Chapter 2

Setting disini saya buat umur Naruto dkk sedikit tua. Di Chap ini mereka sudah menginjak usia 14 tahun, berbeda dengan di canon yang masih anak-anak. Untuk Rinnegan Naruto disini terbentuk secara alami. Bisa dibilang Rinnegan yang terbentuk karena kebencian.

Discaimer©Masashi Kishimoto

Rate: T

Pair: Naruto, Haku, Akatsuki


Situasi di Amegakure sama seperti biasanya, selalu hujan tanpa henti. Kota yang selalu saja menangis akibat penderitaan saat jaman perang. Meninggalkan luka pada generasi mendatang yang mendiami kota ini. Tapi sekarang, situasi di kota ini berangsur mulai membaik, dengan adanya beberapa aktivitas yang terjadi di kota ini. Semua ini berkat sang dewa yang mulai merubah kota Amegakure ini. Pain, itulah nama dewa yang mereka agung-agungkan karena jasanya telah menyelamatkan kota ini dari keterpurukan. Belum lagi tangan kanannya yang sering disebut sebagai Malaikat oleh mereka. Dengan adanya Pain, mereka semua disini percaya kalau negri mereka ini akan mencapai kemakmuran, sama seperti desa ninja lainnya. Itulah sosok Pain yang mereka agungkan.

Kita beralih menuju sebuah menara paling tinggi di kota ini. Didalam menara paling tinggi di Amegakure, terlihatlah 4 sosok yang berada didalam sebuah ruangan. Ruangan ini memiliki altar khusus dengan lantai altar memiliki kaligrafi aneh yang menghiasinya. Nampaknya akan dilakukan semacam ritual disini.

Salah satu sosok yang diketahui bernama Naruto, berdiri didepan mereka semua. Wajahnya tak terlalu terlihat akibat cahaya yang temaran. Namun mata Rinnegannya bisa terlihat seolah bersinar didalam kegelapan, dengan poni yang hampir menutupinya.

"Kalau begitu kita akan mulai prosesnya sekarang. Sasori dan Itachi berdirilah di salah satu altar itu".

Tanpa menunggu lama lagi mereka berdua langsung berdiri di salah satu altar. Sementara Naruto dan Haku hanya diam saja disana. Bagi Naruto sendiri sosok Haku tidak terkenal didunia luar layaknya Itachi dan Sasori yang terkenal diseluruh dunia Shinobi atas kejahatannya. Jadi cukjup Itachi dan Sasori saja yang menjalani proses perubahan. Naruto bahkan menyuruh Sasori untuk tidak berada didalam wujud boneka Hiruko miliknya, melainkan sosok pemuda dengan rambut merah sama seperti dirinya.

"Baiklah kalian berdua akan segera kumulai sekarang. Bersiaplah!". Ucap Naruto pada mereka berdua.

Secara cepat Naruto kemudian membuat serangkaian segel tangan untuk memulai proses Jutsunya. Selesai dengan segel tangannya, ia kemudian menapakkan tangannya kelantai, seraya menyebutkan nama Jutsunya. Hingga cahaya berwarna ungu temaran keluar dari altar yang dipijaki oleh Sasori dan Itachi. Hingga tak berselang lama cahaya tersebut langsung menyelimuti mereka berdua, dengan membentuk lingkaran. Hingga cahaya itu mulai menyusut menampakkan tubuh mereka. Hingga terlihatlah sekarang sosok Itachi dan Sasori sudah berubah.

Penampilan Sasori kali ini berbeda dengan sebelumya. Kali ini terlihat sosok pria berambut putih berantakan (seperti Near di death Note). Dengan wajahnya yang berubah sedikit tua layaknya pria yang sudah berumur.

Itachi memiliki tampilan dengan rambut hijau dengan poni di kedua sisi sepanjang dagu. Tentunya keriput di mukanya juga menghilang.

"Sekarang cobalah buat sebuah nama untuk kalian sekarang. Karena nama ini penting untuk kalian saat mengerjakan misi kali ini".

Nampak mereka terdiam sebentar memilih nama untuk mereka berdua. Hingga akhirnya Sasori dan Itachi langsung menyebutkan namanya.

"Namaku Kusano. Itu saja". Ucap itachi datar memperkenalkan dirinya sebagai Kusano.

"Kazuma". Ucap Sasori.

Urusan nama sekarang sudah selesai. Tinggal sekarang adalah mempersiapkan segalanya untuk pergi ke Konoha. Entah ujian Chunin seperti apa yang akan dilaksanakan disana, mungkin sesuatu yang menarik akan terjadi di ujian ini.

"Baiklah sekarang tinggal diriku. Panggil aku saja dengan Ameno".

Untuk kedepannya Naruto menggunakan identitas baru bernama Ameno. Jika diartikan nama ini bisa berarti Surga. Mungkin Naruto memakai nama seperti itu mengingat ia dijuluki dewa didesa ini. Untuk Haku sendiri tidak ada perubahan fisik atau identitas seperti mereka bertiga.

