Painfully in Love with You.

MinYoon

Slight JiKook, NamJin, TaeGi

Romance, Hurt/Comfort, Drama

Rate M

Warning! BL, Major OOC, typo(s), mature scene, Mpreg, kata-kata vulgar, etc.

Fanfiction ini mengandung unsur boys love, bagi pembaca yang merasa tidak nyaman dipersilakan meninggalkan halaman ini. Saya seorang pendukung Top!Jimin dan Bottom!Yoongi. Jadi bagi yang tidak menyukai pairing ini juga diharap segera menekan tombol silang di kanan atas.

Anda telah diperingati sebelumnya, resiko tanggung masing-masing.

Terima kasih

.

.

BTS © BigHit Ent.

.

.

Story © BabySugarSeoltang


"Nghh…"

Erangan pelan terdengar dari balik selimut tebal. Helaian surai pirang bercampur warna mint menyembul dari balik gelungan putih itu. Jemarinya menyingkap selimut yang menghalanginya untuk bernapas dengan lega.

Yoongi menautkan kedua alisnya, dahinya mengerut. Cahaya matahari dari sela tirai kamar hotel yang dibuka sedikit mengenai tepat di wajahnya. Yoongi meletakkan lengan kanannya di atas kedua matanya, menghalangi silau cahaya yang menganggu tidurnya. Tangan kirinya sibuk meraba nakas kecil di samping tempat tidur, berusaha mencari benda tipis persegi panjang miliknya.

Yoongi mengambil ponselnya di nakas –yang kebetulan berada di ujung sehingga memudahkan dirinya mengambil benda itu– dan mengecek jam yang tertera.

Pukul sembilan lebih dua puluh lima menit.

Yoongi mengerang, meletakkan ponselnya di atas tempat tidur di sampingnya yang telah kosong sejak lama. Bibir merahnya mengerucut kesal. Ia kembali mengeluarkan rengekan kesal sebelum akhirnya mendudukan diri di atas tempat tidur. Selimut putih jatuh sebatas pinggang menampakan tubuh putihnya dengan banyak bercak merah yang tak tertutup sehelai benangpun.

Ia memandang ke sekeliling kamar, berusaha mencari keberadaan sosok yang menemaninya semalam. Ia menyingkap selimut putih dari tubuhnya, sedikit meregangkan tubuh sebelum berusaha berdiri.

Tangan kanannya mengelus pelan bagian belakang tubuhnya yang sakit akibat aktivitas panasnya semalam bersama Taehyung. Ia mengenakan celana dalamnya yang ia pungut di sudut ruangan dekat jendela. Semalam Taehyung benar-benar melempar asal semua pakaiannya.

Yoongi kemudian melangkah menuju ruang tengah kamar suite hotel yang ia inapi semalam. Sosok Taehyung masih tidak terlihat, Yoongi kemudian kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya, hendak menelepon Taehyung.

"Halo?"

"Tae? Kau di mana?"

"Aku? Aku pulang sebentar, aku harus mengambil baju gantiku. Ada apa, hyung?"

"Mm, tidak, tidak apa-apa."

Yoongi mendengar Taehyung terkekeh sebelum membalas.

"Kau merindukanku, hyung?"

"Tidak. Tidak sama sekali. Tapi kalau dalam lima menit kau tidak kembali kemari aku tidak akan mau bertemu denganmu lagi setelah ini."

"Ya! Hyung! Jangan begitu. Lagipula aku sudah dalam perjalanan kembali ke hotel. Kau mandi saja dulu, setelah ini aku akan mengajakmu sarapan di kafe langgananku."

Yoongi menghela napas kecil. "Ya,ya. Pastikan hari ini penggemarmu tidak memburuku karena aku makan berdua denganmu, oke?"

Taehyung tertawa pelan diujung telepon. "Apapun untuk Yoongi-hyungku yang paling manis."

"Mmh, gombal. Ah, nanti kau minta mastercard saja pada resepsionis, aku akan meneleponnya. Mm… bye, Tae. "

Yoongi melempar ponselnya ke atas tempat tidur setelah mematikan panggilannya kepada Taehyung. Ia pun menelepon resepsionis dengan telepon yang ada di nakas samping tempat tidur, sesuai janjinya untuk meminta pihak hotel menyediakan kartu bagi Taehyung.

Setelah urusannya beres, Yoongi segera memungut kemeja dan jas hitam serta celana kainnya yang semalam ditanggalkan Taehyung di dekat pintu kamar hotel. Baju-baju itu ia masukan dalam plastik khusus pakaian kotor dan ia mengambil pakaian baru dari dalam kopernya, segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari aroma seks yang masih tersisa di tubuhnya.

.

.

.

Yoongi baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana dalamnya ketika Taehyung datang. Yoongi mengusak rambutnya yang basah dengan handuk putih sambil memandang Taehyung yang tersenyum lebar padanya.

"Selamat pagi, hyung!"

Yoongi hanya menggumam sebagai balasan, kembali fokus mengeringkan rambutnya hingga tak sadar Taehyung telah berdiri di belakangnya, punggung mungilnya beradu dengan dada bidang Taehyung.

