makan rDisclaimer : Masashi Kishimoto. Pairing NaruSaku slight SasuSaku. Genre : Romance & Drama. Warning : OOC. Typos. Boring cause mainstream theme '-')
Story by Hikari Cherry Blossom24
Falling In Love
Chapter 2
Mebuki beranjak dengan cepat ketika melihat kedatangan Itachi dan Sasuke. Wanita setengah baya itu bergegas menghapiri keduanya, ingin menanyakan tentang Sakura. "Di mana putriku? Kalian membawanyakan?" Sasuke mencoba tersenyum, ia lalu membawa Mebuki duduk bersama. Ia tak tahu harus mengatakan apa untuk masalah ini. Bersyukur hanya ada Mebuki sendiri.
Sasuke memejamkan mata sesaat. "Maaf, kali ini kami gagal.." Mebuki membekap mulutnya begitu mendengar pernyataan tersebut. "Kumohon, beri aku waktu untuk menyelesaikan masalah ini. Aku janji akan membawa Sakura untukmu." Air mata kembali mengaliri pipi Mebuki. Kabar inilah yang sangat ia takutkan. Mendengar Sakura tak kembali.
"S-sakura..."
Sasuke menundukan kepala menyesali kekalahannya. Ia lemah terhadap Sakura, dan Naruto memanfaatkan kelemahannya tersebut dengan cara menggunakan Sakura untuk senjata. Dia memang licik dan penuh tipu muslihat. "Padahal sedikit lagi." Ia berujar pelan. Itachi menyentuh bahunya, lalu mencengkramnya.
"Chouji.." Lelaki berbadan bulat itu menghampiri Itachi begitu dipanggil. "Tolong antarkan Nyonya Mebuki pulang, dan tolong jaga Nyonya Mebuki untukku." Chouji mengangguk hormat, menuruti perintah dari sang atasan.
"Baik pak."
Mebuki meninggalkan tempat duduknya. "Kumohon Sasuke, Itachi.." Pintanya terlebih dahulu sebelum pergi. "Selamatkan Sakura dari orang-orang jahat itu, jangan biarkan putriku menderita." Sasuke bahkan enggan mengangkat kepala. Ia merasa malu kepada Mebuki, terlebih dia adalah calon mertuanya.
"Aku akan melakukan yang terbaik untuk putri Anda, Nyonya." Itachi tersenyum tipis. Mebuki mengusap pipinya yang basah, mengangguk kemudian ia melangkah sambil di ikuti dari belakang oleh Chouji. "Selamat malam." Hanya Itachi yang menyahut, sementara Sasuke masih tampak terpukul karena kejadian tadi. Memang tak mudah untuk Sasuke menerima semua ini, terlebih lagi Sakura di culik tepat saat malam pernikahan mereka.
Itachi ikut duduk disebelah Sasuke. "Tadi itu kita bisa saja berhasil kalau kau tak menyuruh mereka menjatuhkan senjata.." Sasuke meliriknya.. "Kau sendiri yang memberi dia kesempatan untuk melarikan diri, jadi jangan salahkan orang disekitarmu." Ia menepuk-nepuk pundak sang adik, lalu kembali berdiri. "Jangan lemah hanya karena ancaman semacam itu, aku tahu kau lelaki kuat. Sudahlah, sebaiknya kau istirahat untuk melanjutkan penyelidikan besok. Siapkan staminamu." Kemudian Itachi melangkah pergi meninggalkan Sasuke.
Lelaki berdandan emo itu mengusap wajahnya. Ini hari yang melelahkan, tidak ada ujung untuk masalah ini. Ia hanya heran, kenapa mereka harus terlibat masalah dengan putra bungsu Namikaze. Gara-gara masa lalu Itachi ia dan Sakura jadi terkena imbasnya. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur terjadi. Ia tahu ini karma yang di kirim oleh Kami - Sama. Ini adalah pembalasan untuk keluarganya, terutama untuk Fugaku Uchiha.
.
.
.
Helikopter dengan desain mewah tersebut mendarat sempurna di atas kepala gedung. Baling-baling nya masih setia berputar, menimbulkan angin kencang di area tertinggi tersebut. Tak lama kemudian pintu helikopter tersebut terbuka secara otomatis, menampakan orang di dalamnya. Naruto melepaskan earphone dari telinganya, lantas ia letakan disebelah tempatnya duduk bersama Sakura. Sejak tadi gadis itu diam saja, biasanya cerewet. Biarlah, Naruto tetap tak peduli.
