A Genderswitch Fanfiction
My Story with (Y)Our Baby
Genre : GS, GaJe always, Sad but Happy end, Hurt dan lain sebagainya.
Length : Unknown
Disclaim : Semua cast itu milik Tuhan. Ipech Cuma pinjem nama. Tapi jangan lupa Fanfiction ini punya Ipech seorang.
Typo everywhere… be carefull.
KyuMin and Others (My beloved OTP)
.
~o0o~
.
The story begin…
My Story with (Y)Our Baby | KyuMin Fanfiction | GS | #2
Namja tampan itu melenguh kecil saat dirasa secerah cahaya masuk dan mengusik ketenangan kelopaknya yang masih setia terpejam. Ia membuka kecil kelopak matanya dan mendapati punggung seseorang tengah menyibak gorden putih tebal yang sebelumnya menjadi penghalang sinar matahari pagi ke kamarnya –kamar yang ia tempati.
"Sung…min?" panggilnya ragu. Kedua tangannya masih sibuk untuk mengusap matanya yang terasa lengket untuk dibuka. Tubuhnya yang terasa pegal diregangkan dengan begitu nyaman.
Sungmin. Iya benar, gadis itu Sungmin. Gadis yang sedang membuka gorden itu memang Sungmin. Gadis yang sudah kau rebut kegadisannya Cho! Andai kau sadar itu.
Sungmin mati matian menahan air mata yang hampir saja terjatuh. Ia menoleh setelah yakin wajahnya normal seperti biasa. "Kau sudah bangun?" Tanyanya normal. Ia bisa melihat Kyuhyun mengangguk sambil menguap. Sepertinya namja itu belum sadar dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.
"Lebih baik mandi dulu baru sarapan. Semalam kau mabuk! Kau tahu?" Sungmin mendekat dan menatap lekat wajah bangun tidur Kyuhyun yang tampan. Sangat jarang bukan ia melihatnya? Ia ingin melihatnya sebelum Kyuhyun benar-benar menjauh dari kehidupannya nanti.
"OMO! Apa yang terjadi? Ini… kamarmu kan?" Tanya Kyuhyun saat menyadari sesuatu yang ganjil terhadap diri juga sekitarnya. Diraba keseluruhan tubuhnya yang full naked lalu pandangannya beralih pada baju-baju miliknya yang terserak tak berdosa di lantai. Tak lupa ditatapnya Sungmin curiga. Kilasan kejadian yang ia alami ataukah mimpi yang ia alami bergerak berputar dalam otaknya.
"Apa? Jangan berfikiran yang iya-iya. Semalam kau mabuk dan memaksa masuk kedalam kamarku, kau gila atau apa heh? Kau tak ingat? Kau melepas pakaianmu seperti orang kesetanan lalu berteriak tak karuan." Cibir Sungmin yang sepenuhnya berbohong.
"Lalu… kau..?"
"Tenang saja, aku tak melihatnya. kecualii…"
"Mwo?" pekik Kyuhyun panik.
"Perut ratamu. Haha, kau tenang saja. Aku tidak bodoh, aku keluar sebelum kau melucuti semua pakaianmu. Sekarang cepat mandi dan sarapan!" Bohong, ditengah ketakutan Sungmin ia bisa melihat jelas setiap lekuk tubuh Kyuhyun. Semuanya. Setelah mengungkapkan apa yang menjadi skenario yang ia hafal semalam Sungmin bergegas pergi dari kamar. Menutup pintu itu seperti biasa dan tersenyum miris.
Sementara didalam Kyuhyun menarik satu kesimpulan bahwa semalam ia mimpi. Kilasan kejadian yang muncul tadi adalah ingatan mimpinya. Senyuman miris kembali tercetak di bibirnya saat mengingat apa yang menjadi penyebab ia mabuk.
~o0o~
Isakan samar didengar Taemin saat baru saja keluar dari kamar. Dilihatnya sang kakak yang membekap mulutnya bersandar di pintu kamarnya sendiri. Dengan sayang ia hampiri Sungmin dan memeluknya erat.
