Moku-Chan : Uh, apakah mereka bersama? Saya punya rencana buat itu. :p Kalau dark romance sih mungkin ada, Cuma mungkin gak segelap itu. Apakah Lucius berambisi mendapatkan Luna? akan diulas di chapter-chapter berikutnya ;) Eh gapapa, kalau mau tanya saya bandrol 1 Galleon kok. Haha, jk. Kalau ada yang ditanyakan, monggo silakan. semoga makin penasaran /hee

EnitaAndYKa : Yeap, emang pendek. Saya selalu kesulitan buat nulis chap 1 x_x Untuk kehidupan Luna dan Lucius setelah pertemuan terakhir, akan dijelaskan di chapter-chapter selanjutnya kok. Semua rencana sudah tersusun rapi ;) Yang random dibagian mana kak? Untuk masalah satu tahun atau dua tahun itu murni typo. saya benahi segera. Terima kasih sudah mengingatkan. Feel free buat kritik ;)

Potter15 : ini dia chap 2 nya ;)

Lee : Danke! Ini updatenya ;)

Terima kasih buat yang subscribe dan fav ;)

.

.

.

Disclaimer : Punya JKR tercinta, tapi kapalnya punya saya /hush/

Warning : OOC yang sangat parah, tata bahasa yang mungkin agak berantakan. BERLAWANAN dengan isi buku ataupun film.

Title : Wait For Me II : The Path

Rating : T wae lah

Genre : Romance, Drama, dan Action dikit.

Sumarry : "Saat ia harus mengorbankan jiwa dan raganya untuk orang-orang yang ia cintai, hal yang ia takutkan akihrnya muncul didepan matanya. Lucius kehilangan arah untuk menuju."

.

.

.

Dolohov masih mendorong Luna untuk berjalan lebih cepat kedalam istana yang indah itu. Luna tidak bisa melawan. Ia hanya dapat mengikuti kemana para Death Eater kelas kakap ini akan membawanya. Ditambah, ia kehilangan cukup banyak darah akibah Sectumsempra yang menggores lengannya itu, membuat Luna hanya ingin pingsan. Harapan lainnya adalah, ia tidak berharap untuk bertemu dengan Lord Voldemort disini. Karena, dari kabar yang ia dengar dari beberapa penyihir, jika Malfoy Manor telah dijadikan markas Death Eaters. Dan itu berarti, keluarga Lucius akan berada dalam bahaya.

"Masuk!" sentak Dolohov kasar, membangunkan Luna dari pikirannya yang masih sempat-sempatnya memikirkan Lucius. Toh, padahal ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya beberapa menit kemudian. Dolohov menyeret Luna masuk, kemudian mendorong Luna ke lantai. Ia terjatuh dengan posisi terjerembab. Kepalanya hampir membentur lantai batu yang dingin, hanya menyisakan satu mili saja.

Lucius, yang sedang duduk di kursi pertemuan merasa amat sangat terkejut tatkala ia melihat siapa yang dibawa oleh Dolohov dan duo Lestrange ini. Ia merasa jantungnya hampir berhenti berdetak saat ia melihat penyihir yang menjadi Tuan-nya itu berjalan kearah Luna. Dari jauh, Lucius juga bisa melihat ujung bibir gadis itu berdarah. Lucius menduga, pasti salah satu dari para Death Eater itu yang melakukan hal tidak baik ini kepada gadis yang (masih) mengisi hatinya itu. Lucius tidak bisa berbuat apa-apa, ia bahkan tak berani memandang Luna. Lucius hanya menunduk, memandang tangannya diatas meja.

Narcissa, yang mengetahui perubahan ekspresi suaminya tiba-tiba mengenggam tangan Lucius erat. Pria yang kali ini penampilannya sangat kacau itu balik menggenggam tangan istrinya. Sejenak ia merasa bersalah kepada Narcissa dan Draco karena dirinya diam-diam masih mencintai Luna, cinta pertamanya. Jantungnya bekerja dua kali lipat, Lucius kehilangan kendali atas dirinya. Ia mencoba untuk tetap tenang, dan tidak bertindak gegabah. Akan berakibat fatal jika emosi, apalagi samarannya terbongkar oleh Voldemort.

