huloooo... akhirnya bisa update lagi di sini...
sebelumnya, mumpung masih dalam suasana lebaran, author mengucapkan, Minal Aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir batin *big smile*
aku juga mau terima kasih ke: Lillyan flo, .980, Nisa Malfoy, galuhtikatiwi, callagloxinia, , Harry19, Harryshippr, selvinakusuma1, ScarheadFerret, Guest, sama Immortal Girl yang udah menyempatkan diri buat mereview Chapter 1. Merci *winkwink* yang lainnya ditunggu yaaaa :3
mohon maaf juga soalnya update chapternya sedikit lama. well, kemaren lagi galau banget cari sekolah dan setelah dapet sekolah, ribet ngurus registrasinya. makanya jarang update #kemudiancurcol
hahah. yaudin daripada kebanyakan A/N gak penting gini, monggo dibaca aja yaaa. mohon maaf kalo misal ada kesalahan pengetikan nama atau diksi yang rada kurang nyambung, harap maklum soalnya ini ditulis jam 1 pagi dan selesai jam setengah 3 pagi. hehehehe. kalo ada kritik, saran, masukan, semuanya, silahkan tulis di review yaaaa. terus juga mau minta maaf lagi soalnya update yang selanjutnya kayanya bakal jauh lebih lama soalnya udah bakal disibukin sama aktivitas ospek dan segala macemnya. terus juga bakal ada minim internet access gitu *akusedih*
udahdeh, daripada kebanyakan minta maaf, langsung ajadeh, monggoh dibaca! ENJOOOOOY *winkwink*
OHYA LUPA! Disclaimer nya Mamih J.K. Rowling yawww #plak #gebukinauthornya
Chapter 2
Hermione membuka matanya saat sinar matahari pagi menembus jendela kamar asramanya. Dia membuka matanya dan langsung menyipitkannya karena merasa sangat silau. Setelah dia menyesuaikan matanya dengan sinar matahari yang masuk, dia langsung melihat ke sekeliling kamarnya. Dia bisa melihat Lavender sudah mulai bersolek seperti biasanya dan Parvati yang sedang menyiapkan buku-bukunya untuk pelajaran hari ini.
"Selamat pagi, Hermione," sapa Lavender melalui kacanya. Hermione melihat Lavender yang sudah terlihat cantik padahal dirinya saja baru bangun tidur dan terlihat sangat kacau. Hermione hanya tersenyum kecil saat Lavender menyapanya.
"Kau sudah merasa baikan, Hermione? Aku akan meminta izin Professor McGonagall kalau kau tidak enak badan," kata Parvati dengan wajah khawatir. Gadis berkulit gelap tersebut mendekati Hermione yang masih terbaring di tempat tidurnya.
"Tidak perlu, Parvati. Aku hanya perlu mandi air hangat dan aku akan baik-baik saja seperti semula, kok," kata Hermione yang mulai beranjak dari tempat tidurnya. Dia melihat ke jam dinding yang ada di salah satu sisi kamar dan jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah tujuh. Padahal biasanya dia sudah standby di Ruang Rekreasi Gryffindor kurang dari pukul setengah tujuh untuk menunggu Ron dan Harry yang sangat malas.
Setelah meyakinkan Parvati – dan Lavender – Hermione langsung mengambil peralatan mandinya serta baju gantinya dan menuju kamar mandi yang berada di ujung kamar asramanya. Dia bisa merasakan baik Parvati maupun Lavender memperhatikannya selama dia berjalan menuju kamar mandi dengan tatapan khawatir. Tetapi, Hermione berusaha untuk tidak menghiraukannya dan masuk ke dalam kamar mandi dengan tenang.
Di dalam kamar mandi, Hermione hanya terduduk lesu di closet kamar mandi tersebut. Dia menatap kedua kakinya yang terlihat pucat karena hawa di dalam kamar mandi masih cukup dingin. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menarik napas dalam-dalam. Setelah gadis berambut keriting tersebut sedikit tenang, dia mulai melepaskan tangannya dari wajahnya dan menghembuskan napasnya dengan berat.
