Wind Blow
.
.
.
Menjalani kehidupan rumah tangga memanglah tak mudah. Pertengkaran kecil tak jarang muncul ke permukaan dan berhasil kami atasi sedemikian rupa hingga tak menjalar kemana-mana. Entahlah. Mungkin ini cinta. Cinta yang memang tak mempunyai alasan kenapa bisa tumbuh dalam hati dan tertuju padanya. Sedingin apapun aku pada Yixing, tetap akan menghangat hanya karena senyumannya. Seegois apapun Yixing, tetap akan luluh dengan beberapa potong sandwich buatanku, hehehe.
Setahun semenjak pernikahan kami, aku semakin paham bagaimana Yixing. 28 tahun bukanlah waktu yang singkat, baik aku maupun Yixing sudah saling mengetahui sisi baik dan buruk masing-masing. Yixing tak pernah berubah. Keyakinanku akan hal itu terwujud. Yixing tak akan pernah berubah. Tetap ceria, aktif, dan selalu membuatku tertawa. Tuhan mengerti hambanya. Aku yang sedikit dingin dan kaku, Dia berikan Yixing yang bertolak belakang denganku.
Yixing tak pernah berubah. Tetap menyukai angin dan selalu mengikutsertakan aku ke dalam hal itu. Simpel, sederhana, namun bermakna. Tak perlu banyak tuntutan dalam kehidupan kami. Menjalani kehidupan yang telah diberikan Sang Maha Hidup dengan tertib. Mensyukuri setiap cinta yang selalu tumbuh seiring pertama kali kelopak mata terbuka di setiap pagi.
Namun tak selamanya keinginan manusia selalu berbanding lurus dengan takdir Tuhan. Sekeras apapun aku menginginkan Yixing untuk tak berubah tetap ada yang berubah. Semenjak dua minggu ini aku perhatikan gerakannya semakin lambat.
'Prang!'
Kutinggalkan cermin yang menjadi tempatku mematut diri saat suara seperti benda jatuh dan pecah itu menggelegar di seluruh penjuru rumah. Derap langkah kupercepat hingga menimbulkan kegaduhan akibat telapak kaki dan anak tangga kayu yang berhantaman. Melupakan dasiku yang masih menggantung di leher, di pikiranku saat ini adalah Yixing. Perasaan khawatir menyergap benakku.
Benar saja. Setibanya di ambang dapur aku lihat Yixing dengan tangan bergetar tengah jongkok memunguti serpihan pecahan gelas di lantai. Menyadari kehadiranku, Yixing mendongak hingga tampaklah mata berair dan bibir merah mudanya yang bergetar kecil dengan sedikit melengkung ke bawah.
Aku menghela nafas, "..jangan menangis.." kuangkat bahunya untuk berdiri, membantunya duduk di kursi makan kemudian mengambil segelas air putih, "..minumlah.. kau terlihat terkejut.." Yixing meraih gelas yang kusodorkan. Mengusap punggungnya saat tiba-tiba ia tersedak, "..pelan-pelan.."
Ia mengangguk kemudian meletakkan gelas ke atas meja dengan tangan yang masih bergetar. Aku hanya terus mengusap punggungnya pelan sembari berfikir apa yang baru saja terjadi. Bertanya-tanya kenapa Yixing bisa sampai seceroboh itu. Aku tak akan bertanya, merengkuh tubuhnya erat-erat. Tuhan.. rasa cintaku semakin bertambah.
.
.
.
Baru saja aku keluar dari kamar mandi, mengusap rambutku yang basah sehabis keramas guna menyegarkan kepala yang terasa panas seharian berada di kantor menghadapi berkas-berkas yang tertumpuk di atas meja. Aku merindukan Yixing.
Aih~ kenapa aku seperti anak muda yang baru saja merasakan cinta? Tak bertemu sejenak rasa rindu itu serasa menggerogoti bertahun-tahun lamanya. Joonmyeon, ingatlah usiamu. Kau bukan anak berumur lima tahun yang memakai topi Thomas lagi.
Pintu kamarku terbuka bersamaan dengan selesainya aku mengenakan kaos putih polos, menampakkan Yixing dengan sebuah album di tangannya. Alisku bertaut mencoba mengingat album apa itu.
"Myeon, aku menemukan ini di lemari kecil bawah tangga." Ia mendekatiku kemudian menarik pergelanganku lembut untuk mengikutinya duduk di sisi ranjang.
