Story: LO to the VE, LOVE.

Disclaimer: Naruto © Masashi Khisimoto

Rating: T

Genre: Romance & Friendship (Ada usul perubahan genre?)

Pairing: SasuNaru (Yaiyalah!), Slight NaruHina

Warning: AU,Shounen ai, yaoi, boyXboy !, OOC!, typos, DONT LIKE,DONT READ!

Author's note: Chapter 2 is coming! semoga suka Minna-san, maaf karena lama sekali updatenya.

((Have a nice read))


Chapter 2: Strawberry Chessecake and a Cup of Black Coffee

Strawberry cheesecake adalah makanan yang amat manis di lidahmu, tapi jika yang menemaninya adalah secangkir black coffee yang pahit, rasa apakah yang akan berakhir di lidahmu? Mungkin pahit?, tetapi mungkin juga Manis, dan begitulah CINTA.


Kamar 201, ditinggali oleh 2 orang mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di sebuah universitas terfavorit di Konoha, Konoha University. Hari ini, jadwal masuk adalah pada saat sore hari, jadi ada beberapa waktu santai untuk kedua mahasiswa kita yang terbilang sibuk dengan tugas-tugas di jurusannya masing-masing, terutama pada seorang pemuda berambut spike berwarna dark blue yang sedang berkutat dengan laptop hitamnya, membuat berbagai macam tabel dan hitungan Matematika yang benar-benar , sudah sejak tadi pemuda bermata onyx kelam itu membuat jamari-jemari panjangnya menari-nari di atas keyboard dengan piawai, pupil hitamnya bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti huruf-huruf yang terketik menjadi sebuah kata.

Sasuke, —nama mahasiswa yang tengah sibuk itu— sesekali tampak menghentikan jari-jarinya yang mengetik sambil menatap bingung pemuda berambut blonde yang ada di depannya. Seorang mahasiswa jurusan seni yang tinggal 1 apartemen dengannya, sahabat serta rivalnya sejak lama, yang dari gerak geriknya sejak tadi sedang mengecek hasil-hasil fotografi yang baru saja dicetak di tangannya.

Lalu, apa yang aneh dengan pemuda pirang itu sampai-sampai sekarang Sasuke benar-benar teliti melihat kelakuannya dengan 1 buah alis terangkat? Oh— mungkin alasan sebenarnya adalah karena si pemuda pirang itu sama sekali tidak menunjukan muka serius seperti layaknya orang-orang yang sibuk dengan tugasnya, raut mukanya malah jauh lebih terlihat seperti orang yang sedang mengkhayal keenakan. Mata kosong menatap ke langit-langit, tangan masih mengotak-atik foto, bibir tersenyum lebar, dan iler di sudut bibir.

Apa mungkin sebenarnya dia memang benar-benar sedang mengkhayal? atau sedang terkena suatu penyakit yang mungkin masih bersaudara dengan epilepsi? —mengingat ada beberapa aliran lava yang keluar dari sudut bibir si pemuda pirang bernama Naruto itu—

"Dobe, berhenti memasang muka menjijikan seperti itu!" kata Sasuke sarkatis, dengan masih memfokuskan sebagian otaknya pada program word di laptopnya. Si Dobe a.k.a Naruto, tersentak kaget( sekarang kita tahu bahwa dia tadi benar-benar berkhayal), dia baru saja kembali dari alam mimpinya menuju dunia nyata yang kejam dimana hidup seorang pemuda menyebalkan nan iblis titisan Lucifer generasi ke sepuluh.

Naruto mendengus, berpura-pura sibuk dengan lembaran-lembaran foto yang ada di tangannya. "Muka seperti apa, Teme? aku rasa mukaku baik-baik saja, tetap tampan seperti biasanya, harusnya—muka brengsekmu itulah yang harus kau hilangkan!" balasnya ketus.

"Uhuk!" terdengar batukan kecil dari balik laptop yang menutupi wajah Sasuke, lalu tak lama kemudian Sasuke memperlihatkan wajahnya dari balik layar laptop sembari bergumam, "Tampan? kheh.. kau bercanda Dobe?..."

Naruto mengembungkan pipinya kesal, lalu melempar Sasuke dengan sebuah bantal kecil di dekatnya. "Urus saja tugasmu itu Temeee! jangan menganguku!"

"Aku tidak mengangumu, Dobe... justru kau yang menganguku dengan wajah menjijikanmu tadi!"

"Diam kau, Teme baka! Berhentilah mmengatakan hal menyebalkan seperti itu!"

"Hn.."

Dan hening, kedua pemuda ini kembali lagi dalam kesibukannya masihng-masing, seperti tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Sasuke kembali lagi mengetik pada laptopnya dan Naruto akhirnya mengisi kekosongan ini dengan berkhayal lagi.

.

.

.


Jam 08.00 malam, saat makan malam.

Inilah keajaiban dunia yang ke-delapan, entah bagaimana ceritanya, Naruto mengabaikan semangkuk ramen panas di depannya dan lebih memilih mengaduk-aduknya sambil tersenyum-senyum tidak jelas "Huehehuehuehue..." tawanya, membuat Sasuke yang juga sedang makan di hadapannya menelan makanannya dengan susah payah karena terlalu takjub dengan perbedaan yang terlalu aneh untuk Naruto.

