Princess Ver One
.
.
Disclaimer: Naruto Kishimoto Masashi
Inspirated Princess Ver. One © Miyawaki Yukino
Warning: OOC and typo (mungkin saja?), AU, deskripsi minim, semoga jelas, terinspirasi dari manga dengan judul yang sama, Cerita dirubah sedikit sebisa pembuat bisa. Dedicated for iSakura Haruno1.
Enjoy Reading!
.o.X.X.o.
Chapter Two
Gadis cantik tertidur lelap memimpikan kedua sosok orang tuanya bermain-main dengannya di saat dirinya masih kecil. Kemudian gadis kecil yang tengah asyik bermain tidak menyadari kalau orang tua gadis kecil cantik itu perlahan-lahan meninggalkan dirinya di tempat itu. Saat ingin mengejarnya, kakinya kaku tidak bergerak, wajahnya sedih tidak terkira, hatinya takut ditinggalkan sendiri. Namun, suara gadis kecil itu terdengar keras memanggil mereka sambil mengulurkan tangan untuk mendapatkan orang tua gadis kecil itu kembali.
"Ayah! Ibu! Tunggu!"
Gadis kecil itu bukanlah gadis kecil di mimpi tersebut, tapi gadis kecil telah membuka matanya menangis, tangan terangkat ke langit-langit kamar. Dirinya jadi sedih mengingat dirinya ditinggalkan sang orang tua sendiri di tempat ini. Sakit sekali ditinggal begitu saja. Seandainya dia bisa mengulang waktu, gadis cantik mau ikut bersama mereka.
Gadis yang bernama Haruno Sakura memiliki rambut merah muda seperti pohon Sakura seberang sana bangun dari tidurnya sambil memijit keningnya. Dirinya tidak menduga, dia masih merindukan orangtuanya yang telah lama meninggal dunia.
Mendengar suara gedebak gedebuk, Sakura melihat arah pintu. Memiringkan kepala, Sakura menyibak selimut dan turun dari tempat tidur. Baru beberapa langkah, Sakura dikagetkan oleh sosok pemuda setengah baya menarik pemuda di pelukannya. Sakura terkejut melihat kondisi itu langsung keringat dingin.
"Selamat pagi! Putri, apa Anda sudah bangun!" teriak Uchiha Fugaku bersemangat. Pemuda yang ditariknya itu terus meronta-ronta minta dilepaskan, tapi Fugaku tidak mau. Kepala pelayan ini memang kuat dalam hal mengatasi. "Saya membawakan Anda sarapan pagi!"
Sakura tersenyum pura-pura melihat adegan luar biasa pagi ini. Dilirik Uchiha Sasuke, pemuda diiringi bersama Uchiha Fugaku, sang ayah memasang wajah benci dan kesal karena ditarik-tarik. Sakura juga masih mendengar suara orang berlarian menuju kamarnya. Dan Jreeeng... Uzumaki Naruto, Akasuna Sasori dan Hyuuga Neji datang bersorak ria karena mereka-lah akan menemani Sakura sarapan pagi. Sakura hanya tersenyum malu-malu.
"Selamat pagi, Sakura!" teriak pemuda berambut kuning keemasan ingin memeluk gadis berambut merah muda tersebut, namun dihalangi oleh Neji, pemuda berambut cokelat gelap panjang. Neji tahu Sakura sekarang kaget dan takut setengah mati melihat keadaan ini, mencubit telinga Naruto untuk menjauh. "Aduuh... apa yang kamu lakukan, Neji? Aku 'kan..."
Ucapan Naruto terpotong karena Neji menyuruhnya diam dan mengikutinya saja. Naruto patuh pada perintahnya.
Sasuke juga menyuruh Naruto untuk diam. Naruto meneguk saliva, meminta maaf. Tahulah... kedua laki-laki paling seram di asrama ini Cuma Neji dan Sasuke saja. Yang lain, Sasori juga lebih menakutkan jika si pemuda berambut merah ini mempunyai banyak segala cara.
Baru tahu mereka berada di sini, Sasuke tidak peduli. Pasti ini ada hubungannya dengan ayahnya. Fugaku menatap ketiga pemuda berbeda sifat tersebut juga tidak peduli kedatangan mereka. Cuma memperhatikan Sakura tersenyum melihat keakraban mereka setiap kali ada kesempatan.
