Disclaimer: NARUTO © Masashi Kishimoto
Plot is my own. Terinspirasi dari OST Anime, lagu-lagu J-pop, and manga 'Kiniro no Corda / La Corda d'Oro~' by Yuki Kure. Author tidak mengambil keuntungan materil apapun dalam pembuatan ff ini.
.
Tittle : Hikari no Yume - North Wind and Sunshine
Genre : Drama, Angst, Fantasy, Friendship, Romance
Rating : T
Pairing: NaruSaku, slight! MenmaSara.
Warning! : AU, OOC, typo(s), dan kekurangan lainnya. Don't Like? Don't Read. Please Leave This Page!
Enjoy and Hope You Like It!
.
Chapter : 2
.
"Yo! Akazawa!"
"Rossy! Hatake-sensei bilang kau mungkin ada di sini."
"Benar, soalnya ada sesuatu yang ingin kuberikan."
"Wow! Apa itu?
Rosemary kemudian memunculkan sebuah alat musik dengan sihirnya. Alat musik tersebut melayang diantara dirinya dan Sara. Sebuah alat musik yang mirip gitar, tetapi tentu saja itu bukan gitar karena senarnya hanya ada empat dan ukurannya juga kecil.
"Ini adalah violin ajaib. Aku akan menganugerahkan violin ini padamu. Setelah sekian lama melakukan penelitian, aku akhirnya bisa menyelesaikan violin ini. Violin ini ajaib, jadi siapun bisa memainkan lagu dengan violin ini."
"Whoa, itu hebat sekali! Apakah ini benar-benar untukku? Gratis? Soalnya violin biasa saja harganya mahal sekali apalagi yang ajaib."
"Ya, tentu saja ini gratis. Mari kita isi dunia ini dengan musik bersama-sama!"
"Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik! Eh? Tapi tunggu sebentar!"
"Kenapa? Kau ingin instrument lain?"
"Bukan. Jika siapa pun bisa memainkan violin itu… maka kau tidak perlu memilihku, kan?"
"Ya, tapi sekarang hanya periode pengujian saja. Itulah mengapa aku khawatir jika orang lain yang tidak dapat menyadari keberadaanku tidak akan kompatibel dengan violin ajaib ini."
"Jadi kau memperlakukanku sebagai subjek eksperimen?" tanya Sara sambil berkacak pinggang.
"Ya, kau bisa menganggapnya seperti itu. Sebelum kuberikan ini padamu, aku akan mengenalkanmu pada keluarga biola."
"Eh? Biola punya keluarga seperti manusia? Jadi ada Ayah, Ibu, dan dua anak?" tanya Sara polos.
Sang peri mengangkat sebelah alis. 'Memangnya program keluarga berencana?' pikir Rosemary.
"Jadi kau memang sama sekali tidak tahu apa-apa, ya? Tentu saja biola punya keluarga! Mereka ada 4 jenis dan terdiri dari ukuran yang terkecil hingga terbesar!" kata sang peri.
"Sugooi! Apa saja itu?"
"Pertama adalah Biola Sopran, orang-orang menyebutnya biola atau violin. Benda yang akan kuberikan ini! Jadi, pemain biola sopran disebut violinist. Karakter dari suara violin yaitu nada dengan pitch tinggi. Urutan nada pada senarnya sendiri adalah G- D- A- E!"
"Oh, jadi ini yang paling kecil? Dan merupakan alat musik yang mempunyai pitch nada tertinggi diantara intrument violin family lainnya?"
"Akhirnya kau paham. Ya, yang kedua adalah Biola Alto atau Viola. Dia memiliki ukuran yang sedikit lebih besar dibandingkan violin. Biola Alto menghasilkan karakter nada yang lebih rendah sehingga terdengar manis dan lembut. Urutan nada pada senar viola yaitu C- G- D- A. Sama seperti violin, viola dimainkan dengan cara diletakkan di atas bahu pemain dan menggesekkan bow ke senar agar menghasilkan nada. Pemain biola alto tersebut disebut violis. Haruno Sakura yang akan menggunakannya."
"Oh, senpai dari Regular Departement sepertiku?"
"Ya. Ketiga adalah Cello. Dia memiliki ukuran yang lebih besar daripada violin dan viola. Nada pada Cello lebih rendah 1 oktaf daripada viola. Urutan nada pada senar Cello yaitu dimulai dari senar A- D- G- C. Berbeda dengan violin dan viola, Cello dimainkan dengan cara dijepit diantara dua kaki si pemain, dan didirikan dengan endpin, lalu menggesekan bow-nya ke senar. Pemain Cello disebut cellis. Dia juga lebih berat, jadi rata-rata yang memainkan alat musik ini adalah laki-laki tapi tentu saja cellis perempuan juga banyak…." cerita sang peri pula.
"Oh, begitu. Lalu, yang terakhir apa?"
"Double bass atau kontra bass. Dia merupakan instrumen terbesar diantara keluarga biola. Double bass juga memiliki pitch nada terendah dari semua instrumen dalam Violin Family. Cara memainkannya sama seperti Cello dan tentu saja dia sangat berat," kata sang peri menutup penjelasannya.
Sara menganggukkan kepala berulang kali. Selama ini ia pikir violin dan viola itu sama, ternyata mereka berbeda. Hanya saja mereka sama-sama instrument violin family. Namun meskipun dia sudah dikenalkan dengan keluarga biola oleh sang peri, ia tak yakin bisa memainkan violin.
Rosemary kemudian meyuruh Sara mengambil violin yang masih melayang di udara.
Sara menurut dan tersenyum. "Arigatou Rossy!"
Sang peri balas tersenyum. "Pokoknya mainkan saja violin itu dan mari kita lihat bagaimana kelanjutannya!"
"Eh? Kau ingin aku bermain?"
"Don't worry, just hold it normally!"
Sara masih ragu, tapi ia menurut. Ia meletakkan violin tersebut di atas bahu dan menjepitnya dengan dagu. Ia kemudiian menggesekkan bow-nya ke senar. Namun karena ini pertama kalinya ia memainkan alat musik, nada yang tercipta dari violin tersebut adalah nada yang sangat sumbang, nyaring, sekaligus memekakkan telinga.
Wajah Rosemarry memerah dan ia menunjuk Sara dengan tongkat sihirnya berkali-kali sambil mengomel, "You… what on earth are you doing?!"
"A… aku hanya kaget karena tiba-tiba tubuhku bergerak sendiri," jawab Sara.
Rosemary kemudian menjelaskan bahwa seperti dirinya yang mengajarkan masalah dasar dalam memegang violin… violin tersebut akan mengajari Sara secara alami. Namun tentu saja, Sara tidak akan segera tahu cara memainkannya. Rosemary juga berkata bahwa Sara harus tahu bagaimana cara membaca skor musik, jadi Sara harus mempelajari hal tersebut terlebih dahulu. Jika Sara bisa merasakan perasaan murni dalam bermain musik, maka dia akan cocok dengan instrumen ini dan kemudian bisa memainkan lagu.
"Violin ajaib adalah benda yang sangat berharga dan ini satu-satunya di bumi. Jika kau merusaknya akau tidak akan memaafkanmu," tambah Rosemary.
"Kalau benda ini sampai rusak, apakah kau akan mengutukku? Kalau begitu, aku tidak menginginkan hal seperti ini!" kata Sara sambil menyodorkan kembali violin ajaib tersebut pada Rosemary.
"Kau tidak menyukainya? Lihat, bahkan violin ini ada wadahnya. Dan wadahnya ini juga terbuat dari bahan yang sangat berkualitas…." Kata sang peri yang kemudian memunculkan wadah violin tersebut.
"Aku bukannya tidak suka, aku hanya tidak mau dikutuk kalau benda itu rusak!"
"Kau hanya perlu menjaga benda ini baik-baik. Kau ini benar-benar merepotkan, ya? Pokoknya terima saja! Aku mungkin akan sangat marah kalau violin itu sampai rusak tapi aku janji tak akan mengutukmu."
"Hounto desu ka?"
"Hai."
Sara kemudian mengambil wadah yang masih melayang di udara, lalu memasukkan violin yang masih dipegangnya tersebut ke dalam wadahnya.
