Reruntuhan mulai berjatuhan ditarik gravitasi dari langit-langit gua. Salah satu pertanda sebentar lagi gua ini akan di hapuskan dari peta. Stalaktit dan stalakmit indah nan mempesona akan menjadi pecahan batuan tak berharga. Dan gema menakjubkan dari suara-suara yang dipantulkan kini kan lebur bersama kenangan. Dan kelelawar-kelelawar yang tidur bergelantungan di atas gua telah pergi entah kemana.

Tapi lain kelelawar lain pula dengan kedua pemuda ini. Satu berambut kuning satunya lagi berambut putih sedang berlari semakin ke dalam. Entah apa yang mereka pikirkan tapi sepertinya mereka berniat terkubur di sini. Karena sedikitpun mereka tak memelankan kecepatannya dan terus menuju bagian terdalam.

"Awas Naruto!" Sebuah teriakan peringatan di teriakkan tanpa ragu oleh si rambut putih. Menginstruksi kepada temannya bahwa salah satu bebatuan goa tengah mengincar nyawanya.

SI rambut kuning seketika mendongak ke atas. Dan tanpa diragukan lagi sebuah batu besar dari langit-langit tengah tertarik gravitasi. Tak mau menyia-nyiakan nyawanya di sini, dia langsung menghindar dari sana. Batu itu kemudian menghantam tanah dengan keras dan retakan jaring laba-laba terbentuk. Naruto mengatur nafasnya sembari menyeka keringatnya. "Arigatou na, Takehito."

Tapi Takehito malah membalas menarik tangannya terus berlari. "Terima kasihnya nanti saja, terus berlari kalau kau tak mau salah satu batu ini menjadi nisan kuburanmu."

Dan pelarian mereka membuahkan hasil di ujung pandangan mereka bisa melihat sesuatu yang terang benderang seolah cahaya lampu ada di depan sana. "Di sana ada cahaya!" Takehito menunjuk objek yang dia temukan guna membaginya dengan Naruto.

Naruto seketika juga mempercepat larinya mengetahui tujuan mereka tinggal beberapa meter lagi. Tapi sayang sekali sebuah batu tajam terjatuh di atas mereka. Seolah memberitahu jika perjalanan mereka akan terhenti sampai di sini.

Tapi sungguh mereka tak ingin itu terjadi, karena dia tak bisa membiarkan Minaka melampaui batas. Mempermainkan cinta dan kasih sayang seperti ini. Di saat mereka tahu penemuan 108 Sekirei di pulau Kamikura akan dipergunakan untuk apa, mereka dibuat geram. Sesungguhnya tujuan mereka mulia, salahkah jika mereka mengharap sebuah keajaiban?

Tuhan tak pernah tidur, keajaiban datang. Sebuah pelindung transparan berwarna hijau toska melindungi mereka dan menghancurkan batu yang nyaris mencabut nyawa mereka. Iris mereka masing-masing terbelalak tak percaya. Melihat sesuatu yang tak ilmiah di depan mata kepala sendiri. Sekilas mereka merasa sedang bermimpi.

"O-oy Takehito ini apa?" Naruto bertanya kepada Takehito yang juga terkejut karena tiba-tiba sebuah bola berwarna hijau toska transparan membungkus mereka.

"E-entahlah, ini mungkin semacam gelombang penghancur yang membentuk lingkaran." Takehito pun tak tahu harus menjawab apa, karena bagi seorang ilmuan yang selalu menganggap sihir itu mustahil dan selalu berpikir ilmiah dengan bukti yang nyata, melihat sesuatu yang tak masuk akal untuk pertama kali.

Ini menakjubkan

Setidaknya membuktikan bahwa dunia impian yang mereka imajinasikan saat anak-anak tidak sepenuhnya suatu bualan belaka. Tapi tiba-tiba lingkaran itu bergerak melayang menyusuri goa, batu terus berjatuhan tetapi pelindung itu terus melindungi mereka seperti plastik terhadap air bahkan setitik debupun tak mengenai mereka. Pelindung itu terus membawa mereka ke sumber cahaya yang mereka tuju.

Dan mereka semua tak bisa menahan keterkejutannya di saat melihat apa yang ada di balik cahaya itu. Mata mereka terbelalak sungguh sangat sangat terbelalak hingga terasa hampir kedua bola mata itu meloncat keluar. Ekspresi mereka saat ini seperti seorang manusia fana yang ditunjukkan isi dari neraka.

Karena di hadapan mereka…

Terdapat sesuatu yang mengerikan…

Karena di tempat mereka saat ini berada sebuah kehampaan mutlak berwarna putih tak ada apapun di sana kecuali objek yang mereka sebutkan tadi benar-benar hampa seperti kertas kosong yang belum digores dengan tinta. Terdapat sebuah penghalang yang sama berwarna hijau toska seperti yang menyelimuti mereka hingga saat ini, hanya kali ini berbentuk kubus yang sangat besar.

Apakah itu yang membuat mereka terkejut?

Bukan…

Tapi, sesuatu yang terdapat di dalam penghalang kubus itu.

Dan di sana adalah…

Adalah…

Dream End

Naruto membuka matanya seketika. Nafas pemilik iris biru sapphire itu tak beraturan seolah telah lari ratusan meter. Keringat dingin keluar dari pori-pori tubuhnya hingga membasahi bajunya. Badannya gemetar seakan mengatakan mimpi tadi adalah sebuah mimpi buruk dan…

…Sebuah kenyataan

Perlahan dia mencoba mendudukan dirinya di atas futon yang tadi malam dia gelar sebagai alas tidur. Tangan kanannya menyangga kepalanya yang sedikit pusing. Pikirannya sungguh kacau balau mengingat mimpi yang memang sebuah kenyataan.

Ya, memang sebuah kenyataan.

Tapi sesuatu mengganjal di pikiran Nauto. Sesuatu yang sangat penting dan sebuah petunjuk yang besar tapi itu serasa menghilang begitu saja dari ingatan. Seperti dia merasa kenangan tentang hal itu sengaja di hapus. Tapi, keyakinan tak bisa dihilangkan dari hatinya, bahwa kekuatan yang mereka miliki sekarang muncul setelah peristiwa itu.

'Apa ini kesengajaan? Tapi untuk apa.' Oh sial pikirannya benar-benar tak bisa dikendalikan, dia memaksa memutar kembali roll roll ingatan yang sudah usang dan berdebu, tapi percuma sekeras apapun dia berfikir dia tak bisa menyusun kumpulan puzzle yang terpecah belah hingga molekul terkecil, disaat dia melihat kilas balik waktu itu…

Kosong.

"Ano… Uzumaki-san." Sebuah suara yang dia kenali mengintrupsinya untuk menghentikan segala kegiatan pemikiran kilas masa lalu. Dia berdiri di depan pintu kamarnya karena di balik pembatas transparan dia bisa melihat bayangan seorang laki-laki berdiri di sana.

"Ada apa?" Naruto menjawabnya dengan nada ramah walaupun sama sekali tak beranjak dari fuutonnya.

"Sarapan sudah siap." Sejenak Naruto berpikir, sarapan? Maksudnya sarapan di satu meja dan saling bercengkrama? Sepertinya Takehito tak pernah main-main jika sudah mengajarkan hal yang seperti ini. Karena maklum, selama di Roma mereka selalu makan di ruang kerja masing-masing, jadi ini bisa di bilang…

Pertama kali.