Penyamaran Lucius hanya diketahui oleh Snape, dan Dumbledore saja. Dumbledore mungkin sudah memberitahukan kepada para anggota Orde jika Lucius disisi mereka, tetapi Lucius memilih untuk tidak peduli. Ia hanya ingin fokus kepada tugasnya untuk melindungi Luna, dan menyelamatkan penyihir sebanyak mungkin. Kali ini tekat Lucius benar-benar bulat. Ia sudah bersumpah akan melindungi Luna, sampai Voldemort ditaklukkan. Melindungi keluarga Malfoy juga, tentu saja.

"Well..well...well.." suara dingin seorang penyihir tiba-tiba muncul. Luna memberanikan diri untuk bisa melihat siapa yang bersuara. Rambutnya yang pirang menutupi pandangannya dari penyihir berjubah hitam itu. siapapun itu, Luna berharap itu bukan lah Lord Voldemort. Karena, Luna tidak tahu apa yang akan dilakukan Voldemort padanya nanti.

"Pendukung Potter yang lain," tambahnya.

Penyihir itu berjalan semakin mendekat. Dari balik rambut yang menutupi matanya, ia bisa melihat kaki-kaki yang sedang duduk mengelilingi meja. Nampaknya, ini adalah hari sial bagi Luna. karena, ia diculik tepat pada saat sedang terdapat pertemuan antar Death Eater di Malfoy Manor. Penyihir itu mengacungkan tongkat sihirnya, ia memaksa Luna untuk berdiri.

Dugaan Luna benar. Penyihir yang tengah berbicara kepadanya ini adalah Lord Voldemort, penyihir hitam terkuat yang pernah ada. Luna menghindari kontak mata dengan penyihir tidak berambut, yang memiliki wajah seperti ular—tanpa hidung itu karena Harry sendiri yang mengatakan jika Voldemort memiliki kemampuan Legillimens yang kuat. Ia bisa memainkan pikiran korban sesuka hatinya, dan Luna yang tidak memiliki kemampuan itu hanya bisa pasrah. Luna memandang Lucius yang hanya bisa menunduk selama beberapa detik sebelum akhirnya Voldemort bersuara lagi.

Voldemort berujar lagi, "Ya, ya, kau pasti anak dari Xenophilius Lovegood," tangannya yang pucat menyentuh—bukan, tepatnya mencengram dagu Luna. Ia memaksa Luna untuk memandang mata hitam yang gelap itu. Kulitnya terasa seperti tersentuh es ketika Voldemort menyentuh pipinya. Luna menebak, pastilah penyihir ini tidak pernah memandikan dirinya dengan sinar mentari yang hangat. Lihat saja, kulitnya saja sampai sepucat itu. cih!

Luna hanya diam, memandang hidung Voldemort dengan aneh. Lucius sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya melihat Luna terikat seperti itu. Dalam hatinya ia murka sekali kepada siapapun yang telah melakukan ini, termasuk kepada Voldemort. Rasanya ia ingin menonjok wajah lonjong itu dengan tangannya yang kuat. Ia-Voldemort sudah menyeret keluarganya dalam masalah ini. Dan hal ini yang paling tidak bisa dimaafkan, ditambah, kali ini Voldemort menyeret Luna. Draco, yang berada disampingnya hanya diam tidak berani melihat wajah gadis yang ia kenal itu.

"Kita pernah bertemu dengan gadis ini saat penyerangan di Kementerian, My Lord," Dolohov menyahut. Voldemort mengangguk, seakan-akan pikiran licik melintas dibenaknya.