"Syukurlah... putri tersenyum," gumam Uchiha Fugaku tersenyum melihatnya, menutup mata dengan kelegaannya.
"Padahal aku belum setuju dia tinggal di sini," kata Sasuke menatap mereka memandangnya. Uchiha Fugaku tidak mau kalah pada anaknya yang sok itu, sok sempurna malah.
"Hei, Sasuke. Kita ini adalah keluarga Uchiha harus mengikuti semua perintah dari keluarga Haruno untuk menjaganya. Kita harus melakukannya sampai mati sampai majikan kita puas dan tersenyum." Uchiha Fugaku menangis beriringan dengan suara ombak perjuangan di belakangnya. Sasuke memasang wajah datar memandang tingkahnya, menyilangkan tangan dan memalingkan muka tidak peduli. "Jadi, kapan pun, di mana pun dan siapa pun itu... keluarga Uchiha harus bisa membuat majikan kita senang. Ingat itu, Sasuke?"
"Hn."
Ketiga pemuda itu berkeringat dingin mendengar pidato Uchiha Fugaku. Mereka tidak menyangka Uchiha Sasuke yang dingin, tidak peduli pada gadis-gadis, sok cuek mempunyai pekerjaan luar biasa, yaitu mengurus urusan Haruno Sakura.
Naruto mendekati Sasuke masih agak bingung sedikit, "apa benar itu, Teme?"
Sasuke memalingkan muka. Naruto mengembungkan pipinya tidak dipedulikan, berbalik badan dan memeluk Neji. Neji pasrah sambil menepuk punggung Naruto untuk sabar pada sifat Sasuke tersebut.
"Biarpun saat ini aku belum mengingat sepenuhnya tentang masa laluku," ucap Sakura meneguk minuman teh darjeeling. Neji melirik benda melingkar di lehernya, menunjuk ke arah benda tersebut.
"Benda apa itu di lehermu?"
Melihat arah tunjukkan Neji, Sakura mengambil kalung berbentuk kunci. "Ini adalah harta berharga yang aku ingat sedikit. Katanya ini bisa mengingatkan aku tentang masalah sedikit demi sedikit. Entahlah... aku saja tidak tahu di mana benda yang menghubungkan dengan kunci ini."
Sasuke mengerling melihat kalung berbentuk kunci tersebut terpasang di leher Sakura. Cuma diam dan berbalik badan seolah-olah tidak peduli.
"Sudahlah." Uchiha Fugaku tiba-tiba kembali muncul walau tadi tidak mempedulikan. Uchiha Fugaku mengangkat gelas kaca berisi minuman ke atas. "Mari kita merayakan kedatangan dan tinggalnya nona Sakura ke tempat ini. Bersulang!"
"TUNGGU!" teriak pemuda berambut biru gelap menghentikan persulangan mereka. "Ini asrama laki-laki di mana laki-laki banyak, ayah. Kita tidak mau dia (masih tidak mau panggil nama) merasa tidak enak di sini apalagi anak-anak asrama ini suka seenaknya dan pasti menimbulkan masalah."
Uchiha Fugaku memasang mata sipit rubah, berjingkat-jingkat ke arah Sasuke sambil membisikkan sesuatu, "bukannya kamu sama saja. Ingin memonopoli nona Sakura, Sasuke."
"A-apa?!"
"Dan kamu juga sudah berjanji akan selalu bersama nona Haruno kapan pun dan di mana pun," Uchiha Fugaku tersenyum iblis melihat tingkah anaknya bermuka merah padam. "Ayah punya buktinya lho. Hohoho..."
Sasuke mengepalkan tinjunya, tubuh gemetar hebat, dan keringat bercucuran di pelipisnya. Hari ini Sasuke kalah kepada ayahnya yang sok. "Terserah padamu, ayah. Aku tidak peduli mau dia bagaimana. Aku tidak pernah peduli!" Sasuke keluar dari kamar Sakura. Uchiha Fugaku tersenyum senang melihatnya, menepuk bahu Sakura untuk tenang.
