DESTINY

.

.

.

Kuroko no Basket bukan milik saya

Saya hanya meminjam karakternya untuk membuat fanfic ini.

Selamat membaca…

Terima kasih untuk para readers yang sudah menyempatkan waktunya untuk memberikan review dan saran untuk fanfic saya. Arigato gosaimas… m(_ _)m

Chapter 2

Hawa dingin mulai menguasai kamar yang didominasi oleh warna biru putih itu. Sangat dingin . Bahkan sang pemilik kamar telah menggulung dirinya dengan selimut tebal, namun tetap saja hawa dingin itu tetap menyusup masuk membuat tubuhnya gemetar karena dingin. Akhirnya, pemuda yang sedari tadi bersembunyi di balik selimutnya mengibaskan selimut itu hendak menyalakan pemanas ruangan di kamarnya yang hanya ia gunakan jika benar-benar merasa kedinginan. Namun saat ia melihat sekeliling, ia tertengun. Terdiam di atas tempat tidurnya dengan posisi duduk menghadap jendela.

Jendela itu terbuka...

'apa aku lupa menutup jendela tadi malam.' pikir Kuroko positif. Segera pemuda itu menutup jendela dan menyalakan pemanas ruangan, kemudian duduk kembali di atas tempat tidurnya. 'mimpiku semalam sangat aneh.' kata kuroko saat mengingat sebuah kejadian yang baginya hanya sebuah mimpi. Kejadian saat ia bertemu seseorang berambut merah sedang memegangi fotonya, saat pemuda itu mengatakan bahwa Kuroko adalah miliknya, dan saat sebuah sayap hitam...

Seketika lamunan Kuroko buyar saat pandangannya jatuh pada sebuah kotak merah yang tergeletak di lantai. Segera Kuroko berjalan ke arah kotak itu dan mengambilnya, memegang kotak itu dan menatapnya. "sungguh aneh..." kata Kurko. Tiba-tiba ponselnya yang ia letakkan di sebelah tempat tidurnya berbunyi. Kuroko segera menaruh kotak itu dan beranjak ke tempat ponselnya lalu mengambil ponsel itu. Melihat nama orang yang menelpon-nya dan menggerakkan jarinya di layar sentuh ponsel miliknya untuk menerima panggilan tersebut.

"ohayo, Tee-chan." sapa orang yang menelpon-nya.

"ohayo, okaasan. Ada apa menelponku sepagi ini?" tanya Tetsuya.

"bagini Tee-chan, karena awalnya otousan mengatakan kepada okaasan bahwa kami hanya sehari di rumah nenek jadi okaasan tidak membeli bahan makanan untuk persediaan di rumah karena okaasan pikir nanti saat okaasan pulang, okaasan akan pergi membelinya sendiri. Tapi ternyata nenek Tee-chan di sini sedang sakit jadi kepulangan okaasan dan otousan ditunda. Tee-chan bisa membantu okaasan membeli persediaan makanan-kan? Soalnya, perkiraan otousan, kami akan pulang sehari setelah natal. Tee-chan tidak keberatan kan?" kata ibunya lembut.

"baiklah okaasan..." kata Kuroko

"terima kasih Tee-chan. Uangnya okaasan taruh di kamar okaasan, di dalam laci dekat tempat tidur dan daftar belanjaan akan okaasan akan segera kirim melalui pesan." kata ibunya menambahkan.

"baiklah okaasan." kata Kuroko.

"sudah dulu ya Tee-chan. Okaasan harus pergi membeli obat dulu. Baik-baik di rumah ya Tee-chan." kata ibunya menyudahi Panggilan singkat itu.

Kuroko lalu menghela nafas, kemudian segera bersiap untuk pergi berbelanja.