"Dobe...?" Sasuke memanggil, membuat Naruto yang tampaknya tadi juga sedang berkhayal tersentak kecil. Naruto mengangkat wajahnya, melihat Sasuke dengan wajah yang seperti berkata 'Apa-kau benar-benar, si Dobe?'

"Apa? Teme?" tanya Naruto sambil mengerutkan kedua alisnya, lalu menyuapkan beberapa helai mie ramen ke dalam mulutnya, —setelah beberapa waktu yang lalu, Naruto sama sekali tidak menyentuhnya—.

"Hn..." Sasuke menjawab dengan 2 huruf andalannya, membereskan peralatan makannya, sambil berkomat-kamit kecil mengatakan 'Gochisousama', lalu mengambil sebuah tomat dari tempat buah-buahan sebagai pencuci mulut, berdiri dan membawa piring sisanya ke bak cuci sembari berkata "Hari ini giliranmu mencuci piring, Dobe..."

"Hmmmm...hmmm.. nyam..nyam.. ihaa, Hemee (Iya Teme)" balas Naruto dengan mulut penuh ramen, "Herahhkan haha pahahu (serahkan saja padaku) nyam, nyam.." lanjutnya kemudian.

Beberapa saat setelah itu, Sasuke melangkahkan kakinya ke arah sebuah lemari kaca di dalam dapur itu, membukanya dan mengeluarkan sebuah piring kecil yang berisi cake strawberry yang tampaknya sudah disimpan sejak sore setelah pulang dari universitas. "Dobe, cake ini—"

"JANGAN DIMAKAN TEME!" Bentak Naruto tiba-tiba, sontak berdiri dari kursinya dan cepat-cepat mendatangi Sasuke, lalu merebut piring kecil di tangan pemuda raven itu dan menyembunyikannya dalam pelukannya, bagaikan sebuah benda berharga 1 juta Yen.

Sasuke menaikan kedua alisnya, terdiam melihat tingkah sahabatnya yang amat aneh hari ini, "Hn?" gumamnya seolah bertanya-tanya, "Aku tidak suka makanan manis, Idiot." Naruto membuang mukanya, kembali melengang ke meja makan dengan sepiring cake di tangannya. Ya, strawberry cheesecake dengan 2 buah strawberry di atasnya.

"Hehehe~" Naruto terkekeh saat menaruh cheesecake itu di atas meja, mangkuk ramennya yang sudah kosong dia singkirkan begitu saja, melupakan tugasnya bahwa dia harus mencuci piring hari ini. Setelah merasakan semuanya sudah siap, Naruto mengosok-gosokan kedua tangannya sambil mencolek sebuah krim ke dalam mulutnya. "Huahhhhh~~ manisnya~"

Sasuke yang penasaran, mendatangi meja makan kembali dan duduk di depan Naruto, sambil memperhatikan si pirang yang tetap sibuk dengan memakan cakenya sedikit demi sedikit."Huwahhhh~~ benar-benar cake yang enak~" puji Naruto dengan wajah bergairah, tidak melewatkan sedikitpun krim atau bagian cake yang tersisa di bibirnya. Sedangkan Sasuke, entah kenapa dia hanya diam sambil melihat Naruto yang sedang memakan cakenya dengan wajah berseri-seri.

'Seperti anak umur 5 tahun' pikir Sasuke.

Tak berapa lama setelah cake itu habis setengahnya, Naruto menumpukan dagunya pada telapak tangannya, sambil terkikik kecil, "Hihihi... apalagi~... yang menyiapkannya lebih manis~" ujarnya. Kali ini , giliran Sasuke yang tersentak kaget,( biarpun tidak terlihat secara konkret)

"Jadi, ini alasan kau terlihat menjijikan sejak pagi, Dobe?" Tanya Sasuke dengan datar. Naruto yang tidak terima dikatakan 'menjijikan' hampir saja menusuk Sasuke dengan garpu ditangannya jika saja Sasuke tidak melotot mengertakinya.

Naruto mendengus, bersendawa sebentar, dan berkata " Teme, sepertinya aku menemukan wanita yang akan menjadi cinta sejatiku~"

"Hn?" tanya Sasuke kemudian seperti meminta penjelasan lebih lanjut. Naruto mengerling ke arah Sasuke dengan senyuman khas 5 jarinya, dia tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang putih.

"Hehehe~ kau ingin dengar ceritanya Teme, aku yakin kau tidak akan bosan~"

Sasuke menganguk kecil, matanya menatap ke arah lain selain mata Naruto. Entah bagaimana, melihat mata biru langit milik Naruto yang berkilauan ketika sedang semangat melakukan sesuatu yang membuatnya senang, membuat Sasuke agak sedikit— merasa aneh?

"Baiklah— ehmmm..." Naruto memajukan kursi tempatnya duduk dan mencondongkan tubuhnya kedepan, mencari bagaimana sebaiknya dia memulai cerita ini. Setelah beberapa saat Naruto memiring-miringkan kepalanya mencari kata-kata, akhirnya dia memutuskan juga untuk memulai ceritanya. "Namanya Hyuuga Hinata, aku baru saja bertemu dengannya 2 hari yang lalu, saat baru pulang dari universitas dan memutuskan untuk pergi mencari bahan-bahan tugas, dan mampir sebentar pada sebuah cafe di sebuah jalan yang kulewati, Teme..."


