Maaf, chapie satunya ancur banget begitu.. buat yang nunggu NaruSasu, sabar ya.. pasti muncul kok. Fu cuma menginginkan Sasuke 'sedikit' menderita, haha. Dan maaf karena nggak bisa balas review kalian, tapiFu mo ngucapin makasih bamyak untuk yang nyempatin waktu buat baca fanfic ini... Oke, enjoy this story..
._._. X ._._.
You For Me...
Naruto by Masashi Kishimoto Sensei..
Pair: NaruSasu (tapi belum muncul di chapie ini), KakaSasu, NejiSasu, ItaSasu.
Warning: Lime, Lemon, OOC, AU, Incest, abal, TYPO, gaje-ness, dll.
'...' mine
"..." talk
Xxxx xxxx xxxxX
Matahari hampir terbenam seluruhnya saat Kakashi turun dari mobil mewahnya. Buru-buru ia naik ke lantai 4 apartemennya. Ia sedikit khawatir karena keadaan Sasuke tadi pagi, apalagi selama dia mengajar tadi, sosok Sasuke terus menganggu pikirannya. Kakashi mengambil kunci apartemen dari saku celananya, membuka perlahan kamar bernomor 156 itu.
Ckreek
Begitu ia masuk ke dalam, bola mata silvernya sedikit mengecil ketika mengetahui keadaan ruangan yang gelap itu.
"Sasuke? Kau dimana?" begitu menekan tombol lampu dan menaruh tas kerjanya sembarangan, Kakashi mengedarkan pandangannya mencari dimana Sasuke. Tak menemukan sosok itu, ia segera menuju kamar Sasuke yang sedikit terbuka.
Deg!
"SASUKE!" Kakashi berseru kaget. Bagaimana tidak, saat ini, seseorang yang ia sukai tengah dipeluk oleh orang lain yang ia kenal sebagai sahabat dekat Sasuke. Apalagi tanpa sehelai kainpun yang membalut tubuh polos mereka. Sprei yang berantakan dan berbau aneh meyakinkan Kakashi jika kedua pemuda itu baru saja melakukan hubungan sex.
Neji membuka matanya ketika mendengar sebuah suara lantang yang menganggu tidurnya. Baru saja beberapa detik lavender miliknya menampakkan cahaya, ia sudah disambut oleh sebuah pukulan keras tepat di pipinya, hingga harus merelakan darahnya keluar dengan sukses dari sudut bibirnya.
"Apa yang kau lakukan brengsek?" Kakashi menarik tangan Neji, membanting tubuhnya ke lantai dan memukuli wajahnya bertubi-tubi.
Neji tak bisa melawan Kakashi yang sedang emosi, ia hanya dapat melindungi wajahnya sambil beberapa kali membalas pukulan Kakashi.
"Dasar, brengsek! Beraninya kau melakukan hal ini!" bola mata Kakashi berkilat marah saat melihat Neji.
Neji tidak peduli pada ocehan gurunya itu, karena rasa puasnya saat menyetubuhi Sasuke tadi merupakan hal yang paling membahagiakan baginya, tidak peduli pada tulang pipinya yang hampir remuk.
"DASAR BOCAH BRENG.."
"Shishou.." Kakashi menoleh ke arah ranjang dimana saat ini Sasuke bersusah payah mengubah posisinya untuk duduk. Melihat hal tersebut, Kakashi segera bangun dari atas badan Neji, berjalan dengan geram ke arah Sasuke, dan..
Plak
"akh.." Sasuke mencelos karena tiba-tiba saja Kakashi menampar pipi kanannya keras, hingga membekas tanda kemerahan di pipi mulus itu.
"Shishou.. apa yang.."
Plak
Satu tamparan kembali mendarat di pipi Sasuke yang satunya.
"Dasar sampah! Pelacur! Murahan!" bentak Kakashi sambil menjambak rambut Sasuke membuat sang pemilik meringis kesakitan.
"Jadi ini yang kau lakukan saat aku tidak ada? Aku pikir kau laki-laki baik sampai aku rela membelimu, ternyata kau sama kotornya dengan wanita jalang, rendahan, menjijikan!" Kakashi menatap jijik ke tubuh Sasuke yang baru ia hempaskan ke atas ranjang. Tangannya terkepal, hendak memukul Sasuke lagi, tapi Neji yang sedaritadi diam saja, mendahuluinya menjotos Kakashi hingga membuat lelaki itu jatuh tersungkur ke lantai. Neji segera meluncurkan pukulannya secara bertubi-tubi ke wajah Kakashi.