{}

"dunia ternyata sudah sangat berubah." kata seseorang pemuda bersurai merah yang sedang duduk di perpustakaan, dikelilingi oleh banyak buku tentang kehidupan modern dan ditangannya terdapat sebuah buku tebal tentang kehidupan modern yang baru saja ia tutup. Ia sudah selesai melihat situasi dunia ini beberapa jam yang lalu dan ternyata banyak yang berubah, sehingga ia memutuskan untuk membaca buku agar mengetahui tentang dunia tempatnya berada saat ini. Merasa diperhatikan, akhirnya sang surai merah memutuskan mengedarkan pandangannya, dan menyadari beberapa pasang mata menatapnya. 'sepertinya baju ini mengambil perhatian mereka.' Batin Akashi. Bagaimana tidak? Ini merupakan hal yang sangat sulit untuk kau mengacuhkan seseorang yang berpakaian bagai seorang pangeran dari zaman kerajaan edo dengan wajah bagai seorang artis sedang duduk dengan tenang di dekat kalian sambil membaca buku dengan gerak tubuh yang sangat elegan. Bagai seorang pangeran yang baru keluar dari buku sejarah kerajaan Jepang pada masa lalu. 'sebaiknya aku pergi dan merubah pakaian ini' batin Akashi lalu berdiri, namun saat ia baru saja melangkah satu langkah, seorang gadis tiba-tiba menghalanginya. "hai, bisa kita berkenalan? Kau tahu, kau sangat menarik. Mengapa menggunakan pakaian ribet bagai pangeran seperti itu?" kata wanita itu tanpa mempedulikan wajah Akashi yang memiliki ekspresi tidak suka karena kelakuan wanita itu yang tiba-tiba menghalangi jalannya. "lebih baik kau menyingkir dari hadapanku" kata Akashi dingin. "aku tidak akan menyingkir jika kau belum memberi tahuku namamu dan mengapa kau menggunakan pakaian seperti itu." kata wanita itu lalu melangkah mendekati Akashi dan mulai menyentuh Akashi dengan gaya manja. "jangan menyentuhku!" bentak Akashi sambil menepis wanita itu sehingga wanita tersebut terjatuh. "Heiii!" kata wanita tersebut marah, namun seketika mulutnya bungkam. Ia ketakutan melihat tatapan dingin Akashi. Tatapan ingin membunuh...

"JANGAN PERNAH GANGGU AKU!" kata Akashi dingin dan menusuk membuat tubuh yang terduduk di depannya gemetar.

Akashi tak perduli, ia melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan melewati wanita itu dan mencari tempat sepi untuk menggunakan sihirnya dan mendapatkan pakaian yang sesuai dengan zaman ini, agar ia dapat bertemu dengan Tetsuya-nya dengan cara yang normal. Agar tidak akan ada orang yang berusaha mengacaukan hubungannya dengan sang pemuda bersurai biru itu sekali lagi.

{}

Kuroko berjalan kembali ke rumahnya setelah pergi berbelanja. Awalnya ia pikir daftar belanjaan yang akan ia terima tidak akan sebanyak ini, namun ia salah besar. Ternyata okaasan mengirimkan daftar belanjaan yang sangat panjang. Hasilnya, saat ini Kuroko berjalan sambil membawa belanjaan di tangannya yang bahkan sudah menutupi penglihatannya. Ia harus menengok ke samping depan agar bisa melihat jalanan. Kuroko bersyukur rumahnya tidak jauh dari supermarket tempatnya berbelanja. Ia hanya perlu melewati sebuah taman agar sampai di rumahnya. Namun rasa syukurnya menghilang seketika saat tangan-tangan kecil mulai memeganginya. Anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran mulai mengelilingi Kuroko. "tolong berhenti..." kata Kuroko, namun anak-anak itu tidak berhenti. Mereka terus saling mengejar sampai pada akhirnya...

Brukkk...

Semua belanjaan Kuroko jatuh berserakan, sedangkan anak-anak itu berlari meninggalkan Kuroko. Kuroko hanya menghela nafas untuk kesekian kalinya di hari ini, ia hanya menatap arah anak-anak itu pergi beberapa detik lalu mulai merapihkan kembali belanjaannya.

"boleh aku membantumu?" tanya seorang pria sambil membantu Kuroko merapihkan barangnya. "arigato..." kata Kuroko lalu mengangkat kepalanya untuk menatap orang yang membantunya. Seketika tubuhnya terasa kaku saat menatap wajah di hadapannya.