Sepertinya mengasyikkan.

"Ya, nanti aku akan menyusul" Puas dengan jawaban Naruto si pemilik bayangan sudah pergi menuju ke tampat yang Naruto duga adalah dapur atau meja makan. Senyum simpul mengembang di bibir Naruto, suasana di penginapan ini begitu damai sehingga menghirup udara di sini serasa sangat menyenangkan.

Tapi kemudian dia melirik ke arah sebuah benda panjang, ramping dan lurus yang di selimuti dengan kain hitam dan diikat supaya tak terlepas. Sepertinya Naruto tak boleh lupa akan tujuannya kemari untuk apa, Proyek Sekirei, Cinta, Ashikabi, si kacamata gila dan…

Mimpinya.

Tapi apa salahnya bersantai sejenak?

Disclaimer :

Naruto dan Sekirei bukan punya saya tapi fic ini murni punya saya dengan beberapa karya sebagai inspirasi.

.

Duo Yuusha

.

.

.

By : Sang Pemandu

.

Pair : Naruto x Harem (07. Akitsu,?,?,?,?), Takehito x Miya

.

Genre :

Adventure, Friendship, Drama, Romance,

.

Warning :

Typo(s)(mungkin), bahasa non baku (beberapa), penulisan agak gaje, karakter agak OOC, OC,

.

Chapter 1 : Burung yang tersesat.

.

Ramai.

Kesan pertama Naruto ketika menginjakkan kaki di ruang makan di Villa Izumo ini. Keramaian yang biasa terjadi di sebuah keluarga yang harmonis. Dimana semuanya bersuka cita melepas penat, menceritakan pengalaman dan bersendau gurau. Duduk mengelilingi sebuah meja dan mengeluarkan aura bahagia. Tanpa sadar senyum mengembang di bibirnya dikarenakan suasana yang mengenakan ini.

Orang yang menyadari pertama kali bahwa Naruto sudah berdiri di sana adalah Miya. "Ah, Uzumaki-san silahkan duduk jangan terus berdiri di sana." Karena izin dari sang empunya rumah, menunjukan etika sebagai penghuni yang masih baru Naruto berjalan dan duduk di sebelah Miya.

Dan orang yang pertama paling heboh adalah Tsukiumi. Wajahnya mulai memucat karena ditinggalkan oleh darah yang mengalir ke bagian bawah tubuh. Dan dengan gemetaran yang jelas sekali terlihat dia menunjuk Naruto yang sudah duduk anteng bersila. "O-oya-dono ke-kenapa dia ada disini?" dia menunjukkan wajah tsunderenya tapi sayang itu sepucat keramik.

Sedangkan Naruto hanya tersenyum lebar tapi entah itu dianggap ancaman serius oleh Tsukiumi. "Ah, Tsukiumi-kun kita bertemu lagi ya." Dan dengan mempertahankan seyuman yang tadi tapi kini sedikit berubah menjadi menyeramkan. Dan reaksi mereka berdua membuat hampir semua orang sweetdrop kecuali MIya yang malah memasang senyum yang tak bisa di tebak

Oh ini pertanda buruk.

Sebuah topeng ungu besar muncul di belakang Miya disertai senyum seorang pemilik peginapan yang ramah. "Tsukiumi-san bukannya tidak sopan memperlakukan penghuni baru seperti itu." Entah pencitraan atau jaim yang jelas Miya mengucapkan kalimat ramah dengan nada yang amat lembut tapi sangat berbanding terbalik dengan topeng iblis yang melayang di belakang

Tsukiumi terkejut, sangat terkejut. Bukan karena topeng yang melayang-layang perwujudan aura Miya yang tengah memasang senyum baik di sebrang posisi Tsukiumi. Tapi kata-kata yang menandakan bahwa dia harus bertatap muka dengan orang ini berkali-kali setiap hari. Jika tak terbiasa ini buruk bagi jantungnya.

Sayangi jantung anda.

Lupakan yang barusan, itu hanya slogan Author yang korban iklan. Ya sebuah rentetan kata yang diucapkan oleh Miya baru beberapa detik yang lalu terngiang-ngiang dikepalanya.

"Tsukiumi-san bukannya tidak sopan memperlakukan penghuni baru seperti itu."

"…Penghuni baru…"

Penghuni…

…Baru.

Penghuni Baru.

"Eeeeh…." Sebuah teriakan tanda keterkejutan dilontarkan Tsukiumi yang mampu di dengar hingga ke tetangga dan membuat burung-burung yang bertengger terbang menjauh. "Peng-penghuni ba-" Sebelum Tsukiumi menyelesaikan kalimatnya dia sudah pingsan ambruk kebelakang dengan wajah yang benar-benar pucat dan dengan roh yang hampir menyebrang kea lam baka. Dan para penghuni juga tambah sweetdrop stadium 4.

"Baik semua hentikan sebentar acara makan-makan kalian kita kedatangan penghuni baru,Uzumaki-san silahkan perkenalkan dirimu." Miya mempersilahkan si ilmuan jenius bermarga Uzumaki ini meperkenalkan namanya setelah kejadian absurb barusan.

Naruto tanpa rasa gugup berdiri. "Salam kenal, nama saya Uzumaki Naruto saya penghuni baru di sini yoroshiku onegaisimasu." Walau sudah lama di Roma tidak membuatnya dia melupakan tata krama di tanah kelahirannya ini, Jepang.

"Ah, salam kenal Naruto-san, namaku Musubi nomor 88 sekireinya Minato-san yoroshiku onegaisimasu." Sepertinya Musubi menyambut penghuni baru bersurai kuning ini dengan nada ceria yang biasanya. Sepertinya si sekirai pertama Sahashi Minato ini tanpa ragu menyebutkan identitasnya sebagai sekirei. Beruntung bahwa Naruto adalah salah satu ilmuan yang mengetahui hampir seluk beluk dari proyek-S.

Tapi reaksi Naruto yang sudah duduk kembali adalah menaikkan kedua alisnya. Karena dia menangkap sesuatu yang familiar dari sekirei berdada besar ini. Sudut bibirnya di tarik sedikit ke atas. Sangat samar sehingga tak seorangpun yang menyadari hal itu. Satu yang ada di pikirannya, 'Yume kah? Mereka mirip apakah mereka itu satu?'

Naruto juga paham betul, mengapa muka semua orang menjadi agak panik dan sedikit tergagap minus Miya dan Minato. Ini karena Sekerei polos yang dengan tanpa ragu menggumbar tentang Sekirei. "Ah, tidak usah khawatir aku mengetahui proyek Sekirei, jadi jangan canggung." Semua orang bernafas lega.

"Namaku Matsu Sekirei nomor 02 Yoroshiku Naruto-tan." Naruto menyambut perkenalan ramah Matsu dengan sebuah senyuman walaupun dia agak merasa sedikit aneh dengan akhiran yang dipakai Matsu untuk memanggil namanya.

Kembali iris biru langit itu menangkap sebuah peristiwa yang lucu. Seorang anak kecil berambut pirang gelap, yang bersembunyi di balik punggung Minato dan dengan wajah malu-malu menatapnya dengan tatapan yang menggemaskan. 'Nomor terakhir, Midori no Shoujo kah,?'