"Apa tubuhmu baik-baik saja, hyung?" Taehyung berbisik pelan di telinga Yoongi sambil mengelus pinggul kanannya sensual.

Yoongi merasakan pipinya yang memanas, ia menoleh ke belakang. "Ya! Berhenti Kim-mesum-Taehyung! Ini masih pagi!"

Taehyung mengangkat kedua tangannya dan menjauh dari Yoongi. "Santai, hyung. Aku hanya bertanya padamu."

Taehyung mengeluarkan senyum kotak andalannya, yang kali ini justru membuat Yoongi semakin kesal. Yoongi hanya memutar bola matanya malas, ia beranjak untuk mengambil ripped jeans dan sweater warna hitam miliknya yang ia letakkan di atas tempat tidur.

Sambil memperhatikan Yoongi yang tengah berpakaian, Taehyung melangkah ke kamar mandi namun tak menutup pintunya, mendapat tatapan heran dari Yoongi.

"Tae? Kau mau apa?"

Tak lama Taehyung kembali dengan pengering rambut warna putih yang disediakan hotel, ia lagi-lagi tersenyum lebar.

"Hyung, duduklah, biar aku yang mengeringkan rambutmu." Taehyung berujar sembari menepuk kursi di depan cermin besar di kamar hotel dengan antusias.

Yoongi tersenyum, merasakan dadanya menghangat. Ia mengangguk dan mengambil botol beling kecil isi tablet putih kecil dan sebotol air minum sebelum melangkah duduk.

"Oh? Kau masih meminum obat itu, hyung?"

Yoongi menghela napas. "Tae. Tentu saja aku minum, ini penting bagiku, oke?"

Taehyung mendekatkan bibirnya pada telinga Yoongi dan menatap matanya lewat pantulan cermin. "Kenapa, hyung? Kau takut hamil setelah kugagahi semalam hingga aku meninggalkan banyak spermaku di dalam tubuhmu?"

Pipi Yoongi kembali memerah, ia menatap Taehyung tajam. "Kim-mesum-Taehyung, jangan coba-coba."

"Ya, ya, Yoongi-hyungku tercinta." Taehyung terkekeh kemudian segera menyalakan pengering rambut putih itu dan mengambil sisir untuk merapikan rambut pirang-mint Yoongi.


Taehyung membantu Yoongi membereskan barang-barangnya. Yoongi memasukkan berbagai macam barang ke dalam tasnya dan Taehyung sudah selesai membantu membereskan kopernya. Ia memandang ke sekitar, memastikan tidak ada barang yang tertinggal sebelum mengangguk kepada Taehyung, member isyarat bagi mereka untuk pergi.

Sampai di lobby hotel Yoongi memandang Taehyung yang sedari tadi berjalan di belakangnya.

"Tae, kau duluan saja ke mobil. Aku akan check-out dulu. Aku akan menyusulmu."

Taehyung mengangguk. "Aku parkir di basement, hyung. Kau telepon aku saja kalau sudah selesai."

"Mm, yaa. Terima kasih koperku."

Setelah memastikan Taehyung keluar dari lobby, Yoongi segera melangkah menuju meja resepsionis untuk check-out.

Tak lama, Yoongi telah menyelesaikan semua prosedur check-out, kini ia tinggal menelepon Taehyung untuk menjemputnya di lobby. Yoongi melangkah ke luar, ia berdiri di serambi depan hotel yang ramai dengan orang-orang yang baru saja datang.

Yoongi mengeluarkan ponselnya dari saku coat panjang warna putih miliknya, menekan nomor ponsel Taehyung yang tertera di kontaknya –speed dial nomor 2–. Pada deringan ketiga, tiba-tiba seseorang merebut ponselnya dan mematikan panggilan yang belum tersambung kepada Taehyung di seberang sana.

Yoongi geram, ia menoleh menatap pelaku yang membuatnya kesal.

Park Jimin.

Kedua mata Yoongi membulat terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka pertemuan keduanya dengan Jimin setelah tiga tahun tidak bertemu akan secepat ini. Baru saja kemarin ia bertemu dengan Park Jimin di acara reuni SMAnya.

"Yoongi-hyung."

Jimin memanggil nama Yoongi sembari memasukan ponsel Yoongi ke dalam saku celananya agar tak direbut balik oleh sang pemilik.

"Park! Ya! Kembalikan ponselku!"

Jimin tidak membalas protesan Yoongi. Ia justru menarik pergelangan tangan Yoongi, menyeretnya paksa.

"Ya! Lepaskan aku! Park Jimin! Apa kau tuli?!"

Jimin malah menulikan telinga, pura-pura tak mendengar semua protesan Yoongi termasuk umpatan-umpatan yang keluar.

"Kalau kau mengumpat lagi, kupastikan bibirmu itu bengkak karenaku." Jimin berucap tiba-tiba tanpa menoleh, masih menyeret Yoongi dari serambi menuju parkiran mobil.

