Pinky Bluie

Cast: SEVENTEEN, mungkin akan ada grup lain dan banyak figuran (sudah ditentukan akan datang dari grup debutan 2015/2016, jadi anggap saja Park Jin (Park Myungeun; JIN) adalah OC, ok?)

Rating: T

Genre: Friendship/Romance

Warning: GS tanpa merubah nama, fic tidak jelas –sekali lagi aku bilang ini akan jadi sangat tidak jelas –aku serius, mungkin akan jadi kumcerpen hubungan SoonHoon dari sini sampai pelaminan tapi aku tidak tahu.

Member yang ku-switch di fic ini: Jeonghan, Wonwoo, Jihoon, Minghao, Seungkwan. Selain itu tetap.

XXX

Seungcheol akan keluar dari kelas sekitar sepuluh menit lagi, jadi Jihoon memutuskan untuk duduk di kantin tidak jauh dari situ. Dia tidak memesan apa apa, cuma duduk disana sambil memainkan handphone.

Ada banyak Line masuk, Jihoon sampai muak melihatnya.

Grup Cheollie's Angel memang sepi karena yang sedang santai mungkin cuma Jihoon, tapi multi-chat lain yang menurut Jihoon tidak penting penting amat malah jadi ribut.

Dan Jeonghan mengirim Line; Kau pergi dengan Cheol tanpa mengajakku? Kalian main?

Jihoon membalas; Urusan kakak dan adik, ipar dilarang ikut campur.

Jeonghan membalas dengan stiker sedih.

Jihoon tidak membalas.

Jeonghan membalas; Aku lihat post IG-mu

Jihoon membalas lagi; Aku juga lihat

Jeonghan bertanya; Post IG-mu?

Jihoon menjawab; Post IG-mu, Eonnie.

Jeonghan entah kenapa membalas dengan stiker tersipu dan pesan; Aku dan Jisoo sedang merayakan anniv persahabatan yang ke...

Jeonghan menggantung pesannya, sepertinya dia menghitung dulu, lalu dia membalas; 9th

Jihoon tidak membalas. Dia tahu Joshua dan Jeonghan sudah bersahabat bahkan sejak sebelum Joshua pernah menginjakan kaki di Korea. Dia tidak masalah pada hubungan persahabatan begitu karena dia dan Seungcheol juga begitu, tapi rasanya dia tidak tahu harus membalas apa pada Jeonghan.

Jeonghan mengirim pesan lagi; Kau tidak mau ganti warna rambut?

Jihoon mengirim stiker bingung.

Jeonghan membalas; Habisnya warna rambutmu kelihatan pudar.

Jeonghan membalas lagi; Maksudku tidak se-pink waktu awal awal kau mewarnainya.

Dan Jeonghan membalas lagi; Ya, kau memang mau soft pink sih, tapi tetap saja.

Jihoon akhirnya membalas, kasihan Jeonghan kalau tidak direspon; Ash grey bagaimana?

Jeonghan membalas; Kalau itu kau kupikir warna apapun akan cocok.

Jihoon membalas; Kau juga cocok dengan warna apapun, Eonnie.

Jeonghan membalas dengan stiker tersipu, lagi lagi, lalu mengirim pesan; Tapi aku pakai hitam bagus kan?

Jihoon mengirim stiker jempol

Jeonghan mengirim pesan, dalam dialek Gyeongsang; Makasih~

Sepertinya pacaran dengan Seungcheol sudah mempengaruhi Jeonghan dengan sangat.

Lalu Jeonghan mengirim pesan lagi; Aku harus pergi, Uji.

Dan pesan lagi; Bye~

Jihoon cuma membalas dengan stiker 'goodbye' bersamaan dengan Line Wonwoo masuk.

Wonwoo mengirim pesan; Kau mau ikut tidak, Ji?

Jihoon membalas; Kemana?

