Hujan tidak seburuk yang orang-orang pikirkan. Rintikan air yang jatuh ke tanah menjadi irama favorit kita. Hembusan angin yang mengalunkan dedaunan bagaikan penari latar tiap pertemuan kita. Petir yang memekik bagaikan suara bel yang mengatakan kau ada disana, disampingku. Di saat hujan berhenti, digantikan lah oleh pelangi. Pelangi dengan warnanya yang menakjubkan itu bagaikan senyummu, senyum yang selalu kurindukan. Seolah-olah waktu membeku dan membungkus kita di dalamnya. Hujan punya cara sendiri untuk mempertemukan kita. Ironisnya, hujan juga punya caranya sendiri untuk memisahkan kita. Membuat 'kita' terasa asing.

.

.

.

Chapter 2

Author : Xiaolulan

Rated : T

Genre : Angst, Drama, etc

Cast(s) : Oh Sehun, Xi Luhan

Pair : HunHan/ SeLu

Warning : Typo(s)

Disclaimer : I'm not own anything except this story and the plot. They're belong to God and Themselves.

Summary : Ketika sebuah ingatan tentang orang yang dicintainya lenyap, ketika otaknya tak mampu mengingat Luhan. Namun hati Sehun masih mengenali Luhan. Melindungi dan Mencintai sosok itu- EXO - Sehun/Luhan - HunHan.

.

.

Flashback

"Oh Sehun!," Teriak Luhan sembari melompat ke atas punggung Sehun. Punggung favoritnya. Dikaitkan kedua lengannya erat di leher sehun. Membiarkan beban tubuhnya ditopang oleh sosok Oh Sehun.

"Yak hyung! Tidak sadarkah kalau kau ini berat?," Ucap Sehun sinis. Namun yang diucapkan justru berkebalikan dengan tindakannya. Dipegangnya kedua tungkai kaki Luhan agar Luhan tidak terjatuh, agar Luhan kesayangannya tidak terluka . Sehun menolehkan kepalanya ke samping, dilihatnya Luhan tertawa sembari memeluk leher Sehun. Membuat Sehun mau tidak mau terlarut dalam tawa Luhan. Tak sadar, bibir Sehun telah membentuk sebuah lengkungan senyum yang mengukir wajah tampannya.

"Sehunnie, kau sedang apa?," Tanya Luhan. Menyenderkan dagunya pada pundak Sehun.

"Tidak ada. Hanya sedang menggendong rusa berat yang seenaknya menjatuhkan dirinya di atas punggungku," Jawab Sehun tak acuh.

"Eoh! Aku tidak seberat itu Sehunnie!," Luhan melepaskan kedua lengannya yang sebelumnya dikaitkan pada leher Sehun. Membiarkan dirinya terjun bebas ke dinginnya permukaan lantai. Luhan memanyunkan bibirnya kesal, menggerutu kecil.

Sehun tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang kekanakan. Dipeluknya tubuh mungil Luhan yang kini berdiri disampingnya. Kedua tangannya dengan terampil membungkus tubuh mungil Luhan.

"Lu...," Panggil Sehun lembut.

"Hm?," Luhan mendongakkan kepalanya ke atas, menatap Sehun yang lebih tinggi daripada dirinya.

"Saranghae," Jawab Sehun singkat. Singkat namun tersimpan makna yang sangat dalam. Kedua pipi Luhan sudah memerah saat ini. Ini bukan yang pertama kali Sehun mengucapkan kata itu, ini sudah entah yang kesekian kalinya. Namun kata itu selalu berhasil membuat Luhan tersipu malu, berhasil membuat kedua pipi putihnya merona, berhasil membuat degup jantungnya berlari cepat daripada biasanya. Disembunyikannya kepalanya di dada bidang Sehun, seolah malu wajah merahnya dilihat oleh kekasihnya.

"Kau ini, selalu saja seperti ini. Butuh berapa lama hingga kau terbiasa, Lu?," Diusapnya kepala Luhan lembut, menyalurkan rasa kasih sayangnya.

Tidak ada balasan dari Luhan. Hanya tangan Luhan yang semakin mengeratkan pelukannya yang dapat Sehun rasakan.

"Lu," Panggil Sehun lagi.

Tidak ada jawaban.

"Lu," Ulang Sehun.

Tetap tidak ada jawaban.

Tanpa aba-aba diangkatnya dagu sang kekasih menggunakan tangan kiri, sedang tangan kanannya ia gunakan untuk menyingkirkan poni yang menutupi dahi Luhan. Dengan lembut dikecupnya dahi sang kekasih, membuat lagi-lagi Luhan merona merah untuk kesekian kalinya. Sehun tersenyum melihat tingkah kekasihnya.

"Hey hyung, mau keluar?," Ajak Sehun.

"Kemana?," Tanya Luhan dengan wajah bingungnya.