Flashback

.

.

Naruto berjalan menyusuri trotoar jalan di sebuah kawasan pertokoan Kota Konoha, di sebelah lengannya tergantung sebuah tas beras berisi beberapa map berisi tugas dan alat-alat kuliahnya, sedangkan sebelah lengannya lagi tergantung sebungkus besar plastik berisi berbagai macam belanjaan yang baru saja dibelinya di supermarket, sedangkan kedua telapak tangan Naruto seperti sedang menulis sesuatu di sebuah note. "Hmm...tomat untuk Teme?, check!. Sikat dan pasta gigi?, check. Ramen? ahaha... tentu saja tidak mungkin kulupakan, check!, lalu... hmm, lalu yang terakhir daging dan makanan kalengan, chee—"

KRuuYuuukkk~~

Tiba-tiba perut Naruto mengkokok meminta haknya, Naruto mengerucutkan bibirnya cemas, "Sabarlah... perutku sayang~ cup..cup..cup..." ujarnya sedeng sambil mengusap-usap perutnya yang mengecil karena belum diisi. Naruto mengedarkan seluruh pandangannya ke sekelilingnya, mencari sebuah tempat dimana kira-kira dia bisa mengisi perutnya.

Di sebuah kawasan pertokoan, mudah saja kau mencari berbagai macam tempat untuk mendapatkan makanan, ada warung kecil, kios, kedai ,dan cafe. Tapi entah kenapa pilihan Naruto tertuju pada sebuah cafe berukuran sedang yang bertenger di seberang jalan tempatnya berdiri, cafe itu tampak lumayan ramai oleh pengunjung dan bagian dalamnya terang berderang, membuat suasana cafe yang penuh dengan warna terlihat seperti pelangi dari luar. Naruto menaikan kedua bahunya dan langsung melangkahkan kakinya mendatangi cafe itu, "Yeah... sabarlah sedikit lagi perutku~" gumamnya kecil.

.

.

.

Kliningg~ seperti cafe-cafe pada umumnya, cafe ini juga memasang sebuah lonceng kecil yang akan berbunyi bula pintu terbuka, menandakan ada seseorang yang masuk. Naruto memperhatikan seisi cafe itu dengan agak sedikit tenang, cafe yang nyaman dengan sentuhan walpaper bersuasana nature yang menenagkan. Tampaknya, cafe ini menjunjung tinggi keindahan alam hijau dalam suasananya.

"Se-selamat datang~" sebuah suara menyapa, suara yang agak terdengar lemah dan gugup. Naruto menoleh, tersenyum ramah pada seorang gadis yang berusaha menatap Naruto dari balik mata berpupil keputihan itu. Semburat merah di pipi gadis itu membuat Naruto diam tercengang sebentar.

'Manis sekali' pikir Naruto. Dan setelah sadar beberapa detik kemudian, Naruto kembali bertanya "A-ah... bisa kau bawa aku ke meja yang kosong? aku sendirian saja..."

Pelayan itu cepat-cepat menganguk, lalu menuntun Naruto di sebuah meja berukuran kecil dengan 2 kursi yang menghadap ke arah kaca, kau dapat melihat jalan raya pertokoan dari situ. "Arigatou... ehmm—" Naruto memperhatikan bagian dada gadis itu( STOP! Jangan negative thinking!) untuk mencari badge berisi nama atau apalah. "Arrhh— Hyuuga Hinata?" tanya Naruto lagi, sambil menatap wajah malu-malu gadis itu, dia menganguk membenarkan.

Naruto menumpukan dagunya pada kedua telapak tangan yang dia taruh di meja, mengerling kecil ke arah gadis manis bernama Hinata yang masih menatapnya dengan rona merah, "Jadi, aku boleh memanggilmu Hinata-chan? atau kau ingin aku memanggilmu Hyugaa-san?" tanya Naruto.

Hinata, menganguk lembut, rambut keputihan yang dia punya—Naruto tidak tahu itu asli atau tidak— tampak ikut melambai turun menyesuaikan gerakannya, "Bo..boleh, se..sekarang apa pesananmu—Tu..tuan..?" ujarnya lirih, dia tampak gugup, apa dia pelayan baru di cafe ini?

"Ba..bagaimana kalau strawberry cheesecake bu..buatan koki kami.. me..menurut saya.. ini menu yang terenak di cafe ini~..."

.

.

.

"Baiklah.." Senyum Naruto terkembang dengan lebar, manakala melihat tingkah pelayan bernama Hinata itu tampak amat gugup, apalagi dia terlihat masih terlalu cangung dengan tamu-tamu lainnya. Naruto, memakan strawberry cheesecakenya yang benar-benar manis sambil melihat seseorang yang manis, apakah dia sudah jatuh cinta?

.

.

.

FLASHBACK END


Sruuppsss...

Sasuke menghirup secangkir kopi hitam yang sudah menghangat di tangannya, sudah 30 menit lebih dia mendengar cerita Naruto tanpa henti, dan itu membuatnya lelah. Sedangkan yang berbicara masih saja terus mengoceh hingga sekarang.