"Violinist yang kupilih sebenarnya memiliki skill yang hebat. Dia sudah menguasai segi teknik dan pitch-nya juga sempurna… tetapi aku bisa merasakannya. Dia hanya bermain saja tanpa menyertakan perasaan ke dalam musiknya. Itulah sebabnya, aku memilih satu pemain biola sopran lagi untuk tahun ini. Tahun ini aku tak menyertakan pemain trumpet untuk menjadi peserta karena aku ingin kau mengubah orang itu. Jadi demi pemain trumpet itu juga, kau benar-benar harus melakukan yang terbaik."
"Violinist yang kau maksud itu… Namikaze Menma-senpai?"
"Ya. Bagaimanapun aku hanya bisa bergantung padamu. Aku mengandalkanmu, Akazawa Sara. Aku yakin kau punya potensi dalam bermusik dan bisa membuatnya menyukai musik lagi."
"Itu berarti dia tidak bisa melihatmu jika kau tak menggunakan sihirmu di depannya?"
"Ya, begitulah."
"Namikaze Menma-senpai adalah mantan penyanyi sopran cilik. Dia sudah menjadi seorang profesional sejak berumur 9 tahun. Aku adalah salah satu penggemarnya. Saat dia berumur 11 tahun, sesuatu terjadi. Dan sejak itu… aku juga bisa merasakannya. Rasa cintanya terhadap musik tidak sebesar dulu. Ia kemudian lari ke sastra. Namun aku percaya jauh dalam lubuk hatinya dia tidak membenci musik, karena itu juga kau memilihnya sebagai salah satu peserta, kan?"
"Ya. Jadi Namikaze Menma dulunya penyanyi sopran pro? Wow, aku baru tau itu! Dan kau mengenalnya?"
"Tidak terlalu! Yeah, long story…."
"Ceritakan padaku!"
"Eh? Tapi sekarang aku harus mencari Hatake-sensei. Kuceritakan lain kali saja, ya?"
Mendengar perkataan Sara tersebut Rosemary menggembungkan pipinya. Dia terlihat sangat kesal.
"Baiklah, tidak ada lain kali. Aku akan menceritakan padamu besok, bagaimana?"
"Janji?" kata Rosemary kembali tersenyum.
"Ya. Aku janji."
Rosemary pun langsung pamit pergi dan terbang entah ke mana?
Sara menghela nafas. Bagaimana mungkin hal seperti ini terjadi padanya? Ia telah melihat dan mendengar seorang peri, mengetahui tentang sihir darinya atau sesuatu seperti itu dan dia tiba-tiba ditarik ke dalam situasi yang tidak dia percaya. Merubah Namikaze Menma? Cara melakukannya sendiri hanya dengan menggunakan biola gaib. Rosemary juga memintanya untuk bergabung dalam concours?! Itu konyol. Terlebih lagi… apa arti pernyataan 'Siapa pun bisa memainkannya'?! Ia tidak bisa melakukannya. Tidak, ia tidak ingin melakukan ini. Namun Rosemary mengandalkannya dan baru saja tubuhnya bisa bergerak dengan sendirinya. Pasti dia salah lihat… tapi tunggu, violin ajaib ini benar-benar sudah menjadi miliknya. Dia mungkin tidak bisa mundur lagi dan juga harus bertanggungjawab.
Sara pun kembali berjalan menyusuri koridor sambil mencari di mana ruangan latihan yang Hatake Kakashi maksud. Sara pun terus mengintip semua ruangan yang ada di gedung ini sambil terus berjalan. Ia kemudian menemukan sebuah ruangan latihan yang mungkin dimaksud Hatake Kakashi. Ia pun lekas memasuki ruangan tersebut. Namun ternyata belum ada siapa-siapa. Mungkinkah dia adalah orang yang pertama kali datang?
Sara mengeluarkan violin ajaibnya. Ia memutuskan untuk mencoba berlatih. Kebetulan di ruangan ini juga ada score music. Sara pun membukanya.
"Pertama, aku harus memegang violin ini dengan benar. Selanjutnya, aku harus memainkan nada yang ada dalam catatan ini."
Sara bersyukur karena di Regular Department juga ada kelas musik. Walaupun itu hanya musik dasar, sara benar-benar mempelajarinya dengan serius karena dia memang tertarik dengan musik. Jadi tentu saja dia sudah bisa membaca tangga nada. Sara lekas mengeluarkan violin dari wadahnya, memegangnya dengan benar, dan kemudian menggesekkan bow ke senar. Sebuah lagu pun mengalun dengan lancar.
"Eh? Ada tanggapan. Ini benar-benar bisa memainkan lagu dan nadanya juga terdengar bagus. Yah, tapi aku tidak tahu apakah ini sudah bisa disebut musik yang baik atau tidak? Violin ini benar-benar luar biasa, tapi benda ini masih membuat rambutku berdiri di ujung kanannya," kata Sara. Ia kemudian mencoba memainkan satu lagu lagi.
Tiba-tiba ia mendengar suara seseorang di belakangnya.
"Hey! Apa yang sedang dilakukan oleh seorang siswi dari Regular Department di sini? Ruangan ini sudah ku sewa untuk hari ini."
"Ah, gomen!" kata Sara setelah menghentikan permainannya dan memasukan violinnya ke dalam wadah.
Sara mengalihkan pandangannya pada sumber suara. Rupanya dia Namikaze Menma, pantas saja suaranya terdengar tak asing. Menma ternyata belum berubah sama sekali. Dia masih saja dingin seperti dulu. Ia lebih baik segera pergi dari sini. Ia tak ingin membuat pemuda di hadapannya ini semakin jengkel. Kejadian lima tahun yang lalu sudah cukup membuatnya tahu seperti apa Namikaze Menma jika sedang marah.
"Bisakah kau pergi? Aku tidak ingin membuang waktu latihanku yang berharga."
"Ne, senpai… Apa kau tidak ingat padaku?"
"Apa maksudmu? Memangnya kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Ya, 5 tahun yang lalu."
"Tidak ingat! Cepat pergi sana!"
Sara menghela nafas, menghadapi orang seperti Namikaze Menma memang butuh kesabaran ekstra. Sara pun memutuskan untuk pergi. Namun baru beberapa langkah ia kembali berbalik.
"Ah, ada sesuatu yang aku lupa!" kata Sara yang kemudian mengambil bow yang lupa ia masukkan ke dalam wadahnya. Sara pun lekas memasukkan bow-nya ke dalam wadah. Lalu, beranjak pergi.
"Wait!" kata Menma.
Sara berhenti dan reflek menelan ludah. Apa lagi sekarang? Apakah Menma akhirnya ingat bahwa lima tahun yang lalu mereka pernah bertemu?
Tak ingin dianggap tak sopan, Sara pun kembali berbalik agar bisa bertatapan mata dengan Menma.
"Tidak mungkin. Kau berasal dari Regular Department? Apakah kau salah satu peserta? Dan kau memainkan violin juga?"
"Tidak aku…."
"Kau adalah salah satu peserta, kan? Aku Namikaze Menma. Dan aku juga bermain violin sepertimu…."
'Dia masih terlihat dingin, tapi aku masih ingat kalau sebenarnya dia punya sisi baik juga. Yah, walaupun masih tetap menyebalkan sih!' kata Sara dalam hati.
"Aku pikir siswa yang dipilih sebagai peserta dari Regular Department adalah orang-orang yang memiliki standar yang tinggi. Tapi apa yang aku dengar barusan bahkan tidak layak untuk ditampilkan di atas panggung. Ini akan merepotkan peserta lain. Aku harap kau mundur sebagai peserta sesegera mungkin."
"Tunggu! Aku sudah—"
"Aku tak punya waktu lagi untuk berbicara denganmu. Silakan pergi, jangan mengganggu latihanku!"
Menma mendorong tubuh Sara ke luar ruangan dan langsung menutup pintunya.
'Blam!'
"Apa-apaan itu? Dia bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Duh, sebenarnya ruang latihan yang dimaksud Hatake-sensei itu yang mana sih?" keluh Sara yang kemudian memutuskan untuk pulang saja.
Sara duduk di bangku taman, memikirkan kembali kejadian beberapa waktu yang lalu.
'Aku memberikan violin ajaib ini padamu. Sebagai gantinya, maukah kau berpartisipasi dalam kontes?' kurang lebih itulah yang dikatakan sang peri.
Bukankah dia telah dipilih secara paksa? Sara menghela nafas lagi. Bagaimana dia bisa melakukan ini? Rosemary bilang, siapa pun bisa memainkan violin ini. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan violinnya di sini, dan mungkin akan ada seseorang yang mengambilnya tanpa izin. Jadi, jika violin ini hilang… otomatis dia juga tak perlu melakukan kewajibannya pada sang peri. Ia bisa kembali menjalankan kehidupannya yang normal.
