| Frequently Ask Question No.2

| First Imperession kepada Soonyoung?

ㅡㅡㅡㅡ

Jihoon turun tepat setelah skuter motor Soonyoung berhenti didepan rumahnya. Jihoon membuka jaket yang dipakaikan Soonyoung tadi dan mengembalikannya kepada si pemilik. Soonyoung menerima jaketnya lalu menatap Jihoon yang masih berdiri didepan gerbang.

"Kau tidak mau masuk?"

"O-oh, ya-" Jihoon menjilat bibirnya. Oh ayolah. Kenapa harus se salting itu? Kemudian Jihoon membungkuk sedikit. "Aku masuk duluan."

"Jihoon."

Jihoon menoleh ketika namanya dipanggil. Soonyoung turun dari motornya dan menghampiri Jihoon. "Besok pagi kujemput yah?"

Jantungnya memompa keras ke pembuluh darah di pipinya hingga pipi putihnya berubah menjadi pink. Soonyoung tersenyum. Ia menaiki skuter motornya lagi kemudian menjalankannya ke arah rumahnya.

Jihoon menyandarkan dahinya di pagarnya yang cukup tinggi seraya mendesah frustasi. "Apa maksud dia bersikap baik padaku seperti itu."

Tapi detik berikutnya, Jihoon tersenyum simpul. "Tapi dia baik yah.. perhatian pula."

Oh, Jihoon jadi mirip anak gadis yang baru saja merasakan bagaimana jatuh cinta pada pandangan pertamanya.

Paginya, Soonyoung benar-benar menjemput Jihoon. Tak hanya Jihoon yang keluar dibalik pagar, namun juga ada ibunda Jihoon yang langsung menatap Soonyoung penuh selidik- tidak ramah. Soonyoung bergidik. Ia mengulas senyum paksaan.

"H-Halo tante. Saya Soonyoung, temannya Jihoon."

Soonyoung membungkuk 70 derajat, lalu melihat Jihoon yang masih digenggam erat oleh ibunya.

"Jihoon tak pernah dijemput oleh temannya sebelumnya. Bahkan Wonwoo sekalipun." Mata ibu Jihoon memicing. Kemudian menyondongkan badannya hingga Soonyoung hampir saja mati mendadak. "Apa kau pacar anakku?"

Soonyoung menelan ludahnya. Kenapa tiba-tiba ibu Jihoon mengintimidasinya? Soonyoung menggeleng. "T-tentu saja tidak!"

"Hmm." Ibu Jihoon berdeham. Ia melepaskan genggaman tangan Jihoon dan mendorong tubuh kecil anaknya untuk berdiri disebelah Soonyoung. "Tak masalah jika kau pacar anakku," Kemudian tersenyum ramah. "Tolong jaga anakku."

Selama perjalanan, Jihoon dan Soonyoung saling diam. Tak ada yang memulai pembicaraan. Soonyoung beberapa kali menaikkan tempo gasnya, namun ketika tangan Jihoon meremat hoodie Soonyoung, lelaki itu kembali mengendarai skuter motornya dengan stabil.

"Soonyoung."

Akhirnya Jihoon membuka percakapan juga.

"Ya?"

"Kurasa, apabila kau mengendarai dengan stabil hanya untuk menjaga keselamatanku, lebih baik kau ngebut sekarang karena bel sekolah akan berbunyi sekitar satu menit lagi."

Dan Soonyoung langsung tancap gas motornya sementara Jihoon memeluk punggung Soonyoung erat- takut terbang katanya.

Motor Soonyoung terparkir sempurna persis ketika bel berbunyi. Soonyoung langsung berlari menyusul Jihoon yang lebih dulu berlari, mengejar bel pertama agar tak terlambat.

Mereka berpapasan lagi di koridor loker untuk menukar sepatu. Wajah Soonyoung terlihat gelisah, sementara Jihoon panik karena jam pertamanya adalah pelajaran Bahasa Jepang.

Jihoon berjalan cepat. Tapi langkahnya di tahan Soonyoung. Jihoon bergeser kekanan, tapi Soonyoung ikut-ikutan. Jihoon mendengus sebal. "Ayolah, Wu saem akan menghajarku habis-habisan. Apa masalahmu?"

Soonyoung menjilat bibir bawahnya. "T-tidak jadi deh."

Jihoon langsung pergi meninggalkan Soonyoung yang kemudian beralih pada lokernya sendiri. Jihoon mencibir, "Awkward person."