Ia tersenyum keji, menunjukkan gigi-gigi yang aneh berwarna kuning kepada Luna. ia kemudian berbicara lagi, "Ah, benar sekali. Gadis hebat untuk penyihir seusiamu," ia terhenti. Memandang wajah Luna lekat-lekat lagi. Luna hanya bisa menelan ludah, ia merasa benar-benar jijik dan kasihan kepada Voldemort.

Ia menyambung ucapannya lagi, "Aku, Lord Voldemort yang murah hati akan dengan mudah membiarkanmu tetap hidup asalkan kau beritahu aku dimana keberadaan Potter dan teman-temannya...atau, kau bisa menjadi salah satu bagian dari kami," tawar Voldemort, wajahnya yang mengerikan semakin dekat dengan Luna. Melihat jauh kedalam isi kepala Luna, dan apa yang telah ia pikirkan.

Lucius menatap mata Luna dari kejauhan, sorot matanya mengatakan 'jangan katakan apapun, Luna.' Ia benar-benar harus mencari cara agar Voldemort tidak mengapa-apakan gadis itu. Cara agar ia bisa membuat Voldemort bisa membiarkan, paling tidak , tidak menyiksanya dengan cruciatus. Otaknya masih berputar-putar, mencari jalan keluar yang aman. Ia tidak bisa mengorbankan sedikitpun samarannya, karena jika sampai terbongkar maka masalah akan menjadi semakin runyam. Bisa-bisa, Voldemort menyerang Hogwarts hari itu juga. Dan nyawa yang tidak bersalah akan melayang sia-sia.

Mendengar ucapan Voldemort, Luna merasa geram. Ia lebih memilih membusuk di Malfoy Manor dan menerima jutaan cruciatus daripada membocorkan keberadaan Harry Potter dan teman-temannya. Luna akhirnya pun menanduk Voldemort dengan keningnya namun meleset. Voldemort mundur beberapa langkah, pandangannya semakin dingin dan mengerikan. Ia mendesis seperti ular. Lucius menahan nafasnya saat melihat kejadian itu, ia tidak mengira Luna akan seberani itu. Dan pastinya, perbuatan Luna itu akan membawa dampak yang lebih buruk pada diri gadis itu sendiri.

"Berani sekali kau melakukan ini kepadaku, gadis bodoh!" Gertaknya geram. Ia mengacungkan tongkat sihirnya lagi, tepat didepan mata Luna. ia menyemburkan sebuah mantra, cruciatus kepada Luna. Cahaya hijau melesat dari tongkat sihir Lucius yang sudah ia ambil alih. Cahaya itu menerpa diri Luna sepersekian detik kemudian. Luna pun terjatuh dan menggeliat dilantai seperti orang yang tersengat jutaan volt listrik. Ia bisa merasakan isi perutnya dipenuhi oleh rasa sakit yang tak tertahankan, seakan-akan nyawanya akan dicabut paksa. Lucius memalingkan wajahnya dari pemandangan yang mengerikan itu. Tangannya mengepal dengan kuat, seolah ia ingin meninju Voldemort sekarang juga.

Voldemort menghentikan serangan itu, dan melihat Luna yang tengah terkapar dengan rasa sakit sekujur tubuhnya. Voldemort tersenyum keji, kemudian bersuara, "Apa kau sudah berubah pikiran?" tanya Voldemort lagi.

"Tidak..akan..pernah, Tom," jawabnya lirih.

"Pilihan yang buruk," Voldemort berujar. Voldemort mengeluarkan kutukan tak termaafkan itu lagi. Dan lagi-lagi Luna menggeliat sepeti orang tersengat arus listrik yang besar. Kali ini rasa sakit yang dirasakannya dua kali lipat dari yang pertama. Luna merasakan sekujur tubuhnya mati rasa, tetapi ia masih bisa merasakan setiap rasa sakit yang menjalar. Ia tidak bisa berteriak, atau melawan kecuali menggertakkan gigi-giginya.

