Youngmin Hell, love Kwangmin?

By : Hana Twins

Main cast :

Jo Youngmin 25 th

Jo Kwangmin 25 th

And member Boyfriend

.

.

Peringatan!

Aku hanya tergila-gila pada Jo Twins jadi biarkan imajinasi saya tertuang dalam bentuk ff/Boys Love/YAOI/INCEST/Mpreg/Hurt/Typo/Rape/DLDR!

.

.

Chapter 1

.

.


Udara pagi hari saat musim dingin terasa begitu menusuk. Bahkan salju terlihat menumpuk di halaman loby JANUS Apartemen. Terlihat petugas sedang membersihkan tumpukan salju dengan skop seadanya, mobil pembersih butiran putih itu sudah berlalu satu jam lalu, namun butiran salju sudah kembali menggunung.

"Pagi Ahjussi Lee.." Youngmin tersenyum hangat. Lengkungan merekah dari bibir merah itu mampu mencairkan kebekuan pagi. Namja cantik berambut blonde itu terlihat cantik dengan syal merah melilit lehernya hingga menutupi telinganya, Jaket bludru hitam, sepatu boot abu menyelaraskan penampilannya.

Ahjussi membalas sapaan namja cantik itu dengan ikut tersenyum ramah, namun mata tuanya kemudian beralih di kedua tangan Youngmin yang terselip di dua saku jaketnya.

"Nak Young tidak pakai sarung tangan?" suara namja tua itu menunjukkan gurat khawatir.

"Emm, ketinggalan jussi. Youngie malas jika harus kembali ke atas.." Youngmin tersenyum kikuk.

"Ck, pagi ini sangat dingin, kau bisa sakit. Dan itu wajahmu pucat di tambah jalanmu sedikit aneh nak Young.." namja paruh baya itu menatap intens sosok cantik yang masih setia berdiri di depannya yang menurutnya terlihat tidak sehat. Belum sempat Youngmin memberi jawaban, percakapan keduanya terputus saat mata indah itu melihat audi hitam masuk ke halaman apartemen dan berhenti di jarak tak jauh dari tempatnya berdiri. Youngmin tersenyum tipis, namja cantik itu sangat tau siapa pemilik audi itu.

Chup~

"Baby, mian membuatmu menunggu.." bibir tebal namja tampan itu mendarat mulus di dahi Youngmin seakan lupa jika mereka tidak hanya berdua melainkan ada Ahjussi Lee di tengah-tengah keduanya.

Hem..

Ahjussi Lee yang merasa di anggap kasat matapun berdehem tipis, sontak membuat semburat merah menjalar di pipi Youngmin.

"Kim Donghyun." Youngmin mendeathglare namjachingunya, namun justru ditanggapi dengan cubitan sayang di kedua pipi chubbynya yang tentu saja di lakukan namja tampan bermarga kim itu. Donghyun sudah sangat hapal, jika Youngmin sedang kesal pasti akan memanggilnya dengan nama lengkap dan Donghyun tidak suka itu mengingat usianya yang lebih tua tiga tahun dari kekasih cantiknya.

"Appo..." Youngmin semakin menekuk wajahnya.

"Saat marah kau semakin terlihat cantik baby Youngie, bukan begitu Ahjussi Lee?" Donghyun seakan meminta persetujuan pada namja paruh baya itu yang tentu di jawab dengan anggukan, sementara Youngmin semakin tertunduk malu.

Tanpa mereka sadari jika adegan manis mereka di tatap penuh benci oleh namja tampan berwajah serupa Youngmin lewat jendela kaca kamar. Bahkan rahang tergasnya terlihat mengeras dengan mata bening yang sudah memerah, sepertinya amarah sedang mengusai namja tampan itu.

.

.

.

Audi hitam yang di kemudikan Donghyun melaju mulus menembus jalanan ibu kota Korea, sesekali mata namja tampan itu melirik ke sisi samping di mana namjachingunya duduk diam, wajah cantiknya terus menoleh ke samping melihat deretan apapun yang di lewati mobil yang di tumpanginya.