Memori tentang kejadian tadi malam berputar kembali di dalam otaknya saat dia menutup kedua matanya. Dia bisa merasakan bulir-bulir air mata di ujung kelopak matanya sudah siap untuk membasahi kedua pipinya. Mengingat kejadian itu membuat dada Hermione sangat sesak dan seketika dia lupa bagaimana caranya untuk berbicara dan bernapas. Pikirannya terlalu kalut sehingga dia sedikit lupa bahwa dia berada di dalam kamar mandi untuk segera mandi dan menuju Aula Besar untuk sarapan.
Akhirnya Hermione pun membiarkan kedua pipinya dibasahi oleh air matanya yang mengalir dari matanya yang tertutup. Semakin lama dia menutup kedua matanya, semakin jelas bayangan kejadian tadi malam di pelupuk matanya. Isak tangisnya semakin jelas saat pikirannya menampilkan wajah Draco yang terlihat kaget saat pertama Hermione menangkap basah dirinya yang sedang bercumbu dengan Astoria di balik pohon natal. Bahkan dia bisa melihat wajah Astoria yang menyeringai karena berhasil dicium oleh Draco tepat di hadapan wajah Hermione.
Sungguh Hermione membenci gadis tersebut.
Dia juga membenci Draco.
Setelah menghela napas dengan sangat berat, akhirnya, Hermione mulai berdiri dari closet dan menyalakan kran air hangat untuk dirinya. Dia juga tidak mau lama-lama merana di dalam kamar mandi. Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan teman-temannya, terutama di hadapan Ron dan Harry. Apalagi terlihat lemah di hadapan Draco dan teman-teman Slytherin-nya. Hal tersebut bukanlah salah satu prioritas Hermione. Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan siapapun.
Pikiran Nona Tahu Segala tersebut mulai jernih saat dia mencuci mukanya dengan air hangat yang keluar dari kran. Dia mulai bisa berpikir positif lagi dan bayangan-bayangan buruk tentang Draco sudah mulai sirna. Hermione bahkan merasa jauh lebih baik saat air hangat tersebut membasuh tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Dia merasa bahwa air hangat tersebut membasuh seluruh pikiran buruknya dan membuangnya ke dalam saluran air.
Hampir 15 menit Hermione mandi, dia pun akhirnya mengeringkan tubuhnya dan memakai seragamnya langsung di dalam kamar mandi. Setelah berkaca sebentar dan membasuh mukanya lagi, Hermione pun memutuskan untuk keluar dari kamar mandi. Saat dia muncul, dia bisa melihat Lavender dan Parvati memasang wajah yang sangat khawatir. Hermione hanya memasang wajah bingung saat melihat ekspresi khawatir dari Lavender dan Parvati.
"Kau yakin kau baik-baik saja, Mione?" tanya Lavender yang kini benar-benar terdengar khawatir. Hermione mengangguk dan tersenyum lembut. Walaupun dulu dia sempat bertengkar dengan Lavender hanya gara-gara Ron, tetapi, setelah Perang Hogwarts, dia jauh lebih dekat dengan Lavender. Entah apa yang membuatnya dekat dengan gadis ini, tetapi, baik Hermione maupun Lavender tidak segan-segan untuk saling bertukar cerita satu sama lain.
"Iya, Hermione. Kau terlihat sangat… kacau." Parvati menambahkan dengan wajah yang tak kalah khawatir dari Lavender. Hermione tersenyum sekali lagi dan memeluk kedua sahabat perempuannya.
"Aku baik-baik saja. Tenang saja," bisik Hermione dengan suara yang bergetar dan dia menahan dirinya untuk tidak menangis di pelukan kedua sahabatnya. Lavender dan Parvati langsung memeluknya dengan erat dan Hermione nyaris – sangat nyaris – mengeluarkan air matanya. Tetapi, dia ingat tentang bersikap tegar di hadapan teman-temannya. Dia melepaskan pelukannya dan tersenyum lagi. Gadis jenius tersebut langsung berjalan menuju tumpukan bukunya dan mempersiapkan buku-buku yang dia butuhkan.
"Tadi Harry sempat datang kemari dan bertanya apa kau baik-baik saja. Kami menjawab kalau kau baik-baik saja dan dia mengatakan bahwa dia sudah menunggumu di Ruang Rekreasi bersama dengan Ron dan Ginny," kata Lavender. Hermione yang sedang memasukkan buku Transfigurasinya berhenti sejenak dan mengangguk. Dia mengucapkan terima kasih kepada Lavender lalu menyibukkan dirinya lagi dengan tumpukan bukunya.