Lucius merasa tidak tahan melihatnya. Voldemort jauh lebih rendah daripada yang pernah ia bayangkan. Lucius masih memikirkan cara yang tepat untuk membuat Voldemort berhenti, dan benar-benar harus bertindak cepat sekarang juga, atau (mantan) pacarnya itu akan bernasib sama seperti Frank dan Alice Longbottom. Ia akhirnya bangkit dari kursinya dan menghampiri tuannya yang tengah asik menyiksa sandranya.

"My Lord," Serunya pelan.

"Aaah Lucius," Ia—Voldemort terkekeh sendiri dan menghentikan siksaannya kepada Luna. Lalu ia melanjutkan, "Sudah lama aku tidak melihat mu bersenang-senang."

Lucius mengangkat kepalanya, sudah mengetahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia memberanikan diri untuk memandang Voldemort dengan mata kelabunya yang dipenuhi oleh rasa khawatir tersebut. Lucius mendengar Voldemort bersuara lagi, "Sekarang bermainlah dengan dia, Lucius. Kau masih ingat mantranya, bukan?" tawar Voldemort dan menawarkan tongkat sihir yang ia rampas darinya, itu membuat nyalinya sedikit menciut.

Lucius mengumpat dalam batinnya. Ia tidak punya pilihan lain selain menuruti apapun yang diinginkan Tuannya. Lucius tetap diam, tidak bergeming. Masih menundukkan kepalanya, matanya menangkap sorot mata Luna yang masih terkapar dengan nafas cepat. Lucius sangat tidak tahan melihatnya, ia berharap jika kali ini ia bisa membawanya lari dari sini dan menyelamatkan dia.

Tetapi itu sangat tidak mungkin. Jika ia membawanya kabur sekarang, maka mereka berdua juga pasti akan mati. Ditambah lagi, siapa yang akan menjaga Draco dan Narcissa setelahnya? Ia berada dalam posisi serba salah. Dan posisi ini membuat kepalanya terasa ingin pecah. Ia harus bisa berpikir rasional. Ia tidak boleh terlalu banyak melibatkan emosinya untuk permasalahan yang runyam ini.

Lucius menganggukkan kepalanya pelan, tapi ia tak kunjung mengambil tongkat sihir yang ditawarkan kepadanya. Voldemort memaksanya lagi, "Lakukan perintahku, Lucius!"

Ia pun mengambil tongkat sihirnya dengan tangan gemetar hebat, menodongkannya kepada Luna. Ia menatapnya dan tatapan mata itu seolah mengatakan penyesalan. Luna balik memandangnya dengan mata biru yang memancarkan rasa sakit. Lucius bisa merasakan tatapan mata itu merasuk kedalam urat syarafnya yang terasa beku. Ia menarik nafas panjang, merasakan batinnya tersiksa.

Lucius mulai menarik nafas dan memejamkan matanya, mulutnya berkomat-kamit mengucapkan mantra terlarang—cruciatus curse kepada wanita yang dulu pernah (dan yang masih) mencuri hatinya. Ia harus melakukan ini. karena, lebih baik Lucius yang melakukannya daripada Voldemort. Ia—Voldemort sudah tidak punya hati dan emosi didalam dirinya. Sementara Lucius, ia masih memiliki hati dan perasaan. Tapi untuk kali ini, ia harus berusaha untuk melampauinya.

Tak sampai 5 detik, Lucius menghentikannya. Ia tak tahan melihatnya. Ia memutar otak untuk mencari cara, paling tidak bagaimana agar Luna tidak tersiksa seperti ini lagi. Sebuah ide gila terbesit dalam pikirannya, ia tak punya waktu banyak untuk memikirkan rencana lain selain pikiran yang tiba-tiba muncul didalam otaknya. Lucius tidak punya pilihan.

"My Lord," Panggil Lucius. Severus nampak menahan nafas ketika melihat teman baiknya memanggil Voldemort saat sedang asyik bersenang-senang dengan korbannya. Ia hanya berharap jika Lucius tidak akan kena sembur dari Voldemort.

