PART TWO

"Umma.. Aboji.. Aku pulaaaaaaanggg~!" teriak Kyuhyun ketika sampai didalam rumah dan langsung berlari memeluk umma dan aboji-nya yang tengah menonton televisi di ruang tengah.

Umma dan sang aboji hanya terkejut melihat kepulangan sang anak yang mendadak dan tiba-tiba berteriak sambil berlari memeluk mereka. Sungguh sifat kekanakan yang tidak cocok dengan usianya batin sang aboji. Dan sang umma hanya membalas pelukan sang anak dengan penuh kasih sayang serta rasa rindu yang mendalam setelah berpisah untuk waktu yang cukup lama.

"Kapan kau pulang, nak? Kenapa tidak meminta kami menjemputmu? Kenapa tidak memberi tahu kami kepulanganmu?" pertanyaan beruntun keluar dari mulut sang umma.

"Aku ingin memberi kejutan dengan kedatanganku. Dan.. tada.. Aku sudah ada disini!" jawab Kyuhyun dengan riang.

"Kau pasti lelah, nak. Lebih baik kau segera ke kamarmu sementara kami menyiapkan pesta kecil untuk menyambut kedatanganmu." celetuk sang aboji.

"Aboji tidak merindukanku ya? Umma.. Aboji tidak merindukanku!" lapor Kyuhyun sambil mengerucutkan bibirnya kepada sang umma.

"Tentu saja aboji merindukan anak kesayangan aboji ini! Kemari, nak.. Aboji sangat merindukanmu. Kau ini sudah besar tapi tetap saja bermanja pada umma dan abojimu yang sudah tua ini." ucap sang aboji sembari memeluk anak kesayangannya.

"Hehe.. Bagiku umma dan aboji masih muda, sangaaaaaaat muda. Aku tetap mencintai kalian seperti dulu." Kyuhyun membalas pelukan sang aboji.

"Sudah ayo selesaikan acara yang mengharu biru ini. Cho Kyuhyun, cepat ke kamar sementara umma akan memasak makanan kesukaanmu untuk menyambut kedatanganmu." celetuk sang umma menghentikan kegiatan sang suami dan anak.

"Jinja? Aku benar-benar merindukan masakan umma. Di Jepang tidak ada makanan seenak makanan buatan umma." pekik Kyuhyun kegirangan.

"Aigo.. Sejak kapan aegya umma menjadi anak yang suka merayu? Sudah sana istirahatkan dirimu. Kau pasti sangat lelah."

"Nae, umma.. Aboji aku ke kamar dulu. Hari ini indah sekali.."

"Sudah cepat ke kamar."

"Aku mencintai umma dan aboji!"

"Umma dan aboji juga mencintaimu sayang."

"Umma.. Aboji.. Saranghae.."

"Ye.."

"Um-"

"Cepat ke kamar CHO KYUHYUN!"

"Hahahah, ye ummaku yang cantik."

Kyuhyun berjalan menuju ranjangnya setelah menaruh kopernya. Kyuhyun menghela nafas ketika merebahkan tubuhnya diatas kasur king size miliknya yang sudah lama ia rindukan. 'Masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah' batin Kyuhyun sambil mengulas sebuah senyum simpul dibibir cherry-nya. Ia mencoba memejamkan matanya dan mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya. Namun ia kembali teringat dengan kejadia di bandara.

Kyuhyun bangkit dari ranjangnya dan duduk ditepi kasur. Ia mengambil kartu nama dari saku kemejanya. Melihatnya sekilas dan terbesit dipikirannya, 'haruskah aku menghubunginya?'. Sejujurnya Kyuhyun merindukan Siwon, sangat. Tapi sungguh ia ingin melupakan semuanya. Ia ingin menata ulang hidup dan hatinya, mungkin. Kyuhyun mengambil sebuah foto dari dalam laci meja nakas disebelah kasurnya. Ia tersenyum kecil saat melihat foto dirinya yang sedang tersenyum lebar bersama seorang namja yang memeluknya sambil membuat tanda V dengan dua jari tangannya. Sungguh, ia merindukan momen bahagia itu. Dimana ia dan namja tampan dalam foto tersebut bersama. Tanpa terasa, air matanya menggenang disudut manik indahnya.

.

.

.

"Hei pembawa tongkat baseball? Kenapa hari ini permainanmu cepat sekali?" tanya Kyuhyun kecil sambil mengerucutkan bibirnya.

"Aku kan bukan batter utama, jadi aku hanya bertugas menggantikan batter yang lain jika mereka tidak bisa bermain. Lagipula kau sudah menungguku kan? Aku tidak mau membuatmu lama menunggu." jawab Siwon sambil duduk disebelah Kyuhyun dengan diiringi sebuah senyum tulus.

"Tapi permainanmu bagus kau tau? Permainanmu sungguh hebat, melebihi butter utama-nya." tukas Kyuhyun masih dengan bibir pouty nya.

"Bukan butter tapi batter, nona manis."

"Aish, aku bukan yeoja!"

"Tapi kau tetap manis. Sudahlah lebih baik kita berjalan-jalan hari ini."

"Apa kau tidak lelah?"

