Cintaku Berawal Dari Kacung Nok!

CHAPTER 2 UPDATE!

Yosh, Shana kembali lagi, minna! Setelah libur yang agak panjang karena kelas 9 UN. Mari kita doakan agar yang UN lulus 100%! Amin.

Nah, sekarang Shana akan memulai acara ini dengan mengucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Lalu terima kasih pada semua penonton yang datang pada acara perpisahan ini—tunggu, kok jadi pidato perpisahan sih? Ah, ngaco! Oke, kembali ke laptop! Eh, maksudnya kembali ke fic. Duh, otak Shana lagi error nih... Ya udahlah, daripada readers ketularan demam(?) mendingan langsung aja yuk. Happy Reading!

Summary : Saatnya ke salon!/"Kaa-san tahu salon bagus, lho!"/"HAH? SALON BRIDAL?"/"Kan mungkin saja kami akan berbesan."/"Wah, lomba ya? Jangan yang itu, yang ini saja!"/"Pasangan yang cocok!"/"KAMI BUKAN PASANGAN!"/ Waduh, NaruHina pergi ke salon dengan ibu mereka? Kekacauan apa yang akan muncul, ya?

Rating : T

Pairing : NaruHina

Genre : Romance/Friendship (and a bit humor, gomen kalau garing)

Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alay, aneh, ngaco, OC (yang gak sepenuhnya OC), multi-chap dan update lelet. Udah diperingatin lho, ya. Don't like, don't read, don't flame!

Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto dan Hari Kartini punya rakyat Indonesia. Tapi fic ini tetep punya Shana!

.

( o.O ) Cintaku Berawal Dari Kacung Nok! ( O.o )

.

"T-tempat apa ini?"

Yap, pertanyaan tepat, Naruto. Bagi orang biasa, mungkin tidak normal menanyakan pertanyaan seperti ini, karena dari dekorasinya saja semua orang sudah tahu ini tempat apa. Tapi tidak bagi Naruto.

"Apa yang kau bicarakan? Tentu saja salon!" seorang wanita berambut merah yang menggandeng Naruto menatapnya kesal. Dia adalah Kushina Uzumaki, ibu Naruto. Dia kesal karena anak satu-satunya ini sangat lamban berpikir, dia heran bagaimana Naruto bisa menjadi rangking 2 di kelasnya.

"T-tapi aku kan...?" kata Naruto lagi, tidak bisa mempercayai gedung di hadapannya.

"Sudahlah! Berhenti mengeluh, dan cepat masuk! Hikari sudah ada di dalam!" kata Kushina sambil menarik paksa Naruto yang terlihat sangat mengenaskan. Hikari yang dimaksud Kushina adalah ibu Hinata, Hikari Hyuuga.

"Kushina!" seorang wanita seumuran Kushina berambut indigo dengan mata lavender melambai anggun namun bersemangat pada Kushina. Kushina balas melambai, tersenyum lebar melihat wanita itu. Yap, dialah Hikari! DI sampingnya, seorang gadis yang sangat mirip dengannya tersenyum manis, namun tampaknya dia juga tidak niat ada di situ. Sepertinya mereka menunggu karena pemilik salon belum datang.

"Apa kabar? Ah, aku tidak menyangka anak kita akan dipasangkan!" kata Kushina, tersenyum senang sambil menggenggam Naruto erat-erat, karena Naruto sepertinya akan mencoba kabur dari situ. Malangnya dirimu, Naruto.

"Baik, kau bagaimana, Kushina? Iya, aku juga tidak menyangka! Manis sekali, ya," balas Hikari, terlihat sama senangnya dengan Kushina. Dan tak lama, mereka pun terlibat pembicaraan asyik tanpa memedulikan anak mereka yang terlihat makin menderita semakin lama di sana.

Hinata melihat-lihat sekeliling dengan bosan. Suasananya sangat menyebalkan baginya. Kalau saja tidak dipaksa guru dan teman-temannya, dia tidak akan mau ikut lomba ini. Sungguh merepotkan saja, begitulah pikirnya.

"Hei, Hinata, sana bicara dengan Naruto. Jangan diam saja, kalian harus kelihatan akrab secara natural!" kata Hikari sambil sedikit mendorong Hinata.

