Eight Brothers and Me

Disclaimer :

Naruto © Kishimoto Masashi

Eight Brothers and Me © Akacchi KurossuZeria

Genre(s) :

Family/Hurt/Comfort/Drama

Rate :

T

Warning :

Temari-cent, typo(s), AU, OOC, crack story, failed, error language, alay, abal, ababil, etc.

Summary :

Temari, seorang gadis tomboy yang memiliki dua adik lelaki, kini harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia akan menjadi anak tiri seorang Uchiha Fugaku yang telah memiliki enam orang anak. Mengurus dua adik absurd saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling. Bagaimana jika ia harus mengurus enam saudara lagi yang memiliki sifat dan kisah yang berbeda?

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

~ Chapter 2 ~

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Malam pertama tiga bersaudara di kediaman Uchiha Fugaku ini dibumbui dengan kemeriahan layaknya pesta penyambutan. Memang tujuan awal dibuat pesta jamuan malam ini adalah sebagai ajang perkenalan dan pengakraban antara anak-anak dan calon anak-anak Fugaku. Meskipun ayah dan ibu mereka yang belum resmi menikah itu tak bisa hadir pada acara ini karena masih harus menyiapkan tetek bengek untuk pernikahan mereka yang akan digelar dua minggu lagi. Jamuan ini tetap akan dilaksanakan sebagaimana mestinya.

"Hmm... Ita-nii ada. Sasu-nii ada. Naruto-nii ada. Yahiko-nii sama Shika-nii mana, ya?" seorang bocah berusia sebelas tahun, mengedarkan pandangannya ke seisi koridor lantai dua yang luasnya hampir sama dengan aula sekolahan itu demi mengabsen satu persatu abang-abangnya. Dilihatnya Itachi dan Sasuke saling mengobrol akrab, mungkin sedang melepas kerinduan setelah tiga tahun tak bertemu. Lain halnya dengan Naruto, yang sibuk mendekati trio Sabaku siblings.

"Jika Anda mencari Shikamaru-ouji, dia masih ada di kamarnya. Kalau Yahiko-wakasama, dia mungkin masih ada di kampus," Konohamaru, si bungsu Uchiha itu terperanjat kaget ketika sebuah suara terdengar dari sebelahnya. Didapatinya Kakashi yang telah berdiri di sampingnya.

"Ka-kakashi-san! Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Konohamaru. Rona kaget masih menghiasi wajahnya. Ketua pelayan yang satu ini memang suka mengagetkannya.

"Sejak tadi. Memangnya Anda tak merasakan kehadiran saya?" Kakashi menjawab dan balik bertanya pada bocah kecil yang sangat identik dengan syal biru yang melingkari lehernya itu. Konohamaru hanya menggeleng pelan, menandakan bahwa sensor perasanya tak merasakan kehadiran si heterokrom.

"Oh ya, Kakashi-san. Acara malam ini cuma makan-makan saja, ya? Ini pesta penyambutan untuk kakak-kakak baruku, kan?" tanya Konohamaru lagi. Kakashi menanggapi pertanyaan tuan mudanya itu dengan memejamkan mata ramah, seakan sambil tersenyum juga.

"Tentu tidak. Acara akan dimulai dengan sambutan dari Itachi-ouji selaku anak tertua di sini. Lalu perkenalan dari Temari-san dan adik-adiknya. Selanjutnya acara bebas, kalian bisa melakukan kegiatan apapun yang kalian inginkan," jawab Kakashi sekenanya. Konohamaru hanya ber-'oh' ria sambil mengangguk pelan.

"Tapi kalau hanya untuk penyambutan, kenapa harus semeriah ini dekornya? Mana yang menikmati acara ini cuma sembilan orang," Sasuke yang tadinya tengah berbincang dengan Itachi, sekarang bergabung dengan Konohamaru dan Kakashi yang sejak tadi berdiri di samping tempat dimana makanan tersaji.

"O-oo! Sasu-nii, kau mengagetkanku!" Konohamaru berbalik memicingkan matanya ke arah Sasuke yang sudah berdiri di belakangnya. Oh, bisakah sehari saja ia tidak dikagetkan oleh orang-orang di rumah ini?

Sasuke hanya tersenyum melihat tingkah adik bungsunya itu. Kemudian ia mengacak-acak gemas rambut Konohamaru. "Sayangnya tidak bisa, otoutou-kun."

Sungguh pemandangan yang bisa membuat Kakashi tersenyum teduh. Melihat Sasuke yang begitu menyayangi saudara-saudaranya. Melihat Sasuke yang tersenyum tulus ke mereka. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan sifat Sasuke di luar rumah. Atau bahkan dengan orang lain selain saudara-saudaranya ini.

Kakashi bahkan sempat mendengar desas-desus bahwa di sekolahnya, Sasuke dijuluki evil-Sasuke atau si muka batu karena sifat tak peduliannya dan terkadang suka membuat kegaduhan di sekolah. Pernah ia sendirian mengalahkan sekelompok preman yang mengganggu siswi-siswi di Konoha International Highschool saat ia masih duduk di kelas satu. Sejak saat itu, ia dijuluki dengan julukan evil terutama oleh para siswa yang melihat kejadian tersebut.

