Chapter 2: Tiga Shinobi Otogakure dan Penjelasan Kakashi.


.

.

Naruto dan Sai sudah tidur di dalam tenda yang telah mereka pasang. Sementara Sakura tidur di tenda terpisah. Mereka tertidur begitu pulas dan terlihat sangat tenang. Mungkin mereka merasa lelah setelah perjalanan jauh dari Konoha.

Tetapi malam ini Hatake Kakashi tak bisa memejamkan mata sama sekali. Misi ini terlalu mengganggu pikirannya. Apa mungkin benar-benar ada hubungannya dengan gadis itu? Itulah yang sedang dipikirkan Kakashi.

Mengingat kembali seorang perempuan lugu yang mudah diperalat oleh desa kelahirannya sendiri untuk melakukan sebuah misi yang harusnya dilakukan oleh orang yang lebih berpengalaman. Mengingatnya memang agak menyedihkan, perempuan yang tak pernah memikirkan tentang dirinya sendiri yang selalu berada dalam bahaya. Kesepian karena tak pernah bertemu dengan kedua orang tuanya lagi semenjak dia hidup di luar desa agar rahasia desa kelahirannya tak pernah dia ketahui.

Kali ini dia harus menghela nafas panjang kembali. Karena mungkin inilah kesempatannya. Kesempatan bertemu dengan perempuan tersebut sekali lagi.

.

Kakashi masih berjaga dengan duduk bersila di depan tenda Naruto dan Sakura. Suasana malam Otogakure begitu tenang, apalagi di tengah hutan seperti ini. Hanya suara jangkrik dan beberapa katak yang terdengar mengalun di heningnya malam.

Tapi tunggu...

Ada suara musik dari arah hutan tepat di depan tenda mereka menghadap. Bunyi seperti petikan senar kecapi yang merdu merambat melalui dedaunan hutan dan mengarah pada tenda mereka. Suara tersebut sangat merdu dan sangat cepat.

Bukan! Ini bukan musik biasa.

Zuuuuuuu...

"Doton! Dinding batu!" Kakashi tiba-tiba membuat segel tangan dan memanggil pelindung dinding batu tepat di depan tenda mereka. Bukan karena tanpa alasan, tapi karena serangan.

Sepersekian detik kemudian sebuah gelombang keluar dari balik dedaunan hutan. Begitu cepat terarah dan...

Bummm!

Dinding batu Kakashi hancur berkeping-keping dihantam suatu gelombang tak kasat mata yang mengarah pada tenda mereka tersebut.

Naruto, Sai dan Sakura segera keluar dari tenda mereka setelah mendengar debuman keras tadi. Mereka segera menghampiri Kakashi yang terlihat sedang dalam sikap kuda-kuda siap bertarung.

"Kakashi-sensei, ada apa?" Naruto yang keluar pertama bertanya terburu-buru pada Kakashi.

"Berhati-hatilah Naruto! Kita sedang diserang." Kakashi memberi peringatan pada Naruto. Matanya masih terus menatap ke arah datangnya gelombang bunyi yang telah menghancurkan dinding batunya tersebut.

Terlihat siluet beberapa orang tengah melompati pohon-pohon di hutan tersebut dan menuju ke arah Kakashi dan lainnya.

'tap'

Suara tapak kaki siluet-siluet tersebut berhenti tepat di beberapa bagian cabang salah satu pohon di depan Kakashi dan lainnya.

"Fufufu..."

Siluet tersebut memudar dan menampakkan tiga orang perempuan kembar tertawa dingin tepat di atas pohon di depan mereka. Ketiganya memiliki rambut hitam panjang dan pelindung kepala bersimbol not bunyi.

"Ternyata shinobi-shinobi Konoha ya?" ujar seorang perempuan yang berada di sebelah kiri.

"Sepertinya akan menyenangkan. Sudah lama kita tidak bertarung dengan salah satu shinobi dari desa besar seperti Konoha." ujar perempuan yang berada di sebelah kanan.

"Siapa kau?" Naruto langsung berteriak kepada perempuan-perempuan misterius tersebut.

