Chapter 2
The Beginning of Summer Days
.
.
Berawal dari perkenalan aneh dua orang yang patah hati di malam Natal, Gumi dan Len pun berteman. Blok rumah Gumi tak seberapa jauh dari Len. Len juga baru mengetahui hal ini—dan itu juga berarti, selama ini Rin pergi keluar untuk menemui Rinto. Gumi sebenarnya mengetahui hal ini, namun ia masih berharap, karena Rinto memperlakukannya dengan sangat baik. Mereka berdua sama-sama terbuai oleh kebaikan teman masa kecil mereka dan menyalahartikan kebaikan itu. Tak hanya di rumah, mereka berdua pun mulai dekat di sekolah dan sering terlihat bersama. Terkadang, Rin dan Rinto juga bergabung bersama dengan mereka.
Bahkan pada saat tahun ajaran baru dimulai, yaitu bulan April—mereka masih tetap dekat. Dan entah sejak kapan, Gumi dan Len saling memanggil dengan nama kecil mereka, yang menunjukkan kedekatan mereka. Tentu saja, hal ini memancing keisengan teman-teman mereka, yang kerap kali menggoda mereka. Bahkan Rin dan Rinto pun mulai "menjodohkan" mereka. Pada awalnya, hati mereka terasa sakit—bagaimana bisa tahan, kalau orang yang disukai malah memasang-masangkan kita dengan orang lain. Tapi entahlah, seiring berjalannya waktu, rasa sakit hati itu berangsur-angsur menghilang dengan sendirinya.
Len merasa nyaman dan terbiasa dengan keberadaan Gumi di sisinya, seolah-olah itu hal yang wajar. Dan Gumi juga merasakan hal yang sama. Apakah ini cinta? Kemungkinan itu terbesit dalam benak mereka—namun selalu mereka tangkis. Takut. Penolakan. Salah paham. Mereka berdua sama-sama takut—bagaimana kalau kisah patah hatiku yang dulu terulang lagi? Bagaimana kalau ternyata kebaikan yang dia tunjukkan itu hanya karena rasa simpati belaka—karena kita senasib? Aku tak mau merasakan kepedihan yang sama itu lagi. Begitulah yang ada di benak mereka. Sehingga mereka tetap hanya menjadi sahabat dan berusaha mengabaikan persoalan cinta.
Namun Len mulai sadar akan perasaannya. Len bimbang, antara mengungkapkan perasaannya atau tidak. Memang cinta yang baru dapat mengobati patah hati yang lama—dan Len tahu kalau patah hatinya sudah terobati dengan kehadiran Gumi serta senyumannya di sisi Len. Tapi Len masih dihantui ketakutan akan perubahan, terutama perubahan yang tak sesuai harapannya. Dan tak terasa, waktu pun berlalu sementara Len masih galau.
Liburan musim panas telah tiba. Namun tak ada yang berubah, Len dan Gumi masih tetap bisa bertemu, di tempat kesukaan mereka—di taman dekat rumah Gumi. Taman itu hanya taman biasa yang ditumbuhi beberapa pepohonan dan merangkap taman bermain anak-anak, ada jungkat-jungkit, ayunan, dan lain sebagainya. Taman itu juga entah kenapa mampu memberikan rasa nyaman—dan di taman itulah, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Kalau dulu sih, biasanya mereka akan duduk di taman itu, mengayunkan diri di ayunan dengan sebal memikirkan Rin dan Rinto yang sedang kencan. Sekarang semuanya berbeda—mereka sama-sama tahu, kalau di taman itu, mereka akan saling bertemu, walau tanpa janji pertemuan yang direncanakan sebelumnya.
" Ah, Len!" sapa Gumi begitu ia melihat Len memasuki taman.
" Yo, Gumi!" Len berlari dengan semangat, dan berhenti di depan Gumi sambil berusaha untuk mengambil nafas, "lihat apa yang kubawa!"
" Eh? Apa...?" tanya Gumi, penasaran dengan apa yang Len sembunyikan di balik badannya.
" Nih!" cengir Len dengan jahil, sambil menunjukkan gambar siluman yang agak menakutkan di hadapan Gumi. Gumi yang terkejut pun langsung mundur beberapa langkah. Len tertawa pelan.
" Aku baru beli majalah 'Unusual – Summer Issue' nih, karena menarik, jadi kubeli aja!" kata Len.
" Eeh... Itu... Majalah itu 'kan... ah... membahas soal... hantu atau... siluman dan semacamnya...ya?" tanya Gumi, berusaha menghilangkan keterkejutannya akibat disodori gambar siluman menakutkan eksklusif 2 halaman majalah itu sendiri.