"Jangan mengatai Sasuke seperti itu!" sergahnya.
"Hah, rupanya kau sudah dibutakan oleh pesona mata hitam itu, bocah brengsek?" Kakashi mendorong bahu Neji mengubah posisinya menjadi di atas Neji. Mereka terus berkelahi. Tidak peduli pada Sasuke yang sedang terguncang batinnya, menangis di atas tempat tidurnya. Airmatanya membanjir tak dapat dibendung, dua kenyataan menyakitkan baru saja menohok dadanya.
"ukh.. uuh.." Sasuke segera bangkit dari ranjangnya, meninggalkan dua orang itu dengan lebih dulu memakai pakaiannya dengan asal-asalan. Hatinya sakit bukan main, rasa sakit itu bahkan lebih perih dari pada sakit disekujur tubuhnya. Disetubuhi dengan paksa oleh sahabatnya sendiri, dan dicaci oleh orang yang selalu dikaguminya. Hatinya benar-benar terluka karena hal itu.
BRAAK
Kakashi dan Neji segera menoleh ke arah pintu yang baru saja ditutup kasar itu. Ia segera berlari keluar menyadari sosok sang raven sudah tidak berada di tempatnya. Ia berusaha menyusul Sasuke, tapi.. sosoknya sudah menghilang ntah kemana.
._._. X ._._.
Ini adalah jalan di pinggiran kota Konoha, gelap, dan 'kotor'. Banyak wanita-wanita jalang yang berdiri di pinggir trotoar, tangannya melambai, wajahnya tersenyum genit ke arah mobil-mobil mewah yang menyorot mereka. Wanita-wanita itu meliukan tubuh gemulainya yang terbuka, menjajakan diri mereka pada siapa saja yang ingin menghabiskan malam dengan tidur bersamanya. Beberapa waria, maupun gigolo muda juga tak kalah sibuknya dengan wanita-wanita itu.
Tapi, di antara jalanan yang gelap dan kotor itu, nampak seorang lelaki muda dengan rambut mencuat ke belakang, kulit putih pasi, tubuhnya yang terbalut kaos lengan panjang biru, sedikit bergetar karena suhu yang dingin. Terlihat kepulan uap saat ia menghembuskan nafas karena udara dingin, meski suhu tubuhnya teramat tinggi saat ini. Bahunya berguncang hebat saat terdengar suara sesenggukan dari bibirnya. Mata sembab dan merah, wajah pucat dan nampak tertekan ketara jelas saat lampu mobil menyorotnya. Ia berjalan terhuyung sambil memeluk tubuhnya sendiri. Tubuh ringkih yang bisa jatuh kapan saja karena terlalu lemah.
Uchiha Sasuke, setelah kabur dari apartemen mewah karena caci maki dan tuduhan dari Kakashi, juga karena pemerkosaan oleh sahabat baiknya sendiri. Ia terus mengayunkan kakinya, tidak peduli dengan dimana dan kemana ia akan berada. Yang ia inginkan hanyalah pergi sejauh mungkin dari orang-orang yang ia kenal.
'Dasar sampah! Pelacur! Murahan!'
Bulir airmatanya makin deras membasahi pipinya yang lebam.
'Kau sama kotornya dengan wanita jalang, rendahan, menjijikan!'
Tepat yang seperti dikatakan Kakashi, ia hanyalah seonggok sampah yang tidak berguna, lelaki rendahan yang dilahirnya hanya untuk pelampiasan nafsu orang-orang sekitarnya. Ia tak jauh berbeda dengan wanita-wanita berpakaian minim yang tengah menjual tubuhnya. Menyedihkan.
.
.
.
"Ugh.." ia menghentikan langkahnya yang terseok, ia mencengkram helai hitamnya yang lembab karena baru saja diguyur hujan. "Sakit.." rintihnya sambil meringis menahan denyut kuat yang seakan menusuk di kepalanya. "Hhh... ennnh..." ia meremas kuat rambut hitam kebiruannya. Ia bersusah payah untuk berjalan ke sebuah pohon. Begitu sampai, ia segera menyandarkan tubuhnya yang dengan cepat merosot ke tanah, membuat punggungnya sedikit lecet karena dahan pohon kering itu seakan menembus kaosnya. Sasuke memijat kepalanya yang terasa sakit, nafasnya memburu, dan pandangannya mulai terlihat blur.