"Gwenchana Eonnie, semuanya akan baik-baik saja. Tak ada yang perlu di takutkan eum? Ada aku." Hibur Taemin. Ia tahu betul bagaimana hancur hati kakaknya saat ini. Hei! Dia juga seorang perempuan sama seperti Sungmin. Ia melihat dengan jelas bagaimana brutalnya namja yang saat ini ia yakin tengah mandi itu menghabisi kakaknya di ranjang malam lalu.
~o0o~
Suasana sarapan hening. Taemin yang biasanya cerewet hanya memakan sarapannya dengan tenang. Sungmin? Bahkan wanita itu juga diam. Kyuhyun dibuat heran dengan adik kakak dihadapannya ini. Tak biasanya.
"Ya! Kalian berdua kenapa?"
"Eng?" Taemin mendengung dan mendongak menatap Kyuhyun sekilas lalu sibuk dengan sarapannya lagi.
"Tak apa oppa, hanya sedang memikirkan tugas saja. Cha! Aku sudah selesai. Aku pergi." Taemin pergi tanpa banyak patah kata yang sering gadis itu kicaukan setiap pagi membuat Kyuhyun menatap aneh punggung Taemin lalu menatap aneh pada Sungmin.
"Kau tak mengantar Taeminnie?"
"Aniya, dia bersama temannya." Sungmin memilih menunduk. Menghabiskan sarapan paginya yang entah kenapa menjadi lebih banyak dari pertama kali ia mengambilnya.
"Semalam… aku terlihat mengenaskan ya, Ming?" Kyuhyun bertanya dengan suara pelan. Kepalanya pun menunduk memandangi sarapan miliknya. Sungmin yang mendengarnya mendongak kemudian tersenyum. Senyuman yang amat sangat sulit untuk tercetak menjadi senyuman manis.
"Eum…" gumaman Sungmin terdengar diikuti satu suapan yang Sungmin suap.
"Mianhae."
"Untuk?"
"Mengganggu kalian malam-malam."
"Lupakan saja."
Hening untuk sementara. Sungmin menghentikan sarapannya meski masih sisa beberapa suap.
"Kalian bertengkar ya?" Sungmin memberanikan diri bertanya. Dan saat melihat Kyuhyun mendongak serta menghentikan sarapan ia menunduk takut. Takut jika Kyuhyun malah akan marah atau bagaimana.
"Iya," jawab Kyuhyun pendek. "Saat aku menghampirinya di café aku melihatnya berduaan dengan seorang namja." Jelas Kyuhyun. Meski sekilas tapi sungguh Sungmin bisa melihat tatapan terluka itu tergambar jelas dalam wajah Kyuhyun.
"Kau jangan salah paham dulu, bisa jadi itu saudara Seohyun?"
"Tidak mungkin saudara saling mencium, bahkan aku tak pernah mencium Seohyun seperti lelaki itu mencium kekasihku." Sungmin memejamkan mata saat cubitan sakit ia rasakan di hatinya. Kyuhyun cemburu. Dan melihat Kyuhyun cemburu karena gadis lain itu membuatnya sakit.
"Kau hanya cemburu." Lirih Sungmin. "Bicarakan baik-baik dengannya dan putuskan apa yang terbaik untuk hubungan kalian." Sungmin memberanikan diri mendongak menatap ekspresi Kyuhyun.
"Ne, kau benar. Aku akan pergi ke rumah Seohyun. Gomawo, Ming. Kau yang terbaik!" dan entah apa yang dirasakan Sungmin, seperti rasa sakit namun sesak mendominasi disana.
Senyuman miris terukir untuk kesekian kali di bibir Sungmin. Tak perduli hati dan tubuhnya sesakit apa. Ia hanya tak ingin Kyuhyun kecewa terhadapnya.
Dengan perlahan Sungmin bangkit, membersihkan satu persatu piring yang memenuhi meja makannya. Mencucinya dengan pelan. Berharap sakit hati dan tubuhnya akan hilang bersama busa yang terguyur air. Sesekali melirik bayangan Kyuhyun yang masih setia duduk di tempatnya.
