Disclaimber: J.K Rowling only

Aku baru bisa Update sekarang, seperti yang udah aku jelasin di Profile, aku sibuk ujian, karena sebentar lagi bakalan Ujian Nasional, tapi karena mood nulis ku lagi berapi api, aku belain nulis ini di tengah tengah Try Out.

Dandelion96: Ya Cewek Dandelion itu emang Alex

: Di Chap ini aku udah berusaha perbaikim kok

Thank's ya buat Reviewnya, mudah mudahan chapter tiga updatenya nggak lama

Happy Read

Between You and Me : Albus Potter X Alex Foster chapter 2:

Alex P.o.V:

"Mom apa yang terjadi pada mu?" ujarku memandang wajah ibuku yang terbaring pingsan di bangsal St. Muggo, baru sejam yang lalu kami memindahkan Mom dari rumah sakit Muggle –tempat para tetangga Muggle kami membawanya- kesini, karena bagaimanapun penanganan dengan sihir toh lebih baik dari penanganan medis Muggle biasa.

Kami berhasil mengeluarkan Mom dari rumah sakit Muggle itu dengan persetujuan Dad; bahwa pihak rumah sakit tak akan bertangung jawab atas apa yang akan terjadi pada Mom setelah kami menyetujui mengeluarkan Mom.

Tadi saat aku sedang berdansa di St. James park, tiba tiba Amanda datang menghampiriku dan membisikan bahwa dia baru saja menerima telephone dari salah seoarang tetangga Muggle kami yang mengatakan Mom jatuh di kamar mandi.

Seketika itu juga aku melupakan segalanya.

Aku langsung berlari meninggalkan lantai dansa, dan memanggil taksi Muggle, Amanda menyusulku beberapa saat setelah itu, dan kami langsung menuju rumah sakit Muggle tempat Mom dirawat.

Aku langsung menelephone Dad dengan Handphone Amanda, mengatakan hal itu, dan menyuruhnya segera datang menemui kami di rumah sakit.

"Alex,"kata Amanda di daun pintu membuyarkan lamunanku. Dia terlihat berantakan, dia terus menyalahkan dirinya dari tadi, karena mengajakku ke pesta di St. James, dan meninggalkan Mom sendirian di rumah. "apa Mom akan membenciku, seandainya dia bangun?"

Aku tersenyum memandang adikku ini "Tentu saja tidak, Mom menyayangimu Amanda, dan akan terus begitu, kau tetaplah anaknya,"

"Tapi aku membuat Mom celaka, aku…"

"Jangan menyalahkan dirimu!" kataku tajam, Aku tak suka dia menyalahkan dirinya sendiri akan apa yang berada di luar kendalinya "Ini bukan salah mu, sekali lagi, Ini bukan salah mu, mengerti!"

Amanda menganguk kecil, tapi terus memandang kakinya, aku tahu dia masih merasa bersalah atas semua ini.

Aku hendak mengatakan sesuatu, tapi Dad masuk "Apa yang dikatakan para penyembuh Dad?"kataku.

"Ibu kalian tidak apa-apa dia pusing karena terlalu banyak bekerja, tapi dia tak akan kenapa-kenapa, tak ada cidera serius, dia juga pasti akan bangun sebentar lagi,"Kata Dad tersenyum menenangkan padaku, dan juga Amanda.

Aku tersenyum tipis, kemudian memandang Mom yang sedang terbaring di tempat tidurnya.

Ku harap Dad benar, Mom akan baik-baik saja.

Al's P.o.V:

Hugo Weasley, dimana kau!

Aku memandang berkeliling untuk melihat apakah ada tanda tanda Hugo akan muncul, tapi ternyata tidak, sudah satu jam lebih -yang rasanya berabad abad- aku menunggunya di mobil, tapi dia belum juga muncul juga sampai sekarang.

Setelah aku ditinggalakan begitu saja oleh Cewek Dandelion misterius itu -siapa namanya tadi, ah ya Sunny Summer- aku memutuskan untuk kembali ke mobil, setelah sebelumya mengisi perutku dengan berbagai macam kue kering dan bergelas gelas minuman bersoda.

