THE SHAPE OF LOVE

Main Cast:

Kim Jonghyun, Hwang Minhyun, Ong Seungwoo, Kim Jaehwan, Kang Daniel, Kwon Hyunbin.

Other Cast:

Kim Taedong, Jung Sewoon.

Pair:

MinHyunbin, OngNiel, Howons

Genre:

Friendship, Romance, Slice of Life.


This is just fanfiction

Saya hanya meminjam nama tokoh dari Justice League.


Chapter Two

"Kebersamaan yang hangat"

Minhyun memandang langit biru yang gelap karena malam. Berharap ia dapat melihat bintang jatuh. Namun, kabut yang menutupi langit dan bintang membuat sinar matanya redup. Matanya menyiratkan kesedihan yang cukup dalam. Apa yang terjadi belakangan ini telah melunturkan semangat hidupnya. Ingin rasanya ia berhenti.

"Apa yang kau lakukan di luar malam-malam begini?"

Minhyun tidak menoleh. Ia jelas mengetahui siapa yang berjalan mendekatinya dan dengan santainya berdiri disampingnya. Ia sangat berhutang budi pada lelaki itu.

"Melihat bintang."

Mendengar jawaban Minhyun, Jonghyun ikut memandang langit. Ia tidak melihat bintang. Pandangannya kembali pada Minhyun yang masih tidak menoleh sejak kedatangannya. Lelaki disampingnya tersenyum manis, akan tetapi yang dilihat oleh Jonghyun hanyalah sebuah senyuman lelah bercampur putus asa.

"Setidaknya aku sudah mencoba. Benar kan?"

"Ya. Semua butuh proses. Mungkin saat ini mereka belum bisa menerima keputusanmu. Tapi, suatu saat nanti pasti mereka mengerti."

Minhyun akhirnya menoleh pada Jonghyun. Lelaki itu tersenyum yang selalu berhasil membuatnya merasa tenang. Jika saja ia tidak mengingat 'seseorang' mungkin ia sudah jatuh cinta pada sahabat karibnya itu.

"Jadi... apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"

Jonghyun merasa menyesal setelah lima menit tidak ada jawaban dari Minhyun. Bagaimana bisa disaat seperti ini justru dirinya menambah beban pikiran Minhyun.

"Ma-"

"Tentu saja melanjutkannya."

Jonghyun mengernyitkan dahinya tidak mengerti, "Maksudmu?"

"Kali ini aku akan tetap berjalan di jalan yang ada. Dan suatu hari nanti... aku harus bisa berjalan di jalanku sendiri."

Jonghyun kembali menyunggingkan senyumnya, "Aku akan mendukungmu."

Mendengar pernyataan Jonghyun, Minhyun terkekeh. "Kau juga harus membantuku. Aku berniat tetap melakukan musik secara diam-diam."

Dan selanjutnya hanya tatapan tidak percaya sekaligus bahagia dari Jonghyun yang dilihat Minhyun.


"Kau mengajakku ke kampus ternyata untuk ini?"

Seungwoo melotot pada Daniel yang menunjukkan cengiran khasnya. Di pagi buta seperti ini, Daniel mengajaknya ke kampus untuk ikut membantu mempromosikan klub dance-nya. Bahkan, ia belum sempat sarapan karena sudah digeret paksa oleh lelaki berambut honey brown tersebut.

"Kami kekurangan anggota. Jadi, kali ini saja kau bantu aku. Lagipula wajahmu bisa menarik perhatian hoobae. Kau kan populer."

Terima kasih untuk pujian Daniel yang telah membuat Seungwoo tersenyum bangga. Meskipun baru satu tahun mereka berteman, Daniel sudah hafal dengan segala sifat Seungwoo. Mengingat Seungwoo adalah orang yang terbuka.

"Jadi... sekarang apa? Mahasiswa baru kan baru saja mulai upacara penerimaan," Seungwoo menatap bingung pada Daniel yang hanya berdiri di dekat stand.

"Ehm, apa ya?"

Selanjutnya Daniel meringis karena Seungwoo baru saja menjitaknya.

