HEY, CHINA!
Fanfiction by: Ai Natsu
Gintama: Class 3 Z, Ginpachi-Sensei (Hideaki Sorachi)
Pairing: Okita x Kagura.
Character: Okita, Kagura, Ginpachi Sensei, student at Class 3 Z (kalo disebutin satu-satu kebanyakan wkwk)
Genre: romance, comedy, slice of life
Pesan dari author:
Saya, Hoshi, mohon maaf sebesar-besarnya apabila dari fanfic saya masih miskin kosakata Bahasa Indonesia yang baik, atau ada kata-kata kasar, karena saya beradaptasi dengan obrolan di anime Gintama yang nyaris semua berkata-kata kasar bahkan disensor ahaha, tapi saya masih berusaha membuatnya dalam bahasa yang sopan. Dan maaf kalau di akhir cerita mungkin agak aneh. Dan terima kasih kepada para pembaca yang sudah membaca fanfic saya, dan khususnya di fanfic ini.
Akhir kata, selamat membaca dan berimajinasi.
…
Bacalah fanfic di ruangan terang dengan jarak yang aman…
…
Kagura diantarkan Sougo sampai di rumahnya. Sebelum itu dia mengerjakan PR biologi di buku Kagura yang masih setengah terisi. Esoknya mereka diizinkan ikut tour kelas oleh Ginpachi-sensei. Kelas 3-Z memilih perjalanan ke kebun binatang. Karena kepala sekolah (Hata) sangat menyukai binatang, dia ikut tour kelas 3-Z. Tapi ada kejadian tidak terduga…
Sougo yang menggendong Kagura telah sampai di depan pintu rumah Kagura.
"China, oi…bangun. Hei!" panggil Sougo. Ia mendengus.
"Kagura-san, bangun. Kau sudah sampai di depan rumahmu." Kata Sougo dengan nada sedikit tinggi, tapi tidak meninggalkan gaya bicaranya yang datar seperti robot.
Sayup-sayup mata Kagura mulai terbuka.
"Hmm…"
Lalu dia tersadar kalau sedang digendong saingannya itu.
"UWAA!" Kagura terkejut dan segera turun dari punggung Sougo. Sougo menyerahkan tas milik Kagura. "Orang tuamu ada?" tanyanya. Kagura menggeleng, "Papi sedang bekerja di luar negeri. Kakak bodohku tidak pulang lagi. Jadi aku sendirian di rumah." Jelas Kagura.
Sougo menatapnya, seketika ia ingat saat dia bertanya kepada Shinpachi saat jam istirahat tadi siang, tentang keseharian Kagura di rumahnya.
'Aku kadang-kadang bersama kakakku ke rumah Kagura untuk menemaninya belajar dan membuatnya makanan serta bekal. Kagura hanya bisa membuat nasi dan telur mentah, tapi paginya aku ke rumahnya lagi dan memberikan beberapa sayuran mentah dan buah.'
"Hngg..hei, China. Bolehkah aku menumpang di sini dulu sebentar?." ucap Sougo. Kagura menatap Sougo heran, "Kau pasti ada rencana sesuatu. Ini mencurigakan.." gumam Kagura.
"Enak saja! Nggak lah! Bukan itu,PR biologi lu masih setengah belum dikerjakan, dan lu pasti tidak mengerti soal-soalnya, dan gua capek abis gendong lu. Berat banget badan lu."
Kagura refleks meninju wajah Sougo hingga hidungnya mimisan. Dia membuka pintu dan menyuruh Sougo masuk.
"Sebelum mengerjakan, aku mandi dulu. Kau tunggu saja di ruang tamu. Di meja ada jeruk dan cemilan." Ujar Kagura, seraya mengambil teko air dan gelas lalu menaruhnya di meja tamu.
"Terima kasih." Balas Sougo sambil menyelipkan dua kapas kecil di kedua lubang hidungnya yang masih mengeluarkan darah segarnya. Lelaki ini menatap sekeliling ruang tamu, dan menemukan lukisan tradisional khas Tiongkok di dinding. Ruangan tamu yang begitu sederhana namun nyaman. Sougo tidak bisa berdiam diri lebih lama di sofa. Baru pertama kalinya juga dia di rumah Kagura. Dia bangun dari sofa dan berjalan, tidak sengaja melihat ruang keluarga yang menggunakan pintu geser khas Jepang terbuka. Ia terkejut, menemukan meja persembahan almarhumah ibu Kagura. Matanya bergetar dan berkaca-kaca.
"Ibumu cantik.." ucapnya kecil. Ia masuk ke dalam dan berdoa di depan persembahan. Usai ia selesai berdoa, ketika keluar dari ruangan, ternyata Kagura berdiri di depannya yang sudah memakai kaos merah dan celana pendek warna hitam, terlihat handuk yang masih menggantung di leher.
Gadis itu menatapnya. Sougo mengernyit dan merasa gugup. Lalu tangannya menjitak kepala Kagura,
"Aduh!"
"Rambutmu masih basah! Seka yang benar!" ujarnya sambil mengelap rambut Kagura yang masih basah dengan handuk yang tadi di leher Kagura.
