Chap 2

Beberapa bulan sebelumnya.

Renjun sedang menonton televisi ketika bel pintu utama berbunyi. Māma Huang sedang membuat kue di dapur, bibi shin menjemur pakaian di halaman belakang, dan Bàba Huang sudah pergi ke kantor baru saja. Sepertinya kedua dìdinya sedang asyik bermain di kamar terbukti mereka tidak keluar ketika mendengar bunyi bel sedangkan si bungsu pasti sudah bermain dengan teman-teman kecilnya di tetangga sebelah. Ini artinya harus Renjun yang membuka pintu.

Dengan langkah malas Renjun berjalan menuju pintu utama, terlalu lama bersantai di sofa membuat badannya terasa pegal. Ini tidak baik untuk kebugaran tubuh mudanya, ia harus mengurangi kegiatan bermalas-malasan yang beberapa hari ini sering dilakoni. Mungkin berkumpul dengan teman sebaya di lingkungan sekitar ide yang bagus, atau membantu Māma dengan eksperimen kuenya juga tidak buruk.

Sejak libur sekolah dimulai Renjun bersegera pulang kerumah orang tuanya di korea selatan setelah sebelumnya menghabiskan beberapa hari di rumah nǎinainya yang berjarak dekat dengan asrama. Selama beberapa tahun terakhir Renjun tinggal dalam asrama sekolahnya di cina. Terkadang pergi ke rumah Nǎinai ketika rindu rumah, dan akan pulang ke korea ketika libur panjang tiba.

Setelah berusaha menyeret kaki malasnya ke pintu utama Renjun mengintip melalui jendela siapa kiranya yang bertamu pagi-pagi begini. Setelah memastikan bukan orang mencurigakan yang bertamu Renjun membuka pintu dan berusaha tersenyum ramah. Beruntung tadi setelah sarapan ia di seret Māma Huang ke kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya. Kalau tidak mungkin Renjun akan menerima tamu dengan wajah membengkak dan rambut yang berdiri.

Ketika pintu utama telah terbuka sepenuhnya Renjun baru dapat melihat dengan jelas siapa yang bertamu. Sepasang suami istri dengan pakain rapi yang terlihat mahal. Terdapat mobil sedan berwarna hitam mengkilap di depan pagar rumahnya. Mungkin itu milik mereka pikir Renjun.

"Permisi." Sang istri memulai. "Apakah ini benar kediaman keluarga Huang?"

Suara tawa ramah terdengar ketika Renjun membawa baki berisi cemilan-cemilan yang tertata rapih dalam toples. Bibi shin sedang repot di dapur, karena itu Māma meminta Renjun membawa cemilan-cemilan tersebut untuk disajikan di ruang tamu.

Saat toples terakhir telah di simpan di meja dan Renjun bersiap pergi dari sana Māma memintanya untuk mengenalkan diri dan memberi salam pada tamu.

"Ini teman Māma saat sekolah dahulu. Lee Jaehyun dan suaminya Lee Doyoung."

"Anyeonghaseo. Saya Huang Renjun. Senang bertemu dengan Anda. Terima kasih telah berkunjung." Renjun membungkukan tubuhnya pada sang tamu.

"Halo Renjun. Kau tumbuh menjadi anak yang manis. Berapa umurmu?" Nyonya Lee bertanya dengan lembut. Ia senang dapat bertemu teman dekatnya selama sekolah. Ketika kelulusan tiba banyak hal terjadi. Ia harus kehilangan kontak dengan teman-temannya dalam beberapa waktu. Kun juga pergi melanjutkan kuliahnya di cina dan menikah dengan pengusaha cina. Itu berita terakhir yang Jaehyun dengar tentang Kun.

"Dalam beberapa bulan lagi saya akan berumur 19." Renjun tersenyum manis.

"Kenapa dia begitu muda, Kun? Putraku akan memasuki usia 30nya sebentar lagi." Nyonya Lee menyadari umur Renjun dengan putranya terpaut cukup jauh.

"Eomma jangan berlebihan. Usia 30ku akan datang beberapa tahun lagi." Suara yang serak tiba-tiba menyela pembicaraan.

Pemiliknya seorang pemuda dengan tubuh ramping tegap yang di balut dengan kemeja merah anggur dilapisi jas hitam yang gagah tengah berdiri di depan pintu utama kediaman Huang. Renjun terperangah melihat pemuda tampan yang berdiri di depannya. Dengan hidung tinggi, bibir tipis, dan dagu yang runcing ia terlihat sempurna. Renjun merasa gagal jadi lelaki ketika melihatnya.