Ia sudah menghentikan penyiksaannya kepada Luna. Luna terkapar, terkejang beberapa kali dilantai. Lucius sama sekali tidak berani memandang Luna yang terkapar seperti itu. Jelas Lucius tidak memberikan cruciatus terbaiknya, ia hanya memberikan cruciatus terendah. Voldemort tidak tahu akan hal ini. Tidak akan tahu. karena hanya Luna dan Lucius yang tahu seberapa parah cruciatus yang diberikan seseorang kepada korbannya. Ia—Voldemort kemudian melihat pengikutnya dengan seringai mengerikan, menunggu kalimat apapun yang keluar dari mulut Lucius.

Lucius menarik nafas panjang, dadanya mengembang, nampak sedang menahan detak jantungnya yang tidak karuan karena saking gemetarnya. Lidahnya terasa berat, tapi ia membuatnya se-rileks mungkin, tidak ingin ada kejadian lidah keseleo atau semacamnya. "Kita tidakakan mendapat keuntungan dengan menyiksanya seperti ini," Jelas Lucius.

Voldemort mendongak, menuntut penjelasan lebih lanjut kepada Lucius. "Lalu, apa rencanamu, Lucius?" tanya Voldemort, hidungnya kembang kempis. Ia memandang Lucius dengan dingin, bibirnya menarik sebuah seringai kecil.

"Kita berikan dia waktu untuk membuatnya...mempertimbangkan tawaran untuk bergabung dengan kita," Ujarnya pelan, berharap Luna tidak mendengarnya. Lucius nekat mengambil resiko besar untuk pilihan yang ambil. Karena, sedikit saja salah langkah ia dan Luna bisa berakhir tak bernyawa ditangan Voldemort. Lucius harus memikirkan setiap langkah yang ia ambil, dengan keberuntungan dan nasib baik akan berpihak kepadanya.

Again, he have no choice.

"Apa kau bisa menjaminnya, Lucius?" Voldemort menantangnya.

"Dengan hidupku, My Lord," Lucius berkata. Mengangkat kepalanya, memberanikan diri untuk memandang kedua mata Lord Voldemort. Ia sudah mempertaruhkan semuanya, agar misinya bisa terpenuhi. Dan tanggungan berat yang ada dipunggungnya akan hilang.

"Jika sampai rencanamu gagal, Lucius, maka kau sendiri yang harus membunuh gadis ini," Voldemort malah menantang Lucius lagi. Luna mendengarnya dengan hati yang mencelos. Ia sendiri bingung kenapa Lucius mempertaruhkan dirinya untuk menyelamatkan Luna. Bukankah Lucius seorang Death Eater yang sudah seharusnya patuh dan tunduk dengan Voldemort? Atau jangan-jangan Lucius memang agen ganda? Hal ini membuat Luna bertanya-tanya kenapa.

Lucius tertegun mendengar tantangan dari Voldemort. Ia tidak bisa menolak, dan ia tidak bisa membantah. Ini adalah resiko yang harus ia ambil jika ia gagal. Namun kali ini ia tidak boleh gagal. Ia harus bisa menyelamatkan nyawa sebanyak yang ia bisa selamatkan. Lagipula, Dumbledore dan Snape juga berada di pihaknya. Yang ia harapkan hanya nasib baik mau merangkulnya.

"Baik, My Lord," ia mengangguk, merendahkan derajatnya sendiri dihadapan Voldemort.

"Bawa dia ke Penjara!" Teriak Voldemort, yang otomatis langsung diterima oleh duo Lestrange. Ia menyeret Luna kedalam jeruji besi yang dingin dan gelap. Menuruni tangga-tangga menuju sebuah ruangan dengan jeruji besi yang gelap dan mengerikan. Ditempat itu tinggal beberapa makhluk seperti kelelawar ataupun pixies. Tidak ada ventilasi dan tempat ini begitu pengap dan lembab. Ia dilemparkan begitu saja seperti barang.

