Chapter 2
I Have A Best Friends!
Miki P.O.V~~
"Hei! Kalian lihat gadis itu? SeeU? Kasihan sekali ya," kataku, menaruh rasa iba yang besar. Miku, Rin, Lenka, dan Yukari mengangguk mengiyakan ucapanku.
"Sayang sekali dia pindah kemari," gumam Miku.
"Dan rasanya, akan terjadi sesuatu dengannya di ruang doa, jika dia sendirian!" celetuk Rin. Aku mendelik, yang lainnya juga kaget, dan tanpa berlama-lama, kami langsung berlari menyusul gadis itu menuju ke ruang doa. Rasanya..., rasanya aku takkan mampu melihat atau mendengar seorang gadis terbunuh di Hatachi Gakuen. Jika itu terjadi, ibuku bilang akan memindahkanku ke Prancis, ke rumah bibi dan pamanku di sana, tapi... jika itu terjadi, aku akan berpisah dengan Miku, Rin, Lenka, dan Yukari. Maka itu, aku ingin mencegah suatu hal pembunuhan!
"SeeU-chan!" panggilku dengan suara keras. Setelah sampai di ruang doa, kami masuk ke dalam, dan SeeU menoleh ke arah kami.
"Hhh... hh... SeeU-chan!" kata Miku, dengan napas tersengal-sengal. Kami masuk ke dalam, lalu menutup pintu rapat.
"Ada apa?" tanyanya, dengan mimik muka penuh tanya.
"Begini..., kami mengkhawatirkanmu," kataku.
Rin, Miku, Lenka, dan Yukari megiyakan.
"Ya, kami takut suatu hal terjadi padamu, maka itu, kami menyusulmu kemari," tambah Rin disertai senyuman manisnya. SeeU tersenyum, tapi, ia nampak bergetar.
"Te-terima kasih teman-teman. Tapi, a-aku belum mengenal kalian...," katanya. Aku mendekatinya, disusul Rin, Miku, Lenka, dan Yukari, lalu aku menepuk bahunya.
"Jangan takut. Kami sahabat-sahabtmu mulai sekarang." SeeU mengangguk, dan ia tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang putih bersih, berderet rapi. Senyumannya menawan. Dalam sekejap, aku tertarik pada gadis itu, SeeU. Dia pasti ketakutan. Di balik senyumannya, pasti ada kesuraman, keresahan, dan kegelisahan. Aku sangat iba padanya. Ia masuk ke sekolah yang salah, ia akan dibunuh, padahal ia tak bersalah apapun terhadap Misaya-san.
"Baiklah... aku takut, temani aku di sini." "Ya, tentu saja," sahut Yukari. Kami duduk, lalu menemaninya berdoa. Dalam hening, kami ikut berdoa, memejamkan mata, dan mencoba tenang.
Ya Tuhan... lindungilah gadis ini, SeeU-chan. Dia sama sekali tidak bersalah apapun terhadap Misaya Sawada. Umurnya masih muda. Dia keresahan, gelisah, dan muram. Dia ketakutan, dan dalam ketakutannya, dia berdoa padamu, Tuhan... Amin.
Setelah itu, aku membuka mataku, dan bangkit berdiri. Membungkuk di hadapan sebuah salib, lalu duduk di atas sofa dekat pintu, menunggu yang lain selesai. Lalu, Miku, Rin, dan Lenka duduk di sofa sepertiku, menyusul Yukari dan SeeU.
"Ayo, kita kembali ke kelas."
Kami berjalan beriringan menuju ke kelas. SeeU berjalan di tengah-tengah aku, Miku, Lenka, Rin, dan Yukari.
"Terima kasih ya, kalian sudah bersedia menjadi sahabatku," ucapnya, dengan pipi merona merah.
"Ya, kami senang denganmu. Kau gadis baik," tutur Lenka. Kami pun sampai di kelas, dan pelajaran pertama, Sejarah, dimulai.
Lenka P.O.V~~
Kata Rin, aku sangat mirip dengan SeeU, hanya saja, tinggi badan kami yang sedikit berbeda. Tinggi badanku 162 sentimeter, dan itu saja juga sudah tergolong tinggi untuk anak perempuan kelas 1 SMP. Bagaimana dengan SeeU? Ya, dia mungkin anak tertinggi untuk anak perempuan di sekolahku. Bahkan, dia hampir setinggi Kaito, kapten tim basket yang sekelas denganku, tingginya 175 sentimeter. Dia anak tertinggi di angkatanku. Banyak yang mengidolakannya, termasuk Miku, Miki, dan Rin. Aku dan Yukari sih, sudah naksir Akaito, sepupu Kaito, tetapi, dia masuk kelas 1-4, sementara aku dan teman-temanku yang lain masuk ke kelas 1-1. Cukup jauh, tapi, tetap saja, dia suka menggabungkan diri dengan kelas kami.
"Hei... Lenka!" Rin melemparkan segumpal kertas kecil. Aku membukanya dari remasan, lalu membaca isinya.