"Baby, kelihatanya pemandangan di luar lebih menarik dari pada wajahku." Donghyun bicara menyindir dengan mata tetap fokus pada jalanannan. Pernyataan Donghyun sontak membuyarkan lamunan Youngmin dan sepontan menoleh pada kekasihnya.

"Ania.. bukan seperti itu..."

Pluk..

Donghyun mengusap helaian surai blonde Youngmin dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya tetap fokus pada setir kemudinya. Mata bulat Youngmin menatap dalam wajah hangat kekasihnya, tatapan yang sangat sulit di artikan.

'Mian Hyunie...'

hati Youngmin berdesis pilu saat merasakan sentuhan telapak tangan Donghyun di kepalanya. Begitu tulus dan penuh cinta. Tapi apa yang di lakukannya, dirinya sama sekali tidak pantas di cintai namja baik seperti Donghyun.

'Mianhe.. aku kotor...'

Youngmin mencoba menahan air matanya yang siap tumpah, seakan menyadari itu Donghyun merasa heran.

"Baby ada apa? Kau sakit.. syalmu terlalu tinggi menutupi lehermu, apa tidak sesak hem?" Tangan Donghyun terurur hendak sedikit menurunkan syal di leher Youngmin namun dengan cepat di tahan oleh tangan Youngmin.

"Jangan Hyunie.. a-ku... kedinginan.."

Youngmin bicara tergagap. Mana mungkin dirinya membiarkan syalnya turun jika begitu banyak redmarks di sekitar lehernya. Dan itu bukan hasil perbuatan Donghyun, tentu saja karena itu ulah Kwangmin adik kembarnya yang semalam menghajarnya habis-habisan di atas ranjang hanya karena fosenya di majalah BOY.

Donghyun menatap heran wajah kekasih cantiknya, namun kemudian kembali bersikap biasa mengingat keadaanya yang tengah mengemudi.

"Yup kita sampai.." Donghyun memarkir mobilnya di deretan butik kawasan Cheongdamdong, kawasan yang memang terkenal dengan distrik fashionnya. Alasan kenapa mereka ke sini, tentu saja untuk membelanjakan Youngmin, mengingat karier kekasi cantiknya sebagai model berkelas tentu saja pashion adalah yang utama. Youngmin hanya tersenyum tipis menanggapi antusias namjachingunya padahalkan dirinya yang di belanjakan tapi kenapa Donghyun yang girang.

Youngmin bukan tidak mampu memenuhi kebutuhan fashionnya, bahkan Kwangmin selalu memberikan apapun yang di inginkanya. Namun Donghyun selalu suka menghambur-hamburkan lembaran wonnya hanya untuk menyenangkan Youngmin meskipun sudah di tolak ratusan kali oleh namja cantik itu, wajar mengingat statusnya yang sebagai wakil direktur di perusahaan elektronik orang tuanya.

Sepasang kekasih itu berjalan bergandengan memasuki butik, dengan Donghyun yang tak pernah lepas menggandeng tangan Youngmin.

"Selamat datang tuan..." karyawan butik berseragam modis itu membungkuk hormat pada member langganan butik mereka, yang di sambut senyum tipis Donghyun dan Youngmin.

.

Waktu bergulir cepat, hari sudah semakin siang meskipun matahari tak nampak tentu saja karena di luar sedang turun salju. Sudah lebih dari lima butik yang di kunjungi bahkan tangan Donghyun sudah di penuhi kantong-kantong belanja Youngmin dan sebagian sudah tertata di dalam mobil.

"Apa ada lagi yang baby inginkan?"

"Emm tidak sudah cukup." Youngmin tersenyum manis membuat Donghyun semakin terpaku akan sosok indah yang berjalan di sampingnya.