Jihoon menukar bekalnya dengan bekal Seungkwan karena kebetulan sekali, isi bekal Jihoon adalah sesuatu yang berminyak sementara ia sedang menghindari itu. Dan isi bekal Seungkwan adalah sayur-sayuran. Jihoon dengan senang hati memberikan ayam goreng mentega nya kepada Seungkwan dan menukarnya dengan salad.

Sedangkan Wonwoo sudah ditarik oleh Kim Mingyu sejak bel istirahat berbunyi- bahkan sejak Wu saem masih membereskan laptopnya. Memang dasar Mingyu tak tahu sopan.

"Biasanya kau akan bolak-balik ruang guru." Ujar Jihoon. Seungkwan menghela napasnya. "Aku capek. Aku meminta tolong Myungho untuk menggantikanku hari ini."

"Kau jadi sibuk akhir-akhir ini."

"Semua karena si Jisoo sunbae yang mengangkatku sebagai sekretaris osis mendadak!"

"Ha ha. jadi itu alasannya." Jihoon tertawa hambar seraya menambahkan mayounise ke kotak bekal Seungkwan.

Mereka kemudian makan dengan khidmat, sesekali Seungkwan berbicara tentang waktu tidurnya yang berkurang dan ia jadi kurang update akan sesuatu. Jihoon sih hanya iya iya saja.

"OH TIDAK SEMBUNYIKAN AKU TOLONG!"

Jihoon menghentikan kunyahannya sesaat dan memicing sebal ke arah pintu. Oh itu Lee Chan sedang menyender tembok dengan nafas yang tak beraturan.

"YAAA LEE CHAN DIMANA KAU DASAR KURANG AJAR!"

Lee Chan langsung berlari sekeliling kelas Jihoon dan mencari tempat persembunyian. Melihat Jihoon, ia segera duduk dibelakang kursi Jihoon dan Seungkwan kemudian berpura-pura tidur- meskipun nafasnya masih terengah.

"LEE CHAN AKU TAHU KAU ADA DISINI!"

Soonyoung masuk dengan keringat yang bercucuran dan nafas yang tak beraturan juga. Mata Soonyoung beredar sekeliling kelas Jihoon dan mendapati seseorang yang pura-pura tidur disana.

"I got you." seraya menyeringai, Soonyoung berjalan menyeramkan kearah tempat duduk Jihoon.

tampaknya Lee Chan mendengar gumamam Soonyoung. Chan langsung berdiri dan berlari lagi. Tapi kali ini ia tertangkap dan Chan dikelitiki habis-habisan didepan kelas Jihoon.

"AAAA TIDAK JIHOON SEUNGKWAN HAHAHAHA ADUH HAHA TOLONG INI GELI SOONYOUNG BERHENTILAH AHAHAHAHAH"

Jihoon menyelesaikan kunyahan terakhirnya dengan cuek seraya menonton adegan kelitikan Chan dengan pandangan sarkastik.

"Makanya jangan menghabiskan makanan orang seenaknya dasar sialan!" Soonyoung mencibir lucu, Jihoon terpaku.

Kemudian mendengus. "Selain awkward, dia juga aneh dan kekanakan."

"Ya Jihoon?" Seungkwan nimbrung karena mendengar gumaman dari temannya.

Jihoon menggeleng. "Tidak."

Jihoon datang lagi ke markas. Ketika masuk, matanya menangkap banyak orang dengan aktifitasnya masing-masing. Wonwoo sedang mengerjakan tugas dibantu oleh Jeonghan dan Seungcheol, Mingyu yang membaca sebuah novel berjudul Dilan, dan Soonyoung bersama Chan sedang berlatih menari. Seungkwan? Tentu saja sibuk dengan kegiatan barunya bersama osis.

Jihoon langsung duduk disebelah Mingyu. Mingyu tampak acuh dan melanjutkan membacanya. Sementara Jihoon langsung fokus kepada Soonyoung yang mengajarkan koreo buatannya kepada Chan.

Chan terlihat menggemaskan ketika bengong karena bingung. Soonyoung beberapa kali menjitak kepala Chan apabila Chan melongo tak mengerti. Jihoon terkekeh kecil.

"Begini lho Chan sayang. Pertama kakimu harus kedepan dan tanganmu harus rileks. Kurasa ini seharusnya mudah untukmu."

