First love

Presented by Naurovhy

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : T

Warning : AU, OOC, OC, Typo, Ide pasaran, alur berantakan, dll.

If you don't like? So don't read! Happy reading all

please RnR.

Gambar itu sudah berubah menjadi poster, Namikaze muda itu merubahnya menjadi seukuran spanduk dan terpapang jelas di kamarnya, hartanya yang lebih berharga dari game video yang ia minta selama dua bulan kepada ayahnya dan kini sudah berpindah tangan kepemilikannya kepada sang tuan muda Uchiha.

Tak pernah bosan Naruto terus memandangi foto tersebut, tersenyum mengingat gadis indigo pujaan hatinya, ah andai saja ia mengingat peristiwa istimewa itu ...

Pagi ini matahari bersinar sangat terang, tersenyum pada semua orang membuat para gadis bersemu dan para pemuda menjadi kikuk.

"Ohayou minna" sapanya di depan kelas "ehh, Kiba mana teme dan Shika?" Tanyanya saat tak menemukan dua sahabatnya

"Rapat" jawab Kiba

"Oh..." ya si pemuda raven adalah wakil ketua dan si rusa itu adalah ketua senat

"Memangnya akan ada acara apa?" Tanta Naruto mencomot sarapan Kiba

"Kemping dua minggu lagi" jawab Kiba singkat

"Kau kenapa?" Menyadari nada bosan pada suara sahabatnya

"Tidak ada"

"Kau bisa bercerita padaku, aku pasti bisa menyelesaikannya, kecuali masalah wanita mungkin hehehe"

"Karna itulah tak ada gunanya bercerita padamu" jawab Kiba

"Woooo ... jadi benar masalah wanita? Siapa? Kau tidak pernah cerita"

"Aku tidak heboh sepertimu Naruto"

"Aarrghh ... cepat katakan siapa?"

"Tidak penting, lagi pula semuanya sudah tidak berguna"

Naruto menatapnya serius "katakanlah, aku pasti membantumu kawan" tangan Naruto menepuk bahu kekar Kiba

"Dia menyukai pria lain"

Hening ... tak ada dari mereka yang berbicara

"Kau sudah mengatakannya?"

"Ya, dan dia bilang maaf, karna dia telah menyukai orang lain"

Suatu kenyataan yang aneh, mereka berempat adalah pria paling tampan di universitas ini, mereka paling populer dan juga kaya raya, namun entah mengapa? Kisah percintaan yang dialami para pemuda idola ini sangatlah buruk, Naruto yang selalu di tolak oleh Hinata, Sasuke yang di tinggalkan oleh Sakura, dan kini Kiba yang mencintai gadis yang hatinya telah tertambat pada pemuda lain.

"Lalu apa yang akan kau lakukan?"

"Memangnya apa yang harus aku lakukan?"

"Well, ya pertama kau bisa memberitahuku siapa gadis itu?"

Kiba menatapnya lama, "bangku nomer dua pojok kiri" ucapnya, Naruto mengikuti petunjuk itu dan menemukan seorang gadis bersurai coklat, bercepol dua dia kan ..

"Ten ten?" Ucap Naruto sangsi

Kiba hanya mengangguk mengiyakan, tak habis pikir apa yang Kiba lihat dari gadis pertukaran pelajar itu, dia biasa-biasa saja tak ada yang istimewa, lalu apa yang membuat sahabatnya sampai seperti ini?

Menatap sendu sahabatnya, namun tak mampu berbuat apapun tidak dengan kehidupan cintanya yang sama memprihatinkan, yang bisa Naruto berikan sekarang adalah semangat

"Kau tau siapa pemuda yang di sukainya?"

"Hyuuga Neji" jawab Kiba

"Neji, maksudmu Neji ketua klub Jodo?"

"Memangnya ada Neji yang lain?" Jawab Kiba sinis

"Woo.. tenang-tenang, aku kan hanya bertanya"

Kiba hanya menatap sahabatnya malas, lalu matanya beralih pada si gadis bercepol .. nyuuutt hatinya kembali merasakan sakit, gadis itu menolaknya, menolak Inuzuka Kiba.