"Tapi, apa kau yakin dengan keputusanmu tidak mengubah bentuk fisikmu, Leader.? Bisa saja nanti di Konoha ada orang yang mengenali akan sosokmu. Jika identitas dirimu terkuak… apa yang akan kau lakukan?". Ucap Itachi dalam wujud Kusano.

Naruto kembali terdiam mendengar pernyataan Itachi padanya. Memang benar jika keputusannya ini penuh akan resiko. Jika memang identitas miliknya akan terkuak, yah mungkin hanya satu pilihan yang akan ia lakukan. Membunuhnya, membunuh orang yang mengetahui identitas.

"Apa kau lupa apa yang kukatakan pada Haku saat proses penyegelan Nanabi, Itachi?. Jikalau memang ada orang yang mengetahui tentang diriku… saat itu juga akan Kubunuh". Naruto memberi penekanan diakhir ucapannya.

Mereka berempat disini merasakan aura milik pemimpin mereka yang memancar pekat. Aura membunuh tinggi yang siap membunuh siapa saja yang mengetahui dirinya.

"Tak perlu berlama-lama lagi. Siapkan perlengkapan kalian semua. Kita akan langsung menuju Konoha sekarang juga". Naruto langsung memberi perintah pada mereka yang hadir disini.

Akhirnya setelah sekian lama ia akan pergi menuju Konoha dimana ia dilahirkan. Kembali kedesa yang penuh akan penderitaan baginya. Hingga ia memutuskan untuk kembali kedesa terkutuk itu dalam rangka ujian Chunin. Tapi satu hal yang membuatnya waspada… ia harus berhati-hati dengan saudari perempuannya, Ayano. Meskipun ia sudah lama menghilang dari Konoha, tapi bisa saja Ayano mengenali dirinya sebagai Naruto. Naruto yang kini menjadi Shinobi Amegakure.

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

Nampak disebuah jalan yang menuju kearah Konoha. Terlihat 4 orang sosok ninja Amegakure dengan perawakan yang berbeda-beda, satu diantaranya adalah seorang perempuan. Didepan mereka tampak seorang pemuda dengan rambut merah runcing yang menutupi matanya, dialah Naruto. Memakai jubah panjang berwarna hitam yang sering ia gunakan ketika bersama Akatsuki terdahulu. Bagian kerah dibiarkan terbuka, menampakkan Hitai-ate miliknya berlamabang Amegakure terikat dilehernya.

Untuk penampilan Kusano dan Haku sama seperti Naruto. yang membedakan hanya dibagian kerah yang tertutup dengan Hitai-ate yang terikat didahi mereka. Sementara Kazuma memakai seragam Jounin Ame seperti kebanyakan. Memakai Rompi Jounin berwarna abu gelap dengan hitai-ate yang terikat di pergelangan lengan kanannya.

Lama berjalan akhirnya mereka melihat gerbang konoha yang jaraknya semakin dekat. Hingga mereka sampai di depan bibir gerbang dengan kedua penjaga yang menjaga gerbang tersebut. Kazuma langsung menuju mereka untuk mengisi daftar hadir kelompok mereka untuk mengikuti Ujian Chunin ini. Setelah selesai, Kazuma langsung mengajak mereka masuk kedalam desa.

Tim dari Amegakure ini langsung masuk kedalam desa, mengiyakan guru mereka. Bagi Naruto sendiri entah kenapa ia merasa bernostalgia. Kembali mengingat kehidupannya dulu di Konoha yang penuh akan kepedihan dan kesengsaraan. Bahkan dia tak pernah mempunyai teman satupun didesa ini, sampai ayahnya membuang dirinya. Yah pengalaman menyakitkan yang lebih baik tak usah diingat.

Lama berjalan, mereka tak sadar sudah berada ditengah desa Konoha. Berjalan santai bersama dengan kerumunan dari warga Konoha. Bahkan dari warga desa terdengar oleh mereka sedang membicarakan tentang bagaimana ujian Chunin nanti. Yang pastinya nanti akan penuh oleh darah.

Lagipula Ujian Chunin akan diadakan sekitar 3 jam lagi. Mereka semua mempunyai sedikit waktu untuk berjalan-jalan sebentar. Entah itu membeli beberapa cemilan atau sekedar bersantai sejenak di kedai terdekat. Tapi, jangan lupakan untuk mencari tahu tentang seluk-beluk desa ini, terutama dibagian tempat yang sering ada penjaganya. Karena Naruto tinggal disini tak terlalu lama jadi dia tak tahu tempat paling strategis untuk menyusup. Meskipun begitu ia bisa menanyai Itachi tentang ini. Hanya saja pria itu selalu menampakkan wajah kalau ia tak akan memberitahunya. Yah sudahlah ia akan cari sendiri.

Tanpa sadar mereka telah menghabiskan waktu sekitar 2 jam setengah. Ada waktu 30 menit lagi untuk menuju Akademi dimana ujian Chunin akan dilaksanakan. Mereka akhirnya langsung menuju Akademi dengan melompati atap-atap rumah. Tak lama mereka akhirnya sampai didepan Gerbang Akademi Konoha.