Minato sedikit kelabakan mengatasi tingkah Sekirei paling muda yang dia miliki ini apalagi di tambah tangan kirinya yang patah tapi hatinya memaklumkan bahwa di umur segini wajarlah seorang anak masih bertingkah seperti ini, toh nanti juga akan terbiasa. "Ah, ini Kusano Sekireiku nomornya em… ah 108." Minato mewakili Kusano untuk acara perkenalan walaupun bajunya ditarik-tarik oleh Kusano.

Di balik senyuman ramah Naruto dia memikirkan sesuatu, 'Jadi mereka semua Sekireinya, dia bukan Ashikabi sembarangan, tapi apa mungkin dia?' Memang sebuah kelangkkan atau mungkin Cuma ini satu-satunya yang bisa menyayapi Sekirei dengan jumlah yang terbilang banyak dan bahkan 2 diantaranya adalah nomor tunggal yang dirinya dan sahabat baiknya sesuaikan, tapi tanpa menyayapi secara paksa.

Tunggu darimana dia tahu jika disayapi tanpa paksaan? Itu jelas, sangat jelas bahkan orang bodoh pun bisa tahu.

Ikatan dengan cinta sungguh terasa berbeda jika dibandingkan paksakan. Memang jika kau hanya melihatnya sepersekian detik otakmu tidak akan mampu tahu jika tak tinggal bersama.

Tapi ini bukan waktunya memakai otakmu, tapi rasakan dengan hatimu.

Maka hanya dengan mendengar suara mereka kau bisa tahu…

Sebahagia apa mereka.

"Aku Uzume, seorang Sekirei, nomor… tak bisa ku beritahu tehe-" Reaksinya tersenyum grogi pasalnya perempuan ini memperkenalkan diri sembari mendekatkan wajahnya ke arahnya, dan apa-apaan wajah innocent di akhir itu, hampir saja membuat rahangnya bergerak naik turun tanpa henti dan juga 2 benda yang… ah sudahlah dan sukses membuat Naruto meneguk ludahnya sendiri.

'Njiir, cobaan jomblo.'

Aura hitam menguak di sisi lain meja yang tepat di sebelah Naruto menandakan bahwa sang topeng iblis akan kembali menampakkan batang hidungnya dan menebar ketakutan, dan benar saja Di balik senyumnya muncul sebuah topeng iblis besar dengan bola mata yang bergerak liar, dan satu perasaan yang dirasakan para penghuni di sana…

Merinding

"Uzume-san, Bukannya tidak baik jika melakukan perkenalan seperti itu, apa kau sudah lupa tata krama ruang makan." Suara yang lembut, ya sangat lembut sangking lembutnya bisa masuk ke dalam otak dan mencucinya perlahan. Uzume ini sepertinya hanya membalas dengan sebuah senyum yang lagi-lagi sama dengan senyum pertama.

Tapi beberapa saat kemudian dia melihat ke arah seorang pria bersurai putih yang sedang menyesapi tehya dengan mata yang merah menyala. Dan hampir saja dia membuat tehnya siasia karena dia langsung berjengit kaget karena dia merasakan target aura Miya yang berubah arah. Dan dia tahu apa kesalahannya… "Namaku Kagari, Yoroshiku ne."

Sebuah perasaan terbersit di pikiran Naruto. Bahwa sungguh di heran, mereka yang bukan sebuah keluarga dengan hubungan darah bisa seceria ini, mereka sukses membuat Naruto menelan mentah-mentah amsumsinya bahwa tak ada sebuah keluarga yang benar-benar bahagia.

Karena tawa mereka membuktikan bahwa semua orang bisa bahagia. Sungguh, pikirannya kembali dipaksa berfikir setelah mimpinya tadi. Dan sejak tadi mata birunya itu tak hentinya mengobversasi apa yang ada seperti pen-scan data computer. 2 orang sekireinya berebut menyuapi Minato(1 sudah tiduran di lantai/tepar) , yang satu lagi cengengesan gaje di sisi lain meja.

Tanpa sadar otaknya kembali memutar kenangan yang ingin dia lupakan. Sebuah masa yang menyedihkan, dimana hanya sepi yang menemani, hujan dan tangis menjadi sarapan setiap hari.

Dan itu jugalah yang membuatnya mempunyai sebuah sisi gelap

Tapi mata Miya sepertinya menangkap pandangan kosong Naruto. "Naruto-san, ada apa?" Naruto menanggapinya dengan tenang…

"Hanya teringat tentang sesuatu." Miris, senyuman yang penuh ke-ambigu-an seolah mengeluarkan sebgian kecil pikiran Naruto

Senyum Naruto tadi juga di balas dengan sebuah senyum kecil yang mengembang di bibir ranum Miya, dengan pandangan lembut seperti pandangan seorang ibu kepada anaknya. "Aku mengerti, Uzumaki-san semua orang mempunyai rahasianya masing-masing yang tak bisa diungkapkan begitu saja kepada orang yang baru dia temui…" Miya menatap para penghuni Izumo inn yang penuh tawa seperti biasa

"…Tapi, habiskan makananmu atau aku bisa menghapus jatah makananmu dari daftar belanja." Ah, Naruto tersenyum kikuk dengan senyum Miya tadi yang tiba-tiba berubah menjadi menyeramkan.

Sepertinya dia saja orang bodoh yang terlalu serius di sini.

"Sumimasen." Suara terdengar dari arah luar, Naruto asumsikan suara yang diucapkan oleh seorang laki-laki dan perempuan secara bersamaan. Dan juga bebrapa detik kemudian MIya beranjak dari tempat dia duduk dan menuju ke pintu depan dengan ekspresi yang membuat Naruto sweetdrop.

Sempat terjadi percakapan di depan, suaranya agak samar karena keramaian di sini agak menutupi pendengarannya.

Ah, tapi sepertinya Naruto mengenal suara itu.

Dan sepertinya perasaan deja vu Naruto kali ini 100% benar karena dari arah depan menuju ruang makan seorang pria bersurai hitam tegap menunjukkan batang hidungnya dan kali ini Naruto benar-benar tak asing dengannya, karena dia adalah temannya sekaligus temannya Takehito.

Seo datang meminta makanan seperti biasa, tapi sepertinya kali ini dia bisa meminta dengan alasan balas budi untuk pertolongannya tempo lalu yang membantu pelarian seorang pasangan Ashikabi dan Sekirei yang ingin membuat sebuah masa depan yang damai di antara mereka, berjalan bergandengan tangan menuju ke arah matahari terbit.

Tapi sayang, Seo tak tertarik dengan hal yang begitu, di fikirannya setiap mili meter otaknya adalah, cara bertahan hidup yang mudah, simple dan gratis dan bisa dikatakan yang serba instan dan praktis, apalagi dia juga arus memberi makan 2 sekirei miliknya ini, Hibiki dan Hikari. Tapi dia merutuki dunia ini yang semuanya serba perjuangan

Tapi dia tiba-tiba mendapati sebuah objek yang tak asing tapi tak pernah dia lihat lagi selama beberapa tahun belakakangan. Yang ada pertama di penglihatannya adalah warna kuning dan rambut spike yang mencolok di antara orang jepang kebanyakan yang mempunyai rambut hitam atau coklat.