"Ini akan menjadi sesuatu yang menarik bukan?" kali ini giliran yang berada di tengah bersuara. "Perkenalkan, aku Ayako. Dan kedua saudara kembarku, Ayame dan Azami."

Kemunculan ketiga perempuan misterius ini tentu saja membuat Kakashi dan tim 7 harus memasang kuda-kuda untuk siap bertarung. Naruto bahkan sudah mengeluarkan kunainya.

"Mereka shinobi dari Otogakure! Hancurkan bunshinnya dan tangkap yang asli!" Naruto berteriak dan hampir berlari ke arah perempuan-perempuan misterius tersebut jika saja aksinya tidak dihentikan oleh Sakura yang memukul kepalanya dari belakang.

"Dasar bodoh! Mereka itu kembar! Mereka sedang tidak menggunakan kage bunshin, Naruto!" teriak Sakura menyadarkan Naruto.

"Benarkah? Hee... Sugoi..." Naruto malah jadi memperhatikan ketiga perempuan misterius tersebut dengan terkagum-kagum.

"Sai, bersiaplah!" Kakashi memberikan isyarat pada Sai untuk memulai penyerangan.

Sai sudah siap dengan lembaran-lembaran dan sebuah kuas dengan tinta hitam di tangannya. Dia hendak mulai melukis saat salah satu dari ketiga perempuan tersebut berbicara.

"Ho... Kalian mau menyerang ya? Apa itu tidak terlalu terburu-buru? Kita masih punya banyak waktu untuk bicara kan? Lagi pula kami datang ke sini bukan untuk bertarung." ujar perempuan yang berada di tengah. "Katakan apa tujuan kalian datang ke desa kami!"

Sai mengurungkan niatnya untuk melukis gambar hidupnya setelah Kakashi memberikan tanda untuk menunggu.

"Kami tidak akan memberitahu kalian, dasar!" teriak Naruto sekali lagi pada perempuan-perempuan tersebut.

"Tidak, kami sedang mencari seseorang." Kakashi menjawab memotong perkatan Naruto.

Tim 7 langsung melihat ke arah Kakashi dengan ekspresi yang bisa dibilang kaget.

"Kakashi-sensei..."

"Kenapa kau tiba-tiba..." pertanyaan Naruto menggantung. Sepertinya Naruto sedang kebingungan mengatur kata untuk bertanya pada Kakashi jika dilihat dari raut wajahnya yang shock. Bukan hanya Naruto, Sai dan Sakura juga menampilkan ekspresi yang tak bisa dibaca apa artinya. Bagaimana tidak? Tidak biasanya Kakashi bicara blak-blakkan dan tergolong asal-asalan seperti ini saat menjalankan misi.

"Ho, kalian mencari seseorang, eh?" perempuan sebelah kiri ganti bertanya. "Katakan siapa yang kalian cari!"

"Ketua kalian!" jawab Kakashi dengan sangat dalam.

Semua orang yang berada di sana kaget mendengar ucapan Kakashi. Menurut Naruto dan Sakura, Kakashi hari ini terlalu blak-blakkan dalam membuka misi kepada musuh. Dan lagi, bagaimana Kakashi bisa berbicara seperti itu, berbicara bahwa orang yang harus mereka selamatkan adalah pemimpin musuh mereka saat ini?

"Kakashi-sensei, kita di sini untuk menyelamatkan orang! Bukan untuk menyelamatkan pemimpin musuh!" Naruto kali ini benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Kakashi.

"Apa ini sebuah strategi untuk mengelabuhi mereka?" Sai berbisik pada Kakashi.

Kakashi tak menjawab untuk beberapa saat.

Hal ini tentu saja membuat Naruto yang merasa sudah tidak sabar berteriak padanya.

"Kakashi-sensei!"

"Bukan." Kakashi menjawab pertanyaan Sai sembari memejamkan matanya. "Misi kita kali ini benar-benar untuk menyelamatkan ketua mereka."

