Ketemu lagi! Huft, sebenarnya aku bingung gimana mau lanjutin cerita ini, soalnya awalnya aja udah aneh, jadi gatau musti lanjutinnya gimana ( =w=)a
Tapi berkat Yang Maha Kuasa, akhirnya fic ini bisa lanjut! Yaha! (mendadak alim di kalimat pertama)
buat yang udah baca chapter dua ini, jangan tanya kenapa banyak keanehan di ceritanya, karena author juga gatau #Plakk *dihajar masa*
Yosh! Tanpa basa-basi lagi, silakan baca!
DESTINY
Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
FanFiciton © Ameru-Genjirou-Sawada
"Akhirnya Tsunayoshi-kun mengatakannya juga—"
Seorang berambut putih dengan tattoo berwarna ungu dimata kirinya, tengah melihat pada sebuah cermin kecil. Mulutnya asyik mengunyah marshmallow dengan nikmatnya. Senyumannya—atau lebih tepatnya seringainya—nampak makin lebar.
"Cepat sekali.." Timpal seseorang dengan setelan jas hitam dan topi fedora. Ia duduk di sofa panjang diruangan itu, sambil bermain dengan bunglon peliharaannya. Si rambut putih menatap orang itu sebentar, lalu menatap kembali ke cermin yang memantulkan bayangan Tsuna dan Hibari itu.
"Tentu, semakin cepat manusia itu mati, semakin baik~" Ujar si rambut putih sambil memainkan marshmallow ditangannya.
Dia—Byakuran—adalah ketua dari perkumpulan shinigami. Dia adalah orang yang mengatur para shinigami dalam menjalankan tugasnya. Beberapa saat manik Byakuran menatap cermin itu lagi.
"Hem…"
"Kau ragu?" Tanya orang bertopi itu.
"Hem.., orang itu nampaknya tidak percaya dengan Tsunayoshi-kun.."
"Fuh, itu karena shinigami—seperti kita—tidak pernah menampakkan diri pada manusia secara terang-terangan seperti itu.."
"Hm~ Tapi percaya atau tidak, itu tidak masalah, selama kabar kematian terus dikumandangkan, hal itu tidak menjadi penting~" Ia mengunyah marshmallow lagi.
"Hm. Lebih baik cepat selesai…" Ujar lelaki bertopi fedora itu, lalu menghilang terbawa angin. Meninggalkan Byakuran yang tengah tersenyum melihat pantulan di cermin itu.
"Ap—"
Hibari terdiam. Entah mengapa, rasanya ia ingin sekali mengigit anak didepannya ini sampai mati. Ia, karnivora terkuat di Namimori, bahkan diseluruh Jepang, dikatakan akan mati oleh seorang bocah ingusan yang baru ia kenal hari ini? Otak anak ini pasti sudah sobek.
"Berani sekali kau mengatakan itu padaku…" Ujar Hibari sambil mengeluarkan aura tidak mengenakan. Namun entah kena setan apa, Tsuna tetap tenang—seperti bukan Tsuna yang Hibari kenal tadi pagi.
"Aku tidak bohong, Hibari-san.." Suara bariton Tsuna keluar. Hibari agak membulatkan matanya mendengar suara anak itu—walau masih menunjukkan muka stoic-nya.
"Hn. Kau berani sekali, tahu dari mana kalau aku akan segera mati?" Hibari bertanya sambil menunjukkan seringai. Tsuna yang mendengar itu mengehela napas, menutup matanya, dan terdiam. Beberapa saat, ia membuka mata dan tatapannya berubah.
Hibari merasakan itu. Aura anak itu juga mulai berubah. Tatapan matanya juga berubah. Mata coklat caramelnya yang besar, berubah menjadi mata orange emas yang tajam. Jiwa karnivor anak itu keluar.
"Hn. Tidak kusangka kau punya jiwa pembunuh.."
"Itu karena aku shinigami."
Wait.
Apa? Shinigami?
Pendengaran Hibari harus dicheck sepulangnya nanti.
"Hn. Herbivore, jangan—"
"Aku bersungguh-sungguh. Aku adalah shinigami yang bertugas membawa kabar kematianmu, Hibari Kyoya-san." Ujar Tsuna dengan nada tenang namun menusuk.