Keduanya mengobrol santai di sepanjang jalan depan perbutikan sesekali namja cantik itu terkikik pelan saat mendengar lawakan yang meluncur dari bibir kekasihnya. Yah, hal ini yang membuat Youngmin menyukai Donghyun. Pribadi hangat, dewasa, mapan terlebih selalu memanjakanya. Namja cantik itu merasa nyaman tiap berada di dekat Donghyun, namja tampan itu sudah seperti appa dan terkadang bertindak seperti hyung.

Appa dan Hyung? Yah, sampai saat ini Youngmin belum merasakan getaran aneh yang bisa di sebut jatuh cinta di hatinya saat bersama Donghyun. Mungkinkah Youngmin belum bisa memberikan hatinya sepenuhnya pada namja dewasa itu? entahlah Youngmin sendiri tidak mengerti akan hatinya.

Ditengah suasana hangat yang tercipta di balik udara dingin yang menusuk, keduanya di kejutkan dengan sosk tampan memakai setelan jas dan kaca mata hitam yang keluar dari dalam mobil laborigininnya dan berjalan cepat menuju Youngmin dan Donghyun yang spontan mengehentikan langkahnya.

"Bisa aku pinjam Hyungku sebentar Donghyun-ssi." Suara berat Kwangmin terdengar datar namun begitu dalam dan menusuk. Youngmin yang merasakan aura kelam adik kembarnya tanpa sadar semakin erat memegang lengan namjachingunya.

Tanpa menunggu persetujuan dari Donghyun, Kwangmin menarik tangan Youngmin yang masih terbebas dan menyeretnya paksa.

Brak..

Kwangmin menutup pintu mobilnya dengan sedikit membanting, setalah memaksa Youngmin masuk dan duduk di dalamnya. Donghyun menatap datar kekasihnya yang balik menatapnya sendu.

"Hyunie..." suara merdu itu begitu lirih dan menghilang seiring laju mobil, meninggalkan Donghyun yang masih setia mematung di tempat dirinya berdiri.

"Jo Kwangmin, aku bukan namja bodoh. Aku tidak akan melepaskan Youngminku." Wajah Donghyun yang biasanya selalu memancarkan aura tenang itu mendadak menyuram. Kedua tanganya terkepal erat.

.

.

.


Siang hari tanpa sinar matahari kini telah bergulir berganti dengan awan terlihat ribuan bintang bertabur, hanya gelap terlihat. Youngmin tertidur lelap di atas ranjang berseprai sutra putih dengan taburan kelopak mawar putih di atasnya. Kemeja putih yang membalut tubuh kurusnya membuat sosok cantik itu terlihat rapuh sekaligus indah.

Cahaya temaram yang berasal dari lampu lampion yang tersebar di seluruh penjuru kamar bernuansa putih itu menciptakan kesan romantis.

Kicau burung malam, hingga bunyi serangga malam di balik jendela kaca yang terbuka sepertinya tak cukup mengusik tidurnya. Wajar saja, namja cantik itu mungkin keleahan setelah melewatkan berapa jam perjalan dengan mobil dan helikopter bersama Kwangmin, namja cantik itu hanya pasrah akan semua tindakan yang di lakukan adiknya bahkan saat Kwangmin membawanya ke tempatnya sekarang berada. Sebuah pulau indah di tengah laut lengkap dengan hunian nyaman. Bahkan Youngmin tidak tau ini dimana.

Youngmin hanya berfikir jika Kwangmin barusan membeli pulau ini. Untuk tujuan apa namja cantik itu tidak tau jika mengingat keluarganya sudah memiliki satu pulau pribadi.

Namun kemudian tidur Youngmin sedikit terusik saat merasakan sesuatu yang basah namun terasa hangat dan geli menyentuh kulit pipinya. Perlahan mata indah itu membuka untuk melihat apa yang sudah mengusik tidurnya.

