman dulu. Baru aku akan mengantarkanmu pulang," tawar Yunho dan memajukan bibirnya.
"Lebih tepatnya aku yang akan mengantarkan Jaejoong Hyung pulang!" sela Minho di tengah kemesraan Yunho dan Jaejoong.
"Choi Minho….," ucap Yunho geram.
"Baiklah. Lanjutkan percintaan kalian," ujar Minho singkat dan melirik sepupunya itu tengah mencium kekasihnya pelan.
"Mana Kibum?" tanya Yunho yang merasa ganjil tanpa kehadiran si diva centil itu.
"Baru saja ia dijemput oleh Jinki Hyung. Mereka akan pergi ke tempat lain lagi sepertinya. Baiklah aku pulang duluan Hyungdeul," jelas Taemin menunduk ke arah mereka semua lalu mencoba untuk pergi.
"Hey. Mau kemana kau? Tidak pulang bersama kami?" tanya Yunho yang kini merasa keganjilan lainnya.
"Ah. Aku menunggu disini karena tidak ingin Jaejoong Hyung menunggu Yunho Hyung malam2 begini sendirian," jawab Taemin.
"Dan aku juga tidak ingin melihatmu pulang malam sendirian. Ayo, kuantar kau ke rumah," balas Yunho dengan senyuman lembutnya.
"Ani…a…ku…ha….," Taemin mencoba membalasnya dengan terbata bata.
"Ayolah. Kau ikut dan masalah beres kan?" timpal Minho malas namun berhasil menciptakan keheningan di antara mereka.
"Oke! Kita semua pulang dan masalah selesai kan! Ayo Taeminnie…, aku tidak akan mungkin membiarkan 'anakku' terdampar sendirian di luar sana. Kkaja!" ajak Jaejoong ceria dan berhasil mengembalikan suasa menjadi riang kembali.
Yunho dan Jaejoong berjalan terlebih dahulu di depan dan memamerkan lovey dovey mereka tanpa memperdulikan orang lain. Mereka lupa begitu saja bahwa masih ada Minho dan Taemin yang berjalan di belakang mereka.
Taemin sekilas melirik ke arah Minho. Rasa bencinya meluap. Tidak bisakah Minho mengerti perasaannya?
"Kau menyukai Yunho Hyung ya?" bisik Minho sekilas saat tubuh mereka tak sengaja berdampingan.
"Mweo?" tanya Taemin dan menghentikan langkahnya. Minho yang menyadari hal itu berhenti dan berbalik untuk melanjutkan pembicaraannya.
"Tenang saja. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. Hanya orang bodoh yang tidak dapat membaca tatapan matamu saat melihat Yunho Hyung," jelas Minho.
"Kau… kau tidak berhak mencampuri urusanku!" balas Taemin dengan nada keras.
"Aku tidak mencampuri urusanmu. Aku hanya mengatakan pendapatku," tukas Minho cepat.
"Terserah kau saja," Taemin tetap berjalan lurus tanpa memperdulikan Minho.
Tanpa ia sadari Minho menarik pergelangan tangannya,
"Aku tidak suka padamu. Bisakah kau menjauhkan dirimu dari Yunho Hyung?" pinta Minho dengan nada tajam seakan hendak menusuk hati Taemin.
Jarum mulai menusuk ke permukaan secara liar
Tak ada seorangpun yang mengerti
Darah yang mengalir hanya tersenyum bebas
Tak menampik keberadaan cinta tersebut
==TBC==
