Disclaimer: J.K Rowling for the characters, ficnya punya saya

Warning: yaoi, bxb, shou-ai, bit threesome, uke!George, uke!Fred Jr, seme!Fred, Prewett!George, twins!Fred and Fred Jr, misstypos, genderbend, alur bisa cepet ataupun lambat, if you don't like yaoi you can go back.

Main Pair: Fred x George, Teddy x Fred Jr

Slight Pair: Fred Jr x George, Draco x Harry, Ron x Hermione

DLDR! RNR!

.

=o^o=


You love me, right? (No! His love for me!)

.

.

George mengerjap beberapa kali, memastikan matanya tak salah lihat. Kenapa ada gerombolan para perempuan di depan gerbang kampusnya? Kenapa penglihatannya menangkap dua kepala berambut merah di antara banyaknya gadis? Apa dia tak salah bahwa kedua pemuda identik itu juga melambai padanya yang hanya berjarak 15 meter jauhnya? Dan, apa-apaan dengan gestur gentle mereka ketika menyender pada mobil berwarna putih di belakang mereka itu? Sangat membuatnya iri!

"Sepertinya aku hanya salah lihat orang," gumam George berbalik, ingin meninggalkan tempat itu segera, tapi sayang seribu sayang tangannya sudah ditarik terlebih dahulu oleh seorang pemuda.

"Hey, Georgie," sapa satu pemuda yang George kenal sebagai Fred, nyengir ke arahnya.

'Mati aku,' batin George ketika merasakan tatapan membunuh dari seluruh kaum hawa yang tadi mengerubungi si kembar layaknya gula.

Fred II menariknya pelan sampai ke mobil, "Kami sengaja menjemputmu karena iseng, tidak ada kerjaan di rumah selain mendata."

"Kalian tidak harus," desah George pasrah, enggan mau masuk ke dalam mobil. "Aku bisa pulang dengan naik bis, atau jalan kaki, sudah tiga minggu kalian terus menjemputku, aku jadi tak enak hati," lanjut George bergumam di akhir kalimatnya.

"Rubbish," balas Fred tertawa, duduk di kursi pengemudi setelah lambai-lambai cantik pada kelompok perempuan itu dan menutup jendela. George duduk di kursi penumpang depan sementara Fred II duduk di kursi penumpang belakang. "Kami memang tak ada kerjaan.." Fred menjeda sebentar, melirik pemuda di sampingnya ini penuh minat. "..Georgia."

"Georgia–aku bukan perempuan!" Protes George menatap nyalang pada Fred yang sekarang menyeringai tipis, Fred II tertawa mendengarnya.

Fred II meredakan tawanya, "Kata 'bukan' sepertinya tak cocok, tapi 'hampir seperti' baru cocok," candanya membuat tawanya meledak kembali.

Rasanya Fred ingin menepikan mobil di jalan raya besar hanya karena ngakak mendengar gurauan itu. Dan sekarang George sangat berharap bisa memukul kedua kepala pria itu.

"Baiklah maaf," Fred berdehem sebentar, menjernihkan suaranya yang sempat parau karena tertawa. "Kami bekerja di kafe milik kakak kami," ujarnya memberitahu meski matanya kini fokus ke depan.

"Bekerja?" gumam George menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil, "aku sepertinya harus mengambil pekerjaan sampingan."

Rupanya Fred II mendengar gumaman George, dia langsung terlihat bersemangat. "Kalau begitu, bekerjalah di sana bersama kami! Ada lumayan banyak yang menjadi pelayan, tapi Katie dan Alicia–pelayan kafe lama–memutuskan berhenti dan bekerja di luar kota dan Bill sekarang membutuhkan pegawai baru! Karena kafenya sangat besar! Kau bisa melamar di sana dan tenang saja, para pelayan di sana semuanya baik! Bahkan adik kecil kami, Ron, ikut bekerja di sana–sayang sekali Ginny masih dilarang oleh orangtua kami hingga tak diperbolehkan ikut bekerja," balas Fred II menggebu-gebu saking semangatnya, menatap berharap pada George.