"Kalau begitu selamat berjuang kalian bertiga". Ucap Sasori yang kemudian langsung pergi meniggalkan mereka.

"Ha'i. Kazuma-sensei". Balas Naruto layaknya seorang murid.

Ameno, Haku dan Kusano langsung memasuki ruangan Akademi dan menuju kelas dimana Ujian ini akan berlangsung, sementara guru mereka langsung pergi menuju ruangan yang disediakan khusus untuk pembimbing mereka.

Sasori yang terus berjalan akhirnya menemukan sebuah pintu yang dikhususkan untuk para pembimbing. Membukakan pintu tersebut, Sasori bisa melihat cukup banyak Jounin pembimbing disini. Mengedarkan pandangannya ia mencari satu kursi kosong untuk ia duduk. Hingga ia menemukan satu kursi kosong yang disebelahnya ada pria dengan rambut putih yang sama dengannya, tapi rambut milik pria tersebut jigrak keatas dengan masker hitam menutupi wajahnya.

'Sharingan no Kakashi, tak kusangka ia akan menjadi pembimbing disini'. Batin Sasori yang menerawang Kakashi.

Sasori atau Kazuma langsung duduk disampingnya. Jika dilihat lagi nampaknya banyak pembimbing Konoha yang berada disini. Mulai dari yang suka merokok, memakai pakaian aneh berwarna hijau ketat dengan alis yang super tebal, serta seorang wanita yang memakai pakaian dengan aksen warna putih. Pandangannya kemudian tertuju pada Jounin Sunagakure yang matanya tertutup satu. Baki, itulah nama Jounin yang Sasori tahu saat ia berada di Suna dulu. Hanya saja, wajah Jounin ini seperti tengah merencakan sesuatu yang sangat besar.

Jika diingat lagi hubungan Suna dengan Konoha sedang tidak harmonis, mungkin akibat keadaan desa mereka yang selalu kekeringan. Sasori bisa menangkap satu hal, sepertinya akan ada kejadian besar saat ujian Chunin ini. Yah ia hanya bisa menunggu sampai itu terjadi. Satu hal dari dirinya yang ia pegang teguh, ia tak suka menunggu. Dengan keadaannya sekarang ini, sepertinya ia harus melanggar motto miliknya.

Dengan Tim Naruto, mereka sudah sampai disebuah pintu kelas di Akademi ini. membukakan pintunya dan langsung masuk kedalam, dan terlihatlah pemandangan kelas yang ramai.

Nampaknya banyak sekali genin yang ikut serta dalam ujian kali ini. Mereka bertiga langsung mencari kursi kosong yang masih tersedia disini. Namun sulit sekali menemukan kursi kosong dengan kerumunan yang banyak seperti ini. Hingga akhirnya mata yang tertutupi oleh poni merahnya terfokus pada seseorang. Disana terlihat Ayano, saudarinya bersama dengan timnya.

Tapi kenapa… kenapa dia mempunyai ekpresi seperti itu?

Ekspresi yang penuh akan penyeselan terukir jelas di wajah cantiknya?

'Ada apa Ayano?. Kenapa ekspresimu terlihat seperti itu. Ekspresi yang menunjukkan rasa penyesalan yang teramat dalam. Tapi apa yang kau sesali, Ayano?. Tak mungkin' kan kalau kau menyesali kehilangan diriku". Batin Naruto yang melihat Ayano.

Di Tim mereka terdapat lagi dua orang yang Naruto ketahui bernama Haruno Sakura dan Uchiha Sasuke. Sasuke sendiri seperti biasa, dingin dan cuek dengan keadaan sekitar. Sementara si rambut pink yang selalu saja mencari perhatian darinya.

Booft!

Sebuah kepulan asap besar langsung tercipta didepan kelas, sontak murid yang masih mengobrol langsung kaget dengan asa tersebut. Dari kepulan asat tersebut terlihatlah 11 sosok pria yang memakai pakaian seba hitam.

"Namaku adalah Morino Ibiki. Aku yang akan menjadi pengawas di ujian Chunin pertama ini". ucap seseorang yang memakai mantel hitam dengan wajah yang seram. "Pertama kalian semua disini tidak akan duduk di kursi yang kalian pilih. Akulah yang akan menentukan posisi tempat duduk kalian". Lanjutnya.

Selang beberapa menit kemudian, para siswa sudah duduk dengan rapi dimeja yang sudah diatur oleh Ibiki. "Sekarang akan kumulai test ujian Chunin pertama. Kami akan membagikan lembar soal pada kalian". Ucapnya.

'Essay ya?. Jadi Ujian Chunin pertama adalah tes tertulis. Tapi, soal seperti apa yang akan muncul di Ujian ini?".Batin Naruto.