"Apa kau tidak apa-apa?" tanya sosok yang membantunya.

"Y-ya. Aku tidak apa-apa." kata Kuroko. Ia melihat sebuah senyum menghiasi wajah pemuda di hadapannya.

"baguslah... Biar aku membantumu membawa barang-barang ini sampai ke tempat tujuanmu." kata orang tersebut.

"tidak perlu... Aku bisa membawanya sendiri." kata Kuroko.

"aku akan membawanya, lebih baik kau memberi tahuku dimana rumahmu." kata orang itu lalu berjalan meninggalkan Kuroko. Kuroko segera mengikuti orang itu.

"Di depan taman ini belok kiri, rumahku merupakan rumah ke 3 yang akan kita temui." kata Kuroko.

"baiklah..." kata orang itu sambil tetap berjalan dan membawa sebagian belanjaan Kuroko.

Kuroko hanya menatap punggung pemuda itu. Pemuda yang sangat familiar baginya. Pemuda bersurai merah, menggunakan jaket kulit yang berwarna merah dan celana sutra berwarna hitam. Kuroko memandangi pemuda itu terus, berusaha mengingat siapa sebenarnya pemuda yang menolongnya. Ia sangat yakin pernah melihat wajah itu. Tanpa sadar ia menabrak pemuda itu.

"kenapa kau berhenti tiba-tiba?" tanya Kuroko.

"karena kita telah sampai di depan rumahmu." jawab pemuda berambut merah itu.

Kuroko akhirnya menatap rumah yang kini berada di hadapannya. Ya, pemuda itu benar. Ini memanglah rumah Kuroko. Kuroko hanya menunduk. Ia tidak berani melihat wajah orang yang menolongnya karena malu.

"gomen..." katanya.

"Akashi... Akashi Seijuuro..." kata pemuda itu. Seketika Kuroko ingat. Ingat atas apa yang dia anggap sebagai mimpi. "namaku Akashi Seijuuro." katanya lagi.

"Kuroko Tetsuya, arigato Akashi-kun telah membantuku." kata Kuroko.

"dimana aku bisa menaruh barang-barang ini?" tanya Akashi.

"didalam..." kata Kuroko lalu melangkah ke arah pintu dan membukanya.

{}

"terima Kasih Akashi-kun telah membantuku..." kata Kuroko sambil sedikit membungkuk saat Akashi telah selesai menaruh barang belanjaan Kuroko di dekat meja makan sesuai keinginan Kuroko.

"sama-sama Te... Maksudku Kuroko-kun" kata Akashi. Hampir saja ia memanggil Tetsuya-nya seperti dahulu saat mereka masih bersama.

"apakah Akashi-kun sudah makan siang?" tanya Kuroko.

"belum..." jawab Akashi.

"tinggallah sebentar disini Akashi-kun. Aku akan memasak makan siang. Kita dapat makan siang bersama. Anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku karena Akashi-kun telah membantuku." kata Kuroko lalu berjalan sambil membawa barang-barang tadi ke dapur yang masih satu ruangan dengan ruang makan keluarga Kuroko.

"baiklah Kuroko-kun" kata Akashi.

Akashi lalu duduk di ruang makan sambil memandangi Kuroko yang sedang berada di dapur sambil membuat makanan, menggunakan celemek berwarna kuning. Akashi memang tidak mengharapkan Tetsuya akan mengenalinya, tetapi mengapa ia merasa bahwa sepanjang perjalanan tadi Tetsuya memandanginya? Ia bahkan sempat mendapati Tetsuya yang sedang memandanginya, namun Tetsuya sama sekali tidak menyadari bahwa Akashi sedang melihatnya kembali. 'mengapa Tetsuya melihatku seperti itu? Apakah ada yang salah dengan baju ini?' batin Akashi.

Sedangkan di sisi lain...

'apa arti mimpiku semalam? Baru semalam aku bermimpi bertemu Akashi-kun yang kemudian mengatakan hal aneh, sekarang Akashi-kun yang sangat mirip bahkan tidak ada bedanya(ralat, ada perbedaan di gaya bajunya) kini duduk di ruang makan.' pikir Kuroko. Kuroko terus hanyut dalam pemikirannya sampai-sampai...