"Huahh...matanya—, rambut panjangnya yang berwarna putih, senyuman dan rona merah saat dia gugup di depanku itu amat sangat manis Temee~" Ujar Naruto dengan wajah melayang-layang, sambil menyesap garpu yang ada di mulutnya, merasakan krim manis yang amat enak di lidahnya. Piring kecil berisi strawberry cheesecake itu, sudah lenyap tanpa sisa sedikitpun oleh Naruto.

Sasuke tetap tenang sambil meminum kopi hitam tanpa gulanya, mengecap rasa yang bahkan tidak ingin author dekripsikan bagaimana? pahit? ya, sepertinya begitu. Naruto mendecih melihat secangkir kopi hitam di tangan Sasuke, "Teme, selera makananmu itu jelek sekali yah! kopi tanpa gula, tomat, sayur mayur~.. kenapa kau bisa menyukai makanan-makanan seperti itu sih?"

"Hn..." gumam Sasuke sambil terus meminum kopi di tangannya. Naruto memonyongkan bibirnya kesal. "Jadi, apa rencanamu, idiot?" ujar Sasuke setelah meneguk kopinya.

Naruto menautkan kedua alisnya bingung, kurang connect dengan pertanyaan Sasuke barusan, Ya, Naruto memang Dobe. Setelah, beberapa saat berpikir, akhirnya Naruto mengerti ke mana arah pertanyaan Sasuke tadi, "O-oh... aku akan datang lagi ke cafe itu besok dan akan melakukan pendekatan pada Hinata, hahahaha..." Naruto tertawa semangat dengan gesture tangan yang dikepalkan ke atas.

"Hn." Sasuke berdiri dari duduknya, berjalan ke arah dapur—mungkin mengantar cangkir kpi yang telah kosong karena ia minum—, tapi ternyata, sebelum Sasuke benar-benar melangkahkan kakinya ke dapur, dia malah berjalan mendekat ke arah Naruto, menatap wajah sahabatnya itu lama-lama. Untuk kesekian kalinya, Naruto kembali menautkan alisnya.

"A-apa, Teme? kenapa tatapanmu seperti itu!" bentak Naruto

Setelah Naruto membentak demikian, tiba-tiba Sasuke mengulurkan tangannya dan mengelus cepat ujung bibir kanan Naruto, membuat Naruto tersentak kaget dan terbengong sebentar. Sedangkan Sasuke, secepat itu dia mengelus bibir Naruto, secepat itu pulalah dia berbalik dan meninggalkan Naruto yang terbengong-bengong karena tingkahnya. "Ada krim..." gumamnya kecil, sambil mengecup jari yang dia gunakan untuk mengelus bibir Naruto tadi. ( Yang sayangnya tidak dapat terlihat oleh Naruto karena posisi Sasuke yang memunggunginya)

Setelah beberapa detik Sasuke berjalan ke arah dapur, tiba-tba sebuah garpu melesat dari arah belakang menuju Sasuke, diikuti dengan suara bentakan penuh amarah dari Naruto. "T-TEME NO BAKA...A-APA YANG KAU LAKUKAN?! JANGAN MEMPERLAKUKANKU SEPERTI ANAK PEREMPUAN!"

.

.

.

Dan, Sasuke hanya menyeringai dari balik punggungnya.


Klining~

"Se-selamat datang..."

"Hai, Hinata-chan, aku datang lagi, hehe..." Naruto terpampang dari balik pintu cafe dengan senyum lebar 5 jarinya, melihat Hinata dengan pakaian pelayan ketat yang membalut tubuhnya, pita berwarna pink menghiasi rambut berwarna putih gading miliknya. 'Manisnya!' jerit Naruto dari dalam hati.

Hinata menundukan kepalanya menyembunyikan rona merah di pipinya, "Ha-hai juga, Na-Naruto—kun.." ucapnya dengan nada canggung, Hinata semakin menyembunyikan wajahnya ke bawah. "A-akan kuantar ke meja seperti yang kemarin, Na-Naruto-kun..." Hinata berbalik tanpa aba-aba dan berjalan, menuntun Naruto di belakangnya. Sedangkan Naruto, hatinya benar-benar berbunga-bunga sekarang.

'Dia mengingatku!?' pikir Naruto girang.

.

.

.

"Hmmh... aku pesan strawberry cheesecake dengan 3 strawberry di atasnya, krimnya tolong diperbanyak yah, Hinata..." Naruto tersenyum dari balik buku menunya, mencuri pandang gadis pengugup di depannya yang sedang menulis pesanan Naruto.

"M-minumannya?"

Naruto memasang pose berpikir ala-nya, dia tersenyum dan menumpukan lagi dagunya di kedua tangannya, mata biru langitnya memandang wajah manis milik Hinata sepuas-puasnya, "Jadi, apa rekomendasimu untuk minuman?"

Hinata tersentak bingung, "A..ano.. aku tidak tahu, Na- Naruto-kun."

"Memangnya kau suka meminum apa Hinata-chan?" Naruto kembali memamerkan gigi-giginya.

"A-aku suka...a-ano... erh.. AH! Ba-bagaimana kalau..."