~o0o~
Sungmin hanya bisa meratap setiap kesempatan. Ujian akhir sudah berlangsung seminggu yang lalu. Pengumuman penerimaan universitas pun sudah ia terima dua hari yang lalu dan menyatakan bahwa ia terdaftar sebagai mahasiswi seni di Kyunghee. Senang? Bohong jika ia berkata tidak. Ia senang meski sedih mendominasi disana. Bersama sahabatnya Hyukjae dan Donghae ia pasti bisa melalui ini. Hidup jauh dari Kyuhyun yang dalam hitungan minggu akan pergi meninggalkan dirinya disini.
Setiap berdoa Sungmin selalu memanjatkan keinginan kecilnya. Keinginan bahwa ia masih ingin terus bersama Kyuhyun sampai Tuhan mengambil masing-masing dari mereka. Tak salah kan jika ia berharap sedemikian? Pun Kyuhyun hingga malam tadi masih bercerita bahwa hubungannya dengan Seohyun tak mendapat titik temu untuk berbaikan.
Sungmin menghela nafas pendek. Pagi ini entah kenapa ia sangat malas bangun pagi meski Kyuhyun sedari duapuluh menit yang lalu berteriak tak jelas dari balkon kamar milik namja pecinta game itu untuk membangunkannya. Ia lebih memilih menggulung tubuhnya di dalam selimut hangat. Mencoba merajut mimpi meski gagal.
Bosan, Sungmin mulai bangun dari tidurnya. Kepalanya berat dan perutnya terasa nyeri. Yeoja penyuka warna pink itu menoleh pada kalender meja yang terletak di meja belajarnya. Ah, bukankah ia belum mendapat tamu bulanannya bulan ini? Dan sudah telat dua minggu.
Sungmin mendadak diserang ketakutan. Terlambat dua minggu dan itu sama sekali bukan siklus bulanannya. Jikapun telat paling lama hanya dua atau tiga hari. Nafas Sungmin tercekat. Seketika keringat dingin mulai muncul di sela rambut dahinya. Fikirannya melayang pada kejadian itu. Kejadian dimana kesuciannya terambil begitu saja. Ia menggeleng saat fikiran buruk menyapanya. Tidak, ia tak mungkin hamil kan?
Dengan cekatan Sungmin bangkit dari tempat tidurnya. Mengendap ke kamar sang eomma untuk mencari sebuah alat yang ia pernah lihat ada di laci kamar mandi kamar orangtuanya.
Dapat!
Sungmin kembali kedalam kamarnya dan menutup pintu lalu berjalan dengan gugup ke kamar mandi. Jika setiap kali ia menonton televisi mungkin tokoh didalam sana akan melakukan hal ini dengan hati senang. Tapi Sungmin? Sungguh demi semua orang tercintanya di dunia ia takut. Ludahnya seperti membeku dan sulit sekali untuk ditelan. Ya tuhan… yeoja itu menggigit bibir bawahnya takut-takut sembari menunggu hasil.
Dan dunianya seolah berputar-putar saat didapatinya dua garis beserta tanda plus yang tertera jelas pada alat kecil berbentuk lonjong itu. Berkali-kali Sungmin melihatnya, tetap sama dan entah kenapa seolah oksigen disekitarnya menghilang tanpa tersisa untuknya. Ketakutan dengan banyak sebab menggelayutinya serentak. Harus bagaimana?
"Sungmin!" Sungmin terkesiap saat suara yang begitu ia hafal masuk memenuhi indera pendengarnya. Dengan gugup ia simpan benda panjang itu pada lemari kecil dibelakang kaca diatas wastafel. Membasuh wajahnya disana agar terihat tak pucat.
"Ming! Kau dikamar?"
"I –Iya…" teriak Sungmin dari kamar mandi.
"Ada apa? Kenapa pagi sekali kemari?" Tanya Sungmin setelah keluar dari kamar mandi. Yeoja itu memandang bingung saat melihat Kyuhyun tengah tersenyum sendiri di atas ranjangnya dengan posisi telentang. Mendengar pertanyaan Sungmin itu Kyuhyun bangkit dan sekali lagi memberi Sungmin senyuman termanisnya. Sungmin mendekat saat pemuda tampan itu menepuk sisi kosong disebelahnya. Mengisyaratkan dirinya untuk duduk.
"Ada apa?"
"Hehe… terimakasih." Ucap Kyuhyun tulus. Percaya atau tidak Sungmin baru sekali ini melihat senyuman Kyuhyun mengembang dengan tulus setelah sekian lama.
