Disclaimer Naruto Masashi Kishimoto

.

.

.

.

.

Violinist Lany deMusica

.

.

.

.

.

Chapter 2

.

.

Verse I

Sasuke POV

Tubuhku terasa kaku dan sakit. Aku tertidur meringkuk di sofa semalaman. Bau lavender terasa menusuk di hidungku. Ini selimut Hinata. Lembut dan menenangkan. Dia sudah harus ke kampus pagi tadi. Aku menarik selimut Hinata lalu duduk. Ini istirahat terbaikku selama sepekan. Cukup efisien. Aku harus bergulat dengan arransemen dan tugas-tugas untuk kelasku—sepekan ini. Rutinitas. Vertigo juga bagian dari rutinitas.

Suara AC berderu memenuhi ruangan. Udara terasa lebih dingin. Aku tak ingat kapan terakhir kali benda itu mati. Aku mengambil remote dan mematikan AC. Hinata sudah mengambil tablature yang aku kerjakan semalam. Dan terimakasih untuk Ayah Hiashi atas ilmu yang dia berikan semasa hidup. Aku tidak akan menjadi dosen tanpa bantuannya. Ya, setidaknya aku bisa sedikit membalas kebaikannya kepada Hinata sekarang. Hanya sedikit.

Aku mulai beranjak dari sofa. Alat musik berserakan. Tergeletak di atas karpet. Kabel-kabel dan speaker masih menyala. Drum dan keyboard tidak pernah kusentuh. Mereka masih rapi di sudut ruangan. Aku membungkuk. Sial, kepalaku berdenyut. Udara di ruangan seperti menusuk hidung dan membeku di otak. Aku harus melempar tubuhku keluar dari ruangan ini segera.

Gitar dan Viola di tanganku, lalu meletakkan gitar di besi stand dan menggantung Viola di dinding. Aku ingat saat pertama kali berhenti memainkannya. Saat setelah Hiashi meninggal dalam perjalanan tur ke Yokohama. Ini semacam trauma. Aku hanya tidak ingin berakhir seperti dia. Viola. Ambisi. Dan tragis.

Hinata terus menangis saat itu. Aku memeluknya. Hampir putus asa. Psikiater tidak membantu sama sekali. Aku sendiri merawat Hinata. Siang dan malam. Satu minggu terpuruk dan menyedihkan. Dia berubah. Dia berbeda setelah mulai membaik. Dia dingin dan lebih tenang. Sorot matanya memancarkan ambisi. Percaya diri dan kuat seperti Ayah Hiashi. Ini lebih baik.

Ruang tamu gelap. Hanya cahaya temaram dari lantai atas. Aku duduk di sofa, lalu memasang dasi di kerahku. Kemeja putih. Jas hitam dan celana jeans biru gelap. Sepatu hitamku sudah mengkilat. Hinata selalu merawatnya. Demi kesan formal. Tapi aku lebih suka memakai Sneaker. Jam tangan rolex di lengan kiriku. 30 menit lagi pertunjukan dimulai. Aku harus bergegas. Aku berdiri setelah selesai dengan dasi.

Semburat jingga kian memudar di langit Kanto. Mobil sport merahku terparkir di garasi samping rumah. Menyisakan ruang kosong di sebelah kiri—tempat mobil Hinata. Aku mulai menghidupkan mesin. Memacu mobilku cepat. Langint sudah biru dan gelap saat aku menyusuri jalanan malam sekitar Kanto. Mobil-mobil berdesakan di persimpangan lampu merah. Suara klakson bersahutan tidak sabaran.

Universitas Tokai hanya berjarak beberapa blok dari rumah. Aku memarkir mobilku di samping BMW Ungu. Ini mobil Hinata. Di sebelah kiri mobil sport jingga. Tempat ini sudah penuh mobil mewah para pengunjung dan mahasiswa fakultas seni. Ini terlihat seperti pameran mobil mewah. Selain pertunjukan drama di gedung theater.

Suara speaker berbicara, terdengar dari luar gedung. Acara sudah akan dimulai. Beberapa orang masih bertahan di lobby depan. Mereka sedang bercanda. Rekan mahasiswa atau orang luar. Aku tidak kenal. Aku bertegur sapa dengan dosen-dosen dan mahasiswa di sepanjang lorong. Berjalan memutar melewati backstage gedung theater. Sepintas terlihat keributan dari celah pintu. Aku berjalan melewatinya.

Suara host semakin keras terdengar. Bangku penonton sudah penuh dengan pengunjung dan rekan mahasiswa. Aku duduk di bangku depan khusus dosen saat kulihat tirai merah masih menutupi panggung. Lampu sorot menerangi dua orang host di depan tirai. Mereka berteriak dengan microphone. Menyapa pengunjung di bangku penonton.