Mereka berdua terdiam. Lagi-lagi Kagura merasakan jantungnya berdegup kencang lagi.
Lagi-lagi perasaan ini…apa ini?
"PR biologimu belum selesai!" seru Sougo.
"O-oh iya! Aku harus menyelesaikan PR nya! Sadis, cepat!" Kagura menarik Sougo untuk pergi ke kamarnya. Jangan berpikiran aneh, mereka hanya mengerjakan PR.
Wajah Sougo memerah, dia memang tidak pernah masuk ke kamar wanita (kecuali kamar kakaknya dulu). Kamar Kagura juga sederhana. Hanya bercat dinding warna merah, warna kesukaannya, lemari buku, lemari baju, dan boneka kelinci di kasurnya.
Akhirnya selama hampir 1 jam Sougo membantunya mengerjakan PR biologi. Tidak sulit mengajarkan Kagura, karena dia selalu juara kedua menyaingi Sougo yang selalu juara pertama di kelas 3-Z.
"Aku lapar…" kata Kagura. "Aku akan membuat nasi dan telur. Kau mau?" tawar Kagura.
Sougo menggeleng. "Sudah kuduga kau akan makan makanan itu lagi. Apakah tidak ada sayur di dapur?"
"Hmm, ada sih…"
Sougo berdiri dan menggenggam tangan Kagura. "Antarkan aku ke dapur. Aku akan memasak makanan untukmu."
Mereka sudah di dapur. Kagura mengambilkan sawi hijau, dan telur dari kulkas. "Hanya ada ini." Katanya.
"Sini," Sougo mengambil sawi hijau dan telur. Kagura bingung apa yang akan si Sougo masak dengan itu. "Kau duduk saja, jangan lupa sebelum itu makan buahnya dulu.".
Sougo mencuci sawinya, lalu merebus di dalam air yang sedang dimasak. Ia mengeluarkan beberapa ikat cabai dari saku celananya. Tidak sadar bahwa Sougo telah menyeringai sadis, ia memotong cabainya dan memasukkan ke dalam rebusan. Beberapa menit kemudian cabainya ia angkat dan dibuang. Tidak lupa ia membuat telur dadar. Telur dadar yang terlihat sempurna, soal rasa tidak ada jaminan itu enak atau tidak, atau sedang-sedang saja, yang pasti bukan seperti telur dadar buatan Otae.
"Nih."
Sougo menaruh sawi rebus di mangkuk dan telur dadar, serta nasi hangat. Kagura terharu, ia hampir ingin menangis lagi, tapi dengan sigap ia menutupi terharunya itu, dasar tsundere.
"He-hei, kalau tidak enak, aku tidak ingin melanjutkan makannya lho!" tukasnya.
Sougo hanya mendengus sebal. Tapi dalam hati ia tertawa. Satu suapan, Kagura merasakan sesuatu yang tidak beres.
"PEDAAAAS!"
Sougo tersenyum sinis, dan tertawa kecil.
"Si-sialan, sadis! Kau masukkan apa ke dalam sawi ini?!" jerit Kagura.
Sougo masih tertawa. "Hei, kalau kau tidak makan kau akan sakit lho."
"Justru kalau pedas begini aku akan sakit!" jeritnya lagi.
"Habiskan!"
"HAAAH?"
…
Sepertinya, Ginpachi senseimulai mendapatkan mood yang kurang bagus pagi ini. Kantung matanya Nampak di balik kaca matanya. Malam harinya ia minum sake terlalu banyak, akibatnya pagi ini ia mengajar setengah mabuk. Kepalanya sangat pusing. Ditambah lagi, sang kepala sekolah, yang mirip alien sangat aneh. Menurutnya. Membuatnya semakin tambah pusing.
Mengetahui hal tersebut, Tsukuyo yang kemarin baru saja diizinkan menjadi asisten wali kelas 3-Z, sudah siap di samping Ginpachi sejak jam mengajar di kelasnya dimulai. Mengantisipasi kalau si guru kriting ini kesehatannya terganggu akibat mabuk.
"Ya, hari ini kita akan voting ke mana kita akan pergi," ujarnya tertahan. Ia menutup mulut, sepertinya dia mulai merasakan mual. "Dan Tsukuyo sensei yang akan menjelaskan." Sambungnya. Dia duduk di kursinya, dan memakan lollipop berasapnya.
"Baiklah, terdapat tiga pilihan lokasi kunjungan wisata. Yang pertama museum, pabrik susu fermentasi, dan terakhir kebun binatang. Silahkan dari baris pertama memilih tempat kunjungan wisata." Jelas Tsukuyo.
Sebelum mereka memilih, Hata yang dari tadi berdiri di depan papan tulis bersama asistennya, dia memicingkan mata, mengisyaratkan agar mereka memilih kebun binatang. Aura yang mengerikan seolah-olah muncul dari Hata. Alih-alih mengatakan kalau tidak memilih itu mereka akan dikeluarkan dari sekolah.
"KAMI MEMILIH KEBUN BINATANG" ujar anak-anak serempak. Ginpachi mendongak, menatap murid-muridnya heran. Lalu menatap Hata yang terlihat gembira dan Tsukuyo yang menghela nafas.