"Album apa itu?" tanyaku. Yixing mengedikkan bahu tanda tak tahu, "..aku belum membukanya, tapi aku merasa tak asing dengan ini." Ia membersihkan cover album yang sedikit berdebu perlahan. Aku mengikuti setiap gerik tangannya. Sangat lembut.
"Myeon, pffft~ ini album masa kecil kita."
Aku tersadar, mengerjapkan mata kemudian melongok ke lembar pertama album yang dibuka Yixing. Haha lihatlah potret dua orang anak laki-laki yang tengah berangkulan itu, yang satu pamer gigi ompongnya dan yang satu hanya tersenyum ramah. Itu aku dan Yixing. Kami memakai baju bergambar mobil yang sama saat di taman bermain.
"Kau terlihat seperti anak perempuan."
Bibir lucu itu mengerucut saat aku berucap seperti itu. Lembar berikutnya telah terbuka menampakkan Yixing dengan hoodie piglet berwarna merah jambu tersenyum manis hingga lesung pipinya nampak jelas. Jangan lupakan ikatan rambut di atas kepalanya.
"Kau seperti bapak-bapak."
Hey! Bagaimana bisa?
"Darimananya?"
Yixing terkikik. Ia menunjuk celana kain yang aku kenakan di foto, "..ini.." kemudian menggeser telunjuknya ke kemeja dengan dasi kupu-kupu, "..ini juga.." dan terakhir wajahku. Wajahku yang di foto itu tengah mengenakan kacamata bulat plus rambut klimis. Ah aku ingat, ini perayaan hari ibu dan entah kenapa ibu justru mendandaniku seperti itu -_-
Dan seterusnya sampai lembar terakhir yang penuh dengan momen kami berdua di bukit. Potret yang ada bukanlah kami sebagai anak-anak, tetapi masa remaja di mana kami banyak habiskan di sana. Saat aku terjatuh di tengah perjalanan mendaki bukit, saat aku bersimpuh kelelahan, dan saat Yixing datang tergesa-gesa membantuku. Momen itu, bukanlah disengaja untuk terpotret.
Potret alam.
Gumpalan awan yang berarak perlahan melahirkan beribu bentuk dengan imajinasi kami masing-masing. Siluet pohon maple dengan sepeda pancal yang bersandar di batang kokohnya. Satu foto yang membuat hatiku membuncah senang dan kebas sekaligus, potret Yixing yang membelakangi matahari senja hingga bias sinarnya bertumbukan dengan lensa kamera, membuat Yixing yang berdiri di sana bagaikan malaikat dengan senyum manisnya. Cantik. Entah kenapa aku justru merasa dia seperti akan menghilang. Menghilang di balik cahaya jingga dan putih mentari senja. Hilang dengan sangat indah.
.
.
.
Dapat kurasakan sosok di sebelahku ini bergerak tak nyaman. Sedetik diam dan detik berikutnya kembali bergerak. Tak kuhiraukan di awal namun lamat-lamat kekhawatiran muncul di benak. Ada apa? Dua kata itulah yang pasti akan terlontar saat aku membuka mata.
"Yixingie.. bangun.."
Ya Tuhan keningnya penuh dengan peluh. Padahal sama sekali aku tak merasakan panas, justru sebaliknya, sangat dingin. Kuusap peluh yang membanjiri wajah dan lehernya.
"Xing.. bangun sayang.."
Kutepuk pelan kedua belah pipinya. Ketidaknyamanan nampak jelas di kedua matanya yang terpejam dan bergerak liar. Apa benar sepanas itu?
"Yixingie.."
Aku menepuk pipinya lagi kemudian mengusap peluh yang kembali mengaliri kening dan pelipisnya. Matanya terbuka, aku tersenyum sembari membantunya untuk duduk. Tubuhnya basah, keringatnya berlebihan.
"Kenapa berkeringat sampai seperti ini?"
Tak ada jawaban, hanya gelengan kepala tanda tak mengerti dari Yixing. Aku membantunya melepas piyama yang ia kenakan. Demi apa, baru pertama kali ini aku melihat peluh sedemikian banyak di tubuh Yixing. Beranjak dari ranjang untuk mengambil handuk kecil di lemari kemudian mengusapkan pada tubuh Yixing dan menyalakan AC setelah mengambil piyama baru untuknya dan kembali membantu mengenakan.
"Myeon.. kenapa menyalakan AC?"