SeeU anak piatu. Hanya ada kakak dan ayahnya. Uh, apakah ini sama dengan kisah Misaya? Ia tidak memiliki adik, seperti yang ditanyakan Yukari padanya... aku nggak tau :( apakah kita harus membunuhnya?
Aku tercengang. Membunuh SeeU? Dengan alasan keadaan dirinya sama seperti Misaya? Aku membalasnya, di sebaliknya.
Hei! Kau gila? Siapa yang menyarankan itu padamu?
Aku melemparkannya ke arah meja Rin. Rin menatapku, lalu memungut kertas itu.
Rin... apa sih yang kau pikirkan? Batinku kesal. SeeU sepertinya gadis baik, takkan mungkin ia berbuat seperti itu, berbuat seperti Misaya, yang balas dendam dengan cara membunuh.
Lalu, Rin melemparkan. Kali ini ia menulis dengan kertas yang baru. Uh, untung saja guru sedang tidak ada. Jika ada, aku dan Rin pasti akan dihukum di luar kelas selama pelajaran berlangsung.
Apa maksudmu? Kita tidak boleh mudah mempercayai orang yang belum pernah kita kenal sebelumnya! Yukari dan Miku yang menyarankannya. Miki masih berpikir... T^T lalu bagaimana dong baiknya?
Arkh!
Tapi... tapi, aku memihak SeeU! Terserah apa yang akan kalian lakukan padanya, aku akan membelanya! Kalau mau membunuhnya, bunuhlah aku dulu!
Aku berkeras kepala, walaupun agak tak yakin juga, apakah keputusanku membela SeeU ini benar atau justru pilihan yang menjerumuskan. Tapi, bagiku, membunuh SeeU, membunuh gadis yang sudah menganggap kami sebagai sahabatnya, adalah tindakan yang sangat keji! Oke, aku menangkap kertas yang dilemparkan Rin padaku.
Jangan... dia mungkin saja berbahaya.
.
.
Berbahaya bagaimana maksudmu?
.
.
Pokoknya jangan... Miku dan Yukari sudah setuju, Miki juga ragu untuk menyetujuinya, tapi pada akhirnya ia setuju. Tinggal hanya kau, kau... Lenka! Cepat putuskan sebelum waktunya terlambat!
Aku menggigit kukuku. Uh, ini adalah suatu pilihan yang berat. Masa tinggal aku sendirian? Oke... kali ini, aku harus bicara dengan Miki.
Kau setuju dengan Rin, Miku, dan Yukari-chan?
Aku melemparkannya ke meja Miki, dan ia menoleh, kemudian mengambil, membacanya, mengeluarkan pena, lalu menulis. Sesudah itu, ia melemparkannya ke mejaku. Aku menangkapnya dengan cekatan, dan membacanya.
Eh?! Ya... kupikir, aku tak boleh mempercayai seseorang yang belum kukenal. Aku HARUS menuruti apa kata orang yang sudah kukenal baik, akrab, dan kami sudah lama berteman. Kau, setujuilah! Semuanya maka akan beres dengan mudah, Lenka-san.
Kyaa! Aku harus bagaimana ini? Miki sudah setuju, Rin, Miku, dan Yukari tetap memaksaku. Yukari yang sekarang mengirimkan surat padaku. Ah, apa yang ingin ia katakan?
Cepat ambil keputusan, Lenka! Jika Misaya membunuhnya, kemungkinan, SeeU juga akan jadi Kuchisake Onna (karena dia merasa tak memiliki salah pada Misaya, makanya dia begitu), dan bisa saja membunuh kita! Pikirkan itu, dan cepat putuskan. Waktumu hanya sampai pulang sekolah saja!
Aduh... aku mengeluh, lalu mendesah, dan menghela napas berulang kali. Aku menoleh ke belakang. Yukari, yang duduk dua baris di belakangku, memasang tampan wajah memaksa, dan aku mendecakkan lidah. Ckckckckck... baiklah, aku berpikir dulu sejenak.
Tetapi, guru tiba-tiba saja masuk.
"Baiklah anak-anak, kita mulai pelajaran hari ini..."
Aku mengeluarkan semua buku tulis, buku pelajaran, dan alat tulis baruku, sambil terus mengernyitkan dahi tanda aku sedang berpikir sangat keras. Apa keputusan yang sebaiknya kuambil? Memang sih, benar apa kata sahabat-sahabatku, tak baik langsung percaya pada seseorang yang belum kita kenal. Tapi, sekarang... aku merasa, SeeU bukanlah gadis yang dapat disakiti dengan mudah, tanpa sebuah pemikiran yang jelas dan tanpa sebuah kepastian dari sebuah jawaban.
GREK!
