Naruto ⓒ Masashi Kishimoto
This story pure is mine
`°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°``°``°•.¸¸.•° `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°``°``°•.¸¸.•° `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°``°``°•.¸¸.•°
Genre:: romance/drama/tragic/hurt/comfort;dsb..
OOC;OC;misstypo;dsb..
Rating:: M
`°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°``°``°•.¸¸.•° `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°``°``°•.¸¸.•° `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°` `°•.¸¸.•°``°``°•.¸¸.•°
Please Read n Review..!
I don't accept flame in my fict!
Onime no Uchiha Hanabi-hime
Present...
'Dream Traveller'
.
.
.
Sakura melempar tasnya. Lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
Morino .. Hidate ..
Pria dalam mimpiku itu?
Bukankah Hidate?
Apa maksudnya ini?
Sakura bangkit dan mengganti pakaiannya dengan kemeja ketat serta miniskirt berlipit. Lalu berjalan pergi menuju apartemen dimana mayat Hidate ditemukan.
Sesampainya di tempat itu, masih ada beberapa polisi dan detective yang menyelidiki.
Sakura merasa benar-benar tak asing dengan apartemen berdebu dan tak terawat tersebut. Apartemen itu, sangat mirip dengan apartemen yang ada dalam mimpinya.
"Permisi, saya boleh bertanya?" Tanya Sakura pada salah seorang polisi yang berdiri mengamankan TKP.
"Ya, ada apa?" Jawab polisi itu.
"Bagaimana keadaan awal jenazah saat ditemukan?" Tanya Sakura.
"Jenazahnya tidak menggunakan pakaian, dan ditemukan luka-luka sayatan di tubuhnya. Dan lagi, tak ada sidik jari orang lain di apartemen itu. Sebab apartemen itu juga apartemen kosong yang sudah lama tak dihuni" jelas polisi itu.
Tanpa pakaian.
Tubuh penuh sayatan.
Sakura berjalan tanpa arah, pikirannya terus terbayang akan mimpi dan sebuah kenyataan yang tidak masuk akal sama sekali.
Malam tadi ia bermimpi bercinta dengan pemuda bernama Hidate itu. Ia menyayat tubuh pemuda itu hingga membuat pemuda cukup tampan itu tak bergerak sama sekali. Dan setelah bangun, ia harus menerima kenyataan bahwa pemuda bernama Hidate yang ternyata memang ada itu telah tewas.
Setibanya di apartemennya, Sakura langsung menidurkan diri berusaha untuk istirahat.
.
.
.
'Dream Traveller'
.
.
.
Siang itu matahari terasa semakin menyengat. Sakura melepas pakaiannya dan menggantinya dengan tanktop serta jeans pendek yang panjangnya 5 jari dari selangkangan. Kemudian Sakura berjalan-jalan mengitari taman yang sejuk dengan pepohonan.
Tiba-tiba seseorang menarik tubuh Sakura dan mengapitnya di antara tubuh orang itu dengan pohon.
"Siapa kau?" Tanya Sakura.
"Sasori" sahut pemuda bermata ruby itu.
"Mau apa?" Tanya Sakura lagi.
"Aku menginginkanmu" sahut pemuda berambut merah itu.
Sakura tersenyum, "kau bergurau?" Tanya Sakura.
Sasori mengecup bibir Sakura, "ayolah.. Jangan membuatku menunggu" ucap Sasori.
Sakura menjilati bibir Sasori, lalu meraupnya. Menikmati setiap mili bibir pemuda berwajah manis itu.
Sasori terlihat menikmati setiap jilatan, engahan, kuluman dan gulatan dari Sakura. Namun jika hanya bibir baginya hal yang terlalu biasa, ia lalu meraba-raba tubuh Sakura. Ketika ia berhasil mendapatkan kedua belah payudara Sakura, diremasnya perlahan. Lalu semakin keras dan keras. Diselipkan tangannya ke balik tanktop Sakura. "Putingmu mengeras" bisik Sasori.
Sakura tersenyum, "kau juga mengeras" bisik Sakura balik.
Sasori tersenyum, ternyata tanpa ia sadari tangan Sakura sejak tadi telah menggerayangi kejantanannya.
