I Love You
A Kuroko no Basket Fanfiction
Written By Gokudera J. Vie
Kuroko no Basket Tadatoshi Fujimaki
I Love You Gokudera J. Vie
Aomine Daiki x Kuroko Tetsuya. Alternate Universe. Out of Character. (Possibility of) typos. Flashback Story.
# # #
Chapter 2 : Kau dan Aku, Berpisah, dan Kita Melupakan
Part I
# # #
Pohon sakura bermekaran, suara arus sungai menelusup samar dan terdengar nyaman. Dibelai angin sepoi musim semi, Kuroko Tetsuya berjalan menuju SMU Teikou dengan mata yang terfokus pada buku di tangannya dan bukan pada jalan di hadapannya. Jalan yang dilaluinya tampak sepi, tak seorang pun dengan seragam yang sama dengannya tampak lewat. Tentu saja, karena Kuroko sudah terlambat dua puluh menit hari itu.
Hari itu adalah hari pertamanya sebagai murid SMU di Teikou High, sebuah SMU yang cukup terkenal di wilayah tersebut. Kuroko tidak bisa dibilang jenius, tapi Kuroko cukup pintar untuk bisa masuk Teikou yang standarnya sangat tinggi tersebut, bahkan dalam pembagian kelas berdasarkan ranking, Kuroko ditempatkan di kelas 1-3 dari lima kelas.
Kuroko akhirnya sampai di sekolahnya, sudah berada di dalam kelasnya, dan tengah meletakkan tasnya pada satu-satunya bangku yang masih kosong. Diliriknya ke sebelah dan menemukan teman sebangkunya sedang menelungkupkan wajah menghadap meja, tidur. Pemuda yang berada di sebelahnya tersebut berkulit agak gelap dan sepertinya berpostur tinggi, benar-benar kebalikan dari Kuroko.
Kuroko mengalihkan tatapannya, dia tidak peduli, kemudian duduk di kursinya, kembali melanjutkan bacaannya.
Teman sebelahnya terus tidur dan Kuroko terus membaca, berlangsung selama lebih dari dua puluh menit. Sampai akhirnya tubuh yang tengkurap tersebut bergerak sedikit sebelum mengangkat wajahnya.
"Hoaahhmm," sosok besurai biru cepak itu menguap sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "Hm?" ujarnya dengan sebelah mata melirik Kuroko. "Kau siapa?" tanyanya, menurunkan kembali kedua tangannya.
Kuroko mengalihkan tatapan dari bacaannya, dua biru dengan kepekatan warna yang berbeda pun bertubrukan. "Kuroko Tetsuya," jawabnya singkat.
"Hmm," gumam pemuda di hadapan Kuroko tersebut, menopang dagunya dengan tangan kanan. "Kau orang yang akan duduk di sebelahku mulai hari ini kan?"
"Sepertinya begitu," jawab Kuroko. "Kalau kau tidak keberatan," tambahnya dengan berbisik.
"Hmm," lagi-lagi pemuda berambut biru tua itu menggumam. "Kalau begitu, namaku Aomine Daiki, salam kenal, Kuroko," lanjutnya kemudian sambil tersenyum lebar kepada Kuroko.
Kuroko tiba-tiba merasa seperti tercekik dan ada yang berusaha mendesak keluar dari dalam tubuhnya, jantungnya berhenti berdetak untuk sedetik kemudian memompa darah begitu kuat pada detik berikutnya, membuat wajah pucat Kuroko terbias merah. Dengan pikiran bingung dan wajah tanpa ekspresi yang bersemu samar, Kuroko mengangguk mengiyakan perkenalan diri Aomine Daiki.
# # #
Sekitar dua bulan telah berlalu, di luar dugaan, Kuroko dan Aomine bisa berhubungan dengan baik meski keduanya tampak bertolak belakang dan nyaris tak memiliki kesamaan, bahkan yang tidak mengenal mereka dengan cukup baik pun akan mengatakan bahwa mereka terlihat dekat layaknya sahabat lama.
Kuroko sedang berjalan di koridor sekolahnya hendak menuju ke kafetaria ketika sebuah suara yang familiar menyerukan namanya. Kuroko menemukan Aomine tengah berdiri di sebelah jendela kelas 1-1 sambil melambaikan tangan ke arahnya. Di dekat lelaki berkulit gelap tersebut berdiri seorang gadis berambut merah jambu yang tampak asing bagi Kuroko.