"Mudah kepalamu pentagon!" Cibir Chan kemudian mencoba gerakan yang barusan dijelaskan Soonyoung.

Meskipun Chan lagi-lagi salah, ia mencoba lagi dan lagi hingga gerakannya sama persis dengan detail yang Soonyoung buat. Soonyoung tersenyum lebar, senyum bangga antara ke-kakak-an bercampur dengan ke-bapak-an. "Great job, Chan!" Tangan Soonyoung menepuk kepala Chan bangga.

Jihoon mengangkat sudut bibirnya. "Kau bisa bersikap dewasa juga rupanya."

"Jihoon."

"Apa"

"Pulang bersamaku lagi, yuk?"

Jihoon menghentikan langkahnya dan berbalik. Soonyoung masih mengikat tali sepatunya kemudian berjalan cepat menghampiri Jihoon. Jihoon melirik lelaki disebelahnya yang kembali melontarkan pertanyaan yang sama.

"Boleh deh."

Kemudian mereka akhirnya pulang bersama lagi. Kali ini, selama perjalanan mereka berbincang sedikit- mengenai sikap ibu Jihoon tadi pagi, yang mana bagi Soonyoung, sifat Ibu Jihoon itu sulit ditebak. Jihoon terkekeh kecil mendengarnya.

"Hey sudah sampai. Turunlah."

Jihoon turun dan berdiri didepan Soonyoung. Soonyoung tidak menatapnya, melainkan melihat bagian atas kepalanya. Tangan Soonyoung terulur, merapihkan helaian rambut Jihoon yang berantakan ditiup angin.

Jihoon tersipu dan dadanya berdebar. Soonyoung lalu tersenyum lembut kepada Jihoon yang gugup seketika.

"Besok hari Sabtu. Jangan lupa istirahat yang cukup."

"Hm, pulanglah." kata Jihoon seraya membuang pandangan kemanapun asal bukan ke Soonyoung.

Soonyoung mengangguk dan memakai kembali helmnya. Soonyoung bersiap menancap gasnya lagi kalau saja cicitan Jihoon tidak terdengar.

"Ada apa?" Tanya Soonyoung. Jihoon masih membuang pandangannya.

"Hati-hati dijalan. Telepon aku jika sudah sampai rumah."

Dengan begitu, Jihoon langsung berlari dan menghilang dari balik pintu rumahnya.

Soonyoung memerah. Tangannya lalu masuk kedalam saku hoodienya. Ia menemukan secarik kertas yang tadi disimpannya.

Lee Jihoon.

+62 3472 xxxx

Soonyoung tersenyum tipis kemudian segera tancap gas menuju rumahnya.

Sementara Jihoon memegangi dadanya yang berdetak dari balik pintu kamarnya. Bibirnya tak henti-henti tertarik untuk membuat senyuman. "Dia teramat perhatian. Kenapa pula aku membalas perhatiannya!"

"Jihoon, kau gila." gumam Jihoon pada dirinya sendiri, kemudian membanting tubuhnya kekasur dan berteriak bak orang sinting.

.

.

.

Jihoon tersenyum malu. "Soonyoung itu perhatian, kekanakan, tapi juga dewasa. dan dia baik. kadang-kadang dia bersikap awkward- tapi bisa sukses membuatku mengerang bak orang sinting." lalu ia merunduk, menyembunyikan wajah merahnya yang teramat menggemaskan!

ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ

notes) ;

gak seharusnya aku curhat disini. tapi aku kesal sekali kepada reader yang sukanya cuma menghujat dan menghina author yang menulis karya yang terinspirasi dari karya orang lain. salahkah kalau menulis remake fiksi seseorang? haramkah? kenapa kalian sibuk sekali memikirkan originalitas sedangkan author itu sendiri sudah menuliskan remake secara jelas. memang bukan aku yang dihujat, tapi temanku. aku kesal sekali. maaf.

terimakasih banyak kepada reviewers, followers, dan favoriters fanfiksi ini. meskipun jumlah fav&follow tidak sebanding dengan review, tapi tak masalah karena aku menikmati proses pembuatan projek yang satu ini.

buat hoshilhouette (bener atau salah nih nulisnya?), makasih sudah mengoreksi error gramatical pada chapter kemarin.

pasti pada bingung kenapa ini lagi-lagi soonhoon. hahahaha :p udah deh. langsung aja. mind to review? ^^