"Aku menemukannya," Sasuke dengan gerakan tergesa membuka pintu coklat di depannya, ternganga sejenak mendapati pemandangan pertama yang ia lihat lalu mengumpat kesal. "Oh sial, jangan lagi. Demi Tuhan."

"Kau tahu yang disebut mengetuk pintu kan, Sasuke." gerutu Perempuan cantik berambut pirang sambil memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan. "Kau mengacaukan makan siang kami."

Sasuke mendelik sejenak. Kalau saja ia tidak mengenal pasangan di depannya dengan baik, mungkin ia sudah melaporkan dua orang itu untuk tindakan melanggar asusila.

"Ada apa Sasuke," kali ini suara tenang Sai yang terdengar. Posisinya sudah lebih baik dari tadi. Ia Bersandar di sofa seolah tidak pernah terjadi apa-apa."Kau terlihat kacau."

"Aku menemukannya," ulang Sasuke sekali lagi. Diabaikannya tatapan jengah Ino karena ia terlihat idiot dengan kalimat ambigu itu. Sasuke mengacak rambutnya frustasi, "Sakura, aku menemukannya."

Kali ini Ino menoleh cepat. Matanya membulat. "Dia kembali?" tanyanya tak percaya.

"Mungkin saja tidak, darling. Sasuke baru saja datang dari Suna, apa mungkin?"

"Tidak," sahut Sasuke cepat, "Ino benar, dia sudah kembali."

Ino menjerit kecil lalu memeluk Sai erat. "Aku tidak menyangka ini, kupikir dia benar-benar akan menghilang."

"Selamat ya, darling."

Ino mengangguk sambil mengeratkan pelukannya.

"Cepat beritahu Naruto, Sasuke. Kita berkumpul malam ini di markas."

Alis Sasuke tertaut mendengar ucapan Ino, gurat keberatan jelas terlihat di wajahnya. "Kenapa tidak sekarang? Dobe tidak terlalu sibuk jam-jam segini."

"Ikuti saja saranku, Mister." celetuk Ino sarkas, "Aku tahu kau sangat bersemangat, tapi kendalikan hormon ababilmu itu."

"Ck." decak Sasuke kesal. Ia melempar punggungnya ke belakang sambil mengusak rambutnya kasar. Penampilannya jauh dari kata baik. Ia benar-benar kehilangan konsentrasi setelah pertemuannya dengan Sakura kemarin. Sialnya, rapat pemegang saham langsung menyambutnya begitu ia mendarat dari Suna. Membuatnya terpaksa terkurung di ruang rapat hingga larut malam lalu tertidur di ruangannya hingga pagi tadi.

"Sebaiknya kau pulang dulu," suara cempreng Ino kembali terdengar. Sasuke hanya mendengus pelan menanggapinya. Memaksa Ino yang tengah bersiap pergi memicing sejenak, "Jangan bilang kau belum bertemu Keanu? Huh kau kejam sekali."

Sasuke tersentak mendengar ucapan Ino. Itu benar, bagaimana ia bisa melupakan. Sakura mungkin saja berarti, tapi Keanu lebih dari apapun.

"Sayang sekali, Sasuke." gumaman Sai membangunkannya, "Kali ini aku sependapat dengannya."

"See?" Ino berucap penuh kemenangan, "Aku pergi dulu darling," dikecupnya pipi Sai singkat, "Aku mau menjemput Inojin, apa kau mau aku menjemputnya juga?"

Sasuke menghela nafas panjang lalu menggeleng pelan. "Aku bisa pergi sendiri," gumamnya sambil bangkit dari duduknya,"sampai jumpa jam delapan."


"Sakura memiliki seorang anak?" manik bening Ino membulat sempurna. Ah, sebenarnya wajar jika sahabatnya itu memiliki anak. Sakura bahkan menikah labih cepat dari mereka semua. Tapi- "Seperti apa? Berapa umurnya?"

Sasuke berpikir sejenak, ingatannya kembali pada bocah tanggung bermata tajam yang sempat menatap tak suka padanya.

"Sakura-chan di sini, kenapa dia tidak mencari salah satu diantara kita?" kali ini suara Naruto yang terdengar. "Apa dia lupa?" tiba-tiba nadanya menjadi gusar." Apa dia masih menghindari kita?"

"Ish, Naruto. Berhenti mondar-mandir. Kau membuatku pusing." protes Ino sebal saat dilihatnya Naruto terus gelisah sejak tadi.

"Aku hanya penasaran-ttebayo."

"Kau kira aku tidak?" sergah Ino kesal. " Sasuke, kenapa kau diam? Mana hormon sialanmu tadi siang?"

Sasuke berdecak. Tangan kanannya memijit pelipis pelan. Sampai sekarang ia masih belum paham, bagaimana ia bisa berakhir dengan dua makhluk ribut di depannya, dan satu alien yang doyan senyum tapi minim kontribusi -Giliran memberi kontribusi selalu bikin naik pitam.

