A/N : Hello guys '_')/ sudah sepekan yah gak kerasa? Mmh, yang berarti Loony kembali update nih :D ... Apakah masih ada yang nungguin cerita ini?
Chapter 2 UPDATE! Spesial buat kalian yg masih setia dgn fict ini ;)
Well, di chapter sebelumnya saya lupa mengatakan bahwa ini merupakan sequel dari fict OS saya yg berjudul "The Letter". So, yang penasaran sama awal kisah our beloved DraMione di Hogwarts sebelum ini, silakan baca "The Letter" dulu, and then give me ur review ;) ... Oke, check it out!
|The Ending|
.
.
Disclaimer :
Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling. But all of idea and imagination, of course belong to me :)
Pairing :
Draco Malfoy dan Hermione Granger
Genre :
Suspense, Adventure, Romance
Rated : T (teen)
Warning!
Semi-Canon (Tahun ke-7)
Saya sudah berusaha untuk tidak typo
(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf).
Bahasa yg mungkin masih jauh dari kategori bagus(?), dan berbagai kekurangan lainnya.
|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|
.
.
.
"Avada Kedavra!" Pancaran kilatan sinar hijau menyilaukan meluncur dari salah satu tongkat—entah siapa. Menghantam seseorang telak di dadanya. Beberapa pasang mata melebar terkejut.
"Draco," suara itu masih sempat terdengar pelan dalam nada samar dan teramat sakit sebelum seluruh napas cikal bakal kehidupannya harus berakhir di ujung tenggorokan dengan tragis.
.
Harry Potter © J.K Rowling
The Ending © Ms. Loony Lovegood
.
.
.
"Aaauuuwww!" Erang sebuah suara.
"Draco, kau tak apa?" Hermione bertanya panik bercampur rasa cemas menjadi satu. Mereka—Draco dan Hermione—baru saja tiba di suatu tempat, tepatnya di sebuah hutan besar dengan berbagai pepohonan yang berdaun rimbun. Keadaan Hermione sekarang sudah sedikit membaik dari sebelumnya. Rasa sakit dan perih di lengannya berangsur-angsur mulai mereda.
Justru kini giliran Hermione yang membopong tubuh lemah Draco untuk mencari tempat berteduh sementara di bawah salah satu pohon lebat di dalam hutan mengerikan itu.
"Duduklah," Hermione menyuruh Draco duduk. Dengan perlahan ia melepaskan rangkulan Draco di pundaknya, lalu kemudian ia ikut duduk di sebelah Draco.
"Apa yang terjadi padamu, Draco?" Hermione mulai membuka percakapan kembali. "Dan hey! Kau terluka!" Jerit Hermione tiba-tiba sembari menutupi mulutnya yang sedikit terbuka karena terkejut. "Bagaimana bisa?" Ia menatap wajah kuyu Draco dengan alis yang berkumpul menjadi satu tepat di tengah.
"Entahlah, Mione. Tadi setelah kita ber-apparate ke sini, tiba-tiba saja perasaanku jadi tak enak, entah mengapa. Dan selanjutnya aku pun tak begitu sadar ketika sebuah duri salah satu tanaman liar disini menggores kakiku," jelas Draco. "Tapi kau tak perlu cemas, aku baik-baik saja," tambahnya segera ketika melihat air muka Hermione yang terlihat semakin cemas.
"Draco Lucius Malfoy! Goresan panjang seperti ini kau bilang tak apa-apa dan baik-baik saja, hah?!" Hermione berakata tak percaya. Maniknya melebar dramatis. Gadis itu bangkit dari duduknya sembari memegangi keningnya. Sementara tangan kanannya diletakkan di sekitar pinggang rampingnya dengan gaya akimbo—berkacak pinggang—yang mendominasi.
"Hermione, kau tak perlu secemas itu. Kau tahu? Luka ini tak sebegitu parahnya, aku bahkan masih bisa berjalan," bantah Draco sengit. Hermione berbalik ke arahnya. Pandangannya melunak.
"Oh, maafkan aku, Draco. Aku ... Aku tak bermaksud untuk marah padamu, aku ... Aku hanya terlalu cemas dengan keadaanmu," tutur Hermione merasa bersalah. Ia kembali berlutut di sebelah Draco yang kini tengah duduk berselonjoran. Kaki kirinya masih mengeluarkan darah segar, menembus celana kain hitam panjangnya.