"Oke, orange juice saja... Aku suka orange juice~.." potong Naruto tiba-tiba, sontak membuat Hinata terdiam. 'Kau mau menawariku itu kan, Hinata-chan? karena kau mencium parfum rasa orange di tubuhku...' pikir Naruto percaya diri.

Hinata menganguk cepat, langsung menuliskan pesanan Naruto itu di notenya, setelah itu, dia membungkuk memohon diri untuk mengantarkan pesanan Naruto ke dapur, dan Naruto melepas Hinata dengan wajah kecewa. Hingga kembali emnelan kekecewaan saat yang mengantarkan makanannya bukanlah Hinata, melainkan pelayan lain juga berkerja di situ.

.

.

.

Naruto melihat bayangan dirinya yang terpantul di kaca hitam cafe itu, sekalian juga melihat pemandangan jalan yang sudah mulai menyepi. Naruto tersenyum, dia menolehkan kepalanya ke dalam cafe, sudah 3,5 jam dia di cafe ini dan suasana cafe sudah mulai menyepi. Hanya ada 1 orang pemuda yang sedang mengetik di laptopnya dan pelayan-pelayan yang sedang membersihkan meja dan kursi. "A-ano... Naruto-kun, i-ini s-strawberry hot milk pesananmu~" sebuah suara wanita yang terbata-bata terdengar, Naruto menoleh dan tersenyum lembut, dia menganguk mempersilahkan wanita bernama Hinata Hyugaa itu menaruh gelas minuman di mejanya.

"Hinata..."

"Hmmm? na-nani, Naruto-kun?

"Bisa kau temani aku duduk di sini?"

Mendengar permintaan Naruto, Hinata agak sedikit terlonjak, rona merah kembali terlihat di kedua pipinya, Hinata tampak melihat gelisah ke arah dapur dan ruangan di dalam cafe itu, takut mungkin akan dimarahi oleh managernya, hingga akhirnya dia menganguk, "Ba-baiklah, Naruto-kun..." ujarnya sambil mulai menarik kursi di depan Naruto dengan gerakan gemulai dan duduk di sana.

"Jadi? Kau suka lelaki seperti apa Hinata-chan?" 'Tembak' Naruto langsung. Hinata yang menyadari sesuatu tiba-tiba wajahnya menjadi merona sekai Hinata mencoba menghindari kontak mata dengan Naruto, meskipun dia tampak berusaha menjawab pertanyaan itu.

"A— mu-mungkin yang..." Kata-kata Hinata terputus, dia tidak bisa melanjutkannya.

"Hmmm...? 'mungkin yang' apa?" tuntut Naruto kemudian.

"Mu-mungkin lelaki yang suka selalu tersenyum di saat apapun..."

'YES!' Pekik Naruto kegirangan dalam hati, "Lalu? apa lagi Hinata-chan?"

"E-ehm...lelaki yang semangat dan tidak mudah menyerah?"

'YES' sekali lagi, kata itu dikumandangkan dalam hati Naruto. "Lalu? hehehehe..."

"L-lelaki yang suka meminum black coffee tanpa gula.. Me-menurutku lelaki seperti itu..s-sexy.."

.

.

Hening.

Hening.

Hening.

.

.

"EH?!"


Sasuke masuk ke dalam apartemen dengan punggung agak sedikit turun, mata kelamnya agak terlihat sayu, sepertinya dia kelelahan karena aktivitas yang baru saja dia lakukan. Kaki-kaki jenjang yang terbalut celana jeansnya melangkah masuk ke dalam apartemen itu. Alis Sasuke naik satu cm saat sadar bahwa keadaan apartemen gelap gulita, hanya satu tempat di dalam apartemen itu yang lampunya masih menyala. Dapur. "Hhhh.., Dobe." desis Sasuke.

Sasuke berjalan ke arah dapur, berniat mematikan lampu dan segera mengistirahatkan dirinya di kasur. Tetapi, ketika dia baru sampai di depan pintu dapur itu, ada sesuatu hal yang tiba-tiba membuatnya memperlebar mata sekitar 0,3 cm.

"Idiot-Dobe! apa yang kau lakukan dengan semua kopi milikku!" Ujar Sasuke dengan nada tajam, dan tatapan deathgleare andalannya. Benar sekali, sekarang... Naruto tengah duduk di meja makan dengan beberapa cangkir kopi yang telah kosong, dan beberapa cangkir yang masih mengepulkan uap panas. "Kau menghabiskan persediaanku selama 3 hari!" Kata Sasuke sekali lagi dengan kesal, setelah mengecek lemari penyimpanan makanan mereka.

Naruto tak mengubris, dia tetap mencoba meminum secangkir kopi yang tengah ditangannya meskipun wajahnya terlihat amat menderita. Sasuke tahu pasti bahwa Naruto amat sangat membenci kopi, tetapi melihat dia tiba-tiba meminum kopi hingga berlebihan seperti ini, Sasuke yakin pasti ada sesuatu yang salah. "Dobe! jawab pertanyaanku!" Bentak Sasuke keras sambil merebut cangkir di tangan Naruto, mengamankannya dalam tangannya.

