BAGIAN KEDUA
Pukul sembilan malam Shuuichi ke luar dari rumah keluarga Fujiwara dengan diantar Takashi. Tampaknya malam itu menjadi malam yang amat menyenangkan bagi Takashi dan Shuuichi. Wajah Takashi bersemu saat Shuuichi membisikkan kata-kata cinta, sedangkan Shuuichi sendiri menunjukkan sisi lembutnya yang begitu jujur di hadapan Takashi, tidak seperti yang biasa ia tunjukkan di hadapan para fans. Mungkin pada saat-saat seperti itu, Cupid sedang berpesta atas keberhasilan mereka menyatukan hati kedua orang tersebut. Atau justru mereka iri karena bunga-bunga cinta bertaburan di antara Shuuichi dan Takashi.
Pasangan kekasih itu berdiri di depan gerbang rumah, masih mengobrol untuk beberapa saat. Shuuichi merasa enggan untuk berpisah, begitu pula dengan Takashi.
"Kamu sudah pernah mampir dan menyadari betapa membosankannya tempatku, kan? Bahkan kamu pernah membawakanku masakan Touko-san setelah menceritakan kulkasku yang kosong," kata Shuuichi.
"Ya, ampun, Shuuichi. Sudahlah, jangan menggodaku lagi. Touko-san juga seharusnya tidak perlu menceritakan hal itu padamu," kali ini wajah Takashi memerah karena malu diperolok Shuuichi.
"Aku bukannya mau menggodamu, Sayang. Aku ingin kamu memberi warna di tempatku, mengisi hari-hariku di sana. Kita tidak bisa sering bertemu karena kesibukanku, jadi kalau kamu tinggal bersamaku, kamu tidak perlu khawatir aku selingkuh."
Takashi menatap Shuuichi lekat-lekat. Ajakan untuk tinggal bersama itu terdengar amat menggiurkan. Sebagai pasangan kekasih, sudah tentu tinggal bersama memiliki arti yang lebih dalam dan sebenarnya memang Takashi mengharapkan mereka bisa terus bersama setiap harinya. Bukan karena ia khawatir Shuuichi akan berselingkuh jika ia tidak tinggal bersama. Rasa percayanya terhadap Shuuichi mungkin melebihi apa yang bisa dibayangkan, seolah kalau Shuuichi merupakan teroris yang paling diincar sekalipun, Takashi akan tetap berada di sampingnya.
"Aku merasa senang atas ajakanmu itu. Sepertinya tidak perlu memikirkannya pun aku akan menerima tawaranmu untuk tinggal bersama. Nanti akan kubicarakan dengan Touko-san dan Shigeru-san."
Mendengar persetujuan dari Takashi itu, Shuuichi memeluk kekasihnya dengan erat sambil mengucapkan terima kasih. Takashi pun membalas pelukan itu. Ketika ia merasa Shuuichi hendak menyudahi pelukan mereka, rupanya Shuuichi menyentuh pipinya dan membuat dirinya mendongak. Shuuichi mendekatkan wajahnya ke arah Takashi, menempelkan bibirnya dengan bibir pemuda itu. Menjilat bagian bawah bibir Takashi, meminta izin untuk menjamah bagian dalam mulutnya. Dengan patuh, Takashi membuka mulutnya, membiarkan lidah Shuuichi bergerak liar. Ciuman yang begitu dalam dan sebenarnya menggairahkan bagi kedua insan itu. Untuk beberapa saat, mereka menikmati ciuman itu. Ciuman yang tidak terlalu lama, tetapi terasa seperti berjam-jam lamanya. Begitu membekas bagi Takashi dan Shuuichi.
Shuuichi pun menarik dirinya. Ibu jarinya menghapus bekas saliva di bibir Takashi, kemudian tersenyum lembut pada pemuda itu.
"Ciumanmu semakin bagus, Takashi. Aku sudah melatihmu dengan baik, ya?" tanya Shuuichi. Sebuah pertanyaan retoris sebenarnya, tetapi Takashi tetap menjawabnya.
"Ya, semuanya berkat kamu. Lain kali ajari aku hal-hal lainnya, ya."
"Hal lainnya…" Ponsel Shuuichi berdering dan ia mengambil ponselnya dari saku celana, "Seks maksudmu?" Shuuichi terkekeh sambil melihat sebuah nama pada layar ponsel. Sorot matanya sedikit berubah, tetapi ia tetap menerima telepon itu.
"Ya, ampun…!" Takashi mengusap wajahnya akibat jawaban Shuuichi itu. Jujur, ia kaget karena pikiran itu tidak terlintas di otaknya sampai Shuuichi membahasnya. Ia teringat kalau selama dua tahun berpacaran dengan Shuuichi, mereka sama sekali tidak melakukan seks seperti yang dilakukan kebanyakan pasangan kekasih. Bagi Takashi, ia hanya akan melakukan seks setelah menikah. Namun, karena orientasi seksualnya yang berbeda… Karena ia tertarik dengan pria… Ia ragu atas pandangannya itu. Pernikahan sejenis di Jepang? Yang benar saja!
Sementara Takashi sibuk dengan pikirannya, Shuuichi sedikit menjauh dari kekasihnya itu dan merendahkan suaranya.