"Apa sebelumnya mereka ada menggeledah apartementku?"
Sai mengangguk. "Tapi mereka langsung pergi begitu tak mendapati kita di sana."
Naruto tersenyum tipis. "Heh, mereka fikir semudah itu.." Ia beranjak lalu menoleh ke arah Sakura. "Kita sudah sampai, cepatlah berdiri." Tak kunjung patuh, gadis itu malah meliriknya dengan tatapan sinis dari bawah. "Apa!?" Dahinya menyerngit mendapat tatapan seperti itu.
Sakura mendecih, namun kemudian ia berdiri dengan malas-malasan. "Jangan sentuh, aku bisa sendiri." Ia langsung menepis tangan Naruto saat hendak disentuh. "Aku punya mata untuk melihat." Cetusnya sebal. Naruto memutar mata, lalu mengangkat bahu. Ia tak mau pusing hanya gara-gara menghadapi gadis merah muda yang satu ini.
"Terserah."
Tak ada tanggapan. Sakura mendahului Naruto, berlalu dihadapanya— hendak turun dari helikopter. Ajaib, tiba-tiba sudut bibir Naruto tertarik ke atas. Sakura menggembungkan pipi, lalu memutar badan. Ia kembali menghadap ke arah Naruto. Untuk kali ini saja, sepertinya ia butuh bantuan dari lelaki gila itu.
Naruto langsung menarik pinggang Sakura, kontan membuat empunya tersentak. "Sai, siapkan tangga." Sakura memicing, Naruto hanya mengedipkan sebelah mata padanya. "Lain kali jangan menyerobot jika tidak mau tertipu." Gadis manis itu meringis geram. Ingin sekali rasanya ia menjabak rambut pirang itu sampai rontok.
Tepp!
"Lepaskan, aku bisa jalan sendiri.." Lagi-lagi Sakura mendahului Naruto. Berjalan seterusnya, dan mendadak berhenti saat mendapat ide cemerlang. Ia tahu ini mustahil, karena kali ini Naruto membiarkannya berjalan sendiri. Inilah kesempatan untuk kabur. Diam-diam Sakura tersenyum, namun sebelum itu ia melirik ke arah Naruto berada. Dan, seketika ia blank kala tak mendapati sosok Naruto dibelakangnya. "Ehh!?" Matanya terus— menerus mengerjap.
"Jangan fikir aku akan membiarkanmu bebas.." Sakura terkejut bukan main ketika sosok yang ia cari-cari kini tengah berdiri tegap dihadapannya. "Bodoh!" Naruto langsung membopong tubuh mungil Sakura, dan membawanya turun ke lantai bawah. Menghiraukan makian dan pukulan, ia malah tertawa di tengah meniti anak tangga. Sai dan beberapa anak buah Naruto yang lainya turut tersenyum menyaksikan keduanya.
"Bodoh, turunkan aku!" Pukulan demi pukulan tak henti mendarat di punggung lebar Naruto. Baginya pukulan itu tidak sakit, rasanya seperti di pijat. "Hey!" Sakura mulai kesal di tengah mengayun-ngayunkan betis jenjangnya di udara. "Turunkan aku! Aku punya kaki, aku bisa jalan sendiri." Ia terus mengomel dalam gendongan Naruto. Percaya atau tidak, pria itu membawanya selayaknya karung beras. Mudah sekali dia membopong.
"Tidak akan, nanti kau melarikan diri." Jawab lelaki itu sambil terus menuruni anak tangga. Ada alasan tersendiri Naruto turun lewat tangga, lift terlalu berbahaya untuk mereka. Terlebih Sakura, dia bisa kapan saja melarikan diri. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh gadis nekat? Naruto tahu Sakura nekat, Sai yang mengatakan semuanya. Sebelum menculik Sakura mereka mengstalkernya terlebih dulu kemudian baru bertindak setelah mengenal sang sasaran secara rinci.
Sakura makin dibuat kesal. "Bodoh! Jika kau ada diposisiku aku yakin kau juga akan melakukan hal yang sama denganku."