"Nikmati aku untuk terakhir kalinya" desah Sakura di sisi telinga Sasori. Membuat pemuda itu semakin bergairah.
Sasori menarik Sakura hingga terduduk, dibukanya paksa jeans Sakura lalu memasukkan kejantannya yang berukuran besar ke dalam vagina Sakura. Tanpa memberi waktu bagi Sakura untuk menyesuaikan diri, Sasori sudah menggerak-gerakkan pinggulnya dengan tempo cepat.
"Ah.. Uh.. Ngh.. Ah.. Ah.. Uh.. Ngh.." Desah Sakura sembari meremas rumput yang ada di bawahnya. Matanya terpejam menikmati sensasi dari kejantanan Sasori yang memenuhi lubangnya.
"Ugh..." Sasori melengguh ketika ia mencapai klimaks. Dikeluarkannya kejantanannya dan kemudian menyuruh Sakura mengulumnya. "Ah.. Terus.. Lebih cepat.." Desah Sasori ketika Sakura mempercepat tempo kulumannya. Sesekali Sakura menjilati pucuk penis pemuda itu yang membuat Sasori meremas pohon yang menjadi tumpuannya.
"Ngh.." Desah Sakura ketika Sasori klimaks di dalam mulutnya. Membuat mulutnya penuh akan sperma pemuda itu.
Sasori lalu mendudukan Sakura di pahanya. Dimasukkannya penisnya ke dalam rectum Sakura yang membelakanginya.
"Ahhh!" Jerit Sakura, ia merasa sangat perih di bagian rectumnya.
Sasori terus menggerakkan pinggulnya, mengin-outkan penisnya di dalam rectum Sakura. Sementara jari-jemari kanannya ia mainkan di vagina Sakura dan tangan kirinya di payudara Sakura.
"Ahh.. Ini memabukkan.. Ngheuh.. Oh.. Ah.. Ah.. Uh.." Desah Sakura kenikmatan.
"Ahh..." Desah Sasori dan Sakura bersamaan ketika mereka klimaks secara bersamaan.
Sakura membalikkan tubuhnya tanpa melepas penis Sasori dari rectumnya. "Kau menikmati ini?" Tanya Sakura.
"Kau yang terhebat" jawab Sasori.
Sakura tersenyum, ia menjilati bibir Sasori sembari menggerakan pinggulnya.
"Ugh.." Desah Sasori.
Sakura kemudian menjilati leher Sasori.
"Oh.. Kau benar-benar hebat.." Desah Sasori memejamkan matanya menikmati sensasi-sensasi yang diberikan Sakura.
Sakura menjilati leher Sasori hingga akhirnya digigitnya leher itu pada bagian pembuluh darah. Menyebabkan banyak darah yang terus mengalir dari sana.
"Apa yang kau lakukan?" Seru Sasori.
"Ini akan menjadi sex terakhirmu" bisik Sakura dan menjilati darah yang terus mengucur dari leher pemuda itu.
Awalnya Sasori memberontak, namun lama-kelamaan ia semakin tenang dan kemudian berhenti memberontak.
Sakura tersenyum, "kau menikmatinya?" Tanya Sakura dengan seringai misterius.
"..." Tak ada jawaban dari Sasori.
"Kau menikmatinya?" Tanya Sakura kali ini dengan nada membentak. Sakura lalu bangkit, "ugh.." Lengguhnya. Ketika ia bangkit, ia menarik diri dari penis Sasori yang masih di dalam rectumnya. Ditendangnya pemuda yang sudah tak bergerak itu. "Mati" gumamnya. Lalu ia memakai jeansnya dan meninggalkan Sasori begitu saja. Dengan darah yang masih mengalir indah di lehernya.
.
.
.
'Dream Traveller'
.
.
.
"Sakura..." Sebuah elusan lembut membuat wanita berambut pink itu terbangun dari tidurnya.
"Ngh.. Kau baru pulang? Jam berapa sekarang?" Tanya Sakura.
"Sudah jam 3 sore. Maafkan aku karena tak bisa pulang bersamamu. Aku harus menghadiri pemakaman Hidate-san" jelas Sasuke sembari mendekap Sakura. Menghirup aroma tubuh wanita itu.