"Aaaah..." pekik Kuroko saat jarinya tergores oleh pisau. Seketika Akashi bangkit dari kursinya dan menghampiri Kuroko.

"apakah kau tidak apa-apa Kuroko-kun?" tanya Akashi.

"aku baik-baik saja Akashi-kun. Maaf membuatmu kaget." kata Kuroko sambil memegangi jarinya.

"jarimu berdarah Kuroko, ini harus segera diobati. Apa kau punya obat?" kata Akashi saat pandangannya menemukan luka di jari Kuroko.

"ada di lemari itu Akashi-kun." kata Kuroko sambil menunjuk sebuah lemari dengan tangannya yang tidak terluka.

Akashi segera menuju lemari itu, mengambil kotak obat di dalamnya lalu kembali ke tempat Kuroko. Akashi ingin mengobati Tetsuya-nya, namun Kuroko segera memegangi tangan Akashi untuk menahannya.

"aku bisa sendiri Akashi-kun" kata Kuroko lalu hendak mengambil kotak itu dari tangan Akashi. Namun Akashi tidak membiarkan kotak tersebut terlepas dari tangannya.

"aku akan mengobatimu Tetsuya, dan kata-kataku adalah mutlak." kata Akashi datar kemudian membuka kotak tersebut. Beruntunglah ia sudah membaca semua tentang dunia modern termasuk obat-obatan.

Seketika, Kuroko tak dapat bergerak. Ia terpaku, meski Akashi saat ini sedang membersihkan lukanya dan mengobatinya, pemuda itu tidak merasakan apapun. Otaknya berusaha mencerna kata-kata itu. Panggilan Akashi. Panggilan itu sama seperti panggilan Akashi saat berada di mimpinya.

"Siapa kau sebenarnya Akashi-kun?" seketika kata-kata itu keluar dari mulut sang surai biru, membuat Akashi berhenti membersihkan luka Kuroko. Baru ia menyadari kesalahannya. Namun bukan namanya Akashi Seijuuro jika hal seperti ini tidak dapat ia selesaikan, walaupun sulit baginya untuk menyembunyikan kerinduannya pada pemuda di depannya.

"Aku Akashi Seijuuro, seorang pemuda yang tidak akan pernah menerima penentangan atau apapun yang membuatku tidak senang. Apa kau mengerti Tetsuya?" kata Akashi lagi. Ia sengaja tidak mengubah panggilannya.

"bukan itu maksudku Akashi-kun. Hanya saja, mengapa kau memanggilku Tetsuya padahal kita baru saja berkenalan?" tanya Kuroko akhirnya.

"apakah aku tidak boleh memanggilmu Tetsuya? Jujur aku tidak menyukai memanggil seseorang dengan menggunakan marganya." kata Akashi.

Kuroko hanya terdiam. Akashi melanjutkan mengobati lupa Kuroko. Hanya keheningan yang dapat ditemui di ruangan itu sampai Akashi selesai mengobati luka Kuroko.

"terima kasih Akashi-kun. Maaf telah membuatmu repot."kata Kuroko lalu sedikit membungkuk.

"sama-sama Tetsuya. Bagaimana kalau aku membantumu memasak, apa yang ingin kau masak?" kata Akashi lalu membuka jaketnya, mencuci tangan lalu memegang pisau yang tadi digunakan Kuroko.

"sup tofu..." kata Kuroko.

"sup tofu?" kata Akashi terdengar seperti nada heran.

"ya... Mmmm, apakah Akashi-kun tidak menyukainya?" tanya Kuroko hati-hati.

"aku suka, hanya saja itu membuatku mengingat sesuatu" kata Akashi lalu mulai memotong tofu dengan hati-hati.

Flash back

"aku tahu kau ada di sana Akashi-kun" kata Tetsuya-nya menyadari Akashi yang bersembunyi menggunakan salah satu mantranya di balik badan Tetsuya-nya yang mungil.

"mengapa kau selalu bisa menemukanku Tetsuya?" kata Akashi yang mulai nampak di sebelah Tetsuya.