Aku tak menyukai dingin dan Yixing sangat paham akan hal itu.
"Aku tak akan membiarkanmu kepanasan seperti tadi."
"Aku tak kepanasan, Myeon~"
"Dan kau berkeringat sangat deras?"
Ia menunduk, aku menghela nafas. Kenapa di saat seperti ini aku justru berucap seperti orang marah? Kurengkuh tubuh ringkih ini dan kembali mengusap punggungnya. Entah, aku merasa sangat nyaman setiap melakukan hal ini.
"Kembalilah tidur.."
Anggukan lemah dalam dekapanku kuanggap sebagai jawaban. Perlahan kubaringkan tubuh Yixing dan menarik selimut hingga sebatas leher. Terakhir mengecup keningnya. Mata indah kesukaanku kini terpejam, damai tanpa kegelisahan seperti tadi.
Sudah setengah jam sejak Yixing tertidur, namun kedua mataku tak kunjung ingin terpejam pula. Pemandangan indah di sampingku adalah alasannya. Kuperhatikan relief indah yang selalu mampu membuat sudut bibirku tertarik mengulas senyum. Hidung mungil nan mancung, bibir penuh merah muda, dan kedua belah pipinya di mana ada lesung manis tersembunyi di bagian kanan yang selalu mengundang hasrat untuk selalu mengecupnya.
Sial.
Rasa kebas kembali menggelayuti benakku. Aku benci saat perasaan yang sama datang seperti ketika aku melihat Yixing dengan sinar indah matahari di bukit beberapa tahun lalu. Aku tak akan melihat mata bening nan indah ini terbuka lagi. Tidak, tidak. Tuhan, kumohon. Jangan terjadi.
.
.
.
Tanggal 24 Februari 2013 tepat hari ini adalah anniversary kami yang satu tahun, tak terasa sejak setahun lalu aku menghabiskan sisa hidupku dengan Yixing. Berdua. Hanya berdua karena kami masih belum dikaruniai seorang anak. Aku pernah membahas ini dengan Yixing sebelumnya. Sama sepertiku, ia sangat menginginkan seorang bayi. Namun mungkin Tuhan belum memberikan kepada kami sebuah kepercayaan untuk merawat seorang bayi mungil. Kami tak memaksa, tak akan mengeluh dan menyalahkan Tuhan. Kami terus menunggu. Menjalani perjalanan hidup berdua sudahlah menjadi pusat rasa syukurku dan Yixing.
Perasaan cinta yang terus menggelayuti hati setiap hari selalu mampu membuatku kewalahan. Apa dampaknya? Aku semakin tak ingin kehilangan dia. Anak lelaki ompongku. Anak lelaki yang sudah menjadi goresan krayon dalam lembar putih kehidupanku sejak kecil. Tak ada kata bosan. Melihatnya setiap pertama aku membuka mata, mengecup keningnya setiap aku akan berangkat kerja, menahan nafas setiap bibir lucunya ketika berbicara mengerucut manja, dan satu, senyuman manis yang selalu ia ulas setiap aku terjatuh menuju puncak bukit bersamanya. Yixing selalu tersenyum. Entah apa yang saat itu ia rasakan, suka, duka, senyuman itu akan selalu tampak. Menjadi pelipurlara dalam dada.
"Myeon.."
Kutolehkan kepala menghadap asal suara. Suara lembut yang tak pernah bosan telingaku mende—
"Astaga! Yixing!"
Apa lagi ini? Darah keluar dari hidungnya. Cukup banyak jika dilihat dari telapak tangan yang ia gunakan untuk menahan darah yang terus keluar. Kalang kabut aku mencari sekotak tisu dan menuntun Yixing duduk di sisi ranjang. Mengusap noda merah mengerikan di sekitar philtrum dan mulutnya.
"Jangan mendongak sayang.."
Kutahan kepalanya yang akan mendongak. Itu tidak bagus karena hanya akan membuat darah tersumbat dan menggumpal di dalam sana. Jadilah aku menekan pangkal hidungnya guna menutup pembuluh darah yang pecah.
"Tahan, ya.."
Yixing mengangguk lemah, tangannya menggenggam erat tanganku. Apa dia kesakitan? Kedua matanya tertutup rapat seolah menahan sesuatu yang menyakitkan.
"Sepertinya sudah cukup.."