"Ehem"

Seungwoo dan Daniel menoleh pada lelaki yang baru saja berdehem.

"Kau sakit?"

Jonghyun melongo kemudian tertawa mendengar pertanyaan Seungwoo yang kelewat datar bahkan tidak sesuai dengan isi pertanyaannya.

"Kenapa malah tertawa?"

Jonghyun menggeleng, "Ah tidak. Lucu saja."

"Baguslah jika lucu." Seungwoo pun mengingat sesuatu, "Ah, bagaimana kabar temanmu?"

"Temanku?"

"Iya temanmu yang waktu itu bersamamu, yang mempunyai masalah itu,"

Daniel tersenyum geli melihat bagaimana Seungwoo yang notabene bukan anak seni tetapi sangat bagus dalam berakting. Pantas saja ia populer tidak hanya di Fakultas Teknik, tetapi juga di beberapa fakultas lain.

"Oh maksudmu Minhyun? Dia... ya begitulah."

"Begitulah? Maksudmu apa Kim Jonghyun?"

Jonghyun, Seungwoo, dan Daniel menoleh pada seseorang yang baru saja datang. Ekspresi Jonghyun sudah seperti tertangkap basah mencuri. Sedangkan Daniel melongo karena ini pertama kalinya ia melihat Minhyun dalam jarak dekat. Lain lagi dengan Seungwoo yang stay kalem, padahal di otaknya sudah berisik karena berdebat mengenai marga Jonghyun yang ia pikir sebelumnya adalah Lee.

"Halo. Apa kabar, Seungwoo-ssi?"

"Aku baik-baik saja. Ah, aku ingat kau Hwang Minhyun,"

"Iya. Aku minta maaf waktu itu tidak memperkenalkan diriku dengan benar." Minhyun mengulurkan tangannya yang kemudian berjabat tangan dengan Seungwoo.

"Tidak masalah, lagipula waktu itu aku berkenalan tidak di waktu yang tepat. Jadi, bagaimana masalahmu?"

Minhyun tersenyum kecut, "Kurasa memang butuh proses."

Seungwoo mengangguk paham, "Tidak apa-apa. Jalani saja dulu."

Minhyun kembali tersenyum dan matanya beralih pada lelaki di sebelah Seungwoo. Menyadari hal itu, Seungwoo menarik lengan Daniel untuk mendekat.

"Kenalkan, dia temanku, Kang Daniel."

Minhyun mengulurkan tangannya pada lelaki tersebut. "Oh hai, aku Hwang Minhyun."

"Kang Daniel." Daniel menjabat tangan Minhyun. "Dan aku satu klub dengan Jonghyun."

"Benarkah?"

"Jadi kalian sudah saling kenal?" Seungwoo menunjuk Daniel dan Jonghyun bergantian.

Yang menjadi topik pembicaraan mengangguk. Jonghyun sendiri sepertinya sudah melupakan fakta bahwa dirinya tadi telah tertangkap basah oleh Minhyun.

"Baguslah kalau begitu kita hanya perlu saling mengakrabkan diri supaya kedepannya hubungan kita semakin erat. Sehingga terjalin pertemanan yang baik."

Minhyun dan Jonghyun tertawa mendengar cara bicara Seungwoo yang seperti sedang mengisi suatu acara. Daniel sendiri sudah berjongkok memegang perutnya yang sakit karena tertawa.

Selama beberapa jam sebelum upacara penerimaan mahasiswa baru selesai, mereka berempat berbincang-bincang layaknya teman yang sudah akrab. Pada awalnya isi dari percakapan mereka hanya saling bertanya satu sama lain. Lama-kelamaan perbincangan tersebut tidak lagi berisi perkenalan, melainkan berisi sebuah canda tawa.

Canda tawa yang menciptakan kehangatan dan kenangan.

"Silahkan yang mau bergabung."

Minhyun sibuk memberikan brosur pada mahasiswa baru yang melewatinya. Sebenarnya jika boleh jujur ia menikmatinya. Ini pertama kalinya ia merasa antusias dengan suatu acara. Kemudian dilihatnya Seungwoo yang sedang asyik berbincang-bincang dengan banyak perempuan yang merupakan mahasiswa baru. Ia pun akhirnya percaya pada apa yang dikatakan Seungwoo tadi kalau dirinya sangat populer. Hari pertama saja ia berhasil menarik banyak perhatian adik tingkatnya.