Manik Hermione beralih ke arah jas hitam yang dipakai Draco. Dengan sigap ia melepaskan jas tersebut hingga hanya menyisakan kemeja putih di balik tubuh bidang Draco yang akhir-akhir ini terlihat semakin mengurus. Bagaimana tidak? Beban yang harus ditanggung Draco sangatlah berat. Pelahap Maut termuda dengan usia yang baru menginjak tujuh belas tahun! Bayangkan apabila kau berada di posisinya.
Meskipun dulunya ia terlihat bangga ketika terpilih menjadi Pelahap Maut termuda yang masuk dalam daftar kepercayaan Sang Pangeran Kegelapan, tapi percayalah, hatinya sama sekali berkhianat dengan semua hal itu. Jauh dalam relung hati dan jiwanya, ia meringis dan merasa sedih ketika melihat sesuatu tercetak di lengan pucatnya. Sesuatu seperti tato merah—yang lama kelamaan berubah menjadi hitam pekat—yang terlihat jelas bahwa itu gambar sebuah tengkorak dengan ular terjulur dari mulutnya, sama dengan gambar yang beberapa tahun lalu muncul di angkasa pada Piala Dunia Quidditch ataupun saat Bellatrix memunculkannya dari atas Menara Astronomi setahun silam tepat setelah kematian Albus Dumbledore. Yah, Tanda Kegelapan. Tanda yang mengikat dan menjadi bukti nyata bahwa dirinya adalah seorang Pelahap Maut, pengikut Sang Pangeran Kegelapan—yang nyatanya sekarang telah menjadi seorang betrayal.
Sungguh, ia sudah tak begitu peduli dengan statusnya yang masih berstatus sebagai Pelahap Maut Sang Pangeran Kegelapan Tanpa Celah Hidung itu. Yang terpenting adalah ia ingin bebas sekarang dan memperjuangkan cinta dan pilihan hidupnya.
Hermione menunduk memandangi pakaiannya sendiri, matanya tertuju tepat di saku celananya. Ia ingat betul bahwa sebelumnya ia menyimpan tas manik-manik kecil serba gunanya di dalam saku celananya yang telah ia daraskan mantra perluasan. Dengan cekatan ia merogoh sakunya, mengeluarkan tas manik-manik yang tentunya telah ia mantrai dengan mantra perluasan juga. Hermione mengeluarkan sebotol kecil cairan ramuan berwarna hijau pekat dari sana dan sebotol kecil lainnya yang berisi Dittany, lengkap dengan kapas serta perban.
"Woa!" Draco berkata takjub. Hermione hanya memandanginya sekilas dengan sedikit seringai tipis di bibirnya. "Kau memang jenius, Mione!" Ujar Draco lagi, lebih kepada memuji.
"Well, aku selalu memikirkan hal-hal yang mungkin tak orang lain pikirkan," jawab Hermione. Jemari mungilnya sibuk membenahi ramuan serta beberapa alat-alat pengobatan yang akan digunakannya pada Draco. Ia menyingkap celana panjang hitam Draco dan seketika meringis saat melihat luka goresan—jauh lebih tepat dikatakan robekan sebenarnya—yang panjang dan terlihat dalam disana.
"Tahanlah, Draco. Aku tak yakin kalau ini tidak akan sakit," Hermione memberi wanti-wanti. Draco hanya mengangguk patuh. Gadis berambut coklat mengembang itu mulai menempelkan kapas yang sebelumnya telah ia beri Dittany di sekitar luka Draco. Meskipun ia melakukannya dengan teramat hati-hati, tak urung Draco masih meringis dan bahkan mengerang pelan karenanya. Setelah selesai membersihkan luka-luka Draco, Hermione pun mengambil perban dan membalutkannya pada kaki pucat Sang Pangeran Slytherin itu setelah sebelumnya ia menyuruh kekasihnya itu untuk meneguk sebotol ramuan cair berwarna hijau pekat, yang katanya berfungsi untuk memulihkan stamina.
"Bagaimana rasanya?" Hermione bertanya dengan alis yang melengkung ke dalam.
"Wow! ini luar biasa, Mione!" Ujar Draco berusaha terlihat kuat dan bersemangat. Hermione memutar bola matanya. Ia kembali memasukkan peralatan-peralatannya ke dalam tas manik-maniknya.
