Discalimer: Masashi Kishimoto

Pairing: NaruxSasu

Warning: sho-ai, crack, aneh, gaje dan typo


Daily Life of Yakuza


.

.

.

Naruto menatap dengan wajah horor ketika melihat rumah kontrakannya. Matanya melirik Minato dengan penuh tanda tanya.

"Ayah, kau serius?" Tanya Naruto ke-sepuluh kalinya pada Minato. Minato hanya berbalik menatap anaknya dengan wajah polos sambil mengangguk.

"Ya, Begitulah.." Jawab Minato seadanya sambil menepuk pundak Naruto seakan-akan mengatakan 'Selamat terdampar di kontrakkan kumuh dan kotor anakku tersayang'

DUAAAGGHH!- Naruto menendang Minato hingga terbang bebas di angkasa.

"Jangan Seenaknya Mengatakan "Ya Begitulah" Dasar Orangtua Tidak Berguna!" Teriak Naruto tidak terima.

"Astaga, lama-lama aku akan kena darah tinggi kalau begini terus, sial." Naruto memijat kening nya yang nyut-nyutan. Disebelahnya Sasuke dan Fugaku hanya menatap diam melihat rumah kontrakkan itu.

Fugaku melirik sekilas ke arah Sasuke, tetapicowok berambut raven itu hanya diam saja.

"..." Fugaku masih diam.

"..." Sasuke menatap ayahnya.

"..." Fugaku tetap diam.

"Yuk pulang, ayah..." Kata Sasuke sambil masuk ke dalam porsche hitam miliknya tanpa dosa.

"Tunggu Dulu, Hei Kau Teme Yang Seenaknya Sendiri!" Geram Naruto sambil menarik Sasuke dari mobilnya.

"Ada apa sih, dobe?" Jawabnya tidak peduli sambil merapikan jas birunya.

"Kau ingat? Kita akan tinggal berdua disini. Jadi kau tidak boleh pergi, mengerti?!"

"Hm... Aku tidak tertarik tinggal disini." Lagi-lagi Sasuke hanya mendengus kesal.

"Tapi... Kita... Harus.. Tinggal... Disini... Mengerti... Teme?!" Kata Naruto penuh penekanan di setiap katanya.

Sasuke menatap Naruto yang 1 inchi lebih tinggi darinya dengan diam. Naruto membalasnya dengan tatapan melotot.

Sasuke membalikkan wajahnya malu-malu sambil memegang salah satu pipinya, "Aku belum siap, Naruto-kun..." Katanya dengan nada menjijikan.

"BUKAN ITU YANG KUMAKSUD, TEME!" Teriak Naruto yang ingin sekali membunuh Sasuke dengan pisau yang entah didapatnya dimana. Untung saja, Minato dan Fugaku sudah menahan Naruto.

Sedangkan Sasuke terduduk di lantai dengan gaya 'istri yang dianiaya suami'. "Naruto-kun, kau kasar sekali." Kata Sasuke lagi-lagi dengan nada menjijikan. Naruto makin hilang kesabarannya.

"Lepaskan aku! Aku bunuh dia sekarang! AKU BUNUH SI TEME INI!"

"Sa..sabar, Naruto..." Kata Minato sambil menahan Naruto dengan tali kekang anjing.

.

.

Plok-Plok-Plok... Suara tepukan membuat Naruto berbalik.

Diatas atap rumah kontrakkan itu berdiri seorang pria berambut silver dengan masker menutup setengah wajahnya.

"Adegan yang menarik sekali." Katanya penuh nada misterius, kemudian melemparkan kepulan asap bom dan menghilang.

"Di..dia menghilang..." Seru Naruto penuh kekaguman dan kaget.

"A..anu... Aku disini... Halo.." Kata suara misterius tadi yang kini jatuh dengan gaya jungkir balik di tanah.

"LALU UNTUK APA KAU BERGAYA KALAU TERNYATA JATUH JUGA!" Teriak Naruto sambil menunjuk makhluk itu dengan tidak berprikemanusiaan.

Laki-laki itu tidak menjawab, dia merapikan hakama nya kemudian melirik Naruto, "Aku pemilik kontrakkan ini." katanya lagi.

"AKU TIDAK BERTANYA!" Naruto hampir saja membalikkan rumah kontrakkan kalau tidak ditahan Sasuke.

Plok- "Baiklah, cukup perkenalannya. Ayo kita masuk." Kata pria tadi menuntun masuk ke rumah.