"Tuan Uchiha." Seseorang memanggilku. Suaranya tersamar oleh suara speaker dan orang yang bicara di sekitarku.

Aku menoleh mencari suara, dia berjalan dari arah kiri menghampiriku. "Karin-sensei." Aku melambaikan tangan. "Tak usah terlalu formal denganku." Dia dosen di kelas drama. Merah dan liar menatapku.

Karin duduk disampingku. Senyumnya terlihat menjijikkan. "Masih sendiri, Sasuke-sensei?"

"Tidak, mereka semua disini." Aku mengedikkan dagu ke arah bangku penonton di belakang. Bangku dosen sudah penuh. Mereka terlihat rapi dan elegan. Sangat khas orangtua.

Dia tertawa. "Kau bisa menghubungiku kalau butuh teman untuk acara ini. Sa-su-ke sensei." Tatapan matanya seperti menelanjangiku.

Ya, dan aku harus membiarkanmu menghisap milikku dari bangku penumpang di mobilku. Mungkin akan menyenangkan kalau itu adalah Hinata. Aku tahu. Semua orang pun tahu. Kelas drama selalu datang dengan penggila seks. Entah itu dosen ataupun mahasiswanya. Mereka semua sama. Kurasa mereka belajar kelas masturbasi saat jam kosong.

Tirai merah perlahan terbuka. Seseorang mulai bicara menceritakan adegan. Dekorasi bunga-bunga dan langit di latar panggung. Dua orang memakai kostum pohon, bergerak-gerak seolah tertiup oleh angin. Mereka terlihat ceria. Musik orkestra mulai bermain. Lampu sorot menyapu panggung. Merah. Hijau dan putih. Seorang putri menari diikuti sorot lampu.

"Kelasmu akan tampil, bukan?"

"Kelasmuu juga, Sasuke?" Balasnya.

Aku menoleh sekilas ke arah Karin. "Ya, mereka membuat musik ini."

"Oh, ya." Dia menatap kumpulan orkestra di atas panggung. "Aku ingat indigo itu." Dia berpikir.

Aku mengernyit. "Kau kenal?"

"Tidak. Mungkin. Aku lupa." Dia menggeleng.

Aku mulai penasaran. Tapi Karin terlihat kebingungan sendiri. Aku melihat Hinata di atas panggung. Dia tenggelam di antara pemain-pemain orkestra—di sebelah kiri panggung. Dia bermain cello. Tapi tidak pernah memainkan cello ungunya di rumah. Gesekannya ragu. Kuharap dia tidak mengacaukan musik ini.

"Lihat. Itu Naruto. Hebat, bukan?" Ujarnya

Seorang pangeran datang dari arah kiri panggung, "Itu Naruto?" Dia mengangguk, "Kostum itu terlihat hebat dan pandai berperan, bukan?" Dia menatapku tertawa. Naruto memakai jubah dan rambut palsu. Berdialog dengan putri saat latar panggung mulai berubah. Sebuah kerajaan. Sang putri naik ke atas kamar. Menengok dari jendela lalu tangannya melambai ke bawah.

Aku menyeringai menatap Karin, "Apa kau bermain dengannya?"

Dia tertawa lebih keras. "Kau gila, Sasuke. Dia anak saudariku."

Lampu sorot kembali menyapu panggung. Sang pangeran menari bersama putri. Penari-penari lain di sekitarnya, menari mengikutinya. Pohon itu juga menari. Karin tak bicara lagi. Sesekali menggumam sesuatu. Kami tenggelam dalam pertunjukan drama.

Satu jam sudah berlalu. Seseorang kembali bicara menceritakan adegan terakhir. Lampu sorot mulai redup. Hijau mati. Merah mati. Para penari meninggalkan panggung. Bisa kudengar suara langkah kaki mulai memenuhi ruangan. Beberapa penonton mulai beranjak meninggalkan gedung.

"Apa kau akan pergi malam ini?" Ucap Karin.

"Tidak."

Dia mendengus. "Apa kau lebih senang bercinta dengan gitarmu?"

Aku menatap Karin. "Gitarku tidak mendesah, Karin. Aku menikmatinya."

Dia tertawa. "Kau benar-benar sudah gila, Sasuke." Ya, aku gila. Hanya gila. Dan kau gila seks. Itu lebih buruk.

Karin sudah pergi. Tirai panggung mulai menutup. Aku berjalan menuju pintu backstage. Gelak tawa terdengar saat aku membuka pintu. Mereka menatapku dan memanggil namaku. Aku tersenyum dan melambaikan tangan. Kemudian berlalu ke ruang sebelah.

