Hallo reader-nim miss me? kkekekkeke

yeay, chapter 2 here...( sorry for typo )

just check this out, hope you'll enjoy it

Sore ini Mark seperti biasa sedang menunggu Jinyoung untuk pulang setelah kelas mereka selesai 1 jam sebelumnya. Yaa, mereka sudah melakukannya sejak hari pertama Mark bersekolah di tempat yang sama dengan Jinyoung. Mengingat waktu itu adalah hari pertamanya bersekolah di tempat baru dengan lingkungan yang belum dikenalnya, tentu saja Mark tidak berani mengambil resiko tersesat dimalam pertamanya pulang dari sekolah. Untunglah ada Jinyoung yang satu arah dengannya maka sejak saat itu ia mengusulkan untuk berangkat serta pulang sekolah bersama Jinyoung. (O'oo apakah hanya aku atau memang sebenarnya Mark hanya menggunakan istilah 'tersesat' sebagai alasan untuk pergi dengan Jiyoung?). Oh yang benar saja Mark! rumah barumu hanya beberapa meter dari gerbang depan kompleks. Tapi bukankah Mark tidak mengerti bus mana yang harus dinaikinya serta bus dengan arah yang mana? Dan hari itu sudah sangat larut ketika mereka pulang dari sekolah. Kalian tentu tahu bagaimana perbedaan antara siang dan malam di lingkungan yang baru kalian tempati? Sungguh sangat berbeda, kalian tidak akan mengenali jalan mana yang kalian lewati pagi tadi. Okay kau menang Mark, katakan saja kau memang takut tersesat. Dan Jinyoung yang memang sejak awal sekolah tidak pernah memiliki teman ke sekolah bersama (karena rumahnya yang berlawanan arah dengan teman-temannya) dengan senang hati menerima usulan Mark.

Mark ditemani Jackson, Jaebum dan beberapa teman dari klub orchestra tengah asyik membicarakan tentang suatu hal di bangku dekat parkiran kampus. Jika tidak sedang latihan mereka memang sering berkumpul walau hanya sekedar membahas hal-hal random yang tak menyangkut musik. Dan ya mereka sudah hampir 1 jam mengobrol namun sosok yang ditunggu Mark tak jua muncul. Oh kemanakah kiranya sang kekasih?. oops.. apakah author baru saja menuliskan kekasih?. Jika iya lupakan saja, karena yang ditunggu Mark adalah Jinyoung – sahabatnya sejak tiga tahun lalu dan bukan kekasihnya. Setidaknya begitulah untuk saat ini.
" kita akan pulang sekarang, kalian masih ingin di sini?" pamit salah satu teman yang kini sudah berdiri dan diikuti dua orang lainnya yang berada di sebelah kiri Mark.
" yeah... kita masih akan disini menemani Mark menunggu Jin" ujar Jackson menaggapi.
" oh kau menunggu Jinyoung?" tanya salah seorang yang berbaju abu-abu.
" he-hem" Mark mengalihkan pandangannya pada cowok berbaju abu-abu tadi.
" tadi kulihat dia masuk ke ruang dance"
" eh ruang dance? kau yakin itu Jin?" Mark tampak sangsi dengan pernyataan itu.
" ya, aku hafal betul jacket navy kesayangannya. Kalau begitu aku pergi sekarang" jawabnya menyusul kedua temannya yang sudah hampir masuk mobil di parkiran sana.
" oke, thanks. Bye" Mark, Jack and Jaebum melambai sekilas.

Dan ketika mobil ketiga temannya itu hilang berbelok ke jalan utama kampus Mark bergegas berdiri.
" kalian bisa pulang sekarang" Mark menggendong ranselnya di salah satu bahu dan merangkul buku yang dipinjamnya dari perpustakaan dengan tangan lainnya.
"kau akan menjemputnya ke ruang dance?" tanya Jaebum.
"heem..." Mark mengangguk sekilas ketika ia berbalik dan berjalan menuju arah gedung di sebelah kanannya.