Ibiki kemudian menjelaskan peraturan ujian Chunin ini yang Naruto anggap cukup sederhana. Di ujian Chunin ini memiliki 3 aturan, pertama akan ada 10 soal yang satu soalnya terdiri dari 1 poin. Jadi jika semua jawaban kau tulis benar maka kau akan mendapat 10 poin. Jika kau hanya bisa mengerjakan 6 soal maka kau akan mendapat 6 poin. Peraturan kedua, ini merupakan Tim test. Singkatnya lulus atau tidaknya ditentukan nilai poin yang diperoleh dari Tim. Jadi setiap Tim berlomba-lomba untuk mendapatkan hasil poin terbanyak. Serta untuk meraih nilai poin sempurna, yakni 30 poin. Peraturan ketiga, ini sedikit sulit. Ibiki memberitahukan kalau ada aktifitas yang mencurigakan atau bisa dibilang mencontek, makan akan dikurangi 2 poin. Jika siswa yang bersangkutan ketahuan mencontek 5 kali maka akan didiskualifikasi. Serta jika dari gabungan poin dari Tim tidak cukup untuk dinyatakan lulus, maka satu Tim tersebut dipersilahkan keluar

Nampak semua murid yang ada disini langsung tegang seketika mendengar peraturan Ujian Chunin kali ini. Bisa dilihat raut wajah mereka yang gugup serta tidak percaya diri dalam Ujian ini. Namun, dari setiap murid terselip beberapa orang yang nampaknya biasa-biasa saja.

"Ujian Chunin ini akan dilaksanakan dalam satu jam… Hajime!". Teriak Ibiki serta para petugas langsung membagikan soal dan lembar jawaban pada semua murid.

15 menit kemudian…

Nampak dengan jelas raut wajah frustasi semua murid tak kala mereka melihat semua soal yang dibagikan oleh petugas. Naruto sendiri ketika melihat semua soalnya, ini bukanlah soal yang diperuntungkan oleh para Genin. Naruto mengedarkan pandangannya kesekeliling dan menemukan beberapa murid yang nampaknya lancar-lancar saja mengerjakan semua soal. Bahkan raut wajah mereka tak menunjukkan frustasi sedikitpun.

Mengalihkan pandangannya ia bisa melihat Kusano atau Itachi yang dengan mudah mengisi semua soal. Mengingat ia dari Konoha yang terkenal jenius, soal seperti ini bukanlah masalah baginya. Sementara Haku ia menggunakan Hyoton miliknya untuk mencari jawaban dari semua murid. Ia kemudian membentuk serangga berukuran kecil dan langsung pergi mencari semua jawabannya. Ketika serangga itu kembali padanya, serangga tersebut langsung berubah menjadi deretan jawaban yang dilihat oleh serangga miliknya.

Bagi Naruto sendiri ia hanya mampu mengerjakan 6 dari 10 soal. Namun ia mengerti maksud ujian pertama kali ini. Ini bukanlah tes tertulis melainkan tes untuk mencuri suatu informasi. Murid dianjurkan untuk mencuri semua jawaban tanpa diketahui oleh para pengawas ujian. Entah itu bagaimana caranya asalkan tidak diketahui oleh para pengawas.

Ketika ia melirik ke kanan, ia seketika terkejut, namun secepatnya menutupi keterkejutannya. Disampingnya duduk Jinchuriki Kyubi dari Konoha, Namikaze Ayano. Naruto nampaknya tak menyadari kalau Ayano duduk disampingnya. Apa ini suatu kebetulan atau semacamnya, ia tak tahu. Ia harus menjaga jarak darinya, ia tak ingin Ayano mengetahui tentang dirinya. Sangat gawat jika Ayano mengetahui dirinya adalah Naruto.

Jika dilihat lagi, Ayano nampaknya santai saja mengerjakan semua soal, bahkan ia sudah hampir selesai. Nampaknya otak jeniusnya semakin berkembang saja, terbukti ia dengan mudah mengerjakan semua soal yang tak dikhususkan untuk Genin. Naruto memaklumi semua itu, mengingat ia dulu di Akademi paling jenius. Mengalahkan salah satu Uchiha yang terkenal elit, Uchiha Sasuke. Sementara dirinya hanya mampu menjawab 6 soal saja. Namun ia tak peduli akan hal itu, inti dari Ujian Chunin ini bukanlah nilai. Tapi, sehebat apa kau mencari informasi.

Sasuke sendiri yang berasal dari klan Uchiha pastinya menggunakan Sharingan miliknya. Mata hitam Onyxnya langsung berubah menjadi mata merah dengan titik hitam. Ia sukses mencopy gerakan tangan lawan yang sedang mengerjakan soal.

Kita beralih menuju Genin berambut merah dari suna, Gaara. Ia tengah menutu salah satu matanya dengan tangan kanan, telak kiri dibiarkan terbuka. Tak lama beberapa pasir kecil langsung berkumpul di telapak tangan kiri miliknya hingga pasir itu berubah menjadi sebuah mata yang hidup. Mata itupun melayang menuju seorang murid yang lancar mengerjakan soal.

Berbeda dengan Hyuga Neji. Terlahir didalam Klan Hyuga membuatnya memiliki mata Byakugan yang mampu melihat dari jarak jauh. Mata miliknya dalam keadaan aktif dengan urat yang tercipta di sekitar matanya. Ia tak ragu langsung mencopy salah seorang peserta yeng tengah mengisi soal.