"Draco, jujur saja sejak tadi aku bertanya-tanya. Kita dimana sekarang? Aku sama sekali tak mengenal hutan ini." Hermione kembali duduk di sisi kiri Draco sembari melihat ke arah sekeliling mereka.
"Aku belum memberitahumu rupanya. Well, ini adalah hutan pribadi milik keluarga Malfoy," terang Draco di sela-sela ulasan senyum tipisnya. Hermione sedikit menganga mendengarnya. Ia tak tahu bahwa saking kayanya keluarga Malfoy, bahkan mereka memiliki hutan pribadi—bukan untuk umum seperti halnya dengan hutan-hutan lainnya pada umumnya.
Karena merasa tak enak melihat reaksi Hermione yang masih sedikit terkejut akan fakta atas dasar kekayaan dan kekuasaan keluarganya—yang tentu saja nantinya akan membuat gadis ikal itu menjadi merasa rendah diri bahwasanya ia merasa tak pantas untuk bersama Draco, mengingat status Draco yang merupakan seorang darah murni bangsawan yang kaya raya—, akhirnya Draco kembali membuka suara untuk sekadar sedikit mencairkan suasana.
"Hermione, kita harus mencari tempat yang tepat di sekitar sini untuk menginap sebelum petang datang," usul Draco.
"Ah? Eh, ya. Kau benar, Draco," Hermione tersenyum kikuk.
Dan perjalanan pun kembali dimulai.
.
-OoOoO-
.
"Avada Kedavra!" Pancaran kilatan sinar hijau menyilaukan meluncur dari salah satu tongkat—entah siapa. Menghantam seseorang telak di dadanya. Beberapa pasang mata melebar terkejut.
"Draco," suara itu masih sempat terdengar pelan dalam nada samar dan teramat sakit sebelum seluruh napas cikal bakal kehidupannya harus berakhir di ujung tenggorokan dengan tragis.
Seluruh pasang mata yang berada dalam ruangan itu sontak terkejut, tak terkecuali—bahkan orang yang merapalkan mantra terkutuk itu sekalipun. Ia tak menyangka bahwa lemparan kutukannya akan meleset. Yah, terang saja. Mendaraskan mantra kutukan paling berbahaya seperti itu dengan membabi buta dalam keadaan kacau di suatu ruangan seperti ini tentu tak akan mengantarkan pada suatu hal yang baik. Dengan kata lain, kalaupun mantranya bisa tepat sasaran, aku berani bertaruh bahwa kemungkinannya pastilah sangat kecil.
Tubuh ringkih itu terjatuh kaku dan ambruk menghantam lantai dingin Malfoy Manor. Satu kata—tepatnya nama—berhasil ia ucapkan sebelum mantra terkutuk itu tepat mengenai dadanya dan merenggut segala atmosfir kehidupannya. Draco, sebuah nama yang masih sempat ia ucapkan.
"Luciuuus!" Narcissa menjerit pilu melihat sang suami ambruk kaku tanpa nyawa. Tetesan-tetesan air mata pun tak kuasa ia bendung lagi, saling berlomba-lomba menerobos maniknya. Tubuhnya bergetar menahan kegetiran dan kepedihan yang ia rasakan. Bahkan Bellatrix pun—yang kini sudah dibebaskan dari kutukan Ikat Tubuh Sempurna oleh entah siapa—turut terkejut menyaksikan pemandangan yang kini terpampang nyata tepat di depan matanya.
Narcissa bangkit dengan bekas-bekas air mata di wajahnya. Hatinya sakit dan serasa tertohok benda tajam tak kasat mata. Atensinya memancarkan kemarahan luar biasa, menatap penuh dendam ke arah Rodolphus Lestrange, kakak iparnya yang baru saja melayangkan nyawa suaminya dengan konyolnya.
"Aku minta maaf, Cissy. Aku sungguh tak sengaja," ujar Rodolphus sedikit merasa bersalah karena telah membunuh Lucius Malfoy. Untuk sejenak keadaan di dalam ruangan itu hening dan aura suramnya benar-benar terasa dalam konteks yang sebenarnya.
Dan hal ini rupanya tak disia-siakan oleh Harry Potter dan kawan-kawannya begitu saja. Ia memberi kode ke arah Ron Weasley, Luna Lovegood, dan Dean Thomas—yang notabene adalah sesama tawanan di Malfoy Manor. Mereka semua mengangguk mengerti sebelum akhirnya mulai merapalkan berbagai mantra-mantra ke arah Pelahap Maut yang masih berdiri pongah terkejut.