George terdiam sebentar, memikirkan tawaran Fred kedua di belakangnya, sedangkan Fred lain meliriknya penuh harap meski tengah fokus mengemudi.

"Akan.. kupikirkan," balas George pelan.

"Kami tahu kau sedang butuh uang sekarang, George." Perkataan Fred mendadak menyentaknya, dia langsung menoleh pada Fred dan menemukan Fred masih fokus ke depan, Fred bahkan tak melihatnya. "Akhir-akhir ini kau sering mondar-mandir di depan rumahmu, nampak frustasi dan kami menyimpulkan kau sedang kekurangan uang. Benar, kan?"

George mengangguk, tapi sebelum dia membuka mulut, Fred II sudah menyelanya. "Kami tahu itu karena biasanya setiap sore salah satu dari aku dan Fred selalu mengantar Ginny menuju tempat lesnya–jika kami selesai bekerja tentunya. Dan kebetulan sekali, jalan satu-satunya hanya lewat depan tempat tinggalmu."

George sama sekali tak menyangka bahwa si kembar ini ternyata sudah lama sering melewati rumahnya sebelum mereka saling mengenal. "Tunggu, mobil siapa yang dipakai kalian? Beda dengan mobil ini," tanya George heran kemudian.

"Ah," Fred II menegakkan tubuhnya, "itu mobil milik Kakak kami, Bill."

"Kalian punya berapa saudara sih?" tanya George lagi dengan bingung.

"Well, jika saudara, kami punya lima dan dengan kami menjadi tujuh, lalu ditambah kedua orangtua kami jadi sembilan," jawab Fred santai, "sepupu tidak terhitung, kan? Baguslah. Kakak pertama kami adalah Bill, dia sudah menikah, lalu Charlie, dan Percy, mereka para kakak kami. Sedangkan adik kami, yaitu Ron dan Ginny, Ron berbeda empat tahun dan Ginny berbeda lima tahun dengan kami."

"Jadi Ron masih berumur 21 tahun?" tebak George dijawab dengan anggukan, "lalu Ginny berumur 20 tahun."

"Tepat sekali!"

"Pikirkan lagi tawaran kami, George, untuk bekerja di kafe Bill sebagai pekerjaan sampingan."

George hanya diam, tak membalas apa-apa, sibuk dengan pikirannya sendiri sepanjang perjalanan.

=o^o=

Dan pada malamnya, George tak bisa tidur karena perkataan sang kembar itu. Salahkan dia yang kekurangan uang bulan ini! Dia berguling ke kanan dan kiri hanya karena ingin mencari posisi yang nyaman untuk tidur, tapi gagal, matanya tak mau terpejam dan tubuhnya sangat letih. Padahal dia tidak meminum kafein sama sekali hari itu!

"Pikirkan lagi tawaran kami, George, untuk bekerja di kafe Bill sebagai pekerjaan sampingan."

Beberapa kalimat yang mengganggu George sejak kemarin.

Jadi, di sinilah George sekarang, berdiri di depan kafe bernuansa merah–khas Weasley sepertinya, warna merah yang kuat tapi lembut secara bersamaan. Kafe ini lumayan besar, banyak tumbuhan hijau yang tergantung indah di dinding kafe, menyegarkan suasana dengan hembusan AC yang tak terlalu dingin. Mejanya ditata rapi, enak dipandang, beberapa tempat duduk juga ada di luar ruangan kafe jika bagian dalam kafe penuh. Bahkan ada taman kecil dengan bunga-bunga indah yang tertata manis.

Pasti kafe ini laris.

George memutuskan untuk masuk ke dalam kafe, ada sedikit pelanggan pagi itu, toh dia mengambil kelas sore hari ini. Ada beberapa pelayan yang melayani pengunjung, beberapa lagi berada di belakang meja kasir sambil mengobrol kecil dengan si koki yang menyondongkan setengah badannya di jendela dapur yang langsung terhubung dengan tempat kasir itu. Mereka–para pelayan–memakai kemeja merah, celana hitam –pelayan perempuan memakai rok hitam selutut, dan apron putih di pinggang mereka.

George tambah gugup, kan! Dia tak pernah memulai percakapan dengan orang lain!