Sebenarnya aku agak kecewa juga sih, karena awalnya ku kira aku tak akan menghabiskan malam ini sendirian mencari sepupuku yang entah pergi kemana, ada Cewek Dandelion itu di sampingku, tapi ternyata aku salah, dia seperti Cinderella -pernah dengar dongeng Muggle tentang seorang gadis yang datang ke pesta kerajaan, membuat pangerannya jatuh cinta, kemudian pergi melarikan diri tepat tengah malam (Dulu aku sering mendengarkan Dad menceritakan dogeng itu pada Lilly, makanya aku tahu).

Bedanya Cewek Dandelion ini dengan Princess Cinderella adalah; cewek Dadelion ini tak meninggalkan jejak apapun, tidak seperti Cinderella meninggalakan sepatu kacanya, lagipula walaupun dia meninggalakan jejak, memangnya aku mau mencari cewek ini dimana, di seluruh Inggris?

Tidak mungkin kan, memangnya aku akan menanyai setiap rumah untuk mencari tahu apa ada gadis di rumah itu yang pergi ke pesta topeng di , walaupun di bantu sepupu sepupu ku sekalipun, aku tak yakin dapat menemukan gadis itu!

Hal terbaik yang bisa ku lakukan hanyalah berharap bertemu denganya lagi suatu saat nanti, dan menyelesaikan dansa kami yang belum selesai.

Heranya, kenapa dia langsung lari saat gadis bergaun pink itu berbisik sesuatu padanya, apa ada sesuatu yang buruk terjadi…

Terdengar suara ketukan di kaca mobil "Al buka kaca mobil ini!"Terdengar suara Hugo samar-samar, aku menyipitkan mataku agar dapat melihat lebih jelas, dan aku melihat Hugo melambai lamabai di kaca mobil sambil meneriakkan namaku.

Aku menurunkan kaca mobil dan memandangnya dengan tatapan ter-sinis yang kumiliki "Bagus sekali ya kau, meniggalkanku dikerumunan Muggle-Muggle itu, dan mengilang entah kemana, aku sepupumu Weasley, bukan supir pribadimu!"

Muka Hugo langsung berubah pucat, bagus kalau dia ketakutan, melihat Hugo ketakutan dari dulu adalah tontonan favorit ku dan juga Louis dan James.

"Aku, aku…" katanya kehabisan kata kata, memandang berkelilng mencari inspirasi.

Aku tertawa keras, ini cukup menghiburku, walaupun tadi Cewek Dandelion meninggalkan ku sendirian di tengah tengah dansa kami, tapi melihat Hugo ketakutan dan kehabisan kata kata begini, adalah hiburan yang lumayan lucu.

Hugo menatapku bingung untuk sesaat, tapi kemudian dia menatapku dengan pandangan penuh dendam "Kau mengerjaiku Albus!"

"Jangan panggil aku Albus!"kataku. Dia sama saja dengan Lilly kalau marah, selalu saja memanggil ku Albus, tahu bahwa aku sangat tidak suka akan nama itu "Aku memang benar kesal padamu kok! Aku hanya memandang berkeliling sesaat, kemudian kau sudah lenyap begitu saja!"

"Maafkan aku, aku hanya,"katanya "sangat penasaran dengan pesta ini, dan ternyata apa yang dkatakan orang benar, pesta ini memang hebat!"

"Terserahlah, sekarang masuklah. Ayo pulang!"

Hugo mengangguk kemudian membuka pintu dan duduk dengan nyaman, aku menginjak gasnya kemudian mobil Dad sudah meluncur dijalanan.

Still Al's P.o.V:

Musim panas telah berakhir, waktunya kembali ke sekolah dan mengucapkan salam perpisahan untuk satu tahu ke depan kepada keluarga -walaupun dalam kasus ku sebenarnya ini tidak terlalu penting, karena mereka semua pasti akan menemukan cara baru tahun ini untuk mengontak ku Rose, Lilly, dan Hugo.

Apa sudah ku katakan bahwa kadang kadang repot juga punya keluarga yang terlalu sayang padamu, mereka kadang kadang bertingkah berlebihan -ini tak termasuk James dan Fred sebenarnya, mereka tak akan peduli akan apa saja yang ku lakukan, tapi aku akan mengatakan tanpa ragu bahwa mereka menikmati, empat Potter-Weasley terakhir di perlakukan berlebihan oleh seluruh anggota keluarga.

Aku sedang ada di atas Hogwarts Expres, dan cuaca di luar tak membaik dari tadi pagi, hujan terus! Jadi aku tak tahu pasti jam berapa sekarang, Arlogi-ku ku simpan dalam koper karena talinya lepas di stasiun tadi, tapi aku bertekat akan memperbaikinya setibanya di Hogwarts nanti.