Jackson dan Jaebum belum beranjak dari bangku yang ditempatinya tadi dan masih asyik mengobrol ketika mereka melihat Mark berjalan lurus menuju parkiran dengan raut wajah yang sulit diartikan. Seperti ada sekumpulan awan hitam sedang bergelantungan di sekitarnya. Wajahnya terlihat sangat . . . emm bagaimana mendeskripsikannya? Sangat tidak mencerminkan Si Pemusik Jenius yang biasanya selalu memiliki poker face dengan ekspresi cool yang selalu memikat siapa saja yang melihatnya? Entahlah yang pasti mereka sangat jarang (catat: sangat jarang) melihat Mark mengekspresikan hal semacam itu selama ini. Owhh kecuali bila hal itu menyangkut Jinyoung tentu saja. Bahkan dia tidak menghiraukan Jack dan Jaebum yang memanggilnya.
"Bukankah dia tadi ingin menjemput Jinyoung ke ruang dance?" tanya Jaebum berpaling pada Jackson disampingnya. Pertanyaan yang jelas muncul di benak siapa saja ketika salah satu dari dua orang yang tidak pernah terpisahkan itu tidak terlihat disekitar salah seorangnya. Jackson yang masih memandang punggung Mark yang menjauh hanya mengangkat bahu tak mengerti.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Malam ini tidak ada yang dilakukan Jinyoung. Ia hanya berguling ke kanan kemudian ke kiri, dan setelah itu ke kanan lagi. Begitulah yang dilakukannya sejak sore tadi di atas kasurnya. Tidak ada buku yang biasanya selalu ia pegang jika sudah di rumah. Dan tidak juga dengan biolanya atau bahkan musik dari tape-nya sekalipun. Entahlah pikirannya sedang tidak ingin dialihkan dari kegiatan yang telah dilakukannya siang tadi.

Jinyoung akan bohong bila ia berkata tidak senang dengan apa yang dilakukannya, karena pada kenyataannya semuanya tercetak jelas di wajahnya saat ini. Senyum senantiasa bertengger disana menemaninya berguling-guling ria. Tentu saja dia senang. Siapa yang tidak akan senang bila dapat melakukan hal yang amat kau sukai?

Empat tahun sudah Jinyoung tidak pernah lagi mencoba menari seperti dulu. Setelah kecelakaan itu, Jinyoung dilarang keras melakukan gerakan-gerakan yang akan memperparah keadaan kakinya termasuk hobby tercintanya – menari. Dengan berat hati ia meniggalkan segala hal yang berhubungan dengan tari-menari sejak saat itu, walau sebenarnya tak ingin. Tidak ada yang mau dipisahkan dari hal yang sangat kau cintai bukan? Begitu pula dengan Jinyoung. Menari adalah hal pertama yang ia gemari dan sudah dia lakukan sejak berumur 3 tahun. Jinyoung kecil akan langsung berhenti menagis bila ada yang memainkan musik kesukaannya dan ia akan segera bangkit melakukan gerakan-gerakan lucu yang menggemaskan. Orang tuanya amat sangat mendukung bakat anaknya itu, hingga ketika Jinyoung berumur 4 tahun orang tuanya sudah mengikutkannya les menari kontemporer. Kegiatan yang tak pernah ia lewatkan sejak saat itu hingga ia lulus sekolah dasar. Dan betapa beruntungnya Jinyoung karena sekolah menengahnya memiliki klub dance sehingga ia masih bisa menyalurkan bakat-bakat yang dimilikinya dengan mengikuti klub itu.

Dan hari ini entah bagaimana awalnya ia kembali bertemu teman satu klub-nya di sekolah menengah dulu. Kemudian setelah itu yang ia tahu temannya – yang ternyata kini juga sedang kuliah ditempat yang sama dengannya hanya saja di jurusan yang berbeda itu – menyeretnya ke ruang dance di sana. Dan entah bagaimana pula akhirnya dia menerima ajakan temannya itu untuk menari seperti yang pernah mereka lakukan dulu. Ketika melakukannya ia tahu hal itulah yang seharusnya dilakukannya. Bukan berarti ia tidak menyukai kegiatannya di klub orchestra, hanya saja ia merasa tempatnya di sini, di ruang dance ini. Menikmati musik klasik itu dengan setiap inci dari tubuhnnya. Menceritakan perasaannya lewat gerakan-gerakan lembut itu. Siang tadi kerinduannya terhadap rasa senang, puas, bangga akan menari terbayar sudah. Sungguh salah satu siang yang tidak akan pernah ia lupakan setelah ini.