Menjauhkan tanganku dari wajahnya untuk melanjutkan membersihkan darah yang masih menodai tangan putih Yixing. Kutuntun dia menuju kamar mandi, menyalakan keran westafel dan membasuh tangannya. Nyeri dadaku melihat air merah yang bergerak menuju saluran pembuangan.
"Kenapa bisa mimisan?"
Gelengan kepala Yixing menjadi jawaban pembuka. "..aku tak tahu Myeon~ tiba-tiba kepalaku pening dan pangkal hidungku terasa nyeri. Punggungku juga sakit." Jawabnya lemah setelah aku kembali dari dapur membawa segelas air putih hangat.
"Ini, minumlah."
Ia meraih gelas yang kusodorkan dan aku mulai memijat punggungnya. Menegak yang ada di dalamnya perlahan dan dapat kulihat gerakan air melewati kerongkongan Yixing dari gerakan jakun di lehernya. Kekhawatiran masih menyelimutiku. Otak kembali berputar mengingat kejadian tak terduga yang dialami Yixing akhir-akhir ini. Yang dapat aku tarik menjadi kesimpulan, apa dia sakit?
.
.
.
Menjatuhkan barang, berkeringat, mimisan. Setiap hari ada saja di antara ketiga hal itu menimpa Yixing. Tubuhnya semakin lemah kulihat. Gerakannya terus melambat tak selincah dulu. Yixing terlalu cepat lelah dan jika sudah begitu darah segar akan mengalir dari hidungnya. Pemandangan yang menyiksa mata dan batinku lebih menyiksa daripada melihat gambaran Kris hyung.
Apa yang bisa kuperbuat? Aku tak bisa jauh-jauh dari Yixing. Konsentrasi di kantor selalu buyar memikirkan Yixing di rumah yang sendirian mengingat kondisi buruknya. Jangan salahkan aku yang tak membawanya untuk sementara kembali ke rumah orangtuanya selama aku tak di rumah.
"Aku tak ingin membuat semua khawatir, Myeon. Aku sehat. Pergilah, aku akan baik-baik saja."
Seperti itu kalimat yang selalu diucapkan Yixing setiap pagi saat aku akan berangkat kerja, bahkan sebelum aku mengeluarkan suarapun ia sudah berkata demikian. Selalu meyakinkan bahwa dia baik-baik saja, ya, dengan senyuman itu. Senyuman Yixing yang tak secerah dulu.
.
.
.
Ujung mataku terus memperhatikan gerak-gerik Yixing. Laki-laki itu sedang membersihkan debu sofa menggunakan vacuum cleaner, sedangkan aku sendiri mengelap benda-benda yang menghias sudut-sudut rumah kami. Kualihkan pandangan pada dinding ruang tengah di mana banyak benda persegi berkaca dengan potret kami berdua di bukit. Ah! Sudah lama kami tak ke sana.
.
.
.
Yixing PoV
Suara gaduh cukup mengusik tidurku. Pukul berapa ini? Perlahan aku membuka kedua kelopak mata. Tak ada bias mentari pagi yang memaksa menerobos pupil mata dan kutaksir ini masih sangat pagi untuk memulai hari.
Tunggu!
Kemana Joonmyeon?
Setelah menyibak selimut putih dari tubuh, aku mencoba bangkit. Kepala terasa pening. Punggung ini serasa remuk. Sudah beberapa bulan terakhir aku mengalami ini. Disambut rasa sakit setiap pagi dan tak jarang aku mimisan. Berkeringat di malam hari dan selalu membuat Joonmyeon terjaga. Aku tak mengerti namun yang jelas apapun yang aku rasakan harus tetap tersenyum seperti biasa. Menjadi Yixing yang ceria. Tak ada alasan lain, hanya ingin membuat Joonmyeon bahagia.
Melihat raut khawatir di wajah tampannya setiap hari membuatku merasa bersalah. Aku menyusahkan Joonmyeon, menyusahkan orang tercintaku. Aku merasa tak berguna akhir-akhir ini. Menggenggam sebuah gelas saja harus luput. Seolah tanganku tak mempunyai otot. Membersihkan rumah satu jam sudah merasa kelelahan. Apa mungkin aku kekurangan vitamin sampai keadaanku seburuk ini? Ah kurasa tidak karena sejak dulu aku memang jarang meminum vitamin atau suplemen makanan dan semacamnya.
Cukup!
Semoga hari ini tak menjadi masalah.