Naruto kembali melihat lembar soal miliknya. Ia kemudian melihat soal nomor sepuluh yang sangat aneh. Soal ini berisi "Pertanyaannya akan diungkapkan setelah 50 menit waktu Ujian. Karena itu dengarkan baik-baik". Itulah isi pertanyaan nomor 10. Nampaknya soal nomor 10 ini adalah penentu akhir di Ujian ini.

Jlebs!.

Tak terduga sebuah kunai melesat dan langsung menancap di depan meja milik Naruto. Spontan orang tersebut langsung kesal.

"Hei! Apa maksudnya ini". Teriaknya kesal.

"Kau ketahuan mencontek 5 kali. Kau dan Timmu dipersilahkan untuk keluar sekarang juga". Ucap seorang pengawas yang melempar Kunai tersebut.

"Darimana kau menyimpukan aku menyontek 5 ka-".

Buakh!

Peserta tersebut langsung menghantam tembok dengan keadaan lehernya tercekik. Ia belum sempat meyeleseaikan ucapannya, namun sang pengawas langsung memberinya kontak fisik.

"Dengar yah bocah, kami ini Jounin. Kami ini memperhatikan semua murid disini dan bisa menyimpulkan murid itu mencotek atau tidak". Ucapnya seraya berbisik ditelinganya.

Ia pun langsung terjatuh kelantai dengan keadaan lesu. Ibiki kemudian menyuruh kedua rekannya untuk berdiri dari kursi dan segera meninggalkan ruangan. Terlihatlah kedua rekannya yang hanya bisa menunjukkan raut wajah putus asa. Mereka berdua langsung keluar dari ruangan serta membawa temannya yang masih terduduk dilantai.

'Ketahuan ya, dasar Genin amatiran. Jika kalian setidaknya menangkap apa makna dari Ujian ini, mungkin kalian tak akan gagal di Ujian pertama ini…". Batin Naruto sambil melihat beberapa tim yang gagal. '… Bahkan dari awal Ujian juga sudah dijelaskan, siapapun yang ketahuan mencontek 5 kali akan didiskualifikasi' kan. Tapi bagaimana jika kalian tak diketahui melakukan aktifitas mencurigakan, itulah inti dari Ujian Chunin ini. Makna dari Ujian ini adalah mengukur bagaimana siswa dalam mengumpulkan Informasi tanpa diketahui oleh siapapun. Bahkan bagiku sendiri ini sedikit sulit, mengingat aku tak mempunyai kemampuan dalam mengumpulkan Informasi…'. Batin Naruto.

Ia kembali melihat lembar soal milik Ayano yang sudah ia balik, agar tak ada seorangpun yang dapat mencopy jawabannya. Nampaknya gadis ini sudah dari tadi menyelesaikan semua soal. Merasa dipandang, Ayano mengalihkan wajahnya untuk melihat peserta disisinya. Mata yang tertutupi oleh poni merahnya serta Hitai-ate berlambang Amegakure terikat dilehernya. Lama memandang dirinya, peserta dari Amegakure ini langsung kembali melihat kearah soal miliknya. Ia langsung menghembuskan nafas panjang, seraya mencoba konsentrasi.

'… Lebih baik kutanyakan soal yang belum selesai pada Kusano, aku juga merasa risih saat ia mulai memandangiku'.

Dengan kekuatan Rinnegan miliknya, Naruto langsung melakukan telepati. Itachi yang sedari tadi menunggu Ujian ini selesai langsung mendengar sebuah suara dari dalam pikirannya.

"Itachi, beri tahu aku soal nomor 4, 6 dan 9". Sebuah suara yang cukup berat langsung terlintas dikepala hijau milik Kusano. Dengan memejamkan matanya, Kusano langsung mengirim jawaban melalui telepati kembali kearah Naruto.

Mendapat rentetan jawaban dari Kusano, Naruto dengan cepat langsung mengisi semua soal yang belum ia kerjakan. Ayano mulai menyipitkan matanya tak kala melihat pemuda disampingnya kembali mengerjakan soalnya. Ia hanya bisa membatin satu hal…

'Orang ini… entah kenapa membuatku teringat akan seseorang. Rambut merah runcingnya… mengingatkan diriku pada Naruto…'.

Naruto dengan santai mulai mengisi kembali semua jawaban yang belum selesai. Tangan miliknya dengan cepat mengisi sebagian soal yang dari tadi belum selesai. Hingga Naruto kembali menaruh pensil miliknya dan segera membalikan kertas jawabannya agar tak dicopy oleh siapapun. Naruto yang merasa diperhatikan, kembali melihat kesampingnya. Terlihat Ayano yang menatapnya penuh curiga.

"Apa ada yang salah denganku?". Dengan tenang Naruto mencoba untuk menurunkan sikap kecurigaan Ayano padanya.

"Tidak, bukan apa-apa". Ayano kembali menatap ke arah depan kelas.

Ayano sendiri tak bisa mengenali wajah pemuda disampingnya ini. Poninya yang panjang menutupi matanya. Orang ini sangat misterius.

