Play With The Letter D
Exonoir
Main Cast : Chanyeol; Baekhyun
Romance; Comedy; Drama; Supernatural
Warning ! Yaoi fiction.
Mature; Explicit Content. Don't like, don't read.
.
.
Chapter 2 : Something
.
.
Angin dingin berhembus dari jendela kamar Baekhyun yang terbuka sejak kemarin malam. Sinar matahari mengintip malu-malu dari balik awan. Baekhyun memeluk erat tubuhnya yang menggeliat kedinginan di dalam selimut. Bibirnya berubah menjadi sedikit kebiruan dengan gigi yang bergemelatuk.
Sesosok lelaki jangkung dengan tinggi badan tidak biasa yang nyaris menempel ke langit-langit kamar, memposisikan kedua kakinya yang jenjang disisi-sisi perut Baekhyun. Lelaki rupawan itu menatap Baekhyun dengan tatapan tidak ramah; kerutan muncul di wajahnya, terlihat sekali jika ia sedang menahan emosi.
"Oi, bangun." Lelaki rupawan itu menendang selimut yang dikenakan Baekhyun agar lelaki bertubuh sintal itu dapat merasakan udara dingin. Tapi itu tidak berhasil. Lelaki bertubuh sintal itu memeluk kedua tangannya diantara pahanya. "Sepuluh menit lagi, Bu" gumamnya dengan erangan lembut.
Lelaki rupawan itu menggertakkan giginya dengan gemas. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri. Selanjutnya lelaki rupawan itu menindih tubuh sosok mungil yang menggeliat itu, kemudian memposisikan wajahnya hingga berjarak beberapa inci dari lelaki itu. "BAAAAAANGGGUUUUNNNNNNN!" sebuah angin kencang berhembus masuk ke dalam kamar Baekhyun; dan lelaki rupawan itu kembali berubah menjadi boneka.
Terkejut karena mendengar suara teriakan itu, Baekhyun segera membuka kedua matanya. Refleks tubuhnya bangkit meskipun kesadaran lelaki itu belum pulih benar. Dia terduduk diatas kasur lipat sambil berseru heboh. "AKU BANGUN, AKU BANG—" lelaki itu menoleh kekanan-kiri hingga mendapati jika itu bukan kamarnya. "Sialan." makinya kesal. Benar juga, dia berada di rumah sang Nenek, dan akan tinggal seorang diri disana. Jadi bagaimana mungkin dia mendengar seseorang berteriak? Tetangga sialan. Pikir Baekhyun geram.
Baekhyun hendak menarik selimut yang terlempar berantakan jauh dari jangkauannya. Tapi tubuhnya tersentak ketika ia melihat ball-jointed doll yang semalam ia letakkan diatas meja; tiba-tiba berada diantara kedua pahanya pagi ini.
Melihat itu Baekhyun secara reflex bangkit dari ranjang, kemudian menendang boneka itu jauh-jauh darinya hingga membentur pintu kayu bergaya tradisional Korea di kamar itu. "AKH!" teriaknya. Kini lelaki itu sepenuhnya terjaga. Ia menatap boneka itu dengan tatapan horror. "s-sejak kapan dia…" lelaki itu mengamati boneka itu dari kejauhan, ia kemudian meraba-raba meja disudut ruangan untuk mengambil raket nyamuk.
Baekhyun memeluk raket nyamuk itu dengan erat. Jika dia melihat gerakan sekecil apapun dari boneka mengerikan itu, dia akan menyetrumnya dengan raket nyamuk detik itu juga. "K-kau jangan bergerak! Atau aku akan membunuhmu!" Baekhyun mendekati boneka itu sambil menyodorkan raket nyamuk yang dia bawa sebagai pertahanan diri.
Dengan langkah hati-hati, dia menempelkan raket nyamuk itu pada dada bidang boneka itu. "H-hei!" tidak ada gerakan sama sekali. Dia menepuk kejantanan boneka itu beberapa kali menggunakan raket nyamuk selama beberapa kali.
Puas dengan apa yang dia lihat, Baekhyun akhirnya memberanikan diri untuk menyentuh boneka itu dengan tangannya sendiri.
Dia mensejajarkan kepala boneka itu dengan kepalanya, melihat mata boneka itu dengan tajam. "Mungkinkah aku sedang bermimpi? Dia terlihat seperti boneka biasa bagiku…" Baekhyun mengigit bibir bawahnya sendiri. "bagaimana caranya kau berada di—" dia menghentikan kata-katanya. Ia tiba-tiba teringat boneka itu berada diantara pahanya pagi ini. Mungkinkah selama tidur, dia ehem bersenang-senang seorang diri dengan boneka itu?