Mereka sepakat untuk tidak menyerang Narcissa Malfoy, bahkan Harry berpikir bahwa ia akan mengajak Narcissa untuk bergabung dengan anggota Orde lainnya setelah perang kecil ini selesai.
"Expelliarmus!" Ron berteriak di sisi kanan.
"Stupefy!" Susul Dean Thomas di sebelahnya.
"Everte Statum!" Luna mengarahkan tongkatnya ke arah salah satu Pelahap Maut yang berada dalam ruangan itu. Alhasil sang Pelahap Maut itu pun terpental ke atas.
Semua orang yang berada dalam ruangan itu seolah baru tersadar akan apa yang tengah terjadi sekarang. Mereka pun mulai saling menyerang satu sama lain.
"Locomotor Mortis!" Rodolphus Lestrange terkena kutukan Narcissa Malfoy, yang membuatnya tak bisa berjalan. Seolah-olah kakinya terikat oleh tali tak kasat mata. Raut wajahnya tak beda jauh dengan istrinya, Bellatrix Lestrange yang melotot tak percaya ke arah Narcissa yang secara terang-terangan sudah berpindah pihak. Harry Potter, Ron, Luna, dan Dean sempat terkejut menyaksikan kejadian itu, tapi pada akhirnya mereka mengerti bahwa Narcissa sudah menemukan jalan dan pihak yang benar.
"Crucio! Stupefy!" Bellatrix mengamuk marah, mengacungkan tongkat sihirnya dengan membabi buta dan mengenai siapa saja yang berada atau bahkan hanya sekadar melintas di hadapannya. Sementara ia tak begitu peduli dan tak mau repot-repot untuk membebaskan suaminya dari kutukan kaki terkuncinya.
"Bella!" Rodolphus berteriak ke arahnya, yang hanya dibalas tatapan tajam dari Bellatrix.
"Expulso!" Harry berteriak dengan gagah berani. Tongkatnya teracung ke depan dan kutukannya tepat mengenai sebuah lemari kayu dengan ukiran rumit di sudut ruangan. Benda itu meledak hancur berkeping-keping. Bahkan hingga menyebabkan cipratan api dan asap yang sedikit mengepul. Hingga hal itu menyulitkan pandangan semua orang dalam ruangan itu.
"Sial!" Bellatrix menggeram kesal. "Incarcerous!" Teriak Bellatrix, kembali membabi buta. Pandangannya terhalang oleh asap tebal, berharap mantranya dapat mengikat salah satu dari tawanan Malfoy Manor.
"Salvio Hexia!" Luna menangkis serangan itu. Membelokkan kutukan Bellatrix ke arah lain.
"Obscuro!" Harry merapalkan mantra ke arah beberapa Pelahap Maut dalam ruangan itu, yang tadinya masih sibuk dengan asap-asap yang mengepul. Sebuah mantra yang berfungsi untuk membuat pandangan target menghitam, seperti halnya ketika kita memejamkan mata.
"Kurang ajar!" Jerit Bellatrix murka tanpa bisa melihat keadaan sekitarnya. Harry memberi kode kepada kawan-kawannya agar segera keluar dari Malfoy Manor. Sementara ia bergerak cepat ke arah Narcissa Malfoy.
"Aku akan menyusul secepatnya," komando Harry kepada Ron, Luna, dan Dean. Mereka pun berlari dengan cepat keluar dari Malfoy Manor, menunggu Harry di depan gerbang—yang syukurnya malam ini tak dijaga dengan ketat oleh kawanan Pelahap Maut sama sekali.
"Hati-hati, Harry," ujar Luna dengan suara melamunnya, matanya kian membesar memandangi Harry dengan cemas. Harry mengangguk ke arahnya sebelum gadis bersurai dirty blonde itu keluar dari ruangan itu.
"Mrs. Malfoy, anda harus keluar dari sini. Aku akan menghubungi Orde untuk melindungi anda. Sementara mengenai Draco, anda tak perlu khawatir. Penyihir Wanita Terhebat Masa Ini kini tengah bersamanya," bujuk Harry menawarkan.