"Tapi, kau memang sangat hebat, Namikaze Ayano. Kau dengan mudah bisa mengerjakan semua soal ini tanpa kesulitan. Apa kau memang mempunyai kemampuan khusus untuk mencari semua jawaban itu?". Puji Naruto akan kehebatannya.

Ayano hanya memandang datar pada pria disebelahnya. Menyebut dirinya hebat bisa mengerjakan ini semua bukanlah hal yang istimewa baginya, malahan ia memang sudah seperti ini. Hanya saja entah kenapa Ayano bisa mempunyai pemikiran tentang Naruto ketika melihat pemuda ini. Apa memang ia adalah Naruto yang sekarang menjadi Shinobi Amegakure?, tentu saja tidak.

Ketika desa memberi kabar kalau Naruto menghilang dari desa, tentu ia syok. Saudara semata wayangnya hilang diumurnya yang sangat belia. Ayano tak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang dialami Naruto sekarang, ia tak tahu. Menyebut dirinya seorang kakak nampaknya ia tak pantas menyandang panggilan tersebut. Dirinya yang dulu ramah dan selalu tersenyum manis, perlahan menghilang digantikan wajah yang terkesan datar, bahkan dirinya mulai sedikit tertutup. Bahkan saat dirinya tersenyum, seolah senyum itu hanyalah sebuah topeng.

Ia hanya bisa melamun dan mengurung dirinya tak kala berita itu sampai padanya. Tertunduk dipojokan kamar sambil memegangi kedua lututnya, ia hanya bisa menangis disana. Wajah manis miliknya saat itu serasa menghilang, digantikan dengan wajah yang penuh dengan keputusasaan dan rasa bersalah. Dalam tangiisannya ia kembali mengingat kenangan dirinya bersama dengan Naruto. Dirinya yang selalu mendapatkan segalanya, sedangkan dia terasingkan akibat kasih sayang dari ayahnya yang berlebihan. Karena itu ia mencoba memperbaiki hubungan Naruto dengannya. Mulai dari mengajaknya berbicara, belajar bersama di Akademi, serta berlatih bersama. Walaupun itu mungkin hanya sekedar hal kecil yang bisa dilakukan olehnya untuk Naruto, namun ia ingin melihat wajah Naruto yang tersenyum penuh kebahagiaan padanya. Sebuah senyuman yang menerima dirinya sebagai saudaranya. Namun… ia tak pernah melihatnya.

Sejauh ia berusaha untuk melihat wajah adiknya bahagia, ia tak pernah menunjukkan raut wajah seperti itu. Selama ia mencoba berbicara dengannya, pasti ia akan selalu menjawabnya dengan nada yang terkesan ramah, bahkan diselingi senyuman. Ayano tahu kalau senyuman ramah darinya terkesan dipaksakan. Seolah Naruto selalu canggung bila Ayano mengajaknya bicara.

Pernah sekali Ayano mengajak Naruto jalan bersama mengelilingi desa. Berharap suasana hati Naruto bisa melunak padanya. Namun disepanjang perjalan ia selalu menundukan wajahnya, seolah ia tak menyukai dirinya berjalan bersamanya. Mencoba mencari topic pembicaraan agar suasana tak terlalu canggung, tapi selalu berakhir dengan pemikiran masing-masing. Karena itulah disepanjang perjanan hanya keheningan yang menghiasi mereka. Entah cara apapun yang dilakukan Ayano seolah Naruto memang tak pernah menerimanya, seolah Naruto memang membenci dirinya.

Ia tak ingin itu…

Ia tak ingin saudaranya membenci dirinya…

Karena itulah ia selalu mencoba untuk membuat hubungan layaknya seorang saudara. Hubungan yang penuh akan ikatan yang indah.

Hanya saja, semua yang dilakukan Ayano serasa tak berarti, ketika hilangnya Naruto. Bahkan sang ayah sendiri tak tahu menahu kenapa Naruto bisa hilang ketika ia menanyakan padanya. Karena itulah ia sekarang hanya mempunyai satu hal dalam dirinya, lulus dari Ujian Chunin ini. Menjadi Chunin dan bisa mengerjakan misi keluar desa sambil mencari saudaranya yang hilang.

"Itu biasa saja bagiku. Lagipula inti Ujian Chunin ini bukanlah mengisi semua soal ini dengan benar. Jika kau sedikit pintar kau pasti mengetahui maksud dari Ujian ini".

Nada yang lembut namun terkesan datar, itulah yang ia ucapkan. Naruto yang mendengarnya hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Meskipun ucapannya sedikit mengejek dirinya.

"Oh. Begitu ya".

Dari sekian banyak peserta yang mengikuti Ujian ini, nampaknya semuanya sudah mulai berkurang. Banyak sekali Tim mereka yang gugur di Tes tertulis yang menyulitkan ini. Jika dihitung kira-kira tersisa 100 Tim dari 200 peserta. Banyak juga peserta yang masih bisa bertahan, tapi tidak untuk waktu yang masih terus saja melaju. Hingga sekarang jam di dinding ruangan ini sudah menunjukkan waktu ke-50 menit. Akhirnya pertanyaan nomor 10 akan segera diberitahukan pada mereka.