Kudorong pintu kamar mandi, meraba dinding dingin agar berat badanku tertahan olehnya. Rasanya seperti tak menapak lantai, pening ini masih terasa. Tulang belakangku seolah lembek. Membuka keran westafel kemudian menggosok gigi yang kulanjut dengan membasuh wajah. Pantulan di cermin membuatku terhenyak. Kenapa aku bisa sepucat ini? Kantung mataku tampak jelas dan terlihat cekung, pipiku sedikit tirus. Tak jauh beda dengan orang sakau. Aku tampak menyeramkan.
"Yixing?"
Ah itu Joonmyeon ^^
Segera aku keluar menemui suamiku yang tengah melongok ke sana ke mari, mencari keberadaanku mungkin.
"Myeonie.."
Suaraku serak.
Joonmyeon menoleh ke arahku, raut lega dapat aku tangkap dari balik senyuman yang ia kembangkan. Ia menghampiriku, oh ya ampun dadaku bergemuruh. Selalu seperti ini. Bukankah hidup bersama Joonmyeon sudah lama? Itu yang aku herankan. Perasaan membuncah masih saja aku rasakan setiap berada di dekat laki-laki ini.
"Kau sudah bangun?"
Jemari lembutnya menelusuri lekuk wajahku. Kupejamkan mata menikmati sentuhan malaikatku ini. Nyaman.
"Jelas. Kalau belum kenapa aku berdiri di hadapanmu?"
Dia terkekeh kecil. Aih~ tampannya.
Cup.
Maaf aku tak tahan untuk tak mengecupnya. Ah bukan masalah, toh dia sudah jadi milikku seutuhnya.
"Kau memberiku ciuman selamat pagi?"
Telapak tangannya menangkup pipiku. Aku mengedikkan bahu kemudian meraih lengannya dan menggelayut di sana. Terlihat manja? Tak peduli.
"Menurutmu? Aku sudah menggosok gigi, lho :D"
Kupajang deretan gigi putihku di depan Joonmyeon. Tak perlu malu karena gigiku sudah utuh tak seperti masa kecilku dulu. Gigi ompong. Tawa renyah Joonmyeon kembali mendominasi ruang telingaku. Tangan besarnya mengacak surai coklat karamelku kemudian kurasakan pipiku basah dikecupnya.
"Kau ini.. aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, jadi lekaslah ganti pakaianmu. Aku menunggu di bawah."
Setelah mengecup bibirku sekilas Joonmyeon menghilang di balik daun pintu kamar dan kuputuskan untuk segera menuruti kata-katanya. Meraih sepotong kemeja putih polos dan celana jeans selutut lalu sebuah cermin besar di sudut kamar menjadi tujuan utama. Menyisir rambutku dengan jari dan—
Astaga!
Manik mataku mengikuti gerak cairan merah pekat yang keluar dari lubang hidungku. Sebelum menetes kuraih beberapa lembar tisu di meja nakas sebelah ranjang. Menekan pangkal hidung seperti yang Joonmyeon lakukan setiap hal ini terjadi. Mataku berkunang. Pening seperti ini meledakkan kepalaku. Punggungku seperti tak tersanggah oleh tulang. Nyeri itu kembali terasa.
Tak ingin aku membohongi Joonmyeon, maksudku menyembunyikan sesuatu darinya barang sekecil apapun. Tidak, justru bagus, menghapus kemungkinan Joonmyeon khawatir sepagi ini. Aku benci melihat gurat kegelisahan di wajahnya. Sangat.
.
.
.
"Yixing, cepatlah.."
Gema suara Joonmyeon menggelegar ke seluruh penjuru rumah. Daun pintu berwarna coklat tua rumah kami terbuka setelah kuputar kenopnya menampakkan Joonmyeon yang kini tengah menaiki sepeda pancal plus keranjang yang kutaksir berisi sandwich kesukaan kami yang menggantung di setang kemudi. Tuhan—hampir saja aku membiarkan bulir air mataku jatuh. Hal sesederhana ini Joonmyeon masih ingat. Kebiasaan kami yang sempat tertunda sekian lama karena kondisiku yang memburuk, aku akui kondisiku kini memang sangat buruk. Jika memungkiri itu, aku tak ingin dianggap munafik.
Langkah kakiku berhasil menuruni anak tangga teras rumah setelah sebelumnya aku mengunci pintu, menyambut uluran tangan Joonmyeon dan segera membonceng di belakangnya. Tanpa diperintah otak tanganku melingkar di pinggangnya yang otomatis memutar ingatan masa lalu di mana selalu Joonmyeon yang menyuruhku untuk berpegangan—bukan, lebih tepatnya memeluk. Kusandarkan kepala di punggung hangatnya. Sangat nyaman.