Tap Tap Tap
Samar-samar ia mendengar suara derap langkah mendekat ke arahnya. Tubuh tinggi tegap, dengan postur sedang berdiri di depan Sasuke, membuat pemuda itu mendongak untuk mencari tahu wajah orang yang sedang berada di hadapannya.
"Maukah kau ikut denganku?..." sebuah suara serak dan sedikit mendesis terucap dari bibir laki-laki itu. Seorang pria paruhbaya yang kini menjulurkan jemari putihnya ke hadapan Sasuke. Ia tersenyum, atau lebih tepatnya menyeringai saat bocah yang ia temui tengah menengadah menatap ke arahnya. Bola mata emasnya bertemu pandang dengan bola mata hitam yang nampak mati milik Sasuke. Ntah pesona apa yang diberikan oleh laki-laki berkulit pucat tersebut, hingga membuat Sasuke meraih jemari-jemari dingin itu. Menerima ajakan sang pria tanpa protes atau curiga. Hingga ia melupakan rasa lelah dan sakit ditubuhnya.
"Aku akan menunjukan indahnya surga padamu..." desis laki-laki asing itu.
.
.
.
Tembok berwarna putih dengan lukisan-lukisan antik serta beberapa benda aneh menjadi pajangan di ruangan berukuran 4 X 4 meter, itulah yang ditangkap oleh bola mata Sasuke saat pertama kali dia membuka mata.
"hhnn.." ia mencoba untuk bangun, tapi ntah kenapa rasa sakit dan lemas di sekujur tubuhnya melarangnya bergerak meski hanya satu sentipun. Sasuke memejamkan kelopak matanya, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
Saat dia sedang merintih kesakitan, muncul laki-laki paruhbaya berambut hitam panjang tersenyum dan mengulurkan tangan padanya. Sasuke menerima uluran tangan itu tanpa ragu, mengikuti langkah sang pria hingga sampai di depan mobil warna hitam. Saat itu seorang pria berkuncir muncul menyambut keduanya. Mobil sedan itu membawa mereka ke suatu tempat, tapi belum juga sampai ke tempat yang di maksu, mendadak kepala Sasuke kembali berdenyut. Setelah itu ia tak dapat mengingat apa yang terjadi. Hingga ia berada di dalam ruangan ini, terbaring dengan selembar selimut tebal yang menghangatkan tubuhnya.
"Sudah sadar rupannya?" sosok pria berambut perak menyembul keluar dari balik pintu. Sedikit panik Sasuke berusaha untuk duduk, namun...
"Jangan banyak bergerak dulu, tubuhmu terlalu lemah," katanya seraya berjalan mendekat ke ranjang Sasuke yang memandangnya dengan raut khawatir. "Aku Yakushi Kabuto, pelayan Orochimaru-sama," lelaki berkacamata itu memperkenalakan diri.
Sasuke masih diam, ia mencoba mengingat sosok yang baru saja di panggil dengan sebutan 'Orochimaru' oleh orang itu.
"Siapa namamu?"
"Sa..suke.." balasnya dengan lemah, tenggorokan terasa begitu kering saat ini.
"Istirahatlah selagi aku menyiapkan makan siang untukmu!" pesan Kabuto sebelum melenggang keluar. Mendegar kata 'siang' barulah Sasuke sadar jika ia pingsan dalam waktu yang tidak bisa dibilang sebentar.
._._. X ._._.
Ini adalah hari ketiga Sasuke tinggal di rumah Orochimaru, keadaannya kini sudah mulai pulih dan terlihat jauh lebih baik. Ia sedang berjalan mengikuti langkah kaki Kabuto yang berada beberapa langkah di depannya. Ini pertama kalinya ia keluar dari kamar tidurnya. Dan sekarang ia tengah melangkah menuju meja makan dimana seseorang yang baik hati sedang menunggunya.
"Selamat pagi, Sasuke..." sapa seorang lelaki berkulit pucat bagai mayat yang duduk di kursi kayu tepat di depan meja makan, dimana makanan mewah dan lezat tersaji.
"Se-selamat pagi.." balas Sasuke sedikit gugup, ntah mengapa bola mata emas milik orang itu membuatnya terpaku.
"Sasuke.. maukah kau bekerja padaku?" tanya orang itu dengan tak mengubah seringai di wajahnya.
"Bekerja?"
"Yah, jika kau mau bekerja padaku, akan kutunjukkan kau bagaimana indahnya 'surga'..." desis pria pedopil itu sambil menatap lekat mata hitam Sasuke. Seakan mampu membuat pemuda 16 tahun itu terhipnotis.