"E-eh? Kaa-san!" Hinata sangat kaget dengan permintaan—atau lebih tepatnya perintah—ibunya itu. Sayangnya, sebelum ia sempat menyuarakan penolakan, Kushina sama-sama mendukung ide Hikari dan menyuruh Naruto mendekati Hinata. Jadilah sekarang mereka berdua duduk di sofa di pojok ruangan. Hening sesaat, Hinata memutuskan untuk menanyakan hal yang sudah dipendamnya selama ini.

"Hei, Naruto! Kenapa kita jadi ada di sini? Kau tahu?" tanya Hinata ketus. Kepribadian preman sekolah yang didapatnya saat SD kini muncul kembali. Naruto menatapnya ngeri sebentar, kemudian menjawab.

"Itu semua karena..."


-FLASHBACK-

Sepulang sekolah, Naruto segera berlari agar cepat sampai di rumahnya. Ekspresi horor tak juga lepas dari wajahnya. Membuat semua orang sweatdrop melihatnya. Bahkan beberapa anak kecil menangis melihat wajah Naruto.

"Tadaima! Kaa-san!" segera setelah membuka pintu rumah dan melepas sepatunya sembarangan, Naruto berlari menuju ruang keluarga tempat ibunya, Kushina, biasa menonton TV. Apalagi sekarang ada rumor terkenal kalau girlband Chary Bellks (baca : cari belek) bubar.

"Apa sih, Naruto? Teriak-teriak begitu, kaa-san tidak tuli, tahu!" omel Kushina yang kesal karena acara infotainment-nya terganggu karena suara Naruto yang merdu, alias merusak dunia.

"Kaa-san! Gawat! Mayday mayday, kaa-san!" teriak Naruto histeris.

"Gawat apa sih?" tanya Kushina.

"Gawat, kaa-san, gawaaat!" teriak Naruto lagi, lebih histeris. Sayang, Naruto harus membayar mahal atas kelebayannya itu karena kini dia harus menerima jitakan keras dari Kushina.

"Gawat, gawat! Gawat apa? Kasih tahu yang jelas, dong!" kata Kushina yang sudah kesal karena ketidakjelasan anak semata wayangnya ini.

"Gawat! Kakashi-sensei bilang aku dipilih untuk ikut lomba Kacung Nok! Sama Hinata!" jawab Naruto panik.

"Eh? Itu kan berita bagus, Naruto! Kebetulan, ya. Kaa-san tahu salon bagus, lho!" kata Kushina, ekspresinya berubah cerah mendengar berita dari Naruto.

"Hah? Ba-bagus?" Naruto bertanya dengan terbata-bata karena ekspresi Kushina sangat berbeda dengan ekspresi yang diharapkannya.

"Tentu saja! Apalagi Hinata itu sangat cantik dan rangking 1 di kelasmu itu, ya kan? Padahal kau ini jelek, bodoh, ceroboh, tidak bisa diandalkan, pokoknya tidak ada bagus-bagusnya, deh. Kau benar-benar beruntung dipasangkan dengannya!" kata Kushina sambil tersenyum lebar tanpa dosa. Naruto pun pundung di pojokan sambil menangisi sebutan-sebutan—yang lebih tepat disebut hinaan atau ejekan—dari ibunya.

"Kaa-san... Tega..." ratap Naruto. Sayangnya, Kushina tidak memedulikannya dan segera berlari ke meja telepon untuk menelepon salonnya. Oh, malangnya dirimu, Naruto.

-FLASHBACK END-


"Oh, jadi begitu ceritanya. Yah, baiklah, kau kumaafkan," kata Hinata. Dia menghela nafas dan menyenderkan punggungnya ke sofa. Merutuki nasibnya dalam hati. Tidak sadar kalau Naruto di sampingnya pundung karena ingat dengan ejekan-ejekan Kushina.

"Naruto, Hinata-chan! Ayo, pemilik salonnya sudah datang!" seru Kushina memanggil Naruto dan Hinata. Keduanya bangkit dan menuju seorang wanita berambut coklat sepanjang pinggang dengan mata hazel yang berkilau. Dia tampak sangat cantik.

