.
.
.
Kriett
Sasuke membuka pelan pintu kamar pasien. Menatap ruangan bercat putih ini dengan seksama. Tatapan onyx itu jatuh pada sosok yang terbaring di ranjang pasien.
Sosok yang tidak sadarkan diri hampir dua minggu lamanya. Sasuke merindukan sosok itu. Merindukan senyuman miliknya dan suara yang memanggil namanya.
"Mau sampai kapan kau tidur, Ojou-sama ?"
.
.
.
.
-Chapter 2-
.
.
.
.
Membunuh...
Atau di bunuh.
Seberapa hebat kau bisa memainkan serigala di tanganmu itu ?
.
.
.
.
Jleb
Sebuah lubang kecil tercipta di kepala seorang pria yang berjongkok di atap sebuah gedung. Ia tumbang seketika dengan darah deras yang meluncur dari lubang kepala tersebut.
Pria itu menjatuhkan senapan yang ada di tangannya. Dan saat itu juga ia merenggang nyawa.
Di sisi lain, seorang gadis bermata emerald indah menatap datar pria tersebut. Ia berjongkok santai di tepi atap gedung. Dengan sebuah senapan hitam di tangannya.
Ia bukan sepenuhnya pembunuh. Hanya sosok yang bergabung di sebuah squad F. Hidupnya hanya menjalani sebuah tugas dan misi.
Squad F adalah perkumpulan snipper handal yang hanya bergerak saat ada misi. Baik itu dari pemerintah maupun Yakuza.
Mereka hanya sosok netral yang di bayar atas jasa yang mereka miliki. Wajah cantik bukan jaminan, karena Haruno Sakura adalah anak emas di squad F.
Ia menghilangkan banyak nyawa dengan tangan mungil yang bersenjata. Tidak peduli jika itu adalah polisi, pemerintah, yakuza, pengusaha. Semua ia bidik dengan satu tembakan.
Termasuk sahabatnya sendiri.
.
.
.
Terkadang amis itu menyebalkan
Mengotori udara dengan lancangnya
Membuatku muak
Kapan bisa terlepas dari sangkar mengerikan ini ?
.
.
.
.
Sakura membuang asal pisau di tangannya. Menatap kesal kedua tangannya yang berlumuran darah. Ia menatap pria paruh baya yang sudah tak bernyawa di depannya.
Gadis itu dengan perasaan kesal mengambil sebuah chip yang ada di dalam saku pria tersebut.
"Dasar lintah." gumannya menatap chip yang menyerupai sebuah memory card. "Hanya karena benda bodoh ini, aku harus menghabisi nyawa seseorang."
Sakura meraih senapan kesayangan miliknya lalu segera pergi meninggalkan gang sempit yang gelap tersebut.
Ia yakin jika besok pasti akan ada seseorang mendatangi apartemennya pagi-pagi. Sakura berharap orang itu mau membereskan masalah yang Sakura buat.
Ah, tidak. Bukan Sakura yang membuat. Tapi masalah yang mereka buat. Mereka yang meminta Sakura melakukan hal seperti ini.
Sakura mendongkak menatap langit malam. Menghela nafas panjang. Ia ingin suatu hari nanti hidupnya tenang. Ia ingin hidupnya lebih bermakna.
Ia lelah hidup sebagai seorang pembunuh. Ia lelah hidup seperti ini. Menyembunyikan identitas aslinya dari teman-temannya. Dari mereka yang tinggal di dekatnya.
Menyembunyikan identitasnya sebagai anak dari Yakuza. Sosok pembunuh dari squad F. Menyembunyikan sosok serigala yang ada di tangannya.
.
.
.
Di saat aku tidak ingin tertawa
Di saat aku tidak ingin bersimpati
Di saat aku tidak ingin menangis
Kenapa begitu menyakitkan menyembunyikan sosok iblis ini ?
.
.
.
.
Desas-desus kasus kematian pun langsung menyebar luar di kota kyoto. Semua membicarakan sosok yang mati di gang sempit itu.
"Ku dengar dia sekertaris di OH Enterprise."
Sakura menatap gadis berambut oren terang yang berbicara di depannya. OH Enterprise adalah perusahaan yang bergerak di bidang IT. Mereka sangat hebat dalam membuat dan merakit teknologi canggih.
Pasti sangat banyak musuh yang mengincar kehancuran perusahaan tersebut. Sakura bungkam dengan semua yang di ceritakan teman sekelasnya.
