Nah paragraf awal ini untuk balasan-balasan segala macam comment dari orang-orang yang udah comment cerita gue.
Nurrafa Chimarae: Makasih udah mau comment dan baca dengan sepenuh hati ya :'D aku terharu! :'DD wkwkwk soalnya dibikin sesuai dengan ulangan impianku =))
Thanks for the comment and feedbacks, ya!
Tanpa basa-basi, langsung aja mulai next chapter!
The Girl with the Golden Legs
First Impression
By: DarkSnowX
Eyeshield 21
By: Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata
KRIING! KRIING!
Telepon genggam Sayaka berbunyi tepat pada pukul setengah tujuh pagi. Ia memang sudah mengatur telepon genggamnya itu untuk menyala pada waktu yang sudah ia tentukan. Hari pertama masuk kuliah baru adalah hari besar baginya, ia tidak mau mengacaukan hari pertamanya dengan datang terlambat ke sekolah.
KRIIIIING! KRIIIIING!
Telepon genggam Sayaka berbunyi semakin keras. Akhirnya Sayaka membuka matanya sedikit dan merenggangkan tubuhnya perlahan.
"Nggh.." Rintihnya "First day of school, huh?" katanya dengan nada malas.
Seingat Sayaka, udara Jepang pada pukul tujuh pagi tidak pernah sedingin ini. Sambil berdiri di teras—bersiap untuk berangkat sekolah, ia memperhatikan patung kurcaci natal milik bibinya yang dipajang di halaman depan rumah. Sepertinya patung itu sudah benar-benar beku. Sebuah es kristal yang runcing kebawah menggantung di hidung patung tersebut, tubuhnya ditaburi oleh salju.
"Bahkan patung pun sampai mengeluarkan ingusnya." Kata Sayaka dalam hati.
"Sayaka! Kau meninggalkan telepon genggammu!" tiba-tiba terdengar suara seorang ibu-ibu yang berseru dari dalam rumah.
"Ah, maaf 'bi! Akan kuambil sekarang!" jawab Sayaka. Namun tiba-tiba sang pemilik suara langsung membuka pintu dan mengulurkan telepon genggam milik Sayaka.
"Ini, Bibi sudah ambilkan. Sekarang cepat pergi sekolah sebelum terlambat!" kata orang itu dengan nada tergesa-gesa. Sepertinya ia takut sekali Sayaka akan terlambat sekolah. Maklum, jarak Enma dan rumah Sayaka cukup jauh. Tanpa bantuan kereta bawah tanah, Sayaka harus berjalan sekitar satu setengah jam untuk sampai ke Enma.
"Terimakasih, Bibi Mai" kata Sayaka sambil tersenyum manis.
"Sama-sama. Jangan pulang lebih dari jam delapan, ya!" seru Bibi Mai.
"Haha, tenang saja 'Bi.. Aku bukan anak kecil." Ia sedikit tertawa.
Sayaka pun membalikkan badannya dan berjalan pergi dari rumahnya.
"Universitas Enma. Menyediakan lapangan American Football yang kondisinya sangat baik dan perangkat American Football dengan kualitas terbaik. Bergabunglah bersama Eyeshield 21 dengan cara masuk universitas kami." Kata Sayaka sambil membaca papan iklan kecil yang dipasang tepat disebelah pintu masuk universitas.
"American Football.." pikir Sayaka sambil sedikit melamun. "Kira-kira Bibi Mai akan mengizinkanku mengikuti kegiatan klub atau tidak, ya?"
Benar, Sayaka tidak tinggal bersama kedua orang tuanya, melainkan Bibi Mai, adik bungsu ayahnya—anggota keluarga yang paling dekat dengannya. Ibunya, Maria Brown, meninggal saat melahirkan Sayaka, sementara ayah Sayaka, Tomohachi Sai, meninggal 2 bulan lalu karena kecelakaan mobil yang menimpanya. Ia menghabiskan 15 tahun hidupnya di Amerika, tanah kelahiran ibunya dan dirinya, dan 5 tahun di Jepang, kampung halaman ayahnya.