"Salam kenal, nona dan tuan muda. Saya Yukina Kitami, pemilik salon ini. Selamat datang di... Yuki-chan's Salon and Bridal!" katanya sambil tersenyum. Naruto dan Hinata terdiam sejenak mendengarnya.

1 detik...

2 detik...

3 detik...

5 detik...

"HAH! SALON BRIDAL!" Naruto dan Hinata menjerit bersamaan. Segera, Naruto mendapat jitakan dari Kushina, sedangkan Hinata dicubit pelan oleh Hikari.

"Bakaaa! Apa yang kau maksud dengan berteriak seperti itu!" Kushina menjewer telinga Naruto keras-keras, sampai Naruto menangis darah memohon ampunan wanita yang saat remaja dijuluki 'Habanero Berdarah' itu.

"A-ampun, kaa-san..."

"Bakaaa!"

Semua yang ada di situ sweatdrop menyaksikan adegan kekerasan yang dilakukan oleh Kushina, hingga akhirnya Yukina menghentikan Kushina dengan membujuknya untuk segera mencari pakaian daerah yang pas.

"Nah, bagaimana dengan yang ini? Warna cokelatnya pas, apalagi ukurannya juga," komentar Yukina setelah Hinata mencoba salah satu kebaya yang indah. Warnanya cokelat dengan aksen golden di bagian dada. Bagian tangannya transparan, dan kerah lehernya pun memiliki hiasan bergelombang yang cantik. Hinata terlihat sempurna memakainya.

"Hmm... Aku tidak terlalu suka beskap untuk Naruto. Mungkin warnanya kurang pas dengannya," kata Kushina setelah Naruto mencoba baju pasangan kebaya Hinata, yang biasa disebut beskap.

"Kalau yang ini bagaimana? Ini model eksklusif, ada pita di pinggangnya yang menambah kesan langsing di pinggang Hinata," tawar Yukina, menyerahkan sebuah kebaya ke tangan Hikari. Setelah melihatnya sebentar, Hikari menggeleng, menolak.

"Menurutku warnanya terlalu pucat. Kulit Hinata sudah putih, jadi kesannya pucat dan suram, seperti cahaya yang pudar. Tapi pitanya memang bagus," kata Hikari, mengembalikan kebaya itu.

"Hmm... Semua koleksi standar sudah dicoba. Apa mau coba yang exclusive new stock? Memang sih itu khusus untuk paket pengantin, dan harganya lebih mahal," tawar Yukina. Kushina dan Hikari berpandangan sejenak, dan tersenyum.

"Kami mau lihat!" seru keduanya bersamaan.

"KAA-SAN!" sekali lagi, Naruto dan Hinata menjerit bersamaan. Wajah keduanya memerah, hampir menyamai merahnya tomat kesukaan sahabat Naruto, Sasuke Uchiha.

"Kan mungkin saja kami akan berbesan," kata Kushina dan Hikari bersamaan. Mereka tersenyum jahil, melihat tingkah anak mereka yang malu-malu.

"Ka-kaa-san! Jangan membuatku malu!" Hinata mengalihkan pandangannya, sangat malu digoda seperti itu. Naruto pun sama saja, dia tampak sangat malu. Sungguh imut~

"Ahaha... Sudahlah, ayo kita lihat koleksi lainnya. Lewat sini," kata Yukina sambil tersenyum, menunjukkan jalan menuju ruangan besar yang dipenuhi display-display pakaian pernikahan tradisional. Ada yang benar-benar tradisional, ada juga yang ditambahi kesan modern. Semuanya sangat bagus.

"Yang itu manis~ Yang itu juga bagus~ Pilih yang mana, ya?" kata Hinata sambil tersenyum senang. Ternyata, sesebal apapun Hinata berada di salon bersama Naruto, sifat aslinya sebagai seorang gadis tetap muncul. Ya, sifat menyukai sesuatu yang manis. Yang berhubungan dengan fashion, tentunya. Sungguh lucu melihat seorang Hinata yang sebenarnya agak tomboy menjadi manis seperti ini.

"Ada yang membuat nona tertarik?" tanya Yukina ramah pada Hinata. Gadis indigo itu menoleh padanya dan tersenyum manis.