.
.
.
Sasuke POV
Seminggu sudah aku tinggal dengan orang itu, Orochimaru. Orang yang dengan baik hati memungutku dan mengajak tinggal bersama. Merawatku saat aku sakit beberapa waktu yang lalu, dan pria 51 tahun berwajah pedopil yang berjanji memberikanku 'surga' jika aku mau bekerja padanya. Saat ia mengatakan hal itu, ntah apa yang membuat mengangguk begitu saja, aku tau anggukan persetujuanku untuk menerima tawarannya itu membuatnya senang. Aku lihat dia makin baik padaku karena hal itu. Hah, 'surga'.. dia akan menujukkan tempat itu padaku? Aku sedikit penasaran dengan pekerjaanku, dan hari ini.. dia menunjukan 'surga' yang dimaksud olehnya.
"Kau cuma perlu menemani mereka minum.." itulah kata yang terucap dari laki-laki itu ketika ia menganjakku masuk ke dalam sebuah klub malam yang didominasi oleh kaum gay. Orochimaru menujuk pada beberapa pria ber-jas yang tengah minum sambil tertawa.
"Aku tau..." balasku.
"Bagus.." Orochimaru menarik sudut bibirnya, kembali menunjukkan seringai yang memuakkan itu padaku. "Cepatlah kesana, kau tidak mau membuat mereka menunggukan?"
Aku mengangguk dan menghampiri lelaki itu. Dan reaksi terkejut nampak mereka tunjukan saat aku mendatangi mereka. Tapi hanya sebentar, karena detik berikutnya mereka menarik tanganku, mengajakku duduk bersama mereka, dan mulai minum bir dari botol yang kutuangkan ke gelas wine mereka.
.
.
.
Mereka mulai sedikit mabuk, salah satu diantara mereka berempat memaksaku meneguk minuman beralkohol itu. Aku menolak, aku tidak pernah minum itu sebelumnya,tapi mereka terus mendesakku, membuat harus merelakan minuman haram itu masuk dalam tubuhku.
"ehhnn.." kudengar mereka tertawa melihat reaksiku saat meminumnya. Aku mengernyit saat rasa aneh itu menyentuh indra pengecapku. Ntah bahan apa yang digunakan untuk membuat minuman bernama vodka itu, karena cairan itu membuat tubuhku terasa hangat, dan makin banyak ku meminumnya perutku makin memanas, begitupula tubuhku.
Aku mulai mabuk, tidak kusangka satu gelas penuh vodka membuatku hampir hilang kesadaran. Hampir, karena aku masih dapat merasakan satu dari pria-pria itu mencium bibirku, melumatnya dengan kasar.
"emmmhp..." aku tak dapat menolak saat orang itu memperdalam ciumannya, sensasi vodka membuatku tak berdaya. "akh.. aahh.." aku sudah terbaring di atas sofa ketika lelaki yang lainnya mulai menelusupkan tangannya ke kaosku, memilin dan menekan kedua putingku, membuatku menggelinjang dan menegang.
"ohok.. ohok.." aku terbatuk, saat dengan paksa lelaki yang satulagi meminumkanku sebotol wine hingga membuat pakaianku basah. Perlahan pandanganku meredup karena mabuk, kepalaku makin terasa berat. Sebelum aku kehilangan kesadaran sepenuhnya, keempat lelaki itu menyeringai, puas akan sesuatu. Dan setelahnya aku tidak tau apa yang terjadi padaku...
.
.
.
Esok harinya, aku terbaring di sebuah kamar yang asing bagiku. Kepalaku pusing, dan tubuhku terasa sakit juga lelah.
Aku menggerakan kedua bola mata onyxku menyusuri ruangan itu, sampai akhirnya aku menyadari satu hal, aku tidur tanpa mengenakan pakaian. Terdapat bau-bau aneh di sprei yang aku tiduri, dan..
"Uang?" yah, aku melihat puluhan uang yang jumlahnya tak sedikit. Tapi yang membuatku tertarik adalah selembar kertas dimana tertulis..
'Servismu luar biasa bocah..'
Deg!
Jantungku seakan tak berfungsi saat aku membaca tulisan itu. Dan saat itulah aku tau apa yang dimaksud 'surga' oleh Orochimaru.
.
"Kau membohongiku? Kau menyuruhku untuk menemani mereka minumkan? Tapi kenapa mereka harus meniduriku?" aku menghujani banyak pertanyaan saat aku bertemu dengan Orochimaru. Airmataku memeleleh, tubuhku yang sudah 'kotor' makin 'kotor' karena di dinodai oleh empat lelaki paruhbaya dalam waktu hanya beberapa jam. Hatiku sakit. Sehina inikah diriku?.