"Kurasa ini akan buruk." Gumamnya.
Usai pelajarannya Ginpachi, sebelum guru itu balik ke ruangan guru untuk cepat-cepat istirahat dan mengerjakan tugas-tugasnya, Kagura dan Sougo memanggilnya dan mengasih tugas biologi mereka.
"Hmm, oke oke." Gumam Ginpachi. Dia tersenyum, dan berkata "Bagus, kalian diizinkan ikut tour kelas. Tapi, dengan syarat kalian tidak boleh membuat keributan ya." Katanya.
Kagura dan Sougo sangat gembira. Mereka menunduk sebagai tanda terima kasih, "Terima kasih, sensei!"
Ginpachi keluar dari kelas dan berjalan menuju ruang guru. "Walaupun aku tidak yakin," gumamnya. Dia mengeluarkan lollipop yang dari tadi di dalam mulutnya. "Yah, lihat saja nanti.".
Bulan tidak nampak malam ini. Kehadirannya tertutupi oleh segerombolan awan kelabu. Hawa dingin menusuk tulang. Gadis bermata biru laut itu bersandar di pinggir jendela kamarnya. Dibiarkannya terbuka, membuat semilir angin yang dingin itu masuk ke dalam kamarnya yang ia biarkan gelap.
Larut akan lamunannya. Tatapan matanya yang kosong sedikit berkilau diterpa cahaya rembulan yang mengintip dibalik awan.
Kedua tangannya mengepal. Jantungnya berdegup kencang. Terlintas pikirannya tentang cowok yang selalu saja membuatnya kesal. Ya, siapa lagi kalau bukan Okita Sougo. Tapi, di beberapa kesempatan sikap sadis dan usilnya itu berubah menjadi lembut. Dia teringat wajahnya yang dibasuh dengan sapu tangan milik lelaki itu dengan lembut, dan wajahnya yang menunjukkan rasa khawatir.
"Sial!"
Dia mengacak rambut sebahu vermillionnya. Air matanya turun tiba-tiba, dan merasa marah. Ia memukul daun jendela dengan berang. Ia sendiri tak tahu mengapa ia menangis hanya mengingat kejadian itu.
Perlahan Kagura bisa membaca isi hatinya yang kacau, ia menyadari, ia sadar,
Aku jatuh cinta
Hey Cina part 2, by: Chikara Hoshi
Dan saat yang ditunggu-tunggu tiba. Tour kelas 3 Z ke kebun binatang. Para murid telah berkumpul di lapangan, mendengar arahan dari kepala sekolah, panitia, dan wali kelas. Setelah itu, mereka segera memasuki bis dan duduk di kursinya masing-masing yang telah ditetapkan.
Kagura bersungut-sungut. Dia memasang wajah masam.
"Woy, muka lu kenapa? Asem banget, merusak pemandangan tahu." Celetuk Sougo.
"Eh, Elu yang ngerusak pemandangan, nyong! Ngapain lu duduk di samping guaaa?" sungut Kagura.
"Idih, gua juga ogah duduk sama lu. Kalau bukan karena suruhan sensei gua juga gak bakal duduk di sini." Balas Sougo tidak peduli. Dia melirik Ginpachi dan Tsukuyo sensei yang duduk di belakang mereka, yang bertujuan agar lebih mudah mengawasi mereka.
"Cih,"
Ginpachi ikutan menggerutu, "Mereka…"
Tsukuyo yang ada di sampingnya hanya menghela nafas, "Tenanglah, mereka tidak akan berbuat macam-macam jika kita mengawasi mereka."
"Tugas seorang guru tidak hanya mengawasi dua bocah itu saja! Bagaimana dengan yang lain, hah?!" balas Ginpachi. Tsukuyo memutar bola matanya.
"Kyaaa! Sensei! Sensei! Kondo nonton JAV!" jerit salah seorang siswi yang bertubuh gemuk.
Ginpachi mulai geram, "Tuh kan,"
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, mereka sudah sampai di kebun binatang Edo. Kebun binatang ini lumayan ramai. Biaya masuknya pun tidak terlalu mahal. Tapi banyak hewan-hewan langka yang dilindungi di dalamnya, dan terlihat sangat nyaman.
Kagura turun dari bis sambil bersungut-sungut, diikuti Otae yang menenangkannya sambil tersenyum dan tertawa kecil seperti biasa. Si Sougo hanya memutar bola matanya dan bergabung dengan Kondo dan Hijikata.
di lain atmosfer kumuh akibat perang dinginnya si gadis Cina dan si pangeran sadis, terdapat rasa cerah yang dihasilkan sang kepala sekolah, Hata. Dia sangat bersemangat dan terlihat sangat menyukai hewan-hewan di kebun binatang. Sampai lupa kalau harus memberi pengarahan. Yah, walaupun yang diarahkannya tidak akan pernah didengar.
Ginpachi sudah tidak peduli dengan keberadaan kepala sekolah yang sudah ngacir entah kemana, dia menghela nafas.
"Yah, biarkan saja. Semoga dia dimakan harimau dan tidak pernah kembali."
Dia menepuk tangannya dua kali. Mengisyaratkan agar murid-muridnya diam sejenak.