Untuk sesaat dia merasa berada dalam mimpi buruk, karena mendapati seorang pemuda dengan senyuman yang ama sangat sungguh di kenali, seseorang yang kelewat familiar untuknya, apalagi…

Kepintarannya.

*Cough* untuk sesaat dia merasa menjadi orang gagal di antara kedua temannya

Seo dengan wajah ketekejutan yang tiada kira dan badan yang gemetar dan menunjuk orang yang masih tesenyum di sebrang sisi meja.

"Na-Naruto!"

Mulai sekarang Naruto akan mencari 1001 cara membohongi perempuan di toko buku terdekat, pasalnya sekarang Naruto tersenyum kikuk, di pikirannya sedang kacau, melihat tamu tak terduga masuk, tiba-tiba terkejut dan merusak rencana. Sial seandainya dia memakai alasan untuk tidak tinggal di sini dengan mengkambing hitamkan teman mereka ini, bisa saja dia sudah ada di sebuah hotel mewah sekarang.

Sayangnya, dia tak bisa mengingat hal ini saat acara negosiasi berlangsung, yah mau bagaimana lagi telor goreng terlanjur gosong(?) mau di ulang juga ngabisin tenaga sama gas Elpiji, ya sudah jalani aja.

Dan jika kalian bertanya, kenapa merusak rencana? Baik kalian pikirkan, pertama Seo mengenal Takehito jadi mereka adalah teman dan salah satu factor Miya menerimanya di sini adalah dia temannya Takehito jadi itu adalah kesimpulan bahwa Miya tahu hal itu. Apalagi di tambah reaksi penghuni Izumo inn yang tiba-tiba langsung menatap dirinya dan Seo.

Dan jika dia tiba-tiba menyebutkan Nama Naruto tanpa perkenalan maka otak Miya akan menyimpulkan mereka pernah bertemu dan dia juga akan menyimpulkan bahwa dirinya kenal dengan suaminya, Takehito dan juga itu diperkuat karena dia orang MBI. Dan bayangkan jika dia tiba-tiba nyelonong dan seenak keteknya nunjuk muka orang dan mengancam posisinya dan rencananya.

"A-ah yo Seo, kau masih gagal seperti biasanya." Suara yang gemetar dan pikiran yang campur aduk.

Naruto memutuskan untuk meyapa. Tak ada pilihan lain karena jika dia milih nyeplos disini maka semuanya yang ada tambah hancur berantakan dan gagal total. Dan jangan salahkan siapapun jika ada kiriman berupa paketan jauh-jau dari Roma yang berisi bogem mentah dari teman ubanannya yang satu itu.

Musubi memiringkan kepalanya tanda ada sesuatu yang baru dia tahu ataupun ganjil. "Naruto-san dan Seo-san saling kenal?" si Sekirei nomor 88 ini mewakili pertanyaan semua orang termasuk Ashikabinya yang juga penasaran dengan hubungan mereka.

"Y-ya bisa di bilang kami teman."

Dan iris birunya juga perlahan melirik kesampingnya yaitu tempat di mana MIya duduk. Dan dia harus menelan ludahnya yang entah mengapa menjadi sangat pahit. Karena dia melihat jelas, Miya yang menunduk dengan ekspresi yang tertutupi bayangan rambut ungu anggreknya. Aura yang tak dapat di tebak keluar dari sekelilingnya. Satu yang dipirkan Naruto

'Celaka.'

Waktunya mengeluarkan jutsu 1001 bacot no jutsu sebelum semuanya semakin hancur

"A-ah aku sudah kenyang jadi aku akan kehalaman depan." Naruto mulai beranjak dari lantai dan bermaksud meninggalkan ruang makan, tapi sebelum itu dia berjalan di samping Seo.

"Kita harus bicara."

Seo menoleh kebelakang melihat Naruto yang berjalan menjauh darinya menuju daun pintu yang tertutup yang tersambung dengan dunia luar.

Seo menghela nafas, sebuah kode nada yang merupakan pertanda bagi mereka bertiga…

Waktunya serius.


-Family-


"Jadi begitu." Kaoru Seo, laki-laki berambut hitam ini menyandarkan badannya dan lengannya ke pagar. Dia mengenakan baju putih dan celana yang biasanya, pandangannya mengarah kelangit biru cerah di mana tempat kumpulan uap air yang bergerak bebas tanpa penghalang, mata hitamya mampu memantulkan kembali kenampakan di depannya.

"Tak kusangka kalian akan melakukannya sekarang." Jujur Seo agak terkejut setelah salah satu sahabat karibnya ini menceritakan tentang rencana yang dia dan Takehito susun. Karena memang Minaka yang notabenenya adalah dalang dari proyek Sekirei dan pemilik perusahaan besar, MBI yang telah memegang kendali penuh atas kota ini dan mengalahkannya bukanlah hal yang bisa dianggap enteng.

"Begitulah sudah tak ada waktu lagi, kita harus menyusun kepingan puzzle ini secepatnya, sebelum semuanya terlambat." Naruto memasang ekspresi khawatir, sembari berdiri dia memikirkan sesuatu, dia meluapkan perasaan yang campur aduk ke dalam ekspresinya yang sekarang, datar namun gelisah.

"Ekspedisi yang waktu ya?" Seo melontarkan pertanyaan yang agak sedikit membuat Naruto tersentak, karena dia hanya tak menyangka Seo akan bisa menebak raut wajahnya.

"Begitulah, seperti yang pernah kuceritakan padamu." Ekspedisi yang mengerikan, seperti yang tercetak dalam mimpinya tadi, beberapa tahun yang lalu, setelah Minaka dan Takami menemukan sebuah kapal misterius yang pernah diramalkan oleh Nostradamus, mereka menemukannya di sebuah pulau kecil yang sama sekali tak terdapat kehidupan, Kamikura Island.

Sebuah peristiwa yang memberikan kepada mereka sebuah papan puzzle rumit yang harus disusun kembali, agar semuanya saling terkait dan menuju sebuah kejelasan…

Dan menentukan, langkah apa yang akan mereka ambil.

"Tapi entah mengapa…" Seo mengalihkan pandangannya kepalanya, melihat Naruto menunduk dengan mata biru yang kehilangan cahanya beserta ucapannya yang belum selesai tadi.

"…Aku tak bisa mengingat apa yang kulihat di ujung goa."

Seo mengeluarkan senyum mengejek yang dia tujukan ke Naruto. Dia menepuk punggung Naruto dengan keras sehingga Naruto agak tersentak ke depan. Tentu, Naruto mengalihkan pandangannya ke Seo yang masih memasang senyum yang sama, "Anggap saja itu sebuah tantangan…"

"Tantangan?" Naruto penasaran? Tentu, karena sebelumnya temannya yang satu ini tidak seperti ini.

"Ya, hidup tak akan seru jika tanpa tantangan dan drama, kau hanya tinggal ikuti alurnya dan pecahkan semuanya." Seo mengucapkannya dengan nada yang meyakinkan.

Naruto menghela nafas sembari menyeringai, "Hampir saja aku melupakan hal yang penting, sebuah moto…"

Seringai mereka berdua melebar.

"Enstein bahkan akan melupakan rumusnya jika tak mencatatnya." Terkejut karena mereka tanpa sadar melafalkannya bersamaan. Mereka berdua akhirnya berpandangan dan menautkan tangan mereka sebagai sesama lelaki sejati. Dan mereka melepas tawa bersama.