"Baiklah, akan kutinggalkan benda ini di sini…." katanya. Namun tiba-tiba ia teringat,
"Ugh! Itu mengingatkanku. Bukankah biola itu mahal? Aku tidak bisa melakukan hal yang menakutkan seperti sengaja meninggalkan benda ini di sini," lanjutnya.
'Barang berharga ini hanya ada satu di dunia.' Sara kembali teringat perkataan sang peri. Dengan berat hati, ia pun kembali mengambil benda tersebut dari bangku taman.
"Baiklah, hari ini aku akan membawanya pulang lebih dulu."
Sara berdiri. Lalu ekspresinya berubah ngeri. Ia baru sadar kalau tasnya tidak ada, pasti tertinggal di ruang latihan. Tidak. Ia tidak ingin kembali ke sana. Ia terlalu takut pada Menma karena telah mengganggu latihannya. Selain itu, masih ada yang harus ia lakukan.
"Astaga, mengapa aku begitu ceroboh?" teriak Sara frustasi. Ia kemudian berjalan menuju ruang latihan. Meskipun ia tidak mau pergi tetapi dompet dan ponselnya juga ada di dalam tas tersebut.
Tiba-tiba Sara terantuk sesuatu, ia pun terjatuh dengan tidak elit. Violin-nya terlempar ke udara, yang untungnya mendarat pada semak belukar, jadi mungkin violin ajaib itu tidak akan rusak. Namun Sara reflek memegang hidungnya karena hidungnya sakit gara-gara terjatuh barusan.
Sara menghela nafas dan mencari-cari benda apa yang membuatnya terjatuh barusan. Sara terkejut saat melihat seorang siswa dengan seragam Music Department tengah berbaring di dekatnya. Sekarang ia tahu, apa yang membuatnya jatuh. Itu adalah kaki anak ini.
'Uwaah! A beautiful boy, isn't it?' kata Sara dalam hati.
Siswa tersebut bangun tiba-tiba yang tentu saja membuat Sara sedikit terkejut karena hidungnya dan siswa tersebut hampir bersentuhan. Hanya tinggal beberapa inci lagi. Salahnya sendiri sih, bukannya lekas berdiri, ia malah sibuk mengagumi wajah imut siswa di hadapannya ini. Kalau dilihat dari pinnya yang berwarna silver, anak ini pasti baru kelas satu sama sepertinya.
"Hey, kau! Mengapa kau tidur di sini? Ini berbahaya lho… aku saja sampai tersandung kakimu."
"Well, it's good for me…." jawab anak itu dengan wajah polos.
'He super cute. But he is strange kid.'
"Pertama-tama, matahari sudah mulai terbenam. Sebentar lagi gelap, kau harus segera pulang atau kau bisa masuk angin dan terkena flu."
"Yes, ma'am. Thank you very much.…"
'Bahasa inggris lagi. Apa dia blasteran? Kalau dilihat dari rambutnya yang berwarna light brown dan matanya yang berwarna abu-abu, sepertinya memang iya….' pikir Sara pula.
Anak itu mengambil sebuah tas kulit yang sebelumnya dia sandarkan pada semak-semak. Bentuk tas kulitnya mirip dengan biola tetapi ukurannya lebih besar dari wadah violin milik Sara. Lalu, anak itu menyampirkan tali tasnya di bahu dan langsung berdiri dengan linglung, sepertinya masih setengah sadar karena baru bangun tidur. Tubuhnya juga agak oleng. Mungkin dia masih mengantuk atau keberatan dengan benda yang dibawanya.
'Apakah dia baik-baik saja? Mengapa ini… mengapa departemen musik memiliki banyak murid imut? Banyak juga yang tampan dan cantik. Pokoknya mereka cakep dan mempesona. Apakah ini takdir? Atau mungkinkah sebagian besar dari mereka berdarah campuran? Setengah bule, mungkin?' pikir Sara pula.
"Hey! Benda di punggungmu itu apakah salah satu keluarga biola?" tanya Sara.
"Yah, ini Cello."
"Oh, Cello. Namaku Akazawa Sara. Siapa namamu?"
"Akazawa Sara? Kau salah satu peserta juga, kan? Aku melihat namamu di madding. Salam kenal, aku Moriyama Hikaru!" kata anak laki-laki itu yang kemudian membungkuk sopan.
"Eh? Kau juga salah satu peserta?" kaget Sara. Ia kemudian balas membungkuk. Lalu, setelah sekian detik mereka berdua kembali saling bertatapan.
"Aku senang ada murid yang terpilih dari Regular Department. Kuharap kita bisa bersaing dengan adil. Kalau begitu, sampai jumpa lagi Akazawa."
"Hai!" kata Sara. Ia kemudian mengambil violinnya. Moriyama Hikaru juga sudah berjalan pergi.
Sara menghela nafas. Sekarang, ia harus menghadapi si angin utara. Ia benar-benar harus siap mental.
"Yosh! Aku juga seorang peserta, jadi aku juga berhak bolak-balik ke ruang latihan. Dan Rossy mengandalkanku di bidang ini… music… violin…." gumam Sara. Ia pun kembali berjalan.
Setibanya di ruang latihan, Sara terpaku. Namikaze Menma masih berlatih violin dan ia langsung terpesona dengan permainan lelaki itu. Walaupun Sara memang merasa ada yang kurang dengan permainan Menma karena dia tak mencurahkan perasaan pada musiknya. Namun pertunjukkan biola ini… ini adalah pertama kalinya ia mendengar lagu yang begitu indah.
'Aku terkejut. Tak kusangka violin bisa menghasilkan suara sebagus ini meskipun dimainkan oleh mantan penyanyi sopran cilik!'
Menma selesai memainkan violinnya dan mendapati Sara tengah berdiri mematung.
"Apa yang kau lakukan di sini? Lagi-lagi kau kembali ke tempat ini!"
"Ano…."
"Ah! Kau ke sini untuk mengambil ini?" tanya Menma yang kemudian mengambil tas Sara dari atas grand piano dan menyodorkannya pada gadis itu.
Sara pun lekas mengambilnya. "Arigatou…."
"Sudah tidak urusan lagi, kan? Jadi mending cepat pulang sana!"
"Baru saja… musik apa yang kau mainkan itu? Itu lagu yang sangat indah! Dan keterampilanmu juga sangat luar biasa."
"Maaf, tolong jangan so akrab denganku. Pujian memang bagus tapi—"
"Bukan itu! Aku tidak bermaksud sok akrab denganmu. Aku hanya… aku tidak tahu kalau violin bisa menciptakan lagu yang begitu indah. Nada tingginya terdengar transparan. Suara itu benar-benar manis."
'Astaga, mengapa aku berbicara secara terang-terangan padanya?' pikir Sara.
"Aku benar-benar minta maaf karena sudah mengganggu latihanmu. Tapi senpai… apa kau benar-benar tidak mengingatku? Namaku Akazawa Sara. Apa kau masih ingat dengan Yuuichi-chan, Ryu-Nii, Lee-Nii, Sasame-chan dan juga aku? Hari itu… lima tahun yang lalu, kau bernyanyi bersama kami untuk menghibur Ryu-Nii! Dan kami melihatmu tersenyum dan tertawa untuk pertama kalinya. Itu sungguh— maaf… sampai jumpa lagi Namikaze-senpai!" kata Sara yang langsung berlari meninggalkan ruang latihan.
Menma mematung. Gadis itu... dia ingat sekarang. Akazawa Sara, salah satu penggemarnya saat ia masih menjadi seorang penyanyi cilik. Rock Lee, Imamura Ryu, Akazawa Sara, Fuma Sasame dan Kitahara Yuuichi. Mereka berlima adalah teman pertamanya sekaligus penggemar beratnya. Mereka jugalah orang-orang yang berhasil membuatnya tersenyum dan tertawa setelah sekian lama. Mereka adalah orang-orang yang berhasil membuatnya ingin bernyanyi lagi.
Menma berlari menyusul Sara, berharap gadis itu masih belum pergi jauh atau yang lebih parah sudah meninggalkan lingkungan sekolah. Menma lega saat akhirnya dia menemukan gadis itu tengah berdiri di bawah pohon momiji halaman belakang sekolah. Pohon itu adalah pohon terbesar dan tertua di sekolah ini dan merupakan tempat favoritnya. Menma bahkan memasang sebuah papan kayu diantara batang-batang pohon momiji tersebut agar ia bisa leluasa setiap kali ia ingin memandang langit. Dia pun berseru saat Sara kembali berjalan setelah memandang pohon tersebut untuk sekian detik.