Sontak mata indah itu membulat sempuran saat melihat wajah tampan Kwangmin bergitu dekat dengan wajahnya. Rahang tegas adiknya yang tertimpa sorot lampion terlihat manly, tak urung membuat darah Youngmin berdesis, sentuhan lidah panas Kwangmin di area pipinya seakan mampu menghangatkan cuaca dingin di tengah malam saat ini.

"Kwangieehh.." Youngmin bicara lirih sambil menahan desahanya saat lidah panas Kwangmin semakin melebarkan daerah jajahanya. Kini lidah Kwangmin sudah turun menyelusuri rahang hingga leher jenjangnya.

Kwangmin mengabaikannya, justru lidahnya semakin lincah menari-nari di permukaan kulit putih hyung kembarnya.

"Jebballl..."

Youngmin mulai mengiba, tindakan yang sukses membuat Kwangmin terusik. Mata tajam dengan lingkaran hasel hitam itu menatap nyalang namja cantik yang kini berada di posisi bawah tubuhnya.

Tatapan tajam penuh ambisis dan kebencian seperti ini yang selalu membuat hati Youngmin tertohok. Kemana adik manisnya, Kemana Kwangmin yang dulu, pribadi hangat yang selalu mebuatnya nyaman, bukan perangai sadis yang selalu sukses membuatnya takut.

Demi Tuhan, bukankah mereka kembar. Tapi kenapa Youngmin seolah tidak mengenal saudara kembarnya sendiri. Tanpa bisa di tahan lagi air mata yang tadinya sudah tergeanng jatuh begitu saja dari sepasang mata indah Youngmin. Cairan bening yang mewakili rasa sakit di hatinya.

"Bersikaplah manis arrachi? Dengan begitu aku tidak akan kasar." Kwangmin mengusap surai blonde Hyungnya dengan tatapan mata tajam dan nada penuh intimidasinya.

Grep..

Youngmin tidak menjawab pernyataan Kwangmin, justru yang di lakukan namja cantik itu adalah memeluk erat tubuh manly yang berada di atas tubunya, melingkrkan dua tanganya di punggung adik yang sangat di sayanginya.

Tubuh Kwangmin sontak menegang mendapat rengkuhan tiba-tiba dari hyung cantiknya. Entah mengapa rengkuhan yang terasa menyakitkan. Begitu banyak luka di dalamnya. Kwangmin menyadari itu namun mencoba untuk mengabaikanya.

Tekadnya sudah bulat, meski harus melukai Youngmin, hyung kembarnya sendiri. Dirinya akan mempertahankan apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Jo Youngmin hanya milik Jo Kwangmin

Kalimat itu mutlak dan tidak bisa di ganggu gugat.

.

Saat ini dua namja bermarga Jo itu sedang duduk bersandar di kepala ranjang.

Hening..

Tidak ada yang mau membuka suara, keduanya seakan tenggelam dalam pemikirannya sendiri-sendiri. Mata indah Youngmin beralih ke seprai yang di dudukinya saat tanganya menyentuh benda lembut yang tak lain adalah kelopak mawar yang bertebaran di sekitanya.

Namja cantik itu tersenyum miris, matanya ganti beredar ke seluruh penjuru kamar. Begitu tertata apik dan tekesan romantis. Ratusan bunga terangakai di vas-vas dan kain putih yang menjuntai di sana sini. Seperti kamar pengantin. Mata indah itu beralih menatap Kwangmin yang masih bungkam dengan tatapan kosongnya.

"Kwangie.."

Youngmin menyandarkan kepalanya di bahu adiknya, kemudian menutup matanya.

Deg..

Jantung Kwangmin menggila saat merasakn tangan halus hyungnya melingkar di pinggangnya. Ada apa dengan Hyung cantiknya, kenapa bersikpa manja. Sudah lama mereka tidak bersentuhan hangat seperti ini. Sudah lima tahun lebih terhitung keakraban semakin berkurang dan hubungan keduanya semakin memburuk terlebih semenjak tujuh bulan terakhir awal di mana dirinya yang merenggut paksa kesucian hyungnya.

"Kwangie..."

"..."