Yoongi terdiam. Kalau sudah begini ia kalah, ia tidak mau Park-gila-Jimin mencium bibirnya tiba-tiba di tempat umum. Ia masih hapal arti kalimat yang baru saja diucapkan Jimin kepadanya. Jimin tak main-main, ia pernah sekali mencium Yoongi karena Yoongi terus-terusan mengumpati Jimin yang telat di kencan mereka.

"Hm? Pipimu memerah, hyung. Kenapa? Memikirkan ucapanku?"

Yoongi terlalu larut dalam pikirannya hingga tak sadar Jimin kini sedang berdiri menghadapnya dengan senyuman miring –yang selalu berhasil membuatnya meleleh, bahkan hingga sekarang– andalannya.

Jimin mendekatkan bibirnya pada telinga Yoongi. "Atau sedang mengingat-ingat bagaimana rasanya kucumbu dengan liar, hm?"

Park-mesum-Jimin.

Yoongi memukul dada bidang Jimin lumayan keras, membuat pemiliknya mengerang pelan.

"Ya! Hyung! Sakit, hentikan!"

"Bodoh! Idiot! Mesum! Gila! Lepaskan tanganku, Park!"

Jimin berdecak sebal. Ia segera membuka pintu mobilnya dan mendorong Yoongi masuk ke dalam, membanting pelan pintu mobilnya dan segera masuk ke balik kemudi sebelum Yoongi berusaha melarikan diri.

"Ya! Park Jimin! Berhentikan mobilmu! Aku ada janji!"

Jimin sama sekali tidak menanggapi ocehan dan umpatan pemuda berkulit pucat itu. Konsentrasinya tetap pada jalan di depannya.


Taehyung menyandarkan tubuhnya pada kap mesin dari samping kiri mobilnya yang terpakir di parkiran basement hotel. Sesekali ia mengangkat pergelangan tangan kirinya, melirik jarum jam yang terus bergulir.

Yoongi tetap tak menampakan sosoknya. Sudah tiga puluh menit lewat semenjak ia terakhir berpisah dengan Yoongi di lobby hotel. Check-out tak seharusnya memakan waktu sebanyak ini, paling hanya sekitar sepuluh menit –lima belas menit paling lama jika menunggu antrian. Taehyung menghela napas. Ia mengambil ponselnya di dalam saku celana, alisnya terangkat. Bagaimana bisa ia tidak sadar ada telepon masuk dari Yoongi, dan itu dua puluh menit yang lalu.

Taehyung menggelengkan kepalanya, berusaha menepis semua pikiran negatif. Ia menekan kontak Yoongi untuk meneleponnya.

"Ck. Tidak diangkat." Taehyung berdecak kesal, kembali mencoba menghubungi nomor ponsel Yoongi.

.

.

.

Sudah berulang kali Taehyung mencoba menghubungi Yoongi, hasilnya sama.

Tidak diangkat.

Oke. Sekarang Taehyung benar-benar panik. Perutnya serasa diremas, keringat dingin mulai menuruni pelipisnya. Akhirnya ia mencoba melacak keberadaan Yoongi lewat GPS ponselnya.

Taehyung menggeram kesal. "Aish. Kenapa kau matikan GPS-mu, hyung?!" Ia mengacak surai coklatnya kesal.

Taehyung segera masuk ke dalam mobilnya. Ya, apapun caranya ia akan mencari Yoongi, bahkan jika ia harus berkeliling kota Seoul tujuh hari tujuh malam. Taehyung mengemudikan mobilnya dengan cepat, membelah jalanan kota Seoul yang padat siang itu.

Pikirannya melayang, mencoba memikirkan tempat yang mungkin dapat menjadi petunjuk keberadaan Yoongi.

Ketika Taehyung sedang larut dalam pikirannya, tiba-tiba ponselnya yang ia letakkan di bangku samping pengemudi berbunyi. Ia segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengganggunya. Semoga bukan urusan pekerjaan.

Taehyung mengernyitkan alis. Nomor yang menghubunginya adalah nomor yang tidak tersimpan di kontak ponselnya. Taehyung menghela napas, mengaktifkan loud speaker.

"Halo? Siapa?"

Taehyung bertanya, ponsel ia letakkan pada sanggaan khusus elektronik yang sengaja ia pasang di dashboard mobil.

"Yo, Taehyung-ah"

Taehyung mengerem mobilnya mendadak. Membuat kendaraan di belakangnya otomatis ikut berhenti dan membunyikan klakson dengan nyaring. Ia menepikan mobilnya di dekat taman terdekat yang sedang kosong.

"Park Jimin." Taehyung mengucapkan nama sahabat –mantan sahabat– nya, nama yang telah lama tak ingin ia ingat kembali. "Apa urusanmu meneleponku?"

Taehyung dapat mendengar Jimin tertawa pelan. "Santai saja, Tae-ah. Aku hanya mau memberi tahu–"

"Tae! Tolong aku!"

Taehyung membulatkan kedua matanya. Itu suara Yoongi!

"Aish, hyung! Jangan berteriak, kau hampir membuatku tuli."

"Ya! Park! Cerewet, diam saja kau. Tae! Tolong aku! Aku ada di –hmph mmph!"

Taehyung menautkan kedua alisnya. "Ya! Di mana kau sekarang? Aku akan menjemput Yoongi-hyung."