"Wae?" Tanya Sungmin penasaran.
"Aku ke rumah Seohyun semalam. Dan dia menjelaskan semuanya padaku. Ternyata aku salah paham dan kami berbaikan."
Deg
Pisau tak kasat mata yang begitu tumpul mencoba menusuk hati Sungmin. Memberi bekas yang begitu sakit dengan luka yang begitu lebar. Ingin sekali ia menangis. Meraung sekuat yang ia bisa dengan keadaannya saat ini. Namun entah terbuat dari apa hati seorang Lee Sungmin dan selentur apa bibir merona ber-shape M itu sehinga mudah sekali tertarik membentuk senyum.
"Ahh… aku bahagia sekali Ming! Aku akan ke Amerika bersama Seohyun. Empat tahun? Ah, kurasa tiga tahun sudah cukup meraih gelar sarjana disana, aku akan bekerja dengan giat, melamar Seohyun dan tentu saja mentraktirmu ice cream sepuasmu. Aku tak sabar Ming."
Lalu bagaimana? Harus bagaimana ia mengatakan pada Kyuhyun? Mendengar begitu menggebunya keinginan namja itu merancang masa depannya membuat Sungmin menciut seketika. Ia tahu jika ia mengatakan bahwa ia hamil anak Kyhuhyun secara tiba-tiba, pemuda itu pasti tidak akan percaya. Dan parahnya Sungmin yakin Kyuhyun akan kecewa. Kecewa karena Selama ini pemuda itu hanya menganggap Sungmin sahabat dan tak lebih. Terbukti hanya traktiran ice cream yang akan Kyhyun berikan ketika ia sukses nanti. Apa yang harus ia lakukan? Menyembunyikannya?
"Ming!"
"Ah…" Sungmin tersadar dari dunianya.
"Kau kenapa? Ada apa? Kau sakit?" Tanya Kyuhyun beruntun, memeriksa suhu tubuh Sungmin dengan punggung tangannya.
"A –aniya… gwenchana, aku hanya senang. Kapan kau akan ke Amerika?" Sungmin berusaha tenang meski rasanya jantungnya berdebar takut tak biasanya.
"Mungkin dua minggu lagi. Aku harus menyesuaikan diri terlebih dahulu disana." Kyuhyun menatap senang Sungmin membuat perempuan itu kembali jatuh terhadap pesona manik indah Kyuhyun. Tidak, ia tidak bisa menghancurkan cita-cita Kyuhyun. Kebahagiaan yang begitu jelas terpancar di mata indah itu begitu sayang untuk dihancurkan.
"Selamat ya…" akhirnya senyum Sungmin kembai tercipta meski dalam hati ia meraung begitu keras. Bagaimana kehidupannya selanjutnya? Tanpa sadar ia mengelus perutnya. Janin yang tengah ia kandung bagaimana nasibnya nanti? Sungmin menelan bulat-bulat kesakitannya. Ia harus berfikir untuk hidupnya. Namun sebegitu keras ia berfikir ia selalu menemui jalan buntu.
Jika mungkin ia hidup di dunia ini sebatang kara akan terasa begitu ringan. Ia hanya perlu pergi ke tempat terpencil untuk menghindari orang-orang. Tapi ini? Ada orangtuanya, orang tua yang merawatnya dan mengajarinya sopan santun dan norma agama dalam hidupnya, mengajarinya menjadi manusia bermartabat yang mampu menjaga harga diri dan kesuciannya. Ada sahabat dan kawannya yang begitu ia kenal baik. Apa kata mereka jika dirinya tiba-tiba muncul dengan perut buncit dan melahirkan tanpa tahu siapa ayah dari anak yang ia lahirkan. Ia pasti akan membuat orangtuanya malu. Teramat malu hingga ia tak bisa membayangkannya.
Ia tidak siap sungguh. Bagaimana, seperti apa dan apa saja sumpah serapah yang akan mereka keluarkan untuknya dan lebih-lebih terhadap orangtuanya. Belum lagi Taemin yang pasti akan mendapat cap buruk dari sahabatnya.