Naruto cemberut, matanya terlihat lesu sekali, dia menatap Sasuke dengan tajam seperti berkata 'Bastard!', tetapi... sedetik kemudian dia menghela napas panjang dan mencoba membuka mulutnya. "Aku hanya mencoba membiasakan diri..."

"Hn?"

"Hinata menyukai lelaki yang meminum kopi hitam tanpa gula dengan gerakan yang angun~"

Sasuke memutar bola matanya, dan malah meminum kopi yang baru dia rebut dari Naruto tadi. "Ku berlebihan, Dobe!"

Naruto mengangka wajahnya dan mendesis. "Aku hanya mencoba, T- Teme... ka..karena aku amat menyukai Hinata, ja-jadi aku ingin memenuhi kriterianya." Sasuke diam, tak ada membalas sedikitpun, meskipun wajahnya nampak sudah terlihat mengeras menahan marah.

Sasuke pun mulai berkata lagi setelah berhasil menenangkan suaranya "Sudah aku bilang Dobe, kau tidak usah memikirkan—"

"Ukhh... kau selalu mengatakan seperti itu Teme, me-memangnya apa urusanmu heh!?" Naruto tiba-tiba memotong dengan bentakan, membuat Sasuke terdiam, menatap tajam mata biru Naruto yang tampak memerah, —terkena iritasi atau hal lain, mungkin? —.

Biru bertemu dengan Hitam.

Sasuke berjalan mendekat ke arah Naruto dan memberikan cangkir kopi yang diambilnya tadi ke Naruto. Lalu dia berbalik, menampakan pungung lebarnya yang tegap kepada Naruto, lalu berjalan pergi, dengan hanya meninggalkan sebuah kalimat sedingin es abadi. "Terserah. Kau. Saja. IDIOT!"

.

.

Dan entah kenapa itu membuat hati Naruto terasa sedikit sakit.


Klining... Sebuah deritan kecil pintu terdengar. Ya, pintu cafe itu. Naruto... untuk kesekian kalinya kembali berkunjung ke cafe itu setelah semua persiapannya siap. (persiapan berlatih meminum kopi tanpa gula). "Se-selamat datang..." Naruto tahu suara siapa itu, karena cuma ada satu suara yang memiliki nada terbata-bata begitu. Naruto tersenyum kalem.

"Hai Hinata- chan, aku kembali lagi..."

"Y-ya Na- Naruto-kun, u..uhm.. meja yang biasa kau duduki sekarang sedang diduduki orang... ja-jadi..."

Tiba-tiba Naruto memotong, berjalan ke arah meja dengan 2 kursi di sebelah pintu masuk, "Aku di sini saja, Hinata-chan... hehehe..."

"Ba-baiklah Naruto-kun, a-arh... kau ingin pesan apa Naruto-kun?" Ujar Hinata, sambil megeluarkan sebuah note kecil dari saku seragam pelayannya. Naruto mengaruk-garukan kepalanya, tertawa lebar.

"Arhhh! apa yah? aku bingung? sepertinya aku minta strawberry cheesecake saja~ ahahaha" tawa Naruto terdengar amat nyaring di cafe tersebut, kebetulan cafe tersebut sedang sepi pengunjung, hanya Naruto dan seorang gadis bertampang galau yang ada di situ. Tentu saja sepi! , ini sudah jam 09.30 malam, kebanyakan toko di sekitar cafe itu sudah tutup, dan cafe ini buka hingga pukul 3 pagi (tentu saja ada pergantian shift!), Hinata bertugas hanya sampai jam 10 malam.

"Eeee.. la-lalu, minumannya?"

"Hmm, black coffee without sugar, please. Aku sedang ingin bergadang." jawab Naruto berbohong, sebenarnya dia hanya ingin membuktikan dirinya di depan Hinata. Naruto tersenyum lembut, seolah-olah black coffe (apalagi tanpa gula) adalah hal yang lumrah baginya, sayangnya, kenyataannya berbeda dengan hati dan lidah Naruto yang menjerit-jerit meminta pertolongan.

Hati+ Lidah+ seluruh tubuh : "TIDAAAAKKKK! SUDAH CUKUP MULUT DAN LIDAH BODOH! BERHENTILAH BERBOHONG... Kami sudah tak tahan lagi! kami semua amat tidak suka dengan rasa pahit mengerikan itu!"

Ya... kira-kira begitu teriakan bagian-bagian tubuh Naruto yang dikarang dengan imajinasi. Agak berlebihan memang, tapi memang begitu kenyataannya. Oke, back to the story, kita sudah mulai OOT di sini.

.

.

Hening.

Hening...

.

"E-eh? black coffee?" Raut wajah Hinata berubah bingung seketika, tak menyangka dengan pilihan minuman Naruto hari ini. "Black coffee?" ulang Hinata memastikan, takut dia salah dengar. Naruto menganguk mantap dengan sinar mata berkilat-kilat. "Ba-baiklah~" ujar Hinata akhirnya dan mulai mohon diri meninggalkan Naruto.

'Huhhh~ semoga saja, dia tertarik padaku karena aku menum kopi.' batin Naruto, sambil memainkan buku menu di depannya dengan bosan, padahal, baru semenit Hinata meninggalkan mejanya.

.

.

5 menit menunggu.

.