Oke. Hibari benar-benar bingung. Anak yang ia kenal pagi ini, anak yang nampaknya payah—rupanya adalah seorang shinigami—makhluk supranatural yang bertugas untuk memberitakan kabar kematian pada manusia. Oh, Hibari, kau terlalu banyak membaca cerita fiksi.
"Dan—" Tsuna menlanjutkan, "—Aku, Sawada Tsunayoshi, dipilih untuk mengabarkan ini padamu.." . Hibari menatap manik keemasan itu dengan tajam.
Ia? Karnivora Namimori, akan mati? Hallo…?
"Aku tidak percaya." Tukas Hibari.
"Percaya atau tidak, aku tidak perduli, Hibari-san. Kau akan mati, itu hukumnya, karena aku sudah memberitakannya padamu.." Manik keemasan menatap manik onxy itu.
Beberapa saat keheningan mencekik mereka.
"Hn. Berapa lama lagi aku bisa hidup?" Tanya Hibari kemudian, memecah keheningan.
"Tiga bulan."
". . . . "
"Tiga bulan waktumu, Hibari-san. Gunakan dengan baik.." Lalu Tsuna menghilang. Angin membelai lembut rambut raven Hibari. Hibari nampak sangat kesal. Ia merasa harga dirinya terinjak, masa ia akan mati? Dalam tiga bulan, lagi! Berani sekali Sawada Tsunayoshi itu mengatakan hal seperti itu.
"Kalau dia menipuku, kamikorosu."
Tsuna berjalan sendirian melewati persimpangan jalan menuju apartemetnya ketika seseorang menyapanya. Seorang dengan mata heterochrome dan rambut biru berpucuk(?) nanas.
"Yo, Tsunayoshi-kun." Pria itu menyapa.
"Apa yang kau lakukan disini, Mukuro?"
"Aku ditugaskan untuk mengawasimu selama tugasmu ini. Haah, aku tidak mengerti kenapa kau harus mengambil wujud manusia? Padahal 'kan kau tinggal mencabut nyawanya saja—" Tanya Mukuro sambil memijit pelipisnya. Tsuna yang mendengar itu sedikit terlonjak.
"Aku—"
"Heh. Jadi benar? Kau.." Mukuro memasang wajah curiga, namun Tsuna kembali pada muka datarnya.
"Tidak. Aku hanya ingin merasakan kehidupan manusia.." Balas si manik caramel pada manik heterochrome.
"Kufufu, bohong~" Goda Mukuro.
"Tidak."
"Bohong."
"Sudah, ah!" Tsuna memukul pelan lengan kiri Mukuro, yang dipukul hanya ber'kufufufu' .
"Tsunayoshi-kun."
"Hm?"
"Kau tidak boleh jatuh cinta pada manusia.." Mukuro berucap lagi, membuat Tsuna kaget.
"Sok tahu. Aku tidak jatuh cinta pada—"
"Kita ini shinigami, dan kau tahu 'kan hukuman bagi shinigami yang tidak berhasil menjalankan misinya?" Ujarnya. Ya, itu memang benar.
Tsuna tahu, percintaan shinigami dan manusia itu dilarang. Karena secara garis besar, itu tidak mungkin. Mereka akan terpisah secara ruang dan waktu. Sementara shinigami adalah makhluk abadi, manusia adalah makhluk mortal—punya batasan untuk hidup. Dan shinigami yang berani mencintai seorang manusia, akan mendapatkan hukuman berat. Apa hukumannya?
Siksaan abadi.
Tentu Tsuna tidak mau begitu. Sebagai shinigami kelas 1—yaitu shinigami elite, ia harus menjalankan tugas dengan baik agar tidak mencemari namanya.
"Sebagai shinigami kelas 1, tidak mungkin aku melakukan hal itu…" Ujar Tsuna pelan. Mukuro tersenyum lalu pergi meninggalkan Tsuna. Sesaat setelah Mukuro pergi, Tsuna membuka pintu apartementnya, lalu berbaring dikasur ukuran sedang itu. Kepalanya ia benamkan pada bantal. Pikirannya kacau.
"Apa yang harus kulakukan.."
Pagi yang cerah di Namimori. Burung-burung bernyanyi dengan nyaring dan indahnya, semakin menambah cerahnya hari ini. Namun, hari ini tidak secerah hati Hibari Kyoya. Sejak dikabarkan akan mati oleh seorang anak ingusan yang baru ia kenal kemarin, Hibari dirundung perasaan aneh.
