Oh, sebelum masuk ke cerita..kalo ada "..." berarti ngomong langsung. Kalo '...' berarti cuman dibatin, trus kalo "..." percakapan dari telpon yakk ヘ(*)ノ
Oh, satu lagi
Nomor punggung Tsuchida kan 9, nah devil balik-ehh tuker sama nomor punggung Naru. Nomor punggung Tsuchida jadi 14, soalnya di Seirin belum ada nomor punggung 14. Nah nomor punggung Naru jadi 9. Aaannd~, ada alasan kenapa nomor punggung Naru itu 9. Dan kalian mungkin mengaitkan nomor itu sama Kyuubi. Well, ada sih kaitannya sama Kyuubi, tapi ada alasan lain ()
Yosh, mari kita masuk ke dalam cerita (~_^)
Terlihat seorang pemuda yang usianya tak lebih dari 15 tahun. Rambut pirang cerah yang melambai kecil akibat terpaan lembut angin musim gugur. Kulit coklat eksotis. Manik mata sapphire indah yang mampu memikat hati orang-orang. Pipi yang sedikit chubby dengan tanda lahir yang mirip seperti kumis kucing. Dan bibir tipis yang kini membentuk sebuah garis melengkung-senyum tipis
Si pirang yang tak lain adalah Namikaze Naruto, memakai pakian kasual. Kemeja lengan pendek dengan warna biru langit yang 2 kancing atasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan t-shirt hitam polos dan sebuah kalung berliontin kristal prisma segi enam berwarna hijau laut(kalung dari Tsunade). Celana panjang jeans hitam dengan sebuah ikat pinggang berantai di sisi kiri ikat pinggang. Dan sepasang sepatu sport putih
Angin musim gugur di sore hari yang cukup dingin tak membuatnya kedinginan
Dengan langkah santai, tangan kiri yang bersembunyi di balik saku celananya, Naruto melangkah menuju ke gedung olahraga Seirin mengingat ini hari sabtu dan pastinya sekolah tutup lebih awal. Tapi hal itu tak mengurungkan niat Naruto untuk pergi ke sana, karena memiliki jadwal harian Tetsuya, thanks to his big bro
Di gedung olahraga
Terdengar suara pantulan bola dan suara berisik lainnya. Semua yang ada di dalam sangat berkonsentrasi hingga tak ada yang menyadari bahwa seseorang telah mengamati mereka sejak beberapa menit lalu
Si pengamat yang tak lain adalah Naruto hanya diam tak bersuara. Hingga sebuah bola basket tiba-tiba melesat tepat ke arah wajahnya. Dan dengan santainya Naruto mengangkat tangan kanannya, menghentikan-err tepatnya langsung mengoperkannya pada Tetsuya
Tetsuya dengan sempurna menangkap bola itu dengan ekspresi terkejut yang terlihat jelas di wajah yang biasanya datar itu
"Yhoo, Tetsuya. Lama tak bertemu."
Sapa Naruto dengan cengiran 5 jarinya. Sedangkan Tetsuya masih tampak shock dan mencoba memproses apa yang tengah dilihatnya. Tetsuya tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, karena yang saat ini berdiri di ambang pintu gedung olahraga adalah teman masa SMPnya yang dikabarkan telah meninggal dalam kecelakaan pesawat 2 tahun yang lalu. Dan kini teman yang paling dekat dengannya itu berdiri di sana dalam keadaan utuh
"Naru..to-kun? Ba-bagaimana bisa? Bukankah kau.."
Tetsuya tak mampu melanjutkan ucapannya membuat Naruto merasa bersalah pada teman baby bluenya itu
Dengan senyum maaf, Naruto menjelaskan "Well, mungkin kami-sama tak ingin aku pergi ke tempatnya, karena kami-sama tau betapa `menyenangkan` jika aku ada di sana dan berhasil memberikan `hadiah` karena sudah mengundangku ke tempat orang-orang mati berada. So, here I'm."