"Sayangnya aku ada diposisiku sendiri.." Keduanya telah berhasil melewati dua lantai. "Nikmati sendiri posisimu saat ini."
Kalimat acuh tersebut sukses memancing amarah Sakura. Hatinya dongkol, membuatnya kembali memukuli punggung lebar Naruto. Kali ini lebih keras, namun tetap tak berdampak apapun pada lelaki itu. Sial, dia kuat sekali. "Pirang bodoh, aku benci padamu." Naruto hanya mengangkat kening mendengarnya. Itu sudah biasa. Dua minggu hidup bersama dan waktu singkat tersebut telah membuatnya mengenal Sakura Haruno dari dalam mau pun luar. "Aku benci kau. SANGAT BENCI!" Dan, itulah kalimat andalan Sakura. BENCI.
"Ck!" Naruto berdecak. Berisik sekali mendengarkan ocehan Sakura. "Kalau kau tidak mau diam, aku akan melemparmu ke bawah sana. Bayangkan seperti apa jadinya dirimu bila aku lempar dari sini." Sakura melotot. Sejak awal ia tegaskan, Naruto Namikaze memang gila. Sampai detik pun ini dia masih gila.
"NARUTO GILA! BODOH!"
.
.
.
Naruto memasuki mansion megah tersebut bersama dengan senyum lebarnya. Saat mendapati seorang wanita tengah membelakanginya di depan kitchen set, ia bergegas menghampirinya. Ingin memberi pelukan hangat kepada wanita itu, sudah dua minggu ia tak pulang karena disibukan dengan urusan di luar. Belum lagi masalah Sakura. Naruto tak tahu apa yang akan terjadi bila kedua orang tuanya sampai mengetahui tentang Sakura. Ia hanya berharap mereka tidak akan pernah tahu sampai kapapan pun.
Grephh
"Ibu.." Sambil memejamkan mata Naruto menyesap wangi khas sang Ibu. Ia rindu wewangian mawar ini. Kushina tersentak, malah sempat terkejut. Hanya sesaat, kemudian keterkejutan Kushina telah terganti oleh senyum. Putra tampan nya sudah pulang setelah dua minggu mengurung diri di apartement, tidak boleh pula dikunjungi dengan alasan lelah dan ingin istirahat sampai beberapa hari.
"Sayang, bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja 'kan?" Naruto melepaskan pelukannya ketika Kushina bergerak— membalik badan. "Ya ampun, kau tampak kurang sehat." Wanita itu langsung panik melihat Naruto tampak pucat. Sepasang mata sipit itu terlihat agak membengkak, mungkin karena kurang tidur. Dan lagi, rambut pirang kesayangannya itu tak lagi tertata rapi. Kali ini agak berantakan dari biasanya. "Apa kau sakit, Naruto?"
Pria muda itu menggenggam tangan Kushina yang tengah mengusap pipinya. "Tidak kok, ini hanya penyakit rinduku pada Ibu.." Ia tersenyum, lalu mendaratkan kecupan di pipi Kushina.
Wanita itu menghela nafas. "Ibu tahu, kau makan tak teratur selama beberapa hari ini." Naruto meringis. Memang benar, seorang Ibu tidak bisa di bohongi. Hanya seorang anak yang paling mudah di bohongi oleh seorang Ibu. "Jangan suka berbohong, Ibu tidak suka dengan kebohongan."
Mata Naruto menyayu. "Maafkan aku, Ibu."
Kushina memeluknya. "Ibu maafkan, tapi dengan 1 syarat."
"Apa itu?"
Wanita bermanik violet itu tersenyum manis. "Malam ini jangan pulang, menginaplah bersama Ibu di sini." Naruto melirik ke sekitar. Sedikit berat menerima tawaran tersebut, mengingat adanya Sakura di apartement baru bersama beberapa anak buahnya. Gadis bodoh itu tak bisa ditinggalkan sendirian, dia bisa bertindak macam-macam untuk melarikan diri. Naruto tak bodoh untuk tak mengenal dengan baik sifat asli Sakura. Dia itu gadis bodoh dengan akal pendek.
"Eumm.."