"Semuanya menarik, aku tidak bisa memutuskan!" katanya ceria. Yukina tersenyum mendengar komentar gadis cantik di hadapannya terhadap karyanya. Bagi seorang desainer sepertinya, jika ada seseorang yang memuji baju karyanya, itu merupakan sebuah kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri.

"Baiklah, saya tahu baju yang sangat pas untuk nona dan tuan muda ini! Tunggu sebentar ya," kata Yukina, dan dia bergegas pergi ke belakang ke sebuah ruang yang sepertinya ruang desain miliknya. Selang beberapa menit, dia kembali.

"Nah, bagaimana kalau ini? Menurutku warna bluish purple-nya cocok dengan rambut Hinata-san, dan dapat menyesuaikan dengan warna mata Naruto-san," jelas Yukina sambil menunjukkan sesetel pakaian untuk Naruto dan Hinata.

"Iya, memang manis. Bagaimana, coba ya, Hinata!" bujuk Hikari, yang sebenarnya tidak perlu karena Hinata terlihat seperti ingin menyambar kebaya yang indah itu dari tangan Yukina dan segera mencobanya.

"Naruto, pakai itu! Kalau tidak, kau akan menyesal telah kulahirkan!" bisik Kushina dengan nada mengancam. Melihat aura kegelapan yang menguar dari tubuh ibunya, Naruto hanya bisa takut dan pasrah. Akhirnya dicobanya beskap yang menurutnya... Yah, memang bagus, sih.

"Naruto-san, kau pakai di ruang ganti yang itu, ya? Hinata-san akan saya pakaikan. Tolong jangan keluar sampai saya beri tahu, ya," kata Yukina. Naruto mengangguk kecil dan berjalan menuju sebuah ruangan kecil di pojok. Dia sudah pernah memakai pakaian seperti ini, jadi dia yakin bisa memakainya sendiri tanpa bantuan.

"Nah, Hinata-san, bisa tolong lepas bajunya?" pinta Yukina. Hinata mengangguk bersemangat dan segera melepas dress terusan sepanjang setengah pahanya yang berwarna soft orange dengan aksen polkadot. Kini yang terlihat hanya lingerie miliknya saja.

"Umm... Hikari-san, Kushina-san, apa Hinata-san mau dipakaikan kamisol atau bustier?" tanya Yukina, saat akan mengambil dalaman untuk kebaya Hinata.

"Memang apa bedanya?" tanya Hikari.

"Kalau kamisol itu hanya dalaman biasa, untuk menutupi bagian tubuh yang terbuka, atau tidak tertutup oleh kebayanya. Sedangkan bustier itu dalaman yang bisa membentuk tubuh. Jadi bisa membuat tubuh Hinata-san lebih berbentuk, lebih langsing dan menonjolkan bagian tertentu yang diinginkan," jelas Yukina. Hikari tampak menimang-nimang sejenak pilihannya.

"Bagaimana, Hinata? Kau mau kamisol atau bustier?" tanya Hikari. Sama sepertinya, Hinata tampak menimang-nimang dulu pilihannya.

"Hmm... Boleh aku coba bustiernya?" tanya Hinata. Yukina mengangguk dan tersenyum kecil. Dia segera membuka lemari di sampingnya. Wanita cantik itu kini memegang sebuah dalaman seperti korset yang biasa dipakai oleh perempuan Inggris pada zaman Ratu Victoria atau sebelumnya.

Dengan sigap, Yukina memakaikan bustier itu pada tubuh ramping Hinata. Lalu dia mengikat dan menyimpulkan tali-tali di bagian belakang bustier itu. "Coba tahan sedikit, ya," pinta Yukina. Dapat dirasakannya Hinata mengangguk, jadi dia tarik tali-tali itu dengan agak keras. Hinata tetap bertahan, walau ia merasa tubuhnya bagai sedang ditekan. Hingga akhirnya Yukina berhenti.

"Bagaimana, ini sudah cukup?" tanya Yukina, kedua tangannya masih memegangi tali-tali bustiernya dengan erat.

"Umh... Kurasa ini sudah cukup," kata Hinata. Yukina tersenyum puas dan mengikat tali bustiernya. Kini tubuh Hinata tampak lebih berbentuk daripada sebelumnya. Hikari dan Kushina juga tersenyum puas.

