Hermione tidak perlu menoleh pada Draco untuk menjawab apa yang dikatakannya. "Yang bisa kau lakukan hanyalah, mengejekku dan membuat hidupku tak berarti." Hermione mempercepat langkahnya.
Draco langsung menahan bahu Hermione dan memutarnya agar berhadapan dengannya "lihat aku." Draco mendesis berbahaya.
Look at me
.
Chapter 2
.
Disclaimer : Semua tokoh yang ada di fic ini milik J.K Rowling. Yang tidak kalian ketahui, itu punya saya. Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun. Saya hanya seorang fans yang suka berimajinasi.
DMXHG
Warning : Typos, OOC, EYD gak sesuai, kapitalisasi, alur kecepeten, titik koma bermasalah, dll
Created : 15 Maret 2014
Publish : 15 Maret 2014
.
.
Hermione hanya bisa terdiam kaku dibawah tatapan tajam sepasang mata abu abu itu. Lebih tepatnya, ia ketakutan. Draco sadar bahwa ia telah membuat Hermione ketakutan. Segera dilepas tangannya dari bahu Hermione agar Hermione bisa rileks.
"Maaf," Draco merasa sangat bodoh, bukannya membantu malah menakuti. "aku tidak bermaksud– lupakan saja."
Hermione hanya mengangguk. "Aku harus menemui ayahku." Saat Hermione mulai menjauh, Draco tiba tiba memanggilnya.
"Hermione," Draco segera berlari mengikuti Hermione. "aku tau masalahmu, aku bisa membantumu. Sungguh."
Baru kali ini Hermione merasa bahwa mata kelabu itu hangat juga. Hermione memang butuh seseorang sekarang. Tapi Ego-nya lebih tinggi sekarang. "Tidak. Terima kasih Malfoy, aku bisa mengatasinya sendiri."
Hemione berjalan meninggalkan Draco. Draco tidak habis akal, ia terus mengikuti Hermione. Hermione mulai merasa risih dengan Draco yang terus mengikutinya. "Berhenti mengikutiku Malfoy."
"Tidak, sampai kau mau mendengarkanku." Draco menjawab dengan santai sambil terus mengikuti Hermione. Ide brilian sudah tertata dengan baik di kepalanya.
Hermione hanya mendengus dan mengabaikan Draco. Pintu kamar Mr. Granger sudah terlihat, Hemione sedikit merasa bersyukur dengan ini. Artinya, ia akan berpisah dari Draco sebentar lagi.
Sampai di depan kamar, Hermione berbalik untuk melihat Draco. "Sudah puas mengikutiku Malfoy? Sekarang kau bisa meninggalkanku Malfoy"
"Siapa yang mau mengikutimu miss?" Draco menyeringai. "Aku hanya mau menjenguk Mr. Granger"
Hermione memuta bola mata, "Sejak kapan seorang Malfoy mau menjenguk seorang Muggle?" nada sarkatisnya tidak ketinggalan.
Draco menaruh ibu jari dan telunju miliknya di dagunya seakan akan ia sedang berpikir, "Sejak... sejak seorang Malfoy merasakan cinta mungkin." Ia menyeiringai - lagi –
Hermione hanya diam. Diantara tidak percaya dan kaget. "Sejak kapan seorang Malfoy merasakan cinta?"
"Entahlah... mungkin tahun... lupakan saja," ia mulai mengacak rambutnya "apa salah menjenguk seseoang yang sedang sakit? Apalagi yang sakit adalah ayah dari pahlawan dunia sihir. Apa itu salah?"
Hermione tidak mau langsung mempecayai si licik Malfoy ini. Meski sudah terlihat dari mata Draco bahwa dia tidak akan bertindak sesuatu yang membahayakan. Maka dari itu, ia mencari alasan yang lebih rasional, "em... kau tau bahwa jam besuk sudah habis, jadi kau tidak bisa menjenguk ayahku saat ini."