.

"Aku tak akan ikut" kata Hinata

"Eh, kenapa ?"

"Aku tidak terlalu suka alam bebas" bohong, suatu kebohongan yang sekali lagi Hinata ungkapkan pada Sahabatnya Tenten. Karna melebihi apapun ia sangat menyukai alam bebas

"Tapi kan ini acara terakhir kita sebelum kita libur panjang Hinata ?"

"Tak ada bedanya untukku" kata Hinata tersenyum pada sahabatnya "lalu kau akan ikut?"

"Emm ... apakah kakak mu akan ikut Hinata?" Tanya Tenten malu-malu

Hinata tersenyum pada sahabatnya, bagaimanapun Tenten menyembunyikannya ia dapat melihat bahwa sahabatnya itu menaruh hati pada kakak sepupunya, mencintainyanya. Namun gadis cantik ini tak pernah mau mengaku membuat Hinata ingin tertawa mengingatnya

"Neji-nii? Entahlah aku tak tau Tenten, mungkin tidak" Hinata memancing

"Souka" raut gadis itu berubah murung

Tak lama beraselang Kurenai sensei memasuki ruangan memulai pelajaran hari itu.

-naurovhy-

"Kau yakin teme?" Tanya Naruto

"hn"

"Tapi bukankah ini wajib?" Naruto masih berusaha

"Kau bisa komplain pada ketua senat, lalu ajukan pada anak pemilik sekolah itu" katanya masih acuh

"Eh .. Shika -Naruto menggoyangkan badan Shikamaru- ayo bangun dulu"

"..." tidak ada respon, membuat tunggal Namikaze ini naik pitam, ia menarik-narik kuncir Shikamaru, membuat Sasuke mendelikan onixnya, dan Kiba berudaha keras menahan tawa

"Arrgghh .. kau itu mengganggu sekali Naruto" kata Shikamaru setelah bangun

"Hehehe -Naruto tersenyum tak bersalah- Shika bukankah acara itu wajib?"

"Apa?"

"Acara kemping itu"

Shikamaru memicingkan matanya, "itu sukarela" lalu bersiap melanjutkan tidurnya

"Eh, kenapa tidak di wajibkan saja?" Naruto kembali mengganggu Shika, kini ia menarik kerah belakang kemejanya

"Terserah, jadikan itu wajib dan berhenti mengganguku" lalu ia beranjak, mencari jarak aman dari gangguan si siluman rubah

Lalu Naruto beralih menatap Sasuke, sadar akan menjadi objek gangguan Naruto selanjutnya Sasuke langsung berkata ..

"Itu hal mudah, kau hanya perlu persetujuan anak kepala sekolah" kata Sasuke menatap Kiba yang kini duduk di depan jendela kelas mereka

"Kiba" sapa Naruto

"Hn"

"Bisakah kau minta tolong pada Tousanmu untuk menjadikan acara kemping minggu depan menjadi acara yang wajib diikuti?"

"Kenapa?" Pandangannya tetap terfokus pada objek di pinggir lapangan

"Hinata tak akan ikut jika acara itu hanya sukarela"

"..." tak mendapat respon dari sahabatnya, Naruto mencari apa yang menyita perhatian bungsu Inuzuka itu, dan walla ... adalah sosok sang gadis pujaan yang tengah duduk di pinggir lapangan

"Apa yang dilaukannya?" Tanya Naruto

"Entahlah, mungkin menunggu Neji" jawab Kiba acuh

Memutar otaknya lalu Naruto berkata "Kiba, coba kau fikir, jika Hinata tak ikut maka bisa dipastikan Tenten juga tak akan ikut, tapi jika acara ini di wajibkan sudah pasti mereka berdua akan ikut kan?" Pancing Naruto

"Dan Neji juga pasti ikut kan?"