Kurasakan Joonmyeon mulai mengayuh pedal sepedanya dengan kecepatan sedang, memperlambat waktu seolah ingin menikmati semilir angin beserta embun pagi buta. Udara masih terasa basah saat kurasakan titik-titik uap air mencium wajahku. Dingin kala kabut menyentuh saraf peraba. Menghirup udara dalam-dalam, memberi pasokan oksigen pada paru-paruku. Menenangkan. Satu hal yang sangat aku rindukan sejak beberapa waktu lalu, seperti saat ini, menikmati hembusan angin bersama Joonmyeon-ku.
Tak ada pembicaraan. Yang aku lakukan sedari tadi hanya mengeratkan pelukan pada pinggang suamiku, mengusap wajah pada punggung hangat suamiku, dan tersenyum. Aku tak berminat mengeluarkan sepatah katapun, begitu menikmati saat-saat berdua diterpa angin dingin bersama Joonmyeon-ku.
"Xing, kau tak tertidur lagi, sayang?"
Aktifitasku yang sebenarnya tak layak disebut aktifitas terinterupsi oleh suara berat Joonmyeon. Ingin tertawa rasanya mendengar ucapan laki-laki ini. Maksudnya menyindirku?
"Tidak, Myeon. Sudah sampai?"
Kutegakkan tubuhku yang memang sedikit condong ke depan karena memeluk Joonmyeon, melonggarkan lingkar lengan dari pinggangnya dengan perlahan karena aku tak ingin sebuah rintihan lolos dari bibirku. Punggungku nyeri lagi.
"Kau tak bisa melihat ini di mana, Xingie?"
Tak kuasa aku menahan tawa setelah menyadari sebuah pertanyaan bodoh aku lontarkan yang jelas-jelas jawabannya sudah ada di depan mata. Perlahan menapakkan kaki turun dari boncengan sepeda.
"Kalau memang tak sanggup berdiri, cepatlah berpegang padaku, sayang."
Kecupan singkat di kedua pipi menyadarkanku bahwa Joonmyeon sudah menahan tubuhku yang sedikit limbung.
"Maaf, Myeon~"
Senyum malaikatnya menjadi jawaban.
"Tunggu sebentar."
Kulihat ia meraih keranjang sandwich dan membaringkan sepeda kemudian tersenyum jahil ke arahku, "..ayo Xing! Matahari akan segera muncul!" teriaknya sembari berlari menuju puncak bukit di mana pohon maple kami masih berdiri kokoh di sana. Aku rindu tempat itu dan dengan senyum yang terus aku ulas di bibir mulailah kulangkahkan kaki menapaki lereng bukit.
Ada yang aneh. Kenapa aku begitu lambat? Kenapa Joonmyeon yang sampai di sana terlebih dahulu? Dan kenapa harus aku yang terjatuh?
"Yixing!"
Sebuah teriakan menyadarkanku untuk segera mencoba bangkit namun otot-otot tubuhku berkehendak lain, ia tak menegakkan tulang-tulangku. Baru saja aku akan berdiri kedua lututku serasa lemas, sendi-sendi yang menjadi penyangga hubungan antar tulang seolah tak berfungsi. Aku kehilangan keseimbangan. Dadaku sesak. Aku kelelahan lagi. Pening itu datang. Nyeri di pangkal hidung pun tak luput menyempurnakan rasa sakitku. Sakit! Joonmyeon, sakit.
.
.
.
Joonmyeon PoV
Yixing jatuh. Secepat mungkin aku kembali ke lereng bukit di mana Yixing bersimpuh di sana. Kilasan balik waktu lalu di tempat yang sama berputar di otak. Aku yang selalu terjatuh tepat di mana Yixing terjatuh sekarang. Aku yang berlari saat ini seperti Yixing yang selalu berlari dari puncak bukit untuk membopongku. Namun keadaan saat ini berbalik, sangat jauh berbalik.
.
.
.