"Hn.. Tak apa" sahut Sakura.
"Eh? Kenapa ada bercak darah di wajahmu?" Tanya Sasuke ketika menyadari di pipi dan hidung wanita itu terdapat bercak darah.
Sakura langsung berlari ke cermin. "Tidak" gumamnya.
Sasuke menatap heran Sakura, lalu dihampirinya wanita itu. Dipagutnya erat, seolah tak ingin melepaskannya, tak ingin membaginya, dan ingin memiliki seutuhnya.
Aku sekarang ada dimana?
Dunia nyata?
Ataukah mimpi?
"Sasuke, apakah aku sedang bermimpi?" Tanya Sakura.
Sasuke menatapnya heran, "apa maksudmu?" Sahut Sasuke.
"Ini nyata atau mimpi?" Tanya Sakura sekali lagi.
"Tentu saja kenyataan" sahut Sasuke malas. "Kau ini kenapa sih?" Tanyanya mulai gerah dengan pembicaraan Sakura.
Sakura menarik sebuah jaket hoodie hitam di gantungan lemarinya dan pergi meninggalkan Sasuke begitu saja.
"Woy!" Seru Sasuke. "Anak itu.. Tingkahnya menjadi menyebalkan!" Decihnya.
Sakura terus melangkahkan kakinya tanpa berpikir ia hendak kemana. Saat sedang berkelut dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba sebuah jeritan membuat kesadarannya kembali pada tempatnya. Sakura berlari menghampiri asal suara.
Diam.
Mematung.
Tak dapat bergerak.
Menangis.
Takut.
Ingin lari.
Berteriak.
Tak bisa.
"Ada mayat!"
'Bruk!'
Kenapa?
Ada apa denganku?
Apakah ini mimpi?
Atau kenyataan?
Bangunkan aku.. Aku mohon..
Bangunkan aku..
Sakura memandangi mayat seorang pemuda yang berkucuran darah yang mengalir dari lehernya dengan mata terbelalak dan air mata yang tak henti-hentinya membasahi pipinya.
"Sakura!" Sasuke menghampiri Sakura yang terduduk di rerumputan tak jauh dari mayat pemuda itu. "Kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke khawatir.
Sakura langsung berhambur ke dalam dekapan pemuda raven itu. Dicengkramnya erat t-shirt Sasuke. "Aku takut.. Aku takut ini akan terus berlanjut.." Isak Sakura.
Sasuke diam, ditatapnya Sakura yang menelusupkan wajahnya ke dadanya. Tatapan mata tajam menyiratkan kekhawatiran miliknya sebelumnya kini meredup menjadi tatapan nanar yang tak tega melihat wanitanya itu menangis. Didekapnya erat Sakura, "aku mengkhawatirkanmu" gumam Sasuke.
Sakura terdiam, ia bisa mendengarkannya. Detak jantung Sasuke yang menggebu dadanya sendiri. Sebuah senyuman kecil tercipta di wajah sayu Sakura yang bersandar di dada bidang Sasuke.
Masih sulit mengatakannya..
"Jangan tinggalkan aku seperti itu lagi" ucap Sasuke.
Sakura mengangguk, "maafkan aku" gumamnya.
Sasuke menggenggam tangan Sakura dan menggandengnya pergi dari taman itu.
Beberapa polisi datang memeriksa pemuda yang tewas di bawah pohon dengan celana yang terbuka, penis yang dikeluarkan dari sangkarnya, leher yang bersimbahan darah. Pemuda berambut merah yang posisinya tak berubah sama sekali, masih tetap sama seperti di dalam mimpi Sakura. Persis seperti saat setelah Sakura menendang pemuda itu.
Sakura melirik sepintas mayat pemuda itu.
Sasuke dan Sakura berjalan di perkotaan Tokyo yang padat.
"Breaking News!
Seorang pemuda yang diketahui bernama Akasuna Sasori siang tadi tewas di taman Madoka.
Tak ditemukan jejak bunuh diri. Namun juga tak ditemukan sidik jari lain di tubuh korban.