"Ya Tuhan. Jaehyun ini putramu? Bagaimana kau bisa melahirkan dia dengan begitu tampan? Ia sangat mirip denganmu." Māma berdiri mempersilahkan pemuda tersebut duduk.

"Terima kasih." Nyonya Lee tersenyum, memperlihatkan dimple manis di pipinya. "Jeno, kenalkan dirimu."

"Annyeonghaseo. Lee Jeno." Setelah membungkuk sebentar Jeno duduk di sofa yang masih kosong.

Renjun tersentak ketika pandangannya bertemu dengan Jeno. Tidak menyadari bahwa sedari tadi ia terus menatap kagum Jeno. Dengan tersipu Renjun pergi ke dapur sembari membawa baki, meninggalkan tatapan Jeno yang menajam kepadanya.

"Anakmu sudah dewasa rupanya. Kurasa itu karena kau menikah di umur yang muda Jae."

"Kau benar. Aku lupa bahwa dulu di hari kelulusan sekolah menengah atasku bukan mobil, motor, atau surat penerimaan mahasiswa baru seperti lainnya. Tapi cincin lamaran yang melingkar di sini." Nyonya Lee mengangkat jari manis tangan kirinya.

Mereka tertawa mendengar sindiran berbalut lelucon yang dilontarkan. Menyadari betapa mudanya saat Jaehyun mulai menjadi seorang istri.

Bàba Huang selalu menyempatkan makan siang di rumah sesibuk apapun di kantor. Karena itu kedua dìdi Renjun harus memakan bagiannya di ambal lembut depan televisi, kursi yang biasa mereka tempati harus dipakai keluarga Lee. Si bungsu Boxuan juga sudah pulang dari acara bermainnya jadi ia menyusul duduk di atas ambal, merengek meminta piringnya segera di isi dengan makan siang bagiannya.

Renjun juga awalnya ingin menghabiskan makan siangnya di ambal lembut atau sofa yang berdiri di belakangnya, tetapi Nyonya Lee memintanya ikut duduk di meja makan.

Jadi sekarang Renjun duduk manis menyantap makan siangnya dengan tenang. Berusaha tenang tepatnya. Putra tunggal Lee tak henti-hentinya menatap tajam ke arah Renjun. Meneliti pergerakan yang dilakukan Renjun. Dan ia berani bersumpah bahwa Jeno pasti mengetahui sudah berapa kali ia bernapas mengingat bagaimana cara Jeno menatapnya.

Saat hidangan penutup disajikan obrolan santai mulai mengalir. Bàba Huang menanyakan kabar perusahaan cabang yang sedang Jeno pegang jadi Renjun sedikit lega karena Jeno sudah tidak menatapnya lagi. Ingatkan Renjun untuk berterima kasih kepada Bàbanya setelah ini.

"Si Cheng, Jeno melakukan pekerjaannya dengan baik. Tapi ia lupa bahwa ia membutuhkan pendamping hidup, jadi aku berencana untuk menikahkannya dengan putramu Renjun."

Renjun terbatuk-batuk, anggur hijau yang belum ia kunyah tertelan karena terkejut mendengar perkataan nyonya Lee. Kun menyenggol pelan lengan Renjun yang duduk tepat di sebelahnya.

Bàba Huang tertawa mendengar perkataan nyonya Lee. "Dia masih sekolah Jaehyun, belum bisa menjadi istri yang baik." Menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan usulan Jaehyun.

"Aku juga dulu begitu, kalau kau lupa." Nyonya Lee membantah. "Dan aku sampai sekarang mampu menjadi istri yang baik. Benar begitu, sayang?" Nyonya Lee meminta pendapat suaminya.

Tuan Lee menganggukkan kepalanya cepat. Lalu beralih menatap Bàba Huang. "Dia benar. Kurasa Renjun cukup dewasa untuk itu. Lagi pula Jeno tidak akan menuntut banyak dari Renjun untuk sekarang ini."

"Dia masih harus kuliah dan mencari pekerjaan." Kali ini Māma Huang yang beralasan.

"Renjun tetap dapat kuliah. Jeno akan mengurusnya. Kau tidak usah khawatir, kami tidak akan membuatnya bekerja." Nyonya Lee bersikeras. "Kau hanya perlu memikirkan anakmu yang lainnya, bukankah mereka masih begitu kecil? Serahkan Renjun pada Jeno."

