Bab 2: Tea And Dango
Satu jam kemudian Sojiro masih berbaring di lembah itu. "Terimakasih Tuhan meskipun hanya sebentar tapi gadis cantik itu sukses menghiburku,"senyum Sojiro. Ia merogoh kantongnya. Ada seratus keping uang emas, cukup untuk makan setahun. Sojiro menghela nafas.
Enam bulan pertama sebagai rurouni dia bertemu dengan seorang tukang kebun tua yang menanam sayuran. Sojiro membantunya dengan harapan mendapat kebaikkan. Tidak dinyana kakek tua itu adalah pensiunan militer yang sebenarnya sudah berkecukupan dan berkebun memang hobinya. Sebagai imbalan menolong, ia diberi 60 keping emas.
"Senang mengenal kamu anak muda..."
Setahun mengabdi, akhirnya Sojiro mengelana lagi
Ditengah perjalanan ia bertemu dengan seorang ibu muda yang akan melahirkan. "Sini bu, saya tolong!"seru Sojiro. Setelah persalinan, sang suami baru datang.
"Terimakasih anak muda.. senang mengenal anda..."kata sang suami memberikan 50 keping emas. Ternyata sang suami adalah salah satu pejabat pemerintahan Meiji.
Sepanjang perjalanan Sojiro memberikan 10 keping emasnya pada pengemis dan orang kesusahan. Kalau dipikir pikir, menjadi pengelana kaya bukan tujuannya kan?
"Kali ini saya pasti bisa... menolong orang yang benar benar kesusahan!"tekad sojiro.
Ia akhirnya bangkit dari duduknya. "Kemana aku akan pergi ya?"tanyanya lagi. Sojiro masih ingat arah gadis cantik itu pergi... arahnya ke Tokkaido. Tokkaido lagi Tokkaido lagi, capek deeeh! Tapi mungkinkan kita akan bertemu kembali?
Secercah harapan muncul dari Sojiro...
"I will find you... maybe you are my the one..."
Sepuluh menit kemudian, Sojiro Tenken kembali ke Tokkaido! Tokkaido hanyalah kampung yang diapit dua kota besar, Tokyo dan Kyoto. Hanya ada rumah-rumah sederhana. Meskipun demikian pemerintah sepertinya sudah mulai sadar akan pentingnya jalur Tokkaido ini jadi dana pembangunan untuk kampung ini diperbesar. Akibatnya investasi investasi baru mulai bertebaran. Bisnis restoran, tempat minum, tempat penginapan dan rumah bordir pun mulai bertumbuh.
Diantara deretan rumah – rumah tua itu ada seorang nenek yang tadinya sedang menyiram jalanan. Ia tiba tiba menghentikan aktivitasnya dan mengaduh sambil memegangi punggungnya. "Aduuuh... aduuhhh... sakiiit!" jeritnya. Sojiro yang kebetulan lewat langsung memegangi nenek itu. "Nenek tidak apa –apa?"tanya Sojiro. Nenek mengangguk. "Maafkan saya anak muda. Saya memang tinggal sendiri jadi kondisi juga memang tidak fit."
"Adakah yang bisa saya bantu nek?"
"Tidak perlu... tidak sopan kalau nenek merepotkan kamu?"
"Tidak apa apa nenek, saya adalah pengelana yang sudah mendedikasikan hidup saya untuk menolong orang lain jadi nenek tidak perlu sungkan,"senyum Sojiro sambil memegangi nenek yang sudah tua dan keriput itu.
Nenek itu tersenyum, "baiklah tolong bantu nenek sampai ke depan rumah itu saja,"tunjuk nenek itu pada kedai dango dan teh. Melihat makanan favoritnya, mata Sojiro langsung cemerlang seindah bintang bintang di angkasa sana. Eh... sekarang masih siang deh ceritanya!
"Ya nek dengan senang hati. BTW itu warung nenek?"tanya Sojiro.
"Iya... sudah 60 tahun nenek menjalankan bisnis kedai teh itu tapi sekarang sudah tidak terlalu laku lagi,"cerita nenek. Lho... 60 tahun? Tua banget ya!
"Ngomong-ngomong umur nenek berapa tahun?"
"Ya... lebih dari 60 pastinya,"kata si nenek.
"Kakek dimana nek?"tanya Sojiro.
Nenek itu tersenyum, "nenek tidak pernah menikah sepanjang hidup nenek. Nenek sebatang kara."
Mereka berdua akhirnya sampai ke halaman rumah nenek. Tekniknya bukan rumah tapi gubuk. Entahlah, istall kuda tuan shishio saja lebih baik dari ini. Sojiro bisa melihat sebuah ranjang terbuat dari jerami, perapian, dapur dan ruang tamu seadanya. Di belakang rumah tampak sumur dengan tabir seadanya. Di depan gubuk itu ada jendela besar yang nenek gunakan untuk menghidangkan teh sedangkan di halamannya ada dua bangku kayu untuk para tamu. Di depan halaman rumah gubuk itu ada tulisan "Udon Tea and cake."
"Nenek, bisakah saya memesan secangkir teh dan dango?"tanya Sojiro.