"Tenang saja. Anak itu Cuma marah. Besok juga baik lagi," gumam Uchiha Fugaku tersenyum kemenangan kepada Sakura. Sakura tersenyum lemah mendengarnya.
Di siang hari, anak-anak asrama pergi sekolah sehingga asrama mereka sepi. Haruno Sakura yang berada di kamarnya untuk sembunyi, kesepian karena tidak orang menemaninya. Baru beberapa jam yang lalu, gadis berambut merah muda ini mengingat masa-masa senang tadi pagi kemudian berubah sunyi di siang hari. Sakura memeluk lututnya dan menyandarkan dirinya di atas lutut. Sakura masih terngiang-ngiang dengan ucapan Sasuke, dirinya tidak peduli sama sekali.
"Untuk apa memikirkan dirinya yang sok tidak peduli?!" seru Sakura berusaha merendahkan suaranya. Tapi, Sakura tahu ada sisi Sasuke yang dia tidak tahu. Merasakan suatu keganjalan, Sakura tersenyum sedih. "Aku rasa... dia sepenuhnya peduli padaku. Tapi... apa dia malu mengungkapkannya?"
Suara gedebak gedebuk terdengar lagi, Sakura kenal suara tersebut. Sakura bangkit berdiri dan menunggu siapa orang dikenalnya masuk. Sakura tersenyum saat pintu terbuka, namun senyumannya hilang karena sosok pria paruh baya membawakan beberapa hadiah baju kepadanya. Sakura tersenyum kecil melihat itu semua.
"Nona Sakura, saya membawakan baju untuk Anda. Semoga Anda menyukainya!" Uchiha Fugaku membuka kotak-kotak hadiah tersebut. Sakura terkejut dan bingung karena bajunya bukan baju biasa melainkan baju dolly, baju bangsawan yang pernah dipakai boneka perempuan. "Ini saya membelinya supaya Anda tidak kekurangan pakaian untuk dipakai!"
Sebenarnya Sakura tidak mengharapkan pakaian-pakaian tersebut. Tapi, dia tidak berniat menolak permintaan Uchiha Fugaku membelikan untuknya. Mau bagaimana lagi, Sakura hanya berucap dua kata, "terima kasih..."
"Senang bisa lihat Anda tersenyum lagi, nona." Uchiha Fugaku tahu kalau Sakura memaksakan dirinya. Namun, itu tidak dilakukannya. Uchiha Fugaku juga merasa nonanya di hadapannya ini memang dari dulu baik hati. Walaupun keras kepalanya masih ada. Sama saja dengan Sasuke. Dengan mata berbinar-binar, Uchiha Fugaku menggenggam tangan lembut Sakura sambil berurai air mata. "Terima kasih nona mau menerimanya." Uchiha Fugaku kembali bekerja meninggalkan setumpuk pakaian di kamar Sakura.
Sakura melambaikan tangan sampai pintu tertutup. Mengambil pakaian-pakaian tersebut ke arah lemari. Sakura belum melakukan apa pun untuk mereka. Mengingat sekarang ini masih jam pelajaran sekolah. Sakura punya ide bagus, yaitu membersihkan asrama laki-laki ini sebelum mereka pulang.
Sekarang di sinilah dia, berpakaian seragam pelayan sambil mengangkat ember berisi air dan pel di tangan lainnya. Inilah cara supaya Sakura bisa menarik perhatian Sasuke. Ini juga cara untuk membalas budi baik Sasuke yang dulunya membantunya sampai seperti itu. Sakura mengepel lantai sambil senyam senyum. Sungguh niat baik anak ini melakukan ini semua untuk membalas jasa mereka yang telah membantunya termasuk Sasuke.
Aku sangat berterima kasih padanya yang telah membantuku. Entah kenapa hati ini selalu berdetak di saat dia terus menolongku setiap saat. Sakura menekan dadanya yang berdetak hebat sambil mengingat wajah Sasuke tersenyum padanya. Apa dia sedang jatuh cinta?