"Sasu-nii~ yamate yo kore!" Konohamaru berusaha melepaskan tangan Sasuke dari kepalanya. Sasuke mau tak mau menurutinya dan berkacak pinggang.

"Selamat malam saudara-saudaraku sekalian. Aku sebagai anak pertama dari keluarga ini, akan membuka acara jamuan malam ini dengan sepatah dua patah kata. Sebelumnya untuk calon saudara-saudari kita, perkenalkan, aku adalah Itachi. Kalian bisa memanggilku dengan panggilan niisan," Itachi memulai pembukaan jamuan ini dengan memberikan sambutan di depan para hadirin(?), yang telah duduk rapi memenuhi kursi yang di depannya terdapat meja makan memanjang. Sasuke dan Konohamaru pun langsung mengambil tempat duduk sesuai keinginan mereka.

"Hah, lagi-lagi ceramah membosankan Itachi. Dia itu calon penerus perusahaan utama Uchiha. Dengan cara bicaranya yang membosankan itu, mana ada yang betah mendengarnya? Daruissu ne," gumam Sasuke sambil memangku dagunya.

Seperti kau tidak begitu saja, Sasuke.

Gaara yang duduk di samping Sasuke, sesekali memandang Sasuke dan Itachi bergantian. Ia melihat kemiripan di antara kedua lelaki ini. Yang tidak ia temui pada Naruto ataupun Konohamaru.

"...jadi mulai saat ini, kita sudah resmi menjadi saudara sebangsa—erm, sedarah sedaging meskipun kenyataannya kita lahir dari rahim yang berbeda-beda. Tetapi ingat! Kita tetaplah satu! Kita tetaplah harus menjunjung tinggi Bhin—"

Kadang Itachi juga suka ngomong ngelantur, ya.

Semua yang ada di ruangan itu hening. Entah apa yang mereka pikirkan saat mendengar sambutan tak bermutu Itachi. Kenapa yang awalnya hanyalah penyambutan, jadi membicarakan soal nasionalisme begini?

"Hohoho... Itachi! Pidatomu itu sungguh sangat tidak menarik seperti biasanya!" Itachi dkk serempak melihat ke arah sumber suara lantang yang menghentikan aktifitas Itachi barusan. Kemudian dilihatnya sumber suara itu tengah menunjuknya dengan lantang. Tangan kirinya ia gunakan untuk berkacak pinggang. Pemandangan ini mengingatkan Temari pada laga heroik di mana sang hero muncul kesiangan yang dengan lagaknya ingin menyelamatkan heroine-nya yang disandera tokoh antagonis.

"Hooo~ sudah pulang kau rupanya, Yahiko," Itachi kembali bermimik tenang, setelah mengetahui siapa yang menginterupsi sambutannya. Itachi kemudian menghela napas pelan. "Duduklah, Yahiko," titahnya pada si anak kedua, yang tak lain dan tak bukan adalah Uchiha Yahiko.

"Haduh! Si baka aniki itu! Bisa tidak, sih, dia tidak mengacau? Sama seperti si baka Naruto saja," Sasuke menepuk jidatnya pelan. Wajahnya nyaris tertekuk melihat penampakan kakak keduanya yang nampak semrautan sehabis pulang kuliah. Tapi tetap saja ingin mencolok dengan muncul mendadak seperti itu.

Yahiko pun mendudukkan dirinya di kursi kosong tepat di samping Kankurou. Semua pasang mata yang ada di situ mengiringi langkah Yahiko sampai ia terduduk di kursi yang ia tuju.

"Oi, baka aniki! Kau dari mana saja, hah? Baru pulang jam segini," tanya Naruto sambil menunjuk-nunjuk abang kandungnya itu.

"Kau harusnya sudah tahu, kan, Naruto? Dia pasti sibuk dengan komplotan sesatnya itu!" timpal Sasuke sambil menengguk minuman bersoda yang daritadi menganggur di hadapannya.

'Komplotan sesat?' batin Gaara sambil mendelik penuh curiga ke arah si rambut oranye berkulit agak gelap yang datang dengan lagak heroiknya itu. Kemudian direksi matanya menuju ke arah Kankurou, yang dibalas dengan tatapan sama seperti Gaara. Ia tahu apa yang Gaara pikirkan sekarang.

'Waduh! Serigala yang satu ini berbahaya! Dia punya komplotan sesat!' batin Kankurou. Dan terjadilah, dimana Gaara dan Kankurou membayangkan neesan mereka diajak masuk ke komplotan sesat itu dan menjadi wanita sesat juga.

'Aku harus menjauhkan neesan dari orang ini!'