"Ta—tapi, aku tak bisa meninggalkan Lucius disini," tutur Narcissa dengan suara parau. Cairan bening yang tadinya menggenang di pelupuk matanya kini tak kuasa ia tahan lagi, menerobos keluar dengan deras begitu saja tanpa seizin sang empunya. "Bagaimanapun Lucius adalah suamiku, dan tetap akan menjadi ayah Draco sampai kapanpun," Narcissa kembali terisak pilu dan pedih bercampur menjadi satu, membuat siapapun yang mendengar dan melihatnya tentu akan turut merasakan kepedihan wanita aristokrat itu.
Harry Potter menatapnya iba dan simpatik. Lalu kemudian pemuda pemilik luka petir di keningnya itu berinisiatif untuk memapah tubuh dingin Lucius—yang pada akhirnya dibantu Narcissa—untuk keluar dari ruangan itu.
.
.
"Harry!" Pekik Ron Weasley dengan wajah berbinar. Ekspresinya tak beda jauh dengan Luna Lovegood ataupun Dean Thomas. Melihat Narcissa keluar bersama Harry, dengan sigap Ron dan Dean membantu Harry membawa tubuh kaku Lucius Malfoy.
"Luna, Dean, aku percayakan pada kalian berdua untuk membawa Mrs. dan Mr. Malfoy ke markas Orde. Aku yakin mereka akan dengan senang hati untuk memberikan perlindungan," ujar Harry tegas yang sarat akan makna menyuruh alih-alih memerintah.
"Tapi, Harry ka—" Belum sempat Ron menyelesaikan kalimatnya, ia sudah mendapatkan tatapan tajam dari harry Potter. Detik itu juga, Ron Weasley dengan segera menutup mulutnya rapat-rapat, seolah telah mengerti betul dengan instruksi tersirat sahabatnya itu. Pemuda berambut merah menyala itu tak melanjutkan kalimatnya yang tentu saja hanya berisi tanggapan ketidaksetujuan dengan usul Harry, dengan alasan bahwa keluarga Malfoy berpihak pada Voldemort.
"Baiklah Mrs. Malfoy, anda harus ikut dengan Luna dan Dean. Mereka akan membawa anda ke tempat yang aman," jelas Harry serius. Baru Harry akan melangkah meninggalkan tempat itu ketika sebuah tangan rapuh mencegat lengannya. Ia kembali berbalik.
"Aku tak bisa menjamin bahwa Draco akan baik-baik saja. Aku yakin Bella dan Pelahap Maut lainnya akan mencari keberadaan Draco dan Miss Granger secepatnya. Dan aku jika yakin bahwa mereka –Draco dan Hermione— ber-apparate ke salah satu hutan milik keluarga kami, letaknya tak begitu jauh, persis di sebelah barat Manor ini. Kalau kau tak keberatan, aku sangat meminta tolong padamu untuk mengecek keadaan mereka sekaligus memberitahu Draco bahwa ... ayahnya sudah meninggal," jelas Narcissa penuh harapan.
Perlahan, bulir-bulir air matanya kembali jatuh dan menganaksungai di pipi pucatnya. Lagi-lagi ia memandang pria yang terbujur kaku di hadapannya. Ia sama sekali tak berniat untuk meninggalkan suaminya itu di Malfoy Manor. Narcissa bertekad untuk membawa mayat Lucus hingga ke markas Orde.
Harry tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
"Terima kasih, nak," ucap Narcissa sedikit senang. Ia mengusap jemari-jemari Harry dengan penuh kasih sayang. Harry merasa ada gejolak dan sensasi tersendiri yang membuncah di dalam dadanya ketika mendengar Narcissa memanggilnya dengan sebutan 'nak'. Dan sentuhannya pun sungguh hangat —bagaikan sentuhan seorang ibu yang selama ini Harry rindukan— meskipun bukan dalam artian dan konteks yang sebenarnya. Karena terang saja, keadaan di sekitar mereka sekarang begitu dingin dan suram, sangat berkebalikan dengan yang dirasakan Harry barusan. Kedua ujung bibirnya tak bisa ia tahan untuk tidak membentuk sebuah senyuman tulus yang membingkai wajah tampannya.
Harry tersenyum menguatkan sembari balas meremas jemari Narcissa dengan pelan.
"Jaga dirimu, nak," ucap Narcissa lagi seraya mengusap air matanya dengan punggung tangannya yang masih bebas. Harry kembali mengangguk tersenyum ke arah wanita aristokrat itu.