"Ada apa, Aomine-kun?" tanya Kuroko, berjalan mendekati Aomine dan mengacuhkan si gadis setelah satu lirikan. Meski mungkin berkesan tidak sopan, tapi apa boleh buat kalau memang tidak kenal.
"Aku dan Satsuki mau makan bersama di atap, kau mau ikut?" tanya balik Aomine sambil menunjuk si gadis yang ternyata bernama Satsuki dan langsung mendapat cubitan dari gadis itu.
Kuroko melirik gadis itu sekali lagi, kali ini memperhatikannya baik-baik. Tipe idaman para lelaki, pikir Kuroko. "Kalau kau tidak keberatan, aku mau saja," ujar Kuroko pada sang gadis. "Ah, sebelumnya, namaku Kuroko Tetsuya dari kelas 1-3."
Gadis itu tersenyum ceria dan ramah dengan sangat manis, kemudian memperkenalkan diri sebagai Momoi Satsuki dari kelas 1-1, teman sejak kecil Aomine. Dan untuk sekejab, saat Kuroko lagi-lagi mencuri lirikan pada Aomine, ekspresi kesal dan tidak suka berkelebat di wajah si pemuda berkulit tan.
Cemburu? Duga Kuroko dalam hati, berpikir bahwa sang pecinta olahraga basket itu menaruh hati pada sahabatnya sejak kecil. Dia tidak mengerti kenapa rasanya dia juga ikut merasa kesal dan sekali lagi dia merasakan seolah jantungnya bermasalah. Selalu saja begitu jika berada di dekat seorang Aomine Daiki.
"Sudah! Sudah!" sela Aomine, menarik tangan Kuroko. "Ayo kita ke atap sekarang, kalau kau meladeni Satsuki terus, bisa-bisa kita tidak jadi makan nanti."
Itulah pertemuan pertama Kuroko dengan sahabat perempuan satu-satunya Aomine Daiki, Momoi Satsuki. Satu kejadian dari sekian kejadian yang memicu jalan di antara mereka, Kuroko dan Aomine, menjadi dua cabang yang berbeda yang tak memiliki perpotongan.
# # #
Suatu hari di musim panas, Kuroko, Aomine, Midorima, Kise, Akashi, dan Murasakibara sedang menikmati makan siang di bawah naungan pohon dan dibelai semilir angin sejuk. Topik obrolan mereka tidak lain dan tidak bukan mengenai basket, kegiatan ekstrakulikuler yang sama-sama mereka ikuti.
"Untuk turnamen bulan depan kalian harus latihan lebih keras," ujar sang kapten, Akashi, sambil bermain-main dengan rambut Murasakibara yang sedang tidur-tiduran berbantalkan kakinya. "Tapi aku percaya kalian pasti akan baik-baik saja."
"Jangan mengatakan hal yang bias begitu, Akashi," tegur Midorima, meletakkan kaleng minumannya ke tanah. "Kalau kau percaya pada kami, kau tak akan mengatakan hal yang menekan seperti itu."
Akashi dan Midorima, kapten dan wakil kapten, keduanya sering cekcok, atau lebih tepatnya Midorima banyak tidak setuju dengan pendapat Akashi. Tapi asalkan tim basket mereka baik-baik saja, tidak ada yang cukup peduli untuk melerai.
Kuroko memperhatikan sambil menyeruput milkshake-nya, membiarkan tatapannya yang mengembara itu berlabuh pada sang pemuda berambut biru tua. Aomine Daiki tampak begitu 'sibuk' mengobrol dengan Kise Ryouta, memperdebatkan banyak hal yang jauh lebih tidak penting dari pada perdebatan antara Akashi dan Midorima.
Milkshake Kuroko sudah kehilangan tetes terakhirnya, membuat Kuroko menatap wadah plastiknya sejenak untuk mengecek kemudian membuangnya di tempat sampah terdekat, yang masih termasuk cukup jauh dari tempatnya duduk.
"Akashi-kun, aku permisi dulu. Ada buku yang harus kukembalikan ke perpustakaan," seru Kuroko setelah membuang sampah, masih di depan letak tempat sampah.