" Yap, benar sekali!" kata Len dengan semangat, "kamu tahu nggak?"
" A-apa?" tanya Gumi. Len mulai membuat wajah menakutkan yang dibuat-buatnya, keisengannya muncul setelah melihat wajah ketakutan Gumi.
" Musim panas itu waktunya para hantu dan siluman keluar! Mereka akan mencari mangsanya! Mau dengar cerita tentang Kamikakushi atau orang yang disembunyikan Dewa? Sebenarnya ya...," Len mulai berbicara dengan suara yang menakutkan. Gumi langsung menutupi telinganya dengan tangan, berjongkok dan menutup matanya.
" Aku nggak mau dengar, gak mau, nggak mau...," kata Gumi sambil terus menggelengkan kepalanya. Gumi memang lemah dengan cerita-cerita seram, " ayolah, Len... Aku masih mau tidur nanti malam..."
Len langsung tertawa terbahak-bahak.
" Ya sudah kalau gitu...," kata Len, " eh? Kuro mana? Biasanya kamu bawa Kuro kemari 'kan?"
" Eh, kalau Kuro sih—dia ada di atas bangku itu...," kata Gumi sambil menunjuk ke arah bangku taman. Di atasnya, seekor kucing hitam dengan matanya yang juga hitam—sedang duduk dengan nyaman, dan ia membuka matanya dan melirik Len dengan pandangan matanya yang sama angkuhnya dengan perilakunya.
" Uuh, masih saja berlagak seperti boss," kata Len. Kuro adalah kucing hitam peliharaan kesayangan Gumi yang sangat menyukai taman ini—dan Gumi selalu membawa Kuro bersamanya saat ke taman.
" Aah... gagal lagi...," gumam Len sambil mengempaskan badannya di atas tempat tidurnya. Rencananya, hari itu—tanggal 14 Agustus, ia akan mengungkapkan perasaannya kepada Gumi. Tapi rencananya gagal, dan hasilnya mereka menghabiskan waktu seharian itu dengan pembicaraan sepele saja. Len awalnya berniat membuat suasana tidak tegang dengan menjahili Gumi. Tapi karena keberaniannya menciut, rencana itu gagal total.
" Baiklah, besok, setelah bertemu dengannya aku akan langsung menyampaikan maksudku. Siapa yang peduli dengan ketegangan itu... Niatan mencairkan suasana malah jadi waktu buatku mengundur-undur, dan hasilnya, keberanian yang kukumpulkan semalam, langsung hilang deh...," kata Len, membulatkan tekadnya. Besok... besok dia pasti berhasil.
.
.
.
Len P.O.V
Aku terkejut saat mengetahui jam berapa sekarang. 12:20 siang. Tak kusangka, hari ini aku kesiangan. Tapi tekadku sudah bulat, akan kusampaikan perasaanku kepada Gumi hari ini.
Hanya 8 menit berjalan saja, aku sudah sampai di taman kesukaanku. Aku menengadah ke atas—hari yang cerah. Sangat cerah. Tak ada awan satu pun di langit. Memang sih, hawanya panas, tapi toh namanya juga musim panas, apalagi sekarang bulan Agustus, bulan terpanas dalam setahun.
Ah, Gumi sedang mengelus Kuro di atas ayunan... Aku pun berjalan mendekatinya, dan duduk di ayunan di sampingnya.
" Ohayou (selamat pagi)!" sapa Gumi sambil tersenyum.
" Ohayou!" balasku, "hari ini panas ya..."
" Yah, mau bagaimana lagi, namanya juga musim panas," kata Gumi sambil tertawa pelan.
" Dan enaknya, kita libur panjang! Ah, aku suka sekali musim panas!" kataku. Sebentar lagi aku akan mengutarakan perasaanku... Jangan panik...
" Tapi yah... Aku agak benci musim panas," kata Gumi lirih, sambil terus mengelus Kuro yang keenakan di pangkuannya. Aku agak terkejut mendengar hal ini. Apa karena aku menjahilinya kemarin dengan mengatakan hal-hal menakutkan soal musim panas? Seakan menyadari kebingunganku, Gumi berusaha menenangkanku dengan tersenyum.
Tiba-tiba saja, Kuro terbangun dan berdiri di pangkuan Gumi.
" Hmm? Ada apa, Kuro?" tanya Gumi.