"Baiklah, sensei akan membacakan kelompok kalian. Yang telah disusun Tsukuyo sensei."
Ginpachi mengernyit. Matanya tampak seperti ikan mati. Dan mengerdip tiga kali, memastikan bahwa minus di matanya tidak parah-parah sekali.
"Eh, … lho? A..ano… Tsukuyo." Panggilnya pelan.
Tsukuyo mendekat. "Ya?"
"Apa-apaan nih? Yang benar saja. Masa mereka digabung sih? Kenapa hanya di dua kelompok ini saja yang digabung, orang-orang yang tak akur?"
Ginpachi menunjuk kelompok pertama yang berisi Hijikata, Katsura dan Elizabeth, Shinpachi, Yamazaki, dan Shimaru. Kelompok dua terdiri dari Kagura, Sougo, Otae, Kyubei, dan Kondo.
"Dua kelompok ini tidak akan berjalan!" ujarnya kesal. Murid-murid mulai memerhatikan dua guru mereka dengan heran.
"Menurutku tidak masalah. Lihat, di kelompok pertama ada Shinpachi dan Yamazaki, juga Shimaru. Kurasa mereka akan baik-baik saja. Dan Kondo bisa melerai Sougo dan Kagura." Bisik Tsukuyo.
Ginpachi –yang lagi-lagi tersulut emosi, atau dia sedang PMS?- kesal dan membalas bisikan Tsukuyo tegas campur kesal, namun masih terdengar lembut.
"Hey, nona, aku maklumi kamu masih belum mengerti kondisi di kelasku seperti apa. Kau juga baru-baru ini menjadi asisten wali kelas di kelasku kan? Oke, akan kujelaskan singkat. Shinpachi dan Yamazaki hanya menjadi obat nyamuk, Elizabeth –aku tidak tahu dia itu apa- dan Shimaru akan saling tampar, kau akan tahu nanti. Dan kelompok dua tidak akan terselamatkan! Kau mengerti?!"
Tsukuyo hanya mengangguk pelan. "Ohh begitu ya. Lalu… bagaimana?"
"KENAPA BALIK TANYA?" teriak Gin.
"Ya…ya maaf. Aku tidak tahu. Kupikir dengan ketidak akuran tersebut, mereka bisa menjadi akrab."
"Sensei, kapan mulai nih?" celetuk Kagura.
Ginpachi berdeham. "Oh, maaf. Kalau begitu sensei bacakan."
Setelah semua dibacakan, benar saja, kelompok satu dan dua protes.
"Gua gak mau sekelompok sama bocah rese!"
"Apa lu, Cina? Gua juga ogah!"
"Kenapa gua sekelompok sama nih kribo? Pakai plakat lu kalo mau sekelompok sama gua!"
"Dih, siapa juga yang mau sekelompok sama lu. Gua maunya pake buku catetan!"
"Dasar orang-orang pelanggar peraturan kelas! Keluar lu dari kelompok gua! Seppuku sana!"
"ORA! ORA! ORA! Balik sana ke kandang lu gorilla!"
Ginpachi naik darah sampai ubun-ubun.
"INI ADALAH KEPUTUSAN PERMANEN. TIDAK DAPAT DIGANGGU GUGAT! ATAU KALIAN AKAN MENDAPATKAN HUKUMAN YANG LEBIH! PAHAM!"
Dan mereka bubar setelah diberi tugas.
Kagura tampaknya sangat tidak menyukai kalau dia satu kelompok dengan Sougo. Dia melirik Otae yang masih mengobrol dengan Kyubei, dan Kondo yang sedang cemburu. Sougo sendiri tidak peduli dengan sekitarnya. Dia hanya mencatat hewan-hewan apa yang diamatinya.
Berkali-kali Kagura mendengus.
"Kau ketularan bad mood nya Ginpachi sensei ya?" celetuk Sougo.
"…"
Lalu Kagura berlari menjauh darinya.
"Ka-Kagura-chan kamu mau kemana?" Tanya Otae sedikit panik. "Bagaimana kalau kita susul Kagura? Kurasa dia tidak baik-baik saja." Ujar Kyuubei.
"Aku akan ikut Otae-san!"
Mereka bertiga segera mengejar Kagura. Kyuubei melirik tajam Sougo yang terdiam.
Kagura berlari tak melihat arah mana ia berlari. Tak sengaja ia menabrak kerumunan pengunjung lain. Bahkan petugas keamanan kebun binatangpun menegurnya tak ia dengarkan.
Katsura yang sedang melerai pertengkaran dan pertamparan antara Elizabeth dan Shimaru, memanggil Kagura.
"Le-Leader?!" serunya. Lelaki berambut panjang itu heran, lalu segera mengejar Kagura yang semakin berlari menjauh. Sekilas ia melihat, sang leader nya itu menangis.
…
"Jii, lihat! Lihat! Besar sekali singa-singa itu!" seru Hata. Ia berdecak kagum, dan rasanya ingin sekali memeluk singa-singa yang berada dalam kandangnya. Sebuah halaman yang lumayan luas, dan dibatasi pagar teralis besi yang melindungi singa-singa besar itu.