Ini adalah korban kedua yang ditemukan tewas mengenaskan seolah dibunuh. Sebelumnya kita mengenal Morino Hidate yang ditemukan tewas di apartemen kosong. Bagaimana pemuda itu bisa berada di apartemen kosong itu? Polisi sendiri masih menyelidiki.
Siapa pembunuhnya? Mungkin orang ini sangat mahir dalam membunuh sampai tak meninggalkan jejak sama sekali.
Bagi seluruh penduduk Tokyo dan sekitarnya dipinta untuk berhati-hati pada siapa saja orang yang mencurigakan.
Demikian Breaking News."
Sakura semakin merunduk mendengar berita di televisi sepanjang jalan yang ia jalani dengan Sasuke.
Dua orang..
Mungkin hanya kebetulan..
Ya, pasti hanya kebetulan..
Sasuke menatap Sakura yang terus merunduk. Ditariknya pundak Sakura agar mendekat dengan dirinya.
Sakura terkejut dengan tindakan Sasuke. "Jika ada yang melihat, mereka akan berpikir kita sepasang kekasih" gumam Sakura.
"Biarkan saja. Asal mereka tak menyentuhmu, aku tak perduli" sahut Sasuke datar.
Sakura merunduk, ia malu dan juga agak kecewa. Ia berharap Sasuke akan mengakui dirinya sebagai kekasihnya. Tapi sepertinya itu adalah suatu angan, yang takkan pernah menjadi kenyataan. Mengatakan dua kata yang sejak 2 tahun lalu dinanti Sakura saja tak pernah bisa terlaksana. Apalagi berharap Sasuke mengakui dirinya sebagai kekasihnya. Itu hal yang mustahil di muka bumi ini, walau tak ada yang mustahil di muka bumi ini.
"Jangan merunduk. Sudah sekian kali ku katakan jangan merunduk!" Seru Sasuke agak kesal melihat Sakura yang terus merunduk.
Sakura langsung menatap Sasuke agak takut. Walau sudah sekian kali dibentak Sasuke, entah kenapa kali ini pemuda itu sepertinya benar-benar marah padanya. Mungkin karena ditambah efek kekhawatiran pemuda itu akan wanitanya yang tiba-tiba menghilang tadi.
Setelah mereka berada di dalam kereta api, Sakura akhirnya bertanya "kemana kita akan pergi?".
Sasuke diam, diliriknya wanita itu dari sudut matanya. "Ke suatu tempat yang akan menenangkan pikiranmu" sahut Sasuke.
Sakura tersenyum, ternyata Sasuke benar-benar memikirkannya. Mungkin melihat tingkah Sakura yang aneh sejak pagi tadi membuat Sasuke memikirkan suatu hal yang bisa membuat Sakura lebih menenangkan pikirannya sejenak.
Sakura menatap keluar jendela. Walau hanya beton-beton yang menjadi pemandangan di luar sana. Tetap saja Sakura memandanginya. Bukan. Bukan beton-beton itu sebenarnya, melainkan pantulan dirinya di jendela bening itu.
'Syut!'
"Ah!" Sakura terkejut ketika tiba-tiba Sasuke mengapitnya ke jendela kereta tersebut.
"Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku sangat menginginkanmu Sakura" bisik Sasuke.
Sakura melengguh ketika kedua tangan Sasuke meremas kedua payudaranya. "Sasuke, ngh.. Ini di kereta" ucap Sakura.
Sasuke tak menjawab, ia menjilat daun telinga Sakura dan tangan kanannya perlahan menggapai bagian sensitif Sakura. Disikapnya miniskirt Sakura, menerobos celana dalamnya dan memasukkan jari tengahnya ke dalam vagina Sakura.
"Ngh.." Desah Sakura, ia menutup mulutnya agar orang-orang di sekitar mereka tak mendengarnya.
Hentikan!
Aku mohon hentikan!
Aku tak ingin melukaimu Sasuke!
Aku takut jika aku melukaimu!
'Dugh!'
Sasuke menjauhkan tubuhnya dari Sakura dan menatap siapa orang yang menyenggolnya.
Sakura menatap seorang pria mabuk dengan rambut perak menjulang ke atas (?).