Kini, Yukina mengambil kebaya yang tadi dan mencoba memakaikannya oada Hinata. "Nah, bisa dua tangannya dikebelakangkan?" pinta Yukina lagi. Hinata menurut dan mengebelakangkan tangannya. Yukina dengan sigap merapikan, mengancingkan dan menyelesaikan tampilan Hinata. Untuk bagian bawahan pun, ada kain khusus yaitu kain bercorak batik khas Konoha, Daun Api.

"Perfect! Nah, bagaimana penampilan Hinata sekarang, Hikari-san, Kushina-san?" tanya Yukina sambil tersenyum puas. Dia memandangi Hinata sambil tersenyum. Hinata tampak sangat cantik.

"Nah, Naruto-san, kau sudah selesai? Keluarlah, kami ingin mencocokkanmu dengan Hinata-san," kata Yukina kepada Naruto di dalam ruang ganti.

"Baiklah," balas Naruto di dalam. Dia kemudian melangkah keluar dengan beskap dan celana yang sudah terpasang di kakinya. Dengan kedua mata sapphire-nya, baju itu tampak sangat serasi. Rambutnya tidak tertutup blangkon, Yukina memintanya agar dibiarkan natural saja. Hinata juga, dia tidak memakai sanggul, tapi rambutnya akan dibentuk sebagaimana rupa agar menyerupai bentuk sanggul. Ditambah dengan beberapa hiasan untuk mempercantiknya.

"Wah, indahnya! Kalian cocok sekali~" komentar Yukina, Kushina dan Hikari ketika Naruto keluar dan bersanding dengan Hinata.

"U-urusai yo..." kata Naruto pelan, rona merah tipis menghampiri pipinya. Hinata terdiam, namun dalam hatinya dia merasa sangat malu. Ini benar-benar memalukan!

"Baiklah, kami ambil yang ini saja!" ucap Kushina yakin. Yukina mengangguk senang dan dia menuntun mereka menuju meja kasir. Saat akan membayar, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka keras. Tampaklah seorang gadis berambut pirang keemasan yang panjang ikal dengan mata ruby yang bersinar. Sebuah pita violet cantik menggangtung di bagian belakang kepalanya. Dia tak kalah cantik dengan Yukina.

"Nee-chan!" gadis yang kelihatannya hanya beberapa tahun lebih tua dari Hinata dan Naruto itu berlari pelan ke arah Yukina. Dari perkataannya, sudah jelas kalau dia adalah adik Yukina.

"Lilia! Pulang cepat, ya? Sana, kenalkan dulu dengan tamu kita!" perintaah Yukina. Dia menatap adiknya yang masih memakai seragam musim panasnya : baju berwarna putih, rok kotak-kotak berwarna biru dengan dasi yang serasi dengan roknya.

"Iya. Uhm... Watashi wa Lilia Asakaze. Yoroshiku!" kata Lilia sambil tersenyum. Senyumnya manis, mirip dengan senyuman Yukina.

"Yoroshiku, Lilia-san. Umurnya berapa?" tanya Kushina.

"17 tahun. Sekarang kelas 12 di Konoha High School, sudah selesai UN," jawab Lilia. Dia tersenyum lagi, kini menatap Naruto dan Hinata.

"Lilia-san itu adiknya Yukina-san, ya?" kali ini, Hikari yang bertanya pada Yukina. Wanita itu mengangguk.

"Iya. Kami bedanya 5 tahun, saya 22 tahun, dia 17 tahun. Dia masih memakai marga keluarga, 'Asakaze'. Tapi saya sudah menikah dengan suami saya, Shigure Kitami, sehingga saya mengikuti marga keluarganya," jelas Yukina.

"Ah, anda pasti yang kartinian itu. Ya, kan?" tanya Lilia sambil tersenyum.

"Iya, Lilia-san. Kami ditunjuk agar menjadi wakil kelas dalam lomba Kacung Nok," jawab Hinata, membalas senyuman Lilia tak kalah manisnya.

"Wah, lomba ya? Jangan yang itu, yang ini saja!" kata Lilia sambil menunjuk salah satu kebaya yang terpajang berpasangan.