"Jadi sudah jam berapa Rose?"Kata Hugo yang juga tidak mengenakan Arloginya, katanya sih tadi dia lupa membawanya, tapi dia yakin pada pos pagi besok, Aunt Hermione pasti akan mengirimkan Arlogi itu, katanya, ibunya kan adalah orang yang tak pernah melupakan sesuatu.

Heran juga ada orang yang lupa membawa Arloginya sendiri.

"Jam setengah enam Hug's,"Jawab Rose bosan, karena dari tadi aku dan Hugo tak berhenti menanyainya secara bergiliran, tapi dia kan satu-satunya yang menggunakan Arlogi di kompartemen kami.

Sebenarnya Lilly juga menggunakan Arlogi sih, tapi dia sedang serius membaca sesuatu, dan dia juga belum sepenuhnya memaafkanku soal pesta Park itu.-sungguh aku tak akan menemani Hugo ke pesta manapun lagi!-Dia mengancam akan memantrai kami dengan kutukan Kepak Kelelawar, kalau kami berani menanyakan sesuatu padanya selama dia masih membaca buku.

Dan, cuman orang gila yang nekat mau membuat Lilly mengutuknya dengan Kutukan Kepak Kelelawar-nya, dia menggunakan kutukan itu dengan baik sekali. Aku pernah mendengar Uncle George bercerita Mom juga handal dalam yang hal satu itu.

Aku memandang keluar jendela, menerka-nerka berapa jauh lagi kami akan sampai di kastil, karena aku sudah lapar sekali, semua cokelat kodok ku sudah di embat Hugo dari tadi, hanya karena dia tak dapat membeli apa apa dari troli makanan yang kebetulan lewat saat dia ke kamar kecil.

"Rose, bagimana OWL mu?"tanya ku, berhubung aku juga belum tahu hasil OWL Rose, tapi sepertinya aku sudah bisa menebak hasilnya…

"Sepuluh OWL, dengan satu 'E' untuk Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam"kata Rose mendengus kesal, dia seperti ibunya, juga tak berhasil mendapa 'O' untuk mata pelajaran itu. "Tapi kurasa aku bisa ikut semua pelajaran, hanya aku tak mau melanjutkan sejarah sihir, karena kalau di pikir-pikir lagi, kelas itu memang lebih cocok menjadi tempat tidur siang, ketimbang fungsinya sekarang"

Aku ternganga, tapi senang Rose mengatakan itu. Nah, dia tak terlalu Aunt Hermione kan, masih ada bagian kecil dari dirinya yang memiliki sifat Uncel Ron.

Hujan masih turun dengan derasnya, dan aku memandang kaca kompartemen teta[I yang menghadap yang meghadap ke koridor kereta kali ini, entah kenapa aku lelah untuk bicara. Aku masih memandang koridor itu lewat kaca kompartemen ku, saat sekelabat rambut cokela lewat di koridor di depan ku.

Seketika ada perasaan aneh menyesapi ku, seperti aku menemukan sesuatu yang hilang, dia- siapapun cewek –ya aku yakin dia cewek- yang baru saja melintas itu lah yang selama ini ku cari.

Alex P.o.V:

Aku menginjakan kaki ku untuk pertama kalinya di Hogwarts, walaupun bangunan tua ini tak menawan seperti Beubaxton, tapi Hogwarts punya daya pikatnya sendiri, bangunan ini berdiri megah dengan caranya sendiri, ada semacam energi aneh yang di pancarkan oleh bagunan ini. Aku tak tahu apakah itu karena sihir, atau memang karena aura dari kastil ini.

Tetapi, yang jelas energi itu membuatmu hangat sekaligus merinding secara bersamaan, dan aku sudah bisa mengartikan ini, kastil ini akan menerimamu dengan senang hati, tetapi jangan coba coba mencari cari masalah, karena kau sendiri yang akan celaka.

Amanda mencengram tanganku, terpana sekaligus takut, aku heran kenapa dia takut, toh Hogwarts tak akan memakan orang!

Kami sampai di depan pintu berpola rumit yang sepertinya berusia ratusan sampai ribuan tahun, dan seorang penyihir laki laki berwajah bundar, tersenyum kepada ku dan adikku.