Ruangan pemain orkestra, "Sasuke-sensei!" Mereka memanggilku. Muridku di kelas seni. Nasi kotak di tangan mereka. Beberapa duduk dan berjongkok di lantai. Hinata menatapku dan tersenyum tipis.

"Kalian sudah berusaha dengan baik." Ucapku. Aku duduk di bangku kayu. Ruangan ini terasa panas. Aku hanya duduk tapi berkeringat. Jas hitam sudah kugantung di lengan. Dua kancing kemeja kubuka dan masih terasa panas.

"Tentu saja, sensei! Ini berkat arransemen Hinata." Ucap mereka bersamaan.

"Benarkah?" Aku menoleh ke arah Hinata. Dia terlihat gugup. Menatap seolah mencegah untuk bicara. Dahinya mengerut. Matanya menyipit. Tentu saja, aku tak bicara tentang arransemen. Atau aku harus menahan lapar saat mengajar kelas pagi.

"Setelah ini pulang dan beristirahatlah kalian. Besok pagi kelasku pukul 10. Dan jangan terlambat." Tukasku.

Mereka mendesah panjang bersamaan.

Hinata POV

Aku bersyukur tidak mengacau arransemen. Aku gugup saat Sasuke melihatku dari bangku penonton. Tanganku berkeringat saat di panggung. Ini melelahkan. Aku ingin pulang. Lalu melempar tubuhku ke atas kasur. Nasi kotakku masih utuh. Aku hanya memakannya sedikit. Dan rasanya seperti sterofoam.

"Hinata?" Sasuke memanggilku. Dia berkeringat. Jas hitamnya menggantung di lengan. Kancing kemeja terlepas dua disana. Terlihat seksi. Dan, ah otakku mulai liar.

Dia menatapku, "Kita harus bicara mengenai arransemen." Tidak, jangan macam-macam Sasuke.

Aku mulai panik, "Hee? Apa ada yang salah?" Tentu, tidak ada. Sasuke tidak gila.

"Tidak, itu bagus. Kita bisa bicara sambil berjalan ke tempat parkir." Ucapnya. Dia mulai beranjak dari bangku. "Kalian segeralah pulang."Ucapnya kepada yang lain.

Dia menghampiriku. Matanya masih menatap mereka. "Aku ingin sedikit berdiskusi dengan hinata mengenai arransemennya." Sasuke beranjak mendahuluiku.

"Shino, maaf. Aku harus pulang lebih dulu." Shino terbengong menatapku, sedetik kemudian mengangguk. Lalu tersenyum.

Aku melambaikan tanganku, "Baiklah, teman-teman aku pergi dulu."

"Terimakasih, Hinata. Hati-hati." Aku menoleh saat mendengar ucapan salah satu dari mereka. Aku membalasnya dengan tersenyum ke arah mereka.

Aku belari kecil. Menyamai langkah Sasuke yang terburu-buru. Dia menoleh saat aku sudah disampingnya, "Arransemen-mu luar biasa, nona Hinata." Dia menggodaku.

Mataku menyipit menatapnya. "Jangan main-main denganku. Tuan Sa-su-ke." Aku menekan intonasi di setiap penggalan namanya. Dia hanya tersenyum tipis.

Pintu lobby sudah terlihat. Beberapa orang berlalu-lalang dan bertahan di sekitar lobby. Saling bicara dan bercanda disana. Seperti tidak ada tempat lain untuk itu. Bergerombol dan menghalangi jalan. Sasuke menarik lenganku, tangannya membuka jalan melewati mereka.

"Hinata."

Tangan Sasuke masih menggenggamku. Terasa hangat. Dan kekar. "Hmm?"

Kami sudah berjalan di tempat parkir. Menyusuri deretan mobil mewah, sampai berhenti di samping BMW unguku.

"Kapan kau akan bilang?"

Aku menoleh, "Tentang apa?"

Tangan Sasuke mendorongku. Menekan punggungku pada pintu mobil. Dia menatapku. Wajahnya semakin mendekatiku. "Tentang kita." Bisiknya ditelingaku.

Aku membuang muka. Napasnya berat dan hangat menyapu wajahku. Jantungku berdegup tak normal. Tubuhku memanas. Tangannya mendorong pintu mobil dan mengekang tubuhku. Ini buruk. Mereka bisa melihat kami. Sasuke bodoh.

"Ugh. Jangan Sasuke." Aku merasakan basah sekitar leherku. Aku mendesis, kemudian meronta. Mendorong dadanya agar menjauh. Dia melemah tak melawanku dan mundur. Aku bisa melihat kekecewaan di wajahnya. Aku belum siap. Tidak sekarang, tidak juga di sini. Ini gila. Dan ini bodoh.