"U-uhm, permisi," panggil George pada pelayan yang tadi melintas di depannya sambil membawa buku catatan kecil di tangannya, sedangkan pensil diselip di antara telinga dan rambut hitam berantakan itu. Iris hijau cemerlang yang dilindungi kacamata juga membingkai wajah cute pelayan itu.

Pelayan tersebut nampak terkejut, tapi hanya sebentar, karena kemudian dia mengatur ekspresinya lagi, tersenyum padanya. "Yes?"

"Aku mau bertanya hal kecil, apa benar di sini sedang membutuhkan karyawan tambahan?" tanya George sedikit antusias, mungkin saja dia bisa bekerja di kafe ini.

"Bila tentang itu, tanya saja pada Bill, oke? Tunggu, akan kupanggil Bill." Pelayan itu lalu pergi dari hadapannya, menghilang di balik pintu ruang kerja.

George memutuskan melihat-lihat makanan yang terpajang rapi di etalase kafe, kagum dengan desserts yang sepertinya menggiurkan itu. Mendadak ada yang menepuk bahunya keras, membuat George terlonjak kaget dan langsung memasang kuda-kuda bela dirinya.

"Whoa, biasa saja."

Pemuda itu membuka matanya yang tadi terpejam erat karena terkejut, dan melihat ke depan, di mana ada seorang gadis yang juga seorang pelayan menatapnya dengan sangat heran. Gadis berambut coklat panjang mengembang dengan iris coklatnya, nampannya terjatuh –mungkin juga kaget dengan reaksi George tadi.

"Hebat, kan? Itu desserts baru yang dibuat oleh Aunt Andromeda dan Tonks, dan Lee langsung menguasai resepnya! Terlihat lezat, kan?" gadis itu berjongkok untuk memungut nampan yang terjatuh, tapi George sudah terlebih dahulu mengambilnya.

George lalu mengembalikannya dengan malu, dia terlalu kaku untuk berbicara. "Maaf," ujarnya dan sekarang gadis itu –tidak, beberapa pelayan menatapnya dengan horror, seolah dia baru saja melakukan hal yang menyeramkan. "W-what?" tanyanya gugup, perutnya kini serasa diputar-balikkan dengan kuat ketika ditatap aneh.

"Nevermind," jawab gadis itu mulai berbalik darinya dan kembali bekerja, tapi sepertinya melirik George diam-diam.

"Jadi, kenapa ingin menemuiku?"

George berjengit kaget, untung saja kali ini tidak seperti tadi. Dia melihat pria jangkung, sangat jangkung hingga dia harus mendongak sedikit, berdiri di depannya dengan tangan yang disilangkan di depan dada. Rambutnya berwarna merah seperti si kembar, tapi panjangnya sebahu dan diikat tinggi dengan luka cakaran panjang di pipi kirinya. George tebak bahwa pria di depannya ini pasti kakak si kembar, Fred dan Fred II.

"Aku dengar, kafe ini sedang membutuhkan pelayan lebih?" tanya George setengah berharap.

"Yeah, kau sudah tahu itu, kan?"

"Bisakah aku bekerja di sini?" pria itu terlihat sangat kaget mendengarnya, George mengernyit heran. "Why?"

"Fred, kau sudah bekerja di sini dan kau ingin melamar lagi? Jangan bercanda denganku, Fred!"

Ah, sekarang George tahu kenapa yang lain tadi menatapnya seperti itu, mereka mengira dia adalah si kembar tertua keluarga Weasley. George menggelengkan kepalanya cepat, "Aku bukan Fred!"

"Lalu? Fredie? Kau juga bekerja di sini dengan Fred!'

"Aku bukan mereka berdua!"

"Lalu siapa? Doppleganger kedua bocah itu?"

"George, namaku George Prewett." George mengatakannya dengan cepat, tak peduli bahwa pria itu mendengarnya dengan jelas atau tidak.

Pria itu mengkerutkan keningnya heran, "Sekarang kalian memiliki nama baru, begitu? Untuk menge-prank orang?"