Seo perlahan menghentikan tawanya. "Aku akan membantu sebisaku, lagipula kita teman'kan."

"Tak usah membahayakan dirimu, ini urusan kami bertiga, lagipula kau punya 2 orang Sekirei yang harus dijaga 'kan." Memang menyakitkan, tapi apa mau di kata jika diantara mereka bertiga hanya dia yang belum punya seorang pedamping hidup.

Tapi semua akan melemah di hadapan tekadnya menjadi seorang pria sejati, Uoooh… semangatnya sedang membara.

Seo memutar bola matanya. "Yah, aku memang tak ingin terlibat dengan urusan merepotkan, hidupku saja sudah ribet."dengan pekerjaan yang tak pasti apalagi di tambah Hibiki dan Hikari sepertinya omongan Seo tadi berdasarkan dengan fakta dunia.

Giliran Naruto melontarkan senyuman mengejek. "Sebagai orang gagal?"

Seo mendecih, "Cih, Sombong sekali kau, pacar saja belum punya."

Ah, suara retakan hati Naruto yang mulai berjatuhan terdengar. Tapi wajahnya kembali ke mode serius, tak menggubris ejekan pahit yang membuatnya meratapi kenyataan dengan senyum getir di bibir. Mukanya kembali datar seperti aspal jalanan depan Villa yang tengah dia tatap dengan kedua matanya. "Kau juga mendapatkannya 'kan."

Seo menatap Naruto yang masih tak mengubah arah pandangannya, menatapnya sejenak meresapi tatapan serius yang dia pasang sebagai mimic mukanya. "Kau itu langsung to the point ya." Dia menghela nafasnya disaat angin berhembus, "Begitulah, prediksimu benar, situasi memang makin runyam."

Pandangan Naruto mulai menggelap. Sebuah ekspresi yang tak bisa ditebak terpampang di wajahnya, tertutup bayang-bayang surai kuningnya. "Kapan kau mendapatkannya?" Suaranya yang lirih namun menyeramkan.

"Hujan Salju."

Tiba- tiba Naruto merasakan sensasi aneh di jantungnya, matanya terbelalak dan langsung mengalihkan pandangannya ke Seo yang masih dengan santanya walaupun dia mengucapkan… hal yang aneh. "Apa maksudmu?"

Seo tersenyum. "Pada saat aku berjalan di tengah malam musim panas yang dingin untuk mencari ketenangan, sebuah fenomena aneh datang pada saat itu…" Seo mengambil jeda "…Salju turun tepat di kota ini di, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri dan entah mengapa tiba-tiba aku pusing dan kehilangan kesadaran, seolah-olah ada yang manarik jiwaku paksa…" Seo memejamkan mata sembari menyortir folder-folder kenangan lampaunya.

"…Dan keesokannya aku terbangun di kamar, aku sempat berfikir itu hanya mimpi, tapi setelah kembali ke sana, aku sadar itu sebuah kenyataan…" Seo menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan supaya tak terlalu terbawa suasana tegang.

"…Aku menemukan kalungku tertinggal di sana"

"Warnanya?"

Ekspresi Seo menjadi rumit, sama seperti buku himpunan rumus fisika yang memusingkan kepala. "Susah jika dijabarkan dengan kata-kata, ah anggap saja seperti…"

"…Malam yang sunyi."

Otak Naruto perlu beberapa menit untuk mencerna semua fakta yang bagi para ilmuan benar-benar tak masuk akal. Salju, malam, kekuatan semua itu perlu kemampuan otak jenius Naruto untuk mengurut semua menjadi sebuah roll film yang runtut, tapi sayang sekali tapi sepertinya kata-kata beberapa menit tadi akan diganti selamanya.

Walau dia pernah menyandang gelar Sang Hermes Dunia Modern yang di sematkan oleh ilmuan-ilmuan terkenal dari luar negri. Karena nilai ujian kelulusan Fisika, Biologi, Kimia dan Matematika yang mengerikan dan paling tinggi se-Jepang. Tapi hal ini terlalu rumit untuk ia jelaskan, dia harus secara perlahan menyusunnya satu-persatu atau jika tidak maka akan tambah kusut, robek dan hilang diterpa angin waktu.

Naruto mendecih kesal, kemudian dia rebahkan badannya di rerumputan dengan keras, dia tak khawatir sama sekali jika nanti punggungnya akan kesakitan karena membentur tanah atau batu. "Sial, ini telalu rumit untukku, bahkan otakku yang jenius ini serasa akan meledak."

"Itu harapanku, apa kau tahu bagaimana rasanya menjadi orang gagal dan memikul batu, loncat antar gedung, dan lusuh-lusuh setiap kali mau makan!?"

"Makanya pas guru ngejelasin jangan mojok ngomongin bokep mulu."

Jidat Seo kedat-kedut.

Tak hanya Takehito yang tahu tentang si kuning satu ini, tapi dirinya juga hampir mengetahui segalanya tentang dia, karena pertemanan mereka tidaklah hanya sebatas antara Ilmuan MBI dan seorang Ashikabi tapi seorang teman masa muda. Masa muda, dimana semua anak sedang asyik-asyiknya bergaul, bercengkrama, berkarya dan merancang pondasi untuk cita-cita. Maka dari itu dia benar-benar tahu pola pikirnya, bidang-bidang yang Naruto payah di dalamnya, kebaikannya, terutama soal tekadnya.

Andai kau tahu, Seberapa membaranya api tekad dalam jiwanya.

"Bangunlah, di sana kotor." Seo menendang pelan badan Naruto.

Tapi peringatan Seo tadi sama sekali tak digubris sedikitpun oleh Naruto, dia malahan memejamkan matanya menikmati hamparan sinar matahari pagi. Tapi sesaat kemudian dia langsung menyadari sebuah solusi untuk roll film yang kusut tadi. Seketika dia terbelalak dan terduduk.

"Bagaimana jika bertanya kepada si Necromancer!?"

"Siapa?"

"Si Necromancer yang itu oy! Apa jangan-jangan otakmu sudah di dominasi dengan folder kebokepan(?) hingga teman sekelasmu sendiri kau lupakan."

"Oh si fetish ama zombie itu!?"

"Iya!"

"Laki-laki rambutnya hitam itu 'kan, yang bangkunya di pojok serba horror semua itu 'kan!?"

"Iya!"

"Yang pernah bantuin kita ngambilin kunci kamar ganti cewek itu 'kan!?"

"Yang itu sih ngak usah disebutin."

Seo manggut-manggut yang kelihatannya ngerti. "Kenapa kau panggil dia Necromancer? Kupikir sebelum pergi dia tak pernah mendirikan aliran sekte sesat!"

Sungguh, tangan Naruto kali ini sudah gatel pingin ambil balok kayu terdekat dan melemparkannya ke muka orang secara acak. "Kalau saja kau ini bukan temanku, sekarang ini pasti akan ada ambulance parkir di depan rumah ini."

"Baik-baik aku akan serius."

Tunggu, jadi selama ini dia ingat!?

Alamat Shinigami dimana ya?

Bilangin, orang yang namanya Kaoru Seo akan menjadi budaknya.