Sibuk dengan pikirannya, Minhyun tidak menyadari kalau Seungwoo sudah berdiri di sampingnya. Lelaki itu menyodorkan minuman pada Minhyun.

"Minumlah. Sepertinya kau sebentar lagi akan pingsan."

Minhyun menoleh pada Seungwoo dan kemudian irisnya menatap pada botol minuman yang disodorkannya. "Terima kasih. Dan memang seperti ini aku." Ucapnya diselingi tawa kecilnya kemudian menerima minuman tersebut.

"Oh begitu. Ah yang penting ayo menepi. Pertunjukannya mau mulai."

Keduanya pun berdiri di dekat stand memperhatikan bagaimana cara klub dance menarik perhatian. Jonghyun dan Daniel ikut terlibat dalam pertunjukan meskipun hanya sebentar karena mereka masih terbilang anggota baru. Pertunjukan yang disuguhkan menarik banyak mahasiswa. Tidak hanya yang berpakaian formal dengan jas almamater tanda mahasiswa baru, tetapi yang berpakaian casual pun juga ikut menonton pertunjukan dance tersebut.

Seungwoo dan Minhyun ikut menikmati pertunjukan. Sesekali Seungwoo memerhatikan orang-orang yang menonton. Ia tersenyum bangga karena banyak yang tertarik. Padahal dirinya bukan berasal dari klub dance. Kemudian matanya menangkap sosok lelaki yang arah pandangannya tidak pada pertunjukan, melainkan pada orang disebelahnya.

"Ya! Minhyun." Seungwoo menepuk bahu Minhyun pelan.

"Hm? Ada apa?" Tanyanya bingung karena Seungwoo tidak sedang menatapnya.

"Kau mengenal orang itu?" Tunjuknya menggunakan dagu.

Mata Minhyun mencari orang yang dimaksud Seungwoo. "Yang mana?"

"Yang tinggi itu di belakang cewek berambut merah." Minhyun kembali mencari. "Daritadi dia melihatmu terus."

"Masa sih?"

Minhyun memperhatikan satu persatu orang disekitar perempuan yang dimaksud Seungwoo. Maniknya berhenti pada lelaki tinggi yang tengah menatapnya juga. Namun, sedetik kemudian lelaki itu mengalihkan tatapannya dan tampak salah tingkah. Minhyun mengernyitkan dahinya. Rasanya ia pernah melihat lelaki itu di suatu tempat.

"Ah, dia yang waktu itu." Seru Minhyun. "Hei! Kemarilah!" Minhyun berteriak sambil melambaikan tangannya.

Beberapa orang menoleh pada Minhyun termasuk lelaki yang berdiri disebelah fokusnya.

"Bin, sepertinya dia memanggilmu." Taedong menyikut Hyunbin yang bergerak-gerak tidak jelas.

"Ha?"

Taedong menatap datar sahabatnya itu. Melihat dari bagaimana sikap Hyunbin, ia menduga temannya itu mengenal lelaki yang masih betah melambai-lambai. Bahkan, lelaki disebelahnya pun ikut melambai-lambai.

"Sana, Bin. Kasihan kalau sunbae itu begitu terus." Suruhnya sambil mendorong-dorong Hyunbin.

"Apa? Aku harus apa?"

Rasanya Taedong ingin sekali menyeret Hyunbin langsung jika saja dua orang yang diduganya sunbae itu tidak berjalan mendekati mereka. Dengan tepukan keras pada punggung Hyunbin menjadi pertanda Taedong meninggalkan temannya itu sendirian.

"Lho, kenapa dia pergi?" Seungwoo menunjuk pada Taedong yang berjalan menjauh.

"Ah. D-dia ada urusan," Hyunbin menggaruk belakang kepalanya tanda dirinya gugup.

"Oh iya, lama tidak bertemu. Jadi, kau mahasiswa baru disini?"