"tenanglah, sayangku.. aku sudah mengatakan padamu kalau aku dapat menunjukkan surgakan? Dan itulah surga yang ku maksud?" aku menepis kasar tangan Orochimaru yang baru saja digunakan untuk membelai pipiku. Aku benar-benar bodoh hingga mempercayai bahkan mengikuti kemauan orang itu.
"Aku pergi!" kataku sebelum beranjak meninggalkan ruangan Orochimaru. Tapi, tangan orang itu keburu meraih lenganku, memutar tubuhku dan membenturkannya ke tembok ruangan. Lelaki itu menghimpit badanku, menjambak helai hitam milikku kuat-kuat lalu berbisik, "Kau tidak akan bisa pergi dari sini.. karena bila kau nekat, aku akan membunuhmu..." ancamnya sebelum meninggalkanku sendirian diruangan itu.
"uh.. ukh.." aku memeluk kedua lututku membenamkan kedua wajahku diantara lututku, tubuhku berguncang hebat tiap aku sesenggukan. Aku benar-benar tidak tau harus bagaimana, kecuali satu hal.. Aku, ingin mati...
._._. X ._._.
Ini adalah hari ketujuhku bekerja sebagai gigolo. Dan aku sudah tidak tau berapa orang yang sudah menjajal tubuhku. Aku lelah.. aku ingin mati. Aku hanya lelaki kotor yang tidak berguna untuk tetap tinggal lebih lama di dunia ini.
.
.
.
"ARRRGH! TUAN.. TU-ANN..." aku mengerang, rectumku ditembus paksa oleh dua kejantanan dari orang yang berbeda. "Hah.. ahh.. ARRRGH!" aku memekik, sakit sekali saat dua orang itu membuat gerakan. Aku memejamkan erat mataku, darah mengalir di bibirku yang baru saja kugigit kuat. Nafasku tak beraturan, tubuhku mulai melemah.
"Ugh.. sshh..." kudengar lelaki itu mendesah karena terhimpit oleh rectumku. Tapi, mereka tetap saja berusaha menyodokkan benda miliknya pada lubangku yang sudah mengeluarkan darah. Aku ambruk ke atas ranjang saat siku yang kupakai menopang tubuhku tak sanggup bertahan. Pasrah, aku diam dan tak dapat melawan saat dua orang itu bergerak di dalam tubuhku.
"TUAN.. TUAAAAANNN!" aku menegang hebat, saat cairan bening milikku keluar dan membuat kotor sprei di bawah kami. Aku kembali ambruk, dan samar-samar sebelum memejamkan mata, aku mendengar dua orang itu berseru meneriakkan namaku bergantian.
"agh.. ennh.. mereka ambruk di sisi kanan dan kiriku, tubuhku yang sudah lelah hanya dapat pasrah ketika mereka memulai ronde kedua, menandai tubuhku dengan kissmark yang ketara merah dan banyak, menciumku secara brutal. Mereka terus mendominasi tubuhku hingga kesadaranku hilang sepenuhnya.
.
.
.
Srrr Srrr
Ribuan air shower membasuh tubuhku yang kotor, aku berusaha menghilangan bau-bauan milik orang-orang itu. Aku muak dengan semua ini. Airmataku mengalir bersama dengan turunya air yang membasuh wajahku. Aku, tidak kuat lagi jika harus lebih lama hidup di dunia ini... Aku lelah...
._._. X ._._.
Normal POV
Plaaak
Pipi Sasuke terasa nyeri dan panas ketika Orochimaru menamparnya. Pria berambut hitam panjang itu marah pada Sasuke yang menolak melayani pelanggan ketiganya malam ini.
"AH!" Sasuke memekik saat Orochimaru meremas bahunya yang bergetar.
"Aku tidak peduli, kau harus menemui pria itu dan melayaninya!" perintah Orochimaru seenaknya.
"Aku.. lelah Tuan.. ijinkan aku istirahat.." pinta Sasuke lemah. Tubuhnya begitu pucat, luka lebam di wajahnya nampak sangat ketara. Tampangnya terlihat berantakan. Tentu saja, karena ia baru saja disetubuhi oleh seorang pengedar narkoba yang suka 'main' kasar dan tak segan-segan memukulinya jika ia tidak mau menurut. Membuatnya lelah.