Daco memandang Hermione bosan – walau sebenarya ia tidak pernah bosan memandanginya – "Kau tau, aku seorang Malfoy. Dan seorang Malfoy selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Jadi, lebih baik kau mempersilahkan aku masuk. Atau jangan jangan, kau masih ingin berada di dekatku." Seringainya bertambah lebar membayangkan itu benar benar terjadi.
Oke, alasan itu memang rasional. Tapi tidak untuk seorang Malfoy. Hermione langsung membukakan pintu tanpa menjawab perkataan Draco. Draco lansung menelusupkan tangannya di pinggang Hermione seakan mereka berpacaran. Mendorong Hermione masuk ke kamar Mr. Granger dan menutup pintu.
"Selamat malam Mr. Granger." Draco tersenyum. Senyum tulus. Senyuman sebenarnya dari seorang Draco Malfoy.
Mr. Granger tersenyum bahagia mengira Draco adalah pacar Hermione. "Mr. Malfoy? Jadi kau seseorang yang Mione sembunyikan dariku," senyum bahagianya masih menempel di wajahnya yang pucat "kenapa kau selalu menyembunyikannya Mione?"
Hermione kembali tersadar langsung melepas pelukan Draco dan langsung mendorongnya sampai Draco nyaris terjungkal jika tidak berpegangan pada meja di dekatnya. "Tidak, bukan dia orangnya. Tidak mungkin dia yang menjadi pacarku." Ia beusaha menjaga nada marahnya Sejujurnya saat dipelukan Draco tadi, jantungnya berdetak 5 kali lebih cepat.
Draco mulai memperbaiki posisi berdirinya, "Tidak perlu berpura pura lagi Mione saying."
"Diam kau Malfoy." Hermione mengarahkan jari telunjuknya tepa di depan hidung Draco. " . . . .busuk." ia mendesis bahaya.
Draco hanya tersenyum – Hermione mengakui bahwa senyumannya sangat manis – ia sudah memperkirakan kejadian semacam ini akan terjadi. Ya, semua ini adalah rencana yang baru saja disusunnya tadi. "Tidak usah berakting lagi Mione." Katanya sembari mendekat ke Mr. Granger.
"Jadi kau adalah pacarnya?" Tanya Mr. Granger tanpa basa basi.
"Emm... sebenanya ya. Tapi dia tidak pernah mau menunjukkannya di depan umum," Draco memasang tampang memelas. "Kadang aku bepikir Mr. Granger, apa aku sangat buruk, atau sangat jelek dan tidak pantas untuk menunjukkan di tempat umum bahwa kami berpacaran. Jadi, dia selalu berakting bahwa kami ini musuh."
Draco menghela nafas, dan Mr. Granger memandangnya simpati. "Maaf Mr. Granger aku kesini bukan untuk curhat," Draco membenarkan posisi duduknya "Bagaimana keadaanmu Mr. Granger? Maaf aku baru bisa menjengukmu sekarang mengingat posisiku sekarang di Malfoy Corps."
Mr. Granger tersenyum dipaksakan "Tidak Draco. Kau adalah laki laki yang baik, sopan, tau tata karma, pintar, tampan dan mapan. Kau tidak buruk rupa sama sekali Draco. Emm.. Maaf, boleh aku memanggilmu Draco?"
Draco mengangguk. Hatinya ringan sekarang. Mr. Granger dapat dipastikan akan menerima Draco sebagai menantunya.
"Kalau begitu, panggil aku William atau Will. Dan Mione," Hermione yang sejak tadi menahan emosinya di pojok ruangan, kini mulai diikutkan ke dalam percakapan. "Kenapa kau tidak mau mengakui Draco sebagai pacamu di depan umum Mione?"
Jika yang bertanya bukan ayahnya, sudah pasti dia akan membentak orang itu sekaligus memberinya kutukan pada saat itu juga. "Ehm, begini, biar kuluruskan" Hermione menegakkan badannya. "Dad, aku dan Malfoy tidak pernah berpacaran. Aku dan dia baru saja bertemu tadi setelah lulus dari Hogwarts. Bahkan, kami saling memanggil nama belakang"
"Kau lihat sendiri Will, dia tidak pernah mau mengakuinya," topeng memelasnya masih belum dilepas "dan mengenai nama belakang. Hanya Mione yang memanggilku Malfoy. Aku tetap memanggil Mione dengan nama kecilnya, karena aku beharap dia akan menjadi Malfoy nantinya."