"Bagaimana kau menemukannya? Kita bahkan tak tahu bagaimana kabarnya, terakhir aku melihat batang hidungnya di acara perpisahan, memangnya kau mau mencari di setiap celah gunung dan berteriak Oy Necromancer keluar kau kau bisa saja berakhir di penjara atau rumah sakit jiwa."

"Kita? Kamu aja kali."

Seo terkejut. "Tunggu, maksudmu…"

"Menurut perkiraanku saat ini sebagian besar bunga Hortensia sedang kuncup dan tak mungkin jika dia tak punya cadangan ladang Hortensia, apa kau masih ingat di saat Zombie Maniac itu memeperkenalkan metode pananaman bunga Hortensia pada kita saat proyek kelas dulu? Dan menurutku memasang teknologi seperti itu tentu butuh biaya yang tak sedikit, dan artinya…"

"Dia akan kembali Ke jepang untuk mengambilnya!?"

"Bingo." Seringai Naruto melebar hampir saja dia tertawa terbahak-bahak dan dianggap gila karena dia tak menyadari hal ini sebelumnya. "Bagaimana?" Naruto memasang ekspresi mengejek.

Seo menghela nafas pasrah, karena dia benar-benar mengakui otak orang ini jika sudah dihubungkan dengan rencana dan perhitungan, percayalah jika semua sudah dia perhitungkan secara detil.

Maka siapkan pesta kemenangan untuk kita.

"Lakukan sesukamu."

Naruto kemudian berteriak senang dan berdiri dengan semangat. "Aku akan pergi berkeliling kota." Dan dengan bersenandung ria dia berjalan kembali ke dalam Villa Izumo untuk mengambil dompetnya.

"Tapi bagaimana dengan Takehito?"

Dong

Dikarenakan pertanyaan Seo yang menyadarkannya akan sebuah penghalang besar atas rencana jalan-jalannya, tubuh Naruto membeku seketika, Susana hati riang tadi sudah hilang di terpa angin dan pergi entah kemana, kini tersisa mood yang sudah kadung buruk dan ekspresi yang terpampang jelas di muka Naruto campur aduk antara marah, kesal, ilfeel dan jangan lupakan mata kirinya yang berkedut-kedut.

'Sial aku tak memperhitungkan si Setan satu itu.'


Life is Drama


Naruto menghela nafas pasrah, di bawah bulan dan bintang yang sedang menampakkan sinarnya menyinari sebagian bumi yang sedang gelap. Tak banyak orang yang keluar rumah atau mungkin sebagian besar dari mereka memang sudah meninggalkan kota ini sejak deklarasi kepemilikan Kota Teitou yang jatuh ketangan kepala Direktur MBI, Minaka. Mungkin hanya beberapa kali saja kendaraan yang lewat, itu pun jarak waktu kemunculan mereka juga cukup lama.

Jam tangan Naruto menunjukan pukul 8, mengartikan bahwa 2 jam lagi akan segera larut malam dan waktunya semua orang masuk ke alam mimpi, tapi berbeda dengan Naruto yang padahal jam 8 adalah waktunya untuk berkumpul bersama keluarga tapi dia mullah memilih menggalau di luar.

Karena 2 jam yang lalu hampir saja dia membanting handphonenya ke lantai karena si Takehito yang susah bingitz diajak negosiasi. Barang cuman 1 hari meminta cuti itu susahnya seperti terbang ke langit ke 7 dalam semalam. Suer, mulutnya sudah capek banget ngoceh yang di penuhi negosiasi dan diplomasi(?) yang alasannya demi masa depanlah, yang alasannya cari pacar buat diri sendiri lah, yang ini lah, yang itu lah bejibun pokonya, sangking buanyaknya Naruto ngak yakin Dewa Atlas bisa memikul berat dari semua alasan Takehito.

Tapi pada akhirnya hati Takehito melunak dan memberikan grasi(?) kepada Naruto dengan memberikan 4 hari cuti tapi itupun dengan beberapa syarat yang ujubuneng dan harus dipenuhi sebelumnya mau tidak mau atau hari cuti akan hanya menjadi angan-angan belaka.

Diantaranya dia harus melepas status jomblonya dan mengajak seseorang kemanapun dia selama dia cuti, dan saat dia mencoba melawan dengan 'Oi Sekirei 'kan tidak boleh keluar dari kota Teito!?' tapi mullah di jawab dengan 2 huruf…

'DL (Derita Lo)'

Rasanya pingin sekali dia naik ke menara Eifel dan teriak 'Duel Yok'

Sepertinya dia harus mencantumkan nama Takehito dalam daftar 'Hal-hal yang harus di waspadai seumur hidup'

Pesan Moral : Jika kau ingin negosisasi, jauhilah tipe orang seperti Takehito(?)

Tapi iris birunya mampu melihat seorang gadis sedang duduk di bangku taman di bawah naungan yang sama, yaitu langit yang penuh akan bintang. Duduk sendirian tanpa seorangpun di sana, entah apa yang ditunggunya atau mungkin dia tidak sedang menunggu apapun, karena iris biru seperti batu permata Sapphire menangkap sebuah pemandangan yang membuatnya menghentikan langkahnya.

Itu, sebuah tatapan yang menyedihkan, menatap kosong kedepan tanpa sebuah harapan dan tujuan. Tanpa sebuah dinding untuk bersandar, mata itu mengisyaratkan sebuah kerapuhan, seperti kaca yang retak dan siap hancur kapan saja diterpa pengaruh dunia luar. Mata itu seperti…

Burung yang tersesat

Di tengah dinginnya malam dia mengenakan sebuah pakaian berwarna putih yang cukup terbuka dan entah bisa atau tidak mencegah angin dingin yang menusuk kulitnya. Sepersekian detik setelah menganalisa, Iris biru terbuka lebar, mencoba memastikan kenyataan yang dilihat oleh kedua bola matanya atau hanya ilusi kantuk semata, karena di dahi gadis itu…

"Sekirei!" bibirnya mengucap dengan nada pelan nan lirih sembari menghembuskan nafas.

Naruto tahu sangat tahu apa makna dari lambang Sekirei di dahi, tak lain adalah sebuah kegagalan. Ya, sebuah kegagalan, atau bisa dibilang adalah sebuah kutukan bagi semua Sekirei yang dipasangkan tanda itu, karena itu berarti mereka takkan bisa menemukan tuan mereka, dengan kata lain…

Sendiri selamanya.

Miris, hatinya terasa tersayat-sayat, dia tahu, sungguh tahu apa itu dan bagaimana rasanya sendirian. Karena dimana saat iris matanya masih berwarna biru lautan dalam tanpa cahaya dia melihat semuanya. Sebuah tontonan yang harusnya hanya boleh dilihat oleh orang dewasa. Tapi, apa mau dikata warna putih disana teralu samar hanya ada hitamm pekat yang selalu mengiringi kemanapun dia pergi.

Jika kalian menduga jika Naruto hidup di lingkungan berkualitas dengan keluarga kaya.

Percayalah, dugaan kalian 100% salah kaprah.