"Akazawa! Matte!"
Sara menoleh. Ia terkejut karena Menma sudah ada di hadapannya dengan nafas yanag terdengar ngos-ngosan, sepertinya dia berlari sampai sini.
"Ya, senpai?"
"Mereka..." Menma menjeda kalimatnya. Rasa sakit di hatinya masih membekas hingga sekarang tetapi dia ingin tahu kabar Ryu dan yang lainnya. Jadi ia melanjutkan,
"Sejak Sasame-chan tiada dan aku diperbolehkan keluar dari Rumah Sakit… aku tak pernah mendengar kabar tentang mereka lagi. Apakah mereka—"
"Lee-Niisan sudah menjadi murid universitas. Dan seperti yang kau lihat, aku sekolah di sini. Tapi… Ryu-Niisan dan Yuuichi-chan… mereka berdua sudah tidak ada lagi di dunia ini!" potong Sara yang kemudian menunduk.
Menma bisa melihat air mata Sara jatuh tetes demi tetes dan membasahi tanah. "Mereka sangat menyukai lagu-lagumu. Mereka sangat mengagumimu. Mereka semua suka warna suaramu. Kau benar-benar mewarisi bakat Ibumu—Uzumaki Kushina. Demo nande… doushite? Mengapa kau berhenti bernyanyi dan malah lari ke sastra?" lanjut Sara. "Permainan biola mu bagus. Itu sudah tak diragukan lagi, tetapi masih ada yang kurang. Hati."
Menma ikut menunduk. Ia jadi ingin menangis juga. "Itu bukan kemauanku, kau tahu! Aku bukannya tidak ingin menyanyi lagi, tapi aku hanya tidak bisa. Aku tidak bisa mencapai nada tinggi lagi. Bukan keinginanku juga berlari ke sastra. Bagiku sastra hanya untuk mengungkapkan isi hati. Karena aku… aku tidak bisa bermain musik dengan sepenuh hati lagi."
"Eh? Apakah operasimu waktu itu gagal?"
"Tidak, operasi itu berhasil. Memang tak sepenuhnya sukses karena aku tidak bisa bernyanyi lagi. Tapi penyakitku sembuh total dan tidak pernah kambuh lagi sejak saat itu, persis seperti yang Tsunade-sensei katakan."
"Maaf, aku tidak tahu…." Kata Sara menyesali perkataannya tadi.
"Kami memang merahasiakan hal tersebut dari publik karena aku tak ingin privasiku diganggu oleh wartawan. Omong-omong, apakah kau masih ingat dengan Miura-sensei?" tanya Menma.
"Tentu. Dia dokter favoritku dan anak-anak lain," jawab Sara.
"Miura-sensei berkata, kalaupun aku berhenti menjadi seorang penyanyi pro karena tak bisa mencapai nada tinggi lagi… Itu bukan berarti aku membuang impianku, karena aku bisa mencari impian yang lain. Itulah mengapa aku menekuni hobiku bermain violin dan mendaftar ke sekolah ini."
Sara merenung. Ia masih ingat perbincangan para dokter tentang kondisi Menma. Operasi itu adalah opsi terbaik untuknya. Kalau Menma terus dipaksa menyanyi tanpa mereka melakukan operasi tersebut terlebih dahulu, tekanan pada pita suaranya akan lebih tinggi dan kontaminasi pada fistulanya akan semakin memburuk. Jadi, demi kesehatan Menma mereka harus segera mengoperasinya. Kalau dibiarkan akan terjadi infeksi terus-menerus. Ini dapat dibedah tapi akan sulit karena salurannya yang berkelok-kelok. Kalau perlu, mereka harus menghilangkan sebagian kelenjar tiroidnya. Namun dari posisi fistula Menma, jika mereka melakukan operasi tersebut, kemungkinan besar itu akan merusak saraf oksipital. Saraf ini adalah saraf yang menyuplai bagian atas dan belakang kepala. Jadi dia tidak akan bisa mencapai nada tinggi. Apalagi, kasus yang dialami Menma saat itu adalah kasus yang langka, jadi mereka semua belum begitu berpengalaman dalam menangani penyakit Pyriform Sinus Fistula.
Saat itu, Sara juga bertanya pada Ayahnya yang merupakan salah satu dokter yang bekerja di Rumah Sakit tempat mereka dirawat tentang penyakit Pyriform Sinus Fistula. Menurut Ayahnya, itu adalah infeksi cacat bawaan yang disebabkan adanya sebuah lubang tidak normal dalam tenggorokkan. Ini adalah penyakit bawaan langka yang menunjukkan gejala seperti penyakit anak-anak biasa, seperti infeksi pada saluran nafas atas, sakit tenggorokkan dan nyeri pada daerah tiroid. Jika hanya mengobati gejalanya tanpa menghilangkan penyebabnya, maka penyakit itu akan terus kambuh. Dan pada kasus yang parah bisa disertai radang kelenjar tiroid. Sebenarnya menurut Ayahnya—Akazawa Hayami, operasi tersebut bisa berhasil tanpa Menma harus kehilangan kemampuannya bernyanyi sopran. Hanya saja kemungkinannya kurang dari 40%.
"Maafkan aku, Ayahku adalah seorang dokter tetapi dia tidak bisa berbuat banyak untukmu."
"Mengapa kau meminta maaf? Lagipula, Ayahmu bukan dokter pediatrik, kan?"
Sara mengangguk. "Ya, dia hanya dokter umum. Tapi—"
Menma menyentuh pipi Sara dan tersenyum tipis. "Itu pekerjaan dokter bedah, bukan dokter umum seperti Ayahmu. Jadi, kau tak perlu merasa bersalah! Aku juga tidak menyalahkan Tsunade-sensei dan yang lainnya," katanya memotong perkataan Sara.
Menma kemudian menurunkan tangannya dari pipi Sara. Sara sedikit kecewa karena ia tak bisa merasakan sentuhan lembut Menma lagi. Namun ia balas tersenyum dan kemudian mengangguk. Ia lalu menengadah menatap pohon momiji yang menjulang tinggi di atasnya. Disela-sela batang pohon, Sara melihat sebuah papan kayu.
"Aku baru tahu kalau ada papan kayu di atas sana? Apa itu bisa digunakan untuk duduk? Siapa yang memasangnya, ya?"
"Aku yang memasangnya. Itu adalah markas rahasiaku," kata Menma yang sukses membuat Sara tertawa.
"Apakah kau sedang mencoba menghiburku, senpai? Jadi kau masih punya markas rahasia di usia ini?"
Menma kemudian menengadah menatap langit yang sudah hampir gelap. "Aku suka langit sekaligus membencinya. Itulah sebabnya, aku memasang papan kayu tersebut agar aku bisa melihat langit dari atas sana. Lain kali, mari kita mengobrol di sana! Kau pasti akan terkesan."
"Terima kasih, sayangnya pohon itu terlalu tinggi dan aku tidak bisa memanjat."
"Aku akan mengajarimu."
"Omong-omong soal langit… tadi senpai bilang, kau menyukai langit sekaligus membencinya. Apa maksud kalimat itu?"
"Beberapa hari yang lalu, aku membuat sebuah puisi yang berjudul langit. Mengapa aku bisa membuat puisi seperti itu? Itu karena saat itu hatiku sakit."
"Eh?"
"Haruno-san tak sengaja membaca puisi ku dan dia bilang puisinya pedih sekali. Namun itu memang ungkapan perasaanku. Setelah Sasame-chan dan yang lainnya… langit mungkin akan mengambil Adikku juga. Musik bagiku hanya membawa kepedihan, tetapi aku tidak membencinya. Sama seperti perasaanku terhadap langit."
"Adikmu? Namikize Naruto-senpai?" kata Sara yang reflek membungkam mulutnya dengan sebelah tangan. Sara kemudian menaruh tas dan wadah violin-nya di bawah pohon. Ia berjalan perlahan mendekati Menma dan langsung memeluknya. Saat itu juga, Menma bisa mendengar isak-tangis Sara.
"Akazawa? Kau ini… mengapa tiba-tiba memelukku?"