Deritan kursi yang Renjun dorong menarik perhatian di ruang makan. Renjun berdiri lalu memegang piring kotornya. "Aku akan naik. Terima kasih atas makanannya." Tergesa beranjak menuju dapur, ia sudah tidak tahan lagi. Pembicaraan tentang pernikahan membuatnya pusing.

Jeno duduk tenang menggenggam tablet, melihat pekerjaan apa saja yang harus di lakukannya besok mengingat ia mengambil izin hari ini. Tidak peduli dengan usaha Tuan dan Nyonya Lee membujuk orang tua Renjun, meyakinkan bahwa usulan mereka merupakan hal yang baik.

"Kami akan membicarakan hal ini dulu kepada Renjun. Bagaimana pun ini menyangkut perasaannya."

"Kami akan menantikan jawaban terbaik Kun. Jika memang ia tidak bersedia aku tidak dapat memaksa."

Setelah makan malam selesai Renjun di tahan orang tuanya untuk tetap duduk di ruang makan. Membicarakan hal penting katanya. Li Qian dan Li Jun - dua dìdi Renjun di minta Māma untuk segera naik ke kamar, dan Boxuan sudah pergi tidur sedari tadi melewati makan malamnya.

Renjun berdeham canggung. Tidak berani juga memulai percakapan, tapi Bàba dan Māma Huang sudah terlalu lama diam. Mereka bilang akan ada hal yang ingin disampaikan tapi sudah 10 menit berlalu dan mereka tetap diam.

Tepat ketika Renjun akan membuka mulut - bertanya, Bàba membuka percakapan. "Renjun setelah lulus nanti, bagaimana jika kau menikah dengan Jeno?"

Tadinya Renjun akan langsung menolak mentah-mentah. Namun ketika melihat tatapan berharap orang tuanya ia terdiam. Renjun bingung apa yang diharapkan mereka. Penolakan atau penerimaan yang diinginkan.

"Aku tidak tahu mana yang terbaik, Bàba." Renjun berucap lirih. Kepalanya menunduk tidak kuasa menatap Bàba Huang.

"Perusahaan Bàba akhir-akhir ini sedang kurang baik. Dìdi-dìdimu masih kecil, Renjun, Boxuan juga baru masuk sekolah dasar, anggaran pengeluaran kita terus bertambah. Kau ingin melanjutkan sekolah desainmu kan? Jeno akan melakukannya untukmu." Māma Huang menjelaskan. Tangannya mengelus lembut kepala Renjun.

"Dengan menikah bersama Jeno masa depanmu akan terjamin. Dìdi dan Mèimeimu juga."

Mendengar itu Renjun mengerti apa yang diinginkan Bàba dan Māmanya. Renjun bingung. Ia tidak ingin menikah dalam waktu dekat namun masa depan Dìdi dan Mèimei berada di tangannya, ingin menangis saja rasanya. Ia menyadari keuangan mereka akhir-akhir ini sedang tidak baik. Māma sering lewat tanggal saat pengiriman. Māma juga sering memintanya bekerja sampingan secara tidak langsung, mungkin Māma melakukan itu tanpa disadari.

Renjun tidak bodoh, ia tahu melanjutkan sekolah desainnya akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Sekolahnya sering mengundang universitas atau sekolah kejuruan tentang desain busana. Banyak selebaran yang ia dapatkan ketika mengikuti seminar yang diadakan, disitu tertulis berbagai macam harga untuk sekolah desain. Dan ia bukan anak tunggal, masih ada beberapa adiknya yang harus sekolah.

Dengan ini Renjun mengerti apa yang harus dilakukannya. Orang tuanya juga mendukungnya. Menerima pernikahan dengan Jeno.

TBC

Hah. Kepanjangan ya? Sorry aku gak tau lagi harus potong bagian yang mana. Ini asal usul kenapa Renjun bisa di jodohin ama Jeno. Belum ada moment NoRen? Iya belum, baru chap depan. Ih abal banget ya? Iya aku tau, tapi pengen banget buat ff, jadi gini hasilnya.

Ini mungkin bakal jadi chap yang banyak. Soalnya aku seneng banget nyampah kalau buat ff, sari intinya cuma dikit. Sudahlah. Semoga yang membaca tidak bosan, karena ini baru saja di mulai.

Terima kasih KimDee rievew. Iya itu maksudnya anak sulung, salah ketik. Kurang aq*a. Aku kurang teliti.

Terima kasih sudah rievew. Saya sangat menghargai.