Wajah shock Naruto, Sakura dan Sai semakin tak bisa disembunyikan lagi. Tentu saja mendengar hal mendadak seperti ini membuat Naruto dan lainnya merasa bingung.

Sai yang paling bisa menenangkan diri di antara mereka bertiga bertanya pada Kakashi. "Apa Tsunade-sama memberitahumu tentang orang yang harus kita selamatkan?"

"Tidak. Ini hanya firasatku saja. Melihat isi gulungan yang mereka kirimkan pada kita, aku mendapat sebuah petunjuk tentang orang yang harus kita cari kali ini." jelas Kakashi.

"Kakashi-sensei, awas!" Naruto tiba-tiba berteriak pada Kakashi.

Sebuah kunai meluncur dengan sangat cepat menuju arah Kakashi yang masih fokus berbicara kepada Sai.

Kunai tersebut pastilah sudah menembus kepala Kakashi jika saja dia tidak menghindarinya dengan melompat ke samping kanan.

"Sepertinya ini akan sulit. Akan aku jelaskan setelah kita menjauh dari perempuan-perempuan ini." Kakashi hampir membuka penutup mata kirinya ketika salah satu dari ketiga perempuan kembar tersebut berbicara.

"Bukankah kami sudah bilang kalau kami datang ke sini bukan untuk bertarung?" perempuan sebelah kanan berbicara. "Kami hanya ingin melihat siapa tamu kami kali ini."

"Huh, tidak berniat bertarung katamu? Lalu apa maksud dari kunai tadi!?" Naruto menggeram.

"Itu hanyalah salam perkenalan saja, bocah tampan." jawab perempuan yang berada di tengah.

"Kalau begitu ucapkan salam dari kami pada pemimpin kalian!" balas Naruto.

"Fufu, Konoha banyak memiliki orang-orang yang penuh semangat rupanya." perempuan tersebut merespon dengan senyum sinis pada Naruto.

"Kalau begitu kami pamit dulu. Sampai jumpa lagi. Jaa..." ketiga perempuan tersebut menghilang tanpa memperdulikan sumpah serapah Naruto yang memekakan telinga.

.

.

.


.

"Kakashi-sensei, apa maksudmu dengan menyelamatkan pemimpinnya?" Sakura bertanya pada Kakashi sekembalinya mereka dari mencari tempat persembunyian yang sulit diketahui oleh shinobi-shinobi Otogakure.

"Iya, jelaskan pada kami!" Naruto ngotot ingin mendengar penjelasan Kakashi.

Mereka duduk melingkari api unggun kecil di tengah gelapnya hutan Otogakure. Sai sepertinya tidak berminat mengorek apapun tentang ucapan-ucapan Kakashi tadi. Dia hanya melanjutkan melukis di kanvasnya walaupun dengan cahaya temaram api unggun seperti itu.

Kakashi masih diam memandangi api unggun di depannya. Seperti tengah ada yang dia pikirkan.

"Kakashi-sensei!" teriakan Naruto sukses membangunkan Kakashi dari lamunannya. Entah apa yang sedang dipikirkan Kakashi, tapi pastilah hal tersebut berhubungan dengan misi ini.

"Jelaskan pada kami!" Naruto sudah tidak sabar dengan Kakashi sekarang.

Kakashi melirik Naruto, kemudian memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.

"Kalian masih ingat bahwa Otogakure dulunya adalah markas Orochimaru, bukan?" Kakashi balik bertanya.

"Tentu saja kami tahu!" jawab Naruto cepat.

"Saat Konoha diserang oleh Akatsuki, Anko dan Yamato sedang menyelidiki tentang Kabuto yang melakukan eksperimen aneh."

Kakashi melanjutkan.

"Anko mengatakan padaku bahwa banyak percobaan yang Kabuto lakukan pada shinobi-shinobi buangan dari desa mereka ataupun pelarian. Entah bagaimana Kabuto mendapatkan para shinobi-shinobi tersebut. Ada kemungkinan dia menawarkan kekuatan pada mereka agar mereka mau bergabung atau malah melakukannya dengan cara pemaksaan." Kakashi masih menerawang ke dalam api unggun.