"Hyung merindukanmu..."

Tes..

Kristal bening itu loloh membasahi bahu kwangin yang terbalut piyama tidur. Kwangmin merasakannya namun namja tampan itu masih diam.

"Apa tidak apa-apa jika kita seperti ini?"

Tes..

Kwangmin mengepalkan tanganya di sisi pahanya, mencoba menahan rasa sesak yang bergejolak di hatinya.

"Kau yang menata kamar ini?"

"..."

"Cantik... hyung suka..."

Chup~

Youngmin mengecup singkat pipi Kwangmin, membuat namja tampan itu semakin kaku, sungguh perasaan Kwangmin di buat campur aduk. Detak jantung kwangmin semakin menggila saat melihat senyum terukir di bibir plum hyungnya.

"Ini dimana? Berapa lama kita di sini Kwangie? Lusa Hyung ada pemotretan.." Youngmin kembali menyandarkan kepalanya di bahu Kwangmin, namja cantik itu masih menuggu adiknya mau untuk membalas ucapannya.

"Satu minggu."

Suara berat itu masih terdengar dingin, Youngmin terkejut. Tentu saja, namun dirinya mencoba bersikap tenang. Sekarang namja cantik itu sudah sedikit memahami karakter baru adiknya.

Kwangmin yang sekarang tidak suka penolakan, Kwangmin yang sekarang berubah otoriter dan dingin. Kwangmin yang sekarang selalu mendapatkan apa yang di inginkanya, bahkan jika itu dirinya sendiri.

Bersikap tenang san lembut mungkin itu bisa meluluhkan kekerasan hati adiknya. Yah, namja cantik itu masih mempercayai ikatan yang kuat hati mereka, karena mau seperti apapun hubungan keduanya. Bukankah mereka kembar.

"Aku sudadah megurus cutimu lewat managermu."

"Berapa lama?" Youngmin mulai takut.

"Satu tahun." Kwangmin menjawab begitu enteng, seolah tidak ada beban. Keputusan sepihak yang sukses membuat Youngmin shock.

"Jika kita di sini satu minggu, bagaimana dengan perkerjaanmu.. kau harus mengurus Jo Company. Jangan lupakan kau presdir Kwangie..." Youngmin masih berusaha bersikap tenang, padahal detak jantung namja cantik berdegup kencang. Perasaan takut mulai menyelimuti benaknya. Youngmin bukan namja bodoh yang tak bisa membaca situsasi.

Satu minggu berada di pulau asing bersama adiknya. Hal apa yang akan di lakukan Kwangmin padanya. Sungguh Youngmin sudah bisa menebak.

Jika ini merupakan liburan keluarga, liburan bahagia antara namdongsaeng dengan hyungnya mungkin Youngmin tidak akan pernah keberatan. Tapi ini berbeda, sangat berbeda. Kenapa seolah terlihat seperti bulan madu pasangan pengantin, terlebih saat namja cantik itu melihat dekorasi kamar yang saat ini di tempatinya. Hanya memikirkanya saja membuat Youngmin gila.

"Tentu, aku juga sudah mengurusnya."

Sreak..

Tangan kiri Kwangmin meraih bahu Youngmin, membuat Hyung cantiknya berhadapan dengannya. Kwangmin selalu terpesona akan kecantikan Hyungnya. Mereka kembar tapi kenapa wajah hyungnya sangat cantik.

Perlahan jari panjang Kwangmin menyentuh pipi putih mulus Hyungnya, mengusapnya berulang-ulang dengan punggung tangannya. Kemudian turun ke bibir plum merah Youngmin.

Kwangmin terpana untuk kesekian kalinya, menatap pahatan sempurna di depanya, yang selalu mampu menaikan libidonya, dan seperti saat ini hasrat ingin memiliki Hyung cantiknya kembali membuncah.

Youngmin hanya diam, mencoba menikmati sentuhan lembut Kwangin, meskipun hatinya terasa sakit. Biar bagaimanpun apa yang mereka lukan adalah sebuah dosa yang tak terampuni. Kenapa adiknya seakan menutup mata.