"Oi, Sasuke! Akatsuki bukan komplotan sesat! Akatsuki itu adalah sebuah perkumpulan yang ditugaskan untuk membawa kedamaian ke dunia ini! Akatsuki akan menjadi jembatan penghubung menuju kedamaian hakiki yang telah diimpikan oleh semu—"

"Apanya yang kedamaian kalau komplotan bodohmu itu kerjaannya hanya mencari hewan-hewan saja? Apalagi sampai mau menculik Kurama-ku demi ritual sesat komplotanmu itu!" Naruto kembali menyanggah tuturan Yahiko yang sungguh sangat-sangat di luar nalar. Membawa kedamaian? Jembatan penghubung menuju kedamaian? Ah, sungguh kakaknya yang maniak occult dan pejuang emansipasi ini sudah menjadi semakin tak waras dengan teori perdamaian yang selalu ia junjung tinggi itu.

Temari melongo, seakan semakin bingung dengan situasi—sifat anggota keluarga barunya ini. Baru saja ia dikagetkan dengan feromon Itachi yang tiba-tiba hilang saat memberi sambutan, menjadikan imej Itachi berubah menjadi garing dan receh. Kini ia harus mengetahui bahwa kakak keduanya ini, Yahiko, bukanlah seorang mahasiswa normal. Mengumpulkan hewan-hewan peliharaan demi perdamaian dunia? Memangnya ini dunia P*kem*n apa?

"Kalian semua... DIAAAAM!"

Hening sesaat. Teriakan Itachi terdengar menggema dan begitu menyeramkan bagi mereka yang berada di koridor itu. Semua menoleh ke arah Itachi yang terengah-engah setelah meneriakkan satu kata penetralisir. Satu kata ampuh yang berhasil menghentikan perdebatan Naruto yang dibantu Sasuke versus Yahiko.

Bruk!

Bahkan teriakan itu berhasil membuat Kankurou terjengkal dari kursinya. Bunyi kursi berat itu terdengar di seisi koridor. Sementara bagian sandaran kursi sedikit mengenai kepala Kankurou.

"Ka-kankurou! Daijoubu?" Temari langsung berlari panik menuju tempat Kankurou yang dianya kini sedang mengaduh kesakitan karena jatuh mencium lantai. Gaara pun mengekor kakaknya mendekati dan membantu Kankurou berdiri. Semua atensi mengarah ke pemuda yang sibuk memegangi bokong dan kepalanya yang kesakitan itu. Kasihan sekali abang Gaara ini.

"Kankurou-kun, kau tidak apa-apa?" tanya Itachi dengan nada panik. "Ini gara-gara kalian yang berdebat di tengah acara! Kita sudah membuang banyak waktu untuk mendengarkan perdebatan kalian saja!" Itachi mengarahkan netranya secara bergiliran ke para pelaku yang mengundang amarahnya. Naruto dan Sasuke menunduk, sedangkan Yahiko membuang muka.

"Kankurou-kun, kau bisa duduk? Kalau tidak bisa, berbaring di sofa saja," ucap Itachi lagi sambil menatap Kankurou dengan ekspresi cemas. Kankurou hanya menggeleng lemah, dan berusaha untuk duduk di kursi yang menjatuhinya tadi.

"Uh-um. Lanjutkan saja acaranya, niisan," ujar Kankurou yang sudah merasa agak baikan. Meskipun ia masih memijit-mijit kepalanya yang memerah. Gaara dan Temari pun kembali ke kursi mereka.

'Ah, akhirnya dia memanggilku dengan sebutan niisan,' Itachi tersenyum simpul. Sepertinya ia mulai diterima sebagai kakak bagi Kankurou. Dan hal kecil yang sebenarnya cukup penting ini seakan membuat mood Itachi membaik.

"Ada apa ini? Suara kalian terdengar sampai kamarku. Kalian membangunkan tidurku, dasar merepotkan," seseorang muncul dari arah tangga penghubung lantai dua dan tiga. Menampilkan visual seorang berambut hitam panjang terurai dengan yukata tidur yang sedikit berantakan. Ekspresi mengantuk nan bosan hidup tercetak jelas di wajahnya. Para penghuni rumah Uchiha sudah akrab dengan pemandangan ini. Tapi tidak bagi Temari dan adik-adiknya. Temari hanya bisa terpaku menatap pemuda yang baru muncul itu. Begitu pula dengan Gaara dan Kankurou.

"Shikamaru! Kau ini, sudah tahu, kan, malam ini ada jamuan untuk menyambut saudara baru kita? Kenapa kau baru muncul sekarang?" cerocos Naruto sambil berjalan ke arah dimana pemuda yang dipanggil Shikamaru itu berdiri. Shikamaru balas menatap Naruto, kemudian menatap sekelilingnya.

"Aku lupa," jawabnya pelan. Saat itu juga, tangannya ditarik dan diseret oleh Naruto menuju satu kursi kosong yang berada di sampingnya. Sedikit rasa sebal terpancar di wajah Naruto ketika mendudukkan adik yang setahun lebih muda darinya itu. Begitu juga dengan Shikamaru yang dipaksa duduk dan mengikuti acara yang sebenarnya ingin ia hindari ini.