Hyunbin akhirnya kembali menatap Minhyun. Wajahnya yang terlihat lebih cerah daripada terakhir kali ia bertemu dengannya cukup membuat detak jantung Hyunbin berdetak lebih cepat.

"I-iya. Aku mahasiswa baru."

"Fakultas mana?" Tanya Seungwoo.

"Fakultas Teknik, sunbae." Jawab Hyunbin yang entah sejak kapan mengetahui bahwa dua orang didepannya adalah kakak tingkatnya.

"Woah kalau begitu kau adik tingkatku." Seungwoo dengan santainya merangkul Hyunbin yang lebih tinggi darinya. Hyunbin sendiri hanya tersenyum terpaksa.

"Oh, iya. Aku lupa menanyakan namamu waktu itu."

Seungwoo melepas rangkulannya pada Hyunbin, "Jadi kalian tidak saling kenal sebelumnya?"

Minhyun mengangguk, "Iya. Kami baru bertemu satu kali dan itu belum lama ini."

"Ey, kukira dia adik kelasmu atau mantan pacarmu."

Keduanya sukses membelalakkan matanya kaget mendengar pernyataan Seungwoo.

"Kenapa?"

Minhyun menggelengkkan kepalanya, "Tidak. Kau hanya lucu saja."

"Ow terima kasih. Aku mendapat pujian itu dua kali hari ini."

Minhyun kembali tertawa kecil mendengarnya. "Ah iya siapa namamu?"

"H-hyunbin. Kwon Hyunbin." Hyunbin menjawab setengah sadar. Ia masih terpana dengan tawa Minhyun.

"Hyunbin ya. Aku Ong Seungwoo."

Hyunbin tersadar, "Ha? Ong? Maksudmu Hong?"

"Tidak. Ong bukan Hong ataupun Gong." Ucap Seungwoo penuh penekanan.

"Namamu lucu sekali."

Seungwoo pun hanya tertawa karena kali ini yang mendapat pujian adalah namanya. Sepertinya ia harus sering berterima kasih kepada keluarganya.


"Jaehwan hyung?"

Jaehwan yang sedang membagikan brosur klub musik nya itu seketika menghentikan aktifitasnya kala mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh dan menemukan seseorang yang sangat ia kenal berdiri tidak jauh darinya.

"Jung Sewoon!" Serunya yang kemudian langsung menghampiri adik kelasnya sewaktu tingkat menengah itu. "Ya! Apa yang kau lakukan disini?"

"Menurutmu apa yang aku pakai sekarang?"

Jaehwan memperhatikan pakaian Sewoon, "Kau mahasiswa baru disini?"

Sewoon mengangguk. "Kejutan, hyung!"

"Apa-apaan itu. Seharusnya kau harus membuat ekspresi lain saat mengatakan itu." Jaehwan tertawa, "Kau tidak berubah."

"Kau juga masih terlihat sama, hyung"

"Benarkah? Ngomong-ngomong kau mengambil apa?"

"Sama denganmu. Administrasi bisnis."

Jaehwan membelalakkan matanya, "Serius? Jangan bilang kau mengikutiku?"

Sewoon mengibaskan sebelah tangannya, "Tidaklah, hyung. Tahu lalu sebelum kau bilang padaku mau memilih jurusan apa, aku sudah ingin memilih jurusan ini."

"Kalau begitu selamat datang, Jung Sewoon." Tanpa permisi Jaehwan memeluk Sewoon singkat.

Sewoon hanya terkekeh kemudian matanya melirik pada selebaran yang dipegang oleh kakak kelasnya itu.

"Apa itu?"

Jaehwan mengikuti arah tunjuk Sewoon, "Ah ini brosur klub musik. Kau mau bergabung? Kau masih bermain gitar kan?"

Sewoon menatap datar Jaehwan yang sebenarnya sudah seperti tatapan biasanya. "Kemarin aku bercerita padamu kalau aku mengaransemen menggunakan gitar. Kau tidak membaca pesanku?"

"Itu..."

Sewoon menghela nafasnya, "Ya, aku tahu kau sibuk. Tapi, kau tidak mengabaikan pola makanmu kan?"