George facepalm di tempat, dia ingin mengutuk si kembar yang memiliki wajah yang sama dengannya. "No! Aku. Bukan. Mereka!" Ujarnya menekan kalimat terakhir, berharap bahwa Bill (dari nametag di dadanya) tersadar.

"Show me," tantang Bill.

Lagi-lagi George facepalm di tempat, dia memikirkan cara supaya Bill percaya bahwa dia adalah George, bukannya Fred maupun Fred II! Tapi dia tak bisa menemukan perbedaannya dengan mereka berdua, dari warna rambut, wajah, dan iris mata (kecuali iris mata Fred II adalah violet), mereka bertiga identik sekali. Akhirnya, George menghela napas pasrah.

Bill tersenyum puas melihat pemuda di depannya ini tak menjawab. "Jadi, Fred atau Fredie?"

Baru saja George akan membuka suara, tapi terhentikan karena ada yang membuka–mendobrak–pintu kafe keras, sampai semua orang menghentikan kegiatan mereka hanya untuk sekedar melihat apa yang terjadi, para pelanggan terlihat tak peduli tapi para pegawai seolah mendadak tak bisa bernapas. Kedua orang itu berlari ke arah George ketika Bill akan melayangkan teguran tapi diurungkannya sebab dua pria itu memeluknya erat sampai dia hampir terjungkal ke belakang.

"GEORGIEEE!" Seru keduanya senang, "kami tak menyangka bahwa kau menerima tawaran kami sore kemarin!" Lanjut mereka bersamaan, nyengir padanya.

Dan Bill jawdrop berat melihatnya.

Gantian George yang menatap Bill dengan kepuasan di wajahnya, "Lihat? Aku adalah George Prewett."

"Tapi–bagaimana–kenapa–" Bill kehilangan kata-kata, dia terlalu terkejut sampai lupa kosakata.

"Kami juga tak tahu," jawab George santai, "lepaskan aku," tambahnya kemudian menyuruh Fred dan Fred II berhenti memeluknya gemas.

"Sebaiknya kalian bernapas, masih banyak oksigen di sini loh," canda Fred pada beberapa pelayan itu, membuat para pelayan tersebut salah tingkah dan kembali bekerja, meski selalu melihat pada mereka beberapa detik sekali.

"Nah," ujar George tersenyum manis, "aku mendengar dari mereka berdua, kafemu kekurangan pelayan, kan? Bisa aku bekerja di sini?"

Bill berdehem dulu, "Yah, begitulah. Aku hanya ingin tahu umurmu, berapa umurmu? Kau tampak jauh lebih muda dari mereka berdua. 20 tahun? 21 tahun?" tebak Bill meneliti George dari atas ke bawah dengan cermat.

"23 tahun," koreksi George membuat Bill terbatuk mendadak.

"Kukira kau masih berumur segitu," gumam Bill sedikit tak percaya, "wajahmu awet, kalau begitu."

"Thanks soal wajah."

"Jadi, Bill," Fred II kini nyengir pada kakaknya, "apa Georgie bisa bekerja di sini?"

"Mengingat aku kekurangan pegawai, tentu bisa. Kau boleh bekerja sekarang, George, yang lain akan membimbingmu dulu. Dan kalian berdua," balas Bill menatap adik kembarnya tajam, "kembali ke rumah, bagian kalian nanti sore."

Fred II langsung merajuk, "Ayolah, Bill, tak bisakah kami tetap ada di sini?"

Satu kata mutlak dari mulut Bill keluar mulus.

"Tidak."

Dan dia pasti tak mau dibantah.

Fred dan Fred II merengut, George nyengir bersalah di belakang tubuh Bill. Kedua Fred itu lalu berpamitan dengan malas pada Bill, dan dengan riang pada George, lalu melangkah keluar dari kafe sambil melambai ke arah mereka sebentar.

Bill melempar kekehan geli ketika mobil putih itu sudah tak ada lagi lewat pintu kaca kafe. "Mereka begitu bersemangat, bukankah begitu?"

"Benar sekali," jawab George.

"Nah sekarang, Harry," panggil Bill pada pelayan yang lewat, pelayan pertama yang George ajak bicara.