Dengan masih mengingat-ingat kejadian tadi Jinyoung berguling lagi ke kanan. Dan tepat saat itulah tangannya menyentuh smartphone-nya. Tidak ada notifikasi apapun dari benda hitam persegi panjang itu ketika Jinyoung untuk pertama kalinya menge-check Hp setelah pulang dari kampus tadi. Bahkan pesan-pesan tak penting yang selalu Mark kirim juga tidak ada. Mengingat Mark, Jinyoung jadi baru sadar bahwa seharian ini dia tidak melihat Mark – selain di kelas Mr. Kim tadi. Bahkan tadi pagi pun mereka tidak berangkat ke kampus bareng karena Mark harus ke gedung serbaguna untuk menemui Mrs. Lee. Dan setelah kelas Mr. Kim, Jinyoung yang sedang menuju parkiran – dimana Mark menunggunya untuk pulang – bertemu teman sekolah menengahnya dan ia lupa waktu hingga 2 jam setelah itu ia baru ingat Mark menunggunya untuk pulang. Jinyoung bergegas pamit dan berjanji untuk kembali lagi jika sempat, namun sayang Mark sudah tidak terlihat di area kampusnya. Mark tidak pernah meninggalkan Jinyoung sebelum ini, dia akan selalu menunggu hingga Jinyoung muncul. Apakah Jiyoung keterlaluan kali ini? Membiarkan Mark menunggunya hingga 2 jam bahkan mungkin lebih? Atau kah terjadi sesuatu di rumah hingga Mark harus pulang dan lupa mengabari Jinyoung?

Jinyoung akhirnya memutuskan menghubungi Mark. Namun tidak ada yang menjawab teleponnya. Kemanakah Mark? Sudah tidurkah? Atau jangan-jangan dia sedang sakit? Jinyoung mulai khawatir mimikirkan suatu hal yang buruk sedang terjadi pada Mark. Dan setelah panggilan kelimanya yang masih juga masuk mailbox, Jinyoung memutuskan untuk menemui Mark ke rumahnya.

...

Mark di sisi lain sedang termenung di depan pianonya. Sebenarnya tadi Mark akan menggarap aransemen lagu yang diminta Mrs. Lee untuk klub paduan suara. Namun pikirannya sedang dipenuhi hal lain saat ini hingga hanya nada tak beraturan yang dimainkannya. Mark yang biasanya dapat menyelesaikan aransemen lagu hanya dalam waktu 5 menit – bukankah sudah kujelaskan dia pemusik yang jenius? – kini bagai tak mengenal pianonya. Dia benar-benar buntu.

Suara-suara sumbang yang dihasilkannya itu ternyata juga tidak dapat mengenyahkan bayangan kejadian tadi siang yang dilihatnya di ruang dance. Ahh entah ada apa dengan dirinya... sejak melihat Jinyoung tadi di ruang dance Mark tidak lagi dapat bepikir jernih.