Inilah yang selalu dirindukan oleh Jaehwan. Sewoon yang tenang. Sewoon yang sabar. Sewoon yang perhatian. Selama 3 tahun mengenalnya, ia sangat berterima kasih pada adik kelasnya itu. Selama ini, Sewoon selalu memberi semangat untuknya entah dimanapun dia berada. Terkadang semangat dari Sewoon berhasil membuatnya lupa sejenak dengan beban hidupnya. Bahkan setelah Jaehwan lulus dan keduanya jarang bertemu, Sewoon tetap mengiriminya pesan sehingga hubungan mereka tidak renggang. Namun, hubungan yang mereka jalani hanyalah hubungan biasa antar teman, adik kakak, serta sesama pencinta musik. Bukan hubungan yang melibatkan perasaan ingin memiliki. Meskipun salah satu dari mereka pernah memiliki perasaan itu.

"Soal makan tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Ucap Jaehwan dengan nada sombongnya.

Dan Sewoon hanya menggelengkan kepalanya maklum dengan tingkah Jaehwan. Ia kemudian meminta brosur yang dibawa oleh lelaki didepannya itu. Membacanya sekilas kemudian kembali menatap Jaehwan.

"Aku harus kemana untuk bergabung?"

Selanjutnya Jaehwan menyunggingkan senyum bahagianya.


Hyunbin meneguk minumannya. Beer yang ia minum meninggalkan sensasi tersendiri di lidahnya. Saat ini, ia sedang makan di dekat kampusnya setelah puas berkeliling tempat sekolah barunya itu. Ia menatap seseorang yang tengah menikmati makanannya.

"Kelihatannya kau sedang senang sampai mentraktirku makanan,"

"Apa aku terlihat begitu?"

Hyunbin mengangguk. "Ada apa, hyung? Aku ingin mendengar ceritamu,"

Seseorang yang sebenarnya Jaehwan itu meminum beernya kemudian menyamankan posisi duduknya.

"Aku bertemu dengan Sewoon."

Hyunbin tampak berpikir sejenak kemudian bertepuk tangan sekali. "Oh, adik kelasmu sewaktu SMA itu? Yang selalu kau ceritakan? Lho, dia di Seoul?"

"Yap. Dia masuk ke universitas yang sama dengan kita. Aku akan mengenalkan padamu nanti saat di kampus."

Hyunbin mengangguk paham. "Jadi apa akhirnya kau akan melepas status jomblo-mu itu?"

Jaehwan mengernyit tidak mengerti, "Maksudmu?"

"Langsung tembak saja, hyung. Tidak usah malu-malu. Kalau nanti kalian sudah resmi berpacaran, jangan lupa traktir aku." Ucap Hyunbin kemudian mengerling.

"Hah? Kami hanya teman. Aku tidak berniat untuk menjadi lebih." Elak Jaehwan diselingi tawa kecil.

"Tapi, kau menyukainya kan? Kalau kau masih berpikir seperti itu, dia bisa diambil orang."

Jaehwan meletakkan kedua lengannya dimeja, "Dengar ya. Aku menyukainya hanya sebagai teman dan kakak."

"Kau yakin, hyung?" Tanya Hyunbin serius.

Dan Jaehwan mengangguk mantap sebagai balasan. Hyunbin pun hanya diam. Belakangan ini mereka semakin akrab karena sering berbagi cerita pribadi. Sudah sering pula Jaehwan menceritakan kebaikan Sewoon. Ia pikir Jaehwan menyukai adik kelasnya itu melihat dari bagaimana antusiasnya tetangga sebelahnya itu menceritakan Sewoon. Namun, sekarang ini dia mengatakan yang sebaliknya. Hanya ada dua jawaban yang ia pikirkan. Dia berbohong atau memang dia tidak menyadari perasaannya.

"Oh Kim Jaehwan!"

Hyunbin dan Jaehwan langsung menoleh pada seseorang yang berdiri di samping mejanya. Mata Hyunbin membulat melihat dengan siapa orang tersebut datang.