Di detik berikutnya, Luna dan Dean pun membawa Narcissa serta tubuh kaku Lucius hilang ber-apparate ke markas Orde. Sementara Harry dan Ron kembali memulai perjalanan mereka, yah sesuai dengan yang diamanatkan Narcissa.
Mencari keberadaan Draco Malfoy dan Hermione Granger, sahabat perempuan mereka.
.
-OoOoO-
.
"Draco, aku sudah lelah berjalan. Apa tidak sebaiknya kita mendirikan tenda di sini saja?" Hermione bertanya dengan suara lemah. Draco menatapnya kasihan.
"Baiklah," jawab pemuda itu singkat. Hermione pun segera mengeluarkan tenda dari dalam tas manik-maniknya yang sebelumnya telah diberi mantra perluasan-tak terdeteksi. Draco baru akan mengambil tenda itu dan mendirikannya sebelum sebuah sentuhan lembut mendarat di bahunya.
"Biar aku saja, Draco. Aku tahu luka di kakimu masih belum sembuh betul," ucap Hermione tersenyum.
"Tapi—" Telunjuk Hermione menempel di atar bibir Draco.
"Duduklah di bawah pohon itu dulu," perintahnya lagi.
"Erecto!" Hermione menggumamkan sebuah mantra yang membuat tenda mereka akhirnya berdiri dengan tegak. Draco tersenyum memerhatikan.
"Well, kau memang gadis cerdas, Mione," pujinya pada gadis pujaan hatinya itu. Hermione hanya balas tersenyum malu-malu dengan sedikit semburat kemerahan yang samar di kedua belah pipinya. Gadis itu berjalan pelan ke arah Draco dan memapahnya berdiri untuk menuju ke dalam tenda. Namun baru sekitar tiga langkah berjalan, pergerakan mereka terhenti karena Draco dengan gerakan tiba-tiba menaikkan sebelah tangannya ke udara.
"Ada apa?" Tanya Hermione bingung.
"Kau tak mendengar sesuatu, Mione?" Draco balik bertanya dengan nada was-was. Atensi kelabu argentnya sibuk memperhatikan sekelilingnya. Memasang telinga setajam mungkin untuk mendengarkan bunyi dahan patah dan gemerisik dedaunan di sekitarnya. Hermione kini memasang air muka panik yang sangat kentara.
"Draco," Hermione bergumam pelan. Draco hanya menoleh menatapnya sekilas.
"Hussstt!" Draco menempelkan telunjuknya di bibir.
"Siapa disana?" Draco berteriak. Gemaan suaranya menggaung dalam hutan sepi itu. Kembali terdengar suara patahan dahan dan kayu yang diinjak secara bersamaan.
Jujur saja, keadaan hutan ini di malam hari sungguh jauh lebih mengerikan dibanding di siang hari. Pepohonan lebat yang menjulang tinggi di sekitar Draco dan Hermione kini terlihat semakin rapat, sehingga bintang-bintang di langit pun tak lagi kelihatan.
"Lumos," bisik Draco. Sebuah cahaya kecil dari ujung tongkatnya memancar keluar. Matanya masih was-was memandang keadaan sekitarnya. Tongkatnya di genggamnya kuat-kuat. Sementara itu Hermione pun kini mencengkeram lengan Draco dengan erat, seolah takut terpisah dan terlepas dengan pria yang sangat dicintainya itu.
"Expelliarmus!" Terdengar sebuah suara dari arah belakang mereka. Draco menarik Hermione dengan sigap ke arah samping, hingga mantra itu hanya mengenai sebuah batang pohon di hadapan mereka. Hermione pun kini mengambil tongkatnya dari balik sweater yang dikenakannya dan menggenggamnya dengan penuh perasaan waspada. Ia berbalik dan segera meluncurkan mantra dengan mantap.
"Stupefy!" Teriaknya dalam kegelapan. Terdengar bunyi debam yang seperti bunyi sesuatu menghantam tanah.
"Draco! Mereka menemukan kita!" Pekik Hermione panik. Draco terlihat berpikir sejenak sebelum menggumamkan sesuatu.
"Pasti bibi Bella ada dibalik semua ini."
"Kita harus pergi dari sini secepatnya, Draco. Sebelum mereka semua tahu keberadaan kita!" Desak Hermione. Draco hanya mengangguk mengiyakan.