Begitu banyak jeritan pilu tapi dia memilih menutup telinga, begitu banyak bau anyir dan amis tapi dia memilih menahan nafas, begitu banyak darah suci tak punya dosa, cairan laknat para bedebah tapi dia memilih untuk menutup mata. Walau harus menahan pita suara yang ingin menjerit pada saat itu juga, walau harus menahan dinginnya malam yang menusuk kulit. Meringkuk dalam kegelapan kesepian, tak ada seorang pun yang tahu, jika pun ada yang peduli dan bertanya 'Kau kenapa?'

Senyum palsu akan mengembang di bibirnya dan dia akan berkata 'Aku tidak apa-apa' walau sungguh dia membutuhkan sebuah dekapan. Tapi apa mau dikata, sejak dia lahir kedunia ini dia sudah sendiri.

Tapi setelah kedua orang itu datang semuanya terasa berubah, dulu yang hitam kelabu kini menjadi penuh warna, sesuatu yang dulu selalu dingin kini mulai menghangat dan mengembanglah sebuah senyuman tulus.

Lautan yang selalu gelap tertutup badai kini menjadi cerah seperti langit musim panas.

Dua orang yang sungguh amat berarti dalam hidupnya, 2 orang yang membuatnya mempunyai sebuah tujuan, 2 orang yang mampu membuatnya melupakan duka hidup yang tak pernah kunjung hilang dalam ingatan dan dua orang yang membuatnya bersumpah untuk pertama kalinya dengan saksi langit dan bumi…

Misi seumur hidup : Lindungi semua yang berharga

Salah satu diantaranya adalah seorang bocah kecil dengan candaan dan hati baiknya dan satu lagi…

Seorang gadis yang pertama kali menamparnya karena sebuah senyuman yang penuh akan kepalsuan.

Tersadar dari nostalgianya Naruto mencoba menyadarkan dirinya dan kembali ke dunia nyata. Kembali menatap sekitar dan masih mendapati sang gadis duduk dengan posisi yang tak berubah sedikitpun. Hati kecil seolah membisikkan sesuatu kepadanya. walau sebagai seorang ilmuan yang hebat, tapi hatinya masih sebagai acuan utama dibandingkan akal dan pikiran.

Karena ajaran gadis sialan itu sudah melekat bagi perangko dengan surat. Sekali-kalipun dia mencoba melupakannya seolah-olah otaknya akan memutar kenangan itu kembali sebagai roll film yang terus berputar sehingga kembali menempel lekat di otaknya.

Benar-benar gadis yang merepotkan.

Dan saat itu keputusannya sudah bulat…

'Aku akan menolongnya.'

Langkah demi langkah yang penuh akan tekad dan keyakinan dia pijakkan di atas dunia yang keji ini. Mendekat ke arah sang gadis dengan maksud untuk membebaskannya dari kesendirian, dan disaat dia sudah membuat keputusan yang bulat…

Tak ada apapun yang mampu menghentikannya.

"Kenapa kau sendirian?" Sembari duduk bersebeahan Naruto bertanya.

Tidak ada respon sama sekali, dia masih tetap duduk dengan pandangan tak menentu.

Naruto menghela nafas, "Setidaknya jawablah jika seseorang bertanya kepadamu!"

"Aku… tak tahu harus kemana." Sebuah jawaban yang jujur terlontar dari mulut gadis itu, tak di beritahu'pun Naruto mengerti karena wajah yang tanpa ekspresi itu seolah telah menyiratkan semuanya ke Naruto tentang siapa, kenapa dia disini dan bagimana dia sekarang.

Sungguh Naruto ingin sekali mendekapnya.

"Kalau boleh tahu siapa namamu?"

"Akitsu." Lagi-lagi wajah dingin dan nada suara yang datar.

Tapi walau terkesan sama sekali tak dihiraukan Naruto tetap teguh pada pendiriannya. Dia malah tersenyum hangat, bagai seorang ayah kepada anaknya, siapapun bisa melihat bahwa kasih sayang dan kelembutan ada di dalamnya. "Namaku Naruto, yoroshikuna Akitsu."

Akitsu heran, heran sekaligus tak mengerti dengan orang yang tengah tersenyum di hadapannya. Dia sungguh tak mengerti dan tak mengetahui untuk apa dia tersenyum? Apakah dia tersenyum untuknya, tidak tidak mungkin, tapi jika memang iya untuk apa? Haruskah dirinya yang rusak ini pantas diberikan sebuah senyuman sehangat itu?

"Apa kau tidak punya saudara?"

Akitsu terdiam

"Orang tua mungkin?"

Akitsu masih terdiam.

Kenapa Akitsu terdiam? Satu alasan yang membuatnya begitu, karena dia tak ingin mengucapkan sebuah kata yang mengecewakan untuk seseorang yang telah memberikannya sesuatu walau hanya sebatas senyuman.

Naruto mengerti, lebih mengerti dari siapapun. Sorot mata itu, pernah menjadi iris matanya, dahulu kala. Gelap dan tanpa cahaya ekspresi datar yang tak bisa diartikan. Dia tahu semuanya, karena semua itu pernah menjadi bagian dalam hidupnya…

Dahulu kala.

"Apa kau punya seorang Ashikabi?"

Akitsu terkejut, tapi wajahnya esnya masih bisa mengubur hal itu jauh-jauh.

"Tidak." Kali ini dia memutuskan untuk menjawab walaupun dengan nada yang sama juga seperti tadi.

Naruto kini beranjak dari tempat duduknya, ia berdiri dan kemudian menghadap Akitsu dan merentangkan kedua tangannya. "Bagaimana jika aku menjadi Ashikabimu?"

Akitsu terkejut, lebih sangat terkejut jika diban

Sungguh Akitsu tak menyangka, jika hari ini akan tiba. Waktu dimana seseorang tiba di hadapannya menghampirinya ditengah kesendirian dan mengembangkan senyum tulus nan hangat untuk dirinya, merentangkan tangannya seolah ingin mendekapnya, sesuatu yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya…

Persis seperti apa yang dikatakan oleh Editornya.

"Benda yang rusak sepertiku bisa apa."

Akitsu tersentak karena tiba-tiba dua tangan besar menyentuh bahunya. Itu adalah tangan Naruto yang kini menatap Akitsu dengan ekspresi tak suka.

"Jangan sebut dirimu benda kau adalah makhluk hidup, jangan katakan itu lagi, aku bisa saja marah!"

Akitsu tak lagi menatap mata biru Naruto, kini dia mengalikan pandangannya ke bawah, karena dia merasa tak pantas menatap mata biru yang dipenuhi cahaya kehangatan.

"Maaf."

Raksi Akitsu membuatnya mendongakkan kepala. Melepaskan tangannya dari atas bahu Akitsu dan menatap langit malam yang hitam.

*Deg*

Seorang gadis kecil berjongkok di tanah membelakangi Naruto yang tengah berdiri menatapnya, melihat seekor burung yang tergeletak di tanah yang penuh dengan lumpur dengan keadaan yang buruk"Ne, Naruto-kun apa kau tahu bagaimana membuat burung yang terluka kembali terbang?"

Naruto kecil memiringkan kepalanya " Memberinya obat?"

Gadis itu berdiri, mendekap hangat burung biru itu kedalam pelukannya "Bukan!"

Naruto tambah tak mengerti "Jika bukan, Lalu apa?"

Wajah gadis itu mendongak ke arah langit, melihat langit yang cerah tanpa satu pun awan, karena hujan baru saja turun membasahi alam. "Kasih sayang." Ucapnya dengan lirih.