"Ya, tapi dia itu tidak satu fakultas dengan kita, mereka pasti punya acara sendiri"

"..." diam Kiba mempertimbangkan saran Naruto lalu seolah mendapatkan 1 karung emas ia menoleh dan tersenyum senang, "aku tak pernah menyangka kau jenius Kitsune"

"Sial, jangan memanggilku seperti itu inu"

"Haha, baiklah nanti aku kan bicara pada Tousan ku"

.

Keesokan harinya ...

"Hinata, kau sudah lihat papan pengumuman? Acara kemping minggu depan diwajibkan" jelas Tenten antusias

"Apa? Bukankah itu sukarela?"

"Entahlah, sepertinya surat edaran baru"

"Ini pasti perbuatan dia"

"Siapa?"

"Namikaze itu"

Tenten tertawa mendengarnya, "kenapa kau bisa berfikiran seperti itu?"

"Karna dia mengancamku, memastikan bahwa aku pasti akan ikut acara itu"

"Hehe, kenapa kau tidak menerimanya saja Hinata, kurasa dia serius denganmu?"

Hinata menatap sahàbanya

"Dia mengejarmu sejak SMA, dan kurasa dia cukup baik"

"Aku tidak mencintainya?"

"Kenapa? Apakah kau memiliki seseorang yang kau cintai?"

"Tidak, cinta itu hanya untuk orang-orang lemah, orang-orang bodoh" mendengar jawaban itu Tenten menatapnya intens

"Kenapa?" Tanya Hinata, risih dengan tatapan sahabatnya

"Aku selalu merasa kau tidaklah seperti ini dulu? Apa yang membuatmu berubah? Aku ini sahabatmu Hinata, kau bisa menceritakan apapun padaku"

"...mungkin suatu saat aku akan menceritakannya, tapi tidak sekarang"

"Baiklah, tapi kau harus berjanji"

"Baik, dan kau juga harus menceritakan rahasia mu padaku"

"Rahasia apa?"

"Ohh, jangan coba membohongiku, kau dan tuan muda Inuzuka itu dan juga..." Hinata menggantungkan kalimatnya

"Dan juga ...?"

"Neji niisan" mendengar nama itu di kumandangan oleh Hinata membuat wajah Tenten merah padam

"Lihat wajahmu merona" goda Hinata

"Ti-tidak" jawabnya terbata

Hinata terus menggoda sahabatnya itu, mengabaikan rasa sakit yang menguap ke permukaan karna pertanyaan Tenten.

.

"Nona Hyuuga" suara itu, berat, dalam, suara yang sangat familier. Hinata menghentikan langkahnya namun tidak berbalik

"Apa kau sudah melihat papan pengumuman?"

"Berhentilah menjadi kekanakan Namikaze"

"Aku?" Tanya Naruto Sangsi

Hinata berbalik, menatapnya lama ..

"Jika kau melihatku seperti itu, kau akan jatuh cinta padaku Hinata" seringai Naruto

"Bukankah aku sudah pernah mengatakan hal itu dengan sangat jelas?"

"Segala hal itu bisa berubah"

"Di neraka pun aku tidak sudi"

"Kalau begitu akan ku pastikan jika kau berada di surga saat kau mengakui cintamu padaku" tersengal dengan jawaban Naruto, Hinata akhirnya berkata ..

"Baiklah Namikaze-san, lakukanlah apapun yang kau inginkan, tapi jangan pernah melibatkan aku didalamnya" ucap Hinata sopan

"Shhh, itu akan sulit karna melebihi apapun kau lah yang paling kuinginkan"

"Ada begitu banyak wanita cantik disini, kenapa kau harus menggangguku?"

"Aku tidak mengganggumu"

"Aku merasa ya! Dan sangat"

"Apakah dengan mencintaimu aku menganggumu?" Kini ekspresi Naruto berubah serius, tak habis fikir kenapa Hinata tak pernah melihat sedikutpun sisi baik dalam dirinya.

"..."