Di sekolah, pemuda berambut kuning keemasan sama seperti Naruto yang bernama Deidara merupakan sepupu Naruto ini terus mengatakan kebenaran soal dirinya melihat ada anak perempuan masuk ke asrama mereka. Tapi, teman-teman lainnya tidak percaya dikarenakan Deidara ini takut sekali dengan namanya perempuan. Bukan takut melainkan benci setengah mati karena ada masa lalu Deidara kelam dan bikin tubuhnya merinding inilah jadi penyebab tidak bisa memberitahukan kepada teman-temannya tentang masa lalunya.
"Benar kok, aku melihat ada anak perempuan masuk ke asrama laki-laki tadi malam. Masa kalian tidak percaya pada ucapanku ini?!" Deidara berusaha meyakinkan teman-teman seasrama lain percaya ceritanya. Heran sudah melakukan itu karena seluruh teman-teman kelasnya tidak mempercayainya sama sekali. Menggertakkan gigi, Deidara menoleh arah pintu terbuka dan memanggil mereka bertiga. "Hei, kalian bertiga! Kalian juga melihat 'kan kalau ada anak perempuan masuk ke asrama?"
"Hah? Kamu ngomong apa, Deidara? Kamu demam, ya?" tanya Naruto menyentuh dahi Deidara sambil dirinya juga menyentuh dahinya agar seimbang. "Sepertinya traumamu akan perempuan kambuh lagi. Lebih baik minum obat."
"Bukan itu, bodoh!" Deidara menepis tangan Naruto yang menyentuh dahinya. Dilirik lagi Sasori dan Neji, "kalian tadi malam ada bersamaku, bukan? Kalian juga mendengar suara teriakan ada seorang penyusup merupakan perempuan masuk ke dalam asrama."
"Akhir-akhir kamu cerewet banget, Deidara." Sasori mengedikkan bahu tidak peduli soal Deidara terus meracau soal ada anak perempuan masuk asrama kembali duduk ke kursi dengan tenang.
"Bagaimana denganmu, Neji?" Pemuda berambut cokelat gelap, juga sama seperti Sasori tidak tahu menahu soal itu. Kembali duduk berdampingan dengan Sasori. Naruto memiringkan kepalanya, bingung dengan tingkah sepupunya. "Kyaaaa! Terserah buat kalian tidak percaya ceritaku. Biar aku yang mencarinya sendiri!" Deidara tadinya melantur, keluar kelas menuju asrama laki-laki. Yang lain mengangkat bahu, heran dengan sikap Deidara kembali duduk tenang di kursi mereka.
Naruto mengejar Deidara, "tunggu! Deidara, aku rasa sebaiknya kamu mandi air hangat untuk menyembuhkan trauma akan perempuan itu! Takutnya bibi pasti marah padaku dengan sifatmu ini."
Deidara tadinya semangat langsung lemas seketika. Roh keluar dari tubuhnya. Memang benar, dirinya butuh istirahat banyak. Mungkin trauma soal perempuan tadi malam dilihatnya. Deidara berjalan gontai menuju asrama Konoha. Tanpa mempedulikan Naruto di belakangnya sedang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Di dalam kelas, guru telah datang bersama Naruto. Pak guru menyuruh Naruto duduk dan tidak menghukumnya. Suasana kelas damai, tidak ada lagi si trauma Deidara. Di samping Naruto telah duduk, Sasuke juga berada di sisinya. Sasuke baru menyadari kalau Deidara tidak ada di tempat.
"Di mana anak itu?" tanya Sasuke sambil menopang dagu pakai punggung tangannya. Naruto sadar siapa orang dibicarakan Sasuke.
"Maksudnya Deidara? Tadi dia pulang ke asrama Konoha untuk mandi air hangat..." Naruto berpose pemikir mengingat kejadian baru semenit yang lalu dengan wajah polos tidak bersalah. Kemudian dengar gebrakan meja, Naruto melihat Sasuke bangkit berdiri dengan kursi terpanting ke belakang. Keluar kelas tanpa menghiraukan guru yang memanggilnya. Naruto garuk-garuk kepala lihat tingkah Sasuke yang aneh bin ajaib, "anak itu kenapa sih?"