"Hai, Lenka-chan. Maaf, bolehkah aku meminjam pensil? Aku tidak membawanya." Tiba-tiba saja, seorang gadis yang sudah kukenal, berdiri di samping mejaku, dan memberikan sebuah permintaan. Aku menatapnya. Ya, itu memang SeeU. Wajahnya, rambut panjangnya yang pirang, memang sekilas mirip denganku, hanya saja, rambutnya sedikit lebih panjang dan ikal di bagian ujung-ujungnya. Uh, lama-kelamaan, otakku terasa buntu, tak bisa berpikir apapun.
Oke, sekarang, aku mengambil sebuah pensil mekanik hitam dengan merek terkenal, lalu memberikannya pada SeeU.
"Ini, kau boleh meminjamnya," kataku dengan senyuman yang nampak kecut, mungkin, jika SeeU yang melihatnya. Dia mengambilnya, lalu mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih," suaranya yang lembut bergema di telingaku. Akankah jika Rin dan yang lainnya, termasuk aku, mungkin, membunuh SeeU, akankah jeritannya, jeritannya yang penuh kesakitan dan kepedihan, akan tetap selembut ini? Kuduga tidak, suaranya tak mungkin seperti lengkingan bagaikan tikus yang terjepit pintu.
SeeU P.O.V~~
Aku sedikit kecewa, ketika Lenka menampilkan senyuman 'tidak enak' padaku. Entahlah, aku tak dapat menebak apa artinya. Yang jelas, aku merasa tidak enak sekarang. Firasatku mengatakan akan terjadi sesuatu hal yang buruk, dan aku rasa, aku harus menghindarinya. Tapi, apakah 'hal-itu' dan 'apa-yang-harus-kulakukan' untuk menghindarinya? Pikiranku melayang entah ke mana, hingga seorang guru menepuk punggungku.
"Kau melamun? Cepat kerjakan... lalu kumpulkan. Kalau tidak selesai, kau tak akan mendapatkan waktu istirahat siang'mu'," ujar guru Sejarah itu dengan tampang masam. Aku mengangguk lemah, lalu mulai mengerjakan tugasku dengan lancar, tanpa memikirkan hal lainnya.
...
"SeeU... mau pulang bersama?" tanya Yukari dengan nada ramah. Wajahnya menyenangkan. Aku menyukainya. Dia juga cantik dan pintar. Tapi, dari penampilannya, ia kelihatan menyerupai gadis tomboi, tapi tetap berupa gadis dengan senyuman manis.
"Boleh. Tapi tunggu dulu ya, aku mau ke toilet sebentar." Aku bergegas, sambil menyandang tasku. Kulihat sekilas, Rin sedang berbisik-bisik pada Lenka yang menatapku, dan kami bertemu pandang. Tetapi, dengan cepat, ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Aku sedikit curiga. Ada apa ya dengan Lenka dan Rin? Tadi, Lenka nampak tersenyum 'tidak enak' padaku saat aku ingin meminjam pensil darinya. Lalu, Rin juga nampak berbisik-bisik pada Lenka yang lagi-lagi bersikap aneh. Egh! Apa sih yang sebenarnya terjadi?
"Aku tidak jadi ke toilet deh," ucapku, lalu kami pulang bersama.
Aku mempunyai sahabat, tapi entah kenapa, aku merasa kurang nyaman dengan Lenka, Rin, dan Miku. Aku hanya nyaman dengan Yukari dan Miki. Dia terus mengajakku bicara, tersenyum padaku, dan menggandeng tanganku, sementara Rin, Lenka, dan Miku berjalan memisah dariku, Yukari, dan Miki. Mereka terus saja begitu. Yah, Rin kadang membisiki Miku atau Lenka di waktu yang kadang bahkan bersamaan. Sementara Miki dan Yukari, mereka benar-benar baik padaku. Entahlah... aku benar-benar tak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi, firasatku mengatakan, hal ini ada hubungannya dengan Misaya, si Kuchisake Onna dari Hatachi Gakuen yang dibunuh oleh anak sekolah Ryousei Gakuen, tempatku bersekolah dulu. Lalu, apa sih halnya? Aku ingin tahu. Aku sangat penasaran.
"Kalian mengapa terus berbisik-bisik?" seruku, dan itu membuat mereka terlonjak dan terkejut.
"Hahaha, tidak apa-apa kok. A-aku hanya membisiki mereka tentang cowok yang sedang kusukai di kelas kita," kata Rin dengan sedikit terbata-bata. Aku menaikkan alisku. "Siapa itu?"
"Hahaha... em, em... itu rahasia, ya kan Miku? Rin?" Miku dan Rin mengangguk serempak.
"Maaf ya, hanya kita yang boleh tahu."
"Ah, tidak apa-apa kok."
Aku tertunduk sedih. Apakah aku dibenci? Jika iya, lebih baik aku tak bersama mereka. Dengan cepat, aku berlari menuju rumahku, meninggalkan mereka semua. Tetapi, terdengar suara Yukari dan Miki yang berteriak memanggil namaku, ketika itu, aku melihat sosok berlumuran darah menghadangku sambil memegang gunting, lalu menculikku..., tapi tunggu dulu... sepertinya, aku tak asing dengan wajah gadis itu...