"Mmph! Hngh mmfh!"

"Aish, hyung! Diamlah, atau aku akan memperkosamu disini sekarang juga."

Kemudian tak terdengar berontakan Yoongi lagi. Taehyung menggeram rendah. Apa-apaan bocah sialan itu, beraninya dia menculik Yoongi dan mengatakan hal seperti itu kepadanya.

"Ya, Park, cepat katakan kau di mana?! Jangan main-main!"

Jimin mendecak. "Tae-ah, aku hanya ingin meminjam Yoongi-hyung sebentar, oke? Santai saja, aku tidak akan berbuat macam-macam dengannya. Ah, tapi kalau kau menemukan bercak merah di lehernya nanti mungkin aku khilaf. Oke? Bye."

Belum sempat Taehyung membalas, Jimin dengan cepat mematikan sambungan telepon mereka. Taehyung mengambil ponselnya, kembali mencoba menghubungi nomor itu –yang sebenarnya tidak sudi ia lakukan jika bukan demi Yoongi.

Tidak aktif.

Taehyung menggeram kesal. Ponselnya ia lempar ke samping, tak peduli mendarat di mana –entah bangku samping atau di karpet bawah. Ia membenturkan dahinya di kemudi mobil kemudian diam sambil mengumpat.

"Park sialan."


Jimin kembali berfokus pada jalan depannya setelah memutus panggilannya dan Taehyung. Ia sendiri sebenarnya terpaksa menelepon Taehyung karena Yoongi tidak berhenti mengumpat dan sesekali memukul lengannya dan menjambak rambut oranyenya yang susah payah ia model tadi pagi untuk persiapan bertemu Yoongi.

Yoongi masih mengumpat, namun ia berhenti memukuli Jimin. Ia lelah, oke? Jimin bahkan tidak berkutik sedikitpun setelah ia pukuli. Sekarang bibirnya mengerucut kesal, kedua tangan terlipat di depan dada.

"Hyung, jangan mengerucutkan bibirmu kalau tidak mau kucium, atau memang itu tujuanmu, hm?"

"Berisik, Park. Diam."

Jimin terkekeh. Membuat Yoongi kesal adalah salah satu hobi yang paling ia sukai sejak dulu.

.

.

.

Jimin turun dari mobil, membanting pelan pintunya dan segera membukakan pintu bagi Yoongi.

"Turunlah hyung. Kita sampai."

Yoongi turun dengan menghentakkan kaki, tas ransel tersampir di pundak kanannya. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mungkin hampir sekitar 5 jam, ia akhirnya bisa turun dari mobil Jimin. Ia sama sekali dilarang turun, bahkan ketika ia beralasan ingin pergi ke toilet atau ingin membeli makanan ringan di mini market yang mereka lalui dalam perjalanan. Tentu saja Jimin melakukan itu untuk mengantisipasi Yoongi kabur darinya.

Yoongi memperhatikan sekitarnya. Ia sedang berada di villa milik Jimin di dekat pantai di Busan. Yoongi tahu karena ia pernah sekali menginap di tempat ini. Ia menghela napas panjang. Sekarang sudah sore, mungkin sekitar pukul setengah empat sore. Yoongi lapar sekarang. Jimin tadi memberikan makanan take-out dari restoran langganan mereka –dulu–. Yoongi hanya bisa terdiam ketika Jimin memberikan makanan kesukaannya tadi siang. Ingin berterima kasih tapi gengsi tinggi menghalanginya.

Ponselnya tersayang masih ada di tangan Jimin. Jimin sama sekali tidak mau mengembalikan ponselnya, bahkan ia sampai mengeluarkan aegyo-nya, benda tersayangnya itu masih tidak dikembalikan.

"Kenapa kau membawaku kemari, Park?"

Jimin melirik Yoongi. "Tentu saja karena kau akan menghabiskan liburan kali ini denganku."

"Tidak akan! Cepat kembalikan ponselku! Aku mau pulang ke Daegu!" Yoongi menghentak-hentakkan kedua kakinya, membuat Jimin justru gemas ingin mencium sosok mungil itu.

Jimin dengan cepat memeluk Yoongi yang memberontak dari belakang, memeluk pinggang mungilnya dan berbisik di telinga Yoongi pelan. "Tidakkah kau merindukanku, hyung?"

"A –aku?! Tentu saja tidak! Lepaskan aku!"

Jimin mendengus. "Kau masih tidak pandai berbohong, hyung. Lihatlah pipimu yang memerah itu."

Ia kemudian mengecup pipi kanan Yoongi sekilas dan segera melepas pelukannya sebelum Yoongi mendarakan sikunya di tulang rusuk Jimin. Ia segera mengambil kunci dari saku celananya dan membuka pintu depan, mempersilakan Yoongi –yang masih cemberut– untuk masuk terlebih dahulu.

Jimin langsung mengunci pintu villa dan mengantungi kuncinya, mengantisipasi Yoongi yang mungkin telah menyusun rencana untuk kabur sejak di mobilnya tadi.

Yoongi hanya diam, dia duduk di sofa krem yang ditempatkan di ruang tamu villa.