"Kobarkan semangat masa mudamu, Shikamaru! Jangan tidur terus!" Yahiko berseru semangat sampai-sampai ia tak sadar telah berdiri dari kursinya. Kursinya nyaris terjatuh kalau saja Konohamaru tidak menahannya.

"Jangan mengingatkanku pada Guy-sensei, baka aniki! Kimochi warui..." balas Sasuke sambil melirik Yahiko dengan tatapan iyuh. Ia teringat akan orang yang mengajarkan semua penerus Uchiha ilmu bela diri judo yang bernama Might Guy. Alih-alih memakai pakaian khusus judo selama latihan, ia malah memakai sehelai pakaian ketat yang terbuat dari bahan legging sehingga menampakkan seluruh lekuk tubuhnya. Mengingat hal itu saja, sudah membuat Sasuke merinding.

Setelah dikiranya suasana sudah terkendali, Itachi pun melanjutkan kembali sambutannya yang terpotong sejak lima belas menit lalu.

"Baiklah, sekian sambutan dariku. Untuk selanjutnya adalah sambutan perkenalan dari Temari, yang akan menjadi saudara perempuan pertama kita. Temari, kau boleh berdiri," ujar Itachi mengakhiri sambutan tak bermutunya. Iapun mempersilakan Temari untuk memperkenalkan dirinya pada mereka yang berkumpul di koridor itu.

"A-aku harus ngomong apa?" Temari tiba-tiba saja menjadi gugup ketika beberapa pasang mata menatapnya dengan penuh pengharapan. Sasuke pun sedikit mencuri pandang. Mungkin hanya Shikamaru yang tak tertarik dan memilih untuk memandang arah lain.

Oh, ayolah Temari. Kau ini, kan, ketua OSIS di sekolahmu. Masa mengenalkan diri di depan saudara-saudaramu saja gugup?

"Apapun, Temari. Misalnya di mana kau bersekolah, tanggal lahirmu berapa, atau apapun," jawab Itachi seadanya. Membuat Gaara dan Kankurou terfokus pada setiap gerak-gerik Itachi.

'Apa yang ingin dia ketahui tentang neesan?'

"Ayo, Temari! Fight!" seru Naruto sambil mengangkat kepalan tangannya ke arah dadanya demi menyemangati sang empunya nama. Pandangan Gaara dan Kankurou beralih ke surai pirang yang duduk di seberang Temari itu.

'Jangan sok akrab pada neesan, kumis kucing!'

"Aha ha ha, Baiklah. Semuanya, salam kenal. Namaku Temari, usiaku delapan belas tahun. Aku murid kelas tiga di Suna Highschool dan menjabat sebagai ketua kesiswaan di sana. Aku bercita-cita menjadi dokter spesialis jantung agar bisa menyembuhkan ibu," ucap Temari bersemangat sembari memberikan perkenalan singkatnya kepada mereka yang ada di situ. "Mulai sekarang, aku akan menjadi salah satu bagian dari keluarga Uchiha. Mohon bantuannya," lanjutnya sambil menunduk hormat. Itachi memberi applause, kemudian disusul oleh yang lain. Temari pun duduk setelah dikiranya waktunya selesai.

Sedetik, Shikamaru menatap calon kakaknya dengan sedikit wajah kaget yang kemudian melunak. Ia sedari tadi memang hanya mengedarkan pandangannya ke arah selain Itachi atau Temari. Dan walaupun hanya sedetik yang mungkin tak ada yang menyadarinya, Temari berhasil membuat Shikamaru menaruh sedikit atensi padanya.

"Hm, semoga kau bisa jadi dokter hebat dan menyembuhkan penyakit ibu dan Shikamaru, Temari," ujar Itachi sambil memandang Temari lembut. Temari terperanjat mendengar penuturan Itachi. Tertangkap nanar kesedihan di wajah setiap insan yang duduk mengelilingi meja panjang itu. Ia pun mengalihkan pandangannya pada Shikamaru, pemuda enam belas tahun itu kembali menatap ke bawah dan sepertinya bersiap untuk pergi dari sini.

"Heh! Memangnya gadis liar yang hampir membunuh segerombolan geng motor dan menghajar gigolo ini bisa jadi dokter?"

Jleb!

Hanya satu kalimat berindikasikan pertanyaan—ejekan dari Uchiha Sasuke itu mampu membuat Temari mencelos. Oh no! Itu adalah salah satu bagian masa lalu yang tak pernah ingin ia ungkapkan ataupun ingat-ingat lagi. Terlebih lagi, darimana Sasuke tahu akan hal ini?

Semua tertegun dan bergantian menatap Temari serta Sasuke. Anak-anak Uchiha memandang dengan penuh tanda tanya, apakah yang diutarakan Sasuke tadi benar adanya. Sedangkan Gaara dan Kankurou, menaruh atensi penuh pada Sasuke. Siapa sebenarnya Sasuke ini? Kenapa ia tahu akan masa lalu neesan yang bahkan hanya segelintir saja yang tahu akan hal itu?