Wonwoo menjawab; Main~

Dan membalas lagi; Dengan Hao

Jihoon tidak membalas, dia kan sudah punya janji dengan Seungcheol.

"Uji!"

Jihoon menoleh mendengar nama panggilan disebut, suara laki laki dan satu satunya laki laki yang akan memanggilnya begitu cuma Seungcheol.

"Aku lama ya?" tanya Seungcheol, dia baru keluar kelas.

"Tidak." Jawab Jihoon.

"Kita pergi sekarang?" tanya Seungcheol, tangannya terulur untuk mengajak Jihoon pergi.

Jihoon tidak menjawab, meraih tangan Seungcheol dan mereka berjalan ke parkiran. Biasanya kalau sedang berjalan berdua dengan Jihoon, Seungcheol suka merangkul bahu Jihoon, katanya habis Jihoo kecil jadi dia takut kalau dia tidak benar benar memegangi Jihoon maka Jihoon akan hilang. Jihoon cuma memutar mata waktu mendengar alasan semacam itu.

Dan lagi, Seungcheol itu suka sekali menyentuh orang, pegang sana, pegang sini, peluk sana, peluk sini, di sebelah Jihoon dan Wonwoo dia jadi seperti ayah yang berusaha melindungi putri putrinya yang cantik dan serigala serigala kelaparan di luar sana.

Dan Seungcheol membukakan pintu untuk Jihoon, baru duduk di kursi pengemudi.

Baru Jihoon bertanya, "Kita mau kemana, Oppa?"

Seungcheol tersenyum, "Aku sudah memikirkan sesuatu untuk hadiahnya."

Setelah itu Jihoon tidak berkata apa apa lagi, dia membiarkan Seungcheol menyetir kemanapn dia mau.

Dan ternyata Seungcheol membawanya ke toko perhiasan.

"Wow, serius?"

"Kenapa bertanya, Jihoon?" tanya Seungcheol.

"K-kau mau cari cincin untuk melamarnya?"

"Apa?" Seungcheol tertawa, "Pikiranmu jauh juga, ya, Ji."

Disitu Jihoon ingin memukul Seungcheol karena sudah berani menertawainya, tapi akhirnya dia cuma-

"Awh! Jihoon, maafkan aku!"

-menginjak kaki Seungcheol.

"Cepat masuk atau aku pulang!"

"Hei, hei, jarang marah marah begitu, maafkan aku, habis kau lucu."

Jihoon memutar mata.

Seungcheol akhirnya membuka pintu dan masuk bersama Jihoon. si penjaga toko sepertinya sudah hapal siapa Seungcheol dan dia pergi mengambil sebuah kotak kecil.

Jihoon tidak memperhatikan, dia malah melihat lihat perhiasan lain yang dijual. Semuanya terlihat indah dan berkilau, Jihoon jadi ingin pakai satu.

"Jihoon, sini." Lalu Seungcheol memanggilnya.

Jihoon menurut dan akhirnya duduk di kursi di sebelah Seungcheol. Seungcheol lalu menyodorkan kotak perhiasan pada Jihoon.

Jihoon menatapnya dengan bingung.

"Hm, akumulasi hadiah karena dua tahun yang lalu aku tidak memberimu hadiah dan karena tahun lalu aku terlalu sibuk waktu kau ulang tahun."

Seungcheol memang suka rusuh, ceroboh, kadang pelupa, kadang memalukan, dan seringnya random. Dia memang punya salah, bahkan pada Jihoon, tapi dia punya cara yang tepat untuk menebus semuanya.

Dan Jihoon membuka kotak perhiasan itu. Mungkin isinya cincin atau anting atau kalung, dengan disain simple dan berbahan emas putih terbaik. Dan ternyata,

Isinya kalung, emas kuning, tulisan nama Jihoon dalam huruf roman.

Jihoon ingin head-bang ke kaca.