Memang bukanlah hal mudah berlari dalam kondisi kaki yang bisa dibilang luka parah. Hermione berlari sambil terus menerus memapah Draco yang hanya bisa berlari seadanya. Tongkat Draco bersinar sendiri dalam lautan kegelapan karena mantra 'Lumos'. Begitu banyak pohon-pohon mengerikan yang harus mereka lalui di sepanjang jalan, bahkan semak-semak belukar pun tak segan-segan untuk memberi sayatan di wajah keduanya. Membuat wajah Draco maupun Hermione hampir penuh dengan luka-luka goresan. Namun mereka tak peduli, masih terus berlari menembus kepekatan malam dan dinginnya hawa yang menusuk hingga ke lapisan kulit terdalam. Napas mereka memburu satu sama lain—dan untuk saat ini terdengar agak menyeramkan.
"Confringo!"
"Expulso!"
"Stupefy!" Terdengar berbagai lontaran mantra tak jauh di belakang mereka. Hermione semakin gencar memacu langkahnya dengan berat karena bebannya seolah bertambah dengan tubuh Draco yang dipapahnya.
"Tinggalkan aku saja, Mione. Aku sudah terlalu menyusahkanmu. Larilah, tinggalkan aku sendiri di sini. Aku yakin aku akan baik-baik saja," ucap Draco lemah di sela-sela lari mereka yang disambut dengan terpaan angin dingin menerpa wajah keduanya. Hermione menoleh sebentar dan memberikan tatapan mematikan kepada pria Slytherin itu.
"Bodoh, Malfoy!" Geram Hermione kesal, kentara dengan cara bicaranya yang kembali menyebut nama belakang Draco. "Aku tak mungkin melakukan hal itu padamu! Dan aku tak bisa menjamin kalau kau akan baik-baik saja apabila kutinggal disini! Kau tahu? Kau sudah seperti separuh dari napasku. Kau bagian dari hidupku. Aku hidup untukmu, yang berarti kau juga harus hidup untukku! Kalau kau mati, aku pun akan mati. Tak ada yang bisa memisahkan kita, Draco! Ragaku tak akan pernah lengkap tanpa jiwamu!" jelas Hermione panjang lebar. Draco terdiam sebentar sebelum akhirnya tersenyum tipis ke arah Hermione.
"Ayolah, Draco. Jangan habiskan waktumu untuk mengucapkan hal-hal tidak penting seperti itu! Aku yakin kita berdua akan tetap bertahan hidup hingga Pangeran Botak Pesek itu mati di tangan Harry!" Hermione mengucapkannya dalam satu tarikan napas dengan semangat yang berapi-api. Baru Draco akan membuka mulutnya untuk angkat bicara ketika sebuah mantra dari arah belakang mereka kembali mengejutkannya.
"Reducto!" Sebuah pohon besar di belakang mereka meledak dengan bunyi memekakkan telinga.
Hermione dan Draco kembali mempercepat langkah mereka. Jujur saja, Draco sudah merasakan kakinya yang teramat sakit. Namun tak ada pilihan lain baginya selain terus berlari dan berlari. Lari atau tertangkap. Yah hanya dua pilihan itu yang tersisa untuknya. Maka dengan semangat yang masih tersisa, ia terus berlari tanpa gentar. Apalagi gadis pujaannya tengah bersamanya. Itu sudah lebih dari sekadar cukup baginya. Mereka kembali berlari pongah menyusuri jalan setapak dalam hutan itu.
"Crucio!" Hermione menoleh ke belakang dan mendapati Bellatrix, Rodolphus, serta beberapa Pelahap Maut lainnya yang ikut berlari mengejar mereka.
Dan di detik selanjutnya, keduanya tersadar bahwa mereka tak bisa bergerak cepat sekarang, ada akar-akar pohon dan tanggul menghalangi mereka, yang nyaris tak tampak dalam kegelapan. Bahkan Draco yang terlambat menyadari hal itu kini sudah terjatuh terjerembab ke tanah karena tersandung akar-akar pohon yang cukup besar dan keras itu.
"Auuwww!" Draco meringis kesakitan sembari memegangi kakinya yang serasa ngilu. Darah segar kembali megalir dari lukanya yang sebelumnya sudah sempat menutup lantaran pengobatan singkat Hermione tadi.
Hermione benar-benar panik sekarang. Apa yang harus ia lakukan? Menggendong Draco? Hell! Hal itu adalah hal yang paling tidak mungkin dilakukannya. Tubuhnya tak mungkin sanggup untuk membawa tubuh Draco yang jauh lebih berat dari tubhnya apalagi dalam keadaan berlari.