"Maa, maa. Sasuke hanya bercanda! Jangan dianggap serius! Ya, kan, Sasuke? Hahahaha!" Yahiko, yang pertama kali menyadari kecanggungan yang tercipta ini akhirnya mencairkan suasana dan tertawa terbahak-bahak. Suasana pun sedikit demi sedikit mencair.

"Ah, aku ingat! Saat masuk SMA, Sasuke pernah menghajar gerombolan preman seorang diri, kan? Dan itu membuatnya harus diskors selama dua minggu!" sambung Naruto, kembali mengundang gelak tawa pendengarnya, kecuali Sasuke dan Temari yang masih sibuk dengan pikirannya tentunya.

'Hoo... Rupanya Sasuke ini orangnya brutal dan bermulut pedas, ya?' pikir Kankurou. Tak menyangka wajah stoic Sasuke mampu menyembunyikan sifat brutal plus mulut cabenya.

Sementara Gaara tertawa hambar, sambil sesekali melirik Sasuke dengan pandangan penuh kewaspadaan. Ia masih bertanya-tanya apakah Sasuke ini sejenis esper yang dapat membaca kenangan seseorang?

"Aku mau kembali ke kamar," Shikamaru yang semakin jengah dengan situasi pun memantapkan niatnya untuk kembali ke kamar. Namun dengan cepat, Itachi menginterupsinya.

"Duduklah sebentar, Shikamaru. Ada yang ingin aku bicarakan pada kalian semua. Setelah itu, kau boleh pergi tidur," mau tak mau Shikamaru kembali ke kursinya. Ia tak berani membantah Itachi, entah apa alasannya. Tapi ia tak ingin berada di ruangan yang membuat dadanya sesak ini terlalu lama.

"Sebenarnya, aku ingin mengatakan ini setelah perkenalan Gaara dan Kankurou selesai. Tapi aku skip saja karena Shikamaru juga wajib mendengar ini," ujar Itachi tegas. Semua mata tertuju pada mimik serius sulung Uchiha.

"Kurang dari dua minggu lagi, tousan dan kaasan akan menikah. Semua hal menyangkut resepsi pernikahan sudah aku dan Kakashi atur sedemikian rupa dan sudah selesai kukerjakan. Kita tinggal menunggu hari-H resepsi pernikahan mereka saja," Itachi berhenti sebentar, kemudian mengambil napas dalam-dalam.

"Tapi ada sesuatu yang kurang. Aku ingin masing-masing dari kita memberi kado pernikahan pada mereka. Lalu, aku juga ingin mengajak kalian semua berdoa di kuil Nakano seperti yang kita lakukan sebelum tousan dan Kushina-kaasan menikah dulu," sukses saja, permintaan Itachi yang pertama menimbulkan sedikit kegaduhan. Berdoa di kuil Nakano sebelum resepsi mungkin tidaklah buruk—memanglah keharusan bagi keluarga kedua mempelai untuk melakukannya karena menurut adat Uchiha hal itu dapat membuat pasangan ybs menjadi langgeng. Tapi memberi kado?

"Besok lusa aku akan mengajak kalian ke kuil Nakano dan mencari kado. Kebetulan besok lusa hari Minggu, kan? Aku juga ingin mengajak kalian refreshing ke Tokyo Disneyland. Sudah lama aku tidak merasakan udara segar karena sibuk mengurus tesisku dan pernikahan ini," sambung Itachi lagi, dengan memberikan kilatan mata yang tak terbantahkan. Terkecuali bagi Yahiko, yang dengan cepat langsung menginterupsi.

"Ta-tapi, hari Minggu aku ada—"

"Tidak ada tapi-tapian! Kalian semua harus ikut."

"—janji dengan Konan-chan..."

Kekeraskepalaan Itachi kali ini sukses membuat Yahiko mengalah. Ia terpaksa harus membatalkan kencan—janji sepihaknya dengan gadis yang sudah ia taksir sejak usia dini itu. Bagaimanapun juga, urusan keluarganya tetaplah nomor satu. Dan Itachi juga tak mau menerima penolakan apapun dari mulut saudaranya.

Setelah acara sambutan dan perkenalan selesai, peranakan Uchiha ini larut dengan kegiatannya masing-masing. Rata-rata dari mereka memang sedang berusaha untuk mendekatkan diri dengan saudara baru mereka. Lain halnya dengan Shikamaru yang sudah kembali ke kamarnya sejak Itachi selesai membicarakan hal pentingnya itu. Ia bahkan tak ikut makan bersama dengan saudara-saudaranya yang lain.

Temari mengedarkan pandangannya menyeluruh. Dapat dilihatnya Sasuke dan Naruto, mengajak kedua adiknya mengikuti kegiatan-kegiatan entah apa yang sepertinya seru sekali di mata Temari. Yah, mungkin duel untuk menentukan siapa pria-di-antara-pria di antara mereka berempat. Di sisi lain ia dapat melihat Yahiko dan Itachi saling bercakap santai. Tidak seperti saat sambutan tadi, dimana mereka terlihat kurang akur. Tapi sekarang mereka benar-benar terlihat seperti kakak-adik yang tengah bercerita melepas penat.