"Ah, kau benar juga, Lilia. Ini sangat manis, seperti Hinata-san dan Naruto-san. Tidak salah aku menjadikanmu penasihat fashion di salonku ini. Ne, bagaimana, Kushina-san dan Hikari-san? Menurutku ini akan cocok," komentar Yukina sambil tersenyum meyakinkan.

Memang benar pilihan Lilia. Selera fashion-nya selalu tepat dalam saat-saat seperti ini. Yukina pun banyak terbantu karenanya. Kebaya itu berwarna biru dengan aksen gold. Untuk Hinata, kebaya itu berbentuk seperti dress, khas kebaya modern. Kain bawahannya berwarna gold, dan bagian tubuhnya berwarna aqua blue yang manis. Dengan banyak aksen payet dan manik-manik bercorak golden dan blue sapphire. Tangannya panjang, dengan bahan tile seperti kebaya kebanyakan. Namun itu tampak sangat cocok dengan rambut Hinata yang berwarna indigo. Sedangkan untuk Naruto, adalah beskap berwarna sama dengan kebaya Hinata, aqua blue. Payet dan manik-manik menghiasinya dengan gaya melengkung segaris sepanjang tubuh. Celananya pun senada. Lalu nanti akan ditambahkan kain berwarna kekuningan dengan corak batik Daun Api. Warna kuningnya cocok dengan rambut pirang Naruto. Mereka tampak sangat indah.

"Iya juga, ya. Bagaimana kalau kita coba itu dulu, Hikari?" tanya Kushina. Hikari hanya menyetujui.

"Baiklah, ganti lagi!"


Melalui proses sama, akhirnya Hinata dan Naruto bersandingan lagi. Hinata tampak bagaikan malaikat. Apalagi dengan rona merah tipis yang muncul di kedua pipi chubby Hinata, wajahnya yang sedikit tertunduk yang menyebabkan surai indigonya jatuh menutupi sedikit wajah Hinata, tangannya yang terkatup di depan dada, dan pose tubuhnya yang menyerupai kesan cewek-lemah-lembut-manis-pemalu-cantik-imut-oh-my-God-super-kawaii~ Ditambah lagi senyum manis yang tersungging di bibir mungilnya, dia mampu melelehkan hati semua orang di dunia. Naruto bahkan menampakkan sedikit rona merah melihat cahaya kecantikan Hinata. Rasanya ada perasaan aneh dalam hatinya. Dia juga tampak tampan. Gaya maskulin ia tampakkan, dengan kedua tangan dimasukkan ke kantong bajunya, dan rambutnya yang jabrik itu tampak agak berantakan. Dia sungguh keren. Hinata tak bisa mengalihkan perhatiannya dari lelaki ini. Mereka sangat cocok bersama.

"Wah, manisnya~ Pasangan yang cocok!" komentar Yukina, Lilia, Kushina dan Hikari ketika mereka selesai terpana melihat Naruto dan Hinata.

"KAMI BUKAN PASANGAN!" seru Naruto dan Hinata bersamaan. Mereka tampak sangat malu, wajah mereka sudah semerah kepiting rebus sekarang.

"Eh? Kalian bukan? Padahal kalian sudah sangat cocok!" seru Yukina dan Lilia kaget. Tentu saja, dengan chemistry seperti ini, mereka akan dikira pasangan oleh siapapun.

"Ka-kami bukan pasangan! Benar!" elak mereka lagi. Kushina dan Hikari hanya tersenyum-senyum melihat sifat malu-malu buah hati mereka.

"Ara ara... Mereka malu rupanya. Ya sudahlah, kita bayar yang ini saja ya, Kushina!" ajak Hikari. Kushina mengangguk mengiyakan.

"Baiklah, kita bayar saja, ya! Berapa, Yukina-san?" tanya Kushina. Yukina membawa mereka lagi ke meja kasir, melihat-lihat harga baju mereka.

"Karena itu baju pasangan pengantin, ada harga khusus. Tapi kalau dengan make-up, bisa dimasukkan exclusive package. Nanti ada diskon dua puluh persen," jelas Yukina, yang membuat Naruto dan Hinata membatu mendengar kata—yah, sebenarnya dua kata—'pasangan pengantin' yang diucapkannya.