Ia kembali membaca buku pelajarannya. Ujian sekolah sudah dekat. Apalagi ia sudah kelas tiga. Dan untuk tahun depan, ia berharap akan ada perubahan.
Memulai ulang hidupnya. Ia akan pindah ke Tokyo dan meninggalkan semua kehidupan kelamnya di Kyoto.
Sakura sudah bertekat untuk berhenti dan keluar dari squad F. Meski tidak ada jaminan ia bisa selamat setelah itu.
Karena syarat untuk keluar dari squad F di tentukan di misi yang akan mereka berikan. Jika berhasil membunuh target maka ia akan bisa keluar dengan mudah.
Namun yang menjadi akar dari penentuan itu adalah si target. Dia bukan sosok yang diam saat di serang. Mereka adalah orang yang terlatih dan sangat ahli dalam menggunakan senjata.
Sakura tahu betul kenapa misi tersebut di berikan dan menjadi misi terakhir. Karena siapa saja yang keluar dari squad F harus mati.
Kenapa mereka tidak berterus terang ? Kenapa harus bertele-tele ?
Merepotkan.
.
.
.
.
Hari dimana aku bertengkar denganmu
Adalah hari dimana aku mendapatkan misi terakhirku
Namun melihat targetku
Aku merasa duniaku hancur saat itu juga
.
.
.
.
.
Nafasnya terhenti saat itu juga. Dadanya terasa sakit dengan detak jantung yang berpacu cepat. Dengan perlahan kertas di tangan kanannya meluncur bebas. Mendarat sempurna di kakinya.
Sakura merunduk menyembunyikan ekspresi putus asa yang kini ia tampilkan saat itu juga. Ia ingin menghilang saat ini juga.
Kertas di kakinya adalah surat resmi dari squad F. Misi terakhirnya sudah keluar. Ia harus menjalankan dengan baik misi tersebut untuk bisa keluar dari squad F.
Tapi kenapa ?
Kenapa sakit ?
Kenapa dadanya nyeri ?
Emerald-nya melirik sederet nama yang telah di targetkan. Nama itu begitu mengerikan untuknya.
Targetnya kali ini adalah Uchiha Sasuke, kekasihnya sendiri.
Apa mereka memata-matai kegiatan Sakura selama di Tokyo ?
Apa mereka ingin menghancurkan kehidupan Sakura ?
Atau... Ada alasan lain ?
Siapa Uchiha Sasuke sebenarnya ?
Apa ia memiliki kedudukan yang tidak bisa di remehkan ?
'Waktumu dua minggu, pikirkan baik-baik dengan keputusanmu.'
Sakura menghempaskan tubuhnya ke ranjang di apartemennya. Pikirannya kosong saat itu juga. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan ?
'Sebenarnya targetnya adalah Uchiha Fugaku, tapi karena dia hanya pria paruh baya maka kami memutuskan Uchiha Sasuke sebagai targetmu dalam misi terakhir ini.'
Siapa Sasuke sebenarnya ?
Kenapa mereka menginginkan nyawanya ?
Mereka tidak menjadikan alasan sebagai kekasih Sakura bukan ?
Sakura menghela nafas panjang. Sepertinya ia harus pulang ke rumahnya.
.
.
.
.
Apa yang harus ku pilih ?
Apa yang harus ku lakukan ?
Jangan membuatku bingung
Aku ingin menyerah
Bahkan sebelum memulai semua permainan ini
.
.
.
.
.
Sakura menggeser pintu kamarnya. Hampir satu minggu ia melarikan diri. Kembali menjadi putri yakuza. Ia butuh menenangkan pikiran dan kini ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Sakura mengambil kotak lensa yang sudah ia siapkan di jauh hari. Memasangnya di bola matanya sehingga mata emerald menjadi shaffier.
Sakura dengan rapi menyembunyikan rambutnya di balik topi. Yang ia lapisi dengan tudung jaket hitamnya. Masker pun terpasang menutupi wajah cantiknya.
Ia segera pergi menuju Tokyo begitu perlengkapan yang ia butuhkan sudah siap. Menjalankan rencana yang ia susun dua hari lalu.
Dua jam menempuh perjalanan jauh. Ia tiba di kediaman Uchiha yang sepi. Ternyata mereka juga merencanakan sampai sejauh ini.
Sakura menatap sendu pintu rumah itu. Baginya keluar dari squad F adalah awal kehidupan yang harus ia lakukan. Ia harus bisa keluar dari sana dan hidup normal.