Aku mendapat prasangka kendatipun dia tersenyum dan terlihat ramah, tapi di balik itu semua terdapat jiwa yang kuat, yang telah menghadapi berbagai macam penderitaan yang membuatnya bisa seperti sekarang ini.

Penyihir yang kira kira berumur empat puluh tahun-an itu berbicara, dengan suara tenang:

"Selamat datang di Hogwarts, kalian berdua pastilah murit pindahan dari Beubaxton, aku Prof. Longbottom, kepala asrama Gryffindor, dan, Kepala Sekolah menyuruhku, membawa kalian berdua masuk sekarang untuk di seleksi,"

"Di… seleksi?"kata Amanda kaget "Maksud anda, kami akan, di pisah, begitu sir?"

"Hanya apabila kalian di letakkan dalam asrama yang berbeda, ya,"kata Prof. Longbottom. "Dan keputusan topi seleksi adalah keputusan mutlak, tak bisa di ubah!"

"Asrama apa sir?"kataku.

"Hogwarts, seperti yang baru saja ku katakan,"kata memandangku "Terdiri dari empat asrama yang di namai sesuai dengan para pendiri sekolah ini, Ada asrama Slytherin yang hanya menerima mereka yang berdarah murni, ambisius, dan licik seperti dia,"

Jeda sebentar, sebelum Longbottom melanjutkan

"Ada Ravenclaw, tempat orang-orang jenius, Hufflepuff, asrama untuk orang orang yang pekerja keras, dan baik hati, dan yang terakhir, adalah asrama Gryffindor, untuk mereka yang berani, dan mementingkan kejujuran,"

Oh pantas, aku merasa dia telah mengalami hari hari yang berat, dia pastinya dulu di tempatkan di Gryffindor –dia kepala asrama Gryffindor sekarang kan- dan kalau tebakan ku benar, dia juga telah mengalami petualangan di masa mudanya.

"Nah sekarang ayo,"kata Prof. Longbottom tersenyum lagi "ratusan anak anak menunggu kalian supaya mereka bisa makan,"

Prof. Longbottom, membuka pintu berukiran rumit itu, dan aku langsung kagum melihat Aula besar Hogwarts, ada ribuan lilin melayang di seluruh langit langit Hogwarts, dan kalau melihat lebih jauh, akan terlihat keindahan langit malam yang bertabur bintang, persis seperti di luar –sesaat, ku kita Aula ini tak ada atapnya, tetapi tenyata itu adalah langit-langit sekolah yang sudah di sihir mengikuti cuaca di luar.

Beberapa menit setelah itu aku sadar bahwa lenganku sakit, aku menoleh, Amanda mencengram erat lenganku, kebiasaan lamanya, kalau dia gugup atau takut.

Dia terus bergumam, tentang tak ingin di tempatkan di asrama berbeda "Amanda, tenaglah oke, bahkan walau kita di tempatkan di asrama berbeda, aku akan mengunjungi mu setiap hari,"kataku, "Jadi bisa kau lepaskan cengraman mu?" ujarku lagi. Sebagian karena aku ingin dia melepaskan cengkramanya, dan sebagian lagi karena aku tau aku memang akan mengunjunginya tiap hari.

Aku kembali mendang berkelilig lagi, dan menyadari ada lima meja panjang dengan kursi kursi kayu kokoh yang di cat cokelat kemerahan, yang satu di duduki oleh para guru, dan empat lainya di duduki oleh murit-murit Hogwarts menggunakan topi kerucut hitam dan lencana dengan gambar yang berbeda bada -aku tak bisa melihat jelas lencana itu bergambar apa, tapi yang jelas, lencana itu berwarna merah-emas, kuning-kenari, biru-perunggu, dan hijau perak-

Aku terus berjalan di belakang Prof. Longbottom, dan dia membawa kami ke serang penyihir wanita yang sudah tua, menggunakan jubah hijau limau tua dengan topi kerucut senada, jelas sekali wanita inilah kepala sekolahnya, dari jauh saja dia sudah terlihat berwibawa.

Seluruh Aula memperhatikan kami, seolah kami adalah kejadian langka, aku berusaha menghiraukan mereka, dan sepertinya Amanda juga, dia menutup matanya, dan membiarkan aku menuntunya.