Kushina mengela nafas. Tidak dikatakan sekali pun ia sudah tahu bahwa Naruto menolak untuk menginap. "Kau bahkan tidak tahu Ibu sendirian selama 3 harian ini." Pria itu menggaruk belakang kepalanya canggung. "Ayahmu pergi keluar kota, masih belum ada kepastian kapan Ayah akan kembali. Mungkin agak lama."
Naruto menghempas bokongnya di sofa. "Kenapa tak bilang padaku?" Ia meraih buah apel, kemudian menggigitnya. "Aku kira Ayah akan menyerahkan pekerjaan di kantor kepadaku."
"Ayah hanya tidak ingin kau repot, apalagi kau punya kesibukan sendiri menangani cabang perusahaan kita yang ada di kota Myobokuzan.." Melihat selembar koran tergeletak di atas meja, Naruto langsung mengambilnya. "Ayah berpesan pada Ibu, kau jangan kecewakan dia. Bekerjalah dengan giat, karena hanya kau yang bisa kami andalkan untuk melanjutkan tugas kakakmu yang belum selesai." Kushina berkata disela mengaduk coklat panas yang sengaja ia buatkan untuk putranya.
"Hm!?" Dahi Naruto berkerut tebal melihat berita di koran hari ini.
Di duga, putri tunggal Haruno telah diculik oleh segerombolan gengster. Kejadian itu terjadi tepat saat malam pernikahan putri tunggal Haruno dan putra bungsu Uchiha. Sampai saat ini masih belum ada kepastian mengenai masalah ini, hanya kesabaran dan kerja keras yang akan menjawab semuanya kelak.
"Ibu juga baru tahu hari ini putri tunggal Haruno diculik.." Kushina meletakan secangkir coklat panas dihadapan Naruto yang tampak fokus dengan kabar berita mengenai hilangnya Sakura Haruno. "Kasihan juga, pernikahannya jadi gagal. Entah bagaimana calon Suaminya bisa menghadapi masalah ini. Mungkin dengan cara banyak-banyak bersabar.." Naruto meletakan kembali koran tersebut, lalu menyandarkan punggung lebarnya di badan sofa.
Sepertinya ia harus mengambil tindakan sebelum kedua orang tuanya ikut terlibat dalam kasus ini..
.
.
.
Saat membuka pintu kamar tersebut, Naruto langsung mendapati Sakura sedang duduk di tengah ranjang. Hari ini gadis itu tampak diam, dan... Naruto terdiam sambil memerhatikan Sakura dari muka pintu. Dia tampak sedang meringis sambil memegangi pergelangnnya yang memerah. Ia turut meringis pula melihat gadis itu terluka. Naruto sadar bahwa perlakuannya kepada Sakura sangat kejam. Ia memperlakukan gadis itu selayaknya kucing peliharaan, bahkan lebih dari itu. Sedikit berlaku baik tak jadi masalah, bukan?
Saat tiba Naruto ikut duduk di tepi ranjang. Sakura sempat terkejut, namun seketika ia terdiam ketika Naruto meraih tangannya. "Kau sudah makan?" Dia bertanya disela membukakan kunci borgol yang mengikat tangan kirinya. Ini terlalu aneh, sampai-sampai Sakura tak bisa berkata apa-apa saat ini. Sikap Naruto kali ini benar-benar menyentuh hatinya.
Begitu terbuka, Naruto mengelus pergelangan Sakura yang memar. Ia tahu itu sakit, namun jika dibandingkan jauh lebih sakit dirinya daripada luka memar Sakura. Sulit melupakan masa lalu, terlebih ia sangat menyayangi kakaknya. Jika bukan gara-gara Uchiha itu, mungkin saat ini Sakura tengah berbahagia bersama Sasuke. Hanya saja ini tidak adil untuk Naruto. Sebagai adik ia menderita saat kehilangan kakaknya, dan Sasuke yang juga sebagai adik harus merasakan apa yang ia rasakan. Kehilangan adalah hal yang paling menyakitkan, terutama kehilangan orang yang sangat disayangi.