Baekhyun bisa merasakan pipinya memanas sekarang. Tidak! Baekhyun tidak mungkin melakukan hal yang tidak sepantasnya seperti itu—terlebih dengan sebuah boneka.
"Aku pasti sudah gila," Baekhyun menertawakan dirinya sendiri. Tidak ada orang lain disini selain dia, dan sudah pasti boneka itu tidak mungkin bergerak dengan kehendaknya sendiri. Dengan kata lain, pasti Baekhyun yang mengambil boneka itu dari meja secara tidak sadar. Kemudian ia meletakkan boneka itu diantara pahanya, dan bersenang-senang dengannya.
Baekhyun berpikiran seperti pervert sekarang. Lelaki itu menggelengkan kepala beberapa kali sambil menyembunyikan wajahnya yang kini berubah seperti tomat. "Aku benar-benar sudah gila sekarang." Lelaki bertubuh sintal itu meletakkan boneka itu kelantai, kemudian bergegas mencari apapun yang bisa ia makan didapur.
.
.
Baekhyun berjalan sambil membawa sebuah kantung plastik dipelukannya. Ia berkali-kali menghembuskan napas ketangannya karena kedinginan. Ia tidak mengira jika jarak antara rumah dan supermarket cukup jauh dengan berjalan kaki. Jika sejak awal dia tahu, lelaki itu pasti memilih untuk mengendarai sepeda tua milik Neneknya.
"Sial. Ini dingin." Lelaki bertubuh sintal itu mempercepat langkahnya; hingga akhirnya dia berada tidak jauh dari rumah sang Nenek. Ketika lelaki itu hendak membuka pintu utama, ia mendengar sebuah suara barang terjatuh dengan keras. Berpikir jika ada penguntit yang masuk ke dalam rumahnya, dengan hati-hati ia membuka pintu rumah. "hallo?" panggilnya. Meskipun hari masih sore, tapi rumah Neneknya terlihat menakutkan jika dalam keadaan lampu mati.
Baekhyun memasuki satu persatu ruangan yang ada di dalam rumah, memeriksa mereka dengan teliti. Setidaknya ada 6 ruangan di rumah itu—ruang tamu, ruang keluarga, kamar utama, kamar tamu, dapur, dan kamar mandi. Dan tempat yang paling menurut Baekhyun menakutkan adalah di dapur karena letaknya yang berada diujung rumah; dan tempat yang paling jarang terkena cahaya.
"Hallo…?" sekarang lelaki itu membuka pintu kamar ruang tamu; tapi dia tidak menemukan apapun. Mungkin dia hanya mendapat delusi mengingat dia tinggal di rumah tua terlebih ia hidup seorang diri. "ini tolol sekali. Mana mungkin ada orang yang masuk ke rumah ini. Apa yang dia cari? Disini hanya ada barang-barang tua milik Nenek." lelaki itu berjalan menuju ruang keluarga, kemudian mencari saklar agar ia dapat menyalakan lampu. Setelah itu dia berjalan ke dapur untuk memasukkan semua persediaan yang dia beli tadi.
Ketika membuka pintu kulkas dia merasakan ada seseorang yang tengah mengamatinya disudut ruangan sebelah lemari piring; tapi kali ini Baekhyun berusaha mengacuhkannya. Mungkin kali ini dia sedang berimajinasi lagi, atau sesuatu.
Sesosok bayangan hitam itu menyeringai ketika dia melihat Baekhyun meringkuk sedikit untuk memasukkan semua persediaan ke dalam kulkas. Dia memperhatikan kedua pantat sintal lelaki lebih pendek sambil menjilat bibir bawahnya dengan ujung lidah. "Pantat yang bagus," gumamnya dengan suara serak. Mendengar suara misterius itu, Baekhyun menoleh kebelakang mencari sumber suara.
Tapi ketika ia hendak menoleh ke arah meja makan, sebuah angin kencang berhembus dari belakang tubuh Baekhyun yang entah berasal dari mana. Dia menutup matanya tapi samar-samar ia melihat angin itu berputar mengelilingi sesuatu diatas meja makan. Setelah angin itu pudar, Baekhyun begitu terkejut ketika mendapati ball-jointed doll itu terduduk disana.
