Kaito keluar kamar lagi malam ini. Jam sembilan kurang sepuluh menit, diam-diam.
Mengenakan piyama yang sedikit kebesaran di tubuhnya yang kurus, ia melangkah terseok. Meski begitu, matanya tak lepas mengawasi. Barangkali tiba-tiba ada perawat muncul dan menanyakan apa yang dilakukannya. Kalau begitu, jangan harap untuk bisa memberi jawaban yang bagus karena perawat pasti akan menyeretnya ke kamar.
Tok tok tok! Terdengar suara langkah ketika Kaito tiba di pertigaan. Suara itu dari arah kiri. Kaito segera merapatkan tubuh di dinding, bersembunyi di samping vending machine. Ia mengintip sedikit, memastikan siapa yang lewat dan apakah orang itu menyadari dirinya.
Terlihat seorang pemuda berambut kuning melewati koridor yang remang-remang. Ia terus melangkah tanpa sedikit pun menoleh. Sepertinya ia tidak menyadari kehadiran Kaito. Setelah orang itu lenyap, Kaito keluar dari persembunyian dan berbelok ke arah kiri, menuju ke arah tangga yang membawa ke lantai enam.
Kamar 530 sampai 535 ia lewati tanpa menimbulkan suara. Tidak sedikit pun ia iseng menoleh ke jendela kamar-kamar pasien itu. Ia sama sekali tidak penasaran, sekalipun ada kejadian tadi pagi, gadis yang menghentikannya itu.
Siapa gadis itu? Kenapa ia bisa menemukan Kaito? Atau hanya kebetulan? Dan yang terpenting, kenapa ia menolong Kaito dengan cara yang amat sangat ceroboh itu? Apa ia tidak takut mati? Kaito sama sekali tidak memikirkan itu. Yang ia pikirkan adalah: gadis itu benar-benar mengganggu.
Maka Kaito memutuskan untuk mengulanginya lagi. Mengulangi usaha bunuh dirinya, sekali lagi.
Semoga gadis itu tidak muncul lagi. Kalau gadis itu lagi-lagi mencoba menghentikannya, Kaito tak akan ragu-ragu membiarkan ia ikut jatuh juga.
Sampailah ia di depan tangga menuju atap. Kaito tercenung sejenak, memandang pintu, menerawang. "Masih belum terlambat untuk kembali," ada secuil pikiran Kaito yang mengatakan demikian. Ia masih diberi kesempatan untuk berbalik dan merupakan niatnya. Tidak, ia tidak goyah. Ia tidak takut. Ia sudah mengambil keputusan, dan asal tahu saja, keputusannya tidak mudah diubah.
Kaito siap mengakhiri hidup.
.
.
.
Repeat
Vocaloid © Yamaha, Crypton Family, etc
Remake cerita dari:
ACUTE and REACT by Kurousa-P
KAITO → MEIKO ← Kagamine Len
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiksi ini. Ini hanya diperuntukkan sebagai pelampiasan hobi semata
.
.
.
Chapter 2
rethinking
.
.
.
"AAAAA!"
Len mendengar teriakan Meiko dan serta-merta mendobrak pintu kamar. Ia terkejut hingga menumpahkan minumannya begitu saja. Semua terjadi di luar dugaan, begitu cepat, hanya dalam waktu tiga menit sejak ia meninggalkan kamar.
Angin berhembus dari jendela yang terbuka, menerpa gorden di satu sisinya, dan Meiko tergeletak di bawahnya.
"Meiko!"
Len bergegas menghampiri Meiko, berjongkok dan menopang Meiko di lututnya. Hati-hati ia melakukannya karena tangan Meiko begitu rentan. Kekhawatiran Len semakin besar melihat Meiko bernapas tidak teratur. Matanya terpejam, bibirnya tak mengeluarkan kata apa-apa.
Namun ia tidak pingsan. Matanya langsung membuka dan membelalak.
"L-Len …" Bola mata Meiko memandang wajah Len. Wajahnya pucat. "Ta-Tadi …"
"Tadi apa?" sergah Len tidak sabar. "Pokoknya kubawa dulu kau ke tempat tidur. Bisa berdiri?"
"Ta-Tadi ada yang bunuh diri."
Len yang bersiap memapah Meiko membatu. "Bunuh diri …?"
"Jendela …" Meiko berucap terpatah-patah. "Dari jendela … aku melihatnya …"
Len sejatinya syok sama seperti Meiko, namun ia segera tersadar. Kondisi Meiko sekarang terlalu buruk untuk tidak dipikirkan. "Tenangkan dirimu, Meiko. Ayo ke tempat tidur."
"Tu-Tunggu." Saat Len akan memapahnya, Meiko menahan tangan Len. "Aku mau lihat … siapa yang bunuh diri …"
"Jangan. Lihat kondisimu sekarang. Lagipula itu pasti segera diurus polisi. Kita nggak bisa melihat," sergah Len.