Kehidupan Sayaka tidak pernah sulit. Ayahnya adalah pemilik perusahaan gadget terkemuka bernama "Orange" yang laku keras di pasaran nasional maupun internasional, meskipun umur perusahaan itu baru lima tahun. Sekarang ia diwariskan harta yang sangat banyak oleh ayahnya, termasuk perusahaan dan asetnya. Sebagai anak jenius dengan IQ 200, Sayaka tidak memiliki kesulitan apapun untuk menjaga perusahaan itu tetap kokoh, setidaknya sampai 2 bulan ini.
Kalaupun ia tidak sempat mengurusi perusahaan ayahnya itu, ia tinggal menghubungi salah satu kakak sepupunya di Jepang. Orang-orang menjuluki sepupunya 'pengendali dunia' (dalam arti sebenarnya). Kebetulan hubungannya dan kakak sepupunya itu sangat baik dan dekat, bahkan bisa dibilang lebih dekat daripada hubungannya dengan Bibi Mai. Sayaka sendiri sudah menganggap kakak sepupunya itu sebagai kakak kandungnya dan kakak sepupunya itu sudah menganggapnya seperti adik kandungnya. Sayangnya perbedaan umurnya dengan kakak sepupunya hanyalah satu tahun, dan kakak sepupunya itu adalah seorang laki-laki yang tinggal sendirian. Kalau ia tinggal bersama kakak sepupunya itu, bisa-bisa orang mengira mereka melakukan hubungan yang bukan-bukan. Kalaupun ia tidak bisa menghubungi sepupunya itu, ia bisa menghubungi sahabat karibnya di Amerika, anak seorang hacker yang juga sangat jenius.
KRIIING!
Suara bel berbunyi. Sayaka mengayunkan tangannya dan memeriksa jam.
"Setengah delapan.." katanya perlahan.
Ia pun melangkah pergi ke kelas pertamanya.
BRUM! BRUM! BRUM!
CKIIIIIIIIT!
Selalu begitu tiap pagi. Terdengar suara sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dan menekan rem dengan keras dan berhenti dengan sempurna di lapangan parkir Universitas Enma deret pertama, di pojok kanan. Rambut putih sang pengendara motor bergoyang-goyang saat ia melepaskan helmnya. Mata hijaunya menunjukkan kegelisahan yang sangat.
"Terlambat terlambat terlambaat!" kata Riku sambil mengambil tas sekolahnya yang ia taruh di bagasi motornya dengan tergesa-gesa. Setelah mengambil tas sekolahnya, ia langsung lari menuju kelas pertamanya, kelas Pak Nishizawa. Dosen tergalak di Enma.
Sambil berlari, Riku sekilas mengeluarkan telepon genggamnya dan melihat jam yang tercantum disana.
07:32:12
"Bagus! Pak Nishizawa biasanya mulai mengajar jam tujuh lewat tiga puluh lima menit. Masih sempat!" pikirnya sambil sedikit tersenyum. Ia pun segera meningkatkan kecepatan larinya. Dalam beberapa detik ia sudah sampai di lorong Universitas yang cukup ramai.
Jalan menuju kelas pak Nishizawa tidaklah mudah. Dari sini ia harus melewati empat belokan tajam yang selalu penuh dengan mahasiswa-mahasiswi, setelah itu berlari lurus sejauh 300 m. Tapi yah, disaat-saat seperti inilah teknik-teknik American Football bisa berguna.
Riku masih terus berlari, barusan ia melewati belokan tajam yang pertama, dan sekarang ia berada didepan belokan tajam yang kedua.
DASH! DASH! DASH!
Dengan cepat ia berbelok dan menggunakan Rodeo Drive untuk menghindari orang-orang yang berlalu-lalang dan tidak menyia-nyiakan waktu yang ia buang untuk berbelok tadi.
DASH! DASH! DASH!
Belokan ketiga berhasil terlewati dengan teknik yang sama.
DASH! DASH! DASH!
Belokan keempat juga berhasil ia lewati dengan sukses. Riku kembali memeriksa jam yang ada di telepon genggamnya.
07:33:50
"Lari tiga ratus meter dalam satu menit. Ini sudah lebih dari cukup! Ditambah lagi, jam segini sudah tidak terlalu ramai!" pikir Riku dalam hati sambil tersenyum senang.
Riku mengayunkan kakinya, bersiap untuk berlari dengan Roping Rodeo Drive kecepatan penuh.
Tiba-tiba..
WUUUSH!