Seirin untuk pertama kalinya melihat ekspresi teman biru mereka selain ekspresi datar, dan wajah yang biasanya datar itu masih memajang eskpresi tak percaya. Manusia baby blue itu menghampiri Naruto secara perlahan begitu juga Naruto yang melangkah dengan santainya menghampiri si manusia hantu itu
Begitu mereka sudah saling berhadapan, dengan ragu-ragu Tetsuya mengangkat tangan kanannya, menyentuh pipi kiri si kuning yang lebih pendek 2 cm darinya itu untuk memastikan bahwa dirinya tak sedang bermimpi ataupun berkhayal
"Kau benar-benar Naruto-kun."
Dan Tetsuya langsung memeluk erat teman baiknya itu seakan-akan teman kuningnya itu akan pergi darinya, dan Tetsuya tak ingin teman yang sudah seperti adiknya itu pergi lagi dari kehidupan monotonya
"Aku kembali, Tetsuya. Dan maaf tak memberi kabar padamu sama sekali."
Naruto merasakan Tetsuya menggeleng kecil dan melepaskan pelukan mereka lalu berkata dengan senyum simpul yang sangat kecil "Tak apa. Aku senang kau kembali, Naruto-kun."
Naruto menatap sekitarnya dan tersenyum pada Tetsuya "Kulihat, kau senang berada di sini."
"Begitulah. Mereka baik, kuat, dan kerjasama mereka benar-benar mengagumkan."
"Ahahaha. Syukurlah kalau begitu."
"Bagaimana Naruto-kun tau aku di sini?"
"Well, you know. Aniki kan punya koneksi luas. So, I got your information from him."
Yups, serasa dunia milik berdua. Lainnya? Pergi aja
Seirin memandang teman biru mereka bicara dengan si kuning, menatap bingung dan penasaran. Berbeda dengan Kagami yang tampak kesal dan akhirnya membuka suara
"Oii! Siapa kau? Kau bukan murid di sini! Kenapa kau ada di sini?"
"Maa, maa. Kau tak perlu berteriak padaku, alis petir. Aku datang bukan untuk cari ribut. Aku datang hanya ingin bertemu dengan teman lama."
Naruto mengabaikan protesan Kagami masalah panggilan Naruto padanya, dan berjalan mendekati Tetsuya lalu merangkul bahu Tetsuya yang sedikit lebih besar darinya lalu membawa Tetsuya menjauhi yang lain dan bicara dengan suara yang kecil
"Dengar, Tetsuya. Aku tau ini mendadak. Tapi aku ingin kau membantuku."
"Jika aku bisa, maka akan aku bantu. Naruto-kun butuh bantuan apa? Jarang-jarang Naruto-kun minta bantuan."
"Sebenarnya aku ada beberapa rencana dan kebetulan aniki membawaku bersamanya ke sini. Aku ingin melakukan beberapa hal sampai aku kembali ke London nanti."
"Rencana apa? Tunggu, London?"
"Kau tak tau? Sepertinya kau lupa mengatakan kemana aku pergi saat masih SMP dulu. Aku pindah ke London begitu kenaikan kelas."
Yang lain kembali merasa diacuhkan dan lagi-lagi Kagami bicara dengan cukup keras
"Hooiii! Bocah kuning! Cepat pergi sebelum kulempar bola basket ini ke muka kucingmu itu!"
Uh-oh, Kagami tampaknya sedang dalam badmood. Dan Naruto hanya menghela napas pasrah lalu pamit
"Well, hanya itu yang ingin aku bicarakan denganmu. See you again, everyone!"
Dan Naruto pergi meninggalkan yang lainnya, yang masih belum kembali dari pikiran mereka masing-masing. Sedangkan Tetsuya tampak terdiam, membeku mendengar rencana gila teman masa SMPnya itu. Ditambah dengan kenyataan bahwa Naruto masih hidup membuatnya senang sekaligus tak percaya
Hari mulai gelap dan bulan mulai menampakan dirinya ditemani oleh bintang-bintang yang bertebaran dan berkelap-kelip menerangi langit yang gelap
Dan Naruto terlihat berjalan dengan santainya sambil menelpon seseorang menggunakan ponsel flip jingga yang terdapat sebuah gantungan ponsel dengan gantungan bola basket mini ditambah dengan seekor rubah dengan 9 ekor berwarna jingga
Tangan kanan Naruto memegang ponselnya ke telinga kanannya sedangkan tangan kirinya bersembunyi dengan tenang di saku jaketnya
"Tuutt..tuutt..tuu-Naruto? Ada apa menelpon?"