Sejenak Meiko tak bisa membantah. Ia tampak terpukul. "Hanya dari jendela …" ucap Meiko akhirnya. "Sebentar saja. Tolong aku, Len."
Len ingin menolak, namun melihat raut wajah Meiko, ia tak tega. Ia mendecih pelan, kemudian membantu Meiko berdiri dan memapahnya menuju jendela. Mereka berdua melonggokkan kepala di sana, memandang ke bawah, memicingkan mata mencari-cari sosok di antara remang-remang cahaya bulan dan lampu.
"Nggak kelihatan …" gumam Len setelah berusaha mencari. Memang sayup-sayup terdengar suara ribut di bawah serta bayang-bayang manusia yang berlari ke sana-kemari. Pasti para perawat dan dokter sibuk mengevakuasi orang yang bunuh diri itu, entah selamat atau tidak. Barangkali ada orang-orang yang kebetulan di sekitar sana menyaksikannya hingga malah memperlambat evakuasi. Entah apa yang terjadi sebenarnya, Len hanya menebak-nebak. Jujur dalam hati, ia tidak yakin orang yang bunuh diri itu selamat.
Len beralih memandang Meiko dan hatinya sakit karenanya. Gadis itu merapat pada dirinya dengan tubuh gemetaran. Tidak tahu apakah Meiko mengetahui atau tidak siapa bunuh diri. Yang jelas ia takut, takut sekali.
Satu-satunya orang yang bunuh diri yang bisa Meiko pikirkan adalah pria berambut biru itu.
.
.
.
Pagi hari, ada garis polisi yang menghalangi bagian timur taman rumah sakit. Suasana ramai akan kehadiran wartawan maupun orang awam yang ingin menyaksikan. Hanya sedikit polisi yang berjaga. Semua orang sudah tahu apa yang terjadi tadi malam. Jelas-jelas ada orang yang bunuh diri.
Namun mereka masih bertanya-tanya darimana orang itu terjun. Apakah dari jendela kamar, atau barangkali atap? Tidak ada saksi yang melihatnya.
Karena itu tidak ada garis polisi di dalam bangunan rumah sakit. Tidak ada garis polisi di depan pintu salah satu kamar rumah sakit ataupun atap. Itulah mengapa Len bisa mengunjungi atap dengan bebas, berdiri di belakang pagar atap yang sepi.
Len memperkirakan orang itu menjatuhkan diri dari atap. Setahu ia atap dikunci sekitar jam sepuluh malam, maka tidak mustahil orang itu bisa ke atap dengan mudah saat pukul sembilan malam dan terjun dari sini. Siapakah yang terjun? Apakah ia salah satu pasien di sini? Len belum mengetahuinya.
Meski belum ada kejelasan siapa yang bunuh diri, pikiran Len tertuju pada satu orang.
Ya, pria berambut biru itu.
Pria yang ditolong Meiko kemarin, yang berusaha dicegat mati-matian oleh Meiko agar tidak melompat, yang sudah membuat Meiko membahayakan nyawanya sendiri.
Len menyangga kepalanya, merasakan beban mental yang berat. Ia masih merasakan ketakutan seandainya Meiko jatuh dari atap kemarin, berakhir sama seperti orang yang bunuh diri itu—yang Len sudah ketahui—tewas mengenaskan. Kalau sampai demikian, rasanya ia akan makin gila. Cukup sudah dengan yang terjadi di masa lampau. Ia tak mau ada tambahan lagi.
Sekali lagi Len memandang ke bawah, memandang ke arah titik jatuhnya orang yang bunuh diri itu. Ada bercak darah yang dapat ditangkap oleh mataa Len, membuatnya ngeri. Ia memutuskan untuk kembali. Ia ingin ada di sisi Meiko saat ini.
Kilas lampau itu pun terbayang lagi.
.
.
.
Meiko duduk termenung di kursi yang ia geser ke jendela. Angin sepoi menerpa lembut rambutnya. Tangannya ia luruskan di pangkuan, tak boleh banyak bergerak. Kursi itu saja ia dorong dengan badannya. Meiko masih memikirkan orang yang bunuh diri itu. Memang belum ada kejelasan siapa, tapi pikirannya hanya tertuju pada satu orang.
Pria berambut biru itu hanyalah orang yang ditemuinya secara kebetulan, saat Meiko hanya ingin menikmati suasana di atap mumpung kondisinya membaik. Kebetulan yang tidak menyenangkan, karena bertemu di saat pria itu siap melompat. Jelas Meiko tak bisa membiarkannya. Ia menolong dengan sekuat tenaga. Sembrono memang. Ia bahkan tidak memikirkan apa-apa termasuk nyawanya sendiri.