Tubuh lelaki itu membeku. Ia menatap boneka itu dengan tatapan horror. Ia bahkan tidak dapat mengatakan apapun karena otot-otot di mulutnya melemah. Yang dia lakukan hanya berdiri di sana, dengan posisi pintu kulkas masih dalam keadaan terbuka.
"A-astaga…" akhirnya suara itu lolos dari mulut merah jambu Baekhyun. Kini yang ada di dalam pikirannya hanya muncul beberapa nama film horror terkenal dengan tokoh boneka pembunuh seperti Child's Play, Anabelle, atau bahkan Night of the Living Dummy.
Baekhyun menutup pintu kulkas, kemudian berjalan menghampiri boneka itu.
Tidak ada pilihan lain. Dia akan membuktikan boneka itu kesurupan atau tidak dengan cara bermain petak umpet. Baekhyun cepat-cepat menutup seluruh pintu, jendela dan tirai yang ada didalam rumah. Selanjutnya dia mengambil boneka itu, kemudian memasukkannya ke dalam sebuah wadah tanpa berisi air; karena yang dia tau boneka itu sudah kesurupan. Jadi tidak ada gunanya menuruti seluruh peraturan dasarnya.
Ia mengambil segenggam garam dikepalan tangannya, dan sebuah pisau untuk berjaga-jaga. "Nama…benar, kau harus memiliki nama." Baekhyun memiringkan kepalanya sedikit ketika akhirnya dia mendapatkan nama yang cocok. "Dobi?" dia berbicara kepada dirinya sendiri. "baik. Mulai sekarang namamu adalah Dobi." Katanya sambil menunjuk boneka itu dengan ujung mata pisau.
Sebelum mulai bicara, ia menelan ludah dengan susah payah. "Baekhyun yang jaga pertama. Baekhyun yang jaga pertama. Baekhyun yang jaga pertama." Ia kemudian masuk ke kamar tamu yang berada tepat disebelah dapur. "satu… dua… tiga… empat… lima… enam… tujuh… delapan… sembilan… sepuluh." Setelah itu dia kembali ke dapur. "aku menemukanmu." dia berseru sambil mengangkat boneka itu. "sekarang Dobi yang jaga. Sekarang Dobi yang jaga. Sekarang Dobi yang jaga." Dia meletakkan boneka itu kembali, kemudian mencari tempat untuk bersembunyi.
Baekhyun masuk kedalam lemari pakaian yang ada dikamar utama. "Semoga saja itu hanya perasaanku saja," bisiknya di dalam hati dengan tangan gemetar.
Satu menit…
Dua menit…
Baekhyun menunggu; tapi tidak ada reaksi apapun. Semuanya berjalan seperti normal. Lelaki bertubuh sintal itu bahkan nyaris keluar dari persembunyiannya, hingga semuanya berubah ketika berada pada menit keempat.
Secara mengejutkan Baekhyun tiba-tiba mendengar sebuah langkah kaki yang membuat lantai kayu dirumahnya berdecit. Suaranya cukup pelan, seolah dia tidak ingin membuat Baekhyun mendengarnya.
Dan yang terjadi selanjutnya membuat Baekhyun ketakutan.
"Come out, come out, where ever you are…" suara bisikan lembut itu dengar dari kejauhan. Suaranya terdengar seperti sapuan angin yang berhembus lembut, tapi sedikit mencekam.
Sosok bayangan itu menyeringai geli ketika memikirkan bagaimana caranya balas dendam kepada Baekhyun karena telah melemparnya tadi pagi. Karena hantaman yang ia rasakan, kepalanya terasa sedikit sakit; tapi ia mencoba menghiraukannya. Dia terlalu bersemangat untuk memainkan permainan ini.
Tap tap tap
Ia menyentuh permukaan dinding ketika ia berjalan; membuat suara gesekan yang panjang; sengaja untuk membuat Baekhyun semakin ketakutan ketika mendengarnya. "Baekhyun-ah…" ia berbisik dengan suara serak ketika memasuki kamar mandi. "oh, bukan disini ya…?" erangnya kesal.
"Baekhyun-ah…" air mata Baekhyun menetes. Dia menggenggam erat garam ditangannya sambil memeluk pisau dapur ditangannya yang lain. Dia begitu ketakutan hingga seluruh otot ditubuhnya menegang. "baekhyun sayang... ayo keluarlah..." Baekhyun berusaha untuk mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, dia kemudian mendorong pintu lemari tempat dia bersembunyi, dan mencari keberadaan suara menyebalkan itu; bermaksud untuk menusuk boneka itu dengan pisau—atau mungkin melempar garam itu untuk mengusir roh jahatnya.