"Woy!" Seru Sasuke agak kesal dengan pria mabuk itu. Karenanya, hilang sudah mood Sasuke untuk melanjutkan aksinya di dalam kereta itu.
"Yo!" Sahut pria mabuk itu sembari melambai dan pergi.
"Dia pikir aku menyapanya? Menyebalkan!" Decih Sasuke.
Sakura tersenyum. Dibelainya pipi Sasuke lembut menenangkan amarah pemuda berambut emo itu. "Tak apa. Dia mabuk, dia pasti tak sengaja" ucap Sakura.
Sasuke memejamkan matanya menikmati elusan lembut Sakura di pipinya.
Kereta berhenti, langkah kaki Sasuke membawa Sakura pada sebuah taman bermain dengan komedi putar raksasa di tengahnya.
"Sasuke?" Panggil Sakura.
"Hn"
"Kenapa kemari?" Tanya Sakura.
"Kita bisa bersenang-senang?" Sahut Sasuke dan menggenggam tangan Sakura erat, menggandeng wanita itu, membawanya berlari ringan menuju komedi putar raksasa di tengah taman bermain tersebut.
Setelah mengantre membeli tiket dan naik komedi putar. Mereka berdua akhirnya bisa duduk tenang untung 30 menit ke depan di dalam sana.
Sasuke memandangi Sakura yang duduk berseberangan dengannya agar tempat kecil berbentuk sangkar burung itu tetap seimbang. Dipandangnya keluar tempat itu, lalu menghela nafas.
'Cup!'
Sasuke tercekat dan langsung memandangi Sakura. Ia terkejut karena tiba-tiba wanita musim semi itu menghampirinya dan mengecup singkat bibirnya.
"Sasuke.. Maafkan aku.." Gumam Sakura.
Sasuke mendongakkan wajah Sakura yang merunduk, "sudah ku bilang jangan terus merunduk" ucap Sasuke. Kali ini dengan nada yang sangat lembut. Dikulumnya bibir Sakura, dilumat, dijilat, dan dipaksanya lidahnya masuk ke dalam mulut Sakura. Mengajak lidah Sakura beradu bersama. Sesekali komedi putar raksasa itu terhenti membuat suatu getaran pada tempat mereka menjadikan ciuman mereka semakin dalam.
Sasuke perlahan mendorong tubuh Sakura hingga terebah di lantai tempat itu dengan terus mengadu lidah mereka. Ia naiki tubuh Sakura, dibukanya kemeja Sakura, memperlihatkan sepasang payudara berukuran besar yang tertutup bra yang berukuran lebih kecil dari payudaranya.
"Ugh.." Lengguh Sakura disela ciuman mereka ketika Sasuke memijit lembut payudara kirinya dengan tangan kanan Sasuke, sedangkan tangan kirinya menyangga tubuhnya agar tak menindihi dirinya.
"Hn.. Sakura.. Aku menginginkanmu.." Gumam Sasuke disela ciuman mereka.
"Hn.. Ngh.." Sakura hanya bisa mendesah tanpa bisa berucap. Perlakuan yang diberikan Sasuke padanya begitu nikmat. Apa lagi ketika ia merasa penis Sasuke yang sudah menegang menyentuh perutnya yang tak tertutup kemejanya lagi.
Tangan kanan Sasuke kini sibuk membuka zipper celananya yang terasa sesak. Dikeluarkannya penisnya yang berukuran besar itu dari dalam celananya. Lalu ia kembali meremas payudara Sakura dan memilin putingnya yang mengeras sembari terus bergulat dengan lidah Sakura.
Sakura menggapai penis Sasuke dan mengocoknya perlahan sembari terus bertanding lidah.
"Ahh...!" Desah Sasuke panjang ketika ia mencapai klimaks. Benang-benang halus dari saliva mereka berdua menjulur panjang terhubung antara bibir Sasuke dan Sakura. Sasuke memejamkan matanya menikmati setiap mili cairannya yang keluar.
Nafas Sasuke menderu, ia menyandarkan dirinya di bangku yang berada di belakangnya kelelahan.