"Ke tempat biasa. Tempat kita menghabiskan waktu bersama," Tanpa pikir panjang ditariknya lembut tubuh yang lebih mungil darinya itu. digenggamnya tangan mungil Luhan, menyalurkan kehangatan di cuaca yang dingin melalui genggaman tangan mereka.

.

Di luar hujan. Tapi itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk mencapai tempat tujuan mereka. Sebuah payung yang cukup besar mampu melindungi tubuh mereka dari basahnya air hujan. Sebelah tangan Sehun menggenggam tangkai payung, sebelah tangannya lainnya ia gunakan untuk menggenggam tangan sang kekasih. Mereka berjalan dalam keheningan diantara mereka. Hanya ada iringan irama hujan yang menyertai mereka, seolah hujan berjalan mengiringi mereka.

Langkah kaki Sehun terhenti, diikuti oleh langkah kaki Luhan.

"Kita sampai," Ucap Sehun.

Sebuah taman.

Taman favorit mereka.

Taman tempat mereka saling bertemu satu sama lain.

Taman tempat mereka saling terjatuh. Terjatuh ke dalam sebuah perasaan yang disebut cinta.

Taman tempat Sehun menyatakan perasaannya dan meminta Luhan untuk menjadi kekasihnya.

Taman tempat dimana mereka melihat hujan pertama mereka. Bersama.

.

Ada sebuah pohon yang berdiri kokoh di taman itu. Kini Sehun dan Luhan tengah berteduh dibawah pohon itu.

"Hatchii—," Suara bersin Luhan meretakkan keheningan diantara mereka.

"Lu, kau sakit?," Tanya Sehun khawatir.

"Ti- Hatchii—,"

"Tidak Sehunnie, aku baik-baik saja," Jawab Luhan sembari mengusap hidungnya kasar. Agak kesal dengan bersin yang seenaknya memotong omongannnya.

Luhan dapat merasakan Sehun memeluknya dari belakang. Luhan dapat merasakan tubuhnya sedikit menghangat.

"Apa yang tidak apa-apa? Kau kedinginan seperti ini, hyung," Ucap Sehun, masih memeluk Luhan dari belakang.

"Maaf, aku memang lemah seperti biasa. Selalu menyusahkanmu di cuaca seperti ini,"

Sehun menatap bingung Luhan. Heran dengan kalimat yang baru saja dilontarkan dari bibir sang kekasih. Tidak seperti biasanya Luhan seperti ini, batin Sehun.

"Kau tidak menyusahkanku, hyung. Aku senang kau ada disini, disampingku, Menikmati hujan bersamaku,"

Luhan tidak menjawab ucapan Sehun. Ia sibuk memainkan jari-jari Sehun yang tengah melingkari pinggang rampingnya.

"Lulu, apakah kau membenci hujan?"

Luhan terhenti dari kesibukannya memainkan jemari Sehun. Ditatapnya Oh Sehun yang memeluknya dari belakang. Seketika tawa luhan terdengar, menemani suara gemericik hujan di taman itu. Yang memeluk hanya bisa menatap yang dipeluk dengan wajah bingungnya.

"Haha tentu saja tidak Sehunnie, bagaimana bisa aku membenci hujan?,"

"Aku menyukai hujan, terlebih setelah aku bertemu denganmu Sehunnie. Kita bertemu ditengah cuaca sepertini, di taman ini. Aku bersyukur karena aku datang kesini ketika hujan. Aku bersyukur aku bisa mengenalmu. Aku senang bisa bersamamu, seperti sekarang ini," Terang Luhan dengan pipi merona.

Kedua sudut bibir Sehun terangkat, mengukir sebuah senyum indah. Dibaliknya tubuh Luhan pelan, kemudian dikecupnya bibir sang kekasih lembut. Menunjukkan pada sang hujan, betapa ia menyayangi sosok mungil yang berdiri di hadapannya.

"Aku juga, Lu. Aku senang. Aku ingin waktu membeku, membungkus kita didalamnya. Membiarkan kita abadi didalamnya. Selamanya," Terang Sehun sembari mencium pucuk kepala Luhan. Wajah Luhan sudah mengalahkan merahnya tomat.

"H-hatchi—"

Luhan bersin lagi.

"Hyung, kau merusak suasana romantis saja," Ucap Sehun, membuat Luhan memanyunkan bibirnya kesal. Sehun tertawa.

"Saranghae Luhan hyung," Ucap Sehun tiba-tiba. Membuat warna wajah luhan yang sudah kembali ke asal menjadi memerah kembali.

Setiap ucapan 'saranghae' yang Sehun ucapkan, selalu terdengar seperti yang pertama baginya. Selalu berhasil membuat perasaan Luhan 'meledak'. Selalu berhasil membuat Luhan merasa istimewa.