"D-dimana kau!?" dengan kaki yang gemetaran, Baekhyun berdiri di lorong panjang rumah Neneknya. Dia menghapus air mata dipipinya menggunakan punggung tangan; ia tidak mau terlihat lemah. Bagaimanapun caranya, dia harus kuat.
Angin misterius itu berhembus lagi; secara mengejutkan jaket tebal yang dipakai Baekhyun robek seketika. Tapi anehnya tubuh Baekhyun tidak terluka. Hanya permukaan jaketnya saja yang robek seperti bekas cakaran sesuatu.
Melihat itu tentu saja membuatnya terkejut. "A-apa yang kau laku—" belum sempat dia menyelesaikan perkataannya, lengan jaketnya robek dengan bekas yang sama. "ASTAGA!"
Angin misterius itu tidak berhenti berhembus disekitar tubuh Baekhyun, dan merobek seluruh permukaan jaket yang dia pakai. "C-CUKUP!" teriaknya, hingga sebuah bayangan muncul dari kejauhan.
Sosok jangkung itu menatap Baekhyun dengan tatapan tidak ramah. Baekhyun bahkan tak dapat melihat wajahnya karena ia lupa menyalakan seluruh lampu. Dia hanya menyalakan lampu ruang keluarga, dan itu satu-satunya penerangan yang ada. "JANGAN MENDEKAT!" Baekhyun mengacungkan mata pisaunya kearah bayangan itu.
Sosok jangkung itu menyeringai. Ia menggerakkan tangannya, membuat gerakan yang aneh. "Baekhyun-ah, lama tidak berjumpa…" suara itu terdengar oleh Baekhyun dengan jelas. Dia menatap bayangan bayangan itu dengan tatapan menyelidik. "siapa—" belum selesai lelaki itu bicara, sosok bayangan itu menghilang seperti tertiup angin.
"Apa yang—" tiba-tiba ada seseorang yang mencengkram pergelangan kedua tangan lelaki itu dari belakang. "ARGH!" Baekhyun mengerang kesakitan. Dia mencoba untuk menoleh ke belakang dan melihat siapa yang sedang mencengkramnya, tapi ketika ia melakukannya, sosok jangkung yang berdiri dibelakang tubuhnya tiba-tiba memagut bibir merah jambu itu dengan kasar. "MMHHH!" Baekhyun hendak memberontak, tapi cengraman itu semakin erat. Ia tidak bisa bergerak; apalagi menolak ciuman itu.
Lelaki jangkung itu merasakan otot-otot Baekhyun semakin melemah. Ia menyeringai puas. Itu artinya Baekhyun tidak lagi melawan. Lelaki itu kini mengigit bibir bawah Baekhyun, menyesapnya dengan ganas, membuat sang empu mengerang putus asa. "A-aahh…" secara mengejutkan Baekhyun menikmati permainan lelaki itu; dan ciuman itu makin lama makin menggairahkan.
Baekhyun melempar pisau dan garam yang dibawanya. Dia tidak lagi memikirkan boneka yang membuatnya ketakutan tadi. Dia bahkan tidak bisa berpikir apapun karena Baekhyun telah kehilangan akalnya.
Dan ketika lelaki misterius itu melepaskan bibir merah jambu milik Baekhyun, lelaki sintal itu mengerang frustrasi, dia membalikkan tubuh ketika lelaki misterius itu melonggarkan cengkramannya. "Kenapa kau berhen—" belum selesai Baekhyun bicara, lelaki misterius itu membisikkan sesuatu ke telinga Baekhyun dengan suara serak.
"Panggil aku Chanyeol, sayang…"
.
.
Bersambung. . .
.
.
PS :
Aku terkejut ngelihat reaksi bagus dari reader padahal baru chapter 1 *sobs*
Terimakasih buat dukungannya *bow* Aku akan sebisa mungkin update cepat sesuai permintaan reader. Dan mungkin akan hiatus dari X-Twins karena lebih sibuk di Play With The Letter D.
=Untuk yang kesusahan membayangkan sosok "Chanyeol" saat menjadi boneka.. coba kalian seaching di google dengan tag : "Iplehouse Bichun"=
And don't forget to likes and review thankyou ^^
-Exonoir