Sakura duduk di hadapan Sasuke, menatap Sasuke yang penuh keringat. Digapainya pipi pemuda itu, disikapnya keringat Sasuke yang ada di pelipisnya. "Aku milikmu Sasuke" ucap Sakura dan merangkak menghampiri Sasuke. Duduk di antara selangkangan Sasuke, memasukkan penis Sasuke ke dalam vaginanya.
"Ughhh..." Desah keduanya.
Sakura menggerakkan pinggulnya naik turun.
"Ahh.." Desah Sasuke. Diremasnya kedua payudara Sakura yang bergoyang-goyang di depan wajahnya. "Kau ingin mendominasi, huh?" Ucap Sasuke sambil tersenyum menatap Sakura.
'Deg!'
Sakura langsung terdiam. Ia merunduk.
Sasuke menatap Sakura yang tiba-tiba terdiam, dipilinnya puting Sakura.
"Aku.. Tak ingin.. Melukaimu.." Gumam Sakura yang tertunduk.
Sasuke diam, ia merasa jadi canggung sekarang. Ia pun mamacu penisnya di dalam vagina Sakura dengan cepat.
"Aaaaa!" Jerit Sakura yang merasa perih di bawah 'sana'.
"Sakura!" Seru Sasuke ketika ia klimaks kembali dan mengeluarkan spermanya jauh ke dalam liang Sakura.
"Ahhh..." Desah Sakura merasakan kehangatan yang memenuhi liangnya. Kehangatan yang keluar bersama dengan kenikmatan yang sudah sekian kali ia rasakan namun selalu bisa ia nikmati. Apalagi kenikmatan itu diciptakan oleh orang yang ia cintai.
Sakura menarik diri dari Sasuke.
Diamlah Sasuke.
Jangan lagi.
Aku mohon.
Aku tak ingin melukaimu.
Aku tahu ini salah, tapi akan lebih salah lagi jika sampai aku melukaimu.
Sasuke menatap Sakura heran. Dimasukkannya penisnya ke dalam celananya. Ia lalu duduk di sisi Sakura. Dirapikannya pakaian wanita itu.
'Plak!'
Sakura menangkis tangan Sasuke yang hendak merapikan pakaiannya.
Sasuke terdiam, baru pertama kali Sakura memperlakukannya seperti itu. Walau ia merasa tak suka, namun di sisi lain perasaannya melarangnya untuk membentak Sakura. Seharusnya ia bisa lebih mengerti Sakura, seperti kakaknya dulu yang sangat mengerti Sakura.
Seharusnya kedatangan mereka ke taman bermain itu untuk menenangkan pikiran Sakura. Kenapa ia malah membuat gadis itu menjadi semakin terpuruk? Bodohnya diriku pikir Sasuke.
Dipeluknya Sakura erat, "maafkan aku" gumam Sasuke. "Harusnya aku lebih mengerti dirimu" sambungnya.
Sakura terus merunduk terdiam. Ia tak ingin melakukan apapun. Andai saja benda yang dinaikinya ini tidak berada 100 meter di atas tanah mungkin ia sudah keluar dari sana dan pergi. Bukan karena kecewa akan sikap Sasuke yang memperlakukannya sedemikian. Ia ingin lari karena ia takut jika ia akan melukai pemuda itu seperti apa yang ia lakukan pada kedua pemuda sebelumnya. Ia masih ragu apakah ia saat ini sedang tertidur atau terbangun.
Kebetulan.
Itu pasti hanya kebetulan.
Ini kenyataan, dan aku tak mungkin melukai Sasuke.
Sakura memegang lengan Sasuke yang melingkari tubuhnya. "Aku.. Tak bermaksud begitu.." Gumam Sakura.
Sasuke tersentak ketika merasakan tetesan air jatuh di lengannya. Dialihkannya wajah Sakura yang tertunduk itu, dihapusnya air mata Sakura dengan lembut. "Jangan menangis di depanku. Karena aku tak sanggup melihatmu menangis" ucap Sasuke pelan.
Sakura semakin menangis, ia benar-benar tak sanggup jika suatu saat nanti ia tak bisa mengendalikan dirinya dan akhirnya harus melukai Sasuke.
Setelah turun dari komedi putar tersebut, mereka menyempatkan diri bermain permainan yang lain. Kemudian mereka pulang ketika hari mulai larut.