"Aku tahu kalau cinta pertamamu adalah Sasame-chan, tapi bisa diam tidak? Kumohon biarkan aku tetap seperti ini sebentar lagi saja!" kata Sara pula.
Menma menghela nafas. Ia pun membalas dekapan Sara. Angin berembus menerbangkan helaian rambut mereka. Di bawah langit berwarna jingga kemerahan, mereka saling berbagi duka. Lalu, saling menghibur satu sama lain. Selang beberapa menit kemudian, Sara pun melepas pelukkannya.
"Arigatou, Namikaze-senpai. Ano ne… bolehkah aku memanggilmu Menma-senpai saja?"
"Tentu. Lima tahun yang lalu… kau juga memanggilku Menma-Niisan, kan?"
"Ah, aku ingat! Saat itu kita semua saling memanggil dengan nama kecil kita!"
"Kalau begitu aku juga akan kembali memanggilmu Sara seperti dulu. Omong-omong, soal lagu yang tadi kau mainkan di ruang latihan… apa kau masih amatir? Dari kapan kau belajar violin?"
"Ehehe… rahasia!" kata Sara tertawa kaku. Tidak mungkin ia bercerita kalau ia baru memainkan violin hari ini, kan? Dan lagi itu bukan violin biasa.
Sara kemudian tersenyum lebar, ternyata si 'Northwind' tidak sebeku itu. Dia bahagia sekali karena Menma tak lagi bersikap dingin padanya. Lelaki cinta pertamanya ini bahkan bisa terbuka padanya. Mungkin karena saat mereka dirawat di Rumah Sakit dulu… mereka lumayan akrab.
"Menma-senpai, masih ada yang harus aku lakukan. Sampai jumpa besok, ya!" pamit Sara yang kemudian pergi.
"Sara!"
"Ya?"
"Jika kau punya waktu luang, maukah kau membawaku ke makam Ryu-kun dan Yuuichi-kun? Dan omong-omong, kapan mereka meninggal?"
"Tentu, mari kita ke makam mereka berdua dan Sasame-chan kalau kita tak sibuk. Yuuichi-chan meninggal bulan lalu, setelah penyakit HIV-nya berkembang menjadi Aids. Itu benar-benar menyedihkan, hanya karena tertular dari Ibunya… dia tak bisa tumbuh dewasa. Padahal dia lebih muda dua tahun dariku."
"Dan lebih muda tiga tahun dariku," sambung Menma.
"Ryu-Nii… meninggal sekitar 3 tahun yang lalu. Penyakit leukemia nya tak bisa disembuhkan. Ryu-Nii terus berjuang keras sampai akhir, tapi tetap saja dia… padahal dia seumuran denganmu."
"Sasame-chan juga sakit leukemia, kan? Sel kanker memang pembunuh yang mengerikan!" kata Menma sambil mengenang cinta pertamanya—Fuma Sasame.
"Ya. Kau benar, padahal waktu itu Sasame-chan sudah mulai pulih tetapi ujungnya… dia tetap meninggal."
"Ryu-kun dan yang lainnya… aku ingin sekali meminta maaf pada mereka karena sejak aku pulang dari Rumah Sakit, aku tak pernah menemui mereka lagi. Aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri. Aku benar-benar egois, bukan?"
Sara menggeleng. "Tidak juga! Hanya dengan mendengar lagu-lagumu mereka sudah terhibur lho…" kata Sara pula. Ia kemudian mengambil wadah violin dan tasnya. Lalu, melambaikan tangan pada Menma sebelum pergi.
.
.
Sara menepuk-nepuk pipinya yang sepertinya sudah memerah seperti udang rebus. Apa yang ia pikirkan, tiba-tiba memeluk Menma seperti itu? Itu benar-benar memalukan!
Sara kemudian menghela nafas panjang. Sara kembali teringat permainan violin Menma tadi. Itu benar-benar indah… bisa menciptakan suara yang bagus pasti akan sangat menyenangkan. Sara memejamkan kedua matanya. Ia masih ingat nada-nada yang Menma mainkan.
"Aku mendengar sebuah lagu yang indah. Nada itu... aku mungkin tidak akan bisa memainkannya dengan baik. Um, haruskah aku mencobanya?"
Sara pun mengeluarkan violinnya. Ia meletakkan violin tersebut di bahu dan menjepitnya dengan dagu. Lalu mulai menggesek bow. Suara violin yang dihasilkan benar-benar indah. Ia sendiri terkesan.
'I dit it! I've heard that melody… I get it. This… I know the song, so I create it!' kata Sara dalam hati. Ia pun memejamkan kedua matanya dan memainkan lagu tersebut dengan penuh perasaan.
Dari beranda gedung Music Department, Menma bisa mendengar suara violin. Dari atas sini dia juga bisa melihat siapa yang memainkannya. Itu adalah Sara. Menma memejamkan kedua matanya, menikmati alunan musik yang dihasilkan violin Sara. Akazawa Sara baru mendengar lagu ini tadi, kan? Dan dia langsung bisa memainkan lagu itu lebih baik darinya?
Sementara itu di ruang latihan, Naruto yang sedang memainkan Minute Waltz Op.64 No.1 – Chopin berhenti menggerakkan jari-jemarinya di atas tuts piano, saat dia mendengar suara violin. Indah sekali. Siapa yang saat ini tengah memainkan lagu Ave Maria? Dia yakin itu bukan Menma karena lagu ini dimainkan dengan penuh penghayatan.
Di depan gerbang Seiso Academy Uchiha Sasuke berhenti berjalan, tepat di dekat patung fairy. Begitupula sahabatnya, Yamazaki Anzu. Mereka berdua saling pandang, sama-sama merasa terkesima dengan lagu Ave Maria yang mengalun di udara.
"Mungkinkah itu Namikaze Menma?" tanya Anzu.
Sasuke menggeleng. "Tidak! Bukan dia!" jawab Sasuke.
Dari ruang kelas 1-1 Department Music, Moriyama Hikaru yang baru saja tiba untuk mengambil tas sekolahnya yang rupanya ketinggalan juga bisa mendengar suara violin. Dia nampak tersentuh. Ini pertama kalinya dia mendengar lagu Ave Maria dimainkan dengan begitu sempurna. Mungkinkah yang memainkannya adalah seorang jenius?
Di perpustakaan, Haruno Sakura yang sedang memilah-milah buku musik tentang biola alto/viola juga bisa mendengar suara violin.
"Itu Ave Maria, kan? Siapa yang memainkannya, ya? Lagunya benar-benar menyentuh hatiku!" gumamnya sambil meletakkan kedua tangannya di dada. Sakura menikmati alunan melodi itu sambil memejamkan kedua matanya.
.
Begitu permainannya selesai, Sara bisa melihat sosok mungil yang beberapa waktu lalu memberinya violin ajaib ini. Sang peri kini tengah bertepuk tangan untuknya.
"Itu luar biasa! Bravo!"
"Rossy! Kau dari mana saja?"
"Hanya berpatroli."
"Patroli?"
"That was Schubert's Ave Maria!" kata Rosemary.
"Ave Maria? Itukah yang aku dengar?"
"Did you know it?"
"Ya. Aku mendengarnya beberapa waktu lalu. Aku pikir itu adalah lagu yang sangat bagus."
"Itu dia. Aku mengerti. Perasaan baik membuat kinerjamu sangat bagus."
"Huh?"
"Itu adalah hal teknis yang mendukung violin ini. Bagian emosi. Dengan kata lain, lagu biola. Itu adalah pemain itu sendiri. Sara, sepertinya kau menyukainya. Aku sangat bahagia."
"Jadi maksudnya suasana hatiku akan memberi pengaruh yang besar terhadap violin ajaib ini?"
"Ya, sesuatu seperti itu. Bagus atau tidaknya permainanmu, itu tergantung perasaanmu. Namun tentu saja kau juga masih harus belajar. Dengan begitu, kau akan semakin mahir dalam memainkannya. Omong-omong, apa kau ingin aku carikan seorang pianis? Seorang pianis yang akan menjadi pengiringmu saat kompetisi musik nanti…."
"Tidak usah, Rossy. Aku akan meminta bantuan sensei saja nanti."
"Eh? Tapi bakalan sulit lho…soalnya saat aku patroli tadi hampir semua siswa/siswi Seiso Academy baik yang dari Regular Department dan terutama Music Department membicarakanmu dan Sakura. Mereka iri karena kalian berdua bisa terpilih sedangkan mereka tidak bisa walaupun sudah berlatih keras sejak masih kecil, apalagi kau baru kelas satu. Jadi, mereka benar-benar meremehkanmu. Sebagian dari mereka juga meremehkan Moriyama Hikaru yang juga masih kelas satu, padahal dia terpilih karena kemampuannya sendiri…." cerita Rosemary.