Plaak
Tamparan ketiga Orochimaru menambah jumlah luka di wajahnya yang dulu sehalus porselen, "Aku tidak peduli, layani dia dan baru kau boleh istirahat!" lelaki itu mendorong badan ringkih Sasuke hingga terjerembab ke lantai. Orochimaru menendang punggungnya sambil menyuruhnya berdiri. Meski keberatan, akhirnya Sasuke menuruti permintaan Orochimaru, karena ia tidak mau dipukuli lagi oleh orang itu.
.
.
.
Sasuke berjalan terhuyung-huyung menuju kamar 106 hotel bintang lima di Konoha. Ia berusaha sekuat tenaga agar tidak limbung.
Ckreek
Pintu terbuka, Sasuke yang nampak kusut dan berantakan itu disambut oleh lelaki muda yang segera menghampirinya.
"Hai aku sudah menunggumu lama," pemuda bermata azure itu sedikit heran melihat keadaan 'teman' kencannya itu. Ia memandang nanar pada pemuda raven yang berantakan dan terlihat tidak baik. Kulitnya pucat pasi dan banyak luka di wajahnya yang harusnya terlihat 'cantik'. "Hey, kau tidak apa-apa?" tanya pemuda itu pada Sasuke yang baru saja menutup pintu kamar dan menguncinya.
Sayup-sayup ia memandang sosok di hadapannya, ia tersenyum tipis dan berujar, "Aku tidak apa-apa.. Ayo lakukan saja sekarang?" Sasuke mulai melepas satu persatu kancing kemejanya. Lebih baik ia pingsan di tengah 'permainan' daripada harus jatuh sekarang juga, karena ia tau pasti Orochimaru akan menyiksanya setelah ini.
"Tunggu.." tangan berkulit tan itu menangkap jemari lentik Sasuke, membuatnya berhenti membuka kancing ketiga dan seterusnya.
"Ada apa Tuan?" tanya Sasuke sambil melihat ke arah pelanggannya dengan pandangan tidak fokus.
"Aku tidak mau 'menidurimu'.. aku hanya ingin ngobrol denganmu..." ragu-ragu pemuda itu menjawab pertanyaan Sasuke.
Sasuke menautkan alis keheranan, "Jangan bergurau Tuan, kau menyewaku karena ingin 'meniduri'ku kan? Jadi tunggu apa lagi?" ucapnya dengan nada lemah, bahkan terdengar seperti bisikan.
Lagi-lagi, bola mata seindah langit itu menatap nanar pada keadaan si raven yang memprihatinkan, "Aku bukan tipe seperti itu, sungguh aku hanya ingin ngobrol denganmu, kau ti-.." ia tak melanjutkan perkataannya karena tubuh ringkih si raven mendadak limbung ke arahnya. Tapi, dengan sigap ia menangkap badan Sasuke denga kedua lengannya.
"Hei, kau tidak apa?" pemuda itu panik.
"Aku, lelah.. Tuan.." desah Sasuke berusaha untuk tetap membuka mata, ia menyandarkan dagunya di bahu pelanggan termudanya.
"Hah?" alis laki-laki itu meninggi, ia tidak begitu yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Aku.. lelah, aku.. tidak.. kuat lagi, Tuan.." dengan berakhirnya ucapan Sasuke, pemuda berambut pirang itu merasa jika berat badan sang raven sedikit lebih berat. Dan lama-lama merosot dari dekapannya.
Tapi, sebelum menyentuh tanah, lelaki itu menangkap tubuh ringkih Sasuke.
"Hei.. kau kenap-" ia berhenti bersuara saat mendengar suara dengkuran halus dari bibir sang raven. Ia melengkungkan sebuah senyum, sebelum mengangkat si pemuda dan menidurkannya di atas king size yang terdapat di hotel mewah itu. Pemuda pirang itu menyelimuti tubuh Sasuke sampai sebatas dagu, menyapu wajah lebamnya perlahan, menyingkirkan poni Sasuke yang menempel di dahi karena keringat. Ia lagi-lagi mengulum senyum tulus.
"Tidurlah 'Nona', kau membutuhkannya," bisik lelaki itu sebelum berjalan menuju sofa. Memilih tidur disana sambil menunggu si pemuda manis itu bangun keesokkan paginya.
._._. X ._._.
TBC
._._. X ._._.
Silahkan review.. dan ingat Fu nggak terima flame dalam bentuk apapun, kritik dan saran boleh kok.. DAN SELAMAT TAHUN BARU ALL...