Suara ketukan terdengar di pintu kamarnya. Disusul dengan suara piintu ynag terbuka dan langkah seseorang yang memasuki kamarnya. Mark tidak perlu menoleh untuk melihat orang itu. Dia hafal benar siapa pemilik ketukan dan langkah itu.
" Hei Mark..."
Ya Jinyoung. Orang terakhir yang ingin ditemui Mark hari ini, kini berada di kamarnya. (Oh good...athor-nim kau mempermainkanku? Tidak bisakah kau buat aku bertemu dia nanti saja?) – Oh Mark aku tahu kau merindukannya, serahkan saja padaku eoh? ;). Mark masih menghadap pianonya berpura-pura tidak mendengar seseorang memasuki kamarnya.
" Mark aku membawakan makan malammu, eomma-mu bilang kau tidak keluar kamar sejak pulang tadi. Dia khawatir kau belum mengisi perutmu dari pagi" Jinyoung meletakkan nampan yang dibawanya di meja yang ada di sana. Kemudian bergerak mendekati Mark di sudut ruangan.
' No... jangan mendekat!' teriak Mark dalam hati sambil masih memainkan nada asal.
" kau sedang apa Mark? membuat lagu?" Jinyoung kini berdiri di samping Mark. Dan Mark mengacuhkan Jinyoung.
" kau marah padaku" bukan suatu pertanyaan, melainkan pernyataan dari Jinyoung setelah Mark masih tak mengalihkan perhatiannya dari pianonya itu. Jinyoung bukan baru kemarin kenal seorang Mark Tuan. Dia tahu Mark yang sedang tidak ingin diganggu dari dunia(musik)-nya dan Mark yang sedang marah padanya.
' No. Aku tidak marah Jin, aku hanya bingung. Tentangmu.' Ingin Mark mengatakannya, tapi ia tahu Jinyoung akan bertanya lebih tentang itu dan Mark tidak tahu cara menjawabnya. Akhirnya dia hanya menggeleng pelan tanpa melihat ke arah Jinyoung.
" sekarang katakan alasan kau marah padaku" Jinyoung bergerak duduk di sebelah Mark.
" apakah ini tentang aku yang menghilang sebelum pulang? Mark... aku benar-benar minta maaf tentang itu, aku tadi... eumm tadi aku bertemu teman lama dan kita kemudian bercerita hingga lupa waktu" jari-jari Jinyoung juga ikut menekan tuts-tuts piano di depannya untuk menutupi sedikit kebohongannya. Dia memang bertemu teman lama tadi kemudian bercerita serta menari juga. Hhh... Jinyoung tahu Mark akan mengadukannya pada appa jika dia tahu Jinyoung tadi menari. Dan jika itu terjadi dia tahu appa-nya akan sangat sedih.
Disisi lain Mark mengernyit mendengar penjelasan Jinyoung. Dia tidak tahu kalau Jinyoung akan sedikit tidak jujur padanya. 'Apakah yang sedang ingin kau sembunyikan dariku Jin... aku tahu dengan jelas kau tidak hanya ngobrol dengannya tadi'. Mark merasakan sesuatu di dalam dadanya berdetak kencang saat menyadari sesuatu. ' oh jangan-jangan kau sudah lama menyembunyikan hal itu dariku? Menyembunyikan bahwa kau sebenarnya sudah... hell no... apa yang kau pikirkan Mark? No, dia tidak mungkin melakukannya tanpa memberitahuku kan?' Mark menarik napas pelan mengenyahkan suatu kemungkinan yang tiba-tiba muncul dan membuat resahnya semakin bertambah.
" Mark stop it, and talk to me" Jinyoung meraih tangan Mark untuk menghentikannya membuat suara aneh yang merusak telinganya. Oke dia pemusik yang hebat dan Jinyoung sangat mengagumi semua musik yang Mark mainkan, kecuali yang satu ini.
Mark kembali menarik napas sebelum memutar badannya mengahadap Jinyoung.
" aku tidak marah Jin"
" eh?" Jinyoung tidak tahu bagaimana menjawabnya. Karena dia tahu Mark benar-benar jujur tentang itu. Tapi jika Mark tidak marah kenapa dia mengabaikan Jinyoung?
" aku hanya sedang bingung" seakan tahu pikiran Jinyoung, Mark kemudian memberikan penjelasan. Jinyoung membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, namun sebelum apa yang ingin dikatakannya terucap Mark sudah lebih dulu memotongnya " sekarang bisakah kau membiarkanku sendiri?" Mark juga sudah beranjak dan berjalan ke arah kasurnya. Ia butuh tidur.
" oh.. oke. Sorry Mark, kalau begitu... aku emm pulang dulu. Bye" Jinyoung menatap tubuh Mark yang kini berbaring memunggunginya. Jinyoung memutuskan untuk membiarkan Mark kali ini karena sepertinya hal yang dipikirkan Mark sedikit rumit.
" emm Mark jika kau butuh seseorang untuk berbagi cerita, kau selalu bisa menghubungiku kau tahu?" Jinyoung jelas khawatir tentang sahabatnya ini.

Mark membuang napas – yang entah sejak kapan ternyata ia tahan – setelah pintu kamarnya tertutup lagi. Jinyoung sudah pergi meninggalkan Mark sendiri di sana.
" bagaimana mungkin aku membicarakannya denganmu, jika itu KAU yang ingin kubicarakan Jin?" gumam Mark sambil bergerak menggulung tubuhnya semakin dalam di balik selimut.
Ya.. Jinyoung penyebab semua ini dan kebingungan Mark tentang apa yang dirasakannya ketika tadi melihat Jinyoung bersama teman cantiknya itu.

FLASHBACK

Ketika Mark sampai di depan ruang dance dan hendak masuk untuk menemui Jinyoung, ia kemudian mengurungkan niatnya. Karena yahh dia tidak yakin jika Jinyoung ada di dalam sana. Akhirnya dengan pelan Mark membuka sedikit pintu itu dan melongokkan kepalanya ke dalam. Diedarkannya pandangannya pada ruangan yang memiliki salah satu sisi ruangan ditutupi cermin itu seperti kebanyakan ruang dance yang ia tahu. Mark berhenti pada sisi belakang ruangan yang diisi oleh beberapa orang yang sedang duduk di lantai. Orang-orang itu duduk mengelilingi dua penari yang sedang melakukan gerakan-gerakan yang kalau Mark tidak salah adalah gerakan neoklasik ballet dance. Ya Mark sedikit tahu tentang itu karena Jinyoung memiliki bakat luar biasa di bidang itu. Oh ngomong-ngomong tentang Jinyoung, namja penari itu memiliki gerakan yang serupa dengan gerakan Jinyoung. Oh Shit... dia benar-benar Jinyoung. Pikir Mark setelah kedua penari itu melakukan gerakan yang mengahadap ke arahnya.