"Apa kau sudah menyiapkan yang kuminta?"
"Tentu saja. Kau pikir siapa aku ini? Dan untuk apa kau memintaku untuk membuat semua itu?"
"Tentu saja untuk memperlancar rencana yang sudah kusiapkan. Lagipula aku belum punya semua itu, dan aku pikir kau orang paling tepat untuk membantuku membuat semuanya. Kau kan ahlinya."
"Tapi, Naruto. Kau yakin mereka mau membantumu? Bukankah mereka menganggapmu sudah mati?"
"Kita tak akan tau kalau belum mencoba. Setidaknya dia sudah mulai mempersiapkan diri setelah aku memberikan informasi yang dibutuhkannya untuk menentukan menu latihannya sendiri."
"Jika itu yang kau mau. Kuharap semuanya berjalan dengan lancar. Mereka perlu mendapatkan pelajaran tetang batas dalam suatu hal yang mereka lakukan."
"Kuharap juga begitu. Bagaimana dengan yang lain? Apa mereka sudah siap?"
"Mereka sudah menguasai semua teknik yang kau minta. Kurasa mereka sudah siap."
"Baguslah kau begitu. Aku akan menelponmu lagi nanti."
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Jangan memaksakan diri."
"I know, I know. Kau lebih cerewet dari aniki."
"Ahahaha. Karena kau sudah kuanggap seperti adikku juga, kau tau itu."
"Aku tau. Salam untuk yang lainnya. Oh, 1 lagi. Pastikan mereka sudah menentukan menu latihannya."
"Tentu."
Dan berakhirlah pembicaraan Naruto dengan seseorang yang jauh di sana. Lalu Naruto memanggil seseorang untuk menjemputnya pulang
Tak lama setelahnya, datang sebuah mobil sedan hitam. Dan begitu mobil itu sampai di depan Naruto, si pengemudi keluar yang ternyata seorang pria 30 tahunan dengan masker yang menutupi hidung hingga lehernya. Pria itu tak lain adalah paman dari Naruto, Hatake Kakashi
Dengan eye-smilenya Kakashi menghampiri Naruto sambil mengelus-elus kepala kuning keponakannya itu "Lama tak bertemu, Naruto. Kulihat kau sehat-sehat saja."
"Bukankah paman ada di Suna? Kenapa bisa ada di sini?"
"Aku sudah sampai di sini tadi siang, dan anikimu memintaku untuk menjemputmu karena dia sedang ada rapat penting."
"Begitukah? Semoga saja aniki tak sampai sakit karena overworking lagi."
"Tenang. Paman sudah kembali dan bisa membantu mengurus perusahaan di sini lagi."
Keduanya kembali ke kediaman Namikaze dengan perbincangan ringan selama perjalanan yang hampir mencapai 15 menit dengan kecepatan sedang
Sesampai mereka di rumah yang disambut dengan para pelayan, Naruto langsung menuju kamarnya, membersihkan diri, mengganti pakaiannya santainya, lalu kembali ke ruang tv yang di sana ada Kakashi tengah bersantai di sofa sambil menonton sebuah acara tv
Naruto duduk di samping paman kesayangannya itu sambil memainkan jemarinya dengan lincah di ponselnya
"Sedang apa?"
"Hanya mengirim pesan pada Teme. Malam ini aku mau menginap di rumah Sasuke. Boleh?"
"Hmm? Tumben. Biasanya kau bertengkar terus dengan Sasuke."
"Well, aku ada sedikit perlu dengannya. Jadi, boleh tidak?"