Asrama Konoha, Sakura telah menyelesaikan pekerjaannya. Lantai tadinya tidak bersih langsung kinclong. Sinar matahari masuk menyinarkan arah lantai penuh sinar putih berkelap kelip. Gadis cantik ini mengusap keringatnya melihat dirinya telah menyelesaikan tugasnya dengan baik tanpa celah sedikit pun.
"Akhirnya..." Sakura mengangkat ember kembali dan mencari tempat yang kotor lainnya. Baru beberapa langkah, pintu utama terbuka dan menampilkan sosok laki-laki berambut kuning keemasan tengah lesu gara-gara dicambuk oleh Naruto. Sakura kaget dan mundur beberapa langkah. Saat ini dirinya butuh tempat sembunyi sebelum ketahuan oleh laki-laki berkuncir satu tersebut. Mundur lagi, Sakura dibekap mulutnya oleh seseorang tidak terduga di belakangnya menimbulkan suara jatuh rendah.
Sakura tahu siapa orang itu karena Sakura melihat dirinya di peluk sambil bersembunyi. Ada Sasuke di atasnya sedang menindih dan melindunginya dari amukan singa berkuncir satu tengah melewati mereka sambil lesu, letih dan lelah. Masuk ke kamar di lantai dua, Deidara tidak menghiraukan apa pun lagi.
Detak jantung Sakura berbunyi sangat cepat melihat Sasuke menindihnya. Seolah-olah berada di suasana aneh, Sakura merasa dirinya terbang di suatu tempat. Dirinya tidak sanggup lagi mengatasi degup jantungnya. Merah padam terlihat di wajahnya. Anehnya lagi, dirinya merasa perutnya bergejolak.
"Dia pergi." Sasuke bangun dan berdiri. Sakura juga ikut-ikutan bangun. Wajah merona masih ada di wajah cantiknya itu.
Menunduk malu-malu dan setengah gugup, Sakura tidak mau memandang Sasuke. "Te-terima kasih..."
"Kenapa kamu ada di sini?"
Eh? Apa yang tadi dia bilang? Sakura mengangkat kepalanya melihat Sasuke berbicara seperti tadi. Dirinya bingung pada perkataan Sasuke tersebut. Apakah dia mengganggunya?
"Berhentilah membuat masalah di tempat ini! Bikin susah orang saja!" gertak Sasuke penuh amukan, amarah dan teriakan bikin hati Sakura sakit. Penuh rasa bersalah, Sakura berbalik badan, berlari menjauh dari Sasuke yang memarahinya. Air mata muncul di kelopak matanya pun berhenti di saat Sakura masuk tadi. Sasuke tidak peduli pada apa yang terjadi, namun dilihat ada sebuah ember kembali salah paham pada apa yang ada.
Malam hari, perayaan kembalinya Sakura berlangsung lagi ini dikarenakan Uchiha Fugaku ingin semuanya berjalan baik-baik saja. Sakura yang ikut merasakan perayaan ini tersenyum sedih. Naruto melihatnya ikut-ikutan sedih.
"Hei, Sakura... kenapa kamu tidak senang pada perayaan ini? Paman Fugaku melakukan ini untukmu lho," Naruto tidak berniat membuat Sakura sedih ataupun menangis. Mau bagaimana lagi, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. "Kalau bisa, aku mau bantu."
"Terima kasih, Naruto. Kamu memang baik," Sakura kembali tersenyum membuat pemuda berambut kuning keemasan ini malu-malu.
"Hehe... tidak usah memuji. Aku tidak sehebat itu kok," Naruto berkacak pinggang sambil cengengesan sejenak. Namun, wajah Sakura kembali sedih di dalam sana. Sekarang Sakura merasakannya sebelum akhirnya dia pergi malam ini. "Anu... tadi Sasuke datang kemari 'kan? Kamu tidak bertengkar dengannya?"
Sakura menunduk dalam-dalam. "Mungkin dia membenciku."
"Hah?" Naruto mengangkat alis. "Walaupun dia tidak suka pada perempuan. Belum tentu pada teman kecilnya 'kan? Mungkin tadi tidak berniat menyinggung perasaanmu. Begitulah dia, sosok apa adanya. Seenaknya dan juga frontal. Nanti juga baik lagi."