"Aku tahu kau sedih kita akan berpisah." Kyuhyun merangkul Sungmin. Membuat gadis itu menghangat meski rasa kaget dan bingung masih mendominasi sebagian hatinya. Baguslah, Kyuhyun menganggapnya menangis karena mereka hendak berpisah. Bukan karena beban berat yang kini tengah ia pikul sendirian. "Tapi bukankah kau bilang kebahagiaanku adalah kebahagiaanmu?" ditatapnya wajah Sungmin yang tanpa sadar telah basah. Diusapnya tetesan basah itu dan tersenyum manis dihadapan Sungmin. "Ini kebahagiaanku, Ming."
Sakit. Sungmin makin terisak. Ini kebahagiaan Kyuhyun yang dengan jelas pemuda itu ucapkan langsung dihadapannya. "Iya, kau benar. Kebahagianmu adalah kebahagiaanku. Kau janji akan bahagia kan? Apapun yang terjadi nanti kumohon jangan membenciku, Kyu…" mohon Sungmin dengan isakan samar nya. Kyuhyun mengerut dahi. Membencinya? Oh ayolah, sedang memikirkan apa sahabatnya ini?
"Hei... apa yang kau fikirkan? Tentu saja tidak, kita sahabat. Aku bahagia, kau bahagia. Kau bahagia, aku bahagia, arra? Berjanjilah padaku untuk menjadi orang hebat tanpaku eoh? Jangan menangis lagi. Kau sudah dewasa." Usapan manis Kyuhyun berikan lagi untuk airmata Sungmin. Membersihkan pipi bulat itu dari kesedihan. Meski menambah kesedihan dihati Sungmin tanpa namja itu sadari.
Sungmin mengangguk. Ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi dengan alasan mandi. Namun siapa tahu Sungmin menangis sejadinya disana. Ya tuhan… sesak! Bisakah ia mati saja? Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Kedepannya ia harus bagaimana? Berkali-kali Sungmin memukuli dadanya yang menyesak. Bayangan orangtua, adik, Kyuhyun serta orang-orang tersayangnya bermunculan secara bergantian dalam ingatannya. Dan janin tak berdosa ini harus ia apakan? Gugurkan? Mati, ia ingin mati saja.
Keheningan suasana meski bunyi air gemericik memenuhi ruangan itu seakan mengantarkan Sungmin pada sebuah kehidupan yang begitu rumit dan menyedihkan. Cintanya menghilang, harapannya hancur sudah saat tahu Kyuhyun dan Seohyun berbaikan.
~o0o~
Sahabat, ya? Aku mengingatnya. Mengingat betul satu kata itu yang tadi dia ucapkan. Sahabat tidak akan pernah tega merusak kebahagiaan sahabatnya sendiri. Dan itu yang akan aku lakukan. Kyuhyun begitu bahagia dengan semua harapannya. Dengan semua cita yang ia katakan. Tegakah aku? Tidak, aku tak setega itu.
Lalu apa tak ada secuil ingatan pun tentang bagaimana ia merusakku malam itu? Tak adakah ia teringat walaupun hanya samar dalam mimpinya? Kenapa hingga saat ini ia tak membahas itu. Dan.. apa yang harus ku katakan pada orangtua dan sahabatku tentang kehamilanku ini Tuhan?
Aku bisa membayangkan bagaimana tak percaya dan kecewanya Kyuhyun saat ia tahu berita ini dan apa yang akan terjadi setelahnya. Drama klassik yang suka ku tonton bersama Taemin kenapa harus ku alami sendiri? Tak adakah orang lain yang harus kau beri takdir seperti ini Tuhan…?
~o0o~
Perubahan drastis terlihat begitu jelas pada Sungmin. Tak ada lagi raut ceria yang selalu perempuan itu nampakkan meski keadaan di sekitarnya begitu hidup penuh warna. Dua hari lagi dan ia benar-benar akan kalah dengan rencana Kyuhyun. Setiap saat ia selalu memantapkan hatinya, tak mengijinkan hati itu goyah barang sedikitpun. Ia akan menangung ini sendiri. Ini hidupnya. Hidup yang harus ia pertahankan demi bayi yang nantinya entah akan diterima oleh orangtua serta sahabat-sahabatnya atau tidak. Yang jelas ia tak mau Kyuhyun kecewa terhadapnya. Ia ingin Kyuhyun hidup dengan keinginan dan cita-citanya begitupun ia.