"Apakah kau tak pernah melihat sedikitpun ketulusanku Hinata? Apakah di matamu ini aku seorang pengganggu?" Sapphire Naruto menatap lurus pada lavender Hinata

'Tidak, kau bukan penggangu hanya saja kau akan menghancurkan pertahananku jika kau tetap bersikap seperti ini padaku' Hinata ingin berkata seperti itu, namun yang terucap adalah "jika kau tidak ingin aku melihatmu seperti itu, maka berhentilah menggangguku"

Hatinya terisris mendengar pengakuan Hinata

"5 tahun aku mengejarmu, tak kusangka kau menganggapku serendah itu -sapphirenya memburam- seperti orang bodoh saja aku ini" Naruto tersenyum pahit

Hinata hanya menatap segala ekspresi yang tersirat dalam paras tampan itu, menyesal dengan apa yang di ucapkannya.

Naruto terdiam, menatap Hinata dalam menjelajah warna mutiara pada irish gadis itu, lalu ia tersenyum puas, melangkah maju dan mengecup pipi sang sulung Hyuuga membuat gadis itu memekik kaget.

"Apa yang ka ..." belum sempat menyelesaikan ucapannya, perkataannya dipotong oleh Naruto

"Aku mencintaimu" ucapnya santai

"Aku sudah bilang bahwa ..."

"Sangat mencintaimu -kembali Naruto memotong perkataan Hinata- tapi mulai sekarang aku akan membuang rasa itu, ini terakhir kalinya aku mengucapkannya padamu, ingat-ingatlah Hyuuga-dono" lalu Naruto membungkuk hormat, meninggalkan Hinata yang terpaku

.

"Naruto kau harus membantuku membuat tendanya" teriak Kiba

"Baiklah-baiklah" Naruto bangkit dari duduknya

"Kiba kau itu mengganggu saja" teriak Ino yang ditinggalkan Naruto

Kiba hanya menjulurkan lidahnya menanggapi teriakan itu, membuat Ino menyerukan sumpah serapahnya

Saat mereka tengah membuat tenda sebuah suara mengintrupsi kegiatan para pemuda itu

"Ano .. em, Inuzuka-san bisa aku pinjam pisau ini? Kelompok kami lupa membawanya" Tenten bertanya padanya, membuat bungsu Inuzuka itu salah tingkah

"Eh, ya .. em pakailah" katanya

"Arigato, aku akan segera mengembalikannya"

"Ya"

Hari ini adalah hari pertama diadakan kemping tersebut, dan mereka akan menetap selama seminggu, tentu saja di bawah pengawasan ketat sang guru.

"Naruto-kun bisa bantu aku, aku kesulitan membangun tenda" kata Ino manja pada Naruto

"Hey Ino, kau tidak lihat Naruto itu sedang membangun tenda kami juga" kata Kiba

"Tapi kan kalian berempat dan semuanya laki-laki, sedangkan kami semuanya wanita"

"Berempat? Kau tidak lihat dua manusia itu tak membantu sama sekali?" Kiba menunjuk pada Shikamaru yang tengah tertidur dan Sasuke yang asik membaca buku

"Kalau begitu kau panggil saja mereka"

"Kau panggil saja mereka -tiru Kiba sambil mencibir- kenapa tidak kau saja yang memanggil mereka?"

Jengah dengan pertengkaran dua orang itu Naruto buka suara ...

"Sudahlah, nanti aku akan membantu begitu ini selesai" kata Naruto pada Ino

"Baiklah, arigato nee Naruto-kun"

"Ya"

"Kau berpacaran dengan model itu?" Selidik Kiba

"Tidak"

"Tapi kau perhatian sekali padanya, biasanya kau selalu mengacuhkannya?"

"Aku sudah bilang tidak Kiba"

Tidak menjawb Kiba melayangkan pandangan curiga pada Naruto, merasa di perhatikan Naruto meninggalkan pekerjaannya dan beranjak mendekati Kiba ..