"Lari, Hermione! Selamatkan dirimu!" Perinta Draco disertai dengan nada melenguh kesakitan setelahnya. Hermione menatapnya panik, ia menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Tidak, Draco! Kau adalah separuh dari napasku, kalau kau harus mati berarti aku pun begitu," kata Hermione mantap.
"Tapi kau dalam bahaya, mereka sudah dekat. Dan mereka pasti akan menemukan ki—" Perkataan Draco belum sempat terselesaikan.
"Hahhahahaha ... Mau lari kemana kalian, eh? Little Mudblood dan My Sweety Draco? Hahhaha." Tawa keranjingan Bellatrix yang melengking memekakkan telinga seketika memenuhi atmosfir sekitar hutan itu. Yang semakin menambah aura mencekam sekeliling mereka yang pada dasarnya memang sudah mencekam tanpa embel-embel apapun.
Hermione dan Draco terperangah. Kini tamatlah riwayat mereka. Mereka berdua sekarang tengah dikepung oleh beberapa kawanan Pelahap Maut, ditambah Bella yang kini berdiri menjulang di hadapan mereka.
"Draco bagaimana ini?" Hermione bertambah panik. Ia merasakan kegusaran luar biasa dalam dirinya. Sementara Draco hanya bisa menatapnya dengan pandangan serupa tanpa tahu harus berbuat apa. Tetesan peluh membanjiri tubuh keduanya.
"Crucio!"
.
.
Bersambung ...
-OoOoO-
|Pojok Author|
.
.
Wew! Siapa yang terkena kutukan Bellatrix itu? Well, jawabannya di chapter depan yah ;) *evil smirk ... Oke, sebelumnya saya meminta maaf karena fict ini mungkin makin membosankan? ._. Dan maaf juga lantaran mungkin tak bisa menamatkan fict ini sebagaimana yang sudah saya katakan sebelumnya yaitu dengan 2 atau 3 chapter. Jujur, ternyata itu hal yang sulit. Dan saya rasa jika demikian, otomatis fict ini akan berakhir dengan ending yang terkesan sedikit dipaksakan (dan mungkin sy gak bisa jamin endingnya akan sesuai dgn harapan kalian jika ditamatkan dlm 3 chapter!). So, bagaimana menurut kalian? Apakah ada yang keberatan apabila fict ini lebih dari 3 chapter? Well, saya sudah memprediksikan sebelumnya bahwa mungkin The Ending ini bisa tamat dalam 4 chapter atau 5 chapter. Apakah kalian keberatan? Silakan tuangkan isi pikiran kalian dengan cara meng-klik tombol review XD~
Btw terima kasih banyak bagi kalian para readers, terlebih lagi yang telah memfavoritkan, mereview, ataupun hanya sekadar memfollow fict ini (well, setidaknya hal itu sedikit masih meninggalkan jejak ketimbang hanya menjadi silent readers sejati -_-) ...
Big thanks to :
Asuna No Riisuka, DheeaMalf, NuriApriliya04, Shizyldrew, VanVin, senjadistria, wolvee, caca, BlueDiamond13, DeeMacmillan, Lita Malfoy, Constantinest, yanchan, Veela Rosea, gothicamylee, Adisti Malfoy, echiprwth, Ochan Malfoy, Guest, Farah Zhafirah, Ryoma Ryan-Le Renard Roux, Ruka, , , Pixie Porsche, Staecia, rfleu, dan valerieva :) *peluk satu2 XD~
Akhir-akhir ini saya kurang bersemangat (bahkan untuk sekadar menulis sekalipun! Yg pada dasarnya sebenarnya merupakan hobi saya) entah karena apa, bahkan sy sempat berniat untuk HIATUS! Maka dari itu, saya sangat butuh review dari kalian. Siapa tahu saja dgn review yg mengalir(?), sy bisa kembali semangat dan segera menamatkan fict-fict sy ataupun bahkan membuat fict yg baru lagi ._. Karena dgn review yg sedikit, bukan tidak mungkin akan berakibat pada keterlambatan update atau semacamnya .-.
So, mind to review guys?
P.S : Bagi readers setia MBiF aka "My Blood is Ferret", ayo segera RnR ... Chap 15 is UP! :D
.
.
Salam,
Miss Loony
(13Juli2013-11.07 pm).