Hermione terkesiap mendengarnya. Sementara senyum Mr. Granger makin lebar. "Kau, Malfoy," Hermione berjalan menuju Draco dan langsung mencengkram kerah bajunya "keluar kau! Atau akan kusihir kau menjadi Musang!"
"Hermione" kalau ayahnya memanggilnya dengan nama itu, berarti ia sedang marah. Hermione sedikit kaget,setelah ia lulus dari Hogwarts ayahnya sama sekali tidak pernah memarahinya. Dan sekarang, ia memarahinya hanya karena, Draco? "Bersikap sopanlah pada Draco. Ia hanya bemaksud baik Hermione. Lagipula Draco adalah anak yang baik, aku senang jika ia yang menjadi menantuku nantinya Mione"
Hermione yakin Draco telah meng-imperio ayahnya. "Biarkan kami berdua bicara di depan Dad." Hermione tersenyum pada ayahnya, lalu memberi tatapan datar pada Draco. Hermione langsung menarik tangan Draco keluar ruangan dengan sedikit kasar.
Sampai di luar ruangan Hermione langsung melepaskan pegangannya dan memberikan Draco Death Glarenya. "Apa maksud dari semua ini?" Hermione berusaha menahan air matanya, harga dirinya sebagai wanita seakan diinjak injak oleh Draco.
Draco ingin sekali memeluk penyihir berambut coklat itu. Memeluknya, menenangkannya, lalu meminta maaf padanya. Tapi tidak bisa. Jangankan memeluknya, membuat perempuan ini melihatnya saja sudah sangat susah. "Aku hanya ingin membantumu Hermione."
"Dengan cara?" Hermione masih tidak mau menatap Draco.
"Aku bisa menikahimu." Draco memandang Hermione lembut. "Kau ingin mengadakan pernikahan itu kapan? Besok? Lusa? Sekarang? Aku bisa Hermione."
Hermione memandang heran pada Draco "Aku tidak tau darimana kau tau bahwa ayahku ingin aku menikah," ia mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya "dengar, pernikahan adalah hubungan yang sakral, itu bukan permainan. Dan, atas dasar apa kau bersedia menikahiku?"
"Karena... Aku mencintaimu Hermione," Draco tidak menatap Hermione. Wajahnya memerah sekarang. Pasti.
Hermione melongo sekarang. Tapi bebohong kalau ia tidak merasakan ratusan kupu kupu terbang di perutnya. Hermione tidak mengerti apa arti itu, karena ia tidak pernah merasakannya saat bersama Ron.
"Tidak mungkin," Hermione menggeleng cepat "mana mungkin seorang Malfoy mencintai Muggle-Born?"
"Tidak ada yang tidak mungkin Mione." Suaranya lembut.
"Oke," Hermione mengacak rambut coklat ikalnya "apapun itu kau pasti mempunyai alasan untuk menikahiku. Dan yang pasti, kau tidak mencintaiku."
"Baiklah," Draco mulai kehabisan kesabarannya "apapun alasanku untuk menikahimu yang sekarang sedang kaupikirkan. Kita setuju?"
"Setuju apa?" Hermione mengenyit bingung.
"Kita menikah."
"What?" Hermione membelalakkan matanya "Menikah? Kita baru saja bertemu, kita tidak saling mengetahui masing masing dan... astaga, kalau kita menikah, ciuman pertamaku adalah saat pernikahan dan–"
"Tunggu," Draco mengangkat tangannya pertanda menyuruh Hermione menghentikan ucapannya. "Kau tidak penah berciuman sebelumnya?"
"Tidak. Kenapa?"
Tanpa aba aba, Draco langsung mencium Hermione lembut. Hermione kaget, tapi menikmatinya. Draco menarik diri, sebenarnya ia masih ingin melanjutkannya lebih lama, tapi takut Hermione merasa diinjak haga dirinya. Mengingat Hermione bukan seperti wanita lain yang menggilainya.