"Hyung, pergilah ke kamar. Kau bisa tidur sampai aku selesai membuat makan malam."

Yoongi melirik Jimin dari ujung matanya, menghela napas panjang dan segera berdiri dan pergi mencari kamar tamu yang telah ia hapal di luar kepala letaknya.

Jimin hanya memandangi punggung mungil Yoongi yang semakin jauh. Ia tahu diri. Ya, ia tahu kalau Yoongi jelas-jelas membangun dinding tebal di antara mereka. Ia sadar ini semua karena kesalahannya tiga tahun lalu. Jimin tersenyum sendu.

"Aku akan menjadikanmu milikku lagi, hyung. Tunggu saja." Jimin berbisik pelan sebelum berlalu ke dapur untuk memasak.

Ya, dia telah menyiapkan ini sejak kemarin malam. Menyuruh anak buahnya untuk berbelanja berbagai macam bahan makanan untuk diisi di lemari pendingin dan rak-rak dapurnya di villa.

Jimin membuka pintu lemari atas, hendak mengambil alat-alat masak yang ia butuhkan.

PRANG!

Jimin refleks mundur dengan cepat. Telapak tangannya kini menempel di dahi, menghela napas panjang.

"Jim?"

Jimin melirik ke pintu dapur. Yoongi sedang mengintipnya dari luar dapur.

"Suara apa?"

Jimin menunjuk panci-panci berwarna perak yang terjatuh di lantai dapur. Ya, dia baru saja menjatuhkan semua alat masak dari lemari atas.

"Pfft." Yoongi menutup mulutnya dengan punggung tangan.

Pipi Jimin memerah malu. "Ya! Hyung! Jangan menertawakanku!"

"Sudah sana, kau duduk manis atau tidur saja. Biar aku yang memasak." Yoongi melangkah sembari menggulung lengan panjang sweater hitamnya.

Tanpa memperdulikan reaksi Jimin, Yoongi segera membersihkan bahan-bahan yang telah dikeluarkan oleh Jimin. Sedang Jimin tersenyum lembut, dia duduk di bangku mini bar di dapur, menumpukan dagu pada tangannya sembari mengamati Yoongi yang sedang memasak dari belakang.

"Kau memang calon istri idaman, hyung. Kupastikan eommaku akan menerimamu dengan senang hati." Jimin tersenyum lebar, menggoda Yoongi. Ia senang melihat kedua pipi tembam itu dihiasi rona merah terang yang kontras dengan warna kulit pucatnya.

Jimin dapat melihat tubuh Yoongi menegang. Ia berhenti sejenak dari kegiatannya mencuci sayuran sebelum kembali melanjutkan mencuci sayur yang masih banyak.

"Lebih baik kau tidur saja, Park. Kau mengangguku." Yoongi tiba-tiba membalas setelah diam beberapa menit.

Jimin sedikit terkejut dengan nada bicara Yoongi yang terdengar sangat dingin di telinganya. Yah, lima puluh persen perkiraannya benar, reaksi macam ini yang akan ia terima dari Yoongi.

"Hyung, aku–"

"Keluar, Park. Kumohon."

Jimin hendak membuka mulutnya kembali, namun melihat Yoongi yang membanting pelan sayur yang baru selesai dicuci ke dalam baskom di atas konter marmer membuatnya mengurungkan niat. Ia menghela napas. Tak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain menuruti perintah Yoongi.

"Baiklah. Maaf hyung, aku tidak bermaksud–"

"Hentikan. Cukup. Berhenti berbicara jika kau tidak mau aku pergi dari sini dan berhenti mengucapkan kata maaf. Aku membenci kata-kata itu."

Jimin terdiam kembali. Lidahnya kelu. Ia berdiri dari bangku, melangkah keluar dapur dalam diam. Ia berencana tidur dulu untuk mengembalikan semangatnya yang turun, atau mungkin mandi air dingin lebih baik untuk mendinginkan pikirannya.

Tak lagi mendengar suara tapak kaki di lantai, Yoongi menoleh. Jimin sudah tidak ada di sana. Ia menghela napas panjang, tangannya menggenggam erat pingir konter marmer putih. Kepalanya menunduk, ia berusaha menstabilkan emosinya. Tak biasanya ia cepat terbawa emosi seperti ini. Yah, mungkin sekedar satu atau dua –lebih sebenarnya– kalimat sarkastik ia ucapkan.

"Yoongi. Kau harus bertahan. Demi Jiyoo. Ya, demi Jiyoo." Yoongi memejamkan kedua matanya, mengulang kalimat itu berkali-kali.

.

.

.

Setelah hampir dua jam penuh berkutat di dapur, Yoongi telah menyelesaikan masakannya. Tumis sayur, sup lobak, nasi hangat dan daging panggang telah tersaji di atas meja makan. Ia segera mencari Jimin. Walaupun ia masih tersisa sedikit rasa tidak ingin bertemu, kalau ia tidak mengajak Jimin makan kemudian bocah itu meninggal, kan dia juga yang harus tanggung jawab. Yoongi bakal dipenjara kalau begitu. Tidak akan, dia tidak mau.