"Senpai-tachi tidak mereka bicarakan?" tanya Sara penasaran.
"Tentu saja dibicarakan juga. Katanya, pihak sekolah selalu pilih kasih terhadap murid lain dan Namikaze bersaudara… hanya karena orangtua dan Nenek mereka adalah musisi profesional. Yang tidak mereka bicarakan hanya Yamazaki Anzu dan Uchiha Sasuke. Yah, soalnya mereka sudah kelas 3 dan banyak fans-nya sih. Kalian berlima berhati-hatilah!" kata Rosemary memperingatkan.
"Begitu? Momo-chan juga mengatakan hal yang sama padaku beberapa hari yang lalu. Dia bilang, aku dan Haruno-senpai mungkin akan menjadi korban bullying. Yah, tapi ternyata bukan cuma kami berdua saja… bahkan Moriyama-kun dan Namikaze-senpai. Bukankah mereka bertiga juga banyak sekali fans-nya?"
"Ya, makanya yang merasa iri pada mereka bertiga hanya para siswa. Para siswi malah banyak yang memuji dan semakin mengagumi mereka. Bullying itu selalu ada di mana-mana, ya?"
Sara hanya mengangguk. Benar kata sahabatnya, di dunia ini bukan hanya ada orang-orang baik saja. Namun orang-orang yang jahat juga banyak.
"Omong-omong, Rossy?'
"Ya?"
"Namikaze Naruto-senpai… dia sakit, ya? Menma-senpai terlihat sangat sedih soalnya!"
"Who know? Yah, tapi auranya memang tidak biasa…." jawab Rosemary.
Sara memejamkan mata. Tidak lagi. Hal memilukan seperti itu… ia tak ingin Menma mengalaminya lagi.
"Rossy, yang ingin kuceritakan padamu besok… sebenarnya itu adalah luka lama bagiku dan Menma-senpai. Tapi karena sudah janji aku akan cerita. Sekarang, aku mau pulang. Apakah kau mau menginap di rumahku?"
"Tidak! Aku tinggal di rumah Kepala Sekolah. Kalau aku minta izin untuk menginap, dia mungkin tak akan mengijinkan."
"Eh? Kau tinggal di rumah Kepala Sekolah?"
"Ya, soalnya beliau teman dekat Ibuku."
Sara mengangguk paham. Ia pun membereskan violinnya. Lalu, pamit pulang. "Sampai jumpa besok!"
Rosemary melambaikan tangan. "Sampai jumpa! Hati-hati di jalan, ya!" teriaknya.
.
-HnY-
.
Haruno Sakura. Gadis biasa yang tak mempunyai bakat khusus. Namun terpilih untuk memainkan biola alto yang sering orang-orang sebut sebagai viola tengah berjalan menuju gedung Music Department.
Di Seiso Academy ini diadakan kompetisi musik setiap beberapa tahun. Para siswa/siswi yang mengambil bagian dalam kompetisi ini sebelumnya banyak yang menjadi sukses dibelahan dunia. Oleh karena itu, siswa-siswi musik semuanya tertarik untuk dapat berpartisipasi dalam kompetisi. Dalam kompetisi ini, para peserta diwajibkan untuk berkumpul bersama setelah jam makan siang oleh Hatake Kakashi. Sakura benar-benar tidak suka datang ke gedung departemen musik dan mengikuti kelas musik mereka.
'Mengapa seseorang dari departemen reguler, terutama orang luar sepertiku terpilih dalam kompetisi ini? Karena sebenarnya aku kasihan pada makhluk kecil itu? Namun dia memang terlihat sangat sedih ketika kemarin aku melihat air matanya bercucuran. Mungkin dia memang bukan peri yang egois, semoga saja….' pikir Sakura.
Sakura hanya berpura-pura bersikap biasa saja walaupun sebenarnya merasa tidak nyaman dan sangat marah karena sejak ia memasuki gedung milik departemen musik ini… ia bisa melihat tatapan sinis yang dilemparkan siswa/siswi lain kepadanya. Bukan salahnya juga kalau mereka tidak terpilih. Mereka tidak bisa melihat Rosemary, itulah alasan utamanya.
'Tempat pertemuannya di mana, ya? Mungkinkah ruangan ini?' Sakura bertanya-tanya dalam hati.
Dengan ragu-ragu karena takut salah memasuki ruangan yang dimaksud Hatake Kakashi, Sakura mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka dan mendapati seorang murid dari departemen musik tengah berdiri sambil melihat kertas pengumuman yang tertempel di papan tulis.
"Maaf, bolehkah aku bertanya? Apakah kau seorang peserta juga? Tempat pertemuannya di sini, kan?" tanyanya.
Siswa yang sejak tadi memunggunginya akhirnya menoleh.
'Dia anak laki-laki yang imut,' kata Sakura dalam hati.
"Ya," jawab siswa tersebut.
'Pin silver itu… rupanya dia anak kelas satu.'
"Terimakasih, aku benar-benar khawatir kalau aku mungkin tersesat. Ah, namaku Haruno Sakura dari kelas dua."
"He… hello! Aku Moriyama Hikaru dari kelas satu. Kuharap aku bisa belajar banyak darimu, senpai."
"Ah, kumohon tak perlu bersikap seperti itu. Justru akulah yang ingin lebih banyak belajar dari murid departemen musik seperti kalian," kata Sakura pula.
'Aku sangat beruntung, bukan hanya aku saja yang baru datang. Anak ini juga kelihatannya baik.'
"Hey!"
Mereka mendengar suara sesorang. Sakura dan Moriyama Hikaru menoleh secara bersamaan.
Di dekat pintu ruangan berdirilah satu orang siswa dengan dua orang siswi di kanan-kirinya. Sakura sudah bisa menebaknya. Mereka pasti mau mencari-cari masalah dengannya.
'Aku ini seorang Kyudoka. Kalau mau aku bisa membuat mereka bertiga kena petaka dengan membidikkan seribu anak panah….' pikir Sakura.
"Heh, bukankah kau adalah salah satu orang yang terpilih dari Genaral Department? Untuk mengabaikan siswa-siswi lain dari departemen musik… kelihatannya kau memiliki latar belakang yang bagus," kata salah satu siswi yang rambutnya pirang.
"Hehe, memilih seseorang yang tidak jelas… apalagi yang satu lagi adalah anak kelas satu. Untuk memilih seseorang yang datar seperti dia, ini benar-benar bencana untuk departemen musik!" Sambung siswi satu lagi yang rambutnya berwarna merah.
"Itu benar. Ini benar-benar sangat memalukan. Dia bahkan jarang sekali berbicara dan selalu menyendiri. Mengapa malah dipilih menjadi bagian dari kompetisi? Apa sih yang Kepala Sekolah pikirkan?" sahut satu-satunya siswa diantara mereka bertiga.
"Hey! Apa sih mau kalian? Anak ini dipilih karena kemampuannya sendiri!" bela Sakura.
"Senpai, lebih baik abaikan saja mereka!" saran Hikaru pelan.
"Aku tidak takut. Kau juga jangan diam saja hanya karena mereka lebih tua darimu," kata Sakura yang kemudian kembali menatap mereka bertiga dengan tegas.
"Kalian semua tidak terpilih, jadi kalian hanya bisa melimpahkan kemarahan kalian pada orang lain. Yang seharusnya merasa malu itu kalian bertiga! Kalian hanya iri karena kalah dari anak kelas satu dan juga diriku yang bukan bagian dari departemen musik!"
"APA KAU BILANG? BERANI JUGA KAU, YA!" teriak siswi pirang.
"Kalau begitu, sebagai salah satu dari mereka yang terpilih… kau seharusnya mempunyai kemampuan yang sempurna, kan?" kata siswi berambut merah.
"Itu benar, kau juga sudah mengantisipasi hal seperti ini, kan? Itulah mengapa kau membawa alat musik mu ke mana-mana!" kata si siswa sambil memerhatikan wadah viola yang Sakura bawa.
"Matsuoka-kun benar! Tapi mengapa kau diam saja? Kau tidak ingin memainkan itu? Kalau begitu… tarik kembali ucapanmu tadi dan lekas memohon maaf pada kami sekarang juga!" kata si pirang.