Kami tiba di hadapan kepala sekolah, dan dia member isyarat kepada Amanda untuk duduk di kursi yang di atasya terletak topi paling jelek dan lusuh yang pernah ku lihat, dia memasangkan topi itu ke Amanda, dan bebepa saat setelah itu salah satu robekan topi itu menganga, dan dia meneriakan "Ravenclaw,"sesaat seluruh Aula saling pandang, kemudian meja ke dua sebelah kiri bersorak, Amanda turun dari kursinya.

Prof. Longbottom memberi Amanda isyarat untuk bergabung dengan meja yang baru saja bertepuk riuh, dia menurutinya, agak gemetaran, menoleh padaku, dan aku tersenyum padanya.

Wow, adik ku di Ravenclaw, ya aku tak terlalu terkejut, dia memang lebih pintar dari anak anak di usianya, bahkan untuk ukuran penyihir, waktu dia berumur lima tahun, aku mendapatinya membaca buku Penyembuh Mom yang tergeletak di ruang duduk waktu itu, dan waktu dia berumur sepuluh tahun dia sudah bisa sedikit mengontrol kekuatan sihirnya, walaupun tidak banyak, tetapi toh dia bisa.

Kepala sekolah sekarang mempersilahkan aku duduk di kursi yang baru di duduki Amanda tadi, dan dia juga meletakan topi itu di atas kepala ku, dan aku mulai mendengar topi itu berbisik di telingaku.

Aku mendengarnya berkata tentang aku punya keberanian, tetapi aku tekadang sedikit licik seandainya menyangkut balas dendam, aku juga suka menolong orang, kendati tidak melalui tanganku sendiri, dia juga bilang aku punya kecerdasan yang di butuhkan oleh seorang Ravenclaw.

Aku sendiri, tak terlalu peduli dia memasukanku kemana, dan pada akhirnya topi seleksi ini meneriakan "Gryffindor," dan meja di ujung kanan bertepuk tangan.

Prof. longbottom menyuruhku duduk bersama mereka yang baru saja bertepuk untukku, aku menurut, melemparkan pandangan 'semua-akan-baik-baik-saja' pada Amanda dan melngkah ke mejaku.

Kemudian Kepala sekolah mulai berpidato, mengucapkan selamat datang kepada murit murit dan semacamnya, dia juga menjelaskan alasan kenapa aku dan Amanda di seleksi sekarang, dan berharap semua muritnya dapat berteman dengan kami.

Aku merasakan semua mata memandangku ingin tahu sekarang, menilai lebih tepatnya, apa aku benar-benar dari Beubaxton. Aku bersyukur saat Prof. –Kepala Sekolah- menyuruh kami semua makan hidangan yang secara ajaib muncul di piring piring tembaga di depan ku.

Ya ku harap, tahun ini akan berjalan baik.

Al's P.o.V:

"Baik,"kata Luella Corner menatap ku tajam, "Kalau kau lebih memilih perempuan berkelakuan seperti hantu hutan ini-"

"Perempuan yang kau sebut itu adalah sepupuku!"Kataku dingin "Dan aku tak menerima penghinaaan dalam bentuk apapun terhadap keluarga ku, bahkan dari mu! Jangan bicara padaku, sebelum kau minta maaf pada Rose,"

"Yah, Rose! Selalu saja Rosie tersayang! Jangan harap aku akan minta maaf padanya, setelah dia menampar ku di depan seluruh temanku!"katanya menekan pipinya, aku memang melihat bekas tangan disana.

"Untung, hanya ku tampar, kau penghianat! Untung hanya aku tampar, bukanya ku kutuk!" kata Rose dingin, bicara setelah dia bungkam lama, "Aku tak suka orang yang mempermainkan sepupuku!"

"Mempermainkan aku? Penghianat?! Rose apa yang kau-"kataku bigung, tapi Rose menahan pertanyaan ku dengan isyarat tangan.

"Kau beruntung aku yang menemukan mu, bukan Lilly,"Kata Rose lagi.

"Kau!"kata Luella menatap Rose garang, kemudian menatap ku "Baiklah, aku selesai dengan mu! Kalian menyedihkan!"katanya.

"Artinya hubungan kita berakhir,"kataku memperjelas semuanya "Bagus, aku juga muak terhadapmu, dan semua persoalan!" kataku setengah berteriak mengawasinya melangkah pergi dari Ruang Rekreasi Gryffindor "dan Jangan masuk ruang rekreasi orang sembarangan!" Aku setengah beteriak

Aku mengawasi kepergian cewek itu dari ruang rekreasi, kemudian memandang tangga pualam yang merupan jalan menuju kamar anak laki laki. Aku menyadari anak anak Gryffindor di ruang rekreasi mulai menatapuku dan Rose. Rose yang rupanya juga menyadarinya membentak salah seoran anak kelas emapat yang menatap kami secara terang terangan.