Seseorang yang larinya sangat cepat menyalipnya dari belakang. Rambut pirang orang itu berkibar-kibar, dan jaket merahnya sedikit berkibar-kibar karena angin. Wajahnya tidak kelihatan karena ditutup oleh kerudung. Tangan kanan orang itu memegang denah Universitas Enma, dan tangan kirinya terus memegang kerudungnya supaya tetap menutupi wajahnya. Orang itu melakukan gerak lari yang sangat Riku kenal. Devil Bat Ghost.
"Devil Bat Ghost..? Sena..?" pikir Riku yang sekarang memfokuskan pikirannya untuk mengejar orang itu. "Tidak. Bukan. Rambut pirang dan jaket merah sudah jelas menunjukkan kalau itu bukan Sena."
Tinggal 200 m menuju ruang kelas Pak Nishizawa. Riku terus mengejar dan mengamati orang yang berlari itu, benar-benar ingin tahu siapa sebenarnya dia. Orang yang berlari itu terus menggunakan Devil Bat Ghost miliknya saat menghindari orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya.
"Setelah diperhatikan baik-baik, itu bukan Devil Bat Ghost. Mirip, tapi bukan. Saat Sena melakukan Devil Bat Ghost, ia akan mengerem dengan kaki kanan atau kirinya tanpa mengurangi kecepatan, dan menggunakan kaki itu sebagai poros untuk berlari ke arah sebaliknya. Dengan kata lain, Devil Bat Ghost adalah gerak yang didasarkan atas gerak tipu, sementara orang ini tidak melakukannya. Sebagai gantinya, ia melompat sesaat setelah mengerem tanpa mengurangi kecepatan. Terlebih lagi dari cara larinya itu seperti cara lari tajam Sena dan lari tanpa bobot Panther yang digabungkan. Mungkin orang ini hanya peniru Sena yang cukup berbakat, namun tidak bisa sepenuhnya meniru gerakan Sena. Mungkin orang ini memang sudah dari awal menguasai lari tanpa bobot, namun memutuskan untuk meniru Sena setelahnya."
Riku masih terus mengejar, jaraknya dan jarak orang itu terpisah sekitar satu setengah meter dan tidak memendek. Sekarang tinggal 150 m menuju ruang kelas Pak Nishizawa.
"Tidak. Dia bukan tidak bisa menipu, melainkan tidak ingin. Dari cara berlarinya, itu cara bukan cara berlari amatir. Itu memang karakteristik larinya. Devil Bat Ghost adalah teknik yang berdasarkan atas prinsip 'mengerem tanpa mengurangi kecepatan' dan 'gerak tipu', tapi orang ini—"
Tinggal 100 m menuju ruang kelas Pak Nishizawa.
".. Melompat tanpa mengurangi kecepatan dan berlari tanpa bobot."
WUUUUUUSHHH!
Orang itu tiba-tiba mempercepat langkahnya, Riku dengan susah payah berusah mengejar orang itu, namun jarak diantara mereka semakin melebar. Untuk sekian lama, akhirnya Riku merasakan kekalahan, setelah kekalahan yang dirasakannya 5 tahun lalu saat Seibu Wild Gunmans melawan Deimon Devil Bats.
Jarak antara orang itu dan Riku sudah berkisar sekitar 10 m. Tiba-tiba orang itu mengerem dan langsung berjalan masuk kedalam kelas Pak Nishizawa. Orang itu pun menghilang dari pandangan Riku.
"Bagus! Kelas yang sama denganku! Aku harus mencari tahu tentang orang itu!" pikir Riku lagi.
Didorong oleh kemauan bertemu orang misterius tadi, jarak 25 m pun tidak berasa bagi Riku dan dalam hitungan detik Riku sudah langsung berada di depan pintu kelas Pak Nishizawa. Saat itu juga, Riku memeriksa jam yang berada di telepon genggamnya.
07:34:50
"Haaah.." Riku menghela nafas lega dan segera melangkah masuk ke kelas.
Tap!
Begitulah suara langkah kakinya. Suara langkah kaki itu mengisi seluruh ruangan.
"KAITANI RIKU!" bentak seorang bapak-bapak dengan rambut-hitam-sedikit-beruban yang berdiri di tengah-tengah ruangan. Kalau boleh digambarkan, wajah orang itu mirip sekali dengan kodok. Si Kodok-Setengah-Uban. Begitulah para mahasiswa menjuluki Pak Nishizawa.