Yoongi menghela napas. Tidak melihat Jimin di ruang tengah, ia melangkahkan kaki ke kamar Jimin dan berusaha menenangkan diri sebelum mengetuk pintu kamarnya.

"Jim?"

Tak terdengar sahutan dari kamar. Ia akhirnya memutuskan untuk masuk, lagipula ia juga ingin segera makan, ia lapar.

"Jim?" Yoongi mengedarkan pandangan ke sekitar kamar yang gelap. Tirai coklat muda itu telah ditutup oleh pemiliknya, menghalangi cahaya matahari senja yang berwarna jingga. Mendengar suara air dari kamar mandi, Yoongi mendatangi pintu kamar mandi itu, mengetuknya pelan.

Yoongi menyenderkan tubuhnya di kusen pintu "Jim? Kau di dalam?"

"Oh? Hyung? Kau sudah selesai?"

"Ya, cepatlah keluar. Aku akan menunggumu di meja makan."

"Ya."

Setelah mendapat jawaban singkat dari Jimin, Yoongi segera bergerak menuju meja makan dan menata alat-alat makan serta piring dan mangkuk nasi.

Tak lama Yoongi melihat sosok Jimin keluar dari kamarnya dengan handuk masih tersampir di pundak.

"Jim, keringkan rambutmu dengan benar. Kau bisa kena flu."

Jimin melirik Yoongi. "Apa pedulimu, hyung?"

Yoongi menautkan kedua alisnya mendapat jawaban sinis dari Jimin. "Apa masalahmu, Park?"

"Apa masalahku?! Seharusnya aku yang bertanya, apa masalahmu, hyung?" Jimin mulai meninggikan suaranya.

Yoongi berdiri. Ia tidak tahu, kenapa Jimin tiba-tiba menjadi seperti ini.

"Kau ini kenapa sih?! Kenapa tiba-tiba kau marah-marah sendiri?!"

Jimin diam, melirik Yoongi setelah duduk di bangku. Yoongi sendiri hanya menghela napas. Ia mendatangi Jimin, mengeringkan rambutnya dengan handuk putih yang tersampir di pundaknya. Jimin terdiam.

Ya, dia mengakui. Meskipun ia baru saja marah-marah, meluapkan kekesalannya pada Yoongi, bagaimanapun juga ia merindukan perhatian yang diberikan Yoongi.

Setelah rambut oranye terang itu sudah lumayan kering, Yoongi mengusap pelan kepala Jimin. Tanpa berkata-kata setelahnya, ia segera melangkahkan kaki untuk duduk. Ya, itu rencananya sebelum ada tangan yang menarik pinggangnya. Yoongi memekik terkejut, ia jatuh di pangkuan Jimin.

Jimin langsung menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Yoongi. Menghirup dalam aroma yang ia rindukan.

"Jim? Kau ini kenapa? Tadi marah-marah sendiri, sekarang tiba-tiba seperti ini."

Jimin menggeleng pelan. Namun merasakan pertemuan pundak dengan lehernya basah, Yoongi membulatkan kedua matanya. Ia menangkup pipi Jimin.

"Jim? Kenapa menangis?"

Sebenci-bencinya Yoongi pada Jimin, atas apa yang ia lakukan tiga tahun lalu, tetap saja hatinya selalu terbuka lebar bagi Jimin. Bahkan ketika Jimin akan menghancurkan hatinya untuk yang kedua kali, Yoongi akan tetap memberikan hatinya pada lelaki yang menjadi cinta pertamanya itu.

Kedua ibu jari Yoongi mengusap air mata Jimin yang terus meluncur mulus. Jimin hanya menggeleng pelan, kedua matanya terpejam.

"Aku lelah, hyung…"

Satu kalimat, dua kata. Dua kata yang membuat hatinya teriris. Ya, dia juga lelah. Lelah harus seperti ini terus. Yoongi hanya bisa mengelus surai oranye terang Jimin, menyalurkan perhatian yang telah lama tak ia berikan bagi Jimin.

"Lebih baik kita makan sekarang. Makanannya sudah mulai dingin."

Ini memang bukan waktu yang tepat bagi mereka untuk membicarakan peristiwa tiga tahun lalu. Yoongi masih belum sanggup mendengar semua yang akan dijelaskan Jimin. Peristiwa tiga tahun, kehancuran hubungan mereka karena satu penganggu.

Yoongi mengucapkan itu, kemudian berdiri dengan cepat. Berusaha mengingatkan dirinya atas janji yang tadi sudah ia ucapkan, ia harus bertahan demi Jiyoo. Ia tidak boleh lemah, terutama di hadapan Jimin.

Jimin sendiri tersenyum pahit, menghapus air mata yang masih tersisa. Akhirnya mereka berdua menghabiskan waktu makan malam dengan duduk berhadapan dalam sunyi. Tak ada yang ingin memecah keheningan di ruang itu.

…::***::…

Yoongi duduk di atas tempat tidur dengan seprai putih di kamar tamu villa Jimin. Ia baru saja selesai membersihkan tubuhnya, dan ponselnya masih ada di tangan Jimin. Yoongi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk, namun deringan telepon di nakas samping mengganggunya.