"Apa? Belum pernah lihat drama!"

Anak itu memalingkan wajahnya dan berbisik dengan temannya yang duduk di dekat jendela. Bagus sekarang semua orang membicarakan kejadian ini. Percaya padaku, berta ini akan menyebar luas saat makan malam.

Aku terenyak di kusi lengan yang tadi ku duduki sebelum Corner-nah dia kan bukan teman kencanku lagi, jadi aku akan memanggilnya secara normal lagi- datang mengadukan apa yang dilakukan Rose padanya.

Kerongkongan ku sakit memang karena berteriak teriak, tetapi lebih dari itu aku baik baik saja, masih banyak orang yang mau berkencan denganku! Dan aku tak menyesal memberikan kepercayaan ku pada Rose, aku mengenal Rose dari lahir, dan aku tahu dia bukanlah orang yang suka menampar orang sebarangan, melainkan pasti karena alasan yang kuat.

"Omong-omong, kenapa kau menamparnya sih?"kataku menoleh pada Rose, setelah sebelumnya memelotot kepada beberapa anak kelas satu dan dua yang masih menatapku seolah olah aku orang yang jahat. Bukan aku yang salah disini, tapi Corner kan?

"Oh Al,"kata Rose menarik nafas panjang, menatapku juga.

"Katakan saja, aku tak akan apa apa,"kataku.

"Aku… aku hanya tak suka ada orang yang mempermainkan sepupuku, apalagi kau, kau sepupu faforitku Albus, dan terlebih lagi, kau sahabatku,"kata Rose sekarang takut-takut.

"Maksudmu?"tuntutku meminta kejelasan.

"Oh, aku tak sengaja meliatnya berciuman dengan seorang anak kelas tujuh Hufflepuff kemarin di tribun Quidditch,"kata Rose masih takut takut, tapi penasaran dengan reaksiku "Al, maafkan aku…"

"Tidak apa-apa, biarkan saja dia, tapi aku bersukur dia mengakhiri ini semua, aku juga sudah muak, cuma aku tak biasa mengakhiri sebuah hubungan, maksudku…"

"Kau sama saja dengan Dad, Al"Kata Rose tersenyum sekarang.

Aku nyengir.

Rose mendengus, lalu dia mengeluarkan bukunya "Sejuta tanaman obat" -yang entah darimana dia dapatkan, mungkin dari Neville, atau karena ini disekolah, aku harus menyebutnya Prof. Longbottom sekarang- dan mulai membaca.

Aku kembali ke kegiatanku yang sebelumnya, membolak balik Daily Phophet mencari tahu, mungkin saja ada orang yang kukenal masuk koran lagi.

Still Al's P.o.V:

Aula besar masih ramai seperti biasanya -malah tambah ramai mungkin- semua orang sepertinya ingin mengisi tenaga mereka dulu sebelum memulai hari, aku sendiri juga sedang melahap bebrapa Muffin dan jus labu kuning di depanku sambil memandang Lilly berdiskusi dengan Hugo tentang apa sebaiknya mereka ikut pelajaran Ramalan hari ini tau menenggak beberapa kudapan kabur yang mereka ambil dari Toko Uncle George musim panas lalu, dan membolos pelajaran.

Rose -yang memang tak pernah menyukai Ramalan- hanya diam saja sambil memain-mainkan sendoknya setelah sebelumumnya mengucapkan dengan nada pelan, kalau mereka memang tak mau ikut pelajatan itu, kenapa dulu mereka memilihnya.

Aku akan menenggak jus labuku lagi, setelah mengigit potongan pertama dari Muffin ke-empat saat ada seoang anak kelas tiga yang memberitahu ku bahwa Prof. Longbottom ingin menemuiku di kantornya. Dan kendati aku tak tahu karena apa, tapi aku yakin ini pasti ada hubunganya dengan uji coba Team Quidditch yang baru dan posisiku sebagai Kapten menggantikan Meggan Wood.