Lord Voldemort menyeringai puas. Ia pun menghilang dalam gumpalan asap hitam menuju ke suatu tempat yang tidak diketahui oleh siapapun. Kepergian Dark Lord diikuti oleh para Death Eater yang satu persatu ikut meninggalkan Malfoy Manor. Hanya tersisa tiga orang didalam ruang pertemuan; yakni Lucius sendiri, Narcissa dan Severus Snape. Orang yang satu-satunya (selain Dumbledore) yang mengetahui kesetiaan Lucius sebenarnya.

"Lucius? kau baik-baik saja?" Narcissa bertanya, menghampiri suaminya yang nampak begitu gusar dengan mata mengguntai. Ia berpikir untuk menemui Luna, tetapi tidak sekarang. Ia harus memikirkan kalimat yang tepat untuk diberikan kepada Luna. disamping itu, Narcissa masih berada disini, diruangan itu. ia tidak ingin ada konflik antara Luna versus Narcissa didalam konflik yang sudah sangat keruh ini.

Lucius terbangun dari lamunannya, memalingkan mukanya kearah Narcissa sambil menyentuh tangan kanan istrinya yang kini berada diatas bahu pria berambut pirang platina ini. ia kemudian menjawab, "Aku baik-baik saja. Aku hanya...kasihan kepada gadis itu."

Narcissa memincingkan matanya. Ia curiga kepada gadis itu, Luna Lovegood, yang wajahnya mengingatkan Narcissa akan seseorang yang pernah menjadi pacar Lucius semasa sekolah dulu. "Apa yang membuatmu kasihan padanya? Tidak biasanya kau kasihan kepada seseorang tanpa alasan," Narcissa masih menuntut penjelasan. Snape meninggalkan mereka untuk memberi ruang kepada pasangan suami istri yang nampak akan beradu argumen.

"Dia...Dia hanya anak-anak," Lucius menjawab dengan pelan. Tangannya memijit keningnya yang terasa pening. Ia sangat ingin menemui Luna, dan ingin tahu bagaimana keadaannya. Tetapi pertama-tama, ia harus memastikan Narcissa tidak cemburu terhadapnya. Setidaknya, itu harapan Lucius.

"Apa karena wajahnya mengingatkanmu akan Butter?" Narcissa akhirnya bersuara lagi. Lucius tertegun mendengarnya. Ia tak bisa menceritakan ini kepada Narcissa, ia terikat perjanjian itu dengan Dumbledore. Tapi bagaimanapun Narcissa adalah istrinya, ia tidak akan bisa memendam rahasia-rahasia lagi. Cepat atau lambat, Narcissa akan tahu.

Lucius masih terdiam selama beberapa detik. Ia harus berusaha semaksimal mungkin untuk tidak emosional, "Tidak, Cissy. Ia tak jauh beda dengan Draco; terperangkap dalam situasi yang bahkan tak dipahaminya. There's nothing personal," Lucius menjelaskan dengan nada sedatar mungkin. Ia harus membuat Narcissa percaya, setidaknya sampai perang usai.

Tetapi, ada kejanggalan dalam alasan Lucius. Yang pertama, Luna sudah bukan anak-anak lagi. Ia adalah gadis yang sudah tumbuh dan beranjak dewasa layaknya wanita pada umumnya. Yang kedua, Lucius masih peduli terhadap Luna layaknya seorang kekasih mempedulikan kekasihnya. Yang ketiga, tentu saja ini adalah hal yang personal! Jika dirinya tidak ada sesuatu dengan Luna, ia tidak mungkin mengambil resiko tinggi seperti itu. Dan, yang terakhir, Lucius-lah yang tidak paham dengan situasi yang dihadapinya. Ia sama sekali tidak paham jika apapun keputusan yang ia ambil sangatlah riskan; termasuk perasaannya mulai perlahan-lahan mengambil alih semuanya.