"karena hawa keberadaan Akashi-kun yang sangat mencekam dibandingkan apapun." jawab Tetsuyanya datar tanpa melihat ke arah Akashi. Ia masih sibuk memotong sesuatu berwarna putih dan nampak sangat rapuh.

"apa itu Tetsuya?" tanya Akashi sambil melihat ke arah apa yang di potong oleh Tetsuya-nya.

"ini disebut tofu Akashi-kun. Aku ingin membuat sup Tofu. Apakah Akashi-kun akan makan bersamaku malam ini?" kata Tetsuya menghentikan pekerjaannya sementara. Menatap manik berbeda warna milik Akashi lekat-lekat.

"baiklah Tetsuya, tapi apakah tidak apa-apa?" kata Akashi.

"tentu saja Akashi-kun. Lagipula kalau ada Akashi-kun, aku tidak perlu sendirian malam ini." kataTetsuya lagi.

"kau sendirian di rumah ini? Kemana pelayan-pelayanmu?" tanya Akashi.

"mereka mendapat perintah dari ayah untuk ke rumah utama. Hari ini ada orang asing yang akan disambut, jadi ayah membutuhkan pekerja yang cukup banyak." kata Kuroko lalu melanjutkan masakannya.

"pantas kau yang memasak Tetsuya..." kata Akashi.

"lebih baik Akashi-kun duduk dan menunggu, sebentar lagi ini akan selesai." kata Kuroko.

"baiklah Tetsuya..." kata Akashi lalu duduk di kursi paling dekat dengan Tetsuya-nya. Matanya tidak pernah lepas dari Tetsuya, semua gerakan tubuh malaikatnya, semua gerakan yang pemudanya lakukan akan ia tanam dalam pikirannya. Sampai selamanya.

Saat masakan selesai, Tetsuya menaruh masakannya pada meja yang berada di depan Akashi lalu kembali ke tempatnya tadi memasak untuk mengambil nasi untuk mereka berdua.

"maaf Akashi-kun kalau ini hanya makanan biasa yang tidak sesuai dengan seleramu, hanya saja hanya ini yang dapat aku masak"kata Tetsuya sambil menyajikan nasi tersebut di depan Akashi.

"aku akan menyukai apapun yang kau masak Tetsuya. Apa kau tahu kalau malam ini, orang-orang yang jauh dari negri ini sedang merayakan sesuatu?" kata Akashi sambil terus menatap Tetsuya.

"merayakan apa Akashi-kun? Bukankah tahun baru masih jauh?" kata Tetsuya-nya polos. Akashi hanya tersenyum mendengar kata-kata polos Tetsuya.

"Merayakan malam kebangkitan sang penyelamat dunia. Aku baru saja terbang melewati beberapa negeri dan kau pasti kau tidak akan membayangkan pemandangan seperti apa yang aku lihat" kata Akashi mulai bercerita.

"penyelamat dunia? Apakah penyelamat dunia itu benar-benar ada? Bagaimana ia terlahir dan bagaimana rupanya?" tanya Kuroko mulai penuh minat.

"ya… dia ada, tapi perayaan yang aku katakan hanya sebuah pengenangan. Penyelamat dunia yang orang-orang itu percaya, lahir jauh sebelum aku ada. Ia mati untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa. Namun inilah manusia, mereka tidak mau tahu dan tetap membuat dosa." kata Akashi.

Kuroko nampak Kecewa. Ia mengira bahwa penyelamat dunia itu baru lahir dan suatu hari, orang itu akan menyelamatkannya dari hidupnya yang sangat sepi ini. Namun ternyata ia salah.

"jangan kecewa Tetsuya. Untuk apa kau mngharapkan pertolongan orang yang bahkan tak kau ketahui? Aku ada bersamamu, cukup lihat aku, hanya aku, dan aku akan selalu melindungimu. Apapun yang akan terjadi. Aku akan terus bersamamu dan melindungimu, Tetsuya. Aku berjanji..." kata Akashi sambil menatap Tetsuya dengan tatapan yang sangat lembut. Tatapan yang sangat berbeda dari tatapan pertama yang Tetsuya lihat dari seorang Akashi Seijuuro.