"Tema-nee, apa yang kau lakukan sendirian di sini? Kenapa tidak gabung dengan Naruto-nii dan yang lain?" si bungsu, Konohamaru, dengan pipi merona merah, membangunkan Temari dari pikirannya. Temari menatap bocah setinggi dadanya itu, kemudian tersenyum.

"Kau sendiri kenapa ada di sini, Konohamaru-kun?" tanya Temari balik, membuat Konohamaru memonyongkan bibirnya. "Daritadi aku melihat Tema-nee sendirian di sini. Jadi aku bermaksud mengajak neechan ngobrol," ujar Konohamaru polos. Astaga, Temari mulai tertarik dengan anak ini. Tidak, jangan berpikiran yang macam-macam! Ia tertarik pada Konohamaru karena anak ini mungkin bisa menjadi sumber informasi yang tepat baginya.

Mereka berdua mendudukkan diri di salah satu sofa yang cukup jauh dari keramaian. Temari mulai menatap Konohamaru dengan penuh pengharapan, berharap bahwa bocah ini dapat memberikan informasi yang ia inginkan mengenai lima kakaknya yang lain termasuk ia sendiri.

"Neechan penasaran dengan siapa dulu, nih? Begini-begini, aku ini ketua klub mading, loh, di sekolah! Aku pengumpul informasi yang handal, he he~" seperti tahu akan isyarat mata Temari, Konohamaru pun berujar sambil menepuk pelan dadanya bangga. Pasti satu-satunya kakak perempuannya ini ingin tahu lebih dalam tentang sixtet Uchiha.

"Terserah kau saja. Aku akan mendengarkan semuanya!" ujar Temari bersemangat. Ia mendekatkan posisi duduknya pada Konohamaru. Persis seperti gadis-gadis yang siap bergosip.

"Baiklah, aku mulai dari rahasia memalukan Ita-nii, ya? Aku dapat informasi ini dari sumber terpercaya! Katanya dulu, Ita-nii itu naksir sama Konan-neechan juga. Sayangnya waktu Ita-nii nembak Konan-neechan, dia langsung ditolak mentah-mentah! Padahal Ita-nii itu laki-laki paling populer di sekolahnya dulu!" Konohamaru membeberkan info pertama layaknya pembawa acara berita-berita gosip. Wajahnya terlihat begitu meyakinkan.

"Oh, ya. Konan itu siapa?" tanya Temari. Sepertinya ia sempat mendengar nama itu disebut Yahiko saat jamuan tadi.

"Konan-neechan itu cewe yang ditaksir Yahiko-nii sejak mereka masih kecil. Ah, ini ada hubungannya dengan rahasia Ita-nii yang satu lagi dan Yahiko-nii, ya. Yahiko-nii katanya membentuk komplotan Akatsuki saat SMA biar bisa dekat sama Konan-neechan terus. Buktinya sampai sekarang mereka juga kuliah di satu kampus," Konohamaru memberikan jeda pada penjelasannya. "Lalu Ita-nii yang waktu SMA juga suka sama Konan-neechan pun, sampai rela masuk Akatsuki. Sayangnya ia berhenti jadi member karena lulus SMA duluan dan melanjutkan study ke Spanyol. Ah, Ita-nii itu jenius. Dia ikut program akselerasi dari SMA sampai S1!"

Temari mengangguk paham. Tak menyangka bahwa Itachi dan Yahiko bahkan bisa menyukai gadis yang sama. Sungguh kisah cinta segitiga yang mungkin takkan berakhir indah jika dilanjutkan.

"Lalu, Sasu-nii... Neechan," Konohamaru menarik lengan baju Temari, agar sang empunya semakin mendekat. Gelagat seperti ingin membisikkan sesuatu, Temari pun paham dan mendekatkan telinganya ke wajah Konohamaru.

"Sasu-nii itu bisa dibilang seorang brocon akut. Juga seorang pengumpul informasi yang lebih hebat dibanding aku. Makanya ia bisa tahu masalah neechan tadi."

Bingo! Sepertinya dugaan Temari soal brocon yang diidap Sasuke itu rupanya bukan sekedar perasaannya saja. Tapi sampai pengumpul informasi hebat itu... Oh, lelaki ini berpotensi besar untuk menjadi psikopat.

"Aku sendiri tidak tahu bagaimana cara Sasu-nii mengumpulkan informasi. Tapi kuakui itu memang lebih menyeramkan dari paparazzi dan penguntit," mendengar penuturan terakhir Konohamaru tentang Sasuke, membuat leher Temari meremang.