"Lho, ada Hyunbin." Seru Minhyun.

"Kau mengenalnya?" Tanya Jaehwan pada Minhyun.

"Ya. Tadi pagi kami bertemu di kampus. Sebelumnya kami juga pernah bertemu."

Jonghyun yang sebelumnya menyapa Jaehwan kemudian mendudukkan dirinya di sebelah teman sejurusannya itu. Sedangkan Minhyun duduk di sebelah Hyunbin tanpa menyadari bahwa lelaki tersebut sudah bergerak gelisah ditempatnya.

"Oh iya, aku belum mengenalmu. Siapa namamu tadi?" Kali ini Jonghyun yang bertanya pada Hyunbin.

"A-aku Kwon Hyunbin." Jawabnya sambil mencoba tenang.

"Ini Kim Jonghyun. Aku dan dia satu jurusan jadi kami saling kenal. Dan aku mengenal Minhyun darinya." Ini Jaehwan yang menjelaskan pada Hyunbin mengenai hubungannya dengan kedua orang tersebut. Hyunbin sendiri hanya mengangguk paham.

"Kalian sendiri saling kenal darimana?" Minhyun bertanya sambil membantu pelayan yang meletakkan pesanannya di meja mereka.

"Kami satu apartemen."

Yang lain hanya ber-oh-ria dari jawaban Jaehwan.

"Ngomong-ngomong kenapa kalian ke kampus?" Jaehwan kembali melontarkan pertanyaan pada kedua orang tersebut.

"Aku kan anggota klub dance. Aku datang ke kampus juga sama sepertimu. Mempromosikan klub."

"Kami baru selesai beres-beres tadi." Minhyun menambahkan penjelasan sahabatnya itu.

"Kau juga ikut klub dance? Sejak kapan?"

Minhyun tersenyum kikuk, "Aku hanya membantunya saja."

Jonghyun teringat sesuatu, "Ah Jaehwan, kau dari klub musik, kan?" Jaehwan mengangguk sebagai balasan. Kemudian tatapan Jonghyun beralih pada lelaki yang duduk didepannya. "Kau bergabung saja dengan klubnya!"

Minhyuk menatap Jaehwan dan Jonghyun bergantian. Jaehwan pun juga menatap keduanya bingung. Ia tidak begitu mengenal Minhyun. Ia hanya sesekali bertemu dengannya karena sering bersama dengan Jonghyun. Oleh karena itu, ia tidak mengerti kenapa Jonghyun menyarankan Minhyun untuk bergabung di klub musiknya.

"Sunbae menyukai musik?" Tiba-tiba Hyunbin bertanya padahal sejak tadi ia hanya diam. Sepertinya detak jantungnya sudah berdetak normal kembali.

"Tidak hanya suka. Minhyun juga bagus dalam menyanyi. Dia juga bisa membuat lagu." Bukannya Minhyun, justru Jonghyun yang menjawab pertanyaan Hyunbin.

"Ya! Seharusnya kau masuk ke klub sejak dulu jika seperti itu." Entah sejak kapan Jaehwan menjadi terlihat santai dan tidak canggung dengan Minhyun.

"Orang tuaku tidak akan mengijinkanku."

"Kau bilang mau melakukan musik secara diam-diam kan? Ini saatnya. Jaehwan akan ikut membantumu,"

Jaehwan mengangguk setuju, "Aku pastikan orangtuamu tidak akan tahu. Aku akan membantumu."

Minhyun ragu. Namun, ia ingin sekali memulai kembali kecintaannya pada musik. Tiba-tiba sebuah tangan besar menepuk bahunya pelan. Ia tersadar dari lamunannya dan matanya menatap lelaki disebelahnya.

"Jangan ragu. Berpikir terlalu lama justru akan membuatmu semakin kalut."

Minhyun terdiam. Begitu juga dengan yang lain. Hingga suara tawa Jaehwan memecah keheningan tersebut.

"Ya ampun, Bin. Sejak kapan kau menjadi bijak seperti ini?" Pertanyaan Jaehwan yang terdengar seperti ejekan itu ikut mengundang senyum kecil Jonghyun.