"Maaf." Ucapnya. Wajahnya sendu menatapku. "Maaf, Hinata. Aku lepas kontrol." Dia beringsut dari hadapanku. Kemudian masuk ke dalam mobilnya. Aku bersandar di pintu mobil. Menatap kepergian Sasuke meninggalkan tempat parkir. Jantungku masih berdegup kencang. Masih tidak menyangka tindakan nekatnya barusan. Maaf, Sasuke. Batinku.

Tubuhku terasa gemetar. Sudut mataku terasa basah, kemudian kurasakan sesuatu mulai mengalir di pipiku. Tidak begitu banyak yang keluar, namun berarti banyak dalam hatiku. Aku mulai menghidupkan mesin, kemudian memacu mobilku meninggalkan gedung fakultas seni.

Sasuke POV

'Clap'

Aku menekan saklar di dinding sebelah pintu—di ruang tamu. Lampu menyala membuka jalanku menuju dapur. Aku mendengar suara mobil dari Garasi saat aku membuka kulkas. Kepalaku membungkuk. Tanganku mengobrak-abrik mencari makanan. Sereal gandum. Susu. Dan cola. Ini hari minggu di akhir bulan. Tak ada waktu untuk belanja bulanan. Hinata sibuk dengan pertunjukan rutin. Sial, malam ini aku harus kelaparan.

Suara langkah terdengar dari depan rumah. Aku duduk di meja makan. Membawa gelas dan botol cola di tanganku. Aku melirik pintu depan saat menuang cola ke dalam gelas. Dia tidak melihatku. Tidak ada suara. Hanya suara busa sofa yang tertimpa di ruang tamu. Aku mengambil satu gelas lagi. Menuang cola dengan tangan kanan. Tangan kiriku mengambil satu gelas lain, lalu meminumnya. Meneguk isinya hingga tandas. Perutku terasa panas setelah menghabiskan satu gelas. Lambungku terasa perih melintir.

Hinata meringkuk di sofa. Dia menatapku saat aku menaruh gelas ke meja. Aku duduk di sebelahnya. Hinata mulai beringsut lalu duduk. Mengambil gelas kemudian meminumnya. Aku masih mengamatinya. Dia bersandar setelah menaruh gelas di meja. Matanya terpejam.

"Hinata?"

Dia melirikku "Hmm?"

Aku mengusap rambutnya. "Sudah mau tidur?" Dia mengangguk.

Aku menarik bahunya, meletakkan kepalanya di pangkuanku. Dia diam. Matanya kembali terpejam. "Kau sakit?" Dia menggeleng. "Tubuhmu panas." Aku membelai wajahnya yang memucat dan berkeringat.

"Sasuke." Sudut matanya melirikku.

"Hmm?"

"Jangan melakukan hal bodoh seperti tadi di tempat parkir." Dia berbisik sangat pelan. Mungkin terlalu lelah dan mengantuk. "Kau bodoh. Bagaimana kalau mereka tahu?"

Aku menatapnya, "Kenapa? Biar mereka tahu." Aku tahu dia belum siap. Butuh waktu lebih untuk bersabar. Hanya menunggu. Dia akan datang dengan kemauan sendiri. Dia akan memelukku dan meminta lebih. Saat nanti dia siap. Saat hatinya siap dan menerimaku.

"Tidak, Sasuke. Tidak sekarang." Suaranya semakin memelan. Matanya kembali memejam saat aku merasakan genggaman tangan yang mengerat di pahaku. Aku mengusap bahunya. Memberikan kenyamanan pada tubuhnya. Genggaman tangannya mulai melemah. Aku merasa bodoh dengan sikapku. Saat mendorong egoku kepadanya. Tanpa memahami perasaan Hinata.

Aku tidak terkontrol saat berada di dekatnya. Seringkali. 3 tahun bukan waktu yang singkat. Aku sudah bersabar, menunggu saat yang tepat. 3 tahun kurasakan sangat berat. Saat beban imajiner di dada membekapku erat. Terasa kuat dan semakin mencekik. Dia menjauh saat aku menginginkannya. Memberi harapan saat aku semakin menginginkannya. Menjauh lagi, dan semakin jauh dari jangkauku. Dia seperti dilema.

Aku menatap wajahnya. Dia sudah tertidur di pangkuanku. Hembusan nafasnya halus. Bisa kurasakan hangat dari balik celana jeans-ku. Aku melepas jas hitamku, lalu meletakkannya di tubuh mungil Hinata. Aku mulai bersandar. Menekan punggungku di bahu sofa. Berharap beban ini bisa memudar. Lalu menghilang bersama egoku. Berharap semua akan membaik saat terbangun pagi nanti..

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/n

Special Thanks to LovelyLany buat POV Hinata

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Semoga Menghibur

Terimakasih