"Ini hanya memar, nanti juga sembuh sendiri.." Naruto tersadar oleh suara halus tersebut. Sepertinya ia terlalu fokus dengan bekas memar dibagian pergelangan tangan Sakura, sampai membuatnya tercenung sesaat. "Kau tadi dari mana?" Sakura meringis pelan ketika tak melihat wajah tampan si pirang itu tak menampakan ekspresi. Menurutnya Naruto adalah kaum adam penuh misteri yang pernah ia temui dalam sepanjang hidup. Pria itu sangat misterius, sulit menemukan dirinya yang sebenarnya.
"Kau bahkan tak menyentuh makananmu.." Naruto meraih nampan yang terletak di atas meja, kemudian memangkunya. "Kenapa? Apa kau mau makan road food?" Ia mengangkat wajah. "Atau mau aku suapkan?" Senyumnya terkembang ketika melihat Sakura gelagapan karena ucapannya. "Mau?"
Sesendok sup tersodor di depan wajah Sakura. Buru-buru gadis itu menggeleng, bahkan membekap mulut— menolak suapan tersebut. "Aku tidak mau makan!" Tolaknya dengan suara teredam. Naruto menghela nafas, lalu meletakan kembali sendok di tangannya ke dalam mangkuk yang berisi sup.
"Jadi kau mau apa?"
"Pulang."
"Tidak boleh!"
"Kenapa?"
"Tidak boleh saja.."
Sakura berbaring memunggungi Naruto, lalu menarik selimut dan membungkus seluruh tubuhnya hingga ke ujung kepala. Naruto mendesah. Dia mulai mengambek lagi. "Aku akan membawamu jalan-jalan keluar, tapi dengan 1 syarat."
"Syarat apa?" Gadis mungil itu bertanya dibalik selimut.
Naruto mendekatinya. "Jangan minta pulang, okay?" Dia bekata dengan suara pelan.
Hening sesaat. Sakura diam sambil menimbang pilihan. Toh, setidaknya ia bisa merasakan udara segar setelah lama terkurung. "Eumm, aku tak janji." Jawabnya dari dalam gumulan selimut putih tersebut
"Baiklah, setidaknya untuk beberapa hari ini kau tak merengek minta pulang." Naruto berdiri. "Cepatlah bangun, aku menunggumu di bawah." Kemudian ia melenggang pergi. Tak lagi merasakan kehadiran Naruto, kepala pink Sakura menyembul sebatas leher. Pandangannya mengedar ke sekitar, menatap tepat ke arah jendela kaca. Sepertinya akan sangat menyenangkan jalan-jalan disaat cuaca sebagus ini. Memang agak dingin, tapi setidaknya bisa menghirup udara segar dan berbelanja. Ini juga belum larut, masih ada kesempatan menghabiskan waktu di luar.
Gadis itu bangun dari rebahnya, lalu turun meninggalkan ranjang. Setidaknya ia ingin mengenakan baju hangat agar tak kedinginan saat nanti berada di luar..
.
.
.
Kushina menyerngitkan dahi saat mendapati dua orang lelaki berdiri di depan pintu rumahnya. Ia mengenal salah satu diantara mereka. Itachi Uchiha, mantan kekasih putrinya. Yang ia tahu, lelaki berambut hitam— kebiruan disebelah Itachi adalah adiknya, hanya saja ia tak pernah mengenal putra Uchiha yang lain selain Itachi.
"Selamat malam, Bibi.." Itachi menyapa lebih dulu. Sebenarnya sudah dari beberapa hari yang lalu ia ingin mendatangi Kushina untuk minta keterangan, hanya saja ia merasa tak enak, terlebih bila mengingat masa lalu. Naruto membuatnya tak punya pilihan lain.
"Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?"
"Maaf sebelumnya.." Itachi menunjukan tanda kepolisiannya kepada Kushina. "Apa putra Bibi ada?"
Terdiam sesaat, lalu Kushina menggeleng. "Tidak, sekitar 2 jam tadi dia pergi. Ada apa ini? Apa yang sudah Naruto lakukan?"
"Dia melakukan kejahatan.." Mata Kushina membulat begitu mendengar jawaban dari Sasuke. "Putra Anda telah menculik Sakura Haruno." Kushina terdiam membatu. Jadi selama ini dendam atas kematian Naruko masih tersimpan di hati Naruto, sampai dia nekat bertindak di luar batas. "Kami harus segera menangkapnya sebelum terjadi apa-apa. Maaf, apa Anda tahu di mana Naruto Namikaze sekarang?"