Dia tak tahu apakah ia harus mengangkatnya atau tidak. Dengan ragu, Yoongi mengangkat panggilan itu.

"Halo, hyung?"

Jimin.

"Um. Jim? Ada apa?"

"Bisakah kau datang ke kamarku sekarang?"

Yoongi terdiam sejenak. Menimbang-nimbang perkataan Jimin yang menyuruhnya untuk datang ke kamar lelaki itu.

"Ba… baiklah. Aku akan kesana dalam tiga menit."

"Um, oke. Bye, hyung."

Yoongi mengambil jaket warna hitam miliknya. Jaket yang tertinggal di villa ini semenjak terakhir kali ia menginap. Mungkin sekitar empat tahun yang lalu. Ia menemukannya di dalam lemari kamar tamu ini. Mungkin Jimin yang memindahkannya setelah mereka putus –tepatnya Yoongi yang memutuskan mereka secara sepihak– tiga tahun lalu, karena seingat Yoongi, Jimin selalu menyimpan pakaian Yoongi di lemari pribadinya.

"Karena Yoongi-hyung adalah sosok yang paling spesial. Karena kau menempati urutan pertama dalam hidupku"

Ya, Jimin mengatakan itu berulang-ulang dulu. Dulu, ketika mereka masih dalam masa berpacaran. Yoongi hanya tersenyum kecil dan menghela napas. Ia segera melangkahkan kaki menuju kamar Jimin yang terletak di lantai yang sama, namun berada di ujung koridor.

Yoongi mengetuk pintu kamar itu pelan.

"Masuk, hyung."

Ia masuk ketika mendengar suara Jimin dari dalam. Ia melihat Jimin sedang duduk di atas tempat tidur, bersandar pada bantalnya sambil membaca buku bersampul putih.

Melihat kehadiran Yoongi di kamarnya, Jimin segera menutup buku itu dan berdiri untuk mendatangi Yoongi. Tangan kanannya merambat mengelus pipi tembam yang selalu berhasil membuatnya gemas. Sedang tangan kiri memeluk mesra pinggang mungil Yoongi.

"Jim–"

Jimin menempelkan telunjuknya pada bibir Yoongi. "Sst, jangan berbicara apapun, hyung."

"Kau memakai jaket ini kembali, hyung?" Jimin menarik pelan jaket hitam Yoongi dengan warna yang mulai pudar.

"Ya. Aku… menemukannya di lemari."

"Hmm. Aku merindukan masa-masa itu, hyung…"

Jimin kemudian langsung memeluk Yoongi erat, namun lengan Yoongi masih menggantung di udara.

"Jim?! Apa yang–"

Yoongi yang terkejut hendak bertanya namun ucapannya diputus karena bibir lembut Jimin bertemu dengan bibirnya.

"Mmph!"

Semakin Yoongi berusaha memberontak, semakin dalam Jimin mencumbu bibir merah Yoongi. Jimin memejamkan kedua matanya, menikmati ciuman bersama Yoongi yang ia rindukan tiga tahun terakhir ini. Rasanya benar-benar nikmat, tubuhnya terasa ringan sekarang, seperti melayang.

Yoongi pun lama-lama terbuai. Ia tahu, ia benar-benar lemah akan Jimin. Pria yang telah membuat hatinya hancur ini tetap punya pengaruh paling besar, Park Jimin akan selalu menjadi kelemahan terbesarnya.

Lengan Yoongi kini melingkar di leher Jimin, turut menikmati cumbuan mesra yang mengambil pasokan oksigen dalam tubuh. Akal sehatnya sudah tak bekerja lagi, ciuman dengan Jimin memang selalu nikmat. Jimin tahu bagaimana cara membuat dirinya melenguh nikmat hanya dengan ciuman sekalipun tanpa lidah.

Bagaimana cara Jimin menyesap bibir Yoongi, menggigitnya dan menjilatnya lembut. Semua itu selalu membuat Yoongi lupa daratan. Inilah yang ditakutkan Yoongi, ia selalu terseret arus yang diciptakan Park Jimin.

Yoongi tak tahu sejak kapan, tiba-tiba kakinya telah menabrak tempat tidur. Jimin merebahkannya dengan lembut dan perlahan, seolah ia akan pecah jika diperlakukan kasar sedikit saja. Ciuman mereka terlepas hanya sebentar, Jimin akan selalu langsung kembali menautkan kedua bibir mereka yang telah bengkak karena ciuman.

Tangan Jimin bekerja dengan cepat. Tiba-tiba saja jaketnya telah ditanggalkan. Tangan Jimin bermain-main dari luar kaos putih tipis milik Yoongi. Jemarinya dengan nakal mengelus puting Yoongi dari luar, membuatnya mencuat tegang dan dapat dilihat jelas dari balik kaos tipis.

Jimin mengecup leher Yoongi. Membuat tubuh pemiliknya bergetar. Yoongi terangsang dengan cepat –apalagi karena yang menyentuhnya kali ini adalah Jimin–.

Jimin kemudian melepas kaos putih Yoongi, Yoongi sendiri merengek karena Jimin melepas bajunya asal-asalan dan tidak sabaran.