"Heh~ kau sombong seperti biasanya, Shion!" kata siswa yang bernama Matsuoka tadi.
"Mau main tidak? Kalau tidak cepat berlutut di bawah kaki kami!" tambah si siswi berambut merah.
"Hehe, kau malah lebih sombong Amaru!" kata Shion pula.
"Baiklah, aku akan bermain!" kata Sakura meskipun sebenarnya ia tidak begitu percaya diri dengan kemampuan bermusiknya.
"Sen… senpai, memainkan biola alto ketika sedang marah itu—" belum sempat Hikaru menyelesaikan kalimatnya, Sakura langsung mengeluarkan viola-nya dan kemudian memainkan sebuah lagu.
Dengan memainkan viola dengan penuh emosi, tentu saja malah nada tak jelas dan memekkan telinga yang bisa Sakura hasilkan.
"Huh? What are you playing?! Are you making a joke of us?" kata Matsuoka.
Wajah Sakura memerah karena malu. Sang peri telah berkata padanya sebelumnya, bahwa dia akan memberkati permainan biola alto Sakura. Jadi tentu saja, jika ia memainkan viola-nya dengan penuh kemarahan, viola-nya tidak akan mengeluarkan nada yang lembut. Mengapa ia begitu bodoh?
"Apakah kau berpikir bahwa bermain di depan kami itu tidak penting? Jangan becanda! Seseorang sepertimu, bagaimana bisa kau memasuki kompetisi yang sama dengan Namikaze-sama bersaudara dan juga Uchiha-senpai?!" teriak Shion.
"Kau benar-benar memalukan! Bagaimana mungkin gadis sepertimu bisa bergabung dengan Yamazaki-sama?" sambung Matsuoka.
'Oh, jadi dia fan Anzu-senpai?' pikir Sakura.
"OK, that's enough!" kata seseorang yang kemudian mendekati Sakura dan memegang kedua bahunya dari belakang sambil tersenyum.
"Murid dari departemen reguler akan merasa lebih gugup dari kami semua, itulah mengapa kami harus lebih banyak membantunya."
"Na… Namikaze-sama!" kata Shion dengan wajah yang sudah memerah karena melihat senyuman sang Sunshine.
"Bukan tanpa alasan Kepala Sekolah memilihnya. Sebagai sesama siswa/siswi Seiso Academy, bukankah seharusnya kalian mendukung kami semua yang akan mewakili Sekolah tercinta kita ini?" lanjutnya.
"So…sorry," kata Shion dan Amaru serentak.
"Heh~ kau selalu saja mencari muka, ya, Namikaze Naruto!" sinis Matsuoka.
Naruto mengabaikannya dengan menyentuh pipi Sakura.
"I am so sorry. Are you alright?"
"KYAAA! NAMIKAZE-KUN…!" jerit para siswi histeris dengan wajah blushing.
"I… I am okay!" kata Sakura yang wajahnya juga memerah karena Naruto menyentuh pipinya dan tersenyum mempesona di hadapan banyak orang.
"That's good!" kata Naruto pula.
Menma yang rupanya datang bersamaan dengan Naruto menghela nafas. 'But there's no need for him to come so close, right?' katanya dalam hati.
"Hey! Kalian semua sebaiknya pergi, sebentar lagi pertemuan kami akan dimulai!" kata Menma kemudian. Ia benar-benar kesal karena entah sejak kapan sudah makin banyak saja para siswi yang berkumpul di sekitar mereka.
"Ka… kami akan pergi! Maaf!" kata Amaru sambil menyeret Matsuoka dan Shion dengan wajahnya yang masih memerah. Siswi lain yang entah sudah berkumpul sejak kapan mengikuti mereka keluar.
"Whoa! Such a scary Naruto-kun guard… I really can't stand of you!" kata Yamazaki Anzu yang baru saja datang bersama Sasuke.
"Guard?" kata Menma.
"Yeah, you are a brother complex such troublesome!" lanjutnya.
"Anzu, dia bisa memelototimu terus sampai matanya keluar lho…." kata Sasuke.
"Okay, mari kita mulai pertemuannya! Apa yang kalian lakukan di sana?" kata Hatake Kakashi, di belakangnya ada Sara.
"Pertama, Kepala Sekolah mengatakan bahwa kalian semua harus saling mengenal satu sama lain makanya aku meminta kalian semua untuk menghadiri pertemuan ini. Nah, perkenalannya singkat saja karena masih ada hal lain yang harus kita bicarakan!" lanjutnya.
"Akhirnya kau datang juga sensei, kau selalu saja telat!" kata Sasuke.
"Kau juga telat, Sasuke. Nah, silakan dari yang termuda dulu!" kata Kakashi yang tentu saja membuat Sasuke semakin kesal pada wali kelasnya ini.
"I am from The 1st Year A Class, Moriyama Hikaru. Speciality is the Cello…." Kata Hikaru yang kemudian membungkuk sopan selama beberapa detik.
"Aku dari kelas 1-2 Regular Departement. Aku memainkan Violin."
'Hm? Jadi dia adalah peserta juga meskipun dia masih kelas satu seperti Moriyama-kun? Heh~ they must be very good!' pikir Anzu.
"I am from the 2nd Year A Class, Namikaze Naruto. Speciality is the Piano. Please do give the guidiance!" sambung Naruto tak lupa dengan senyuman manisnya.
'Dia benar-benar orang yang ramah dan ceria. Julukan Sunshine cocok sekali untuknya,' pikir Sara.
"I am from the 2nd Year B Class, Namikaze Menma. Speciality is the Violin too."
"Saya dari kelas 2-1 Regular Department. Namaku Haruno Sakura. Pemain Viola."
"Aku dari kelas 3-A, Yamazaki Anzu. Aku pemain Clarinet."
"Uchiha Sasuke dari kelas 3-B, pemain Flute!"
Kakashi-sensei menguap karena bosan. Ia lebih suka membaca novel karya Jiraiya-sensei daripada mengurus anak-anak.
"OK, so there's the seven of you with 2 violinist and 1 violis. Ini akan menjadi persaingan yang sangat ketat sepertinya. Mengapa ada tiga alat musik dari keluarga biola pada kompetisi tahun ini? Apa yang dia pikirkan?" katanya pula.
"Benar, kita jadi kekurangan pemain terompet!" sahut Anzu.
Sara dan Sakura langsung menunduk. Gara-gara mereka bisa melihat peri, pemain terompet tersebut jadi tidak terpilih.
Kakashi kemudian menjelaskan bahwa rincian tanggal dan lain-lain hal akan diberitahukan besok. Namun kompetisi kali ini akan sedikit berbeda dengan kompetisi dua tahun yang lalu. Semua peserta akan ditandingkan dengan peserta dari sekolah lain dan akan ada panggung yang berbeda untuk setiap pemain instrument yang sama. Disetiap panggung akan ada peringkat pertama dan kedua yang dicalonkan untuk melaju ke tahap berikutnya. Tahap berikutnya, semua peserta akan digabungkan dalam satu panggung yang sama sehingga persaingan bukan lagi antara pemain instrument yang sama, misalnya pianis vs pianis melainkan antara pemain instrumen yang berbeda-beda. Lalu, akan dipilih tiga orang pemenang. Mereka akan mendapatkan beasiswa musik ke luar negeri setelah mereka lulus Seiso Academy nanti.
"Kalian bertujuh harus menang dan melaju ke tahap berikutnya!" kata Kakashi-sensei.
"…tapi kalau harus bertanding dengan peserta dari sekolah lain terus terang aku tidak yakin!" kata Sara.
"Aku belum selesai bicara," kata Kakashi.
"Gomennasai, sensei!" kata Sara pula.
"Kalian dapat memilih lagu apa saja, tetapi disetiap panggung akan ada tema yang mirip. Kalian harus memilih lagu yang berhubungan dengan tema, dan untuk memainkan perasaan yang tersembunyi dalam lagu tersebut adalah hal yang paling penting."
"Perasaan?" gumam Menma.
"Dan ini adalah pesan dari Kepala Sekolah, renungkan baik-baik!" lanjut Kakashi.
Semua peserta mengangguk.
"Aku berharap yang terbaik dari kalian semua. Namun daripada bertanding untuk merebutkan ranking tertinggi… tolong ingatlah bahwa hal yang terpenting adalah untuk membawa kebahagian bagi orang lain, terutma penonton, dan memasuki kompetisi dengan serius. Jadi kalian semua berusahalah semaksimal mungkin demi sekolah kita."