"Sasuke-"

"Perempuan," ucap Sasuke tanpa meninggalkan pandangannya pada gelas kecilnya yang berembun. "Aku tidak yakin berapa umurnya, mungkin seumuran Inojin. Cantik, memiliki wajah seperti Sakura, dan-"

Tiga pasang mata menatap penuh kepadanya. Membuatnya sedikit jengah. Apa mereka tak terlalu berlebihan memasang ekspresi seperti itu?

"Kurasa hanya itu."

"Eh."

"Huh?"

"Hn?"

Tiga orang itu memberi reaksi berbeda secara bersamaan. Terlihat jelas kalau mereka sangat tidak puas dengan penjelasan Sasuke.

"Hanya itu?" Ino menyipit curiga. Mereka bersama sejak lama, ia tahu Sasuke pasti menyembunyikan sesuatu dari mereka.

Sasuke mengendikkan bahu. Ia tidak mungkin mengatakan Sarada berambut hitam sepertinya. itu akan sedikit aneh mengingat Sakura tidak memiliki gen rambut hitam di keluarganya. Dan mata itu, ia tidak akan pernah melupakan sensasi aneh saat matanya bertemu dengan mata bocah itu. Mata yang hitam sempurna.

"Hanya itu," tandas Sasuke tegas, "Memangnya apalagi yang kau harapkan? Aku sudah bilang kami hanya bertemu sebentar."

Ino masih terlihat belum puas dengan jawabannya, sementara Naruto masih mencak-mencak tak jelas.

"Anak itu, lebih mirip Neji atau Sakura ya?"

gumaman Sai -meski terkesan monolog- sukses membuat semua mata kembali menatap Sasuke horror. Membuatnya sweatdrop seketika, ia benar-benar tidak suka dengan alien pucat itu.


"Otou-san, aku pulang," Sarada berteriak nyaring hingga suaranya terdengar menggema di seluruh ruangan. "Otou-san." teriaknya sekali lagi sambil berlari ke arah teras belakang.

"Sarada lepas dulu tasmu," protes Sakura saat menyadari Sarada bahkan tidak melepas tas punggungnya. "Mandi dulu sebelum bertemu Otou-san, sayang. Kau bau."

"Ouww...,"

Suara dari teras belakang menggagalkan rencana Sakura untuk menyeret puterinya ke kamar untuk membersihkan diri.

"Berapa tinggimu? Apa 170? Ku kira kau baru sepuluh tahun saat meninggalkanku tempo hari. Kejam sekali."

Terdengar suara kikikan Sarada dari arah yang sama. Sakura sudah bisa membayangkan apa yang terjadi, kadang ia berfikir kalau anak itu terlalu manja pada Otou-sannya.

"Turunkan dia Neji. Astaga, dia sudah remaja dan kau masih terus menggendongnya." ucapnya ketus sambil meletakkan sepiring persik kering di meja.

"Kenapa dengannya? Dia selalu cemberut setiap melihatku, Otou-san." rajuk Sarada sambil mengalungkan kedua lengannya di leher sang ayah.

"Aku tidak tahu, mungkin dia cemburu. Biarkan saja dia." timpal Neji yang disambut kekehan senang Sarada.

Sakura memutar matanya bosan melihat adegan di depannya. "Terserah kalian, aku tidak peduli," ucapnya kemudian sok kesal, "Lebih baik aku mandi sementara kalian menghabiskan drama murahan itu."

"Kau terlihat jelek saat marah, Ma." teriak Sarada saat dirasanya Sakura sudah cukup jauh dari jangkauan. Bagaimanapun ia tidak ingin membangunkan jiwa monster mamanya. Yah, meski itu sering terjadi.

"Oh sayangku, jangan katakan itu. Aku tidak mau mengambil resiko tidur di sofa nanti malam."

"Kau bisa tidur bersama Pakura, Otou-san."

Pakura adalah anjing harder peliharaan mereka. Neji membelinya saat ulang tahun ke enam Sarada.

"Jadi sekarang kau ada di pihak siapa gadis kecil?" ucap Neji dengan suara yang diberat-beratkan. Membuat Sarada tertawa geli tanpa melepaskan lengannya.

"Siapapun yang bersedia menjadi kapten untuk kapal bajak lautku."

"Woah. Kita sudah mendapatkan pemenangnya kalau begitu."

"Hey kalian, berhenti berkhayal. Aku tidak mau memelihara dua orang gila di rumahku." Teriak Sakura yang langsung disambut gelak tawa keduanya.


TBC.

Chapt. 2 is up, update kilat karena besok saya tidak akan terhubung ke internet. Hihii

Zale : setiap chapt memang pendek-pendek sih, tapi tenang saja, saya usahakan setiap hari bisa update. Terimakasih sudah baca yaa..

Guest : maafkan kelalaian saya, terimaksih sudah membaca. Chapt. Berikutnya tolong baca dengan hati tenang yaa, notenya akan sy kurangi. ^^

Semuanya terimaksih, luph-Beb