"PERKENALAN APANYA! DARITADI KAU HANYA MELAWAK!" Teriak Naruto lagi, kali ini siap-siap mengeluarkan semburan api dari mulutnya.

Laki-laki berambut silver tadi melirik Naruto dengan tajam, Naruto Tersentak kaget.

"A..Ada apa?" Tanya Naruto sedikit panik.

"Kau benar, kita belum berkenalan.. Ha.. Ha..ha.." Kata laki-laki tadi sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"KENAPA BARU SADAR SEKARANG!" Teriak Naruto lagi yang ingin melempar pisaunya ke orang itu.

Naruto masih mendengus kesal sedangkan Sasuke hanya menatap diam ke arah cowok blonde yang berada disampingnya ini.

"Naruto..." Panggil Sasuke pelan, Naruto meliriknya dengan galak.

Sasuke bergerak pelan ke arah Naruto, lalu berbisik, "Kau lagi datang bulan ya?"

"JANGAN IKUT-IKUTAN NGELAWAK!" Teriak Naruto sambil menggeplak dada Sasuke dengan punggung tangannya.

"Bhuuu... Kau tidak seru, ah... Padahal aku'kan cuma bercanda." Kata Sasuke lagi sambil menggembungkan kedua pipinya.

Naruto menghela napas dalam-dalam. 'Aduh, kalau begini terus, otakku bisa kena serangan jantung.'

.

.

.

Kakashi berjalan menuju pintu depan rumahnya, kemudian berbalik ke arah tamu-tamunya dengan cepat.

"Selamat datang... Di Rumahku." Katanya penuh dengan nada ceria sambil membuka pintu depan dengan perlahan, seakan-akan berusaha membuat efek dramatis.

Akhirnya pintu depan terbuka lebar.

Naruto terbelalak kaget.

Sasuke melotot.

Minato dan Fugaku ber-blushing ria kemudian membalikkan wajah mereka.

Dihadapan mereka, bukan terdapat ruangan pada umumnya melainkan terdapat kamar penyiksaan dengan berbagai properti BDSM.

Ada cambuk, tali, kuda kayu, rantai, lilin menyala, dan benda aneh lainnya yang tidak diketahui Naruto.

Tetapi bukan itu yang membuat Naruto kaget.

Dihadapan mereka, seorang pria telanjang tanpa pakaian sama sekali dengan wajah dan tubuh eksotis sedang diikat di sebuah papan. Bagian bawah pria itu terekspos dengan sempurna.

Laki-laki berambut silver tadi tidak menampakan ekspresi. Mereka semua kaku selama satu seperkian detik kemudian detik selanjutnya Kakashi memencet sebuah tombol dan rungan tiba-tiba berubah menjadi ruangan biasa rumah kontrakkan.

"Baiklah, mari kuajak ke ruang tamu." Kata pria berambut silver tadi seakan-akan kejadian 1 detik yang lalu tidak pernah terjadi.

"APA YANG TADI ITU! JANGAN PURA-PURA TIDAK TAHU!" Naruto menendang telak kepala pria rambut silver tadi hingga terjungkal ke dinding rumah.

"Ya ampun... Kau kasar sekali." Kata pria tadi sambil bangkit seakan-akan tendangan Naruto tidak ada apa-apanya.

Tiba-tiba darah segar muncrat dari kening pria silver tadi seperti air mancur. Sasuke yang melihat langsung kaget dan menunjuk ke arah kening laki-laki itu.

"Anu... Kau berdarah." Kata Sasuke.

Pria tadi hanya diam sedetik, kemudian, "Ah... Disini ruangan tamunya. Ayo masuk." lanjutnya tanpa peduli.

"JANGAN SOK KUAT!" Teriak Naruto penuh kesal.

.

.

.

Mereka duduk di ruangan tatami sambil mengelilingi meja kayu kecil, cawan teh hijau dan beberapa cemilan sama sekali tidak disentuh Naruto, matanya menatap geram pria silver tadi.

"Aku tidak peduli namamu Kakashi atau siapalah. Aku yakin kau penculik!" Geram Naruto kepada laki-laki berambut silver itu.

Minato berusaha menahan Naruto, "Hentikan Naruto, Dia bukan penculik."

"Tapi ayah, jelas-jelas kita melihat dia menyandera seorang pria. Dia menculik dan menyiksanya seperti itu." Jelas Naruto keras kepala.

"Dia tidak menyandera apalgi menyiksa pria itu." Kata Minato lagi, wajahnya tampak bingung menjelaskan hal-hal aneh pada Naruto. Walaupun umur Naruto sudah 18 tahun, tetapi dia sama sekali polos soal "dewasa" dan sebagainya.