Cup~

Mmphh..

Kwangmin menyesap lembut bibir kenyal Youngmin, hanya sebentar lalu melepas tatuan bibirnya dan kemudian menatap dalam manik mata hyungnya yang mulai bergerak gelisah. Kwangmin menyadari persaan gundah Hyungnya. Youngmin yang tidak menginginkan sentuhanya namun juga tak kuasa untuk menolak.

'Jo Kwangmin yang memegang kendali.'

Bibir sexy namja tampan itu menyeringai. Kwangim mendekatkan bibirnya di telinga Youngmin dengan tubuh yang semakin memepet namja cantik itu. Bahkan Kwangmin bisa merasakan jantung hyungnya yang berdetak cepat karena tubuh mereka yang tak bercelah.

"Yeobo..."

Deg

Jantung Youngmin semakin berdetak cepat. 'Yeobo? Kwangie memanggilku Yeobo?' mata indah itu membulat sempurna. Tubuh namja cantik itu menegang, bagaimana mungkin adik kembarnya memanggilnya seperti itu.

"Aku ingin menitipkan benih Jo di rahimmu yeobo... satu minggu, kurasa cukup." Tangan kiri Kwangmin melingkar erat di pinggang Youngmin, semakin mempererat rengkuhanya, sementara tangan kanannya mengusap perut rata Youngmin.

"Wae? Terkejut hem? aku tau jika Jo Youngmin saudara kembarku yang cantik ini namja istimewa.."

"Youngie memiliki rahim, ania?"

Kwangmin berbisik seduktif di telinga sensitif Hyung cantiknya yang wajahnya kini sudah memucat sempurna. Male pregent, apa yang di katakan kwangmin tidak salah, tapi kenapa adikya bisa tau. Bukankah untuk hal ini hanya eomma dan appanya saja yang tau. Tidak dengan Kwangmin.

'Demi Tuhan Youngmin. Kwangin sudah dewasa, adikmu tumbuh menjadi namja dewasa yang cerdas dan berkuasa. Mencari tau semua tentangmu itu hal yang mudah baginya bukan?' Youngmin terus merutuki dirinya sendiri di dalam hati.

Jujur karena keistimewaan yang dimiliknya sebagai namja itu lah yang membuat Youngmin tidak memiliki ketertarikan pada yeoja dan memilih menjalin hubungan dengan Donghyun. Namun tidak pernah terlintas di benakknya jika Kwangmin, adik kembarnya lah yang akan menaburkan benis di rahimnya. Dan sudah di pastikan jika itu benih dosa.

"K-kwangie..." Youngmin bicara lirih nyaris berbisik.

"Wae yeobo?" Kwangmin semakin intens meraba perut rata Youngmin, bahkan tangannya sudah semakin turun ke area privasi Youngmin.

"Kwang..." wajah cantik Youngmin memerah, saat merasakan remasan-remasan ringan tangan Kwangmin yang terus menjamah miliknya yang dirinya tau sudah mulai terbangun, menyadari hal itu membuat seringaian Kwangin semakin menjadi.

"Dengar Youngie Yeobo, aku akan menumpahkan beribu-ribu benihku di rahimu selama satu minggu. Kita akan menghabiskan malam-malam panas penuh senasi nikmat."

Kwangmin semakin intens mempermainkan milik Youngmin di balik underware putih yang membungkus milik hyung cantiknya.

Namja tampan itu tidak perduli meski tangan Youngmin berusaha mengalihkan tanganya. Justru pemberontakan Youngmin semakin membuatnya tertantang. Sudah cukup dirinya bersabar. Beulang kali dirinya menyetubuhi Youngmin namun tidak membuahkan hasil meskipun pada kenyataanya hyungnya memiliki rahim layaknya yeoja. Dan setelah Kwangmin tau jika selama ini Hyungnya selalu mengantisifasi kehamilanya dengan berbagai macam pil, tentu hal itu membuat Kwangmin murka.