"Sial, lagi-lagi aku lupa mengubah jamku 20 detik lebih cepat.." pikir Riku dalam hati.
"TERLAMBAT UNTUK YANG KE-LIMA BELAS KALINYA!" bentak Pak Nishizawa.
Riku tidak memperdulikan apa yang Pak Nishizawa katakan. Matanya terus berputar-putar mencari orang berjaket merah dan berambut pirang yang berhasil mengalahkannya barusan. Ia jelas melihat kalau orang itu masuk ke ruangan ini, tidak mungkin orang itu hilang begitu saja.
"UNTUK ORANG YANG TERLAMBAT, TERLEBIH KALAU ORANG ITU KAITANI RIKU, AKAN MENDAPAT HUKUMAN DUDUK DI DEPAN, MENJAWAB SEMUA PERTANYAAN YANG KUBERIKAN DENGAN BENAR PADA AKHIR PELAJARAN, DAN MENGERJAKAN TUGAS-TUGAS YANG SUDAH KU BUAT UNTUK ANAK-ANAK NAKAL SEPERTI KAU!" katanya sambil terus membentak-bentak. "Aku benar-benar tidak percaya! Yang satu sudah lima belas kali terlambat masuk pelajaranku, dan yang satunya lagi anak baru yang akan mengikuti pelajaran pertama pada hari pertama kuliahnya malah sudah melanggar peraturan paling mendasar, yaitu tidak boleh terlambat!"
"Anak baru? Gadis yang waktu itu, ya?" pikir Riku. Tapi saat itu juga ia langsung teringat tentang orang yang berlari tadi. "Ah tidak mungkin. Tidak mungkin seorang gadis bisa berlari lebih cepat dariku. Rambut gadis itu memang pirang, tapi ia tidak mungkin bisa berlari lebih cepat dariku."
Tanpa berkata apapun, Riku langsung duduk di kursi paling depan dengan wajah datar, sesuai apa yang diperintahkan Pak Nishizawa. Ia dapat melihat kalau disebelah kirinya duduk orang berjaket merah yang tadi. Wajahnya masih ditutupi kerudung.
"Sekarang kalian berdua—sebagai sesama rekan terlambat, silahkan saling berkenalan di tempat duduk yang sudah kusediakan khusus untuk kalian!" seru pak Nishizawa sambil sedikit menyindir.
"Ah! Ini kesempatan yang bagus untuk mengenali siapa sebenarnya orang yang tadi mengalahkanku!" pikir Riku. Tanpa basa basi ia langsung mengulurkan tangannya sambil berkata "Kaitani Riku, semester ketiga." Dengan sedikit tersenyum. Ia mencoba terlihat seramah mungkin, mengingat 'First Impression' adalah satu hal yang sangat penting demi mengajak orang berjaket ini masuk ke klub American Football.
Orang berjaket merah itu menoleh ke arah Riku, gerak tubuhnya seolah menunjukkan kalau ia sedikit terkejut. Wajahnya masih tidak terlalu kelihatan, rambut pirangnya yang agak acak-acakan menutupi kedua matanya. Wajar saja rambutnya acak-acakan, angin pasti sudah mengacak-acak rambutnya.
Orang itu membuka kerudungnya dan merapikan rambutnya. Sekarang wajahnya terlihat jelas..
"Mustahil.." pikir Riku. "Ini tidak mungkin!"
Orang itu mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Riku.
"Tomohachi Sayaka, semester ketiga." Kata Sayaka kepada Riku dengan senyum ragu-ragu.
-END
Yaaay selesaii! :D
Perusahaan bapaknya Sayaka yang namanya "Orange" itu maksudnya "Apple Inc." versi unyuk :3 gue bermaksud bikin bapaknya Sayaka jadi si Steve Jobs versi Jepang wkwk xD
Sekali lagi, kalo emang ada yang salah dengan sistem kuliahan, mohon dimaafkan.. karena sebenernya gue bukan anak kuliahan dan gue sama sekali gak tahu menahu tentang gimana cara orang belajar di kuliahan itu sendiri..
Anyways, thankyou for reading! Please review yaa, thanks once again! xD
INFO: Next chapter di update Sabtu/Minggu depan ya, Snow mau UAS dulu soalnya nih, hehehe