"Kasih sayang?"

Dengan wajah yang masih mengadah ke langit dia memejamkan mata. "Iya, sebuah kasih sayang yang tulus..."

Dia mengelus pelan burung itu "…Sebuah kasih sayang yang lembut pelahan akan menghangatkan hatinya, kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya…"

"…menyembuhkan lukanya bagai perban yang lembut…" burung itu perlahan mulai bergerak.

"…jika dia masih tak berani untuk terbang, maka yakinkanlah, jika langit takkan menyakitinya, walau takdir kadang kejam tapi yakinkanlah, scenario Tuhan takkan pernah menyulitkan makhluknya…" Si gadis itu tersenyum gembira mendapati sang burung mulai bergerak.

"…Yakinkanlah, suatu saat dia akan menemukan sebuah keluarga yang bahagia." Dan tiba-tiba burung biru itu terbang, dari pelukan sang gadis ia terbang bebas tanpa ada yang menghalanginya, mengepakkan sayapnya yang dipenuhi dengan bulu-bulu yang halus di angkasa yang sama indahnya seperti warnanya.

"Tapi…"

"Tapi…?"

"Jika dia kembali lagi…"

Si gadis kecil itu kemudian berbalik menghadap Naruto kecil yang masih setia berdiri di sana, dan angin lembut juga menggerakkan rambutnya hingga tergerai, dengan latar sebuah pelangi indah yang penuh akan warna, seulas senyum lebar mengembang di wajahnya.

"Berjanjilah satu hal Naruto-kun, kau akan memberinya sebuah kasih sayang yang tulus semumur hidupmu."

Kenangan itu kembali terngiang di memorinya, entah apa yang direncanakan Tuhan dengan mengingatkannya sebuah kenangan penting yang hampir saja dia lupakan.

'Kasih sayang ya?'

Naruto kembali mengalihkan pandangannya ke Akitsu. "Ayo Akitsu." Naruto mengulurkan tangannya. "Aku akan menjadi sebuah tempat untuk pulang untukmu, sebuah tempat yang hangat dan nyaman sampai-sampai kau tak bisa pergi meninggalkannya…"

"…percayalah padaku." Sebuah senyuman mengembang di wajah Naruto, sebuah senyuman kasih sayang, senyuman yang menyambut Akitsu, sebuah senyuman sebagai pelindung Akitsu dari dinginnya dunia.

Senyuman yang sama seperti gadis itu.

Akitsu kembali mendapati mata itu, mata biru hangat yang siap mendekapnya dikala air mata keluar dari sudut matanya, mata yang berkilau yang akan menaunginya dari semua hal yang menyakitinya.

"Benarkah?"

Dengan senang hati Naruto menjawab "Tentu saja."

Akitsu tak bisa menemukan sebuah kebohongan dari kata-katanya walau hanya sebesar biji atom.

Dan Akitsu juga memilih untuk menerima uluran tangan Naruto dengan perasaan gembira yang menguak di hatinya.

Pada akhirnya dia mendapat sebuah tempat…

Untuk pulang

'Ashikabi-sama'

.

.

.

.

To Be Continue

.

Huah sumfah, saya lega bisa menyelesaikan ini, setelah sekian lama saya ngetik ini yang entah kenapa selalu saja ada halangannya. Sebenarnya setiap hari saya ada kemuan untuk mengetik ini tapi entah kenapa halangan itu elalu membentang di depan tapi pada akhirnya saya bisa dan semoga tak terlalu banyak typo di sana.

Jadi bagaimana aneh kah? Jelekkah? Sejauh ini ide dan pikiran saya sudah saya tuangkan hampir semua kedalam sini, jadi saya mohon kalian semua yang membaca untuk mereview walau hanya dengan kata 'lanjut'. Atau para reader sekalian yang masih ragu untuk menekan tombol fav and follow jangan ragu-ragu hohohoho *disambit parang*

Dan soal character tambahan ya memang saya mengambil dari beberapa anime yang kiranya bisa mendukung cerita, apa kalian sudah bisa menebak siapa chara yang disebut Necromancer? Bagi yang sering ngesurvival anime dan koleksi yang bejibun pasti tahu siapa dia karena cluenya sudah sangat banyak saya berikan.

Oh ya untuk pair saya butuh saran, saya membutuhkan referensi chara dari kalian semua untuk berkembangnya cerita ini. Jadi kalau bisa setiap meriview anda sertakan nama chara female dan sebuah alasan, apapun alasannya saya terima karena seperti yang saya tuliskan di chapter sebelumnya saya hargai pendapat kalian.

Sekali lagi jika ada hal yang kurang srek atau semacamnya saya persilahkan untuk bertanya dan insya Allah saya akan menjawabnya lewat PM jika ada waktu.

Sekian

Oh ya ada omakenya juga

.

.

Omake.

Hiruk pikuk malam terjadi di tengah kota Tokyo. Dimana semua orang masih sibuk dengan pekerjaan walaupun jam sudah hampir menunjukkan larut malam. Lampu kendaraan masih menyala, layar monitor iklan juga masih menyala dengan terangnya. Seolah tak ada kata tidur untuk kota ini, siang maupun malam.

Diantara orang-orang yang hanya memikirkan tentang uang dan uang, di atas gedung seorang laki-laki berambut hitam berdiri di atas sebuah gedung yang menjulang tinggi. Memejamkan mata di tengah keramaian kota dia memilih berdiam di sini. Daripada mengejar kesemuan dunia.

"Bagaimana kabar mereka ya…" dia bergumam lirih.

"Minaka, Seo dan Takami…"

"Takehito…"

"Ah, Hermes juga."

Dia kemudian membuka mata.

Dan sebuah iris hijau menyala Nampak bersinar.

-Batas-

"Heeeh kau mengambil si Haiki number? Seleramu ternyata yang begitu ya Naruto!"

"Oy oi apa-apaan kau, lagipula apa yang kau maksud dengan seleraku? Memangnya ada yang salah?"

"Inget, jangan langsung main yang hard yang soft soft dulu aja."

Dahi Naruto berkedut, dia tahu apa yang sedang difikirkan Takehito. "Oy, walaupun udah lama ngejomblo juga, nafsu masih bisa dikontrol, lagian istrimu juga bakal nyincang aku duluan."

"Baik-baik, jadi kenapa kau menelfonku malam-malam?"

Naruto menghela nafas "Begini, aku ingin bertanya tentang data Akitsu."

"Oh tentang dia, Tanya saja pada editornya!"

"Nah justru itu aku menelf…- eh editornya bukan kau!?"

"Bukan."

"Eeeeh, bukan? Apa maksudmu!?"

"Walaupun sebagian besar nomor tunggal yang menyesuaikannya adalah aku tapi, untuk nomor 7 bukan diriku."

"Lalu siapa?"

"Siapa? Apa kau sendiri sudah lupa!?"

"Cepatlah!"

"Baik-baik bagaimana jika kuberi tebak-tebakkan, apa yang samar tapi mengungkap segala yang samar."

Mata Naruto membulat sempura dia menghentikan langkah kakinya yang diikuti juga oleh Akitsu yang ada di sebelahnya, "Jangan-jangan…"

"Bukan jangan-jangan tapi memang dia…-"

"Locious Lawliet."