Dapat dilihatnya Akashi memberi ijin. Dapat juga dia lihat Aomine yang tiba-tiba berdiri dan mulai berlari ke arahnya. "Aku akan menemanimu," kata sang pemuda yang lebih gelap dan lebih tinggi dari pada Kuroko tersebut sesampainya di samping Kuroko.
Kuroko hanya mengangguk, menyembunyikan perasaan senangnya yang tengah menggelegak. Entah kenapa. Entah kenapa dia merasa senang dan entah kenapa dia harus menyembunyikannya. Terkadang Kuroko sedikit tidak mengerti dirinya sendiri. Maka, Aomine dan Kuroko berjalan berdampingan dalam diam, mungkin diselingi gemerisik dedaunan dan desau angin.
"Aomine-kun," panggil Kuroko.
"Hm?" ujar Aomine, menatap ke arah pohon-pohon yang memagari jalan setapak.
Sekarang Kuroko jadi harus memikirkan topik karena dia sendiri tidak mengerti kenapa tiba-tiba memanggil Aomine. "Sejak kapan kenal dengan Momoi-san?" tanyanya tegas karena rasanya akan sangat aneh dan di luar karakternya jika dia terdengar gugup.
Mata Aomine sedikit menyipit dan tangannya menggaruk pipinya yang tidak gatal, gestur bahwa dia sedang berpikir. "Kapan ya? Semenjak aku sudah bisa mengingat, aku sudah kenal dengannya. Kami tetangga sih," jawab Aomine.
Sesuatu serasa melesak dalam dada Kuroko. Jika Aomine dan Momoi Satsuki sudah saling mengenal selama itu, tentu sang gadis berambut merah jambu jauh lebih dekat dengan Aomine daripada orang lain, bahkan lebih dari sang orang tua sendiri. Tidak selamanya anak-anak bergantung dengan orang tua, ego dan perbedaan jaman membuat mereka lebih bersikap terbuka terhadap teman sebaya, sahabat, atau siapa pun yang memiliki mindset yang sama.
"Oh," ujar Kuroko. "Kalian pasti dekat sekali ya."
Senyuman super lebar terlukis di wajah Aomine. "Yaahh… mau tidak mau."
Meski kalimat yang diucapkan seolah Aomine terbebani dengan pertemananya dengan Momoi Satsuki, tapi Kuroko tahu, sangat tahu dan dapat menangkapnya dari tiap ekspresi dan gestur bahwa sesungguhnya Aomine sangat menyukai teman kecilnya itu.
"Pernah terpikir untuk berkencan dengan Momoi-san?" Kuroko lanjut bertanya.
Dahi Aomine berkerut dan alisnya nyaris bertaut. "Kenapa bertanya begitu?" tanyanya balik dengan nada terganggu. "Satsuki itu sudah seperti adikku sendiri. Mana mungkin aku mengencani adikku sendiri kan?" sanggahnya. "Kalau kau naksir Satsuki, katakan saja padanya. Kalau Tetsu, aku tidak keberatan kok."
Dalam hati Kuroko tersenyum geli. Lihat? Kata-kata dan nada suaranya tidak cocok. Tidak keberatan apanya? Nada suaranya seolah berbicara bahwa dia siap memukuli Kuroko kalau sampai dia berani menyentuh Momoi Satsuki.
Kuroko pun tanpa sadar berhenti berjalan, merasa tidak memiliki tenaga untuk menggerakkan sendi-sendi kakinya. Alih-alih, energinya digunakan oleh kelenjar air matanya, dimana aliran bening dan asin mengalir dari kedua bola mata sewarna langitnya. Untuk pertama kalinya Kuroko berharap dia dapat pergi dan menghilang.
Sebelum Aomine menyadari Kuroko tak lagi ada di sampingnya, sebelum Aomine menoleh dan mencari keberadaan Kuroko, Kuroko berlari, menjauh tanpa suara dan menghilang meski hanya beberapa jam. Rasanya Kuroko perlu memperbaiki patahan-patahan perasaannya sebelum semuanya menjadi serpihan dan dia menyesali segalanya.
Kuroko Tetsuya, untuk pertama kalinya dan tanpa disadarinya, telah jatuh cinta.