Mark seperti juga penonton disana sangat menikmati penampilan itu. Mark tahu Jinyoung sudah lama ingin melakukannya lagi, namun ia juga tidak ingin membahayakan keselamatan kakinya serta yang lebih penting tidak ingin membuat appa-nya sedih denagn melakukannya. Jadi selama 4 tahun terakhir ini Jinyoung hanya berusaha mengalihkan perhatiannya dengan hanya memikirkan sekolah dan orchestra. Mark tahu Jinoyung rindu berada di ruang dance menari seperti itu, makanya dengan sengaja ia kadang menyuruh Jinyoung menari untuknya. Dan Mark tahu ia suka melihat Jinyoung melakukan itu dan tentu saja suka jika Jinyoung bisa tersenyum bahagia dengan kerutan lucu itu setelahnya. Sangat suka.

Mark kembali tersadar ketika lagu lain mulai mengalun. Musik yang lebih lembut dari sebelumnya. Kedua penari itu kini berdiri berhadapan dan mereka mulai menari. Gerakan yang mereka lakukan lembut dan tegas diwaktu bersaaman. Gadis cantik yang berada dalam pelukan Jinyoung mengikuti gerakannya denagn teramat lembut. Sesekali Jinyoung memutar tubuh itu kemudiam menariknya lagi ke dalam pelukannya. Gerakan mereka bagaikan kupu-kupu di musim semi. Tanpa cela. Sungguh pasangan duet yang sangat serasi.

Yang Mark tahu Jinyoung akan selalu bisa membuat Mark terhipnotis saat ia menari seperti itu. Mark sangat mengagumi Jinyoung yang menari dengan penuh perasaan dan sepenuh hati seperti itu. Ia benar-benar menceritakan sesuatu dalam tariannya dan Mark mendapatkan itu. Sepeti halnya saat ini, Jinyoung layaknya seorang pria yang sangat mencintai gadisnya. Yang ingin memberitahu perasaannya lewat sentuhan lembutnya pada tangan gadis itu, lewat tatapan matanya yang tak pernah lepas memandangi gadis dihadapannya.

Yang tidak diketahui Mark adalah mengapa hatinya seakan tidak suka melihat Jinyoung melakukan itu dengan gadis cantik teman duetnya itu? Mark tidak mengerti dengan rasa takut yang tiba-tiba muncul saat ia melihatnya? Ya Mark takut jika apa yang dilihatnya saat itu menjadi kenyataan. Jinyoung mencintai gadis itu. Gagasan yang bodoh bukan? Siapakah sebenarnya gadis itu? teman Jinyoung kah? Atau hanya salah seorang yang baru dikenalnya memiliki bakat yang sama luar biasanya di ruang dance ini? Bagaimana jika Jinyoumg suka padanya? Entah mungkin ada seribu pertanyaan lagi tentang gadis itu dan kemungkinan-kemungkian yang hadir di pikiran Mark saat itu. Yang pasti Mark tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya ia nanti jika benar Jinyoung mulai ingin berkencan dengan siapapun.

Ada apakah dengan dirinya sebenarnya? Dengan pikirannya yang kacau Mark meninggalkan ruang dance itu tanpa menoleh lagi. Ia ingin segera pulang lalu istirahat. Mungkin pertanyaan itu muncul di otak lelahnya yang sudah 2 hari ini memikirkan aransemen permintaan Mrs. Lee. Ya mungkin istirahat akan membantu menjernihkan kembali isi kepalanya. Pikir Mark saat itu.

Namun seperti yang kalian tahu, Mark tidak pernah bisa memjamkan matanya hingga malam itu akan berakhir.

...

Hai guys... kita bertemu lagi?
Masih dengan saya orang yang sama. Jangan (mulai) bosan dulu please... Terima kasih review-nya (saya sangat mengahargainya dengan sepenuh hati :)). Maafkan saya baru bisa update sekarang (actually, saya sudah selesaikan ini pada sabtu pagi kemarin dan ingin segera saya post untuk teman week end reader-nim sekalian, but yeah akhirnya baru bisa saya post sekarang. Just blame the internet hohohoho Mianhaeyo...)
so... yes this is the chapter 2. Maaf jika masih banyak salah sana sini and please tell me what must i do for it. Kritik dan saran kalian akan sangat membantu saya untuk berkembang menjadi lebih baik lagi, so repiyu juseyoooooo...
and again i say for many times thank you very much for read my FF *take a bow
see ya in the next chapter?