Sampai saat ini, selalu Sehun yang mengucapkan kata 'sihir' itu. Luhan belum berani, Luhan terlalu malu. Dan beruntung, Sehun tahu itu. Sehun tidak mendesak Luhan, Sehun menunggunya dengan sabar, hingga kata 'sihir' itu berhasil meluncur lembut dari bibir Luhan, dan menyihirnya. Nanti.

"Saranghae, saranghae, saranghae, saranghae," Ucap Sehun berulang-ulang.

"S-sehunnie—" Luhan dapat merasakan pipinya memanas, bahkan tubuhnya.

"Sudah merasa lebih hangat?," Tanya Sehun lembut sembari tersenyum.

Luhan terdiam, sedetik kemudian ia mengangguk dan membalas senyuman Sehun.

"Teruslah tersenyum seperti itu, hyung. Aku menyukai senyumanmu,"

Sehun selalu punya caranya sendiri membuat Luhan merasa lebih baik. Seperti hujan yang punya caranya sendiri membuat tanaman menjadi lebih indah. Luhan menyukai Sehun, sangat, bahkan melebihi rasa sukanya terhadap hujan.

.

Luhan tidak tahu kalau firasat buruk yang ia rasakan semalam akan menjadi kenyataan. Luhan tidak ingin percaya.

"Xi Luhan, ini siapa?," Tanya Sehun jengkel sembari menunjukkan message di ponsel Luhan. Terlihat sebuah pesan dari nomor yang bernama kontak 'Yifan'.

"Yifan?," Jawab Luhan polos.

"Dia siapa hyung?," Tanya Sehun lagi, masih dengan nada kesalnya.

"Junior di universitasku. Ada apa, Sehunnie?," Tanya Luhan sabar.

"Kau lihat saja sendiri," Jawab Sembari melemparkan ponsel Luhan kepada empunya ponsel.

Luhan melihat pesan dari Yifan, dipesan itu Yifan mengatakan bahwa ia mencintai Luhan sudah sejak lama dan ia meminta Luhan menjadi kekasihnya.

Sehun mendecakkan lidahnya dan berdiri meninggalkan Luhan yang masih terdiam. Sehun berlari menerobos hujan.

Sehun cemburu. Sehun kesal. Sehun marah. Jangan salahkan Sehun, salahkan sifat egoisnya. Salahkan dirinya yang terlalu mencintai Luhan. Salahkan dirinya yang terlalu mudah diserang api cemburu, sehingga tidak mempercayai kesetiaan Luhan.

Luhan masih terdiam. Bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi. Apakah ia melakukan kesalahan, tanya Luhan dalam hati. Luhan tidak mengerti Sehun cemburu. Kenapa harus cemburu sedangkan ia adalah kekasih Sehun saat ini, pikir Luhan.

Luhan tidak ingin kesalahpahaman ini berlanjut terlalu lama. Dikejarnya sosok Sehun yang sudah mulai hilang di persimpangan taman. Diterobosnya dinginnya air hujan yang tengah membasahi bumi. Saat itulah Luhan mendengar suara yang memekakkan telinganya. Seperti sebuah truck besar yang menabrak penyebrang jalan.

Pikiran-pikiran buruk mulai menghantui pikirannya.

Dipercepat langkahnya menuju persimpangan taman. Namun apa yang ia lihat justru membuat tubuhnya lemas. Nafasnya tercekat. Tak sanggup melihat pemandangan tragis dihadapannya.

Oh Sehun terbaring di tengah aspal. Darah merah segar berhasil menyelimuti tubuhnya dengan sempurna.

"S-sehun! Sehun—!"

Tanpa menunggu detik-detik menguasai ketercekatannya, Luhan berlari secepat kilat menuju tubuh tak berdaya itu. Air mata mulai membasahi wajahnya. Dipeluknya tubuh Sehun yang tak berdaya, membiarkan darah Sehun ikut menyelimuti Luhan.

Saat itu, Luhan mulai lupa bagaimana caranya tersenyum.

.

Sudah 4 hari Sehun tidak sadarkan diri. Sudah 4 hari pula Luhan tidak makan, tidak minum, tidak pula tersenyum. Luhan dengan setia menemani Sehun yang terbaring di sebuah ruangan serba putih. Sehun tertidur disana, tanpa tahu kapan ia akan terbangun.

Orang tua Sehun berniat membawa Sehun ke Jepang untuk mendapatkan pengobatan yang lebih bagus. Mungkin disana Sehun akan terbangun dari tidurnya, ia akan tersenyum seperti biasanya. Tapi ia tidak akan bisa mengingat kejadian atau peristiwa di masa lalu. Retrograde amnesia, kata dokter.

Esoknya, Orang tua Sehun sudah membawa Sehun ke Jepang.