# # #
Ketika musim gugur tiba, seragam para siswa telah berganti dengan yang berbahan tebal dan berlengan panjang. Belum lagi ditambah milik pribadi berupa jaket dan syal. Hanya saja bagi seorang Aomine Daiki yang namanya dingin tak lagi berpengaruh. Kursi di sampingnya kosong, Kuroko Tetsuya memilih hari ini untuk tidak masuk dikarenakan flu, hal tersebut mempengaruhinya lebih dari yang dia kira.
"Aomine Daiki!" seruan galak sang guru matematika membuktikannya. "Kerjakan soal nomor lima di depan!"
Inilah maksudnya. Dengan jujur Aomine mengakui bahwa Kuroko jauh lebih pintar dari dirinya dan selama ini Kuroko lah yang meminjamkan catatan dan jawabannya ketika Aomine mendapat giliran menjawab soal di depan kelas. Imbalannya tentu saja latihan basket dan sebuah traktiran makan siang.
Aomine jarang berpikir karena Momoi selalu memikirkan hal-hal penting untuknya. Aomine jarang berpikir karena Kuroko selalu memikirkan segalanya untuknya selama beberapa bulan terakhir ini. Kali ini Aomine jadi berpikir akibat keabsenan Kuroko, tentu saja setelah gagal menjawab soal di papan, mengenai hubungan sang sahabat lelaki dengan sang sahabat wanita. Meski baru dugaan, Aomine berpikir bahwa Kuroko menyukai Momoi Satsuki, dan ada kemungkinan bahwa perasaan Kuroko terbalas. Beberapa kali Kuroko sempat bertanya mengenai Satsuki, beberapa kali pula Satsuki pernah menanyakan perihal Kuroko, dan tiap kali itu pula Aomine akan menjawab dengan perasaan tidak senang menggumpal di dada, menekan perutnya dan membuatnya mual, dan darahnya bergolak. Ungkapan yang hiperbola? Tapi kiasan seperti apa lagi yang bisa menggambarkan ketidak senangan Aomine? Seperti dipalu di dadanya? Seperti ditonjok perutnya? Ataukah… seperti menyadari bahwa sudut-sudut hatinya yang biasanya diisi oleh sesuatu yang abstrak kini terasa kosong dan suram?
Aomine terus berpikir tanpa kemajuan berarti hingga tanpa disadari bel istirahat kini berbunyi. Nyaring hingga membuat telinganya berdenging. Jelas hingga terasa culas. Membuat urat-urat amarah Aomine bermunculan saja.
"Ao-chin~," panggilan itu membuat Aomine batal kembali berpikir. "Aka-chin menyuruh kita berkumpul."
Ditatapnya sang raksasa berambut ungu, Murasakibara Atsushi, yang berdiri menjulang meblokir pintu kelasnya dengan tatapan sebal. Untuk pertama kali dalam hidupnya Aomine merasa enggan berlatih basket. Kesadarannya akan hal tersebut nyaris membuatnya terjungkal kaget, tidak bisa percaya bahwa dirinya, Aomine Daiki, enggan bermain basket.
"Kenapa, Ao-chin?" Tanya Murasakibara, menatap Aomine yang hanya bisa berdiri mematung di tengah jalan.
"Ah, tidak ada apa-apa," jawab Aomine, kembali melangkah.
Aomine merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah ponsel berwarna biru tua dengan strap berbentuk bola basket. Dilihatnya layar dan mengecek pesan masuk atau panggilan tak terjawab. Nihil! Tidak ada satu pun pesan masuk atau panggilan tak terjawab. Kecewa rasanya tidak melihat adanya pesan masuk dari teman sebangkunya, bukan berarti Aomine tidak menyadari kalau Kuroko bukanlah tipe yang suka bermain dengan ponselnya, apalagi mengirim pesan tidak penting tanpa makna, tapi entah kenapa Aomine jadi merasa tidak bisa diandalkan sebagai seorang sahabat, gagal menyadari bahwa dia memang kurang bisa diandalkan sebagai seorang sahabat.
"Ao-chin!"
"Hm?"
"Kau sudah dengar tentang manager yang baru?"
Aomine menggeleng, menatap layar ponselnya yang hanya terisi wallpaper dan angka penanda waktu. Antara berharap dan tidak akan adanya sebuah pemberitahuan mengenai sebuah pesan masuk. Bahkan ketika menyadari tingkah lakunya sudah seperti gadis kasmaran, Aomine tidak ada niatan untuk tiba-tiba membanting ponsel flip-nya menutup. Karena Aomine tidak kasmaran! Dia hanya khawatir pada sahabatnya!