Ucapan Naruto sama dengan dirinya dan paman Uchiha Fugaku. Sakura tersenyum pada perkataan Naruto yang terus menghiburnya. Membuat dirinya tertawa setengah mati.
Acara itu berlangsung meriah karena Neji harus mengangkut Naruto yang tidak kuat minum ke kamarnya. Sasori juga harus membereskan sisa-sisa perayaan di kamar Sakura. Mereka meminta maaf pada istirahat Sakura di malam ini. Sakura menggeleng dan berterima kasih pada mereka yang sudah meluangkan waktunya menemaninya.
Sekarang Sakura tengah beres-beres. Malam ini adalah malam terakhir tempatnya di sini. Mengembuskan napas lemah pada apa keputusannya saat ini. Sejenak diam, ada ketukan jendela di belakangnya. Malam ini bukannya mereka tidur semua. Bangkit berdiri, Sakura terkejut melihat Sasuke datang.
"Sa-Sasuke...?"
"Bisakah kamu ikut denganku?" tawar Sasuke kepadanya. Wajah datar terpasang kembali. Sakura bingung dan heran pada tingkah Sasuke.
Mereka berdua lalu berada di gunung tempat tadi malam ditemuinya. Angin semilir di malam hari membuatnya dirinya dingin dan sejuk. Ada keresahan mendalam di dalam dirinya. Namun, itu hilang karena Sakura bertanya-tanya pada tingkah laku Sasuke malam ini.
Kenapa dia lakukan ini? Kenapa? Bukannya dia marah padaku?
Langkah Sakura berhenti karena Sasuke juga berhenti. Di sana Sakura bingung. Sasuke mendekati rerumputan dan membuka rumput-rumput yang terpotong asal. Sasuke mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dan meletakkan di hamparan rumput hijau.
"Aku ingin kamu membuka kotak ini sesuai kunci melingkar di lehermu," Sasuke menunjuk arah kalung berbentuk kunci. Ragu-ragu, Sakura duduk di samping Sasuke dan membuka kotak tersebut dengan kalungnya.
Ada rasa familiar saat membuka kotak tersebut. Saat membuka kotak, Sakura kaget ada beberapa surat manis, cincin dan gelang cantik sudah lusuh mungkin beberapa tahun lamanya ditinggal seperti ini. Sakura mengambil gelang berbentuk batu sama dengan rambut dan matanya.
"Ini harta karun sebelas tahun yang lalu? Lalu, apa ini?"
"Itu adalah harta karun dari orangtuamu sebelas tahun yang lalu," kata Sasuke.
Sakura memasang gelang cantik dan cincin warna warni sesuai warna rambut dan matanya itu. Dia mencium benda-benda tersebut dan terharu. Ada perasaan kangen saat memasang benda-benda unik tersebut.
"Sakura...?"
Sakura memasang wajah senyuman mengembang menatap Sasuke bertanya-tanya. "Terima kasih, Sasuke! Ini adalah harta karun paling berharga yang pernah aku miliki."
Sasuke memalingkan muka sekali lagi. Sakura tidak boleh melihat dia merona sesaat. Sakura mengambil sepucuk surat di dalam kotak tersebut dan membukanya perlahan-lahan.
"Seperti apa sih, surat yang aku tulis sebelas tahun lalu?" Sakura tidak menyadari Sasuke mengambil surat lainnya dan menyembunyikan di saku celananya. Sakura merah merona membaca isi surat tersebut. Tanpa ketahuan, Sasuke bertanya-tanya apa yang membuat gadis berambut merah muda merona seperti itu.
"Ada apa?"
"Ti-tidak apa-apa..." Sakura berbalik badan. Sakura tidak mau Sasuke melihat suara hatinya sewaktu kecil yaitu menikah dengan Uchiha Sasuke suatu saat nanti. Isinya tertulis seperti itu. Sakura tidak percaya dirinya menulis seperti ini.
"Hn... karena kamu, pekerjaanku kembali tertunda."
"Jadi, ini kesalahanku lagi?" tanya Sakura menatap Sasuke kesal.