Meiko bersyukur ia dan pria itu selamat saat itu, namun sebagai gantinya, kondisi tangannya yang tadi mulai membaik malah bertambah parah.
Apakah perbuatannya itu sia-sia?
Kalau benar pria itu berhasil bunuh diri, maka ya, semua tindakan itu percuma.
Meiko bahkan belum tahu namanya, belum bertemu lagi dengannya, apalagi berbicara dengannya. Semuanya musnah dalam semalam saja. Barangkali pria itu menganggap Meiko pengganggu dan tidak ingin bertemu dengannya lagi. Barangkali pria itu tidak peduli bahwa sebenarnya Meiko takut sekali saat menolongnya, saat ia berada di antara hidup dan mati, sekali lagi.
Itu bukan pertama kali.
Pintu kamarnya dibuka. Meiko menoleh, mendapati Len masuk dan menutup pintu.
"Hei, Len."
Len tersenyum mendengar sapaan Meiko. "Sedang apa kau di situ?" tanyanya sembari menghampiri si gadis.
"Nggak ngapain-ngapain," jawab Meiko sekenanya sambil mengalihkan pandangan ke jendela. "Cari angin saja. Dokter belum memperbolehkan aku keluar, ya?"
"Kalau kau istirahat terus, kau pasti diperbolehkan keluar lebih cepat," saran Len. "Kakimu masih kambuh sakitnya?"
"Yah, tadi ada nyeri sedikit," jawab Meiko. "Sepertinya patah tulangnya belum sembuh benar, ya."
"Kalau sampai parah lagi, kau harus pakai krukmu lagi, lho," kelakar Len yang disambut cengiran kecil Meiko. "Semoga kau segera sembuh total. Kau sudah meninggalkan kuliahmu terlalu lama."
"Sudah nyaris tiga bulan, ya …" Meiko menerawang. "Aku sampai belum bisa menempati janjiku untuk mengajakmu ke pantai di libur musim panas ini."
"Jangan dipikirkan," ujar Len. "Kan masih bisa tahun depan."
"Tapi itu sudah tahun kedua kau kuliah. Janjiku kan di tahun pertama."
Len tertegun, bingung untuk membalas. Ia ingat betul janji Meiko di hari hasil seleksi diumumkan sebagai hadiah ia telah masuk universitas favorit. Jika Meiko tidak dalam keadaan sekarang, tentunya jauh hari Len sudah menagih janji Meiko dan pasti dikabulkan. Sekarang bagaimana? Tentu Len masih punya hati untuk tidak memaksa Meiko keluar dalam keadaan sakit.
"Aku …"
Sepatah kata yang hendak diucapkan Len terputus oleh nada dering dari ponselnya. Ia merogoh sakunya dan memeriksa chat yang masuk. "Tante Lola minta aku datang ke rumahmu untuk membawakan pakaian baru."
"Lho, bukannya Ibu mau ke sini?"
Len mengangkat alis dan membalas pesan dari kakak ayahnya itu. Pesan berikutnya datang sesaat kemudian. "Katanya Tante ada pekerjaan mendadak. Nanti sore beliau akan datang."
"Yah …" gumam Meiko kecewa. "Kau akan pergi sekarang?"
"Ya. Tante minta sekarang." Len menyimpan ponselnya di saku. "Jangan keluar-keluar kamar. Istirahat saja sekarang, Meiko. Aku segera kembali."
"Hati-hati, Len." Meiko mengantar Len dengan tatapan mata ketika Len keluar kamar dan menutup pintu. Hening. Tidak ada lagi angin sepoi yang menerpa, membuat Meiko merasa gerah.
Sekarang, ia punya keinginan untuk keluar.
Tapi dokter melarang. Len juga bakal marah kalau tahu. Kondisinya pun belum pulih. Meiko beranjak dari kursi dan melangkah pelan-pelan menuju ranjang. Ia berbaring terlentang, matanya berserobok dengan langit-langit. Ia memutuskan untuk tidur.
Tapi bayangan pria berambut biru itu kembali menghampiri.
Meiko membuka mata. Seakan terhipnotis, ia bangkit, lalu turun dari ranjang. Tidak apa ia keluar dan mengitari lantai ini. Siapa tahu ia bisa mendapatkan info akan pria itu dan benarkan dia yang bunuh diri. Siapa tahu, mana tahu. Karena itu ia harus mencoba.
Meiko tidak tahu mengapa ia begitu penasaran dengan pria itu. Ada perasaan khusus kah? Mungkin saja, walau ia belum menyadari perasaan apa itu.
Tetapi, pada akhirnya hasil yang didapat nihil.
Meiko tidak mengetahui apa-apa tentang pria itu.
.
.
.
Chapter 2 - end
Halo, aia masanina di sini. Nggak tahu mau ngomong apa karena capek. Makasih ya yang sudah baca, favorite, dan review. :)