"Kalian boleh bergabung dengan kami kalau kalian mau," kata Hermione saat dia bersusah payah mengambil buku Ramuan yang cukup tebal dari rak bukunya.
"Aku sudah ada janji dengan Padma. Lavender juga akan duduk di meja Ravenclaw bersama Michael," jawab Parvati sedikit tidak enak karena menolak tawaran Hermione. Gadis jenius tersebut dengan tidak sengaja memasang wajah kecewa tetapi langsung berubah dengan senyumannya yang manis.
"Baiklah, tidak apa-apa. Toh kita akan bertemu di beberapa kelas hari ini," jawab Hermione setelah siap dengan buku-bukunya dan peralatan sekolahnya yang lain.
Selama sarapan di Aula Besar, Hermione bisa merasakan setiap gerak-gerik yang dia lakukan seperti diamati oleh seseorang dari jauh. Tentu saja Hermione tidak hanya merasakannya karena rasa percaya dirinya yang tinggi, tetapi karena dia memang benar-benar merasakan bahwa dirinya diamati dan orang yang mengamati itu sempat tertangkap basah beberapa kali.
Karena tahu ada yang mengamati, Hermione hanya menundukkan kepalanya dan mengaduk-aduk kentang tumbuknya dengan tidak bergairah. Berbeda dengan Ron yang sudah menyantap sarapannya seperti kuli bangunan. Sedangkan Harry menyantap sarapannya dengan sopan, tidak seperti Ron yang terlihat sangat rakus.
"Kau akan sakit jika kau tidak memakannya, Mione." Harry memperingatkan Hermione dengan lembut. Laki-laki berkacamata itu bahkan sampai membisikkan hal tersebut ke telinga Hermione, tetapi Ron masih bisa mendengarnya dan menatap Hermione sambil mengangguk. Setuju dengan ucapan Harry.
Entah mengapa, saat dia merasakan bibir Harry sangat dekat dengan telinganya, jantung Hermione serasa berpacu sangat cepat karena organ vitalnya tersebut berdegup sangat cepat. Dia juga bahkan merasakan kedua pipinya memerah saat mendengar suara Harry yang terdengar sangat lembut di telinganya. Karena tingkah laku Harry, Hermione malah menundukkan kepalanya jauh lebih dalam demi menyembunyikan rona merah yang mulai mewarnai kedua pipinya. Baik Ron maupun Harry tidak terlalu mengamatinya karena sudah sibuk dengan makanan mereka masing-masing lagi. Tetapi, sepasang mata abu-abu yang duduk di seberang Hermione, jauh dari meja Gryffindor tentu saja, mengamatinya. Sepasang mata abu-abu itu terlihat sedikit kecewa.
Setelah jantungnya sudah mulai sedikit stabil dan rona merah di kedua pipinya sudah dirasa hilang, Hermione mulai mengangkat wajahnya lagi dan mulai menyantap sarapannya. Dia bahkan sedikit tersenyum saat Harry memberinya pujian karena sudah mau mulai menyantap sarapannya. Bahkan dia menyantap kentang tumbuknya sampai habis. Entah karena Harry atau dia benar-benar lapar, yang penting dia sarapan.
Saat piringnya sudah kosong, Hermione mulai mengobrol dengan Harry dan Ron seperti biasa. Dia bahkan sudah merasa dirinya jauh lebih baik daripada 10 menit yang lalu. Entah karena the magic of mashed potato atau karena kehadiran Harry dan Ron, tetapi, dia bersyukur karena dia sudah tidak galau dan gundah gulana lagi.
"Kau tahu tidak daritadi sebenarnya ada yang memperhatikanmu dari jauh," bisik Harry lagi di telinga Hermione. Sensasi yang aneh tadi pun kembali menjalar ke seluruh tubuh Hermione. Bahkan kali ini, volume suara Harry jauh lebih rendah sampai-sampai Ron tidak mendengarnya. Laki-laki berambut merah tersebut sudah disibukkan oleh Daily Prophet yang tadi sedang dibaca Ginny, sehingga dia tidak terlalu memperdulikan Harry dan Hermione yang duduk di hadapannya.