Minato menatap Fugaku untuk meminta bantuan, tetapi Fugaku hanya diam.

Sedangkan Sasuke menikmati teh hijau dan cemilan yang dihidangkan dengan anggun, "Dobe, aku tahu kau bodoh. Tapi aku tidak menyangka kalau kau benar-benar sebodoh ini."

"APA MAKSUDMU TEME!" Naruto menggebrak meja tidak terima.

Greeeekkk- Suara pintu ruang tamu digeser, menampilkan seorang pria yang dikenal Naruto sebagai sandera yang ditawan Kakashi.

Tetapi pria dihadapannya ini sama sekali tidak terlihat sebagai korban. Baju hakamanya membuatnya menawan dengan warna hitam dengan motif bunga teratai putih. Belum lagi dia selalu tersenyum ramah.

"Maaf karena saya telat memperkenalkan diri. Saya Iruka, ketua Jiraiya sudah memberitahu tentang kedatangan anda kemari. Dan soal kejadian tadi, saya mohon maaf." Katanya sambil membungkuk penuh sopan ke arah Naruto, Sasuke, Minato dan Fugaku.

"Ti..tidak apa-apa." kata Minato salah tingkah menanggapi bahasa formal Iruka sedangkan Fugaku hanya diam tidak peduli.

Pria tadi tersenyum malu-malu kemudian menatap Kakashi yang mengedipkan mata dengan genit ke arahnya.

"Baiklah, saya pamit dulu." Kata pria tadi.

Naruto hanya menatap diam. Bingung dengan apa yang terjadi.

Padahal dia jelas-jelas disiksa, kenapa dia diam saja? Kenapa tidak memanggil polisi? "Aaaagghhhh... Aku sama sekali tidak mengerti!" Teriak Naruto dengan nada frustasi sambil mengacak-acak rambut kuningnya.

"Maa...maaa...Kau itu tidak mengerti ya?" Kata Kakashi lagi. Naruto menatapnya dengan bingung.

Kakashi tersenyum dibalik maskernya, tangannya merengkuh dagu Naruto, "Bagaimana kalau kuajarkan sedikit tentang hal 'itu'?" Nada Kakashi berubah menjadi sedikit genit.

TAAKK!- sebuah pisau menancap dengan sempurna di meja, tepat membelah dua bagian cawan teh milik Kakashi.

"Maaf, tanganku licin." Kata Minato dengan wajah tersenyum polos. Kakashi langsung pucat.

"A..Aha..ahahaha.. Ber..bercanda kok, Minato-sama." Kata Kakashi sambil bersujud dihadapan Minato. Bahkan Fugaku yang berada disamping Minato langsung mundur 2 meter. Wajah Fugaku langsung berubah horor memandang wajah 'malaikat' Minato.

.

.

.

_08.00 malam, Di kediaman Kakashi_

Naruto merebahkan tubuhnya di futon, matanya melirik jam weker disampingnya. Pukul 8 malam. Sudah dua jam sejak Minato dan Fugaku pulang. Tetapi aku masih heran, kenapa wajah Kakashi menjadi pucat dan horror? Padahal ayah hanya berbisik, "Titip Naruto dan Sasuke ya, Kakashi-san." dengan wajah tersenyum.

Sasuke yang berada disampingnya melirik Naruto, "Kau tidak mandi?" Kata Sasuke sambil menutup buku yang dibacanya.

"Aku malas. Kau saja mandi." Kata Naruto sambil menikmati acara malas-malasan di futon nya.

"Baiklah..." Kata Sasuke. Cowok berambut hitam itu berdiri kemudian dia diam tidak bergerak.

Naruto menatapnya bingung, "Ada apa? Kau tidak tahu dimana kamar mandinya?"

"Bukan itu..." Jawab Sasuke.

Naruto makin bingung."Lalu apa?" Tanyanya lagi.

Sasuke berbalik menatap Naruto, "Aku tidak tahu cara mandi sendiri. Selalu ada pelayan yang memandikanku."

"A..APA! Kau itu manusia apa bukan sih?!" Teriak Naruto tidak percaya. "...Jangan Bercanda! Sana Mandi!" Sambung Naruto lagi, malas meladeni cowok manja dihadapannya ini.

Tetapi Sasuke hanya menunduk, Naruto dapat melihat wajah cowok angkuh itu merona merah, pasti dia malu karena dianggap seperti anak kecil oleh Naruto.