"Sekarang, sebelum kita akan memulai pertanyaan nomor 10, aku akan menambahkan beberapa aturan untuk pertanyaan ini…". Semua murid langsung tertuju kearah Ibiki, mereka masih frustasi akibat semua soal ini, bahkan dari mereka ada yang belum mengisi satupun. Sekarang mereka akan mendengar pertanyaan no 10 yang ditambah peraturan lagi. Entah peraturan macam apa yang ia ucapkan. "… Untuk pertanyaan no 10 kalian harus memilih untuk menjawabannya, atau tidak sama sekali". Jelasnya.

"Terus, apa yang terjadi kalau kita tidak memilih jawaban itu?". Tanya salah seorang peserta wanita disana.

"Jika kau memilih untuk tidak menjawab… maka Poinmu akan dikurangi sampai Nol dan kau gagal bersama dengan Timmu…". Ibiki sengaja menggantung kalimatnya untuk melihat ekpresi mereka semua.

Bisa ditebak mereka langsung tertekan dengan ucapan Ibiki. Mereka tak tahu harus menjawabnya atau tidak sama sekali.

"… Terakhir, jika kau memilih menjawab tapi jawababanmu salah, bukan hanya kalian akan gagal di Ujian Chunin… tapi kalian juga tidak diwajibkan untuk mengikuti Ujian Chunin seumur hidup kalian!".

Mengedarkan pandangannya, Naruto melihat semua orang langsung depresi, namun ada juga beberapa yang masih tenang-tenang saja.

"Sayang sekali angkatan Chunin kali ini tidak beruntung karena tahun ini giliranku sebagai pengawas untuk Ujian pertama". Ucapnya dengan nada dingin yang menusuk. "Kalian yang tidak percaya diri bisa memilih untuk menjawab tidak, dan mencobanya lagi di tahu depan".

'Morino Ibiki. Tak heran kalau dia bisa membuat semua peserta menjadi tertekan. Dengan dirinya yang berprofesi sebagai divisi penyiksaan dan introgasi ia bisa dengan mudah menyiksa mental semua peserta…'. Batin Naruto.

"Jadi kita akan mulai sekarang. Untuk yang tidak menerima silahkan angkat tangan dan pergi bersama rekan satu tim kalian".

Memlih untuk bisa mengikuti Ujian Chunin tahun depan, mereka yang tak bisa akhirnya mengacungkan tangan dan segera pergi dari ruang Ujian. Kini mungkin hanya tersisa sekitar 80 peserta

'… Jika aku terus hidup disini dan mengikuti Ujian ini, aku juga mungkin akan mengalami hal yang sama seperti mereka. Mental yang tersiksa dan rasa gugup berkepanjangan. Tapi, dari itu semua aku tak peduli. Tujuanku sekarang ini adalah menangkap orang disebelahku ini jika ada kesempatan. Serta JInchuriki dari Suna yang kebetulan ikut andil dalam Ujian ini. Semoga saja yang kurencanakan tidak gagal'.

"Apa kalian yakin dengan keputusan kalian ini". Ibiki kembali mencoba untuk mengintimidasi mereka yang bertahan.

Mereka yang bertahan mencoba untuk menahan diri agar tidak mengangkat tangan mereka dan keluar dari ruangan ini. Ameno, Kusano dan Haku dengan tenang menanggapi ocehan Ibiki yang tak ada pengaruhnya bagi mereka. Intimidasi yang diberikan oleh Ibiki sangatlah kecil, berbeda dengan kehidupan Ninja yang sebenarnya.

"Ini adalah yang terakhir. Apa kalian yakin dengan keputusan kalian untuk tetap menjawab soal no 10?!".

Raut wajah mereka memang sangat gugup bahkan tersiksa, tapi mereka meyakinkan diri mereka untuk tetap mengikuti Ujian ini. Ibiki yang melihatnya lantas tersenyum, mereka akhirnya berhasil melewati Ujian pertama.

"Baiklah. Kalian semua yang masih tersisa disini, kalian semua Lulus Ujian Chunin pertama". Ucap Ibiki yang langsung disambut dengan teriakan heran dari semua peserta.

"A-apa maksudanya itu?. Terus bagaimana dengan pertanyaan ke 10 itu?". Tanya Sakura dengan heran.

"Tentu saja itu tidak ada. Bisa dibilang pertanyaan ke 10 itu adalah pilihan ku tadi yang kuberikan pada kalian semua". Ucap Ibiki datar menjawab pertanyaan Sakura.

"Lalu untuk apa tes ini dilaksanakan jika hasilnya seperti ini!". Ucap salah seorang peserta dengan kesal, nampaknya Ujian ini serasa mempermainkan dirinya.

"Tes ini ditujukan untuk mengukur kemampuan kita dalam mencari Informasi sebanyak-banyaknya. Tapi, dengan banyaknya peraturan mungkin itu semua sulit untuk dipahami oleh kita semua. Karena kesalahan sedikit saja bisa fatal".