"Aku berusaha untuk tidak memperdulikannya, Harry. Jangan ingatkan aku!" kata Hermione dengan nada sedikit tegas. Harry hanya terkekeh di telinga Hermione dan hal tersebut malah membuat jantung Hermione berdegup sekencang double pedal pada bass drum yang biasa dia lihat di dunia Muggle.
"Baiklah… Maaf," kata Harry sambil menatap Hermione dengan tatapan tanpa dosa. Melihat ekspresi Harry, Hermione malah tertawa terbahak-bahak karena dia paling tidak tahan dengan wajah Harry yang sok dibuat innocent. Dia memukul lengan atas Harry dan berkata, "Stop it!" sambil terus tertawa. Hal tersebut merebut perhatian Ron dan menyuruh kedua sahabatnya diam karena laki-laki berambut merah tersebut sedang sibuk membaca sebuah artikel menarik. Tetapi, Harry dan Hermione hanya menjulurkan lidah mereka seperti anak kecil dan membuat Ron mendelik. Harry dan Hermione tertawa melihat Ron yang terlihat terganggu karena tingkah mereka berdua.
Well, Hermione tidak sadar lagi saat dia tertawa lepas dengan Harry bahwa ada sepasang mata abu-abu yang terlihat sangat terluka. Tentu saja pemilik manik abu-abu tersebut sangat senang melihat gadis impiannya tersenyum dan tertawa bahagia. Tetapi, dia tidak suka melihat tingkah laku Hermione di sekitar Harry maupun Ron. Walaupun sang pemilik mata abu-abu itu sangat paham betul bahwa Hermione hanya bersahabat dengan Harry dan Ron, tetapi, melihat kondisi Hermione yang mungkin sedang rentan dan gadis tersebut pernah berpacaran dengan Ron, dia masih meragukan apakah Hermione akan loyal dengan status mereka sebagai sahabat. Bukan lebih.
Setelah jam sarapan usai dan bel tanda masuk kelas sudah mulai berdering, Hermione langsung sangat terburu-buru menuju kelas Transfigurasi bersama Harry dan Ron. Well, karena Harry dan Ron adalah atlet Quidditch, stamina mereka jauh lebih banyak dari Hermione. Hal tersebut juga membuat mereka cepat sampai ke kelas Transfigurasi dari Hermione. Tidak biasanya Hermione terlambat seperti ini. Padahal biasanya dia yang paling awal duduk di deretan depan kelas Transfigurasi yang masih diampu oleh Professor McGonagall.
Hampir saja Hermione meraih pintu kelas Transfigurasi, tetapi, dia malah menabrak seorang laki-laki bertubuh jangkung, berkulit pucat, bermata abu-abu, dan berambut pirang platinum. Laki-laki tersebut juga sama seperti Hermione. Terlambat. Laki-laki berambut pirang tersebut hanya membentur pintu kelas sedangkan Hermione jatuh tersungkur.
"Shit! Hermione! Kau baik-baik saja?" tanya laki-laki tersebut dengan nada yang sangat khawatir. Dia juga mengulurkan tangannya untuk membantu Hermione untuk berdiri. Hermione mengangkat wajahnya, sudah siap untuk meminta maaf kepada laki-laki tersebut karena tidak sengaja menabraknya. Tetapi, betapa hancurnya hati Hermione saat melihat kedua bola mata abu-abu tersebut. Dia bahkan tidak memperdulikan ekspresi khawatir yang tergambar jelas di wajah pucat tersebut. Jika dia melakukannya, dia akan merasakan hatinya jauh lebih hancur lagi.
Hermione akhirnya berdiri dengan susah payah karena bagian bawah tubuhnya sedikit nyeri karena terbentur dengan lantai batu. Tetapi dia tidak menghiraukan rasa nyerinya. Dia juga menolak bantuan laki-laki tersebut yang sudah menunggu tangan Hermione menggenggam uluran tangannya. Hermione berusaha keras untuk tidak meneteskan air matanya. Dia memasang wajah geram dan berusaha terlihat tegar sampai akhirnya dia mendesis.
"Leave me alone, Draco Malfoy,"
To Be Continued