"Umm.. Lumayan. Tapi setelah melihat peri kecilku, aku jadi bersemangat lagi."

Kyuhyun tersipu malu mendengar penuturan Siwon barusan. Kyuhyun tidak berani melihat wajah Siwon untuk beberapa saat sebelum akhirnya Siwon mengajak Kyuhyun berjalan-jalan di taman kota. Hari yang indah untuk Kyuhyun, setidaknya ia mulai bahagia atas kehadiran Siwon dihidupnya.

.

.

.

Kyuhyun bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju meja nakas dimana ponselnya berada. 'Tuhan, salahkah aku jika aku masih mengharapkannya?' batin Kyuhyun. Kyuhyun bimbang akan perasaannya sendiri. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia ingin sekali bertemu dengan Siwon, ia merindukan teman kecilnya itu. Tapi Kyuhyun takut jika Siwon malah menghindarinya. 'Apa Siwon masih marah padaku?' batin Kyuhyun. Dan pada akhirnya, Kyuhyun mengalah dengan perasaannya. Kyuhyun mengambil ponselnya dan menghubungi nomor yang ada pada kartu nama yang diberikan manajer Siwon kepadanya.

Tuut.. tuut..

"Yoboseo?"

"Yoboseo, Siwon?"

"Nae, nugu?"

"Siwon.. Ini.. aku.."

"Aku?"

"Aku.. Kyuhyun.."

"Kyu.."

"Mianhada, Siwon-ah."

"Untuk?"

"Kau tau maksudku, Siwon.. Aku berada di Korea sekarang."

"Jadi kau sudah kembali, eoh?"

"Nae.. "

"Kenapa suaramu seperti itu? Kau sakit?"

"Ani.."

"Kau belum makan?"

"Ani.. Aku.. merindukanmu.. Mianhae."

"Berhenti berkata mianhae.. Darimana kau tau nomorku?"

"Di bandara, kau menabrakku.."

"Aish.. Jinjja? Kenapa aku tidak tau kalau itu kau? Maafkan aku yang terburu-buru tadi. Gwaenchanayo?"

"Nae, gwaenchana.. Kapan kau pulang?"

"Dua hari lagi, wae?"

"Aku ingin bertemu denganmu, bisakah?"

"Anything for you, Kyu.."

"Kau harus beristirahat dengan cukup, Won.."

"Selalu."

"Kau sudah memaafkanku?"

"Memaafkanmu? Kapan kau berbuat salah?"

"Aku meninggalkanmu dulu.."

"Hahaha, setiap orang punya mimpi, Kyu.. Begitu juga aku dan dirimu. Itu bukan salahmu jika kau memilih sekolah diluar negeri.."

"Gomawo.."

"Sudahlah. Aku akan menghubungimu nanti, manajer hyung sudah bernyanyi disini. Aku harus segera pergi."

"Nae, jaga kesehatanmu.. Annyeong."

"Kau juga.. Annyeong" tuut tuut tuut

Kyuhyun tersenyum simpul sambil membaringkan dirinya di atas kasur. Kembali ia menatap foto yang ia acuhkan dikasur, foto yang sama. Kyuhyun tersenyum melihatnya. 'Bagaimana jika aku benar-benar memulai segalanya dari awal bersamamu?'

Siwon tersenyum sambil menatap ponselnya setelah menerima telepon Kyuhyun. 'Sudah kubilang kau pasti akan kembali, peri kecilku.' batin Siwon. Siwon segera memposisikan dirinya di kursi penumpang pesawat karena sebentar lagi pesawat yang membawanya akan take off. Manajer Siwon yang sedari tadi curiga melihat kelakuan Siwon yang tidak biasanya menatap heran pada Siwon.

"Siwon, kau baik-baik saja kan?" tanya sang manajer.

"Tentu saja." jawab Siwon singkat sambil memasang ekspresi datarnya.

"Lalu kenapa kau tersenyum seperti itu?"

"Memangnya tidak boleh?"

"Ani.. hanya saja kau terlihat sedikit.. aneh."

"Yak! Maksudmu apa berkata seperti itu, hyung?"

"Hahahah, aku hanya bercanda. Apa karena telepon barusan?"

"Ehem.."

"Memangnya siapa yang meneleponmu?"

"Peri kecil."

"Peri kecil? Kau sedang tidak sakit kan Siwon."

"Sudahlah, hyung kau diam saja. Berisik!"

"Siwon, jika kau mengalami gangguan mental saat ini kau tidak boleh menaiki pesawat. Berbahaya untuk penumpang lain."

"Hyung berhenti bicara atau akan kutendang bokongmu keluar jendela!"

"Memangnya jendela pesawat bisa kau buka dengan menendang bokongku?"

"Aish! Sudahlah! Aku tidur, bye!"

'dasar aneh!' batin sang manajer.

Entah apa yang ada dipikiran Siwon dan Kyuhyun. Mereka berdua merasa lebih nyaman saat ini. Mungkin karena mereka terlalu merindukan satu sama lain dan akhirnya bertemu, atau karena mereka saling –mencintai-. Entahlah.. Biarkan takdir yang memberi jalan untuk mereka.

TO BE CONTINUED