Satu hal yang baru aku sadari sekarang, keadaan tak selamanya sama. Waktu terus berputar seperti jarum panjang yang akan selalu melewati angka 12 dan membawa perubahan di setiap detiknya. Aku yang selalu mengharapkan jangan ada perubahan di antara kami kini harus tertampar oleh kenyataan. Kenyataan yang tak pernah berdusta, tak dapat dimanipulasi, bahkan diubah. Aku yang selalu mengharapkan kehidupanku mendatang akan selalu bersama Yixingpun harus rela jatuh terdorong kenyataan bahwa Yixing memang tak selamanya berada di sisiku. Egois memang pemikiranku di awal namun satu lagi yang harus aku pahami, tak ada yang bisa menyalahkan takdir.
Satu waktu aku berfikir kebahagiaan hidup di dunia adalah fana yang abadi, namun di satu sisi aku tak memungkiri bahwa hidup bersama Yixing membawa kebahagiaan yang abadi.
"Myeon~"
Kuhapus lelahan air mata di pipi saat suara lemah itu menggema lirih di penjuru ruangan dingin ini. Tak ingin membiarkan melaikatku melihat betapa lemahnya aku hanya karena sebutir air bening menetes dari pelupuk mataku. Mendekati ranjang di mana Yixing terbaring lemah di atasnya dengan beberapa selang yang menempel dan menusuk kulit mulusnya. Dadaku kembali merasakan nyeri melihat keadaannya yang semakin melemah.
"Kau seperti angin, Myeon~"
Kuraih dan menggenggam erat tangannya. Tak ingin kulepaskan. Biarkan seperti ini.
"..angin tak kasat mata namun aku merasakannya. Itu cinta, kau... adalah cinta.."
Nafasnya tersengal. Semakin kupererat genggamanku mencoba membagi kekuatan pada Yixing.
"..angin selalu ada di setiap hembus nafasku, Myeon. Itu cinta dan cinta selalu mengisi setiap sudut hatiku.."
Kukecup punggung tangannya. Kali ini kubiarkan air mata ikut membasahi tangan istri tercintaku ini. Membiarkan segala beban terdalam dan perih dalam dada ikut mengalir seiring dengan tetesan butir beningnya.
"..dan kau.. Myeon~ kau hidupku.."
.
.
.
Kuusap debu yang menutupi album merah hati ini. Aku menemukannya di dalam meja nakas di samping ranjang, itu meja nakas Yixing. Menarik kursi kayu ke balkon kamar di mana saat ini sedang senja. Yixing suka senja karena anginnya. Angin senja yang begitu lembut menurutnya. Selembut Yixing itu sendiri.
Lembar pertama, masa kecilku bersama Yixing.
Lembar kedua, masih masa kecil bersama Yixing.
Lembar ketiga, tetap masa kecilku bersama Yixing.
Lembar keempat, di mana salah satu dari dua anak laki-laki itu tengah mengecup pipi anak laki-laki lain di sebelahnya. Itu Yixing yang menciumku saat aku menangis akibat terjatuh dari sepeda pancal.
Lembar kelima, masa remajaku bersama Yixing.
Lembar keenam, potret kami berdua yang saling merangkul satu sama lain di bawah pohon maple saat senja dengan hembusan angin menerpa wajah membuat poni kami terbang secara acak. Natural. Yixing cantik.
Lembar ketujuh, siluet tubuhku yang mendekap Yixing di bawah pohon maple yang selalu menjadi saksi ceritaku bersama Yixing.
Lembar kedelapan, masa-masa kehidupan baru kami berdua.
Lembar kesembilan, aku tak tahu ini berasal darimana dan bagaimana bisa ada foto ini, potret kami berdua yang tengah duduk di atas bukit dengan bibir saling bertaut membelakangi kamera, dihias berkas-berkas sinar cahaya jingga yang memaksa menelusup ke antara celah tubuh kami.
Lembar kesepuluh, selembar kertas putih kusam tersimpan rapi. Tulisan tangan Yixing.
"..jika ada kata yang melebihi kata; bahagia; mungkin aku akan menggunakan kata itu untuk judul kehidupanku..
..bila ada di mana saat-saat terakhir denganmu,
..aku ingin menyampaikan semua perasaanku yang telah lama terpendam,
..lewat sini..
..bahwa,
..aku bahagia, selama ini pernah mengenalmu dan menjadi bagian dari hidupmu..
..membagi udara dalam setiap helaan nafas kita..
..waktu yang sangat lama dan detik yang terlalu cepat bergulir..
..kau memberikanku warna hidup, pelangi..
..kau memberikanku cahaya terang, yang akan menyinariku di saat aku terjebak kegelapan,
..cahaya terang; senyumanmu..