Dia merasa emas kuning itu terlalu cerah, terlalu kuning, untuknya dan lagi tulisan namanya, itu seperti kalung anak anak kecil yang masih suka lupa siapa nama lengkap mereka. Tapi tetap saja, Jihoon suka bagaimana huruf anggun membentuk namanya, dia bisa mengampuni Seungcheol dalam hal yang satu ini.

"Kau suka?"

Jihoon cuma tersenyum, Seungcheol menganggap it sebagai iya.

"Mau aku pakaikan?"

Jihoon membiarkan Seungcheol mengambil kalung itu dari kotaknya lalu dia berbalik dan menyampirkan rambutnya ke bahu, jadi Seungcheol bisa mengaitkan kalung itu dari tengkuknya.

"Terimakasih untuk hadiahnya."

"Sama sama."

Lalu Jihoon teringat Jeonghan.

"Kau mau memberi apa untuk Jeonghan Eonnie?"

"Anting? Gelang? Kalung?"

"Anting saja."

Jihoon melirik Seungcheol, dia agak was was kalau Seungcheol kumat randomnya dan memilih anting yang mungkin tidak akan Jeonghan sukai.

Jeonghan Eonnie itu perempuan yang cantik memang, cewek paling cantik sealam semesta, hobinya gonta ganti warna rambut, terlihat seperti perempuan pesolek kebanyakan, tapi Jihoon bisa menjamin dia bukan tipe yang begitu.

Ok, Jeonghan Eonnie juga bersolek, tapi dia jelas jelas bukan perempuan pesolek kebanyakan.

Jeonghan itu sangat suka basket, sangat suka cokelat, dan sangat suka tidur.

Jeonghan dan Jihoon adalah teman tidur yang baik dan tidak akan mengganggu satu sama lain dalam tidur, tapi kalau mereka tidak dipantau bisa bisa mereka tidak akan keburu bangun untuk masuk kelas pagi. Untung ada Seungcheol, ada sesuatu dalam suara Seungcheol yang dengan mudah bisa menyadarkan dua Putri Tidur ini, jadi kalau Seungcheol bilang bangun, Jeonghan dan Jihoon akan bangun dengan –agak lebih- mudah.

Jeonghan suka cokelat dan cake, dan dia bisa memakannya tanpa berpikir. Dia bukan tipe yang terlalu memikirkan berat badan selama dia bahagia. Tapi kalau timbangan sudah naik, Jeonghan juga bisa jadi panik sendiri.

Jeonghan suka basket. Jihoon tidak tahu dia pernah masuk tim basket atau tidak, tapi Jeonghan pernah mengajak Jihoon dan Wonwoo ke game centre hanya untuk main memasukan-bola-basket-ke-keranjang, dan disitu Jihoon baru tahu kalau semua shoot Jeonghan selalu akurat.

Jadi untuk Jeonghan, menurut Jihoon yang paling cocok adalah anting kecil yang simple dan bersinar.

"Yang ini?" Seungcheol bertanya, dia menunjuk satu anting,

Yang kecil, simple, dan bersinar.

Jihoon tersenyum. Seungcheol pintar.

Jadi Seungcheol akhirnya membeli anting itu dan Jihoon entah kenapa merasa lebih santai karena dia yakin Jeonghan akan suka antingnya.

Dia duduk di kursi penumpang di sebelah pengemudi dan memakai sabuk pengaman.

Seungcheol bertanya, "Kau tidak ambil foto lalu post ke IG?"

Jihoon cuma melirik Seungcheol.

Sejak kapan Seungcheol peduli IG Jihoon?

Sepertinya pacaran dengan Jeonghan sudah mempengaruhi Seungcheol dengan sangat.

"Hm." Jihoon cuma menjawab seperti itu.

Tapi dia tetap mengambil foto kalungnya dan post di IG. Tag Seungcheol, tapi tanpa caption karena Jihoon tidak tahu harus menulis apa.