Singa-singa besar itu melihat Hata tajam. Perhatiannya pada antena aneh miliknya membuat singa-singa itu berubah menjadi ganas. Mereka menggeram dan berlari kencang alih-alih akan memakan Hata.
"UWAAAA!" Hata dan Jii berteriak ketakutan. Orang-orang di sekitar juga ketakutan dan segera berlari dari situ.
Kagura yang baru sadar kalau dia berada dalam kerumunan orang-orang yang panik karena geger dengan singa-singa besar yang mengamuk.
Matanya terbelalak melihat Hata dan Jii sedang meringkuk ketakutan. Dan melihat selot pagar yang hancur karena hantaman singa itu, dan bergegas menerkam dua orang yang seperti alien. Atau memang alien.
"Kepala sekolah!" Kagura memekik dan segera mendorong mereka berdua.
Tapi naas, lengan kanannya digigit singa jantan besar yang merusak pagar tadi. Gadis kecil itu berteriak kesakitan. Darah mengalir deras, lengannya terkoyak.
Ginpachi, Tsukuyo, dan murid-murid datang melihat dari kejauhan. Mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat. Gadis berusia 14 tahun itu berusaha melawan singa yang setengah mengoyak lengan kanannya yang mungkin sedikit lagi mungkin akan putus. Petugas kebun binatang akhirnya menembak bius singa itu, dan mulai kehilangan kesadarannya.
Otae berteriak dan menangis, ketakutan melihat kondisi Kagura.
"KAGURA-CHAAAAN!"
Teman-temannya menenangkan Otae yang berusaha menghampiri Kagura.
Sepasang mata merah kecoklatan, terbelalak, dan reflek ia menerobos para petugas dan juga polisi.
Pupilnya mengecil, darahnya berdesir, tubuhnya bergetar melihat gadis yang selalu bersamanya banjir darah.
Ia jatuh, kedua tangannya meraih tubuh mungil Kagura. Mata gadis yang ia panggil Cina itu perlahan terbuka sedikit, mulutnya menggumamkan nama depan laki-laki bersurai coklat terang yang memangkunya di paha.
"Sougo…"
"Kagu…" lirihnya tertahan. Sebelum mata Kagura tertutup. Kehilangan kesadarannya.
Sougo berteriak, air matanya keluar. Ginpachi segera menghampirinya, bantuan medis memisahkan Sougo dari Kagura yang segera dimasukkan ke dalam mobil ambulan.
Ginpachi menenangkan Sougo yang masih shock.
Kagura…
Akibat insiden tersebut, tour kelas 3-Z terpaksa dibatalkan karena kecelakaan yang dialami Kagura.
Otae, Kyuubei, Kondo, Katsura, dan Shinpachi tampak murung di depan ruang tunggu operasi.
Ginpachi tampak stress, ditemani Tsukuyo yang berusaha menenangkannya.
Ayah Kagura baru saja dihubungi, dan segera pulang ke Jepang. Kakaknya entah kemana.
Dikejauhan, Sougo duduk menenggelamkan kepalanya diantara lututnya. Orang-orang yang berada di rumah sakit itu menatapnya aneh.
Dia merasa, kalau semua ini salahnya. Ia tidak tahu sikap apa yang telah ia perbuat, sehingga Kagura menjadi aneh belakangan ini, dan berujung pada kecelakaan itu. Andai saja seumur hidupnya tak pernah mengenal Kagura, mungkin gadis itu akan baik-baik saja, pikirnya.
Tangannya memegangi kepalanya. Ia merasa pusing. Sangat pusing. Ia mengerang, terlihatlah wajahnya yang pucat. Ia memang sering bertengkar dengan Kagura, tapi tak pernah sampai membuatnya berdarah sedikitpun. Walaupun pernah sampai patah tulang. Melihat daging lengan gadis itu hancur, darah yang mengalir, mengenai seluruh kulitnya yang putih bak boneka porselen.
Seorang suster menghampiri Sougo.
"Permisi, adik. Apakah adik baik-baik saja?" tanyanya. Suster itu menatapnya dengan wajah khawatir. Sougo menyadari bahwa dia memang tidak baik-baik saja, tubuhnya mulai menggigil dan tidak sehat.
Ia berdiri, dan tidak ingin membuat kerepotan pada orang lain.
"Oh, tidak apa-apa." Jawabnya cepat. Ia menunduk, lalu segera meninggalkan rumah sakit.
Ayahnya tiba pukul tujuh malam. Saat itu operasi sudah selesai. Dokter mengatakan operasi lancar dan ajaibnya, lukanya lebih cepat menutup. Ya, klan Yato memiliki penyembuhan diri yang lumayan cepat. Jadi, Kagura bisa dipindahkan di ruang rawat. Namun masih dalam pengawasan dan harus steril. Tak banyak orang yang bisa masuk ke ruangannya.
Kepala sekolah, Hata, ia meminta maaf sebesar-besarnya kepada ayah Kagura, Umibozu. Atau yang nama aslinya Kankou. Dan sebagai gantinya, Hata membiayai seluruh pembiayaan operasi dan rawat inap.
Namun sang ayah tak menyalahkan kepala sekolah. Anaknya berusaha menyelamatkan Hata dan Jii. Dan itu hanyalah kecelakaan yang tidak disengaja.