"Tapi, banyak shinobi yang mati karena tubuh mereka tidak cocok dengan berbagai percobaan Kabuto. Namun beberapa shinobi benar-benar cocok menjadi bahan uji coba Kabuto dan mereka benar-benar mendapatkan kekuatan buatan yang sangat kuat."

Kakashi diam beberapa saat sebelum dia melanjutkan kembali penjelasannya.

"Kemudian ada rumor bahwa ada seorang perempuan dari Otogakure yang sangat kuat. Dia bisa mengontrol pikiran lawannya dan bahkan bisa membunuhnya hanya dengan menatap matanya saja."

"Apa? Jangan bercanda! Mana ada jutsu seperti itu, Kakashi-sensei!" Naruto memotong penjelasan Kakashi.

"Entahlah. Setahuku hanya Uchiha Itachi saja yang bisa menggunakan genjutsu untuk membunuh orang hanya dengan melihat mata lawannya tanpa meninggalkan luka di luar sedikitpun."

Kakashi mengingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu saat dirinya dan Gai harus berhadapan dengan Itachi dan Kisame dari Akatsuki. Mengingat kembali bagaimana dia harus terbelenggu dalam genjutsu mangekyou sharingan milik Uchiha Itachi hingga membuatnya koma selama beberapa hari.

"Aku mengatakan itu karena aku pernah merasakannya sendiri. Uchiha Itachi dengan mangekyou sharingannya bisa mengontrol ruang dan waktu dalam genjutsunya seolah kita terbunuh dari dalam diri kita sendiri." Kakashi melanjutkan.

"Namun menurut kabar yang aku terima, perempuan ini sedikit berbeda. Dia tidak menggunakan genjutsu untuk membunuh lawannya ataupun menggunakan jurus pengendali pikiran seperti halnya Shinranshin no jutsu milik klan Yamanaka." Kakashi menghela nafas kembali. "Mungkin dia adalah salah satu dari beberapa hasil percobaan sukses Kabuto."

Naruto menggaruk rambutnya yang tidak gatal dengan tampang malas. "Fiuh, aku tidak mengerti sama sekali."

"Makanya dengarkan baik-baik, Naruto baka!" Sakura membentak Naruto.

"Lalu apa hubungan antara perempuan itu dengan desa kunci?" Sai tiba-tiba bertanya tentang hal paling mendasar tentang misi mereka. Walaupun dari tadi Sai asyik dengan lukisannya, ternyata dari tadi dia juga ikut mendengarkan penjelasan Kakashi.

"Jika dugaanku benar, mungkin perempuan tersebut adalah salah satu shinobi pelarian dari desa kunci. Dan tentunya dengan misi penyelamatan seperti ini yang berada pada level kelas S, dia adalah orang yang sangat penting bagi desa kunci." jawab Kakashi.

"Apa mungkin dia diculik oleh Kabuto saat berada di desa kunci?" Sakura menebak kemungkinan. "Mungkin Kabuto tahu bahwa perempuan itulah yang cocok menjadi bahan percobaan eksperimennya."

"Itu mungkin saja. Tapi perlindungan desa kunci cukup kuat walaupun desa itu adalah desa kecil." Kakashi melirik Sakura. "Namun mengingat Kabuto yang bisa masuk kantor Hokage saat perang besar antara Konoha dan Suna beberapa tahun yang lalu, hal itu bisa dia lakukan dengan mudah, bukan?" Kakashi menyetujui anggapan Sakura.

"Lebih baik kita istirahat dulu. Aku akan berjaga malam ini."

Setelah mendengar penjelasan panjang Kakashi tersebut, mereka tidur di sekitar api unggun kecuali Kakashi yang memilih untuk berjaga dan memikirkan bagaimana dia harus melawan ketakutan dan keinginan terbesarnya saat ini.

Bertemu kembali dengan perempuan yang sudah menahan hatinya.

.

.

.

Bersambung.


.

.

.

Ada yang berminat meninggalkan review?

Flame dipersilahkan demi kelangsungan fic amburadul ini...

.

.

.