Bukankah memang ia selalu ingin hidup dan kelak menikah lalu mempunyai bayi dari Kyuhyun? Biarlah yang terakhir itu yang terkabul. Ia siap. Asal Kyuhyun bahagia.
"Eonnie! sikat gigi yang baru eonnie beli kemarin dimana? Aku pakai dulu eoh?" Sungmin menoleh sejenak saat Taemin berteriak di depan kamar gadis itu.
"Cari di kamar mandi, eonnie simpan disana." Sungmin menyahut meski detik selanjutnya ia kembali fokus pada laptop dihadapannya. Taemin mengendikkan bahu dan mulai beranjak masuk ke kamar Sungmin.
Entah apa yang membuat Sungmin begitu terkejut saat mengingat kata kamar mandi. Dengan cepat ia beranjak, meninggalkan pekerjaannya dan menyusul adiknya.
"Hiks!" apa lagi ini? Sungmin mengerang dalam hati saat Taemin terisak di dalam kamar mandi. Berdiri tepat di depan wastafel dengan lemarinya yang terbuka. Ia yakin bahwa Taemin telah melihatnya.
"Taeminnie…" Taemin tersentak begitu mendengar panggilan lirih Sungmin. Gadis itu membalikkan badannya dan benar, testpack itu berada dalam genggaman Taemin yang gemetaran. Tatapan yang begitu dalam Taemin berikan membuat Sungmin menangis sesaat itu juga. Apalagi saat Taemin tiba-tiba memeluknya erat dan terisak dibahunya.
"Shhtt… Taeminnie. Gwaenchana…" bohong. Itu bohong dan Taemin tahu itu, ia menggeleng keras tak setuju. Dari mana bisa dikatakan baik-bak saja jika akan begini jadinya? Masalah besar seperti ini apakah kakaknya ini berencana akan menyimpanya sendiri?
~o0o~
Beban berat yang seharusnya aku tahu kini tengah di pikul orangtuaku kini aku sadar bahwa beban berat itu tengah di pikul sendirian oeh kakakku. Ia… bukankah ia begitu kasihan? Aku tahu seberapa besar ia mencinta Kyuhyun oppa.
Cho Kyuhyun namanya. Pemuda yang selalu bisa membuatnya senang dan salit dalam waktu bersamaan. Bodoh! Iya, ku akui kakak perempuan satu satu ku itu memang bodoh, mencintai pemuda yang sama sekali tak pernah sadar dan tak pernah memandang ia sebagai gadis yang mencintainya. Terus mengaguminya tanpa memandang siapa yang kini telah berada dalam hati namja itu.
Lalu sekarang ia harus apa? Sosok tak berdosa yang baru ku ketahui sudah hidup selama sebulan dalam kandungannya itu haruskah hidup tanpa ayah? Kenapa bisa kakakku hanya mementingkan bagaimana lelaki itu tanpa mementingkan dirinya sendiri? Benar cinta itu memang bodoh, tapi tak kusangka akan sebodoh ini jadinya.
Yang ku takutkan hanyalah orangtuaku. Bagaimana mereka akan bersikap jika tahu tentang ini. Mereka sangat menjunjung tinggi moral, dan satu yang terlintas dalam kepalaku adalah mereka akan menjodohkan Sungmin eonnie dengan lelaki lain. Dan aku tahu Sungmin eonnie tak akan mau dengan itu. Haruskah aku memberitahu mereka bahwa Kyuhyun oppa yang melakukan ini terhdap Sungmin eonnie?
~o0o~
Kyuhyun akan berangkat besok. Entah apa yang membuat pemuda itu mendatangi rumah Sungmin dan ingin sekali mengajak yeoja itu pergi. Meski awalnya Sungmin mengatakan tak enak badan namun Kyuhyun tetap memaksanya. Mengajak yeoja itu ke tempat dimana mereka sering menghabiskan waktu. Kedai ice cream tak jauh dari sekolah mereka.
"Hhahh… tak kusanngka kita akan berpisah secepat ini Ming,"
Sungmin tak menanggapi. Ia tak berbohong saat mengatakan dirinya tak enak badan. Terbukti dengan wajah pucat serta ice cream yang hanya ia aduk tanpa minat.