"Semua akan baik-baik saja, Cissy. Kita pasti bisa melewatinya," Lucius menyambung ucapannya yang terhenti. Ia memberikan kecupan dikening istrinya, lalu membiarkan Narcissa kembali kekamarnya untuk beristirahat. Ia dan Narcissa (bahkan Draco) tidak dapat tertidur nyenyak selama beberapa bulan terakhir sejak Dumbledore dikabarkan meninggal. Kepergian Dumbledore yang sama sekali tidak diketahuinya membuat beban Lucius semakin bertambah. Tetapi, cepat atau lambat, kepergian Dumbledore adalah tanda jika perang akan segera dimulai. Ia harus menyiapkan dirinya sebaik mungkin.

Ia duduk disofa berwarna merah dengan perasaan kalut yang luar biasa. Terdapat konflik seru didalam batinnya, yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Ia menggali kuburan dari kenangan-kenangan lama bersama Luna yang sudah ia kubur jauh didalam dirinya. Ia sama sekali tidak menduga hal ini akan terjadi.

Yang ia harapkan terjadi adalah, ia tetap menjadi pelindung rahasia Luna dan perasaan yang hilang itu tidak akan muncul lagi. Baiklah, Lucius mungkin sedikit berharap jika Luna masih memiliki perasaan itu padanya. Tapi bukan itu yang terpenting sekarang. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana membuat Luna bisa keluar dengan selamat dari Malfoy Manor. Setidaknya, ia harus bisa membuat Luna kembali ke Hogwarts, dimana ia bisa benar-benar yakin jika Luna tidak akan dibunuh ataupun disiksa seperti Voldemort menyiksa korbannya.

"Lucius," sebuah suara bariton yang dalam memanggilnya.

Lucius mendongak kearah Snape yang ia kira sudah kembali ke Hogwarts bersamaan dengan bubarnya para Death Eaters tadi. Lucius tak menjawab, hanya mengangguk pelan kepada Snape. Ia kemudian melihat Snape berjalan mendekat kearahnya, menempelkan pantatnya diatas sofa merah, tak jauh diseberang Lucius. Pria yang lebih sudah menjadi sahabat karibnya itu memandang Lucius dengan tajam. Seakan ingin mengatakan sesuatu terhadap Lucius. ia mendengar Snape bersuara lagi, "Apa kau tahu apa yang sudah kau lakukan? Kau membahayakan dirimu sendiri, Lucius."

"Aku tidak tahu harus bagaimana, Severus," Lucius akhirnya membuka suara. Snape mendengar suara Lucius bergetar. Lucius bersumpah jika ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ia terlanjur membuat keputusan itu.

"Ya, kau tahu. Satu-satunya cara adalah dengan membuat Lovegood bergabung dengan kita," Snape bersuara dengan nada rendah. Ia nampak begitu dingin, sama sekali tidak mempunyai emosi didalam dirinya.

Lucius tercekat, ia melemparkan death glare kepada Snape. Ia kemudian langusng membantahnya, "Tidak! Aku tidak ingin membuatnya dalam kesulitan nantinya." Lucius membantahnya dengan argumen yang sama sekali tidak masuk akal. Bukan sesuatu yang biasa dari Lucius—pria yang kelewat logis.

"Aku tidak memaksamu. Bagaimanapun, ini adalah rencanamu, Lucius. Ada harga yang harus kau bayar jika kau gagal," Snape menimpali.

"Aku akan memikirkan ini dulu secara masak-masak. Aku tidak ingin gegabah," Lucius menjawab. Ia memandang lantai Malfoy Manor yang ia injak dengan sepatu mahalnya.

"Waktu kita tidak banyak. Kita tidak tahu kapan Dark Lord akan menyerang Hogwarts," Snape menambahkan. Ia bermaksud memberikan dorongan kepada Lucius agar benar-benar memikirkan semuanya dengan masak-masak.

"Aku tahu," Lucius menjawab singkat. Ia tahu apa yang akan terjadi jika dirinya terlambat membuat keputusan. Ia benar-benar harus konsentrasi penuh, dan mengesampingkan semua gejolak jiwa yang menjalar didalam dirinya. Ada banyak orang yang bertumpu dipundaknya, termasuk Narcissa dan Draco. Ia juga tidak boleh mengabaika mereka begitu saja, karena Lucius tidak pernah tahu apa yang ada dipikiran Lord Voldemort.