"Lalu, Naruto-nii... Terlalu banyak kejadian memalukan yang sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Tapi aku paling sayang sama Naruto-nii. Dia selalu mengajakku jalan-jalan dan membantuku mengerjakan tugas. Sayangnya nasibnya sering sial. Masa tadi pulang sekolah saja, mukanya bisa kecipratan air padahal kami pulangnya pakai mobil!" ujar Konohamaru bersemangat. Membuat tawa Temari pecah. Oh, Naruto sepertinya memiliki kesamaan nasib dengan Kankurou yang selalu sial karena hal-hal kecil seperti itu.

"...lalu Shikamaru itu, bagaimana?" tanya Temari yang langsung mengubah air mukanya menjadi serius. Sejujurnya ia paling penasaran dengan remaja yang sepertinya sangat-sangat anti sosial ini.

"Kalau Shika-nii... seingatku dulu dia orangnya tidak seperti sekarang. Dulu dia baik, kok, meskipun pemalas. Ah, jantungnya memang bermasalah. Makanya ia jarang terlihat keluar kamar selain untuk cek rutin ke dokter atau olahraga pagi-pagi sekali. Shika-nii yang sekarang itu...seperti mengisolasi dirinya sendiri...urm, seingatku sejak Kushina-kaachan meninggal ia jadi seperti itu. Dulu dia masih mau diajak main keluar, kok," ujar Konohamaru yang sepertinya agak miris dengan keadaan kakaknya yang satu ini. Lima tahun mengisolasi diri, itu bukanlah waktu yang sebentar. Temari merenung sebentar, kemudian teringat akan sebuah kejadian yang terjadi sesaat sebelum Shikamaru meninggalkan jamuan ini.

.

Flashback : On

.

"Aku ke kamar sekarang. Aku ngantuk," Shikamaru beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pelan menjauhi saudara-saudaranya yang hanya termangu menatapnya. Itachi sama sekali tak ada niat untuk menghentikan pergerakan Shikamaru. Begitu pula dengan Yahiko dan Sasuke. Temari dan adik-adiknya terdiam, tak tahu harus berbuat apa.

"Bersenang-senanglah di sini dulu, Shikamaru! Itachi-nii baru pulang dari Spanyol. Apa kau tak rindu padanya?" Naruto menghentikan langkah Shikamaru dengan menangkap pergelangan tangannya. Shikamaru terdiam, tidak berusaha untuk melakukan perlawanan. Tapi tidak berniat menuruti keinginan Naruto untuk tetap di sini juga.

"Lagipula kita sedang mengadakan festival Tanabata versi kita sendiri dengan saudara baru kita! Harusnya kau menikmatinya!" lanjut Naruto lagi, semakin mencengkram erat pergelangan Shikamaru

Ah, Temari baru ingat bahwa hari ini adalah hari Tanabata, yang jatuh pada tanggal 7 Juli tiap tahunnya. Pantas saja sepanjang jalan hari ini dipenuhi oleh pohon-pohon bambu dan lampion. Ia pun melihat pohon bambu yang telah bergantungan kertas hias terpajang dalam pot besar di salah satu sudut ruangan ini. Baru terpikir olehnya apa guna dipajangnya pohon bambu itu di tepi ruangan.

"Naru-nii, lepaskan," ujar Shikamaru pelan dengan kepala tertunduk. Oh, dia tidak mau menunjukkan pementasan drama di malam pertama kedatangan saudara barunya. Makanya ia ingin cepat-cepat pergi dari sini.

"Sudahlah, Naruto. Biarkan Shikamaru tidur," ujar Itachi dengan sedikit tegas. Naruto masih tak mengindahkan. Matanya masih menatap tajam ke arah kepala yang tertunduk di depannya itu.

"Dengan sikapmu yang begini terus, kau takkan bisa mengubah keadaan! Lupakanlah semua kejadian yang sudah lalu dan—"

"NARUTO!"

Bruagh!

Pukulan telak mengenai pipi Naruto sehingga membuat Naruto tersungkur. Keadaan di situ seketika menjadi penuh ketegangan. Temari panik sendiri ketika melihat Naruto terjatuh dengan pipi lebam. Sasuke, pelaku pemukulan Naruto itu hanya berkacak pinggang tanpa ada niat untuk menyentuh Naruto lagi. Yang lain terhenyak, menimbulkan detik-detik kesunyian yang terasa begitu lama bagi siapapun yang berada di situ.

"Kalau mau berduel, jangan adu jotos juga, dong. Lakukan yang lain saja sana!" Yahikolah yang pertama kali membuka mulutnya. Tahu kebiasaan dua adiknya yang memang senang berduel entah-apalah-itu untuk menentukan siapa yang terbaik dan siapa yang pecundang di antara mereka berdua. Maka ia menganggap kejadian ini juga sebagai ajakan duel dari Sasuke. Meskipun sixtet Uchiha tahu, maksud Sasuke melakukan itu bukanlah karena seperti apa yang dikatakan Yahiko.

Masih tidak ada respon, baik dari Naruto maupun Sasuke.