"Bagaimana dengan temanya, sensei?" tanya Anzu.
"Temanya akan ditentukan oleh panitia. Kalian tunggu saja pengumumannya!"
Para peserta kembali mengangguk.
"Kepala Sekolah juga menginstruksikan untuk The Concours tahun ini, musik pembuka dilaksanakan oleh Klub Brass Band dan untuk acara penutupannya oleh Klub Music Orchesta."
Sasuke mengangkat tangan.
"Ya?"
"Maaf, sensei. Aku dan Anzu sangat sibuk dengan persiapan ujian karena kami sudah kelas tiga. Kami tidak ingin menjadi artis pembuka juga!"
"Ya, aku juga. Menampilkan sebuah orchestra membutuhkan latihan ekstra," sambung Naruto.
"Jangan khawatir, peserta dikecualikan dalam acara penutupan dan pembukaan."
Mereka bertiga pun menghela nafas lega, begitupula dengan Menma.
"Mengapa kau ikut-ikutan menghela nafas seperti kami? Bukankah kau anak Klub Olahraga?" tanya Anzu.
"Ya. Aku memang wakil Klub Basket. Lalu, kenapa? Memangnya aku tak boleh bernafas, senpai!" tantang Menma. Nada bicaranya terdengar begitu sinis.
Mereka berdua pun saling melempar deathglare. Untungnya Kakashi menengahi dengan bertepuk tangan satu kali.
"Jika kalian butuh informasi tambahan, panitia untuk acara tahun ini telah dipilih. Silakan lihat di papan tulis dan sampaikan pada mereka yang bersangkutan."
Semua orang, kecuali Hikaru yang sudah melihat kertas pengumuman tersebut saat baru datang, berjalan menuju papan tulis dan membaca pengumuman yang tertera di sana.
.
Panitia Concours :
Ketua Host Club, Inuzuka Kiba from Regular Department Class 2. Speciality Gitar Elektrik.
Ketua Brass Band Club, Hyuuga Neji from Music Department Class 3. Speciality Trumpet.
Ketua Classical Music Club, Nara Shikamaru from Music Department Class 2. Speciality Viola
Ketua Theater/Drama Club, Uzumaki Karin from Regular Departmet Class 3. Speciality Ikebana.
Ketua OSIS, Sabaku Gaara from Regular Department Class 2. Speciality Monochrome Painting.
Bendahara OSIS, Yamanaka Ino from Regular Department Class 2. Speciality Vocal.
Sekretaris OSIS, Hyuuga Hinata from Regular Department Class 2. Speciality Saxophone.
.
"Whoa! Ino terpilih menjadi salah satu panitia. Dia pasti akan sangat bahagia mendengarnya," gumam Sakura.
"Sampaikan pada Inuzuka Kiba, cari satu orang lagi untuk membantunya menjadi pembawa acara. Kalau bisa seorang siswi," kata Kakashi pula.
"Hai, sensei!" jawab Sakura.
"Well, that's about all. I leave the rest to all of you. We shall end today. You call all go back."
"Kakashi-sensei, what's this?! Lagi-lagi lari dari tanggung jawab!" protes Naruto.
Namun Hatake Kakashi hanya melambaikan tangan dan pergi.
Di sudut ruangan, seorang gadis dengan seragam Regular Department sedang memotret para peserta dengan camera-nya. Lalu, dia pun duduk di salah satu bangku sambil menyilangkan kaki.
"Hem! Orang yang mampu menjadi pemenang pasti Namikaze Naruto yang lahir dengan latar belakang musik. Ahh… tapi jika seperti itu maka tidak ada yang bisa dilihat lagi. Tidak menyenangkan sama sekali. Dan yang paling menawan karena karisma yang dimilikinya… Uchiha Sasuke atau Namikaze Menma. Erm, meskipun mereka bukan tipeku. Tapi aku masih memerhatikan segalanya tentang mereka terutama Namikaze-kun yang seorang mantan penyanyi sopran cilik. Dan selanjutnya, mereka yang berasal dari departemen reguler. Aku pikir hal-hal yang lebih menarik dan menyenangkan akan muncul? Yang lain, mari kita lihat… apakah kalian bisa mengalahkan sang pianis? Aku tahu dari internet kalau di Eropa sana dia sudah menjadi seorang pianis profesional walaupun aku tidak tahu, mengapa dia tidak memperpanjang kontraknya? That's right! Banyak bahan berita yang bagus, aku benar-benar bersemangat!" katanya.
.
Sakura menghela nafas. Sial sekali, ia baru saja dimarahi Rosemary karena bermain viola seperti itu. Ia pikir hari ini ia tak akan tertimpa kesialan lebih dari ini, tetapi rupanya ia memang tak pernah beruntung.
Dia kini tengah berhadapan dengan dua orang siswi yang tadi mencari masalah dengannya. Sekarang, bahkan telah muncul satu siswi lain. Mungkin Matsuoka sedang malas mem-bully orang sekarang.
"Kami sudah menunggumu begitu lama! Apakah kau luang sekarang?" tanya siswi yang kalau Sakura tidak salah ingat namanya Shion.
"Apa?"
"Yang tadi itu, karena Namikaze Naruto-sama ada di sana maka kami lekas pergi… tapi kami tak akan pernah mengakuimu!" sambung Amaru.
"Itu benar. Jangan sombong hanya karena Namikaze-kun memperlakukanmu dengan lebih baik. Dasar tamak!" kata siswi satu lagi.
"Kalian ini bicara apa? Aku bahkan tidak begitu mengenal Namikaze Naruto. Jadi, aku sungguh tidak memikirkan apapun tentang dia!"
"Apa kau bilang? Kau tidak mengenalnya?" teriak Amaru.
Shion kemudian bercerita panjang lebar dengan wajah memerah. "Namikaze Naruto-sama, dia memiliki penampilan yang menawan dan kepribadiannya juga baik. Yah, tubuhnya tidak begitu fit jadi dia tidak banyak berolahraga seperti saudara kembarnya, tapi sejak dia pindah ke sekolah ini… dia selalu mendapatkan nilai tertinggi. Terlahir dari latar belakang musik, latar belakang dan skill music-nya adalah yang terbaik. Dia juga selalu tersenyum lembut dan ramah pada semua murid Seiso Academy, karena itulah kami memanggilnya 'Sunshine'…."
'Duh, that's fangirling… it's so troublesome!' pikir Sakura.
"Dan hanya dengan memikirkan kau memasuki kompetisi yang sama dengannya, aku benar-benar marah!" lanjut Shion.
"Itu benar, tapi ada apa dengan penampilanmu tadi? Kau meremehkan kami!" sambung Amaru.
Sakura mengepalkan tangan. Ia benar-benar kesal sekarang.
"Ah? Benar juga! Kau harus menepati janji! Cepat berlutut pada kami dan meminta maaflah!" lanjut siswi satunya.
"Aku tidak pernah menjanjikan hal seperti itu? Siapa yang mengatakannya?" tanya Sakura.
"Watashi no onii-chan!" jawab siswi tersebut.
"Oh, jadi kau adiknya cowok itu? Matsuoka-san, right?"
"Or do you want to play again? Student from the Genaral Department?" kata Shion pula dengan seringai yang membuat Sakura semakin marah.
"Eh? How come everyone is here?" tanya seseorang.
Semua orang pun menoleh ke arah sumber suara. Rupanya dia adalah siswi dari Regular Department.
"Hello! Namaku Tayuya dari Klub Jurnalis! Boleh kupinjam dulu Haruno Sakura? Aku mendapatkan tugas untuk mewawancarinya!" katanya.
"Eh? Nani?" kaget Sakura.
Tayuya kemudian menyeret Sakura pergi.
"Kau seenaknya saja, kami belum selesai berbicara dengannya!" teriak Amaru.
"Hanya kupinjam sebentar!" katanya sambil menyeret Sakura pergi.
'Apa lagi sekarang?' pikir Sakura yang hanya bisa pasrah diseret oleh Ketua Klub jurnalis.
.
To be Continued
.
A/n: Uwaah! Panjaangnya! WkWk… okay, segini saja untuk chapter kali ini. Sankyuu untuk kalian semua yang sudah meninggalkan jejaknya dan juga untuk yang fav & follow. See you next chapter! Maaf kalau masih banyak typo bertebaran, soalnya cuma diedit satu kali~ :D