"Severus, apa kau bisa memberiku sedikit bantuan?" Lucius bersuara. Snape tak menjawab, mendengarkan perkataan Lucius selanjutnya. "Apa kau ingin memastikan ia baik-baik saja, untukku?"

Snape mendengarnya dengan kaget. Alisnya yang melingkar sempurna terangkat penuh keheranan. Ia bertanya-tanya, kenapa Lucius memintanya untuk menemui Luna. Kenapa Lucius tidak menemuinya sendiri saja? Toh, dirinya juga nampak sangat khawatir akan keadaan Luna.

"Kenapa?"

"Aku tidak yakin, Severus. Aku...aku khawatir akan menyakitinya lagi," Lucius menjawab lirih.

"Justru, jika kau tidak menemuinya, kau akan menyakiti dirinya. Aku yakin dia juga masih memiliki perasaan itu padamu," Snape menjawab, membuatnya terdengar seperti gadis remaja yang memberikan saran kepada temannya yang patah hati.

Lucius terkekeh getir, membiarkan kalimat terakhir Snape begitu saja. "Aku tidak bisa, Severus. Ini lebih rumit dari kelihatannya, tapi aku tetap tidak bisa," kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Lucius. Ia tidak ingin membuat Luna sakit lagi dengan melihatnya seperti ini. Meskipun ia sebenarnya berada disisi yang baik, tetapi Luna tidak tahu itu. Yang ia tahu, pria yang dicintainya ini adalah seorang Death Eater menyedihkan yang kejam tanpa perasaan.

"Kau tidak ingin aku menemuinya seterusnya, kan?" Snape bertanya lagi. sedikit sarkasme terdengar oleh telinga Lucius.

"Tidak. Hanya beberapa kali saja. Ditambah, aku harus memastikan jika ruang penjara tidak dapat disadap oleh siapapun," Ujarnya. Snape mengangguk pelan, walaupun ia sebenarnya masih ragu. Alasannya adalah, ia tidak tahu bagaimana menghadapi seorang wanita.

"Jika Dark Lord tahu, kalian akan tamat," Snape membalas. Ia memandang Lucius tajam, mencoba memberi peringatan agar tidak melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya dan keluarganya nanti. Bagaimanapun, Lucius adalah sudah menjadi sahabatnya sejak dulu. Lucius juga sering membatu Snape saat sedang dalam masalah, terlebih saat sedang krisis keuangan, apalagi setelah sepeninggal ibunya, Eileen Snape nee Prince.

"Dia tidak akan tahu. Setidaknya, kuharap demikian," Lucius bersuara. Matanya menerawang jauh keluar jendela yang berada dibelakang Snape. Ia benar-benar bingung harus bagaimana saat ini, tetapi rencana licik ke-Slytherin-an terbesit dalam otaknya yang terus mengasah. Satu-satunya rencana yang harus ia jalani, dan satu-satunya rencana yang bisa membuat dirinya, keluarganya dan Luna selamat dari cengkraman Death Eater.

"Jau mau membantuku, Severus?" Lucius bertanya, mendongak kearah Snape. Pria berambut hitam panjang sebahu itu memberikan seringai kepada Lucius.

Snape menyeringai lebih lebar, kemudia menjawab, "Jadi, apa kau punya pesan untuknya, Lucius?"

BERSAMBUNG

A/N : Whoah! Maaf lama updatenya. Saya benar-benar sibuk sama deadline kerjaan yang setumpuk. Dan ini bikin saya hampir gak punya waktu buat update. ;_; Saya mempredikisi kalau saya mungkin gak akan update untuk beberapa waktu, paling lambat satu bulan lah. :''''

So, ini adalah chap yang saya buat dalam sela-sela kerjaan seambrek saya ;")

I hope you like it, guys xx

Mind to Review?