Draco tersenyum. "Lihat? Ciuman pertamamu bukan pada saat pernikahan. Sebelum terlambat membuat ayahmu bahagia karena tidak lama lagi ia akan dijemput ?"
Hermione berpikir, memang hanya Draco yang bisa membantunya sekarang. "Baik," Ia menghela nafas dan sedikit kaget dengan keputusannya barusan, "tapi, saat ayahku sudah tidak ada lagi. Aku ingin bercerai dan mencari laki laki yang benar benar kucintai."
Draco melongo sekarang. "Apa? Bercerai setelah... Great Hermione, ayahmu diprediksikan akan pergi sekitar dua minggu lagi. Jadi, kita hanya menikah dua minggu? Para penduduk sihir pasti akan berpikiran negatif padaku bukan padamu."
"Oke oke, 3 bulan?" Hermione berharap Draco menyetujuinya, karena ia tidak bisa hidup dengan Daco terlalu lama."
Draco tidak yakin dapat mengubah pandangan Hermione pada dirinya selama 3 bulan. "4 bulan."
"Argh.." Hermione mengacak rambunya frustasi "Baik, aku setuju. Kau menang Ferret."
Draco menyeringai senang. "Mulai sekarang, panggil aku Draco. Mengingat tidak lama lagi kau akan menjadi seorang Malfoy."
"Baik Dra– Draco"
"Bagus." Draco menarik Hermione masuk ke kamar Mr. Granger. Draco bejalan menuju Mr. Granger dengan Hemione di belakannya.
Draco berjongkok di samping ranjang Mr. Granger. "William, aku ingin meminta restumu untuk menikahi putrimu."
Mr. Granger tersenyum senang mendengarnya. Senyumannya lebih lebar dari yang tadi. "Tentu Draco, aku pasti akan memberikan restu padamu Draco."
Draco tersenyum senang. "Terima kasih William. Terima kasih."
Kini Draco bangkit lalu berjongkok di depan Hermione lalu mengeluarkan kotak kecil dengan beludru hijau. Hermione sedikit kaget dengan ini. Mana mungkin Draco sudah siap secepat ini. Draco membuka kotak itu, terlihatlah cincin perak dengan satu berlian kecil tapi berkualitas. Di sisi lainnya terukir inisial mereka 'DH', Hermione tidak tau bahwa Draco selalu membawa cincin itu sejak 2 tahun yang lalu.
"Hermione Jean Granger, Will you mary me?"
"Emm... Yes, I will." Hermione tidak bisa menahan senyumannya, berharap Draco mengiranya itu sebagian dari akting.
Draco memasangkan cincin itu di jari manis Hermione – Awalnya Draco bingung dimana jari manis Hermione, karena semuanya terlihat manis – Draco bangkit lalu memeluk Hermione erat.
Mr. Granger meneteskan air mata melihat peristiwa ini. Putrinya akan hidup dengan orang yang tepat. Mr. Granger tentu tidak tau bahwa Hemione melakukan ini untuknya, bukan karena cinta. Atau mungkin, ia belum menyadari cintanya?
.
.
.
TBC
Yee :D selesai... pulang sekolah langsung ngetik sampe maghrib XD Gimana gimana fic ini? ._. Jelas gak banget karena hanya dibuat dalam waktu 1 hari '-' Oh iya, Mr. Granger enaknya mati atau gak? XD
Ini udah lumayan panjang kan :p 1633 kata lumayan daripada kemaren XD
Big thanks buat semua review,follow dan fav ^^ Thanks guys *peluk satu satu*
Special thanks buat EstinLH yang selalu ngedukung baik dari review,BBM, maupun di RL ^^ Thanks... You're my #BEst friends that i ever had :D
Last... Review? Aku harap reviewnya lebih dari 40 ya :p
LovelYuzka,
Jember – Jawa Timur, 15 Maret 2014 . 19:23 WIB