"Paman sih tidak masalah. Tapi lebih baik kau bilang pada anikimu. Jangan sampai dia berbuat aneh-aneh lagi seperti bulan lalu."
"Iya, iya. Aku akan telpon aniki nanti. Aku mau menyiapkan pakaian gantiku dulu."
"Ya. Paman juga harus kembali ke kantor. Jangan lupa telpon sebelum pergi."
Dan percakapan antara paman-keponakan itu berakhir. Kakashi kembali ke kantor, sedangkan Naruto masuk ke kamarnya lalu membaringkan diri sambil menghubungi anikinya
"Tuutt..tuutt..Naru? Ada apa? Kau sudah pulang?"
Sebuah suara pria dewasa terdengar, tapi sepertinya bukan kakaknya, melainkan partner kerjanya
"Niisan? Kenapa ponsel aniki ada padamu?"
Tentu saja Naruto sedikit heran, pasalnya kakaknya itu tak akan pernah membiarkan orang lain menyentuh barang-barangnya, termasuk adiknya sendiri
"Oh, anikimu sedang menerima telpon dari rekan bisnisnya. Ada perlu apa?"
"Uhm. Nanti saja. Bilang pada aniki untuk menelponku kalau urusannya dengan rekan bisnisnya selesai."
"Baiklah. Apa penting? Kalau penting, biar aku berikan pada anikimu."
"Jangan! Biar aniki selesaikan dulu urusannya. Sudah ya. Aku mau telpon orang lain."
"Baiklah. Selamat malam."
"Malam juga, niisan."
Diputuslah sambungan telpon dan Naruto kembali men-dial nomor. Kali ini nomor Sasuke
"Tuutt..tuutt..tuutt..tuutt..tuutt..Dobe? Ada apa?"
"Lama sekali kau mengangkat telponku! Jangan bilang kau sedang.."
"Berisik! Apa maumu?"
"Ck. Jangan potong ucapanku, Teme. Aku sudah kirim pesan padamu, aku akan menginap di rumahmu dan karena kau tak membalas, makanya aku langsung menelpon."
"Ha? Memang kau sudah bilang anikimu?"
Tiba-tiba ponsel Naruto bergetar pertanda ada telpon masuk
"Eh? Aniki?..Err Sasuke. Pokoknya nanti aku menginap. Jaa na."
"Oii! Dob-tuuut."
Naruto langsung memutuskan sambungan telponnya dengan Sasuke, lalu menerima telpon dari anikinya
"Aniki? Urusanmu sudah selesai? Aku cuman mau bilang nanti aku nginap di rumah Sasuke."
"Ha? Oi! Jangan seenakmu saja. Aniki hari ini lembur."
"Kan masih ada pelayan si rumah, paman Kakashi juga sudah pulang. Aku tak mau tau. Pokoknya aku akan nginap di rumah Sasuke."
"Kalau begitu untuk apa tadi kau menelpon aniki tadi kalau kau tetap menginap?"
"Setidaknya aku sudah bilang kemana aku pergi. Daripada aniki nekat memanggil polisi seperti bulan lalu."
"Haah. Terserah saja. Besok kau sudah harus memilih sekolah mana yang akan kau masuki."
"Ya, ya. Jangan lupa istirahat dan makan. Jangan buat adikmu ini repot dengan merawatmu yang sakit, aniki."
Tanpa menunggu jawaban, Naruto langsung memutuskan sambungan telpon dan segera ke rumah Sasuke
Sesampainya di sana Naruto kembali di sambut oleh para pelayan di kediaman Uchiha yang tak kalah megahnya dengan kediaman Namikaze, dan kebetulan Naruto datang tepat sebelum makan malam berlangsung yang membuat Naruto ikut makan malam bersama keluarga Uchiha
Suasana makan malam terasa hangat dengan percakapan ringan diantara mereka, sang kepala keluarga, Fugaku yang bereaksi selayaknya seorang kepala keluarga, sang ibu rumah tangga, Mikoto yang menanggapi dengan senyum dan tawa kecil, anak tertua, Itachi yang dengan senyum simpulnya mengikuti perbincangan yang lebih terlihat seperti adu mulut antara kedua orang termuda di sana, Sasuke dan Naruto
Selesai makan malam, seperti biasa Naruto tidur di kamar Sasuke jika dirinya menginap, begitu pula dengan Sasuke yang akan tidur bersama di kamar Naruto jika dirinya menginap di kediaman Namikaze
Naruto dan Sasuke berbaring saling bersisihan dengan kedua lengan mereka sebagai bantalan meski sudah memakai bantal
Dan Sasuke memulai pembicaraan di antara mereka "Bagaimana persiapannya?"