"Tidak! Aku tidak tahu. Sudah 2 minggu dia tak pulang, dan baru tadi dia datang mengunjungiku, setelah dia itu pergi entah kemana."
"Kira-kira sudah berapa lama dia pergi?" Kali ini giliran Itachi yang mengajukan pertanyaan.
"30 menit yang lalu."
"Baiklah, terimakasih banyak untuk waktunya. Kami permisi.." Keduanya pergi.
Kushina tampak shock mendengar kabar ini. Ia sangat terguncang, belum lagi Minato tahu tentang hal ini. Kushina hanya bisa berharap agar tak terjadi apa-apa kepada Naruto. Malam ini juga ia akan menyelesaikan masalah ini. Sebelum polisi benar-benar menemukan jejak Naruto, masih ada kesempatan untuk menyelamatkan putranya itu dari hukum undang-undang pasal penculikan. Ia harus bergegas sebelum semuanya terlambat.
.
.
.
"Tunggu!" Naruto menangkap tangan Sakura dengan gesit sebelum dia sempat menginjakan kaki ke aspal. "Sial!" Umpatnya, lalu bergegas menarik Sakura agar menjauh. Ia membawa pergi gadis yang tengah terheran itu. "Kita pulang sekarang, ini sudah larut.." Alasannya hendak langsung pulang karena tadi ia sempat melihat beberapa polisi di taman. Entah dari mana mereka.
Sakura melongo. "Hey, kita bahkan belum sempat 30 menit berada di sini. Masa langsung pulang sih?" Ia memprotes sambil mengikuti langkah Naruto yang membawanya pergi dari taman. "Percayalah, aku janji tak akan kabur." Bibir mungilnya mengerucut. Naruto memang menyebalkan. Padahal belum lama mereka tiba di taman, tapi tiba-tiba saja dia mengajaknya pulang. Bahkan mereka belum sempat belanja. "Naruto~"
Lagipula, mana mungkin Sakura bisa melarikan diri bila tatapan Naruto tak pernah lepas darinya. Tak hanya itu, bahkan di toilet sekali pun ia terus di kawal. Memang bukan Naruto yang mengawal, tetap saja Sakura tak bisa berkutik dalam kawalan anak buahnya. Ia bagaikan tuan putri yang dengan puluhan prajurit setia mengawal kemana pun dan apapun yang ia lakukan.
Naruto berhenti, lalu membalik badan dan menatap Sakura tanpa berkata apapun. "=_=" Gadis itu meringis melihat ekspresinya. "Kita pulang."
"Enghh.. baiklah." Kemudian Naruto menarik pinggang Sakura, lalu melangkah sambil melingkarkan pergelangannya di sana. "Apa ada sesuatu?" Dapat Sakura rasakan, Naruto semakin merapatkan himpitan tubuh mereka. Hari ini Naruto terlihat agak aneh, hanya menurut Sakura. Bukan apa, rasanya sedikit berbeda saat bersama Naruto yang seperti ini. Sakura tidak takut, melainkan malah menyukai di saat-saat seperti ini. Naruto memang seorang gengster, tapi sebenarnya dia orang yang baik. Berbeda dari kebanyakan gengster yang ada di luar sana. Mereka bahkan sangat kejam pemperlakukan musuh.
Sakura turut menghentikan langkah ketika Naruto berhenti. Dahi lebarnya menyerngit mendapati Naruto terdiam di dekatnya. "Itachi!" Kontan, kepala merah muda Sakura langsung berputar ke depan— ikut menatap ke arah atensi Naruto tertahan. Seketika ia terkejut mendapati Itachi tengah berdiri dihadapan mereka. "Sial!" Naruto langsung menarik Sakura, dan membawanya berlari dengan cepat.
"Hey!" Itachi bergegas mengejarnya. Tidak ada kesempatan untuk menelfon, harus bergegas sebelum kesempatan ini hilang.
Naruto berbelok, dan Sakura masih mengikutinya. Mereka bahkan saling berpegangan erat, seolah mereka akan dipisahkan bila gandengan mereka terlepas. Keduanya berhenti sesaat. Naruto menyapu pandangan di sekitar. Ketika melihat perkumpulan orang dipinggir taman, ia bergegas memacu lari sambil terus memegang erat jemari tangan Sakura.