"Kau tidak perlu cemburu sayang, hatiku hanya milikmu" kata Naruto menggenggam tangan Kiba

"Menjauh dariku Naruto" Kiba bergidik ngeri

"Kenapa? Kau mencampakanku hanya karna aku baik pada wanita itu?"

"Kau gila dasar rubah pirang" Kiba menghantam kepala Naruto dengan tongkat yang dibawanya

"Ittai, dasar anjing sial, kau tidak bisa di ajak bercanda?" Naruto menggusap kepalanya yang berdenyut

"Rasakan! Hahahhaa" Kiba tertawa lepas dan berlari menghindari Naruto yang hendak memukulnya, terus tertawa tanpa melihat jalan hingga akhirnya terjatuh karna kakinya tersandung sebuah ransel

"Awwww" pekiknya,

"Hahahahahhaaa, dasar bodoh" melihatnya Naruto tertawa memegangi perutnya

"Apa yang mereka berdua itu lakukan?" Tanya Sasuke

"Entah, yang jelas mereka itu sangat berisik" kata Shikamaru

Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore, Naruto dan kelompok yang lain sudah selesai membangun tendanya kini para pemuda itu berdebat siapa yang akan mencari kayu bakar untuk mereka memasak nanti

"Teme kau yang harus pergi" tuding Naruto

"Benar kau dan Shika yang harus mencarinya di hutan" Kiba menambahkan

"Aku sibuk, aku dan Kakashi sensei akan mendiskusikan rencana acara kita selama disini" kata Sasuke mengenakan mantelnya "suruh saja rusa itu" kata Sasuke

"Baiklah, kau -Naruto menunjuk Kiba- dan Shika yang akan pergi"

"Eh, aku? Aku kan sudah membangun tenda seharian, lagi pula kakiku masih bengkak akibat jatuh tadi"

"Sudah ayo berangkat Naruto" ajak Shikamaru

"Lihat, Shika saja mengajakmu" seringai Sasuke

"Diam kau teme"

"Hati-hati ya anata" goda Kiba, mendengarnya Naruto melemparkan sarungtangannya tepat pada wajah Kiba

.

"Tumben kau mau repot-repot" tanya Naruto mendapati sahabatnya yang lebih mengutamakan tidur di banding makan ini mau bersusah ria mencari kayu bakar

"Aku hanya bosan"

"Bagaimana kau tidak bosan, kerjamu hanya tidur saja" ejek Naruto

Shika hanya mengangkat bahunya cuek

.

"Hinata kau yakin?"

"Iya, tenang saja kau bantu saja Karin disini, nanti aku yang akan mencari kayu bakar"

"Aku ikut" kata Ino

"Baiklah ayo kita berangkat"

Lalu dua gadis cantik itu menelusuri pinggir hutan untuk mencari kayu bakar, sesekali Ino mencuri pandang pada Hinata, 'apa yang dilihat Naruto-kun dari gadis ini?' Pikirnya. Aku jauh lebih cantik, lebih kaya dibandingkan gadis Hyuuga ini

"Ino-san kurasa ini sudah cukup" kata Hinata

"Eh, iya Hinata-chan pnggil saja aku Ino, tak perlu terlalu formal"

"Baiklah Ino-chan"

"Hinata, kakakmu tak ikut acara ini?"

"Nejii nii? Dia tidak ikut, ada turnamen antar provinsi"

"Ohhh"

"Ino ... boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tentu katakanlah"

"Kau berpacaran dengan Nmikaze-san?"

"Naruto-kun? Tidak, dia kan tidak menyukaiku"

"Eh"

"Kenapa? Ku tau gdis yang disukainya itu kamu Hinata"

Sang Hyuuga terdiam, sadar telah membawa topik yang salah dalam pembicaraannya kali ini

"Ehm, Hinata-chan tak usah merasa tak enak padaku, aku memang menyukainya tapi bukan berarti dia harus menyukaiku, aku ini orang yang sportif, aku tak akan membenci atau memusuhimu hanya karna kau rivalku dalam urusan cinta"

Hinata tersenyum lega, berayukur karna sang diva pirang ini gadis yang sangat baik.