"Sebagian besar sudah terlaksana. Hanya beberapa hal lagi yang perlu kita lakukan. Dan kurasa semuanya akan lengkap begitu kita mulai masuk ke sana."
"Baguslah. Aku sudah gatal ingin bermain."
"Oii! Jangan terlalu senang atau kau akan menghancurkan semuanya."
"Jangan samakan aku denganmu yang suka menghancurkan rencana orang lain."
"Setidaknya aku menghancurkan rencana bodoh. Sedangkan kau, rencana baikpun kau hancurkan."
"Terserah."
Dan ucapan itu membawa foxy-grin tercetak di bibir tipis Naruto karena Sasuke menyerah. Dan mereka mulai tenggelam dalam dunia mimpi masing-masing
TBC ≧ω≦
Semoga remake ini gak ngecewain yakk (づ ̄³)づ
Omake
2 tahun lalu di SMP Teiko
Cuaca yang cerah di musim semi yang membuat orang-orang begitu bahaiga saat melihat bunga-bunga bermekaran terutama bunga sakura yang menjadi kebanggaan Jepang, tapi sepertinya tak semua orang menikmati hari yang cerah ini seperti yang terjadi pada para remaja berkepala pelangi itu
Apa yang membuat remaja pelangi itu menjadi terlihat marah, muram, dan malu?
Mari kita lihat apa yang terjadi pada loker sepatu mereka
Dimulai dari milik si kepala merah, Akashi Seijuurou
Seperti biasa Seijuurou berangkat pagi agar tidak terjebak macet mengingat dirinya masih diantarkan oleh sopir keluarganya, dan tentu saja tempat yang pertama kali didatangi adalah loker sepatu untuk mengganti sepatunya dengan sepatu yang disediakan oleh sekolah
Tapi sepertinya Seijuurou tak hanya melihat sepatu sekolahnya di dalam sana, karena di sana ada beberapa lembar foto dengan fokus pada sosok anak kecil berkepala merah memakai stelan pakaian yang `puffy` layaknya anak-anak kecil pada umumnya membuatnya terlihat bulat. Ditambah dengan topi beret mini yang bertengger manis di kepala sisi kirinya, wajahnya terlihat manis dengan rona merah di kedua pipi gembulnya dengan mata yang terlihat berkaca-kaca seolah ingin menangis
Foto yang lain menunjukan anak kecil yang sama dengan pakaian yang sama, tapi ekspresi anak itu berbeda-beda
Ada yang tertawa lebar, menangis keras, posisi tengkurap dengan seekor anjing akita besar di atas tubuh mungil anak itu
Seijuurou yang melihat foto-foto itu tentu saja terkejut, wajah yang terbilang tampan itu kini memerah bagai rambut dan matanya akibat rasa marahnya hingga Seijuurou menemukan sebuah tulisan di balik salah satu foto-foto itu
`Ini balasanku karena kemarin kau sudah membuatku dimarahi habis-habisan oleh aniki ~\(≧▽≦)/~..Love, Foxy Blonde`
"Gggrrr...BAKA KITSUNE!"
Dan akhirnya Seijuurou kehilangan kesabaran dan ketenangannya, sedangkan si pelaku tertawa terbahak-bahak di suatu tempat, bersembunyi dari amukan `Raja Gunting Merah`
Benar-benar TBC (~_^)
Next omake-Kise Ryouta