"Kesini!" Sakura bahkan tidak tahu atau pun sadar, entah apa yang membuatnya ikut berlari. Mungkin kedua kakinya bergerak sendiri.
Itachi menghentikan larinya, lalu mengedarkan pandangan disekitar taman. "Sial, cepat sekali dia hilangnya." Ia mengumpat, dan kembali melanjutkan pengejaran.
"Ohh, shit!" Umpatan meluncur dari bibir merah Naruto. Tak ingin sampai ketinggalan kereta api, ia cepat-cepat mengambil langkah. "Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu!" Naruto menoleh di tengah larinya. Menatap Sakura yang tampak kelelahan, bahkan sampai berkeringat. Lagi-lagi ia berhenti. Sedikit kasihan melihat gadis itu terengah.
Sakura ngos-ngosan. "A-aku lelah.."
Naruto menarik gadis merah muda itu, lalu menangkup kedua sisi wajahnya. "Kumohon bertahanlah, hanya tinggal beberapa langkah." Tatapannya terlihat tajam dan meyakinkan. Sakura menelan ludah, namun tak lama kepalanya bergerak naik— turun. Dia mengangguk setuju. "Bagus.." Naruto tersenyum simpul, Sakura malah ikut tersenyum bersamanya.
Keduanya kembali berlari mengejar kereta api yang perlahan mulai berjalan, hanya pintu terbuka yang masih tersisa. Itu pun dengan waktu singkat.
Terlambat. Itachi terlambat mendapatkan Naruto. Mereka terlanjur naik di kereta api, tepat tak lama setelah ia tiba. "Sial!" Ia membungkuk, dan mengatur nafasnya yang berhambur. "Hosh, hosh.." Nafasnya menderu, dadanya juga memompa turun dan naik. "Tadi itu nyaris sekali. Nyaris berhasil kudapatkan bocah itu." Itachi berdiri, kemudian mengacak surai panjangnya. Ia frutasi.
"Astaga Naruto!" Naruto menunduk dan menatap Sakura dengan dahi berkerut. Gadis itu menengadah— membalas tatapan heran darinya "Aku baru sadar, ternyata kakiku bergerak sendiri mengikutimu." Ia tampak shock, membuat Naruto cengo detik itu juga. "Ya tuhan.." Sakura menepuk jidat lebarnya sendiri. "Baka!"
.
.
.
Wanita berusia setengah baya itu memasuki ruangan elit tersebut sambil menunjukan kecemasan di paras jelitanya. Beruntung ia memiliki kunci cadangan apartement Naruto, dengan begitu ia tak perlu repot-repot menunggu. Satu hal yang membuat Kushina bertanya-tanya. Kemana Naruto? Kenapa apartement nya kosong seperti tak berpenghuni? Mungkin dia hanya pergi keluar untuk cari udara segar. Kushina mendudukan bokong di sofa, menanti kehadiran sang putra. Rasa kecewanya terhadap Naruto sungguh tak dapat ia dibendung. Ia benar-benar kecewa pada anak itu. Bisa-bisanya dia mengambil tindakan tanpa berfikir dua kali.
Dendam yang membuatnya jadi seperti itu..
Tapp tapp!
Kepala merah marun milik Kushina menegak kala suara langkah kaki dari luar sana terdengar menggema di koridor yang sepi. Siapa lagi itu kalau bukan Naruto, itu sudah pasti dia yang pulang. Setelah belasan menit menunggu sendirian akhirnya dia pulang juga.
Pintu di sana terbuka, seketika memperlihatkan sesosok pria yang mengenakan setelah jas sedang berdiri di muka pintu. Kushina memutar kepala untuk melihat orang tersebut.
Dahi pucat Sai menciptakan sebuah kerutan tebal kala mendapati Kushina di dalam. Ia heran, untuk apa Ibu dari Boss nya itu datang ke apartement kosong, sementara Naruto menyewa apartement baru yang terletak cukup jauh dari tempat ini.
Kushina tampak tak kalah heran dari Sai. Naruto yang ia harapkan, kenapa malah anak buahnya yang muncul.
"Nyonya besar!?"
To Be Continued...