10 menit menunggu.

.

.

15 menit menunggu.

.

.

"N-Naruto-kun, strawberry cheseecake dengan sebuah kopo hitam tanpa gula..." sebuah suara terdengar kembali, Naruto menoleh dan mendapati Hinata tengah berdiri di dekatnya dengan sebuah senyum kalem, dia menaruh secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas dan sepiring strawberry cheseecake di atas meja Naruto.

Naruto menganguk, melihat kopi hitam yang ada di atas mejanya. 'Ukh... hitam sekali!' pikirnya dalam hati, lalu melirik ke arah Hinata dan tersenyum lebar, menutupi semuanya, "Arigatou, Hinata-chan." katanya dan segera mengangkat cangkir itu lalu menyesapnya sedikit.

'UKHHH! PAHIT!' Teriak lidah Naruto. Naruto mencoba bersikap biasa, dia melirik ke arah Hinata dengan sok keren seolah-olah dia sudah amat terbiasa meminum minuman yang menurutnya sangat tidak enak tersebut. " Kopi yang sangat enak, Hinata-chan, aromanya begitu pekat... tampaknya dijemur dengan kekeringan yang amat pas." kata Naruto, sok tahu.

Terlihat Hinata tersenyum malu-malu karena pujian dan kata-kata Naruto yang tampak ahli tersebut, "Ah... Arigatou Naru—"

Klining~ Kalimat Hinata terputus karena suara lonceng yang teredengar di sebelah mereka. Lonceng yang menandakan bahwa ada tamu lain.

Terlihat seorang pemuda dengan rambut berwarna coklat dan mata yang ramah berdiri di sana. Untuk beberapa waktu, dia menatap sekeliling hingga akhirnya matanya terhenti pada Hinata, pemuda itu tersenyum lebar, seperti seorang yang sudah menemukan sesuatu yang dicari-carinya. Begitu juga dengan Hinata, dia membalikan badannya menatap pemuda itu, tak lagi menghiraukan Naruto yang dipunggunginya.

Pemuda itu berajalan mendekat, Naruto duduk mematung sambil memegang cangkir kopinya, Hinata menundukan kepalanya. "Yo, halo Hinata~... " sapa pemuda itu.

'Hinata!? ke-kenapa dia memanggil Hinata-chan dengan sebutan begitu!" terdengar jeritan hati seseorang dari keauhan.

"Halo, Kiba~" Hinata memalingkan mukanya ke arah lain, tampak sekali bahwa Hinata tengah mencoba menutupi rona merah di mukanya yang terus bermunculan

'D-DAN KENAPA HINATA-CHAN JUGA MEMANGGILNYA BEGITU, SEBAENARNYA ADA HUBUNGAN APA HINATA DENGAN PEMUDA INI !' Lagi-lagi terngiang sebuah suara jeritan hati yang shock.

"Hahahaha... Hinata-chan, siapa wanita ini?" Naruto akhirnya angkat bicara. Menunjuk ke arah pemuda berambut coklat itu. Pemuda berambut coklat itu tampak menatap Naruto curiga, tapi dia akhirnya maju dan langsung merangkul pinggang Hinata dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan terulur untuk bersalaman. What the shit?

"Kenalkan... namaku Inuzuka Kiba, Tunangan dari Hyugaa Hinata~ Yoroshiku Ne..."

.

.

.

"E-eh?"

.

.

Deg./suara detak jantung/

Deg.

Deg.

Deg

Tiiiiittttt~~~

.

.

Uzumaki Naruto, Rest In Peace.


Tik.

Tik.

Tik.

Sudah dua jam Naaruto duduk diam dan tidak melakukan apa-apa di tempat itu, dia hanya melihat Hinata yang tampak memarahi oemuda bernama Kiba itu dengan kesal karena sudah mengangu dia saat melayani tamu. Naruto menghela napas.

Uzumaki Naruto si pemuda dengan rambut pirang keemasannya, sekarang tengah duduk di mejanya, menatap kopi hitam yang sudah panas itu, (sebenarnya sudah mendingin sejak tadi, tapi seorang pelayan lain menawarkan diri untuk menghangatkannya di microwave) dan Strawberry cheseecakenya yang sejak tadi tak tersentuh. Wajah Naruto tampak manyun, tidak bersemangat, dan terlihat lesu. Dia, sedang patah hati sekarang.

'Ukh! baka! baka! kau bodoh Naruto! you are an Idiot!' bentak Naruto kesal dalam hatinya, tangannya dengan jahil menusuk-nusukan garpu ke arah cheseecake di depannya. Melampiaskan amarahnya. Dan Naruto baru berhenti setelah cheseecake itu menjadi beberapa potongan kecil dan besar yang tak beraturan. Ya, cheseecake itu berantakan, sama seperti hatinya. "Bodoh~" gumamnya pelan dengan kecewa.

"Dobe, apa yang kau lakukan di sini?"

DEG!

Naruto terdiam membatu di tempat duduknya, matanya awas melihat kesana kemari hingga sebuah suara kursi yang ditarik terdengar, Naruto mengangkat kepalanya, melihat seorang pemuda dengan syal berwarna hitam di depannya. "Huh... bukan urusanmu, Teme~, kenapa kau tahu aku di sini?!" jawab Naruto dengan cetus, kembali menusuk-nusukan garpunya pada cheseecakenya.