Ayano langsung menjelaskan sebagian inti dari Ujian ini. Semua orang yang mendengarnya hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Ayano. Ibiki yang mendengar penjelasan dari Putri Hokage ini hanya tersenyum kagum padanya.

"Benar sekali. Seperti yang dikatakan Putri dari Hokage ke-4. Memang benar tes ini untuk mengukur kemampuan kalian untuk mencari informasi. Karena inti dari keberhasilan tes ini adalah berdasarkan kemampuan sebuah Tim. Itu sudah cukup untuk membuat kalian agar tidak macam-macam, atau kesalahan sekecil apapun yang kalian buat juga akan menimpa tim kalian". Jelasnya.

"Akan tetapi. Semua pertanyaan yang ada disini bukan ditujukan untuk Genin seperti kami. Dengan semua pertanyaan yang sulit ini kau membuat kami semua berpikir untuk mencontek. Jika boleh ditebak, mungkin ada dua atau tiga orang Chunin atau Jonin yang ikut serta dalam Ujian ini' kan?".

Naruto dalam wujud Ameno langsung menyela perkataan Ibiki, membuat beberapa pasang mata tertuju padanya. Mereka semua tak menyangka kalau penjelasan itu akan keluar dari seorang Shinobi dari Amegakure. Pasalnya Amegakure bukanlah desa terkenal seperti kelima desa ninja. Bahkan mereka semua disini beranggapan kalau semua ninja dari Amegakure ini semuanya lemah. Lemah di bidang Praktek dan Akademis. Itulah anggapan mereka masing-masing tentang Shinobi Amegakure. Nampaknya salah satu peserta ini cukup pintar

"Memang benar semua penjelasanmu itu, Genin dari Amegakure. Pada dasarnya Ujian ini memaksa kalian untuk mencontek walau dengan cara apapun itu. Seperti yang sudah kau jelaskan, disini sudah ada dua atau tiga orang Chunin untuk berbaur dengan kalian semua untuk menjadi target mencontek". Peserta yang disebut langsung mengacungkan tangannya, mengakui kalau mereka adalah seorang Chunin yang berbaur disini.

'Pein, aku harap kau tak terlalu menonjolkan dirimu. Aku takut kau akan berakhir dengan identitasmu yang akan ketahuan'. Pikir Haku yang melihat Ameno.

'Semoga identitasmu tidak terbongkar nanti di Ujian berikutnya, Leader-sama'. Batin Itachi.

Kusano dan Haku hanya bisa berharap kalau bos mereka tidak ketahuan. Ayano yang melihatnya juga sedikit kagum dengan penjelasan pemuda ini, bahkan Ibiki juga langsung mengakui kalau sebuah penjelasannya adalah benar. Ayano mungkin harus berhati-hati nanti dengan peserta ini nanti di Ujian kedua. Entah kenapa rasanya ia seperti menyembunyikan semua kekuatan dan daya analisisnya.

"Untuk kalian yang mencontek dengan cara yang bisa dibilang sangat bodoh, tentu saja kalian akan gagal. Karena…". Ibiki langsung membuka Hitai-ate dikepalanya dan menunjukkan bekas luka yang teramat parah dikepalanya, semua langsung bergidik ngeri melihatnya"… terkadang Informasi yang kita miliki bisa sangat berharga dari nyawa kalian sendiri". Lanjutnya.

Ibiki langsung menutupi bekas luka dikepalanya dengan Hitai-ate miliknya. "Aku ingin kalian tanamkan ini dalam benak kalian. Jika kalian mendapatkan informasi yang sangat penting ditangan kalian, itu bisa saja menjadi sebuah senjata yang sangat berguna untuk desa kalian. Itu saja dariku, dan selamat pada kalian yang sudah berhasil melewati Ujian pertama ini".

Praankk!

Mendadak kaca ruangan langsung pecah berkeping-keping tak kala seorang wanita yang langsung masuk menerobosnya. Sepertinya wanita ini tak tahu mengenai apa yang namanya "pintu". Ia langsung mengibarkan sebuah Spanduk didalam ruangan ini serta langsung memerpkenalkan dirinya.

"Aku adalah Mitarashi Anko. Aku adalah pengawas kedua Ujian Chunin ini".

Ia langsung memperkenalkan dirinya yang bernama Anko. Entah hanya Ayano saja yang mempunyai pikiran kalau Anko ini muncul dengan cara yang bisa dibilang... kurang kerjaan. Apa-apaan coba muncul dengan cara menghancurkan jendela segala. Mau dibilang keren apanya coba?. Sampai merusak fasilitas kelas juga. Nampanknya guru satu ini kurang dengan apa yang namanya tata krama. Yah mungkin ini adalah kebiasaannya.

..

..


And done.

Akhirnya selesai juga chap 2 fic ini. maaf ya kalau updatenya lama soalnya kompi saya mendadak rusak, Jadinya sulit deh buat lanjutin ini fic. maaf juga kalau chap ini kurang bagus menurut kalian. Jika ada yang ingin meralat atau setidaknya memberi ane saran atau kritik silahkan saja tulis di kolom Review.

Bye.