"Ya, Bill?" tanya pemuda itu heran.

"Bisa kau antar George ke ruang karyawan? Kau harus mengajarinya sedikit," pinta Bill dibalas anggukan semangat Harry.

"Sure! Ayo, George!" Ajak Harry bersemangat, langsung menyambar pergelangan tangan George dan menariknya ke ruang khusus staf. George agak gugup ketika Harry menjelaskan banyak hal padanya, tapi yang pasti dia menangkap ajaran (?) Harry dengan baik.

"Thanks, Harry," ujar George ketika Harry memberinya satu set pakaian kerjanya, Harry hanya nyengir mendengarnya.

"Tak masalah!" Balas Harry bersemangat, "kita kembali bekerja sebentar lagi, George, ini sudah masuk waktu istirahat."

Tepat setelah mengatakan itu, pintu dibuka dan beberapa orang masuk ke dalam ruangan. Semuanya menatap George penuh minat, sedangkan dia sendiri berusaha untuk tidak terlihat gugup.

"Jadi," Harry berdehem sebentar, "perkenalkan, ini George Prewett!"

Seorang gadis yang tadi menepuk bahunya tersenyum manis padanya, mengulurkan tangan untuk berjabatan. "Aku Hermione Granger," ujarnya menjabat tangan George.

"Ron Weasley!" Pemuda lain berambut merah memperkenalkan dirinya dengan semangat, cengiran pemuda bernama Ron itu membuat George ingat pada si kembar.

Pemuda lain maju untuk berkenalan dengannya, "Neville Longbottom, semoga kita menjadi teman baik, George."

George sontak menjawab, "Eh, tentu saja."

Pemuda terakhir yang George kenali sebagai sang kasir itu akhirnya memperkenalkan diri, "Teddy Lupin, salam kenal," ujarnya ramah, dia lebih tinggi dari George tapi sepertinya seumuran dengannya.

Ron menatap lekat sosok George. "Kau benar-benar mirip dengan mereka, sangat mirip!"

"Seperti kembar tiga kalau berjalan bersama pastinya," canda Hermione membuat semuanya tertawa, George hanya tertawa gugup.

"Aku tak mengerti kenapa mereka sangat menempel padaku," ungkap George bingung, sementara Ron menatapnya penuh arti.

"Kau tahu, Georgie? Fred dan Fredie pasti punya alasan khusus, mereka biasanya tak peduli pada orang lain tapi baru kali ini aku melihat mereka sangat bersemangat ketika berjumpa denganmu tadi, pasti kau memiliki daya tarik sendiri untuk mereka," balas Ron nyengir lebar padanya, menyikut lengannya menggoda, membuat wajah George memanas.

"A-apaan sih," beberapa orang tertawa melihat sikapnya yang kini salah tingkah, "mungkin mereka hanya tertarik karena aku juga diciptakan sama dengan mereka," tambah George acuh.

"Mereka pasti ngambek mendengar ucapanmu yang menyakitkan," gumam Harry sweatdrop.

"Baiklah." Bill mendadak masuk ke ruangan itu sambil menepuk tangannya sekali, "Kembali bekerja, anak-anak."

"Kau terdengar seperti orangtua," ejek Ron.

Bill cuma tersenyum geli, "Aku memang orangtua, Ron, aku sudah punya satu anak. Nah, sekarang, cepatlah!"

"Bill sudah menikah?" bisik George bingung pada Ron.

"Tentu saja," jawab Ron, "dengan wanita Perancis, Fleur Delacour–yang pasti sekarang menjadi Fleur Weasley. Ayo, George, kita ke depan."

George mengangguk, mengikuti teman-teman barunya dengan gugup, membayangkan bagaimana pekerjaan pertamanya membuatnya merasa sangat kikuk. Tapi kali ini dirinya yakin, bahwa dia pasti bisa melakukannya!George juga yakin, mungkin sekarang dia akan memiliki teman-teman yang jauh lebih baik dari teman kampusnya, sedikit berharap kedua Fred mau membantunya..

Akh! Si kembar lagi yang terlintas! Baiklah, Georgie, fokus kerja sekarang.

.

.

To be continued