Luhan belum mengatakan selamat tinggal pada Sehun. Luhan belum memeluk Sehun. Luhan belum mengucapkan "Saranghae" kepada Sehun.

Luhan semakin hancur.

.

Luhan masih berdiri disana. Tidak. Luhan selalu berdiri disana. Setidaknya tiap harinya Luhan selalu sempatkan melewati taman itu, taman favoritnya dan Sehun. Entah ada saja yang membawa kakinya ke taman itu, entah apapula yang dilakukannya di taman itu. Tidak ada kegiatan khusus. Mungkin hanya duduk di sebuah ayunan sembari menikmati hembusan angin yang menggelitik wajahnya. Dulu ada seseorang yang berdiri dibelakangkanya, dengan setia mendorong ayunan yang diduduki Luhan sembari mengawasinya agar ia tidak terjatuh. Dulu ada seseorang yang memberikan senyumannya ketika Luhan menoleh kebelakang. Dulu ada yang berdiri disampingnya, berteduh dibawah pohon bersamanya. Dulu ada yang memeluknya ketika ia kedinginan karena hujan. Dulu ada seseorang yang dengan sabar mengantar Luhan pulang ke rumahnya. Dulu dulu dulu... kata-kata itu terus bermain dipikiran Luhan tanpa henti. Mengingatkan Luhan pada Sehun.

Luhan menangis. Biarlah, mungkin ini untuk yang terakhir kalinya. Selanjutnya ia akan terus tersenyum. Karena hal itulah hal yang terakhir yang bisa ia lakukan untuk Sehun.

Luhan akan menunggu kepulangan Sehun, sampai entah kapanpun itu. Walaupun ketika tiba di Korea Sehun tidak mengingat Luhan, Luhan akan tetap menunggu kepulangan Sehun. Walaupun mereka tidak saling mengenal. Walaupun ada harga yang harus dibayar untuk itu.

Hari mulai gelap. Suara petir mulai berkumandang, seolah mengerti dengan kesedihan yang tengah dirasakan Luhan. Rintik air hujan mulai memburu membahasi tanah, menghasil bunyi gemerciknya yang khas. Mungkin hujan kali ini tidak semenyenangkan biasanya untuk Luhan. Hujan tidak sehangat biasanya.

Luhan masih menangis. Biarlah, ia tidak sendiri kali ini. Hujan bersedia menangis bersamanya.

End of Flashback

.

.

I'm standing on a bridge
I'm waiting in the dark
I thought that you'd be here by now
There's nothing but the rain
No footsteps on the ground
I'm listening but there's no sound.

(Avril Lavigne – I'm with You)

.

.

.

FIN

.

.

.

.

.

.

.

Tapi bohong...

-To be continued-

.

Aku nggak tau mau bikin cerita ini kayak gimana asdfghjkl... /kabur/

Oke annyeong!

Ini chapter 2-nya :3

Maaf kalau ceritanya tidak seperti yang kalian harapkan ya ;_;

Aduh maaf lagi ini aneh banget ;_; , malah tadinya aku mau bikin Flashback di dalam Flashback... jadi di dalam Flashback ini aku mau bikin pertemuan pertama HunHan orz ;; #udahlah

Aku masih butuh banyak belajar OTL

.

Balasan review 3

baby reindeer : Masih lanjut kok :)

Iya aku juga ngerasa banyak yang kurang, tapi gaktau dimana. Mungkin di penggunaan kata-katanya yang masih buruk ;_;

Tapi aku akan berusaha semoga selanjutnya bisa lebih baik lagi :D

Makasih udah sempetin baca dan reviewnya :D

rinie hun : Iya kecepetan, soalnya aku niatnya juga mau bikin cerita yang sekilas-sekilas gitu juga ;_; #apanya

Makasih udah sempetin baca dan reviewnya :D

luluhunnie: Hehe okee :3

Tapi ini romance-nya agak cheesy greasy gimana gitu orz.. jadi maaf ya kalau jelek ;_;

Makasih udah sempetin baca dan reviewnya :D

lisnana1 : Kenapa ya... jawabannya ada di chapter 2 ini ~ ^^

Ini udah dilanjut kok uehehe :-3

Makasih udah sempetin baca dan reviewnya :D

dian haniehunie : Happy ending ya...? ;_;

Makasih udah sempetin baca dan reviewnya :D

fieeloving13: Wah makasih, padahal aku ngerasa ini buruk banget loh TuT

Hehe Lulu punya penyakit gak ya... kamu kira-kira aja dulu (?) ~ ^^;

Makasih udah sempetin baca dan reviewnya :D

.

Peluk cium buat kalian semua yang udah sempetin baca dan ngereview hasil tulisanku yang masih kacau ini! 3 {}

Maunya happy ending atau Sad ending...? Endingnya di chapter berapa? :3

Dan segala saran kuterima, jadi ga usah ragu buat kasih aku saran ~^^!