..senyuman yang tak akan pernah pudar dalam kesedihan..
..yang akan selalu memberi semangat untukku, aku menyukaimu..
..tak akan pernah ada alasan bagaimana aku bisa menyukaimu..
Inginku, Myeon
..bisa hidup bersamamu seribu tahun lagi..
..namun itu hanya inginku yang tak akan pernah bisa tercapai..
..karena suatu saat nanti kita akan terpisah..
..aku tak pernah berkata,
..bahwa,
..jika waktuku sudah habis di dunia, aku akan tetap mencintaimu..
..sebab,
..aku akan selalu menunggumu datang kepadaku..
..dan saat itulah aku akan mencintaimu lagi,
..dengan cinta yang lebih abadi..
Mungkin akan selalu seperti itu,
..tetapi tenang saja, aku akan selalu bersamamu..
Myeon
..terimakasih,
..atas waktu singkat saat terakhir perjalanan kita di atas sepeda pancal pagi itu..
Sungguh Terimakasih..
Terimakasih..
.
.
.
"Hati-hati, Yixingie.."
"Myeon, kau tahu, aku merindukan tempat ini.."
"Aku juga. Lihat pohon ini, sudah 29 tahun masih tetap ada.."
"Myeon.."
"Hmm?"
"Aku sakit.."
"Aku tahu.."
"Myeon?"
"Hmm?"
"Aku mencintaimu.."
"Aku pun begitu.."
"Kim Joonmyeon?"
"Ya? Zhang Yixing?"
"Kau pernah berfikir kenapa aku menyukai angin?"
"Entahlah, sepertinya pikiran itu pernah terlintas di otak."
"Kau mau tahu alasannya?"
"Jika kau mengizinkan.."
"Aku suka angin karena cinta seperti angin dan kau adalah cinta. Angin tak kasat mata namun aku merasakannya. Angin selalu ada di sekitarku, ada dalam setiap hembus nafasku seperti cinta yang tak dapat aku tangkap dengan penglihatan, tak dapat aku raih dengan tangan, namun akan selalu mengisi setiap sudut dalam dada. Tak berbeda denganmu, yang selalu ada di setiap detik hidupku.."
.
.
.
Joonmyeon memejamkan mata beriring dengan hembusan angin senja menerpa wajahnya. Menyembunyikan duka paling mendalam dengan satu pejam mata. Helaan nafas teraturnya seolah ingin membuang rasa pedih dalam hatinya. Dengan album dalam dekapan, ia membiarkan otaknya kembali mengingat semua masa-masa dalam kotak putih memori hati bersama Yixingnya. Hanya Yixingnya. Cintanya. Hembusan anginnya.
.
.
.
The End
Oh!
Hai ^^
moga feel angst-nya kena ya :")
B I G Thanks to:
ajib4ff | Ruii419 | the-dancing-petals | uniquegals | Stupeffy | | fallforhaehyuk | Park Hyun-Re ChanBaek | Ira Putri | rintakuma | poppoyixing | evilkyung | tyu | Laibel | chenma | pyopyo | exindira | 7D
Replay review for un-log-in friends :)
pyopyo : yup ini bakalan angst dan udah Dae rencanain dari awal. silahkan dinikmati chapter terakhirnya :)
Laibel : silahkan dinikmati kelanjutan ceritanya :)
tyu : terimakasih ^^ sudah dilanjut ceritanya :)
evilkyung : di chapter pertama memang kurang angst, tapi Dae harap di chapter ini sudah bisa kerasa angst-nya meskipun nggak banget. untuk friendship-nya Dae sengaja kasih kekentalan di sana. biar nggak terlalu menye-menye :)
poppoyixing : Dae sudah merencanakan ini bakalan angst, yeah meski nggak oke tapi Dae harap masih ada sedikit feel yang mengena. Suho berpisah sama Lay haha :D #evillaugh
rintakuma : itu karena hormon dalam tubuh Suho kelebihan dan nggak wajar. otaknya juga terlalu oke. maklumlah keturunan profesor haha. sama-sama :)
Ira Putri : yah kok lupa password sih -_- ntar gimana fanfic kamu yang lainnya, Ra :o ? iya aku pilih Lay yang mokat sesuai sama film Up! :D moga aja feel-nya ngena ya meski nggak banyak :")
Silahkan diisi kotak review-nya.
Terimakasih.
Daexoxo.