Tapi...
Jika itu berarti mengorbankan orang yang berharga baginya. Maka ia rela...
... Mati di tangan orang yang paling ia cintai.
.
.
.
.
.
Mungkin ini adalah awal dari kehidupanku
Yang menjadi langkah awal hidupku
Ku harap seperti itu.
.
.
.
.
.
Lelah...
Kenapa...
Aku haus...
Haus sekali...
Tapi aku tidak bisa bergerak...
Mataku...
Kenapa aku tidak bisa bergerak...
Semua terasa...
"Kau sudah bangun ?"
Emerald itu mengerjab lemah berulang kali. Menatap sosok yang berdiri di samping ranjang pasien.
Sasuke diam mengamati Sakura yang masih lemas. Ia tampak memulihkan kesadarannya. Kembali lagi ia menoleh ke arah Sasuke.
"A-aku-"
"Istirahatlah dulu, kau masih baru sadar koma." Sasuke pun duduk di kursi. Ia tidak bisa melepaskan pandangannya pada Sakura.
"Berapa lama ?"
Suaranya begitu lirih dan lemah. Bahkan terdengar seperti berbisik. Sasuke mencoba tersenyum tipis. "Hampir dua minggu."
"Selama itu ?"
Sasuke mengangguk sebagai jawaban. Sakura kembali memejamkan mata. Uap oksigen masih membungkam mulut dan hidungnya. "Gomen."
Sasuke terdiam mendengar ucapan Sakura. Ia meraih tangan Sakura dan membawanya ke depan bibirnya. Mengecupnya dengan lembut seraya menatap Sakura yang enggan membuka matanya.
"Untuk apa ?"
"Semua..."
"Termasuk fakta kau seorang putri yakuza ?"
Sakura membuka matanya. Menatap Sasuke dengan tatapan terkejut yang tidak kelihatan. Sasuke tersenyum tipis. "Kau pikir aku tidak mengetahuinya ? Aku sudah lama mencari tahu tentangmu."
Sakura hanya diam menatap Sasuke yang mulai banyak berbicara. Mulutnya mulai terbuka tipis. "Stalker."
Sasuke tertawa lirih. Tawa manis yang membuat wajah Sakura memerah melihatnya. "Meski aku cukup terkejut jika kau seorang anggota squad F."
"Gomen."
"Aku tidak menyalahkanmu."
Mereka terdiam cukup lama. Ruangan itu mendadak di isi oleh suara dentingan jam dinding. Sakura tidak tahu apa yang harus ia ucapkan. Sementara Sasuke hanya diam mengamati wajah pucat nan sayu milik Sakura.
Tangan Sasuke meraih rambut Sakura yang terurai di bantal. Memainkannya di jari tangannya. Sasuke tahu jika Sakura sedang memikirkan apa yang akan terjadi dengan squadnya.
"Squadmu, mereka mengeluarkan surat resmi pengunduran dirimu."
Sakura melirik Sasuke. "Bagaimana bisa ? Bukankah aku sudah gagal ?"
"Gagal membunuhku ?"
Sakura terdiam. Perasaan bersalah pun hinggap di hatinya. "Gomen."
Sasuke mengendikan bahunya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Sakura. "Tidak perlu di pikirkan. Asal kau bisa keluar dan hidup bersamaku. Maka aku akan memaafkanmu dan melupakan semua kejadian ini."
Sakura ingin bergerak menjauh namun ia tidak bisa melakukannya. Tubuhnya benar-benar lemah saat ini. "Tapi aku-"
"Aku masih mencintaimu, Haruno. Dan selamanya akan seperti itu. Jangan kau pikir bisa melarikan diri dariku." bisiknya lirih.
Sakura menatap Sasuke dengan matanya yang buram. Ia merasa ada sesuatu yang hangat keluar dari kedua bola matanya.
"Sasuke-kun..."
Sasuke tersenyum seraya mengusap air mata Sakura yang meleleh. Gadis musim semi itu terus menangis seraya menggumankan kata maaf.
"Dasar cengeng."
.
.
.
.
Aku tidak bisa keluar sendirian
Karena di ujung sana akan ada tangan
Tangan yang terulur menarikku dari lubang gelap tersebut.
Satu malaikat datang kepadaku
Malaikat yang begitu egois dan keras kepala
.
.
.
.
.
-Fin-