Sesampainya di apartemen, mereka langsung mandi dan siap-siap tidur karena esok pagi harus berangkat sekolah.
Sakura merebahkan dirinya, memakai selimutnya dan mulai memejamkan matanya. Tiba-tiba acara tidurnya terganggu ketika Sasuke tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Ada apa?" Tanya Sakura.
"Ingin dekatmu" sahut Sasuke singkat.
Sakura tersenyum, lalu menggenggam tangan Sasuke yang mengalung di pundaknya.
an pikiran dan ketakutannya hilang tak berbekas.
.
.
.
'Dream Traveller'
.
.
.
-TBC-
Horree! Akhirnya bisa update chapter 2 buat Dream Traveller..
Buat para reviewers thanks udah review ya?
Jadi, aku jelasin dikit ceritanya tentang Dream Traveller ini. Dream Traveller sendiri artinya adalah penjelajah mimpi. Pada awalnya aku mau buat judul ada kaitannya dengan 'Nightmare', tapi entah kenapa nightmare itu bagiku hanya berhubungan dengan mimpi di malam hari saja, jadi aku pakai 'Dream' untuk merujuk pada segala macam mimpi. Walau sebenarnya ini adalah mimpi buruk.
Mungkin chapter depan atau depannya lagi akan memuat tentang masa lalu Sakura yang kelam. Dan asal muasal munculnya Sakura kedua yang hidup dalam mimpi Sakura. Sakura kedua inilah yang membunuh para pria itu. Para pria itu juga ada kaitannya dengan masa lalu Sakura. Kalau masalah kenapa sosok dalam mimpi yang membunuh sosok dalam mimpi tapi bisa kadi kenyataan, itu saya sendiri juga bingung nanti bagaimana menjabarkannya. Yang pasti, akan ada kejutan-kejutan di dalam cerita yang aku tak yakin akan segera tamat ini. Hahaha...
Jadi? Pastikan terus baca fict ini ya?
Pada awalnya aku agak ragu akan fict ini sebab seperti yang para readers pikir, fict ini seperti film Hollywood, tapi sumpah! Aku buatnya murni insiprasiku sendiri. Aku harap belum ada fict yang ceritanya sepertiku.
Aku minta maaf, kalau gore dan lemonnya kurang berasa. Ini karena faktor Ulangan Harian yang super numpuk!
Aku aja ngetik nih cerita nyuri-nyuri waktu belajar yang nggak tahu dah ulangannya dapet berapa. Hahaha...
Oh ya, waktu aku nunjukkin ceritaku ini sama abang aku, tahu nggak? Dia malah ketawa, katanya ceritanya lucu dan menggelikan (-.-). Jadi disini yang salah aku atau abangku?
Walau usiaku belum 17 tahun, tapi bentar lagi 17 loh? Tanggal 1 september ini sweet seventeenku! Hahaha.. Buat author lain yang bersedia, bisa nggak buatin fict untukku di hari ultahku? #ngemis-ngemis minta dibuatin fict#
Loh? Belum 17 kok buat lemon?
Pasti para readers bertanya-tanya. Kata abangku hal semacam itu adalah hal yang lumrah, apalagi aku anak IPA yang kelak akan mempelajari hal semacam itu lebih mendalam. Jadi? Jangan flame aku soal umurku! Beberapa bulan lagi aku juga 17 kok?
Sekali lagi, thanks ya readers!
Thanks to reviewers:
Eunike Yuen
KarinHyuuga
No Name
Vanille Yacchan
uchiharuno phorepeerr
Chadeschan
lily hikari
Karasu Uchiha
MissAnchovy
Aiko uchiha
Nicky lover
Chini VAN
sasusaku fans
Sekali lagi, buat para author yang berbaik hati. Mau ya? Buatin aku fict di hari ultahku? Aku akan dengan senang hati menerima fict kalian, tak perduli itu rate M atau apapun. Yang pastinya, pairingnya 'wajib' pairing fav aku.. #plak!# "udah minta dibuatin pake maksa lagi pairingnya!" Abangku berseru ketika aku mengatakan semacam hal di atas.. (T_T)