Sasuke melihat cheseecake itu sebentar, lalu kembali mengangkat kepalannya dan melihat ke wajah supar cemberut Naruto, kemudian dia melirik ke sekitar dan melihat seorang gadis berambut putih tengah tertawa bersama dengan seorang pemuda berambut coklat tua. Sasuke mendecih lalu kembali berkata "Hn, Idiot~ aku mencarimu dan kau patah hati lagi rupanya."

Naruto menyipitkan matanya memberikan deathgleare ala Uzumaki Naruto, lalu memasukan sepotong kecil cheesecake dalam mulutnya dengan kasar, "TERSERAH KAU SAJA...BAKA- TEM— U..? UKkhhh!.. uhuk! pa-pahit!" keluh Naruto tiba-tiba sambil mulai menutup mulutnya dengan ekspresi menderita. Langsung saja Naruto mengambil kopi di dekat tangannya dan meminumnya sedikit... tapi...

"UKHHH! PAHIT Temee~!.. uhuk! uhuk!." Pekik Naruto lagi(bahkan lebih parah), Naruto menelan potongan cheesecake itu dengan susah payah dan sedikit tersedak. Sasuke mengelengkan pelan kepalanya melihat tingkah Naruto.

'Dasar anak payah' batinnya.

"Te-teme... c-chesecake ini kok pahit sekali ?~" keluh Naruto sambil mengelap bibirnya yang basah dengan punggung tangan.

"Tidak mungkin, Dobe..."

"Sungguh Teme~ ini terasa pahit sekali~ a-aku... a-aku tidak tahu kenapa bisa sepahit ini.." ujar Naruto lagi dengan terbata. Bingung, matanya agak sedikit berair karena sempat tersedak.

"Hn! aku tidak percaya"

"Kalau kau tidak percaya, coba saja sendiri Temeeee~" Naruto mendorong piring cheseecake itu ke arah Sasuke.

Sasuke pun mengambil garpu itu dan memasukan 1 potongan kecil ke dalam mulutnya, padahal, Sasuke biasanya amat sangat tidak mau memakan makanan manis. "Idiot, ini manis~" Gerutu Sasuke sambil mulai mengambil cangkir kopi di tangan Naruto dan meminumnya, menetralisir rasa aneh di lidahnya.

"Tidak! tidak! ini pahit!' Naruto menyambar garpu di tangan Sasuke dan memasukan 1 potongan lagi ke daam mulutnya, "Ukhhh~~~ pahitt! benar kan Teme! ini pahit!"

"Idiot, manis!" Sasuke memasukan 1 potongan lagi ke dalam mulutnya.

"Ini pahit Tem!." Tak mau kalah, Naruto mengambil 2 buah potongan kecil dengan tangannya.

"Manis!"

"Pahit!"

"Idiot!, manis!"

"Pahit Teme!"

"Manis"

"Pokoknya pahit!"

"Baka, ini manis! Usuratonkachi!"

"Pahit! pokoknya pahit!"

"Chih~,Itu karena kau meminum black coffee ini Naruto..." Ujar Sasuke mencoba menenangkan diri sambil menegak kembali kopi hitam(milik Naruto) di tangannya.

"HUH!, Kau tahu Teme, kau bahkan lebih pahit daripada Kopi hitam itu!"

"Hn~"

"TEMEEE~ I hate you !"

"Hn~"

"Argghhh~"

"Hn"

"Teme Baka! kau pahit seperti kopi ini! "

.

.

.

"Ya, Dobe. Terserah apa katamu~"


.

'Dan kau, lebih manis daripada cheesecake ini, Idiot~'

.

.

Strawberry cheesecake adalah makanan yang amat manis di lidahmu, tapi jika yang menemaninya adalah secangkir black coffee yang pahit, rasa apakah yang akan berakhir di lidahmu? Mungkin pahit?, tetapi mungkin juga Manis, dan begitulah CINTA. Tapi... bila kau mempunyai teman untuk berbagi rasa pahit dan manis itu, maka kedua rasa itu sudah tidak berpengaruh lagi untukmu, karena rasa yang tercipta dalam hatimu sudah berbeda.

Dan kau harus mencari tahu sendiri perasaan apa itu...

.

.


TBC...

Yosh! chp 2 akhirnya selesai juga, kalau ada kesalahan tolong dimaafkan yah minna~. Minna, kalau fanfict ini updatenya lama tolong dimaafkan yah... karena untuk membuat 1 chapter ini sama dengan membuat 1 Oneshoot, jadi membutuhkan waktu yang cukup panjang.

Dan untuk yang sudah mereview dan fav chapter 1, ARIGATOU ! I LOVE YOU~ /Gunchan CacuNalu Polepel Lupa Login(?)/Guest 1, 2, 3/Pattesa Oddes/Sytadict/shia naru/hikari shinji/tsubasa. raa/kiyoscy/Yukiko no Narita-chan/Chiisana Yume/Uchy-san/Roronoa D. Mico/Rin Miharu- Uzu/

So, tanpa kalian, fic ini bukan apa-apa~.

Dan... erhh, mind to review?