"Madara, kenapa kamu meneleponku lagi? Sudah kubilang kalau aku menolak omiai karena aku sudah memiliki kekasih!" protes Shuuichi. Beberapa hari terakhir, bodyguard-nya, Madara, terus menghubunginya. Ayah Shuuichi sangat menginginkan Shuuichi untuk menikah dengan perempuan-perempuan yang beliau sukai dan bersikeras untuk membawa Shuuichi pulang. Akan tetapi, Shuuichi selalu menghindar setiap kali Madara menghubungi.
"Maafkan saya, Tuan Shuuichi. Kali ini saya tidak diperintahkan untuk meminta Anda untuk menghadiri omiai. Ayah Anda ingin mengundang Anda dan pacar Anda untuk makan malam bersama di kediamannya. Jika Anda tidak keberatan, dua hari lagi saya akan datang untuk menjemput kalian."
"Kau serius? Ayah menyerah untuk menjodohkanku? Bukankah beliau tahu kalau aku pacaran dengan laki-laki yang jauh lebih muda? Kau dan timmu yang memberikan foto-foto kami, kan? Dan ke mana perginya sifat keras kepala beliau?" tanya Shuuichi, tidak percaya atas apa yang baru saja didengarnya.
"Saya kurang tahu apa yang membuat beliau berubah pikiran, tetapi ini adalah acara makan malam keluarga besar. Sudah tentu para sepupu Anda akan hadir," jawab Madara.
Shuuichi terdiam. Ia melirik Takashi dan tersenyum kecil karena rupanya Takashi tengah memandanginya.
"Baiklah. Aku akan mempertimbangkannya. Dua hari lagi akan kuhubungi," Shuuichi menanggapi. Setelah bicara demikian, lelaki 27 tahun itu menutup sambungan telepon dan kembali menemui Takashi.
"Ayahku ingin mengundang kita untuk makan malam bersama," jelas Shuuichi. Ia memang selalu terbuka di hadapan Takashi, tak banyak hal yang ia rahasiakan. Namun, untuk masalah keluarga, ia memang belum bisa menceritakan semuanya kepada Takashi.
"Eh? Bukankah itu bagus? Maksudku… Kita bisa ke sana sebagai teman baik, bukan kekasih," kata Takashi. Wajahnya menunjukkan rasa bingung karena sebelumnya ia tidak pernah mendengar cerita tentang keluarga Shuuichi.
"Sebenarnya sejak dua minggu yang lalu ayahku mencoba membujukku untuk ikut omiai karena beliau sudah mengetahui hubungan kita. Beliau marah atas hubungan kita yang menyimpang dari hubungan pada umumnya," Shuuichi menunduk, memandangi ujung kakinya dengan tangan terlipat di depan dada. Ia bersandar pada salah satu sisi mobilnya. Takashi pun tidak bisa berkomentar apa pun, sebab sesungguhnya itulah ketakutan terbesarnya jika Touko dan Shigeru mengetahui hubungan terlarang mereka.
"Yang membuatku bingung adalah ayah kali ini justru mengundang kita untuk makan malam bersama keluarga besar kami," Shuuichi mengangkat kepalanya lagi dan memandang Takashi. "Kita tidak perlu datang, Takashi. Aku yakin beliau merencanakan sesuatu yang tidak mengenakkan. Kalau kamu terluka karenanya, aku lebih memilih untuk tidak hadir sama sekali ke acara keluarga kami."
Takashi menggeleng. Telah lama ia hidup sebatang kara sejak orang tuanya meninggal dunia belasan tahun lalu. Ia paham betul rasanya kehilangan keluarga. Bahkan setelah akhirnya ia menemukan keluarga yang tulus mencintainya seperti keluarga Fujiwara, masih ada rasa segan di balik kebahagiaan yang ia rasakan terhadap keluarga itu. Jadi, Takashi tidak ingin Shuuichi sampai putus hubungan dengan keluarganya. Ia tidak ingin Shuuichi menjadi sebatang kara sebagaimana yang pernah ia rasakan dulu.
"Kita harus datang, Shuuichi. Aku tidak mau hubunganmu dan keluargamu rusak karena aku. Lagipula, kalau ayah dan sepupumu berniat melukaiku, bukankah kamu akan selalu menjadi kekuatan bagiku?" tanya Takashi dengan tatapan lembut.
Shuuichi balas menatapnya dan teringat kalau Takashi pernah melewati kesulitan yang berkenaan dengan keluarga. Betapa berartinya keutuhan keluarga bagi Takashi. Menyadari hal ini, Shuuichi tersenyum.
"Tentu saja. Maaf atas ucapanku tadi," katanya, "Dua hari lagi aku akan menjemputmu bersama orang kepercayaan ayah. Masih ada cukup waktu untuk mempersiapkan diri, kan?"
Takashi mengangguk pelan tanpa menghapus senyum di wajahnya. Shuuichi pun pamit dan mengecup kening Takashi sebelum masuk ke mobilnya. Takashi masih berdiri di depan gerbang rumahnya sampai mobil Shuuichi menghilang di tikungan, dengan jantung yang berdegup kencang. Makan malam bersama keluarga besar, pikir Takashi. Ada kekhawatiran dalam hatinya, ia takut merusak acara makan malam itu karena hubungan mereka. Namun, ia juga sudah tidak bisa mundur lagi. Cepat atau lambat, mereka memang harus menghadapi keluarga masing-masing. Akan tetapi, untuk saat ini sebaiknya ia memusatkan pikiran kepada keluarga Natori terlebih dahulu dan mencoba jujur terhadap keluarga Fujiwara setelah masalah itu selesai dengan baik. []