Ginpachi meminta maaf karena tidak bisa menjaga putrinya dengan baik. Umibozu menenangkan wali kelas 3-Z itu, dan berkata kepada semua agar tidak menyalahkan diri mereka sendiri, dan seharusnya berdoa agar Kagura diberi keselamatan dan lekas sembuh.
Walaupun dilubuk hatinya, Umibozu juga merasa bersalah yang amat dalam. Andaikan ia tidak sering-sering meninggalkan putrinya, dan putra sulungnya. Andaikan ia tetap tinggal di Jepang, mungkin anak-anaknya takkan bernasib buruk.
Yang diizinkan pertama masuk menjenguk adalah ayahnya. Dari pihak keluarga. Kagura tersenyum lembut melihat ayahnya datang.
"Papi…" panggilnya.
Umibozu menangis.
"Papi kenapa menangis? Aku baik-baik saja papi." Katanya.
Umibozu mendekat dan menunduk di dada anaknya.
Kagura masih tersenyum dengan lembut, dan mengelus kepala papinya.
"Papi, kumohon. Jangan menangis. Ini bukan salah papi kok. Papi…" Kagura ikut terisak.
"Maafkan papi, papi meninggalkanmu dan menjadi seperti ini."
Kagura menangis. Antara perasaan marah karena benar papinya selalu saja meninggalkan ia dan kakaknya yang membandel sekarang. Dan senang kalau papinya sekarang sudah pulang, dan ia bisa melihat wajah papinya.
"Papi... maafkan aku. Maafkan aku, aku tidak bisa membuat nii kembali ke rumah." Lirih Kagura.
Umibozu menggeleng, "Tidak anakku. Itu bukan salahmu. Tak apa."
Bagi mereka, Kamui yang sekarang mau pulang atau tidak, itu bukan masalah besar lagi. Mungkin, Kamui sudah mempunyai hidupnya sendiri.
"Yang terpenting adalah kondisimu, Kagura. Papi selalu berdoa agar kamu sembuh. Papi akan keluar, teman-temanmu datang menjengukmu." Ucapnya. Kagura mengangguk.
"Iya, papi. Sampai jumpa, aku sayang papi." Ujar Kagura seraya tersenyum amat manis.
Lalu secara bergantian teman-temannya masuk ke dalam, dan terakhir Ginpachi dengan Tsukuyo sensei.
Kagura terlihat ceria seperti biasa, walaupun tangannya sekarang terbalut perban, dan bagian tubuhnya yang lain yang juga terluka.
Gadis itu menarik napas, setelah semuanya pulang. Papinya berpamitan segera kembali ke rumah untuk mengambil beberapa baju Kagura.
Matanya menatap langit-langit kamar pasien. Ruangan yang diredupkan lampunya, bau khas yang Kagura tidak sukai, membuatnya tidak bisa tidur sama sekali. Bahkan ia tidak bisa bergerak sana sini.
Rumah sakit sudah sepi, hanya tersisa beberapa perawat yang lembur. Langkah kaki menuju kamar Kagura. Sebenarnya, pengunjung tidak boleh datang saat jam malam. Sosok laki-laki yang memakai setelan gakuran hitam, membuka pintu kamar yang tidak dikunci. Kagura membelalakkan matanya.
"Kau…"
Laki-laki itu tersenyum. Senyumnya terlihat tajam, matanya menyipit. Berdiri di ambang pintu, perlahan matanya membuka dan menatap Kagura dalam-dalam.
"Yo." Ucapnya.
Kagura memalingkan wajahnya, ia sudah tidak kaget lagi. "Apa kau hanya datang mengunjungiku kalau aku sedang tertimpa masalah?" tanyanya ketus.
"Hei, hei. Bukankah pertanyaan itu cukup kejam ya?"
Ia melangkah mendekati sisi kiri Kagura. Rambut panjang dikepang, berwarna senada dengan surai saudari kandungnya. Wajah yang juga mirip dengannya itu, tidak tampak senyum lagi menghiasi laki-laki itu.
Kagura menatap wajahnya. "Nii…" panggilnya pelan. Kamui, ya, dia sadar kalau adiknya menatap pipi kirinya yang membiru. Sial, dia tidak bisa menutupi luka-luka di wajahnya.
"Aku kembali pulang, datang menjengukmu, bukannya sambutan, malah tinjuan yang kudapatkan dari si botak sialan itu. Apa memang benar orang-orang sangat sialan ya?" ujarnya, sambil tersenyum.
"Kau juga kakak yang brengsek."
Mereka diam cukup lama. Kagura menatap celah jendela yang tertutupi gorden. Terlihat setitik cahaya bintang di langit kota. Sedangkan Kamui hanya diam mematung menatap adiknya yang terus-terus menghindari tatapannya.
"Coba aku tebak, apa bocah sialan itu yang membuatmu seperti ini?"
Barulah sekarang Kagura menatap kakaknya.
Mata Kamui menyipit, lalu tersenyum manis, dan berkata lagi "Adikku takkan memasang wajah putus asa walaupun dalam hidupnya banyak tertimpa masalah. Benar? Tapi kenapa semenjak kau mengenal bocah ingusan itu, kau menjadi lemah?"