"Enak saja. Aku memang aslinya seperti ini. Kau saja yang tidak tahu, hyung!"

Keduanya terus saja melontarkan ejekan. Jonghyun hanya terkekeh kemudian fokusnya beralih pada Minhyun. Lelaki didepannya itu nampak sedang berpikir.

"Aku..."

Suara Minhyun yang pelan tapi lembut itu menarik atensi kedua orang yang tengah berdebat. Keduanya menoleh pada Minhyun untuk menunggu kalimat selanjutnya.

"Aku akan bergabung dengan klub musik."

Pernyataan Minhyun itu berhasil membuat ketiga orang di meja yang sama tersebut tersenyum lebar. Tepukan pada bahunya yang pertama ia rasakan setelah itu. Disusul perasaan kaget melihat lelaki yang duduk bersilangan dengannya itu mengangkat gelas minumannya. Mengajaknya untuk bersulang. Kemudian perasaan tenang muncul setelah mendengar suara Jonghyun menyapa gendang telinganya.

"Keputusan yang bagus, Minhyun-ah."

Dan sebuah perasaan aneh menjalar cepat ditubuhnya. Sebuah perasaan yang membuatnya ingin tersenyum bahagia. Sebuah perasaan yang begitu menonjol hingga mengalahkan perasaan lain. Sebuah perasaan yang ingin ia rasakan tiap saat. Dan sebuah perasaan yang ingin ia jaga bersamaan dengan kebersamaan mereka. Sebuah rasa nyaman.


"Wah, bahkan saat bersamaku kau tetap mementingkan teman-teman barumu itu." Taedong berujar dengan nada sinis.

Hyunbin hanya melirik sekilas kemudian fokus kembali pada ponselnya. Melihat itu Taedong menumpukan kepalanya menggunakan sebelah tangannya.

"Kau sudah mengenal Seungwoo sunbae sejak lama kan?"

"Tidak. Aku baru mengenalnya sejak hari itu." Hyunbin masih tidak mengalihkan perhatiannya.

"Hebat sekali kau bisa akrab dengan orang populer sepertinya."

Hyunbin berdecak malas, "Kau sendiri hebat sekali bisa berpacaran dengan Donghan. Padahal baru bulan lalu kita berbagi kejelekan bersama."

Taedong tertawa. Ia tidak mengetahui saja jika orang-orang di cafe tengah menatapnya aneh.

Taedong kemudian berdehem, "Lalu kalau yang pertama memanggilmu itu siapamu?"

Kali ini Hyunbin mengalihkan perhatian dari ponselnya kepada temannya itu. Ia berpikir sejenak. Ia mengetahui siapa yang dimaksud oleh Taedong.

"Aku dan dia bertemu di dekat apartemenku belum lama setelah aku pindah kesana."

Taedong menatap Hyunbin janggal. "Tidak biasanya kau akrab dengan orang kalem seperti itu."

Hyunbin terdiam. Bukan berarti ia tidak mengindahkan ucapan Taedong. Ia hanya memikirkan tentang hubungannya dengan kelima sahabat barunya itu. Awalnya ia bergabung karena Minhyun. Hingga sekarang pun ia mempunyai perasaan yang berbeda untuk lelaki itu. Namun, seiring berjalannya waktu, ia merasa sangat nyaman bersama mereka. Ia merasa sudah menemukan arti masa muda. Dan perasaannya pada Minhyun semakin dalam. Apakah nantinya ia bisa mempertahankan perasaan itu tanpa membuat persahabatannya goyah?

.

.

.

.

.

To be Continued


Haloha. Maaf baru update nih. Pairnya sudah saya sebutkan di atas. Tapi, kedepannya nggak cuman 3 couple itu yang muncul. Akan ada couple lain yang menambah konflik cerita.

Tapi, sebenernya niat saya ff ini lebih menonjol ke genre friendship daripada romance nya. Awal-awal memang masih samar jadi tolong tetap antisipasi ff saya.

Terima kasih juga untuk reviewnya. Saya jadi tambah semangat. Terima kasih juga buat yang udah fav fol.

[2017/13/7]