"Ming~" Sungmin mendongak.
"Omo! Kau benar-benar sakit? Kajja! Kita pulang saja." Dengan tanpa permisi Kyuhyun menarik paksa lengan Sungmin untuk berdiri dan memapahnya hati-hati keluar kedai.
"Tak apa, Kyu. Bukankah besok kau akan berangkat? Kita jalan-jalan saja." Elak Sungmin mencoba tak ingin mengecewakan Kyuhyun meski tubuhnya memberontak.
"Andwae! Kau sakit. Kita pulang." Tegas Kyuhyun.
~o0o~
Sesampainya dirumah Kyuhyun memapah Sungmin kembali, namun tak sampai kedalam rumah, Kyuhyun berteriak gaduh membuat Leeteuk yang tengah membaca majalah di ruang tengah bersama Heechul-umma Kyuhyun menghampiri.
"Omo! Sungmin kenapa Kyu?"
"Tak tahu ahjumma," ujar Kyuhyun sembari mengangkat Sungmin. Membawanya masuk kedalam kamar tamu yang berada tak jauh dari ruang tengah. Leeteuk mendudukkan dirinya disamping putrinya, memeriksa suhu tubuh Sungmin yang panas meski tak terlalu tinggi. Merapikan anakan rambut Sungmin yang menutupi wajah cantiknya.
"Sebentar lagi Dokter Park akan tiba ahjumma." Kyuhyun memberi laporan pada Leeteuk sesaat setelah menghubungi seorang dokter yang juga masih kerabat jauh keluarganya.
"Ne, gomawo Kyu. Maaf membuatmu repot." Leeteuk tersenyum lembut. Merasa tak enak pada namja muda dihadapannya ini.
"Gwenchana, yang penting Sungmin tak apa."
"Kau disini saja, menemani Sungmin. Jangan kemana-mana dulu." Kyuhyun hanya mengangguk mendengar perkataan ummanya.
Heechul beralih mendekat pada Sungmin dan mulai memijat kakinya. Memberi sedikit ketenangan pada otot kaki Sungmin agar yeoja itu rileks.
~o0o~
Mereka bertiga melihat dengan seksama dokter Park yang tengah memeriksa keadaan Sungmin. Sesekali kerutan di dahi dokter berambut putih itu tercipta saat mendapati sesuatu yang aneh dalam memeriksa Sungmin.
"Apa… Lee Sungmin-sshi sudah menikah?" Tanya dokter Park setelah selesai dengan pemeriksaannya membuat mereka bertiga yang ada disana mengerutkan alis bersamaan. Adakah yang aneh hingga membawa pernikahan? Leeteuk menggeleng.
"Belum. Dia barusaja lulus SMA." Sambung Leeteuk.
~o0o~
Ibu dua anak itu hanya mampu terdiam begitupun dengan Heechul dan Kyuhyun. Dokter Park meminta Leeteuk untuk berbicara berdua, namun karena Heechul memaksa dan diikuti Kyuhyun, terpaksa dokter itu meyetujuinya.
"B –bagaimana bisa? A –anda pasti salah dokter. Sungmin... Sungmin tak mungkin hamil! Periksa lagi Dokter! Kumohon." Tangisan Leeteuk muncul. Menarik-narik lengan dokter itu agar memeriksa Sungmin sekali lagi. Namun dokter Park menggeleng.
"Maaf, Nyonya. Tapi saya sudah melakukan pemeriksaan berkali-kali. Dan saya hanya dokter umum, maaf jika mungkin pemeriksaan saya salah. Tapi saran saya Nona Sungmin agar diperiksa kembali di dokter kandungan untuk memastikan."
Tubuh Leeteuk melemas. Syarafnya seakan dilucuti satu persatu. Apa ini?
~o0o~
"Gomawo, oppa…" ujar Taemin bahagia sambil melambai pada sosok yang ada di dalam mobil. Kekasihnya Choi Minho. Satu tarikan nafas Taemin hembus lagi. Ia berbalik dan memasang senyumannya melihat pintu rumahnya yang terbuka.