Kagura menatap Kamui heran. Terpampang alisnya mengerut, seolah bertanya 'kenapa kau tahu?'
Kamui mengelus kepala adiknya dengan tangan kanannya pelan. Matanya menjadi sayu.
"Onii-chan mu yang brengsek ini, kamu pikir saking brengseknya tidak akan tahu menahu masalah adik sendiri? Kamu pikir aku tidak memperhatikanmu?"
Terlihat kilas balik ketika Kagura menangis di jendela kamarnya, Kamui menatapnya dari bawah dekat tiang listrik.
"Kalau memang dia sangat peduli padamu, kenapa dia tidak datang menemuimu sekarang? Apa gunanya kau menangis memikirkan dia? Hanya karena anak bodoh itu, kau jauh lebih menjadi bodoh."
Tangannya yang putih, yang dipenuhi bekas luka, masih mengelus surai adiknya. Yang masih terdiam.
"Nii, aku tidak tahu… kenapa perasaan ini datang padaku. Kau tidak akan pernah bisa mengerti soal ini." Ucap Kagura.
Kamui berbalik dan ingin keluar dari kamar.
"Ya, aku memang tidak tahu karena memang tidak pernah merasakan perasaan bodoh yang dinamakan cinta." Tatapan matanya berubah menjadi tatapan sadis.
Kagura terkejut, "Ma-mau apa kau, Kamui?!" jeritnya.
"Hei, berisik bocah! Kalau kau tidak diam, onii-chan mu ini akan mendapat masalah tahu."
Kagura berusaha bangun untuk menghentikan Kamui, namun badannya terlalu sakit untuk bangun.
"Jangan bilang kau akan berbuat yang tidak-tidak pada si sadis itu! Kamui! Berhenti Kamuiii!"
Sougo sedang duduk di kursi taman kota. Jaraknya tak jauh dari rumah sakit tempat Kagura dirawat. Wajahnya lebih pucat dari siang tadi. Sepertinya laki-laki itu tidak istirahat sama sekali. Terlihat jelas juga di kantung matanya yang mulai menghitam karena kelelahan.
Dia menarik napas dalam-dalam. Mengacak rambutnya. Pikirannya masih terbayang-bayang akan darah Kagura yang menempel di tangan dan bajunya.
Sampai saat ini entah kenapa dia tidak ingin bertemu dengan Kagura. Walaupun dalam hatinya ia sangat mengkhawatirkan gadis Cina itu.
Tunggu, Sougo baru menyadarinya, kenapa ia bisa menghkawatirkan gadis yang selalu saja membuatnya naik pitam. Bodoh sekali, pikirnya.
Lalu tersenyum kecut. Merasa ironis sekali dirinya.
"Halo tuan."
Sougo terkejut, reflek ia melihat seseorang yang menyapanya. Sebuah senyuman palsu.
Sebuah tinjuan mendarat di pipi kanan Sougo. Sougo merasa marah, dan membalas tinjuan laki-laki itu. Tak perlu dijelaskan lagi bagaimana dua orang pria yang seumuran itu bertarung. Mereka baru berhenti ketika keduanya mulai babak belur dan tidak sanggup untuk melawan.
"Orang yang telah membuat adik seseorang terjatuh dalam hidupnya, lalu meninggalkannya begitu saja, bahkan saat sedang kritis sekalipun."
Sougo tak perlu bertanya siapa orang itu. Dari ciri-ciri dan perkataannya, jelas sekali kalau itu adalah Kamui.
"Seorang kakak mana yang tega meninggalkan adiknya sendiri, dan menjadi murid brandalan yang terkenal psikopat di seluruh sekolah wilayah ini." Balas Sougo.
"Lagipula, dia begitu bukan salahku. Dia yang memulai duluan. Tak heran, dia muncul begitu saja dalam hidupku dan mencari masalah, itu karena juga kakaknya yang juga lebih kurang ajar, dan tumbuh menjadi gadis kurang ajar yang tak tahu diri." Ejeknya.
Kamui geram dan menatapnya tajam.
"Asal kau tahu, hidupku akan tenang, dan adikmu akan baik-baik saja jika ia tidak muncul di sekolahku. Dalam hidupku,"
Sougo menghapus darah yang mengalir keluar dari mulutnya. Ia tersenyum sinis.
"… mungkin takdir berkata lain. Aku bertemu dengannya. Dia yang muncul sebagai murid pindahan, dan kelihatannya sangat membenciku dan kami hampir tiap hari bertengkar dan membuat keributan. Tapi tiba-tiba dia menjauhiku begitu saja seolah-olah aku telah membuatnya hancur. Dasar wanita jalang, aku masih tidak mengerti, kenapa wanita selalu saja seperti itu? Membuat seolah-olah laki-laki selalu salah, padahal itu hanya ilusinya yang ia besar-besarkan."
Kamui hanya diam dan mendengar perkataan Sougo dengan wajah datar.