Dan kali ini, namja tampan itu menjamin jika dirinya mampu membuat hyung cantiknya mengandung anaknya. Karena di tempat ini tidak ada pil terkutuk penghambat tumbuhnya janin di rahim hyungnya. Kwangmin sudah merencanakan semua ini.

.

"Aaaa...hh.. kwanngg..."

Youngmin tergeletak terlentang di atas tempat tidur dengan dua tangan mencengkram seprai hingga mengacak kelopak mawar di sekelilingnya. Mata indahnya terlihat sayu dengan bibir merah yang terus mengeluarkan desahan merdunya, tak kuasa menahan nikmat saat tangan kwangmin bergerak lincah mengocok kejantananya.

Namja cantik itu tidak mampu menyangkal setiap sentuhan Kwangmin di tubuhnya yang jujur selalu mampu membuatnya melayang meski terkadang kasar. Meski sisi kewarasannya masih cukup membuatnya sadar untuk tak terlalu terbuai akan kenikmatan yang di berikan adiknya.

Biar bagaimanapun, apa yang mereka lakukan salah. Tidak ada pembenaran dalam hubungan sedarah, mengingat kenyataan itu membuat namja cantik itu tak kuasa menahan tangisanya di tengah desahan nikmatnya.

Slup..

Emm..

Slup..

Kwangmin menikmati junior Youngmin bak es loli manis. Menyesapnya dalam, membuat desahan Youngmin semakin menjadi.

"Hohh... ungghhh... Kwanggggg..."

Cruttttttt..

Cairan putih kental itu menyembur deras masuk dalam mulut Kwangmin yang tetap betah mengulum junior hyung cantiknya. Menyesap habis cairan putih kental yang dirasanya sangat manis.

Kwangmin merangkak, mensejajarkan tubuhnya dengan Youngmin. Mata tajamnya memperhatikan detail wajah cantik hyungnya yang di penuhi peluh. Terlihat jelas ekspresi nikmat sekaligus lega tergambar di wajah cantik Youngmin. Dan Kwangmin menatapnya puas.

"Yeobo suka?" Kwangmin berbisik di depan wajah Youngmin, mata bulat Youngmin kemblai membuka saat merasakan terpaan nafas hangat adiknya tepat di kulit wajahnya.

"Selama satu minggu saengmu akan mengalirkan benih kerahimu hyung.. aku akan melakukanya berulang-ulang sampai kau mengandung aegyaku, bahkan hingga tubuhmu tak mampu menampung benihku, aku akan terus menumpahkannya. You Know yeobo?" mata Kwangmin berkilat tajam. Cinta buta yang berubah menjadi obsesi seakan membuncah di diri namja tampan itu.

"Kwangie... ini salah.. hiks..." mata bulat indah itu meratap mengiba pada Kwangmin yang kini terlihat menakutkan baginya. Tidak. Yang ada di atas tubuhnya saat ini bukan lagi Kwangmin adiknya. Jo Kwangmin sudah tidak ada lagi, adik yang begitu dimanjakanya dan selalu menuruti semua perintahnya sudah hilang tak berbekas, seakan seperti anai yang tertiup angin.

Youngmin hanya bisa menutup mata, terpejam erat. Sang hyung yang lahir enam menit lebih dulu itu tak kuasa untuk melihat keadaan tubuhnya. Bagaimana Kwangmin menjamahnya saat ini atau mungkin mata tajam adiknya yang menyelanjangi tubuh polosnya.

"ANDWAE KWANG! JEBBALLL... sadarlah JO KWANGMIN aku hyungmu!"

.

.

.

.

.

.

TBC

Terima kasih untuk respon posistifnya

Seneng deh ternyata penggila Jo Twins rame juga..

Haa... hana terharu T-T

Buat yang suka Jo Twins unyu2 jika berkenan klik kotak review ne ^^