"Aku mau tidur. Mana mungkin aku bisa menikmati pesta hari ini ketika semua kejadian merepotkan itu terjadi hari ini," ucap Shikamaru dengan suara yang ditahan. Cukup untuk membuat kedelapan kepala lain terdiam. Temari, Gaara, dan Kankurou terdiam tak mengerti. Sedangkan yang lainnya tampak menundukkan kepala. Terutama Naruto. Bahunya bergetar, seperti sedang menahan tangis atau ketakutan yang luar biasa.

Shikamaru sudah beranjak dari sana beberapa detik yang lalu. Disusul Naruto yang terbangun dari posisi tersungkurnya, mengganti posisi menjadi duduk di lantai. Kepalanya masih tertunduk dalam.

"Ayo, baka Naruto! Biar kuobati lukamu. Setelah itu, kita berpesta!" ujar Sasuke sambil menjulurkan tangannya ke arah Naruto. Narutopun menanggapi dan berdiri, kemudian berjalan mengikuti Sasuke yang akan mengobati luka lebam di pipi Naruto.

.

Flashback : Off

.

Entah apa yang terjadi setelah itu, Temari sudah tidak ingat. Ia bahkan tidak mengerti, keadaan yang awalnya sangat menegang itu tiba-tiba menjadi sesantai sekarang. Ia tak mengerti, bagaimana bisa si pirang dan si raven itu jadi seakrab dan seriuh ini padahal tadi mereka sempat terlibat baku hantam.

"Konohamaru-kun, sebenarnya apa yang telah terjadi hari ini?" Temari bertanya tanpa menatap Konohamaru. Perhatiannya tertuju pada Naruto dan lainnya yang sepertinya sudah capek adu siapa yang tercepat dan mengubah duel mereka menjadi adu siapa yang beruntung dengan bermain kartu.

"Hari ini? Hmm... banyak yang terjadi. Salah satunya adalah—"

Temari membulatkan matanya, ketika mendengar kelanjutan jawaban Konohamaru.

.

.

.

"—ibu yang melahirkanku meninggal hari ini. Tepat lima tahun lalu."

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

~ To Be Continued ~

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Omake :

"Yosh! Sasuke! Hari ini kita mau duel apa lagi, ha?" Naruto berujar dengan semangat membara. Rival sejatinya sekaligus saudaranya, Sasuke, menatap Naruto sengit.

"Bukan tugasku untuk memikirkan hal itu, kan? Itu tugasmu, baka Naruto," balas Sasuke, masih dengan tatapan sengitnya.

"Hmm... Ah! Perutmu masih kuat tidak? Ayo kita lomba makan dango saja!" usul Naruto, ketika melihat tumpukan dango yang masih tersisa banyak di meja prasmanan.

"Heh, boleh saja! Aku takkan kalah darimu, pecundang!" Sasuke menyetujui usulan Naruto. Mereka berdua pun berjalan menuju tumpukan dango itu.

"Hmm... Dango ini masih banyak. Bagaimana kalau kita bagi dua puluh-dua puluh. Lalu ajak Gaara dan Kankurou ikut duel kita juga? Yang tercepat makan dangonya, dia yang menang!" Naruto mengajukan usulnya lagi, ketika dipandangnya adik-adik Temari itu hanya terpaku di kursinya.

"Terserahlah. Aku ikut saja."

Sasuke dan Naruto pun mengajak (baca: memaksa) Gaara dan Kankurou mengikuti duel harian mereka. Tentunya dengan sedikit provokasi agar mereka termotivasi untuk ikut.

"Ayolah, Kankurou, Gaara. Kalian harus ikut! Semua lelaki di rumah ini sudah pernah berduel dengan kami. Kalau kalian tidak ikut, kalian akan dicap pengecut di rumah ini!" sungguh sangat pintar Naruto mengompori orang. Kankurou yang dengan bodohnya percaya saja dengan komporan Naruto pun menjadi bersemangat dan memutuskan untuk ikut duel itu.

"Ha! Oke, siapa takut! Ayo, Gaara. Kita buktikan kalau kita bisa mengalahkan mereka!" ajak Kankurou sambil menarik lengan Gaara yang sangat enggan untuk beranjak dari kursinya.

"Haa? O-oi!"

Gaara, seperti kehabisan tenaga, hanya bisa pasrah ketika ketiga orang laknat ini berhasil menyeretnya ke duel tak bermutu SasuNaru.

'Hah... Padahal aku sudah kenyang. Neesan, tolong aku...'

Omake : End


Hoho updatenya sengaja samaan dengan tanabata yey! /heh

Chap ini jadi lebih panjang yha. Padahal niatnya mau pendekan serius.

Untuk yang review minta diupdate, ini sudah diupdate. =) dan maaf gak bales reviewnya satu-satu /sembah sujud

Btw, untuk chap-chap awal mungkin belum keliatan interaksi Temari sama yang lain. Bakal lebih difokusin ke bekgron adek-adeknya dulu.

Karena ceritanya kepanjangan, a/nnya saia cukupkan aja dulu deh. Terimakasih buat yang udah mampir. See you next chap~ 8DD

((btwygmampirreviewdonghehebiarauthorsemangatupdatenya /plak