Dan tiba tiba, ada suatu yang tidak Jihoon pikirkan sebelumnya walaupun harusnya dia sudah sadar.

Jeonghan merusuh di komentar; Uwah! Jihoonnie! Itu dari Seungcheol? Dari Seungcheol? Serius?

Oh, Jihoon baru paham, ini adalah cara untuk membuat Jeonghan panas.

Jadi Jihoon sengaja tidak membalas Jeonghan, biar dia terbakar saja dulu, lagian dia sudah bisa menebak dengan benar.

"Ayo kita makan, Ji." Kata Seungcheol.

Jihoon melirik padanya, dia pasti tidak tahu apa yang baru saja terjadi di post IG Jihoon. Seungcheol kan belum buka Instagram-nya.

Dan Jihoon cuma menjawab, "Ayo."

"Cafe biasa, ya."

"Ok."

XXX

Note-sangat-amat-penting: KEMARIN JIHOON PAKAI SAFETY SHORTS SEPERTI YANG BIASA PEREMPUAN PAKAI DI BALIK ROK! ARGH! Padahal pahanya itu aku suka sekali! Thick, pale, looks soooooo soft~

Note(1): Kemarin Jihoon tidak pakai safety shorts dan pahanya ampun, aku frustasi sama paha cowok chubby yang tingginya sepantaran denganku. Mau gigit, mau gigit.

Note(2): Jadi tiap aku sedih, untuk jadi tidak sedih lagi aku hanya harus melihat video dimana semua baju Jihoon kebesaran dan itu –Argh! Aku frustasi!

Note(3): Jihoon dengan baju kebesaran itu membuat aku berpikir bagaimana kalau fem!Jihoon di fanfic ini pakai baju Soonyoung atau baju Seungcheol, paling parah baju Mingyu. Sekarang kalau tingginya 154 dan Mingyu ada di 185 dan mungkin sebenarnya lebih tinggi lagi, kira kira setenggelam apa dia dalam baju Mingyu? Pasti manis! Dan aku senang membayangkan dia merasa terusan barunya a.k.a kaos SY/SC/MG sudah cukup panjang untuk menutupi kaki aduhai, tapi ternyata tidak dan aduh! Paha-paha-paha!

Note(4): Aku cuma terlalu suka (cewek dan) paha. Aih, suka sekali, aku suka sekali memperhatikan celana idol. Bahkan hal pertama yang aku ingat soal BTS adalah celana pendek dan celana kulit. Karena aku suka paha, makanya tidak heran kalau aku suka Jimin. Kalau memikirkan Jimin aku frustasi.

Note(5): Dan aku suka kontras kulit ke rambut hitam, Jimin bakal nge-slay aku comeback kali ini, harus siap siap tidak menjerit. Bernapas-bernapas-bernapas.

Note(6): Tahun ini hebatnya aku frustasi karena 3Ji, 1) Solo-nya Jiho 2) Jimin di Perfect Man 3) Paha Jihoon. Jisoo belum membuatku frustasi, tapi kalau dia terus pakai kemeja dengan gaya seperti itu, aku bisa naksir dia dan geregetan sendiri dulu. (Tapi Seo Jisoo sudah membuatku gereget setelah dia jadi super bijak dan aku ingin menangis, AOA Jimin sudah membuatku kecanduan tet-tet-tet di intro Elvis dan rap-nya. Aku kangen era seperti Elvis.)

Note(7): Apa yang SEVENTEEN pakai untuk showcase itu keren keren sekali, aku ingin mencuri looksnya, apalagi kemeja Jisoo dan Seungkwan. Kapan kapan mungkin aku akan berburu kemeja, dan jaket jeans seperti Woozi, juga jaket kulit Hao. Apa yang mereka pakai di era ini manis dan lagunya juga manis dan dance-nya juga keren, Hoshi itu benar benar bisa menjadikan apapun jadi sumber inspirasi, ya.