"… Manajer baru…. Satsuki Momoi," ucapan samar Murasakibara yang hanya tertangkap empat suku kata di telinga Aomine tapi sangat jelas maksudnya.
Spontan, saat itu juga, ponselnya menutup dengan suara maksimal sebuah ponsel yang ditutup dengan kasar. Padahal belum selesai dia berpikir tentang Kuroko, sekarang otaknya disuruh pindah stasiun mengenai Satsuki?
Aomine tahu kalau Satsuki juga suka basket akibat tiap sore selalu menemaninya latihan sejak kecil. Tapi Aomine baru tahu kalau Satsuki berminat untuk bergabung dengan sebuah klub basket, terutama menjadi seorang manajer, secara tiba-tiba, mendadak, dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada Aomine lagi. Aomine bukan pacarnya tapi Aomine sahabatnya, dia harus tahu, atau setidaknya berhak tahu terlebih dahulu. Pastilah ada sesuatu yang tiba-tiba membuat Satsuki tiba-tiba ingin bergabung dengan klub basket sebagai manajer. Data pribadi seorang Kuroko Tetsuya, mungkin?
Lagi pula, sejak kapan kedua sahabat Aomine itu saling tertarik satu sama lain? Sepengetahuannya mereka berdua jarang bertemu. Sekali pun bertemu mereka jarang ngobrol. Sekalinya mengobrol, obrolan mereka adalah tipe yang menurut Aomine sangat membosankan sampai-sampai kelelawar pun bisa tertidur di malam hari. Apakah mungkin sebenarnya keduanya sudah saling tertarik sejak pertama kali bertemu, di koridor sekolah waktu itu?
Hipotesis berjalan hilir mudik di pikirannya sampai dia tidak sadar kalau dia sudah berdiri di depan sang kapten klub basket dengan seragam basketnya.
"Daiki!" seru Akashi. "Kau mendengarkanku atau tidak?" tanyanya dengan sebuah bola basket di tangan.
Aomine curiga kalau dia menjawab 'tidak' maka bola itu akan langsung menimpuk kepalanya.
Akashi menghela nafas. "Cuma karena Tetsuya tidak hadir hari ini jangan mendadak hilang semangat begitu," tegurnya tepat sasaran.
Aomine curiga kalau sebenarnya Akashi adalah seorang esper, saking peka-nya si rambut merah terhadap suasana dan isi hati seseorang.
"Kalau kau sekhawatir itu padanya, aku bisa mintakan ijin pulang cepat untukmu. Kalau kau janji kau benar-benar menjenguknya dan bukan sekedar bolos dan main game di rumah. Mengerti?"
Kali ini Aomine bersyukur Akashi adalah orang peka yang perhatian terhadap teman-temannya. Aomine juga bersyukur telah menjadi teman Akashi. Bagaimana jadinya andai dia bukan teman Akashi dan membuat sang raja kesal benar-benar tidak mau dibayangkan olehnya.
"Err… terima kasih?"
Sekali lagi Akashi menghela nafas. "Sebagai gantinya, latihanmu besok akan ditiga kali lipatkan."
Harusnya Aomine tahu bahwa Akashi adalah orang yang tidak berperikemanusiaan bahkan terhadap teman sekali pun.
"Akashi-kun, boleh aku ikut dengan Dai-chan untuk menjenguk Tetsuya-kun?" suara feminine yang tidak asing itu benar-benar menohok perasaan Aomine yang baru saja tenang.
"Satsuki," gumam Aomine sebal. "Kau tidak usah ikut!" tegas Aomine, berjalan ke pinggir lapangan untuk mengambil handuk dan air mineralnya.
Terdengar protes dari Satsuki.
"Lagi pula, sejak kapan sih kau dekat dengan Tetsu?" Tanya Aomine.
Hening.
Aomine menoleh dan menatap wajah Satsuki yang memerah. Tingkah lakunya menunjukkan kegugupan. Tidak perlu jawaban bagi Aomine untuk mengerti maksudnya. Tidak tahu kapan, tapi Momoi Satsuki telah jatuh hati pada seorang Kuroko Tetsuya.
To Be Continued (to part II)
06 May 2013
Gokudera J. Vie