Gadis yang masih mengenakan seragam itu mengerutkan kening bingung saat didapatinya banyak pasang sepatu di depan pintu. Semakin mengerutkan dahi bingung saat terdengar ramai dari dalam rumahnya.
Ummanya tengah menangis sesenggukan dipelukan Heechul ahjumma. Appanya tengah berdiri dengan raut tegas yang ia yakin 100% pria tambun bermarga Lee itu tengah marah. Kyuhyun… juga ada disana.
Taemin mempercepat langkah saat merasakan hawa buruk disekitarnya. Dan benar. Eonnienya tengah bersimpuh didepan sang ayah sambil menangis.
"Ada apa…?" cicit Taemin yang membuat orang-orang disana menatapnya seketika begitupun Sungmin.
"Kemari Lee Taemin!" pekikan keras Kangin menggema membuat Taemin mendekat. "Kau harus mendengarnya sekali lagi Lee Taemin! Appa mendidik kalian bukan untuk menjadi perempuan murahan yang melakukan hubungan terlarang diluar pernikahan! Dan appa sangat kecewa terhadap kakakmu!"
Taemin tahu kemana arah pembicaraan ini. Appanya pasti sudah tahu tentang kehamilan Sungmin. Bagaimana ini?
"Wae, appa?"
"Tanyakan pada eonnie mu yang murahan ini." Telunjuk Kangin menunjuk Sungmin seolah Sungmin bukan siapa-siapa bagi nya.
"Appa!Yeobo!" pekik Sungmin, Taemin dan Leeteuk bersamaan.
"Apa aku salah? Hamil diluar nikah dan tak mau mengatakan siapa lelaki yang telah menghamilinya! Apa itu bukan perempuan murahan namanya?"
"Appa cukup!" Sungmin berteriak. Merasa sakit disebut sebagai wanita murahan oleh ayah kandung sendiri. Ia sungguh tak menyangka akan seperti ini.
"Appa sudah putuskan! Jika kau tak mengatakan siapa lelaki brengsek itu dan membawa appa padanya, maka besok appa terpaksa akan menjodohkanmu dengan putra rekan bisnis appa yang menyukaimu.!"
"Appa…" lirih Sungmin.
"Jangan mengelak. Kau sudah kotor Lee Sungmin! Appa malu punya anak murahan sepertimu!"
"Appa!" teriak Taemin.
"Kau mau membela eonnie mu? Atau jangan-jangan kau sama seperti eonnie mu?" nafas Kangin memburu.
"Aku yang akan mengatakan siapa yang menghamili Minnie eonnie dan membawamu langsung padanya. Tapi jangan sebut eonniku murahan appa!" Taemin mulai terisak.
"Taeminnie, andwae…" Sungmin menggeleng lemah. Yeoja itu terisak memegangi dadanya yang entah tiba-tiba menyesak. Apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
"Bagus! Siapa? Katakan pada appa!" tantang Kangin.
"Cho Kyuhyun"
"MWO?"
TBC?
Jangan panggil author please, heuu… T.T panggil IPECH. Ipech 95 line yak… hehe, bukan apa-apa, tapi yang udah kenal Ipech dan pernah masuk ke wpnya Ipech pasti tau kenapa Ipech gak mau dipanggil author.
Dan yang pengen Ming dikasih ke Imin maapin Ipech yak, bang Imin terlalu polos buat masuk kesini. #melas\digampar
Yang minta Jungmo juga maaf yak, belum bisa dikabulin. Soalnya Ipech gak mau ada tambahan cowo-cowo ganteng di deket Ming. Ntar Ipech kesaing lagi #dor.
Enggak ding, Ipech Cuma pengen munculin hurtnya disini, percaya deh kalau Ipech masukin Imin, si Jungmo atau bang Won jatohnya ntar Ipech bakalan lebay di Judul ini. Maap yak~
Dan thanks to: all reviewer
for:
babychoi137 : iyaa… ini ipechpumpkinsjoy. #kecupjauh
teras fanfiction : iya. Ipech, Afifaa Sutanti, ralat dikit yah… nyaha, itu id Line nya Ipech. Pernah ketemu di Line kah? #pletak. Maklum pikunnya akut. Hehe^^
Salam kenal semuaaa…