"Aku rasa kau cocok dengan Namikaze-san, kalian kan sama-sma berambut kuning"

"Eh -aquamarine Ino membulat- ehehe iya ya, aku baru sadar" katanya membelai surai panjangnya

Tiba-tiba ..

"Aaahhhhhhh" Ino memekik kaki jenjangnya terperngkap pada sebuah lubang kecil entah apa, mungkin jebakan penduduk sekitr untuk memburu hewan liar

"Ino kau tak apa?" Hinata bertanya panik

"Adduuhhh, kakiku sakit sekali Hinata" Hinata membantunya keluar dari lubang kecil itu, dan benar saja kaki Ino berdarah dan lukanya cukup dalam, tanp pikir panjang Hinata membelitkan syalnya pada kaki Ino.

"Bagimana kau bisa berjalan?"

Ino hanya menggeleng pasrah seraya meringis kecil

"Baiklah kau tunggu saja disini jangan kemana-mana, aku akan mencari bantuan"

Ino menahan tangan Hinat saat gadis itu hendak pergi "kau tak akan meninggalkanku kan?" Tanyanya

"Tentu saja, aku akan segera kembali"

Hinata berlari dan berlari sambil menyerukan pertolongan, hingga ia menemukan seorang orang pemuda yang tengah mencari kayu bakar sepertinya, Hinata menghampiri pemuda itu

.

"Kau dengar itu Shika?"

"Apa?"

"Ada yang meminta tolong"

"Hanya perasaanmu saja Naruto"

"Tidak, aku jelas-jelas mendengarnya"

Shikamaru menajamkan pendengarannya, mencoba menangkap apa yang sahabatnya dengar, suara itu samar tapi Shikamaru juga mendengarnya.

Mereka terus berjaln kesumber suara dan menemukan seorang gadis pirang terduduk memegangi kakinya

"Ino kau tak apa?" Tanya Naruto

"Hiks hiks .. aku terjatuh Naruto-kun" Sapphire Naruto menelusuri kaki gadis itu mendapati sebuah syal melingkar di kakinya

"Kau bisa berjalan?" Tanya Shika

"Tidak" mendengar jawaban itu Shikamaru langsung membungkuk dan memindahkan Ino ke belakang punggungnya

"Ayo Naruto" ajaknya

"Tunggu aku harus tetap disini" kata Ino

"Untuk apa?"

"Hinata akan mencariku jika aku pergi"

"Hinata?" Ulang Naruto sangsi

"Ya, aku bersamanya tadi dan dia sedang mencari bantuan"

"Maksudmu ia masuk kedalam hutan?"

"Aku tak tau pasti, sepertinya iya"

Mendengarnya Naruto mengumpat pelan

"Baiklah, Naruto kau susul Hinata kesana aku akan membawa Ino ketenda"

"Baiklah"

Tbc ...

Review? Review?

: salam kenal juga, aduuhh jangan panggil senpai ya, aq masih newbie ko hehehee .. wahh ia kah? Hem syukur deh kalo yuri-san menyukai fic ini .. hehehe

nana: arigatou nee ... wah wah maaf ya ga bisa update cepat .. hehe #alasan

: hehehe ia ya, he's so sweety .. andai aja di dunia nyata ada prince charming kaya dia ... hem hem hehee

yuliana: yu-san, tenang aq udah bikin 2shoot kan, naitnya sih smpe 3-4 .. semog ga bosen ya ..

Soputan: oke juga ;)

Guest: emm, maaf ya lama di lanjutnya ..

nh: hehe warna baru, masa cewe mulu yang sakit hati ... hrus ada pembalasan dong #wkwkwkwk

ricardo. : hounto? Wwaaa arigatou gozaimasu ..

otsukareina14: ehhhh? Hehehhee sudah di lnjut ko ...