"Berapa harga exclusive package-nya?" kali ini Hikari yang bertanya.

"Untuk yang perempuan, lima ratus ribu rupiah. Untuk yang laki-laki, tiga ratus ribu rupiah. Keduanya memiliki DP tiga puluh persen dari harga total," jawab Yukina.

"Bagaimana, Kushina? Kau keberatan? Menurutku, aku tidak apa-apa dengan harga itu," kata Hikari.

"Tidak masalah, demi anak kita," jawab Kushina menyetujui.

"Baiklah kalau begitu," sahut Yukina.

Setelah pembayaran terselesaikan, dan Naruto serta Hinata melepas baju daerah tadi, mereka pulang. Mempersiapkan fisik dan mental untuk lomba itu, tiga hari lagi. Tapi, mereka tidak tahu, kejadian apa yang akan terjadi esok yang akan membuat hati mereka berubah.

.

...ooO owari ja nai, alias To Be Continued Ooo...

.

Ne, minna...

Gimana nih, ceritanya? Makin seru, bagus, ato malah gaje? Gomen ne, Shana bikin dalam keterburu-buruan dalam hidup(?) Memang hidup itu sulit dan menyebalkan. Haah... Ecape duech! #apa sih?

Engg... Lupakan yang di atas. Itu tulisan author yang gak jelas dan gak dipikirin pas nulis. Anyway, Shana baru bisa update sekarang karena lombanya baru selesai kemarin. Dan Alhamdulillah, Shana dapet juara Harapan 1. Yah, itu juga gak nyangka sih, abis kayaknya gak bagus-bagus amat. Thanks to my baka partner, I*** yang udah berusaha walaupun gak niat buat ikut lombanya. Yah, thanks juga dan ucapan mohon maaf yang sebesar-besarnya buat temenku di Tasik yang juga pacarnya si I***, namanya S*****, gomen ne! Aku gak maksud buat megang-megang pacar kamu! Itu tuntutan lomba, hontou ni gomenasai! Thanks to my mom, arigatou atas dukungan dan uangnya, hehehe... Thanks to all my beloved friends yang udah ngedukung aku, dan bagi yang udah masang foto aku dan si I*** di BBM, wait for my revenge! Untuk wali kelasku, Bu R***, makasih ya bu dukungannya, walaupun aku ikutan repot gara-gara aku dipilih ikut lomba. Thanks to om A**** R******** pemilik salon tempat aku minjem kebaya, bagus banget loh! Dan buat para readers yang udah mendukung fic ini, hingga Shana bisa lebih semangat ngetik. Arigatou gozaimashita!

*lirik ke atas* Waduh, Shana udah kebanyakan bacot ya? Gomen kalau readers pada tepar(?) bacanya. Ya sudah, lebih baik kita langsung bales review aja ya!

- rexyrajak : Yup, emang ada dong! Kan Konoha cinta Indonesia! *gaje* Shana kelas 7. Yak, ok deh, tapi gak tau ini banyak romance gak ya... Hehe, selamat ya atas kemenangannya! *telat woy!* Ya, hidup NHL!

- Yamanaka Chika -males login : Chika, Chika... Kamu ini! Gak pernah ngertiin aku! Apa susahnya ngomong? SMS gak pernah, nelpon gak pernah! *plak* Uhm, maksudku, apa susahnya login? Duh, back to topic aja ya! Thanks udah bilang ini nice. Ok, ini update~

- ramdhan-kun : Thanks atas pujiannya. Semoga ini gak lama update, ya!

- NaruHina LavenderOrange : Makasihmakasihmakasihhhhhhh... Oke, ini lanjut...

- Rhyme A. Black : Yup, thanks atas cie(?)-nya. Nah, apa ini udah menjelaskan rasa penasaran Rhyme-san? Ok, kalo belum, stay tune di next chappie-nya aja ya. Regards for you too~

- onanaaad : Umm... Gomen ne, Shana gak terlalu ngerti... #plak!

Err... Udah panjang juga, jadi kita akhiri aja, ya! Then, last but not least...

REVIEW PLEASE!