Aku menenggak jus labuku sekali lagi dan bangkit berdiri, masih memegangi piala yang terisi setengah penuh saat Hugo mendorong bangku panjang yang dia-dan juga aku- duduki kebelakang, menyebabkan lututku goyang, dan aku kehilangan keseimbangan, aku memegang bahu seseorang yang entah siapa –tapi kurasa dia cewek, karena aku bisa merasakan rambut di bahunya- supaya tidak jatuh, tapi sialnya malah menumpahkan jus labuku pada jubah orang itu.

"Apa- apaan ini!"Aku mendengar suara seorang cewek marah, dan tangan yang dengan kasar mendorongku kebelakang dan aku mendur beberapa centi meringis kesakitan mengosok gosok lututku, aku mendogak memandang dan aku melihat seorang cewek bermata cokelat dengan wajah merah padam memandangku sambil mengibas ngibas depan jubahnya.

Wajahnya terbingkai oleh rambut cokelat gelap bergelombang yang senada dengan warna matanya, membuat cewek ini terlihat seperti lukisan mewah dalam pigura yang mahal.

Membuatku agak terpesona untuk sekian detik, dan membuatku teringat akan Cewek Dandelion di pesta topeng St. James, untuk beberapa detik kemudian, tapi aku buru buru menyingkirkan pikiran itu dari otakku.

Maksudku, mana mungkin sih, cewek ini dan Cewek Dandelion itu orang yang sama, aku bertemu dengan Cewek Dandelion itu di pesta Muggle, dan rasio perbandingan penyihir yang datang di pesta mungle itu sekitar satu banding seribu!

Tapi aku harus mengakui, bahkan walaupun aku belum pernah melihatnya di Hogwarts, sentuhanya terasa familiar, bahkan walaupun dia mendorongku dengan kasar

"Maksudmu apa menumpahkan jus labu ini di bajuku!"katanya setengah berteriak "jangan pikir karena aku anak baru kau bisa seenakanya membully ku,"katanya tajam memandangku.

"Eh… maaf, aku tidak sengaja, aku buru buru…"kataku agak merinding. Wow! Cewek ini punya energi yang membuatnya agak menakutkan, kendati memang benar dia cantik. Berhadapan denganya membuatku terinat berhadapan dengan Dom, atau Vic.

"Ku ingatkan kau, kau tak bisa membully ku! Kau tak tahu apa yang bisa kulakukan!"katanya lalu melangkah pergi setelah sebelumya melempar pandagan menakutkan.

Ini hal baru untukku, tak pernah ada seorang cewek yang mengancamku sebelumnya, -kecuali para sepupu-sepupuku dan Lilly- bahkan sebaliknya, mereka selalu berdatangan padaku, apalagi saat kunjungan Hongsmade, tetapi cewek ini berbeda…

Apa dia tak sadar orang yang diancamnya adalah Albus Potter?! Aku tak mengharapkan dia histeris juga bertemu dengan ku, tapi setelah sekian lama di kenal oleh orang banyak dan di perlakukan secara spesial, aku tak mengharapkan ada cewek yang mengancamku seperti itu, kecuali para cewek Slytherin.

"Wow,"kata Hugo "dia agak menakutkan, kalian tahu," dia berbicara sambil melahap kue jahe didepanya.

Aku memndangnya sebal "Kau yang menyebabkan ku terjatuh Hug's! Dan dapat ancaman itu"

Dia cuma mengangkat bahu.

"Ngomong ngomong siapa dia?"

"Cewek pindahan dari Beubaxton itu, tentu saja kau tak mengenalnya, kau waktu acara seleksi itu bersama Filch kan karena masalah lumpur,"kata Lilly "Tapi karakternya boleh juga, baru kai ini aku melihat ada cewek yang mengancam Al, selain kita,"kata Lilly memandang Rose.

Rose mengangguk, kemudian dia juga ikut bicara "Tapi sungguh Al, kau harus benar benar minta maaf padanya, kalu tak ingin dia menjadikanmu musuh nomor satunya, dan bergabung bersama Malfoy and the gang!"

Aku mengagguk.

Hugo membuat suara tak jelas, atara mendengus dan menyeringai, dan memandang Malfoy di meja Slytherin.

"Al bukankah kau harus ke tempat Nevile,"

"Benar"kataku bangkit berdiri.

Gimana? Terlalu pendek ya? Aku udah berusaha buat manjanginya, tapi ini batas maksimal, soalnya kalo di kembangin terus ceritanya bakalan jadi lebay, next chap aku coba buat panjangin deh