Nenek itu memandang Sojiro, "oh... kamu tidak perlu memesan teh dan kueku hanya karena mendengar aku akan bangkrut."
"Tidak bukan begitu, hanya saja... saya suka teh dan kue."senyum Sojiro.
"Baiklah kalau begitu...,"kata nenek itu mengaduk Ochanya. Tak berapa lama kemudian secangkir teh dan segepok mochi siap terhidang. Sojiro menyeruput tehnya... hmmm... segar sekali! Sojiro merasakan mochinya hmm... manis, terlalu manis sebenarnya tapi apa yang bisa kamu harapkan pada nenek tua berusia 70 tahun yang membuat Mochi kacang?
"Saya tidak mengerti, kenapa teh seenak ini dan kue semanis ini tidak laku ya nek?"tanya Sojiro.
Nenek itu mendengus... "karena terlalu banyak saingannya. Akhir akhir ini banyak kedai teh yang buka. Menambah saingan bisnis saja,"kata nenek itu. Ia melirik ke toko teh sebelah bloknya. Yang menyajikan teh adalah seorang wanita cantik, yah tentu saja pelanggan nenek pindah ke warung sebelah. "Seandainya saja nenek memiliki seseorang disamping nenek. Setidaknya nenek tidak akan kesepian,"kata nenek itu.
Sojiro mengangguk. Ya... sendirian itu menyebabkan kesepian. Dan kesepian itu mengerikan. Sojiro memahami itu setelah menjadi pengembara seorang diri. Tanpa juppongatana dan tuan shishio, hidup Sojiro lebih mengerikan lagi. Meskipun tentu saja dia tidak semenderita waktu masih tinggal di tempat saudara saudaranya dulu.
"Terimakasih... teh dan mochinya enak sekali,"senyum Sojiro. Sojiro hendak merogoh kantong. "Ini untuk nenek,"kata Sojiro memberikan uang. "Oh... anak muda ini semua gratis untukmu karena kamu mau menolong nenek yang sudah tua ini,"senyum nenek Udon.
Sojiro terperangah. "Sudah seharusnya nek, saya seorang pengembara,"kata Sojiro menyodorkan uangnya.
"Tapi..."
"Tidak apa-apa Nek..."
Nenek itu tampak berpikir sejenak. "Kalau begitu bagaimana caranya nenek bisa membayar semua perbuatan baikmu?"tanya nenek itu sedikit sedih. Sojiro termanggu. "Sebetulnya tidak ada yang...,"kata Sojiro. Tapi nenek itu menatapku sedih. Tatapan yang berasal dari keinginannya untuk berbagi penderitaan denganku.
Sojiro bergegas pergi, Sojiro tahu Sojiro menyakiti perasaan nenek. Tapi adalah tugas rurouni untuk membantu dengan ikhlas. Bagaimana caranya Kenshin-sama menjalani hidupnya sebagai rurouni ya?
"Saya pergi dulu nenek..."kata Sojiro.
"Tuan pengembara!"panggil nenek itu dengan suara keras dan tegas. Sojiro terperangah. Bisa juga nenek itu bersuara bak TOA. "Ya?" jawab Sojiro.
"Apa yang paling kamu inginkan ?"tanya nenek itu.
Sojiro termanggu. "Maksudnya, Nek?"
"Apa yang paling kamu harapkan? Dengan menjadi pengembara... apa tujuannya?"tanya nenek itu.
Sojiro berpikir sejenak. Tidak ada yang menanyakan Sojiro hal itu setelah dua tahun berlalu. "Saya pikir nek, yang paling saya inginkan saat ini adalah rumah dan menemukan orang yang ingin saya lindungi seumur hidup saya. Sebab saya sebatang kara,"senyumku.
Nenek itu tersenyum. "Kalau kamu mau kamu bisa melindungiku,"senyum nenek itu. Sojiro terkesiap. "Sungguhkah itu nek?"tanya Sojiro. "Tinggalah disini semalam dua malam. Bukankah kamu tidak punya rumah. Nenek akan sangat senang menerimamu,"kata si nenek itu.
Sojiro tersenyum lebar. Air mata mengalir di sudut mata Sojiro. "Terimakasih nenek... terimakasih!"
"Ngomong ngomong siapa nama nenek?tanya Sojiro.
"Nama nenek Udon, karena dulu nenek membuka kedai Udon,"senyum nenek. Sojiro tertawa. "Nama saya Sojiro nek, salam kenal!"senyum Sojiro.
"Apakah kamu dulu tukang bersih bersih?"tanya nenek udon. Sojiro artinya bersih bersih. Sojiro tertawa miris. "Ya.. dulu Sojiro seorang pelayan." Pelayan dirumah kakak kandungku sendiri yang beda ibu.
"Oh ya sudah masa lalu biarlah berlalu."
"Sebagai rasa terimakasih saya biarkan Sojiro membantu nenek mengembangkan kedai nenek Udon?"tanya ku. "Sojiro akan mengembangkan kedai teh nenek yang sudah enak ini menjadi kedai teh terbesar di Tokkaido!"
"Jangan terlalu memaksa..."senyum nenek Udon.
Dan sepertinya Sojiro menemukan 'tempat'nya di Tokkaido... :D
Bersambung...