Namun setelah kaos itu terlepas, Jimin terdiam. Kaos putih Yoongi ia lempar ke lantai. Tangannya meraba tubuh Yoongi. Tubuh putih pucat yang kini tak lagi polos. Tubuh yang penuh dengan bercak-bercak merah terang hingga keunguan.

"Apa ini?"

Yoongi terdiam. Ia baru ingat, kemarin malam Taehyung meninggalkan banyak kiss mark di tubuhnya. Yoongi menatap Jimin, menatap kedua matanya. Mata yang memancarkan kesedihan dan kekecewaan.

"Siapa yang melakukan ini, hyung?"

Yoongi diam. Dia tidak akan menjawabnya. Sudah cukup Taehyung memutuskan persahabatannya dengan Jimin setelah ia bercerita tentang peristiwa yang menghancurkan hatinya tiga tahun lalu itu. Yoongi tidak akan pernah mencoba mengadu domba kedua adik kelas yang begitu ia sayangi.

"Siapa, hyung?! Apa kekasihmu yang memberikannya?! Tunanganmu?! Suamimu?!" Jimin meninggikan suara, kedua matanya melotot tajam, kemarahan begitu terlihat.

Yoongi mendudukkan dirinya di atas tempat tidur, kedua lengan Jimin masih mengungkung dirinya. "Jim–"

"Oh. Ini pasti ulah Taehyung, ya kan?"

Yoongi terdiam, kepalanya ia tundukkan dalam-dalam tak berani menatap Jimin yang sedang marah.

"Kenapa kau harus marah, Jim?"

Jimin terdiam, sedikit terkejut. Yoongi sendiri terkejut, dari mana ia dapat keberanian untuk nekat mengucapkan kalimat itu dalam keadaan seperti ini.

Ia takut-takut memandang Jimin. Rahangnya mengeras, gigi menggertak. Jimin benar-benar sedang menahan emosinya yang hampir meledak.

Tiba-tiba suara ponsel mengejutkan mereka. Yoongi dan Jimin sama-sama menoleh ke nakas di samping kanan tempat tidur Jimin.

Nama yang tertera di layar membuat Yoongi tersenyum sendu.

[Jeon Jungkook is calling]

"Lihat, Jim. Kekasihmu menelepon. Angkatlah, anggap saja malam ini tidak pernah terjadi dan kita tidak akan membahasnya lagi." Yoongi menatap Jimin dengan senyum kecil.

Yoongi segera mendorong Jimin pelan, ia mengambil kaos dan jaketnya yang ada di lantai.

"Maaf, Jim."

Dengan kata maaf itu kemudian Yoongi berlari dengan kencang, membating pelan pintu kamar Jimin.

Sedang Jimin hanya memperhatikan pintu yang baru saja ditutup Yoongi.

"Maaf, hyung, katamu? Maaf?" Jimin tersenyum sendu, mendudukkan dirinya di atas kasur.

"Kau benar, hyung. Aku juga membenci kata-kata itu. Sangat benci, Yoongi-hyung…"

Jimin menangis. Setelah sekian lama, ia menangis kembali. Ia membanting tubuhnya sendiri ke atas seprai putih, kedua lengan menutupi matanya.

"Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Yoongi -hyung… Maaf."

.

.

.

To be Continued.


Author's note:

Ya~ Saya kembali dengan chapter dua di pukul 23.00 ini "v"

Tengkuk saya sekarang pegel, ciyusan deh. /alay/

Semoga readers sekalin menikmati fanfic ini, terima kasih juga atas reviewnya, fav, dan follow.

Balasan review:

AnaKondom(guest): Terima kasih sudah menyempatkan diri membaca dan memberi review. Pertanyaan kamu bakal terjawab di chapter yang akan datang -entah kapan. Tapi pasti akan terjawab, kok. Dan saya juga pecinta harem!Yoongi, jadi maafkan saya yang membuat Yoongi seolah mau disentuh siapa saja. Pinkerbell97: Waw, ga nyangka bakal dinotis kak Pinkerbell. Teima kasih buat reviewnya dan sudah baca fanfic ini. Saya mah ngeship Yoongi dengan siapa saja, asal dia bottomnya /uhuk/. Dan pertanyaan apakah TaeGi pacaran atau nggak... sebenarnya bisa dilihat dari caraku bikin deskripsi kalau kak Pinkerbell sadar XD tapi kalau memang bingung bakal terjawab di chapter yang akan datang. Hintnya ada satu kalimat yang aku buat jadi petunjuk hubungan mereka di chapter satu moment TaeGi akhir :3 kalau di chapter ini juga ada satu paragraf. Hanami96: Terima kasih sudah membaca dan mereview fanfic ini. Hubungan mereka... ada petunjuknya di chapter 1, salah satu kalimat yang saya gunakan untuk mendeskripsikan hubungan mereka, emang terselubung sih XD tapi bakal terjawab di chapter-chapter depan, kok. Sabar menunggu, ya! teplon: Yah XD Jimin menyakiti Yoonginya tersayang yang jelas. Bakal terjawab di chapter yang mungkin agak jauh?