"Hei, Onii-san, ketahuilah, memang benar terkadang aku yang memulai duluan mencari masalah dengannya karena ia asik untuk diusili. Kami memang tidak pernah akur, tapi kami saling menghormati. Kami berteman layaknya teman-teman kami yang lain. Kami tidak bisa berteman seperti halnya anak-anak lainnya, karena kami sama-sama anak brengsek. Kau tidak tahu kabar angin mengenai sekolah kami, khususnya kelas 3-Z yang selalu dibicarakan murid-murid sekolah lain? Ya, isinya memang anak-anak yang mempunyai latar belakang berbeda-beda, sikap dan sifat, dan usia yang berbeda pula. Kami semua kurang ajar. Dan termasuk aku dan adikmu itu. Kami berdua tidak bisa mengungkapkan perasaan kami masing-masing secara langsung…"
Sougo berdiri tegap, dan tersenyum.
"Karena perkelahian adalah kami. Aku menyadarinya, aku menyadarinya sejak lama. Dia menyukaiku. Aku tahu itu. Dan aku juga menyukai adikmu. Tapi kami terlalu bodoh untuk mengutarakan perasaan konyol yang disebut cinta itu. Jadi, apapun yang ingin aku atau dia sampaikan, kami hanya bisa melakukannya dengan pertengkaran."
"Kagura-chaaan!" Otae berseru. Ia sangat terharu ketika Kagura muncul masuk ke dalam kedas. Semua teman-temannya sangat gembira melihat kehadirannya kembali. Dia sudah sembuh total.
Teman-temannya mengucapkan selamat datang dan mengucap syukur Kagura sudah sehat kembali "Terima kasih teman-teman!" ucapnya sambil tersenyum.
Kagura menghampiri Sougo yang melamun di kursinya yang tidak peduli dengan kehadiran Kagura. Wajah Kagura sedikit memerah. Yah, kau tahu tampang-tampang tsundere? Seperti itulah.
"O-oi, sialan. Kemana saja kau? Tidak menjengukku sama sekali." Ujarnya sewot. Sougo menghela nafas.
"Ya Tuhan, tidakkah hidupku bisa tenang tanpa bertemu monster ini?"
Kagura merasa kesal. Akhirnya, mereka mulai adu kekuatan lagi pagi ini. Seisi kelas sepertinya sudah terbiasa dengan keributan yang dua bocah itu perbuat.
Dan…
"Gawat. Kursi Ginpachi-sensei…"
Mereka berdua berkeringat ketika melihat kursi guru hancur.
"Kita harus perbaiki kursi ini secepatnya…"
"Ya, buka halaman 123 dan baca materinya." Perintah Ginpachi.
Semua murid terdiam. Mereka menahan panik ketika Ginpachi mulai menduduki kursi…
BRUAAK!
Ginpachi kesal.
"SOUGOOO! KAGURAAAA!"
mereka berdua pulang dengan tampang menyeramkan. ya, sehabis pulang sekolah, mereka dimarahi habis-habisan oleh Ginpachi. orang-orang yang melihat mereka dengan tatapan ngeri, bahkan Kagura sampai membalas tatapan itu dengan ganas.
sougo berhenti berjalan, mendengus kesal melihat kelakuan Kagura yang mirip orang gila.
"Oi,"
dengan usil Sougo melepas kacamata tebal gadis kecil itu. membuat Kagura semakin ngomel-ngomel.
"Balikin sadis!"
sougo tiba-tiba saja memeluk Kagura.
"Apa-apaan kau! lepaskan!"
lalu Sougo berbisik, "Kau menyukaiku kan?"
"Ha-hah?! jangan mimpi kau! hei-"
"Aku sudah mengetahui yang sebenarnya Kagura. aku... aku juga suka padamu."
Kagura yang terdiam, lalu terisak dalam pelukannya. "I-iya..." akunya.
sougo membiarkan Kagura menangis hingga tangisannya berhenti. Ia baru melepaskan pelukannya, menatap Kagura, lalu menunduk.
beberapa detik setelah itu, Sougo menatapnya dengan seringaian menjengkelkan.
"Bohong deng,"
ia terkekeh sambil tetap memasang wajah sadis.
"Mana mau gua suka sama gadis babi sangar macam lu."
"E-eh?"
Sougo kabur sambil tertawa puas. ia berhasil membuat Kagura malu setengah mati, terlebih lagi orang-orang yang berjalan di situ menatap kejadian itu sammbil tertawa geli.
.
.
.
"WOY , SADIS SIALAAAN!"
aku membencinya. dia laki-laki menjengkelkan
...
dia gadis aneh, kasar, rakus, kurang ajar. aku tidak suka dia
...
aku berharap dia tidak pernah ada. agar hidupku tenang. dia selalu menggangguku dan membuatku naik darah
...
dia gadis kecil lugu yang asik untuk kujahili
...
namun...
walaupun kami selalu bertengkar. tidak bisa mengungkapkan perasaan kami masing-masing secara langsung.
walaupun kami saling menyakiti, membuat terluka satu sama lain.
pada akhirnya, kami bisa mengetahui perasaan ini.
memang tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.
tapi, serangan-serangan yang menjadi kata-kata untuknya, untukku...
hanya itulah yang kami lakukan dengan pertengkaran yang menjadikannya kata-kata yang sebenarnya...
"Aku mencintaimu..."
OSHIMAI