Kuro pun turun dari pangkuan Gumi dan berlari menjauhi taman. Secara otomatis, Gumi segera mengejar Kuro. Aku heran, Kuro 'kan suka taman ini, tak seharusnya ia kabur. Biasanya ia akan jalan-jalan seenaknya sendiri kalau kami membawanya ke tempat lain, tapi seharusnya tidak di taman ini. Ada yang aneh... Tersadar dari pemikiranku, aku segera berdiri menyusul Gumi.
Dari jarakku yang sekarang, aku bisa melihat Gumi yang hendak berlari menyeberangi jalan tikungan di depan taman. Aku menengadah dan melihat lampu peringatan pejalan kaki. Masih hijau, aman untuk menyeberang.
...
Tepat saat aku berpikir demikian dan merasa lega, tiba-tiba saja lampu berganti menjadi merah. Aku terbelalak menatap lampu itu dengan tidak percaya. Lagu yang menandakan lampu berganti menjadi merah yang dibuat untuk orang tunanetra pun mengalun. Namun, bagaikan horror. Aku mendengar suara lain. Suara deru mesin dari balik tikungan... Dari suara itu bisa kuperkirakan kalau kendaraan entah apa itu pastilah kendaraan yang besar—dan tampaknya terburu-buru.
Aku menoleh ke arah jalan. Apakah Gumi sudah menyeberang? Apakah ia sudah sampai di seberang dengan selamat? Apakah ia belum sempat menyeberang? Atau...
Aku terkejut. Sesaat, aku merasa jantungku memaksa keluar dari dadaku. Ini tidak mungkin!
Gumi pun terkejut ketika mendengar melodi pergantian lampu itu. Dia berdiri tepat di tengah jalan. Suara deru mesin kendaraan terdengar semakin jelas. Aku bisa melihat ada sebuah truk melaju dari balik tikungan dengan kecepatan yang tinggi.
" Berhentiii!" aku berusaha berteriak sekuat tenaga. Gumi yang mendengar teriakanku segera menoleh ke arah datangnya truk itu. Matanya melebar—jarak antara truk dengan badannya dekat sekali. Tinggal masalah waktu saja sebelum truk itu menabraknya. Tidak... Tidak, tidak, tidak! Ini mustahil... Kenapa truk itu tidak berhenti? Aku 'kan sudah berteriak! Kenapa lampu itu berganti cepat sekali? Kenapa... Tidak!
BRAAKK!
Bulu kudukku berdiri dan keringat dingin mengaliri tubuhku.
" TIDAKKKKK!" Aku berteriak. Aku bisa melihat dengan jelas, tubuh Gumi yang terpental oleh truk itu—sementara truk itu langsung berhenti walau semua itu sudah terlambat. Badanku lemas. Aku tak kuat lagi. Aku segera terduduk di jalan sambil menutupi hidungku. Air mata merebak membasahi wajahku. Bau darah segar yang tercampur dengan bau jalan yang terpanggang matahari—juga tercampur, bau wangi khas Gumi—semua bau itu bercampur, membuatku mau muntah. Badan Gumi tergeletak di tengah jalan, berlumuran darah. Aku yang berdiri di dekat jalan juga terkena cipratan darah itu.
Orang-orang mulai berkumpul mengerumuni kami. Aku segera berlari menghampiri Gumi, berusaha menghentikan darah yang masih keluar dari kepalanya sambil menangis, berteriak meminta pertolongan. Aku bisa merasakan tubuh hangat Gumi yang bersimbah darah—denyut jantung dan nafasnya yang kian melemah.
Ini bohong 'kan? Semua ini pasti bohong... Aku ke sini untuk menyatakan perasaanku 'kan... Kenapa malah jadi begini?
Aku sudah tidak dapat berpikir jernih lagi. Pikiranku kosong—tidak jelas. Samar-samar di tengah teriknya matahari itu, aku bisa melihat bayangan... diriku yang satunya? Bayangan itu mirip sekali dengan diriku—hanya saja, warna mata, rambut, dan baju kami berbeda. Dia serba hitam kemerahan. Bayangan itu tersenyum mengejekku dan aku bisa membaca gerakan bibirnya. Uso-ja-nai-zo... Ini bukan bohongan.
'Miing... Miing... Miing...'
Pikiranku langsung menjadi tak karuan. Pandanganku menggelap seiring dengan suara cicada yang bernyanyi dengan riangnya dari pepohonan di taman.
.
.
.
.
.
.
.
.
...
Orang yang kusukai meninggal di depan mataku sendiri...
Gumi...
Hei, katakanlah... Ini mimpi 'kan?
Ijinkanlah aku memutar balik waktu, ke saat itu—pasti akan kuubah takdir mengenaskan itu...
Tuhan, kumohon...
To be continued...
Review, please?