"Gaaahhh... Ya ampun.." Naruto menggaruk-garuk kepalanya. "Kalau begini apa boleh buat... Se..sepertinya aku harus mandi juga... Ka..Kau mau ikut, Teme?" Sambung Naruto lagi. Matanya melirik ke arah lain, berpura-pura menutupi niat baiknya.

Sasuke mantap Naruto, walaupun tidak dapat melihat dengan jelas, Naruto yakin cowok manja ini tersenyum sedikit ke arahnya.

.

.

.

Mereka sudah berputar-putar dua kali di dalam rumah, tetapi sama sekali tidak menemukan kamar mandi.

"Padahal rumah ini terlihat sempit, kenapa malah terlihat lebih luas saat di dalamnya." Kesal Naruto lagi.

"Kau tidak lihat saat kita pertama kali masuk? Kakashi-san bahkan memiliki ruang rahasia digubuk ini. Mungkin kita seperti dilatih untuk menjadi mafia yang hebat." Jelas Sasuke sambil membuntuti Naruto.

"Hmm.. Masuk akal. Makanya kakek tua itu meminta kita tinggal disini, ternyata untuk berlatih, ya." Kata Naruto sambil menangguk sok mengerti.

"Tapi aku capek berjalan, Dobe." Erang Sasuke.

"Jangan manja, ayo jalan lagi." Naruto menarik paksa Sasuke hingga mereka menemukan sebuah pintu yang bertuliskan 'Pemandian Air Panas'.

"He?" Naruto bingung. Kemudian membuka pintu perlahan. Didalamnya sebuah pemandian luas, dengan kolam-kolam porselin cantik dan patung malaikat membawa cawan yang mengeluarkan air mancur.

Di dalam kolam itu, terlihat Kakashi sedang berendam dengan damai. Matanya menangkap sosok Naruto dan Sasuke. "Ah... Hoi Naruto! Sasuke!" Kakashi melambai ke arah mereka.

"Apa-apaan ini? Kolam megah di dalam gubuk?" Tanya Naruto tidak percaya.

"Bagus, kan?" Kata Kakashi penuh bangga.

"Tunggu dulu, kau memiliki kolam air panas di dalam gubuk tetapi kau menyewakan kamar kecil berukuran sempit untuk kami?"

"Yup, Begitulah.." Kata kakashi tidak peduli.

"ITU CURANG TAHU!" Teriak Naruto tidak terima.

Walaupun terkesan curang tetapi Kakashi hanya diam saja, pikirannya masih mengingat kata-kata Minato sebelum pulang tadi.

"Sewakan mereka kamar paling kecil, aku ingin mereka tumbuh menjadi dewasa. Jangan pernah memanjakan mereka atau hal yang aneh-aneh pada mereka... Kalau tidak aku bisa membelahmu menjadi dua, mengerti?" Kata Minato lagi. Tanpa dilihat oleh Naruto dan Sasuke, Minato mengeluarkan tampang preman jalanan ke arahnya.

Saat Naruto dan Sasuke berbalik menatap Minato kembali, Pria berambut pirang itu berubah menjadi 'angel' dengan senyuman polos, "Aku titip Naruto dan Sasuke ya, Kakashi-san..." Sambungnya lagi penuh dengan senyum tidak berdosa.

Kakashi mengeluarkan airmata dalam diam. Kenapa sensei yang manis itu ternyata memiliki wajah paling mengerikan dibandingkan Fugaku? Padahal Minato-sensei sangat manis. Dunia memang kejam.

Sasuke yang tanpa tahu apa-apa, melihat Kakashi menangis langsung menyalahkan Naruto.

"Lihat perkataanmu menyinggung Kakashi-san, cepat minta maaf, Dobe. Kalau tidak kita bakal diusir dan menjadi gembel dijalanan."

"Eh? E...eh? Ta..tapi aku tidak terlalu keras kok berteriak padanya." Jawab Naruto panik.

Naruto langsung berusaha menenangkan Kakashi-san dengan panik, sedangkan disebelahnya Sasuke masih menyalahkan Naruto. Dan Kakashi? Masih menangisi wajah manis Minato.

.

.

-Di dalam ruang penyiksaan-

"Hmmm... Malam ini main dengan benda apa lagi ya?" Bisik Iruka yang menimbang-nimbang antara tali atau cambuk. Kakashi lebih suka yang mana ya? Tali atau cambuk ya? Katanya dalam hati.

"Tapi aku lebih suka di ikat." Sambungnya lagi dengan senyuman polos. "Baiklah, main dengan tali lagi."

.

.

.

TBC

XD Yak, begitulah... maaf kalau rada aneh.. hehehe