Takut? Tidak, dia karnivora—kau tahu—dan karnivora tidak punya rasa takut.
Marah? Tentu. Karena seorang terkuat di Namimori akan mati dalam 3 bulan. Dan kalian tahu, harga diri Hibari Kyoya sudah terinjak karena itu.
Dan berkat bad mood Hibari, pagi ini ia sudah menghajar banyak orang—sebagai pelampiasan kemarahannya. Dan jangan salahkan Hibari atas perlakuan ini.
Siapa juga yang membuat Hibari bad mood?
Melangkah memasukin atap, Hibari berharap ia bisa bertemu Sawada Tsunayoshi dan menghajar wajahnya itu.
Dan ternyata dewa keberuntungan berpihak padanya.
"Sawada Tsunayoshi, kita bertemu lagi." Kata Hibari saat melihat sosok yang familiar didepannya.
"O-ohayou, Hibari-san.." Balas Tsuna. Rupanya ia telah kembali menjadi Tsuna yang biasa.
"Kamikorosu." Tanpa babibu lagi, Hibari langsung berlari menghajar Tsuna. Sungguh sebuah hal yang tak patut ditiru.
Selama Hibari menyerang, Tsuna terus menghindar sambil sesekali berteriak 'hiee' . Ciri seorang herbivore.
"Hi—Hibari-san! To—tolong hentikan! Kau bisa menghancurkan atap ini!" Pinta Tsuna ketakutan.
"Hn. Kau pikir siapa yang membuatku bad mood begini? Aku akan mengajarkanmu yang namanya 'bicara sopan'.." Tonfa kanan melayang, Tsuna berhasil menghindar.
"HIE! Ta—tapi aku tidak bohong! Re—rencana kematianmu sudah direncanakan, Hibari-san!" Tsuna meleng ke kanan, menghindari serangan tonfa dari kanan.
"Aku tidak percaya." Tendangan kanan, Tsuna berhasil menghindar dengan melompat kearah kiri.
"Tidak ada gunanya bicara seperti itu! Kalau akan mati, tetap akan mati!" Tsuna jatuh tersungkur tersandung kakinya. Lalu ia bangkit sambil mengaduh kesakitan.
"Ceh. Kau tetap saja herbivore." Seringai Hibari terkembang. Entah kenapa dia senang bertarung dengan Tsuna.
Tsuna yang melihat itu hanya tersenyum canggung, "Err, um—"
'Kalau gugup, dia manis juga—' Batin Hibari saat melihat kecanggungan Tsuna.
Apa? Apa katanya tadi? Dia manis? Dia 'kan orang yang membuat harga dirimu jatuh. Sadar! Dia itu orang yang kau benci.
Walaupun harga diri Hibari terus menjerit seperti itu, tetap saja Hibari tidak bisa melepaskan pandangannya dari manik caramel besar itu. Entah kenapa, dadanya terasa panas.
Perasaan apa ini?
Hibari menarik napas pelan, lalu berbalik, "Hn. Lain kali aku akan mengalahkanmu, Sawada Tsunayoshi."
Blam.
Pintu tertutup. Tsuna hanya diam terduduk sambil menatap pintu yang baru saja dilalui Hibari. Apakah Hibari menyiratkan pesan seperti, 'Kita akan bertemu lagi' ?
"Tidak—tidak boleh!" Tsuna mengacak rambutnya frustasi, lalu berjalan menuju kelas tatkala bel berbunyi.
"Nii-san, kau lihat itu…" Suara lembut mengalun dari balik pepohonan. Sosok berambut pucuk(?) nanas berkata pada kakaknya.
"Ya, Chrome. Aku melihatnya.." Ucap kakaknya itu. Chrome memandang dengan tatapan bingung.
"Kalau sampai terbukti bagaimana?" Chrome bertanya lagi—dengan nada khawatir. Mukuro—si kakak—memincingnya matanya.
"Tentu ia akan dapat ganjarannya."
Yak! Berakhir di kalimat si siluman(?) nanas! *dilempar nanas*
makasih buat yang udah baca dan apalagi review, Ameru seneng bgt *w*
sampai bertemu lgi di chapter 003! *ngilang pke gerobak bakso*