"Aku tidak bilang ini sepenuhnya kesalahanmu. Ini adalah caraku supaya kamu tidak pergi." Senyum Sasuke terlihat walau itu baru sepersekian detik. Sasuke sadar dan menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. "Sudahlah... lebih baik kita pulang saja. Kita pulang ke rumah."
Ada tawa dan senyuman di bibir ranum Sakura. Rasa lega menyelimutinya mengusir rasa gundah. Ini kedua kalinya dia jatuh cinta pada orang yang sama. Dirinya benar-benar berada di ambang terindah. Walaupun Sasuke terdengar agak kasar, tapi ada sisi lembut di dalam dirinya. Sakura bisa mengetahuinya.
Mereka kembali ke asrama Konoha. Sakura berterima kasih kepada Sasuke telah mengijinkan dirinya untuk tinggal di asrama ini lagi. Sakura berjanji tidak bakal membuat masalah lagi. Sakura membuka jendela kamar dan masuk, melambaikan tangan pada Sasuke. Sakura naik ke tempat tidur, namun ada sesuatu mengganjal di sampingnya.
Mengerjapkan mata berkali-kali, mata Sakura membulat. Ada sosok pemuda tengah tertidur lelap di sampingnya. Sakura baru sadari ini bukan kamarnya, tapi kamar orang lain tepat di sebelah kamarnya.
Sakura tidak bisa berbuat apa-apa. Apa yang terjadi? Apa Sakura ketahuan? Lalu, siapakah laki-laki yang tengah tertidur ini? Entahlah, tidak ada yang tahu.
To be continued...
.x.O.O.x
A/N: Ada yang saya ubah di sini. Saya kasih masukkan sedikit percakapan mereka sama dengan manganya. Hehe... terima kasih buat kalian yang sudah memberitahu saya. Terima kasih. Nah, saya review saja di sini.
Hanazono Yuri: Benar kok. Ini terinpirasi manga Miyawaki Yukino-sensei. Saya sekarang sudah mengubah sedikit. Ada beda, dan ada yang tidak. Semoga Yuri-san menyukainya.
Miss Devil A: Iya, benar kok. Saya lupa mencantumkan disclaimer. Terima kasih sudah sadar dan menyadarkan saya.
iSakuraHaruno1: Yup! Sama-sama, Via-chan. Semoga Via-chan menyukainya sampai tamat ya. #hug and kiss back :*
Floral White: Hehe... baca saja manganya. Keren lho. Tidak sekeren fict saya ini. Sekarang saya sudah ubah plotnya. Mungkin akan ada yang mirip atau tidak.
Tsurugi De Lelouch: Keren 'kan? Agak kerenan sedikit sih. Hehe... fict Wulan-san juga bagus banget dan keren! (y) :3
Mutiara Fujisawa Uchiha: Sama-sama, Tiara-chan. Semoga chapter dua ini bisa jadi proses terhebat. Hehe... :3 #maksudnya apa? #plak
Akane Fukuyama: Terima kasih sudah mengingatkan saya. Saya lupa karena keasyikan. Nanti saya edit kok. Hehe... #bungkuk dalam-dalam
Laura Pyordova: Laura-san sudah baca chapter dua? Pasti tahu apa peninggalan orangtua Sakura. Bagaimana jika itu Lee? Saya belum tahu siapa dijodohkan oleh Sakura. Itu adalah milik keluarga Haruno. Dulu sebuah villa kemudian menjadi asrama sekolah Konoha buat anak laki-laki. Semoga penjelasan ini akurat. Hehe...
Raditiya: Silahkan curcol, Radit-san. Di sini bebas. Curcolnya. Hehe...
Firuri Ryuusuke: Yup! Putri tersesat dan kemudian masuk ke asrama cowok. Saya ubah chapter dua. Semoga saja tidak ada kisah yang sama walau itu sedikit. #pose mikir
AcaAzuka Yuri Chan: Lucu dan menarik, pastinya. Semoga bisa menyukainya chapter dua ini. ^^
Maaf, hanya sekedar balas review di sini soalnya saya langsung update. Dimohon dimaklumi. Semoga minggu depan saya bisa membuat chapter tiganya. Terima kasih sudah membaca dan review, ya ^^
From,
Sunny Blue February (No Name)
Date: Makassar, 30 Mei 2013