Akhirnya mereka makan dengan penuh senyum dan canda. Akashi menceritakan bagaimana negri-negri jauh yang ia lewati tadi, bagaimana indah mereka menghiasi tempat-tempat untuk perayaan sedangkan Tetsuya-nya mendengarkan sambil membayangkannya.

End flash back

"akashi-kun... Apa kau sudah selesai memotong tofu-nya?" tanya Kuroko yang langsung menghentikan lamunan Akashi.

"A-apa?" tanya Akashi yang baru kembali kea lam sadarnya.

"apa kau sudah selesai memotong tofu itu?" tanya Kuroko tanpa melihat kea rah Akashi. Ia sibuk menyiapkan kaldu untuk sup tersebut.

Akashi lalu menatap tofu di tangannya. Ia terdiam sesaat. Karena melamun, ia belum memotong tofu itu. Segera Akashi melihat ke arah Kuroko. Setelah mengetahui Kuroko tidak memperhatikannya, segera Akashi menggunakan kekuatannya untuk membuat tofu tersebut terpotong sesuai ukuran yang ia ingat. Seperti potongan Tetsuya-nya dahulu.

"Akashi-kun?" kata Kuroko lalu berbalik dan mendapati Akashi yang berada di belakangnya sambil membawa tofu yang telah selesai terpotong itu.

"aku sudah selesai Tetsuya." Kata Akashi lalu memberikan tofu itu kepada Kuroko.

"terima kasih Akashi-kun… Akashi-kun duduk saja dulu. Saat masakannya selesai, aku akan membawanya di meja makan"kata Kuroko.

"baiklah Tetsuya." Kata Akashi lalu mencuci tangannya dan mulai melangkah ke arah meja makan. Namun tiba-tiba terdengar bunyi bel.

Tetsuya hendak mematikan api kompornya untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang, namun rencananya terhenti saat Akashi membuka suara. "biar aku yang membuka pintunya, Tetsuya." Kata Akashi lalu melangkah ke arah pintu keluar.

"terima kasih Akashi-kun." Kata Kuroko.

Tiba-tiba sebuah suara cukup keras terdengar, membuat Kuroko segera menghentikan kegiatannya dan berlari ke arah pintu untuk melihat keadaan.

"kamu siapa-ssu? Kenapa kamu ada di rumah Kurokocchi?" kata seseorang berambut pirang kepada Akashi dengan nada tidak suka.

"Oi Kise, sudah pasti dia ini pencuri. Kenapa kau masih bertanya, lebih baik kita bawa dia ke kantor polisi." Kata temannya yang berkulit tan.

"Kise-kun, Aomine-kun, apa yang kalian lakukan pada Akashi-kun?" tanya Kuroko yang tiba-tiba muncul dan melihat Aomine sedang memelintir tangan Akashi ke belakang dan menindih pemuda itu.

"kau mengenalnya Kurokocchi?" tanya Kise.

"ia Kise-kun, Akashi-kun tadi menolongku membawa belanjaan." Kata Kuroko.

Seketika Kise dan Aomine saling berpandangan. Kemudian memandang Akashi.

"menjauh dariku!" kata Akashi dengan aura yang sangat menakutkan, membuat Aomine segera menjauhkan dirinya dari Akashi.

"gomenasai…. Maafkan kami-ssu…" kata Kise.

"aku minta maaf" kata Aomine.

Akashi Tidak menjawab, dia hanya berdiri dan kembali merapihkan bajunya.

"Ada apa Aomine-kun dan Kise-kun kesini?" tanya Kuroko

"hanya berkunjung…" kata Aomine

"kami akan makan siang, apakah Aomine-kun dan Kise-kun ingin bergabung?" tanya Kuroko.

"tentu saja-ssu…" kata Kise langsung dengan semangat kemudian langsung berlari ke ruang makan sambil menarik Kuroko.

Tidak ada yang merasakan sebuah aura hitam yang mengikuti mereka di belakang.

.

.

.

To be continue

Terima kasih telah membaca…

Please review